Archive for the ‘ medis ’ Category

Code Blue

Code Blue ~ International term for cardiopulmonary rescucitation, epinephrine and heart that didn’t stop praying.

***

Dua puluh empat jam pertama

Pantatku baru saja menyentuh kursi ketika pengeras suara di rumah sakit ini berteriak di segala penjuru.

Code blue, ruang CVCU[1]. Code blue, ruang CVCU….”

Cardiac arrest[2].

Dengan terburu-buru, aku segera menuju CVCU. Seorang perawat sudah berinisiatif melakukan pijat jantung di dada Ny. Dariah, sedangkan seorang lagi memompa bag valve mask pada selang ETT[3] yang terjulur melalui bibirnya yang membiru. Aku melirik monitor. Garis naik turun tidak beraturan seperti hasil gambar balita yang baru bisa memegang pensil. Ventricular tachycardia[4].

“Sudah berapa lama?” tanyaku pada perawat yang sedang memompa ambubag. Kuraba leher Ny. Dariah. Tidak ada denyut di sana.

“Sekitar setengah menit, Dok.”

“Defibrilator[5] siap? 360 Joule!”

Kupegang gagang dua elektroda. “Clear[6]?”

Semua tenaga medis bersiap.

Shock[7]!”

Tubuh Ny. Dariah melonjak karena kejutan listrik yang kutekan melalui paddle elektrode defibrilator di dadanya. Seorang perawat kembali menekan dada Ny. Dariah. Kulirik monitor. Tetap sama. Gambaran anak balita masih meliuk-liuk di layarnya.

“Epinefrin 1 mg!” instruksiku pada seorang perawat. Ia menyuntikkan cairan obat melalui selang infus, mengangkat tangan Ny. Dariah selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali.

Seorang perawat pria berdiri di atas pijakan kaki, lalu melakukan pijatan di atas dada Ny. Dariah. Kutatap nanar perempuan tua tak berdaya di hadapanku. Acute myocardial re-infarction on posterior – inferior – lateral[8]. Reinfarction. Serangan jantung yang berulang.

Aku teringat cerita rekan sejawat, betapa Ny. Dariah adalah pasien dengan semangat juang tinggi. Ia telah mengalami henti jantung setidaknya empat kali, termasuk malam ini. Namun Tuhan masih belum berkenan memanggilnya pulang. Kata orang, sepertinya beliau sedang menunggu. Entah apa. Atau siapa.

Kuambil dua gagang paddle elektrode dan bersiap melakukan kejut jantung untuk yang kedua kali. Dalam hati aku berdoa, semoga Ny. Dariah tidak meninggal malam ini. Setidaknya, tunggulah hingga seluruh keluarganya ikhlas melepaskan. Setidaknya, tunggulah hingga rasa rindunya pada dunia fana terpenuhi. Setidaknya, tunggulah hingga tugas jagaku berakhir.

“360 Joule! Clear? Shock!”

***

Dua puluh empat jam kedua

Code Blue. Sebuah istilah internasional terhadap sebuah kondisi di mana jantung dan/atau paru mulai berhenti berfungsi. Entah mengapa disebut biru. Karena bagiku, biru adalah simbol yang dinamis. Bahkan untuk beberapa lelaki, biru dekat dengan hal-hal yang tidak baik. Film biru, misalnya.

Atau mungkin, biru yang dimaksud adalah arti biru bagi perempuan. Kesedihan. Rasa takut akan kehilangan, yang menggantung pada ujung-ujung jari dan bibir yang membiru ketika darah dan oksigen tak lagi dialirkan karena jantung dan paru berhenti memberi makan.

Ah.

Aku sudah lupa kapan terakhir makan layak dan cukup beristirahat. Kepalaku terasa kosong. Badanku melayang. Bahkan perutku sudah lupa rasanya lapar. Jika seorang dokter berkata pada pasien-pasiennya, “Makan teratur dan cukup tidur,” maka percaya saja agar tidak berubah menjadi zombie berjalan. Seperti aku.

Tiba-tiba aku teringat. Lebaran lalu, seorang kawan lama menghubungiku. Teman-teman SMA akan mengadakan reuni. Tentu saja, aku tidak bisa hadir. Bagi dokter umum, hari libur adalah mimpi buruk. Akan selalu ada perebutan jadwal jaga demi kata libur. Dan meskipun akhirnya bisa libur, biasanya tidak pas pada harinya. Pada akhirnya, liburan dihabiskan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Nonton TV, baca koran, atau tidur seharian.

Mengetahui jadwal jagaku yang seperti kerja rodi, salah seorang teman berkomentar, “Jangan kerja terus. Bersenang-senanglah sedikit.”

“Lalu siapa yang mau menanggung uang sekolah anak sulungku bulan depan?”

Tapi jawaban itu kusimpan dalam hati saja. Di dunia ini, siapa yang bisa percaya bahwa seorang dokter bisa mengalami kesulitan keuangan?

Aku mengurut kakiku yang mulai bengkak. Berdiri, berjalan, berlari di lorong-lorong rumah sakit selama belasan jam membuat kedua kakiku meronta kelelahan. Di saat-saat seperti ini, aku sering membayangkan enaknya bekerja di balik meja. Mengetik atau merancang sesuatu yang berguna. Berargumen tentang naiknya harga saham, atau bagaimana menembus pasar dunia dengan produk-produk baru yang istimewa. Serta menikmati hari libur seperti orang-orang pada umumnya.

Ah, tapi hidup itu sawang sinawang[9], bukan? Ketika aku berpikir demikian, ada banyak orang yang berlomba-lomba meninggikan tawaran uang untuk memasukkan anak-anak mereka ke fakultas kedokteran. Sebuah fakultas yang bagiku dulu adalah tempat untuk mengubah nasib. Rakyat jelata, anak buruh pabrik dengan penghasilan tak seberapa, nekat bersaing dengan ribuan hati yang tertambat pada satu profesi yang dianggap mulia dan menyejahterakan.

Namun bayangan hidup sejahtera itu pudar saat titel dokter sudah resmi kusandang. Ketika rekan-rekan seusiaku sudah mampu mandiri dengan satu rumah dan beberapa kendaraan, aku hanya mampu membayar rumah kontrakan. Satu juta sekian per bulan, tidak ada lagi yang tersisa untuk ditabung atau mencicil rumah sendiri. Apalagi mobil.

Dan untuk menambah nominal itu, aku harus bekerja seperti orang kesurupan. Beralih dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya. Berjalan di lorong yang dingin dan sepi bagai orang gila. Karena tidak hanya istri dan anak yang kupunya. Tapi ibu dan dua adik yang masih kuliah juga menjadi tanggunganku.

“Permisi, Dok. Ada keluarga Bu Dariah yang mau ketemu dr. Aulia.”

Suara Bu Sum – kepala bagian kebersihan – mengagetkanku. Aku mengangkat kepala yang hampir terjatuh dan tertidur di atas meja ruang jaga. Menggosok-gosok mata dan tersenyum sumringah. “Makasih, Bu Sum. Sebentar lagi saya ke CVCU.”

Kucuci muka sekadarnya. Jam sebelas lewat sepuluh menit. Empat puluh jam sudah aku di rumah sakit ini. Tanpa mampu beristirahat sama sekali.

“Terima kasih sudah menyelamatkan Ibu. Ini sudah keempat kalinya beliau mengalami henti jantung. Rasanya, jantung saya seperti mau lepas setiap perawat  dan dokter masuk terburu-buru ke CVCU,” ujar seorang wanita berjilbab yang kuduga usianya sepantaran denganku.

Aku tersenyum mendengarnya. Wajar saja. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Jantung, paru, otak. Semua terasa ingin melesat keluar tubuh setiap panggilan ‘Code Blue’ dikumandangkan. Jika keluarga pasien merasa berduka karena kondisi buruk keluarganya, maka paramedis mati berkali-kali setiap ada pasien yang kondisinya semakin turun dan sulit disembuhkan.

“Sama-sama. Keluarga banyak berdoa, ya. Karena kami hanya mampu mengusahakan apa yang bisa dikerjakan manusia. Hidup atau mati itu apa kata Tuhan,” ujarku.

Wanita itu tersenyum. Begitu juga aku. Merasa bahagia telah bisa menyelamatkan beberapa hati keluarga Ny. Dariah dari kedukaan. Lega, setidaknya kasus kematian tidak bertambah. Karena jika itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan membayangi. Karena ketakutan atas tuduhan malapraktik semakin gencar sekarang. Menjadi dokter tidak lagi leluasa menerapkan seni pengobatannya.

Namun kebanggaanku atas penyelamatan Ny. Dariah yang heroik tadi tidak bertahan lama. Aku disergap kalut setelah membaca sebuah pesan dari istriku yang baru saja kuterima.

From: Astrid

Mas, badan Arga tiba-tiba dingin. Tidur terus, enggak mau dibangunin. Mimisan juga. Gimana?

Received: 16 November 2013; 23:47 WIB

Senyum yang tadi mengembang sempurna harus kutelan lagi.

For: Astrid

Bawa ke sini sekarang. Naik taksi saja.

Sent: 16 November 2013; 23:56 WIB

Empat puluh jam lebih aku menjagai pasien-pasien di sini, namun aku bahkan tak mampu memeluk kesakitan anakku sendiri.

***

17 November 2013; 00:34 WIB

Dengan setengah berlari, aku bergegas ke unit gawat darurat. Istriku baru saja menelepon, Arga mengalami demam berdarah pre-syok. Jantungku berdentam tak karuan. Mengapa sampai tidak ketahuan? Mengapa Astrid sama sekali tidak lapor padaku? Mengapa?

Segala pertanyaan, kekesalan, amarah dan rasa kecewa karena telah menjadi ayah yang gagal berkecamuk di dadaku. Namun semuanya buyar ketika…

Code blue,  lantai dua, ruang ICU[10]. Code blue,  lantai dua, ruang ICU….”

Sial! Mengapa harus di saat-saat seperti ini?

Aku terdiam selama beberapa saat. Ponselku berdering tanpa henti. Astrid dan Arga membutuhkanku. Dan pasien ICU itu juga menungguku. Aku bisa membayangkan wajah Arga yang pucat. Namun sekelebatan wajah pasien ICU yang membiru itu menari-nari di pelupuk mata.

Dadaku sesak. Menahan keputusan yang sama sekali sulit. Selalu ada yang harus dikorbankan. Selalu ada.

***

17 November 2013; 00:35 WIB

Dengan tergesa-gesa aku menuju ICU. Beberapa detik kemudian, aku telah berada di samping seorang lelaki tua. Seorang pasien 75 tahun dengan gagal napas karena penyakit obstruktif baru kronis yang ranjangnya terletak paling ujung ICU. Mulutnya menganga. Tubuhnya diam saja. Dan biru di bibirnya.

Monitor jantung menunjukkan garis lurus saja. Tidak naik. Tidak turun. Lurus. Seperti hidupku yang hanya tahu jalan antara rumah dan rumah sakit. Tidak pernah belok ke mana-mana.

Asystole[11] sudah berapa lama?” tanyaku.

Kubuang selimut bergaris-garis biru agar tampak jelas dada kakek tua itu. Tidak ada gerakan dada atau tanda-tanda bahwa tubuhnya masih bekerja. Kutempelkan ujung jari ke bagian belakang lehernya. Tidak ada denyutan.

“Semenit, Dok!” jawab salah seorang perawat pria.

Aku naik ke sebuah pijakan dan segera memimpin CPR – cardiopulmonary rescucitation. Perawat itu melepas tube yang menghubungkan ETT pada ventilator, lalu menggantinya dengan bag valve mask.

“Epinefrin 1 mg!”

Obat kehidupan itu disuntikkan.

Satu, dua, tiga, empat, lima, …

Arga juga sekarat. Sama sepertimu, Bapak tua.

enam, tujuh, delapan, sembilan, …

Tapi aku memilih menyelamatkanmu daripada menenangkan anak sulungku.

sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, …

Padahal aku tahu, kamu terbaring dan hampir mati seperti ini karena ulahmu sendiri. Rokok empat bungkus sehari?

enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, …

Ponselku berdering lagi.

Ya Tuhan, aku telah bersalah karena menelantarkan istri dan anakku. Jika memang keluarga lebih penting daripada uang, lalu bagaimana caraku mengisi pundi-pundi tabungan untuk istri, anak-anak, ibu, dan juga adik-adikku tanpa dibatasi tenaga dan waktu?

dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat, …

Keparat. Cepatlah. Cepat kembali atau tidak sama sekali. Aku harus segera pergi dari sini!

dua puluh enam, dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan, …

tiga puluh.

Tiga puluh tekanan pada dada. Entah sudah siklus keberapa. Lima belas menit berlalu sejak kulakukan CPR pertama. Atropin dan epinefrin telah diberikan secara bergantian. Kutempelkan lagi jariku di atas arteri karotis. Tidak ada denyutan. Garis lurus di monitor juga tetap tidak mau berubah.

Aku dan perawat ICU berpandangan. Aku tahu, kami semua merasakan hal yang sama. Sebuah perasaan campur aduk yang tidak bisa dideskripsikan. Antara lelah, marah, sedih, dan kecewa atas kegagalan.

“Panggil keluarganya,” seruku lirih. Memandangi seorang perawat melepas selang dan alat ventilator dari tubuh kakek tua. Lalu menutup wajahnya dengan selimut bergaris-garis biru yang tadi sempat kubuang.

Ah, Pak Tua. Maafkan aku yang tidak mampu mengembalikan napas dan denyut jantungmu. Sepertinya ini memang sudah waktumu untuk pulang. Dan aku harus segera menemani anakku yang malang.

“Tn. Sartono, 75 tahun. Meninggal tanggal 16 November 2013 jam 00:51 WIB.”

Ponselku bergetar pelan. Ada sebuah pesan.

From: Astrid

Mas, Arga sudah dalam kondisi syok. Harus masuk PICU[12].

Received: 17 November 2013; 00:52 WIB

Tubuhku lunglai. Ada beban berat yang rasanya tak mampu kutanggung. Dengan langkah terseret, aku berusaha keluar dari ICU. Karena aku tidak mau orang-orang tahu kedukaanku.

Tuhan, tolong ambil sakit Arga, dan pindahkan saja semuanya padaku.

Kutelurusi daftar nama di ponsel. Meminta bantuan teman sejawat untuk menggantikanku jaga. Setidaknya sampai Arga sembuh total.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Seharusnya sudah seminggu yang lalu. Namun sampai saat ini aku belum mengirim uang untuk Ibu dan adik-adikku. Dan kekesalanku bertambah pilu. Saat mendapati tiket seminar yang setara dengan gaji sebulan di sela-sela dompetku.

Tidak kerja berarti tidak dapat penghasilan.

Almarhum Bapak selalu bilang. Jadilah dokter yang bermartabat. Penuh pengabdian dan rasa ikhlas.

Aku selalu demikian, Pak. Kuabdikan ilmuku demi pasien-pasien ini. Namun sekarang aku menyadari sesuatu. Idealisme tidak mampu menghidupiku, anak dan istriku, Ibu dan adik-adik yang kau tinggalkan untukku.

***

Code blue. Code blue. Code blue.

Kali ini bukan pengeras suara rumah sakit yang bertalu-talu. Itu mata hatiku, sekarat dan membiru. Digantikan oleh mata yang melebar di telapak tangan ketika ia mulai menggoreskan tanda tangan di atas kontrak yang disodorkan pabrik obat dua bulan yang lalu.

***

Malang, 21 November 2013

Catatan Kaki:

[1] Cardiovascular Care Unit: Unit khusus bagi penderita penyakit jantung dan pembuluh darah.

[2] Henti jantung.

[3] Endotrachel tube: tabung yang digunakan untuk membuka jalan napas dari mulut hingga trakea.

[4] Jantung memompa secara abnormal karena titik sinaps listrik jantung yang berubah.

[5] Stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan serangan jantung.

[6] Instruksi agar semua orang di sekitar pasien tidak menyentuh pasien atau alat-alat yang terhubung dengan tubuh pasien, termasuk ranjang pasien.

[7] Peringatan bahwa listrik sedang dikejutkan.

[8] Infark miokard akut (serangan jantung karena sumbatan pada pembuluh darah) pada pembuluh darah bagian belakang, bawah dan samping

[9] Pepatah Jawa, artinya hidup itu tergantung dari cara dan sudut pandangnya..

[10] Intensive Care Unit

[11] Garis datar pada elektrokardiograf.

[12] Pediatric Intensive Care Unit: ruang perawatan khusus untuk anak-anak dengan kondisi kritis.

 

PS: Pernah dimuat di #RainbowProject berjudul Blue(s)

Advertisements

13 Juli 2018

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Yang terhormat,

Ibu Dekan beserta para Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ibu Direktur Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang atau yang mewakili

Bapak Direktur Rumah Sakit Jejaring atau yang mewakilli

Bapak Ketua dan Sekretaris TKP PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Kepala Laboratorium di lingkungan FKUB

Guru-guru yang kami hormati

Segenap civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ayah, Ibu serta keluarga yang kami cintai, serta rekan-rekan sejawat dokter spesialis baru yang saya banggakan

Perkenankanlah saya, sebagai perwakilan para dokter spesialis baru, mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puja dan puji pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai rasa syukur kita atas seluruh berkah dan anugerah yang dilimpahkanNya sehingga hari ini kita dapat mengikuti acara Pelantikan Dokter Spesialis Baru Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Bapak, Ibu, para guru dan kolega yang berbahagia,

hari ini merupakan bagian tak terlupakan dalam perjuangan kami. Hari ini adalah akhir yang menjadi awal dari perjalanan yang lain. Apa yang kita lakukan hingga mencapai hari ini adalah bekal untuk menghadapi perjuangan yang lebih menantang. Menjadi residen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami semua. Kami mendapatkan bekal yang lebih dari sekadar pengetahuan. Kami membiasakan diri mengatasi keraguan dan ketakutan, belajar berkolaborasi, serta bekerja di bawah tekanan; sehingga kami belajar untuk cermat kapan harus bertindak, bertahan atau merelakan. Semoga kami menjadi dokter spesialis yang cakap dalam mengeksplorasi pasien sebagai manusia, bukan objek semata.

Saat ini, masing-masing dari kita mungkin sedang mengenang masa lelahnya bertugas jaga belasan kali dalam sebulan, rasa sedih karena tidak mampu menemani keluarga yang sedang sakit, marah atau kecewa ketika ego yang satu bergesekan dengan ego yang lain. Pendidikan spesialis telah meminta persembahan yang tidak sedikit. Kita telah mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, materi, atau keluarga. Semoga tidak ada dari kita yang secara suka rela mengorbankan kejujuran, loyalitas, kemanusiaan dan hati nuraninya selama menempuh pendidikan ini. Satu persatu pengorbanan telah dijatuhkan. Tanggung jawab berat telah menunggu seiring gelar yang lebih panjang. Maka mari kita menjadi dokter spesialis yang sebaik-baiknya, bagi kebaikan pasien serta martabat dokter Indonesia.

Alhamdulillah. Rasa syukur tertinggi kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. TakdirNya telah memungkinkan kita semua berada di ruangan ini. BerkahNya tidak hanya berupa kemampuan materiil, tetapi juga kesempatan, kesabaran, kesehatan, kelapangan hati serta keikhlasan menjalani pendidikan spesialis yang tidak mudah, baik bagi para residen maupun bagi keluarga. Semoga kita menjadi hamba yang selalu bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Terima kasih kami haturkan kepada guru-guru kami, yang telah beramal jariyah melalui ilmu-ilmunya, baik dalam hal akademik maupun kehidupan, bagi kami dokter-dokter yang masih dipenuhi ego tinggi, namun belum bijaksana dalam bertindak. Maka dengan kerendahan hati, kami memohon maaf atas segala kelalaian kami, baik dalam hal kurangnya ilmu, sikap tak pantas, ucapan serta perilaku yang menyinggung dan menyakitkan. Meski sudah menamatkan pendidikan ini, kami tetaplah murid yang masih memerlukan banyak bimbingan dan arahan guru-guru sekalian. Demi pena dan apa yang telah Para Guru goreskan pada pendidikan kami, ilmu-ilmu dari engkau akan selalu menjadi rumah bagi siapapun dari kami yang ingin pulang.

Terima kasih juga kami persembahkan pada keluarga; ayah, ibu, istri/suami, anak, saudara, yang telah melakukan perjuangan besar sebagai keluarga residen; telah tabah menghadapi wajah kusut serta emosi yang labil, begitu sabar menjadi stuntman/stuntwoman dalam menggantikan peran yang hilang selama pendidikan spesialis dan berjiwa besar telah menghibahkan anak/suami/istri mereka bagi pelayanan, pendidikan dan pengabdian sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis. Rayakanlah hari ini. Bapak dan Ibu dapat menagih pijatan di pundak dan betis yang mulai kaku. Suami/istri dipersilakan menggugat lagi kecupan hangat di pagi hari. Putra/putri dapat menuntut kembali rutinitas dongeng sebelum tidur.

Selamat dan terima kasih saya ucapkan pada kolega dokter-dokter spesialis baru, atas interaksi yang istimewa di RS Saiful Anwar Malang. Kita telah bekerja sama, beradu argumen, berselisih, namun tetap berangkulan satu sama lain. Masa sekolah residen telah menunjukkan keluarga baru, saudara seperjuangan yang saling berbagi kisah, keringat serta air mata. Mari lanjutkan harmonisasi itu dengan saling membantu dan menghargai di tempat kerja kelak, demi kepentingan pasien, nama baik almamater serta persatuan dokter di Indonesia.

Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity (Hippocrates). Cintailah ilmu kedokteran sebagai ibu yang telah mengasuh dan menyusui kita dengan ilmu dan filsafatnya. Selamat bertugas, berbakti dan mengabdi.

Curiosity killed the cat. But a doctor without curiosity could kill. Tetaplah rendah hati, bekerja dengan hati dan berhati-hati. Karena sesungguhnya, dokter hanya mengetahui sedikit dari alam semesta. Tanpa kebijaksanaan, ia mungkin memberikan pengobatan yang diketahui sedikit saja, untuk memulihkan penyakit yang dipahami sekadarnya, pada manusia/pasien yang hidupnya tidak diketahui apa-apa (Voltaire).

Dan dalam masa-masa sulit yang mungkin akan kita hadapi di kemudian hari, ingatlah pasien-pasien yang pernah kita rawat terdahulu, yang sembuh dan yang kurang beruntung. Tubuh dan pikiran kita hari ini adalah buah dari apa yang kita letakkan pada nasib mereka. Berterimakasihlah pada pasien-pasien sebagai guru kita, dengan selalu menjadi dokter yang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian sambutan dari saya. Mohon dimaafkan atas kata-kata yang kurang berkenan.

Nuun wal qolaami wamaa yasthuruun

Wassalamualaikum Wr Wb

Malang, 13 Juli 2018

Wakil Dokter Spesialis Baru

dr. Nina Nur Arifah, SpPD

***

IMG-20180713-WA0138

Mengingat masa sekolah dasar dan menengah yang standar, dilanjutkan dengan pendidikan dokter umum yang cukup jatuh bangun, saya pernah melewati masa-masa bekerja yang dihantui ketidakjelasan arah dan tujuan. Ada ketakutan pada diri sendiri karena merasa tidak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat, selalu menyusahkan, tidak membanggakan. Saya orang yang lambat, penakut dan cuek. Apalagi hal-hal itu diutarakan oleh orang-orang terdekat yang secara eksplisit. Baper, jelas! Hingga akhirnya saya mengasingkan diri dengan PTT di Alor, NTT (di samping tujuan lainnya adalah menantang diri sendiri dan demi meningkatkan ‘nilai jual’ dengan selembar surat Selesai Masa Bakti; karena jujur saja, saya tidak bisa apa-apa dan bukan ‘siapa-siapa’).

Mungkin memang sudah jalannya. Mungkin memang begini ‘skenario’Nya. Gagal di percobaan pertama seleksi masuk Pendidikan Dokter Spesialis. Pergi PTT. Mendapatkan berbagai pengalaman (jalan-jalan, menggeluti hobi menulis, fotografi) dan perenungan terhadap diri sendiri. Memantapkan diri mencoba peruntungan di Program Studi Ilmu Penyakit Dalam (yang sebenarnya diminati sejak lama, tapi selalu tidak percaya diri karena saya biasa-biasa saja). Mungkin sudah takdir dari Tuhan, saya diberi kesempatan berharga menimba ilmu di PS Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Brawijaya; meski di tahun pertama pendidikan, musibah itu datang. Bapak terkena gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal.

Sekali lagi. Perasaan gagal itu ada. Saya dokter, tapi gagal mencegah gagal ginjal pada orang tua sendiri. Menyalahkan diri sendiri? Tidak perlu ditanya. Bukan sekadar menyesali. Saya mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menunggui Bapak dengan maksimal. Bahkan sehari menjelang kepergian Bapak, saya harus jaga di UGD selama 24 jam. Dengan kondisi kelelahan lahir dan batin, kepulangan saya di tanggal 27 Desember 2015 meninggalkan sedu sedan di bis patas, dan menemui Bapak yang tampaknya sudah mulai dijemput naza’. Ada sebagian diri yang membela, bahwa saya bekerja untuk orang lain pun merupakan ibadah. Bahkan sebagian diri saya menyalahkan sejawat yang menangani Bapak saya saat itu gagal mengenali kondisi sepsis, gagal membedakan pneumonia dan kongesti paru, antibiotik terlambat diberikan, sepsis telanjur datang. Tapi sebagian diri yang lain lebih agresif, memojokkan saya dan berkata, “Mestinya kamu menemani Bapak dan merawat dengan baik, bukan malah menyerahkan tugas itu pada dokter yang lain. Durhaka.”

Tanggung jawab menjadi dokter itu berat. Seberat mengakui bahwa kita tidak pandai, kita kurang teliti, kita kurang berusaha, kita mengabaikan petunjuk-petunjuk yang sebenarnya nyata, kita kurang memberikan hati saat menjalankan profesi ini. Kekecewaan dan kesedihan saya terhadap kondisi Bapak cukup membuat trauma. Saya sempat marah pada dokter jaga UGD saat itu. Tapi ternyata kemarahan justru membakar saya sendiri. Toksik. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarahan yang menyala-nyala. Akan lebih mudah dan mengurangi energi, jika saya memulai dengan diri sendiri. Menilik dan mengintrospeksi, apakah saya pernah memeriksa atau memvisite pasien sekadar saja, tanpa ‘rasa penasaran’. Karena dokter tanpa rasa ingin tahu itu sesungguhnya bisa membunuh.

Alhamdulillah, rangkaian pendidikan yang cukup melelahkan dan penuh drama sudah selesai. Tidak mudah, tapi ternyata saya mampu. Bapak (selain Ibu) adalah orang yang selalu menguatkan dan memberikan saya anak tangga untuk percaya diri. Bapak percaya, bahwa bungsunya yang biasa-biasa saja ini bisa mengembangkan diri (jika dipaksa, tentunya). Tidak perlu menjadi yang terhebat, cukup menjadi yang lebih baik. Bapak, Gemini yang cukup melankolis, pernah menangis bahagia saat saya disumpah menjadi dokter umum. Kali ini, Bapak tidak bisa mendampingi. Saya tak sempat melihat tangis bahagianya jatuh sekali lagi. Saya tak sempat menanyakan, “Did I do good? Did I do well? Did I…?

Mungkin pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh saya sendiri, mau melaksanakan profesi ini dengan seperti apa. Jika belum sampai lelah, terkapar atau menangis, maka mungkin saya belum mengerjakan apa-apa. Bapak mungkin korban keegoisan anak bungsunya. Semoga saya tidak lagi menjadi alasan orang lain merasa ‘dikorbankan’.

Bismillah. Perjalanan selanjutnya akan dimulai dengan judul Wajib Kerja Dokter Spesialis. Setting tempat belum ditetapkan. Semoga berkah di mana pun ditempatkan. Aamiin.

***

Malang, 14 Juli 2018

Copy Paste

20140730_101136

Ruang 28 – RSSA (Juli, 2014)

Kita belajar sesuatu setiap hari. Bukan hanya dari buku-buku, seminar ilmiah atau diskusi akademik. Hidup mengajarkan kita sesuatu di setiap detiknya. Di mana saja. Bahkan di tempat ditemukannya keputusasaan dan harapan. Rumah sakit, salah satunya.

Di sebuah sore yang mendung, saya baru saja menunaikan solat Asar ketika pintu ruang intensif terbuka. Seorang lelaki berteriak dengan khas, “OB!” Oh. Ada pasien baru rupanya.

Sekilas saya melirik papan di dekat telepon. Di bawah tulisan ‘pesanan’ tertulis Intoksikasi HCl.

Pasien adalah perempuan berusia 50 tahun yang datang dengan penurunan kesadaran setelah mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai berisi asam klorida. Kondisi pasien tidak begitu baik. Kesadaran delirium dengan nadi cepat dan lemah serta napas cepat dan dalam. Khas Kussmaul. Dari laporan observasi di UGD, pasien sempat muntah darah serta kencing hematuria. Tidak ada terapi khusus untuk keracunan asam, tidak ada antidotnya. Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tidak terjadi komplikasi terjadinya striktur esofagus, perforasi saluran cerna serta penatalaksanaan suportif lainnya.

Kemudian saya menggali riwayat sakit dari ibu yang malang tersebut. Anak keduanya menceritakan dengan sedikit cemas. Bahwa ibunya depresi karena tidak punya uang. Dengan hati-hati saya bertanya apa pekerjaan pasien, suami serta anak-anaknya. Sang ibu tidak bekerja, suaminya telah berhenti bekerja sebagai buruh bangunan sejak terkena serangan stroke, dan anak-anaknya bekerja sebagai buruh bangunan dan penjual es.

Mungkin tidak ada yang aneh dari pekerjaan tersebut. Saya dapat melihat bahwa anak kedua yang sedang saya hadapi, yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, tidak hidup sebagai orang terlantar atau yang sama sekali tidak punya uang. Namun apa yang membuat sang ibu begitu depresi hingga berniat bunuh diri?

Ragu-ragu, anak kedua tersebut menyebutkan bahwa ibunya berhutang sangat banyak pada rentenir. Bukan karena mereka tidak bisa makan. Namun ibunya memilih untuk bergaya hidup lebih dari selayaknya yang mereka bisa. Makanan, pakaian, bahkan alat elektronik (gadget) yang ibunya pakai selalu lebih baik dari yang sanggup mereka bayar.

Oh. Gaya hidup.

Benda apakah ‘gaya hidup’ itu yang mampu membuat seseorang begitu haus padanya?

Saya tidak akan menyalahkan langkah sang pasien dengan meminjam uang pada rentenir demi sesuatu bernama ‘gaya hidup’. Ia sudah cukup merana menanggung malu dan sakit yang dideritanya saat itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat manusia begitu tergila-gila pada ‘gaya hidup’?

Tak jarang kita mendengar berbagai celetukan di sebuah obrolan ringan, mengenai apa yang seharusnya dilakukan, mana yang pantas, mana yang layak. Kadang-kadang manusia terlalu terfokus pada hal-hal yang demikian. Menganggap bahwa kemampuan, derajat dan harga diri seseorang diukur dengan benda yan kasat mata. Atau sebenarnya yang dicari adalah ‘pengakuan’, sesuatu yang abstrak yang mungkin akan dicapai dengan hal-hal materialistis.

“Hari gini belum pake iPhone?” “Ini udah jaman mobil matic, ngapain masih pake yg manual?” “Lipstick kamu norak. Coba pake Lime Crime!”

Namun salahkah jika beberapa orang termakan oleh dogma seperti ini?

Saya rasa ini wajar karena kita terbiasa mendengar bahwa motivasi dari segalanya adalah punya uang dan hidup enak. Harga diri diukur dari makanan apa yang kita konsumsi, merk pakaian apa yang kita kenakan, gadget merk apa yang melekat di saku dan tas, atau make-up artis ternama siapa yang kita tiru. Tentunya dengan media sosial yang semakin merajalela, manusia lebih mudah mengiming-imingi dan diiming-imingi. Menunjukkan bahwa hidup mereka ‘tidak biasa’ dalam ke’biasa’an. Inilah yang akhirnya membentuk banyak orang yang sebenarnya kurang mampu mencapainya, namun dipaksa dengan tertatih-tatih, pinjam sana-sini, membohongi diri sendiri demi sebuah prestise dan kebanggaan diri. Dan saya pikir, seseorang juga perlu belajar bagaimana lebih bijak dalam berkomentar. Jangan sampai karena opini kita, seseorang merasa terintimidasi untuk bergaya hidup lebih tinggi dari yang bisa mereka beli.

Orang lain bisa mengeluarkan uang ekstra mereka tanpa kata ‘berlebihan’. Namun hal itu mungkin tidak berlaku untuk kita yang masih tertatih mengisi pundi rekening demi mencicil rumah dan kendaraan. Mungkin, sang ibu yang tergolek lemah dan sesak napas tersebut berpikir bahwa dengan menembus batas kemampuannya di bidang finansial, dia bisa menembus strata yang dia inginkan. Namun rupanya ia lupa dengan konsekuensinya. Jari saya meraba sebuah luka bekas sayatan di pergelangan tangan kiri. Depresi karena dikejar-kejar rentenir pastilah sangat menakutkan sehingga membuat ibu tersebut berusaha bunuh diri hingga dua kali.

But we all have our own living conditions. Hidup manusia bukanlah hal yang bisa dicopy-paste. Kita harus bisa membuat kebahagiaan sendiri, dengan kemampuan masing-masing, dan bukan mengharap pujian atau pengakuan dari orang lain.

Akhirnya, ibu tersebut meninggal dunia. Kita doakan semoga ia tiada dengan damai dan tentram. Meski mungkin anak-anaknya akan tunggang langgang membayar biaya rumah sakit dan menutupi hutang-hutang belum terlunasi.

***

Malang, March 23rd 2015

Harapan yang Lebih Banyak Untukku

Hai,

kamu datang lagi, dengan senyuman lebar serta pekik histeris, “Benjolan di ketiak kiriku hilang!” Hahaha… konyol rasanya. Semua orang di poliklinik ini tertawa. Namun semua orang di sini tahu, tidak ada yang aneh dari keriangan atas benjolan yang menghilang. Itu adalah keajaiban.

Lalu jarum infus melukai pembuluh venamu. Entah sudah yang keberapa kali. Mungkin ratusan. Kupikir kulitmu sudah mati rasa. Namun dengan santai kamu berkata, “Sakit yang sesungguhnya itu ketika tidak punya harapan.”

Seiring dengan cairan obat masuk ke tubuhmu, kamu bercerita tentang rambut yang semakin rontok, teman-teman sekolahmu yang makin sering mengolok-olok, mual dan muntah hebat setelah kunjungan tiga minggu yang lalu, serta jemari tangan dan kaki yang kadang-kadang terasa ngilu. Kepedihan itu ada, tapi sinar matamu menguburnya dalam-dalam. Kegetiran itu terasa, tapi mimpimu lebih bergelora.

“Aku ingin jadi dokter juga, Dok. Aku ingin jadi harapan bagi orang-orang sepertiku,” ujarmu.

Betapa lucu… di saat kamu datang padaku untuk mencari harapan, sesungguhnya akulah yang menemukan harapan, kebahagiaan dan rasa syukur padamu. Harapan adalah ketika engkau menghitung jumlah nodul* di leher, ketiak dan selangkangan. Kebahagiaan adalah ketika engkau mengetahui jumlahnya berkurang. Dan bersyukur adalah ketika engkau diberi kesempatan sehari lagi untuk bisa melakukannya berulang-ulang.

Nah! Selesai sudah kemoterapi hari ini. Sekarang pulanglah. Jangan lupa meminum obat anti-muntahmu. Datanglah padaku tiga minggu lagi. Dan bawakan untukku harapan yang lebih banyak dari hari ini.

***

Malang, February 5th 2015

* Nodul: benjolan pada kulit atau di bawah kulit yang berukuran lebih dari 0,5 cm

Kupu-kupu di Wajahmu

“Selamat pagi.”

Aku baru saja akan melanjutkan tidur sebelum mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Jantungku bergedup. Refleks kukenakan kupluk biru yang teronggok di samping bantal. Kujejalkan topi rajut itu ke kepalaku yang hampir tak berambut lagi.

“Oh. Halo,” ujarku canggung.

Ivan tersenyum sambil berjalan ke arah ranjangku. Diletakkannya serumpun bunga berwarna merah dan ungu di pangkuanku. Kelopaknya yang tipis tapi lentur masih basah oleh embun tadi pagi. Wanginya juga masih terasa begitu segar. Seperti ada kekuatan dan harapan yang tengah meliuk dan menelusup ke dalam penghidu.

“Tadi papasan sama Tante. Katanya mau pulang dulu dan aku langsung disuruh masuk. Eh iya… Apa kabar?” tanyanya.

Ingin sekali menjawab bahwa seketika nyeri di persendian tiba-tiba menghilang melihat kedatangannya. Tapi yang meluncur dari mulutku hanya, “Seperti yang kamu lihat,” sambil terburu-buru menutupi kedua kaki yang membengkak dengan selimut loreng putih-biru.

Lelaki yang kukenal sejak kecil itu mengalihkan pandangannya menuju tanganku yang terpasang venflon. Senyumnya tertahan. “Pakai beginian sakit, ya?” tanyanya sambil menyentuh ragu selang yang terjulur ke botol infus.

“Ehm… sekarang sih enggak. Tapi kalau lagi pulse methyl… itu baru kerasa sakit.” jawabku. Aku menunggu Ivan bertanya apa itu pulse methyl. Tapi lelaki di depanku hanya menggangguk-anggukkan kepala.

“Kapan masuk kuliah lagi?”

Pertanyaan Ivan membuat hatiku mencelos. Kuliah. Sudah dua bulan kutinggalkan kosa kata itu entah di mana.

Kupalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Mengamati seekor kucing rumah sakit yang sedang berjemur di taman. Rambutnya yang berwarna kuning menjadi keemasan ketika sinar matahari menempa tubuhnya.

Sinar matahari. Betapa hal sesederhana itu sangat kurindukan. Air mata mulai menggenang. Hah! Khas manusia. Menyesal ketika mulai kehilangan kesempatan.

“Iris. Nama bunga itu adalah Iris,” jelasnya tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. Lalu memandangi bunga-bunga Iris yang masih duduk manis di kedua tanganku. “Oh. Seperti judul lagu Goo Goo Dolls.”

Ivan tergelak mendengarku. “Ya ya… Seperti lagu Goo Goo Dolls. Tapi ternyata Iris lebih hebat dari John Rzeznik yang tiba-tiba potong rambut demi lagu itu.”

Mendadak perhatianku teralih. Pikiran tentang kucing yang sedang berjemur telah tergantikan oleh Iris. “Apa?”

Ivan menarik napas panjang. “Dulu, mungkin saat nasib dan hidup kita berdua belum direncanakan, ada seorang pelukis yang depresi dan terasing. Dia gila. Atau paling tidak, orang-orang menyebutnya gila.”

Ivan berhenti sejenak, menimbang apakah harus meneruskan ceritanya.

“Lalu?” tanyaku.

Ivan tersenyum dan meneruskan kembali kisahnya, “Suatu hari, ia melukis sebuah mahakarya. Sebuah padang yang dipenuhi bunga Iris. Lukisan di mana tertuang sisa-sisa kewarasannya di atas kanvas.”

Napasku memberat. Percaya atau tidak, sejujurnya aku tidak sudi disamakan dengan orang yang pernah gila. Tapi sepahit atau sesedih apapun, bukankah sebuah kisah itu selalu ada yang menarik untuk disimak hikmahnya?

“Tapi siapa sangka, dari puing-puing kewarasan yang disusun di rumah sakit jiwa, lukisan Iris justru dikenal sebagai lukisan yang cantik, mewakili perasaan dan kehidupan.”

Kembali kupalingkan wajah ke luar jendela. Kucing berambut kuning sudah tidak ada di sana. Mungkin dia mengembara ke sela-sela dapur untuk mencuri sepotong ikan. Demi bertahan hidup, seekor kucing bisa melakukan segalanya. Dan demi bertahan hidup, aku hanya bisa bergantung pada obat-obatan menyakitkan yang jumlahnya tidak pernah berkurang.

“Mereka… orang-orang yang dulu kukira teman… merasa jijik denganku setelah tahu aku kena Lupus. Mereka menjauh karena rambutku yang rontok perlahan. Mereka menjauh dari kulitku yang memerah dan mengerikan bila tertempa matahari. Bahkan… mereka memanggilku kepiting rebus.”

Suaraku tercekat saat mengatakan ini. Lalu kuingat bagaimana lelahnya menahan sakit kedua lutut yang terasa akan terlepas dari tempatnya. Tentang kulit yang memerah dan seakan terbakar setiap terpapar matahari. Sariawan di mulut yang tidak memudar. Air mata yang menggenang kini jatuh dan membabi buta. Ah, perempuan! Dipancing dengan cerita tentang bunga saja sudah terharu tak keruan.

Namun tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada tangan yang menggenggam tanganku, menenangkannya saat gemetar begitu hebat. “Mereka berbohong. Tidak ada panci yang muat untuk merebusmu,” ujar Ivan.

Aku tergelak, bahkan hampir tersedak air mataku sendiri. Dasar, Ivan! Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuatku merasa lebih baik.

“Enak aja! Kamu juga canggih banget ngomongin dongeng  pasti nyontek dulu, kan?” ledekku, berharap dia akan ikut tertawa bersamaku.

Namun Ivan hanya menyunggingkan senyum kecil dan memandangiku. “Aku tidak akan pernah paham rasanya menderita sakit seperti yang kamu alami. Tapi aku yakin, Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata, Na.”

Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata.

Ada sebuah ruang yang tiba-tiba menyesaki dada. Ruang itu dipenuhi doa dan harapan yang selama ini tak berani kuungkapkan. Jika pelukis gila tadi bisa menyelamatkan sisa kewarasannya lewat lukisan, maka aku pasti bisa menyelamatkan harapan juga. Tidak muluk-muluk. Harapan untuk bisa menikmati sinar matahari pagi. Itu saja.

Tiba-tiba kudengar Ivan bergumam lagi. “Lagi pula… bila itu kamu, maka bukan kepiting yang direbus. Itu adalah kupu-kupu.”

“Hah? Oh… Iya…,” lirihku sambil menutupi ruam merah yang mulai menjalar di kedua pipiku dengan masker berwarna biru. Entah mengapa… Padahal tidak ada sinar matahari yang menerobos ke kamarku.

“Dan… aku menyukai kupu-kupu di wajahmu.”

Lalu kami berdua terdiam. Ruangan berdinding putih dan dingin ini seakan turut membuat suasana menjadi hening.

Dan kupu-kupu di wajahku beterbangan… menyelinap masuk hingga ke lambungku.

***

Malang, June 9th 2014

* Cerita tentang lukisan bunga Iris adalah berdasarkan lukisan Irises oleh Vincent Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889.

** Cerpen ini dibuat dalam rangka ‘pemanasan’. Ahahaha *gemeter*

#RainbowProject: Blue(s)

PicsArt_1396765955614

 

Code Blue.

Sebuah cerpen yang dibuat secara kilat karena prinsip ‘mumpung’. Mumpung ada proyek nulis dengan konsep warna ‘biru’. Karena berdasarkan ide, sepertinya cerita ini enggak bisa masuk ke mana-mana. Enggak ada unsur cinta-cintaan. Yang ada justru unsur pertentangan idealisme yang banyak dipertanyakan. Dan saya ingin sekali-kali mengusung sebuah cerita tentang pertarungan batin semua dokter di dunia, bahwa mereka justru lebih sering mengabdikan diri pada banyak orang, kecuali keluarga sendiri.

Masih ingatkah pada tulisan saya bahwa tulisan fiksi bisa jadi sebuah pertanda? Iya. Akhirnya saya mengalami pergolakan batin itu. Di saat Bapak sedang berjuang melawan ketakutannya akan penyakit gagal ginjal, saya justru lebih banyak meluangkan waktu untuk membangkitkan semangat pasien-pasien di rumah sakit. Di saat Bapak merasa cemas menghadapi hemodialisis pertamanya, saya justru mondar-mandir dan berpikir tentang pasien-pasien yang perlu dikoreksi hiperkalemianya. Dan di saat Bapak memasuki ruang operasi untuk pemasangan dialisis peritoneal, saya bahkan tidak sempat mengucapkan, “Semua akan baik-baik saja, Pak. Bapak akan kembali berusia 17 tahun saat keluar dari pintu operasi itu.”

Sejenak saya merasa kapok menulis fiksi. Terlalu banyak hal menyedihkan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Mungkin saya harus bisa lebih berbahagia agar mampu menuliskan sesuatu berbau cinta atau hal-hal yang manis lagi.

Ada yang mau jadi sumber kebahagiaan saya?

*ujung-ujungnya tetap modus*

Btw, sila pesan buku kumpulan cerpen yang diambil dari #RainbowProject berjudul Blue(s) ini di NulisBuku. Tenang saja… Cerita selain Code Blue banyak yang indah dan berakhir bahagia, kok.

O iya. Nama saya Nina Nur Arifah. Bukan Nina Nur Afifah.

Sekian.

***

Malang, April 6th 2014

13 Februari 2014: Pulang

Setelah beberapa hari lupa pada sebuah pagi yang memilukan, kemarin saya diingatkan lagi dengan sebuah presentasi kasus kematian. Bukan mau sok dramatis atau melankolis. Tapi kepulangan Mas Je (panggil saja begitu) membuat saya kembali merenung tentang garis yang tersisip dalam sebuah cerita fiksi.

Pada tanggal 25 Januari, MFF membuat tantangan dalam rangka ulang tahunnya yang pertama. Dan saya ingin terlibat dalam pesta mini sebuah komunitas yang telah menjadi keluarga baru. Tentu saja, karena sudah cukup lama tidak menorehkan aksara dalam cerita 300 kata, saya tergagap dan semacam tidak terarah. Bingung mau nulis tentang apa. Namun akhirnya sebuah tema mencuat di balik keruwetan yang ada di kepala. Dan sebuah flashfiction sedih meluncur dari sana.

Tidak ada firasat atau apapun ketika menuliskan cerita itu. Hingga akhirnya, pada hari minggu malam, seorang pasien laki-laki kurus dan berkulit putih opname di RS. Begitu melihat wajahnya, saya langsung berseru, “Loh, Mas Je kok balik lagi?” Dia heran mengapa saya tahu namanya. Dan keheranannya itu wajar, karena sebenarnya kami tidak saling mengenal. Saya hanya pernah melihatnya ketika masih berstatus residen orientasi di RS.

Namun lelaki kemayu itu tersenyum dan berkata, “Iya, Dok. Masuk lagi. Diare lagi.”

Beberapa hari kemudian, Mas Je berpindah ruangan. Dari ruang rawat inap biasa ke ruang tempat saya bertugas. Yaitu ruang rawat inap khusus pasien dengan penyakit HIV. Sebenarnya, pembagian ruangan seperti ini jauh berbeda dengan harapan WHO mengenai HIV: Zero new HIV infections, Zero discrimination, and Zero AIDS-related deaths. Dengan adanya pembagian ruang seperti ini, tentu saja pasien dengan HIV merasa terdiskriminasi. Dan keluarga pasti merasa terintimidasi. Menjenguk ke ruang itu adalah sebuah aib. Maka tak jarang, pasien-pasien dengan HIV hanya ditunggui oleh anggota LSM.

Tapi Mas Je pindah ruangan saya dengan senyum yang tetap bertengger di bibirnya. Sore itu ia banyak bercerita tentang sakitnya yang mulai berkurang, tentang pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan, dan tentang keluarga yang jarang mau menungguinya.

Keesokan paginya, ketika saya visite, tiba-tiba Mas Je berkata, “Bu Dokter, boleh saya ngomong agak banyak?”

Sebenarnya, pagi itu saya tidak memiliki banyak waktu. Sengaja saya memvisite pasien lebih pagi karena saya harus presentasi pada jam 06:30 WIB. Namun mendengar permintaan Mas Je, alam bawah sadar saya menyuruh diri ini untuk duduk dan mendengar kata-katanya.

“Dokter, saya berterima kasih karena Bu Dokter dan teman-teman di sini mau merawat saya, mau menerima saya dengan baik. Saya nyaman di sini. Penyakit saya memang tidak bisa sembuh. Tapi selama di sini, saya merasa jauh lebih baik. Saya berterima kasih atas bantuannya. Saya sangat berterima kasih,” ucapnya dalam kalimat yang terbata-bata.

Lalu dengan tangan yang gemetar, Mas Je menggenggam tangan saya, lalu mendekap kedua tangan ini hingga ke dadanya. “Sekali lagi, terima kasih sudah merawat saya, Bu Dokter.”

Menanggung sebuah penyakit yang pasti tidak bisa sembuh adalah cobaan berat. Dan mendengar sebuah rasa terima kasih ketika penderitaan itu belum berakhir membuat saya tersentuh. Saya menepuk-nepuk ringan tangannya. Meski wajah ini tertutup masker, tapi saya yakin Mas Je bisa melihat mata saya yang sedang tersenyum. “Sama-sama, Mas. Makanya Mas Je harus cepet sehat, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi,” lirih saya.

Lelaki kemayu – yang menurut sebagian besar orang masih tersisa kegantengan di masa sehat – itu mengangguk dan tersenyum. Saya melirik jam tangan. Jam 06:15 WIB. Sudah waktunya bersiap-siap.

Ketika melangkah keluar dari kamarnya, saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah percakapan kami yang terakhir. Pukul 09:00 WIB, ketika acara laporan pagi baru saja diakhiri, sebuah sms dari dokter muda membuat jantung saya berhenti.

“Dok, nadi Pak Je tidak teraba. What should I do?”

Tanpa pertimbangan apapun, saya langsung melesat lari ke ruangan dan melihat sendiri keadaan Mas Je. Kesadarannya sudah 111, tekanan darah jatuh pada 80 per palpasi. Saya naikkan kecepatan cairan dan menyiapkan obat resusitasi. Namun belum sempat obat resusitasi terpasang, napas Mas Je berhenti. Seketika itu pula, rasanya ada batu besar yang dihantamkan di kepala. Lalu jatuh ke dada, berhenti di perut dan membesar di sana.

Pijatan jantung dan ventilasi sudah tidak bisa membantu. Pukul 09:40 WIB, Mas Je dinyatakan meninggal dunia. Tanpa saudara atau keluarga di sampingnya. Buru-buru saya beranjak pergi dari kamar lelaki kemayu itu karena rasanya sesak sekali.

Seorang administrator berkata, “Nunggu pindah dulu baru meninggal. Mas Je maunya ditungguin dr. Nina itu…”

Lalu air mata yang menggenang jatuh juga. Meskipun seakan-akan Mas Je sudah tahu bahwa dia harus pergi semendadak itu, tetap saja saya tidak suka perpisahan. Apalagi mengingat kondisinya yang membaik dari hari ke hari, rasanya ada yang salah dari cara saya merawatnya.

Namun bukankah memang beginilah yang dinamakan hidup? Bahwa banyak pertanyaan yang memang tidak bisa langsung dijawab. Bahkan setelah kasus kematian Mas Je saya presentasikan di depan senior dan supervisor, penyebab pasti kematian Mas Je pun masih abu-abu.

Kini Mas Je telah menjadi abu. Tersimpan di sebuah bilik bertuliskan namanya. Satu hal yang terjawab adalah meski saudara dan keluarganya jarang menunggui Mas Je, tapi banyak air  mata yang mengiringi kepergiannya. Ayah dan ibu yang sebelumnya tidak pernah menjenguk pun berurai kepedihan.

Dan saya, kembali merenung. Ada sebuah PR besar di sini. Saya harus berlari untuk bisa mengejar kereta Zero AIDS-related deaths yang masih melenggang jauh di depan.

13 Februari 2014.

Mas Je pulang.

***

Malang, February 28th 2014

Advertisements
%d bloggers like this: