Archive for the ‘ 13HariNgeblogFF ’ Category

Cut!

image

“Aku mau putus.”

Kata-kata itu terlontar begitu sempurna dari bibirnya. Seperti anak kecil yang meluncur di papan perosotan dengan sorak bahagia. Wajahnya tidak menunjukkan sesal atau kesedihan.

Detik pertama kudengar tiga kata itu darinya, aku merasa bagai melayang di luar angkasa. Hampa.

“Kenapa?”

“Jangan tanya alasannya. Selama ini aku tidak pernah meminta apapun darimu. Kali ini, aku hanya minta putus.”

Hanya. Dia bilang hanya.

Tidak tahukah dia bahwa hari-hariku hanya bercerita tentangnya? Tidak sadarkah dia bahwa wajahnya selalu bergentayangan di setiap mimpi, doa dan harapan?

“Aku sudah mengatakan apa yang perlu kukatakan. Aku pergi dulu. Maaf, siang ini aku tidak bisa mencicipi masakanmu.”

Di balik punggungku, kudengar langkahnya menjauh. Tanganku gemetar. Dapur ini terasa berputar. Pisau daging yang kugenggam hampir saja melukai tangan. Bukan. Mungkin bukan tanganku yang terluka. Tapi di dalam dada, ada hati yang tercabik-cabik. Karena sebelum hari ini, aku tahu, cintanya telah lama menjauh dariku.

“Rama …” panggilku.

Langkahnya terhenti. Lalu kami sama-sama saling memandangi. Ia memandangku tanpa hati. Aku memandangnya dengan sakit di hati.

Aku mendekat padanya. Berusaha tersenyum layaknya perempuan yang tidak rela kerapuhannya tertumpah meski telah dicampakkan dengan begitu mudahnya, “Apakah pernah ada yang mengatakan padamu bahwa kecemburuan perempuan bisa menjadi sangat menakutkan?”

Rama bingung dengan pertanyaan yang kuberikan. Aku menikmati denyut yang terlihat di lehernya. Kupeluk tubuhnya yang menegang sebagai ucapan perpisahan, “Jika kamu begitu menginginkan putus, tentu sekarang akan kuberikan.”

Tanganku terayun, bersama sebilah pisau daging yang kugenggam. Sisi tajamnya membelah pembuluh karotis lelaki sialan itu dengan sempurna.

Kamu telah mendapatkan apa yang kau inginkan, Rama. Putus. Sama seperti jalinan rindu yang terurai ketika pertama kali kau memutuskan untuk menduakanku, dengan sahabatku sendiri.

***

Soe – Timor Tengah Selatan – NTT
January 25th 2013

Advertisements

Tunggu Di Situ, Aku Sedang Menujumu

Kulajukan mobil dengan kecepatan biasa. Mataku nyalang mencari keberadaan polisi. Dan setelah memastikan bahwa kondisi jalan ini aman, segera kutekan tombol panggilan cepat.

“Halo … Sayang, udah selesai di salonnya? Kujemput sekarang ya.”

Terdengar suara manja dari seberang sana, “Iyaaa. Aku udah cantik, nih. Jemputnya nggak usah pake lama!”

“Ahahaha, iya, Nyah. Sepuluh menit lagi sampe. Tunggu ya,” jawabku sambil tertawa ringan.

“Iyaaah. Hati-hati di jalan, Sayang.”

Lalu sambungan telepon terputus setelah kami berdua bertukar kecupan lewat telepon genggam.

Senyumku tidak bisa berhenti mengambang. Mungkin terdampar di bibirku hingga beberapa lama. Khayalan terbinal tak berhenti berlalu lalang.

Sudah kubayangkan pergumulan paling liar bersamanya. Mungkin untuk hari ini dan beberapa hari seterusnya.

Nah, itu dia. Sangat cantik dalam balutan minidress selutut bermotif bunga-bunga. Make up-nya tampak sempurna. Pasti perlu waktu sangat lama untuk membuatnya. Tapi hanya butuh beberapa menit bagiku untuk menghancurkannya.

Kuhentikan mobil tepat di depannya. Tanpa perlu basa-basi, ia langsung melompat ke bangku di sebelahku, “Cepet amat, Yang?”

“Katanya tadi nggak pake lamaaa,” jawabku sambil melajukan kembali mobil ini. Hidungku menangkap wangi sensual. Ah, parfum kekasihku ini memang selalu menggoda.

“Hehehe iya iya … Kita makan dulu yah. Laper,” ujarnya sambil bergelayut di lengan kiriku.

Aku mencubit hidungnya dengan gemas, “Iya, Nyaaah …”

Tiba-tiba ia menepuk lenganku dengan keras. Wajahnya cemberut dan bagiku, itu sangat menggemaskan, “Iiih, apaan sih manggil ‘Nyah’ gitu? Kalo nggak ada suamiku gini, kamu itu bukan sopir!”

“Iyaaa, maaf, Sayaaang …” rayuku sambil menggenggam tangannya. Aku tahu ia tidak benar-benar marah. Lihat saja. Dalam beberapa detik kemudian, ia sudah melayangkan senyum manjanya lagi padaku.

“Ehm …yakin Mas Dito nggak akan ngganggu kita?” tanyanya sambil memilin-milin rambut.

Aku mengangguk dan tersenyum, “Tenang aja. Dapat dipastikan, liburan kita kali ini nggak akan terganggu oleh kedatangan Tuan yang tiba-tiba. Eh, aku sudah bilang kan kalo suamimu juga sedang berlibur dengan istri simpanannya?”

Kekasihku bersorak bahagia. Bahkan ia mendaratkan ciuman di pipiku. Tampaknya, beberapa hari ini akan menjadi hari bercinta yang cukup panjang.

***

Soe – Timor Tengah Selatan – NTT
January 24th 2013

[BeraniCerita #03] Jangan Kemana-mana, Di Hatiku Saja.

Aku mengenakan kemeja dengan terburu-buru. Hampir saja aku tersandung ketika memasukkan kedua kaki ke dalam lubang celana yang sama. Dengan serampangan, kurapikan rambut dengan jari-jari tangan. Ah, tetap saja berantakan.

Dan ponselku tidak berhenti berdering. Pasti panggilan rapat yang sepertinya sudah dimulai setengah jam yang lalu. Sial! Aku harus segera kembali ke kantor!

“Yang, aku pergi dulu ya. Maaf buru-buru gini. Besok, pas jam makan siang, aku ke sini lagi.”

Kupandangi perempuanku itu. Wajahnya kaku. Dingin. Tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Ah, rupanya dia marah.

Aku berjalan mendekat, mengelus pipinya yang seputih pualam dan mengecup bibirnya yang belum mau tersenyum, “Aku sih maunya nggak jauh-jauh dari kamu. Tapi aku kerja untuk masa depan kita juga, kan.”

Dia tetap bergeming. Kuhela napas panjang. Kepalaku pening memikirkan cara agar ia berhenti merajuk. Ya sudahlah, besok siang akan kubawakan sebuah hadiah istimewa. Baju atau perhiasan. Semua perempuan suka baju dan perhiasan.

Dengan gontai aku melangkah menuju pintu. Lalu berhenti sejenak dan memandang wajah perempuanku sekali lagi. Tapi dia belum mau berpaling, untuk sekedar mengucapkan selamat jalan atau hati-hati. Satu bagian di hatiku terasa pedih. Entah kapan ia akan mengerti bahwa waktuku bukan untuknya saja

Aku keluar kamar dan mempercepat langkah. Lupakan dulu masalah perempuanku. Harapanku siang ini hanya satu. Mudah-mudahan keterlambatanku menghadiri rapat tidak memberi banyak masalah pada karirku.

Tiba-tiba seorang perempuan mencegatku. Perempuan pendek dengan seragam pelayan dan riasan wajah yang tebal. Wajahnya dipenuhi senyum canggung.

“Ada apa, Mbak?” tanyaku.

“Maaf, Mas. Tolong manekin yang tadi dipinjam ke kamar pas dikembalikan dulu.”

***

Soe – Timor Tengah Selatan – NTT
January 23rd 2013

Bangunkan Aku Pukul Tujuh

image

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows I live with are numberless

“Bangunkan aku pukul tujuh pagi.”

Kalimatnya tadi terngiang-ngiang di kepalaku. Kupandangi wajahnya yang damai. Matanya tertutup. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Aku ikut tersenyum melihatnya. Tak perlu menembus ke dalam kepalanya untuk tahu alasannya. Aku hanya perlu melihat tangan kanan yang tak pernah dipindahkan sebuah cincin di jari manis tangan kirinya.

Kuraba alisnya yang tebal. Alis yang melekuk sempurna tanpa perlu dipahat seperti perempuan lainnya. Kiaraku cantik sekali. Ia seperti langit senja. Meskipun ia hanya muncul dalam beberapa menit, atau bahkan beberapa detik, tapi keindahannya patut ditunggu setiap hari.

Little white flowers will never awaken you,

not where the dark coach of sorrow has taken you

Dingin. Kulit Kiara dingin. Aku memeluknya di bawah selimut. Berusaha menyatukan panas tubuh kami agar Kiaraku tidak membeku.

Kusandarkan kepalaku di dadanya yang tenang. Hidungku membaui anyir darah. Mataku mendapati cairan pekat nan merah. Ada bahagia yang menyusup pelan ketika melihat sebuah luka yang menganga di dada kiri Kiara. Sudah kubilang, Kiara. Jantungmu tidak boleh berdebar kencang untuk orang lain selain aku. Tidak boleh.

Angels have no thought of ever returning you

would they be angry if I thought of joining you?

Kulirik jam tanganku. Pukul tiga dini hari.

Sudah saatnya.

Gloomy Sunday

with shadows I spend it all my heart and I have decided to end it all

Soon there’ll be prayers and candles are lit, I know

let them not weep

let them know, that I’m glad to go

Kuambil sebilah pisau yang berdarah-darah. Lalu meletakkan ujungnya yang tajam tepat di atas jantungku. Jantung yang telah melewati masa-masa sulit. Diburu cinta dan cemburu. Jantung yang hanya berpacu untukmu, Kiara. Hanya untukmu. Ia bekerja keras untuk memperjuangkan satu nama. Kiara. Perempuan yang pagi ini akan menikah dengan sahabatku sendiri.

Death is a dream

for in death I’m caressing you

with the last breath of my soul

I’ll be blessing you

“Bangunkan aku pukul 7 pagi.”

Kalimatnya tadi terngiang-ngiang di kepalaku. Kalimat terakhir sebelum ia tertidur dan kubuat ia tidak bisa bangun lagi.

Maaf, Kiara. Tidak akan ada pukul tujuh untukmu. Juga untukku.

Kita. Mati.

Darling, I hope that my dream hasn’t haunted you

my heart is telling you how much I wanted you

***

Kalabahi – Alor – NTT
January 22nd2013
[Lagu: Gloomy Sunday – Billie Holliday ]

Menanti Lamaran

Tiga hari lalu, pria itu datang. Pria dengan wajah teduh, senyum yang hangat, dan mata yang memberikan perlindungan dan rasa percaya.

Jantungku berdebar kencang seperti kuda pacu. Ia telah berjanji akan datang ke rumah. Melamarku secara khusus kepada seluruh keluarga. Sore ini, aku akan dipinangnya.

Tubuhku telah bersih dan wangi. Kukenakan baju terbaik yang kupunya serta sepasang sepatuku satu-satunya.

Pukul 15:37, pria karismatik itu datang. Dengan kalimat bijaksana, ia meyakinkanku dan keluargaku, bahwa kedatangannya adalah awal dari bahagia yang sesungguhnya.

Tak pernah aku segugup ini. Ada detak berirama yang baru ia letakkan ke balik kemejaku. Ia memelukku dan berbisik, “Pergilah ke tempat yang disepakati, Hasyim. Dan nikmati pernikahanmu, wahai Calon Pengantin.”

***

Kalabahi – Alor – NTT
January 20th 2013

Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

image

Perjalanan menuju kampung halaman tidak pernah sepilu ini. Dan hujan bukanlah kombinasi yang tepat untuk suasana hatiku saat ini. Ya ya ya, semua orang tahu, hujan adalah nyanyian pemanggil sendu. Sepertinya semua orang setuju dengan itu, dibuktikan dengan kondektur bis kota yang memilih lagu Betharia Sonata sebagai pengiring perjalanan dan hatiku yang dirundung ragu.

Beberapa hari yang lalu bapak menelepon. Memastikan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Raina, “Tiga tahun berpacaran. Kalian sudah cocok. Bapak dan ibu juga sudah setuju. Mengapa tidak segera menikah saja?”

Pertanyaan bapak telah menggiringku dengan paksa pada sebuah sore tiga bulan yang lalu. Ketika Raina dan aku memutuskan untuk berpisah. Berakhir. Putus.

Tidak ada yang salah dengan kami. Aku tidak selingkuh. Dan sepengetahuanku, Raina juga tidak begitu. Yang salah adalah keraguan. Rasanya ada yang tidak pas. Tidak tepat. Suatu keganjilan yang tidak bisa digenapkan dengan piihan untuk hidup berdua.

Diam-diam, aku mengartikan keraguan ini dengan tidak cinta. Seharusnya, cinta membuat segala yang mustahil menjadi mungkin. Tapi nyatanya, cintaku pada Raina tampak mustahil membuatku yakin.

Tiba-tiba bis bergoyang. Getarannya bisa saja membuat seorang ibu hamil melahirkan bayinya saat itu juga. Aku menyadarkan pandanganku yang tadinya tertutup lamunan. Menengok dan memeriksa, apa yang terjadi di luar sana.

Rupanya kendaraan ini sedang melewati jalanan yang rusak parah. Lalu terdengar komentar dan keluhan penumpang lainnya. Suara mereka berdesing seperti kepak sayap lebah. Beberapa di antara mereka memprotes tentang cara menyetir sopir yang tidak memperlambat laju bis ini meski sedang berjalan di atas jalan yang berlubang. Sebagian lagi meminta kondektur mengganti lagu Betharia Sonata.

Sedangkan aku …perhatianku justru diambil oleh seseorang yang selama dua jam ini menjadi teman perjalananku. Perempuan asing. Ia mengaduk-aduk tas ranselnya yang berwarna merah dengan panik. Wajahnya yang kuyu karena baru saja terbangun tampak bingung dan cemas.

“Aduh… Mana, sih?” gumamnya berkali-kali. Bertanya pada dirinya sendiri.

Aku memandangnya sekilas, lalu kembali menghitung jumlah tiang listrik dan pohon asam dari balik jendela bis, mencoba mengalihkan kegelisahan atas pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan bapak saat kami bertemu nanti. Seolah tak peduli dengan kegaduhan yang terjadi tepat di sampingku ini.

Tapi tiba-tiba hitunganku buyar. Ada yang menepuk lenganku, “Maaf ganggu. Bisa minta tolong miscall hape saya? Barusan saya cari kok ndak ketemu, ya…”

Aku menoleh. Kudapati sebuah mata bening berwarna cokelat tua yang mengagumkan. Tanpa diminta dua kali, aku mengangguk dan mengeluarkan ponselku, “Nomernya berapa?”

“08140440477.”

Aku mendengarkan nada panggil dari ponselku. Dan pada saat yang bersamaan, sebuah lagu terdengar dari kantong depan tas ransel perempuan itu, sebuah lagu india yang aku tidak tahu judulnya. Selera yang cukup unik, kurasa.

Wajah perempuan itu langsung berbinar mendengar ponselnya ditemukan. Senyumnya lebar, menampakkan barisan gigi yang putih dan gigi caninus kiri yang sedikit menjorok keluar. Manis.

“Alhamdulillah ketemu. Makasih ya, Mas. Saya kira kecopetan atau hilang di mana gitu.”

Aku mematikan sambungan telepon dan tersenyum, “Iya, sama-sama. Lain kali jangan lupa naruh lagi ya…”

“Hehehe iya… Oh iya, nama saya Hanum. Nama Mas siapa?” tanyanya.

Dahiku berkerut. Mataku refleks memandang ponsel yang tengah digenggamnya. Nomor ponselku tertera di sana. Di sebuah kotak penambahan nomor baru. Dan ibu jarinya telah siap di atas keypad ponsel itu.

Pandangan kami bertemu. Ada suara yang membacakan sebaris skenario untuk kami berdua. Bunyinya sama. Atau anggap saja begitu. Karena selanjutnya, kami berdua ditenggelamkan tawa dan tersipu.

***

Kalabahi – Alor – NTT
January 19th 2013

*PS: Nomor telepon di atas beneran ada ndak ya? Kalo beneran ada, pinjem sebentar x))

Cintaku Mentok Di Kamu

esq-heart-stop-light-100810-lg

Jam praktekku sudah berakhir. Ditutup dengan seorang laki-laki yang mengeluh kencingnya bercampur nanah. Belum menikah tetapi rajin berkopulasi dengan pasangan yang bergonta-ganti. Jujur, kadang-kadang aku malas dengan pasien macam ini, yang menganggap penis sekedar aksesori pelengkap kesenangan yang bisa dibagi dengan siapa saja yang ia suka. Tanpa konsekuensi, tanpa tanggung jawab. Hanya bertukar cairan, lalu selesai begitu saja.

Kukemasi peralatan tulis dan stetoskop di meja. Ketika tanganku sudah hampir menyentuh gagang pintu, sebuah ketukan  halus terdengar dari baliknya. Kubuka pintu ruang praktekku, Dewi, perawat yang menemaniku, berdiri di ambang pintu sambil menyerahkan sebuah map rekam medis, “Maaf, Dokter. Ini ada satu pasien lagi. ia memaksa agar bisa diperiksa malam ini. Dokter Lily nggak keberatan?”

“Nggak apa-apa. Suruh masuk saja,” kataku sambil menerima map itu.

Aku kembali menuju kursiku, membuka map  berwarna biru dan mulai membaca identitas pasien di dalamnya. Dahiku mengernyit. Seperti ada bongkahan gunung es yang dijejalkan di ruangan ini. Membuat duniaku beku.

Terdengar suara Dewi memanggil pasien terakhir, “Saudara Husni Kamil, silakan masuk.”

Seorang lelaki masuk. Dan ketika mata kami bertemu, tanpa kusadari, dadaku mulai dipenuhi gemuruh jantung yang menderu.

Dewi mempersilakan pasien itu duduk di depanku. Lalu suasana di ruangan ini menjadi canggung. Dewi bahkan tampak bingung mengapa aku tak kunjung menanyakan keluhan pasien terakhir ini. Atau setidaknya, memperkenalkan diri.

Tiba-tiba lelaki itu mengalihkan pandangnya dariku. Lalu menatap Dewi dengan lekat, “Dewi ini perawat baru, ya? Dia nggak kenal aku.”

Dewi melonjak kaget mendengar namanya disebut. Tubuhnya menegang ketika pasien laki-laki ini menyorotkan pandangan yang tidak menyenangkan. Wajahnya yang dipenuhi rambut-rambut kasar di sekitar mulut dan dagu membuat ekspresinya semakin menyeramkan.

Dewi memandangku, seakan meminta penjelasan. Aku memberi kode supaya ia diam saja. Tetap berdiri di sampingku. Karena aku tidak ingin berbincang dengan Husni sendirian.

“Kenapa ke sini?” tanyaku hati-hati. Aku memberanikan diri untuk melihat langsung ke matanya. Menunjukkan padanya bahwa ia bukanlah ancaman bagiku.

“Ketemu kamu. Aku kangen,” jawabnya. Sorot matanya melunak. Ketegangan di wajahnya memudar. Bibirnya mencoba untuk tersenyum, tapi tetap saja tampak bagai seringai bagiku.

Sekarang tangan kanannya sudah berada di atas meja. Terjulur ke depan hingga kini berada tepat lima sentimeter di depan tangan kiriku. Kecemasan mulai merambat naik ke ubun-ubun.

“Kita bisa ketemu nanti. Tidak di sini,” ujarku sambil menyelamatkan tangan kiri yang bisa disambarnya sewaktu-waktu.

“Kamu nggak ngerti gimana aku hidup selama tanpa kamu?”

Kini suaranya memelas. Terdengar bagai suara anak kucing liar yang kedinginan. Ada rasa kasihan melihat kondisinya yang begitu lusuh. Kemeja Husni kotor, sobek di bagian lengan. Rambutnya gondrong dan berantakan. Ada lingkaran hitam di bawah kedua matanya.

Di dalam dada, jantungku berdebar hebat. Bukan karena rasa cinta yang dulu pernah membara. Tapi kengerian yang merayap perlahan, membayangkan kehidupan Husni setelah kami dipisahkan ketukan palu pengadilan agama enam bulan yang lalu.

“Aku tahu, Husni,” jawabku singkat. Tubuhku gemetar. Aku ingin laki-laki ini segera pergi dari sini.

Tapi tiba-tiba Husni berdiri. Kursi yang didudukinya terjatuh dan mengaduh. Dewi berteriak histeris ketika Husni meraih kerah kemejaku. Cengkeramannya mencekik leherku hingga aku tidak bisa bernapas, “Sudah cukup kamu bersenang-senang di luar sana tanpa aku! Sudah cukup kamu bermain dengan selingkuhanmu! Sekarang kamu harus pulang! Aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kamu adrenalinku!”

“Pak, lepasin Dokter Lily!” teriak Dewi sambil berusaha melepaskan tangan Husni dari leherku. Tapi Husni mendorong tubuh Dewi hingga terpelanting ke sudut ruangan dalam sekali hempas.

Tanganku yang berkeringat menggapai tangan Husni yang besar dan kasar. Tapi ia justru mencengkeram semakin kuat. Kepalaku ringan karena sulit bernapas. Denyut jantungku melaju begitu kencang.

“Iya, Husni. Saya mau pulang sama kamu. Tapi lepaskan tanganmu. Tolong, lepaskan …”

Tanpa bisa kusadari, air mataku menetes. Husni melonggarkan tangannya. Lalu ia memelukku begitu erat, “Aku janji nggak akan selingkuh lagi, Lily. Kamu satu-satunya. Kamu satu-satunya …”

Ada kepedihan yang merangkak naik. Dulu, perselingkuhannya membuat hidupku hancur berantakan. Tapi kini, rasaku bagai diiris sembilu. Ia, laki-laki yang pernah kucintai, telah menjelma menjadi manusia yang sering berhalusinasi dan hancur jiwanya.

Kuraih ponsel yang tergeletak di meja dan menekan nomor yang masih kuhapal, “Halo, Hasna. Ini mbak Lily. Tolong jemput masmu. Iya …dia mengamuk lagi.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

January 18th 2013

%d bloggers like this: