Archive for the ‘ medis ’ Category

Copy Paste

20140730_101136

Ruang 28 – RSSA (Juli, 2014)

Kita belajar sesuatu setiap hari. Bukan hanya dari buku-buku, seminar ilmiah atau diskusi akademik. Hidup mengajarkan kita sesuatu di setiap detiknya. Di mana saja. Bahkan di tempat ditemukannya keputusasaan dan harapan. Rumah sakit, salah satunya.

Di sebuah sore yang mendung, saya baru saja menunaikan solat Asar ketika pintu ruang intensif terbuka. Seorang lelaki berteriak dengan khas, “OB!” Oh. Ada pasien baru rupanya.

Sekilas saya melirik papan di dekat telepon. Di bawah tulisan ‘pesanan’ tertulis Intoksikasi HCl.

Pasien adalah perempuan berusia 50 tahun yang datang dengan penurunan kesadaran setelah mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai berisi asam klorida. Kondisi pasien tidak begitu baik. Kesadaran delirium dengan nadi cepat dan lemah serta napas cepat dan dalam. Khas Kussmaul. Dari laporan observasi di UGD, pasien sempat muntah darah serta kencing hematuria. Tidak ada terapi khusus untuk keracunan asam, tidak ada antidotnya. Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tidak terjadi komplikasi terjadinya striktur esofagus, perforasi saluran cerna serta penatalaksanaan suportif lainnya.

Kemudian saya menggali riwayat sakit dari ibu yang malang tersebut. Anak keduanya menceritakan dengan sedikit cemas. Bahwa ibunya depresi karena tidak punya uang. Dengan hati-hati saya bertanya apa pekerjaan pasien, suami serta anak-anaknya. Sang ibu tidak bekerja, suaminya telah berhenti bekerja sebagai buruh bangunan sejak terkena serangan stroke, dan anak-anaknya bekerja sebagai buruh bangunan dan penjual es.

Mungkin tidak ada yang aneh dari pekerjaan tersebut. Saya dapat melihat bahwa anak kedua yang sedang saya hadapi, yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, tidak hidup sebagai orang terlantar atau yang sama sekali tidak punya uang. Namun apa yang membuat sang ibu begitu depresi hingga berniat bunuh diri?

Ragu-ragu, anak kedua tersebut menyebutkan bahwa ibunya berhutang sangat banyak pada rentenir. Bukan karena mereka tidak bisa makan. Namun ibunya memilih untuk bergaya hidup lebih dari selayaknya yang mereka bisa. Makanan, pakaian, bahkan alat elektronik (gadget) yang ibunya pakai selalu lebih baik dari yang sanggup mereka bayar.

Oh. Gaya hidup.

Benda apakah ‘gaya hidup’ itu yang mampu membuat seseorang begitu haus padanya?

Saya tidak akan menyalahkan langkah sang pasien dengan meminjam uang pada rentenir demi sesuatu bernama ‘gaya hidup’. Ia sudah cukup merana menanggung malu dan sakit yang dideritanya saat itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat manusia begitu tergila-gila pada ‘gaya hidup’?

Tak jarang kita mendengar berbagai celetukan di sebuah obrolan ringan, mengenai apa yang seharusnya dilakukan, mana yang pantas, mana yang layak. Kadang-kadang manusia terlalu terfokus pada hal-hal yang demikian. Menganggap bahwa kemampuan, derajat dan harga diri seseorang diukur dengan benda yan kasat mata. Atau sebenarnya yang dicari adalah ‘pengakuan’, sesuatu yang abstrak yang mungkin akan dicapai dengan hal-hal materialistis.

“Hari gini belum pake iPhone?” “Ini udah jaman mobil matic, ngapain masih pake yg manual?” “Lipstick kamu norak. Coba pake Lime Crime!”

Namun salahkah jika beberapa orang termakan oleh dogma seperti ini?

Saya rasa ini wajar karena kita terbiasa mendengar bahwa motivasi dari segalanya adalah punya uang dan hidup enak. Harga diri diukur dari makanan apa yang kita konsumsi, merk pakaian apa yang kita kenakan, gadget merk apa yang melekat di saku dan tas, atau make-up artis ternama siapa yang kita tiru. Tentunya dengan media sosial yang semakin merajalela, manusia lebih mudah mengiming-imingi dan diiming-imingi. Menunjukkan bahwa hidup mereka ‘tidak biasa’ dalam ke’biasa’an. Inilah yang akhirnya membentuk banyak orang yang sebenarnya kurang mampu mencapainya, namun dipaksa dengan tertatih-tatih, pinjam sana-sini, membohongi diri sendiri demi sebuah prestise dan kebanggaan diri. Dan saya pikir, seseorang juga perlu belajar bagaimana lebih bijak dalam berkomentar. Jangan sampai karena opini kita, seseorang merasa terintimidasi untuk bergaya hidup lebih tinggi dari yang bisa mereka beli.

Orang lain bisa mengeluarkan uang ekstra mereka tanpa kata ‘berlebihan’. Namun hal itu mungkin tidak berlaku untuk kita yang masih tertatih mengisi pundi rekening demi mencicil rumah dan kendaraan. Mungkin, sang ibu yang tergolek lemah dan sesak napas tersebut berpikir bahwa dengan menembus batas kemampuannya di bidang finansial, dia bisa menembus strata yang dia inginkan. Namun rupanya ia lupa dengan konsekuensinya. Jari saya meraba sebuah luka bekas sayatan di pergelangan tangan kiri. Depresi karena dikejar-kejar rentenir pastilah sangat menakutkan sehingga membuat ibu tersebut berusaha bunuh diri hingga dua kali.

But we all have our own living conditions. Hidup manusia bukanlah hal yang bisa dicopy-paste. Kita harus bisa membuat kebahagiaan sendiri, dengan kemampuan masing-masing, dan bukan mengharap pujian atau pengakuan dari orang lain.

Akhirnya, ibu tersebut meninggal dunia. Kita doakan semoga ia tiada dengan damai dan tentram. Meski mungkin anak-anaknya akan tunggang langgang membayar biaya rumah sakit dan menutupi hutang-hutang belum terlunasi.

***

Malang, March 23rd 2015

Advertisements

Harapan yang Lebih Banyak Untukku

Hai,

kamu datang lagi, dengan senyuman lebar serta pekik histeris, “Benjolan di ketiak kiriku hilang!” Hahaha… konyol rasanya. Semua orang di poliklinik ini tertawa. Namun semua orang di sini tahu, tidak ada yang aneh dari keriangan atas benjolan yang menghilang. Itu adalah keajaiban.

Lalu jarum infus melukai pembuluh venamu. Entah sudah yang keberapa kali. Mungkin ratusan. Kupikir kulitmu sudah mati rasa. Namun dengan santai kamu berkata, “Sakit yang sesungguhnya itu ketika tidak punya harapan.”

Seiring dengan cairan obat masuk ke tubuhmu, kamu bercerita tentang rambut yang semakin rontok, teman-teman sekolahmu yang makin sering mengolok-olok, mual dan muntah hebat setelah kunjungan tiga minggu yang lalu, serta jemari tangan dan kaki yang kadang-kadang terasa ngilu. Kepedihan itu ada, tapi sinar matamu menguburnya dalam-dalam. Kegetiran itu terasa, tapi mimpimu lebih bergelora.

“Aku ingin jadi dokter juga, Dok. Aku ingin jadi harapan bagi orang-orang sepertiku,” ujarmu.

Betapa lucu… di saat kamu datang padaku untuk mencari harapan, sesungguhnya akulah yang menemukan harapan, kebahagiaan dan rasa syukur padamu. Harapan adalah ketika engkau menghitung jumlah nodul* di leher, ketiak dan selangkangan. Kebahagiaan adalah ketika engkau mengetahui jumlahnya berkurang. Dan bersyukur adalah ketika engkau diberi kesempatan sehari lagi untuk bisa melakukannya berulang-ulang.

Nah! Selesai sudah kemoterapi hari ini. Sekarang pulanglah. Jangan lupa meminum obat anti-muntahmu. Datanglah padaku tiga minggu lagi. Dan bawakan untukku harapan yang lebih banyak dari hari ini.

***

Malang, February 5th 2015

* Nodul: benjolan pada kulit atau di bawah kulit yang berukuran lebih dari 0,5 cm

Malang Endocrine Update VII ~ “Think Globally, Act Locally: New Insight into the Local Regulation in Endocrine Diseases”

poster MEU VII_2

Salam Sejawat,

Ilmu kedokteran mengalami perkembangan yang luar biasa setiap saat. Kemajuan dalam ilmu kedokteran ini mengharuskan kita untuk selalu melakukan penyegaran yang terus-menerus. Merupakan suatu kehormatan bagi kami untuk menyambut Anda kembali dalam Malang Endocrine Update VII yang akan diselenggarakan pada tanggal 2-5 April 2015.

Apresiasi setinggi-tingginya kami berikan atas partisipasi anda pada acara ilmiah yang kali ini mengambil tema ‘Think Globally, Act Locally: New Insight into the Local Regulation in Endocrine Diseases’. Kami memilih tema ini dengan mempertimbangkan bahwa saat ini Indonesia berada dalam era tranformasi menuju sistem jaminan sosial nasional yang salah satunya adalah mengedepankan pola rujukan berjenjang. Sebagai penyedia jasa kesehatan, sudah sepatutnya kita memahami posisi masing-masing beserta regulasi yang melekat, apakah itu di pelaksana pelayanan kesehatan (PPK) 1, PPK 2 atau di PPK 3. Selain tema di atas, kami juga memberikan penekanan pada workshop yang membahas antara lain tentang kelainan kelenjar tiroid, pituitari dan adrenal, penggunaan insulin dan steroid, serta membahas tentang osteoporosis dan sindroma metabolik.

Juga tak lupa hal yang menjadi ciri khas dari Malang Endocrine Update yaitu drug positioning, satu upaya untuk menyimpulkan berbagai hal yang telah dibicarakan dengan menempatkan semua obat yang didiskusikan dalam praktik klinis sehari-hari sesuai dengan lagoritma, panduan dan juga aplikasi klinis. Akhir kata, kami mengucapkan selamat datang dan selamat mengikuti Malang Endocrine Update VII.

Hormat Kami,

dr. Putu ModaArsana,SpPD-KEMD

daftar acara MEU VII

Transfer:

Bank CIMB NIAGA RSSA

REK. 833-01-00006-19-3

A/N RSSA MALANG, SMF IPD

DIV. DIABETES & ENDOKRINOLOGI

Contact person:

Heni: 081249689543

Email: perkeni_mlg@yahoo.com

Fax: 0341-3541445

NB: atau bisa menghubungi email saya untuk mendapatkan leafletnya: ninanurarifah@gmail.com ^^

Kupu-kupu di Wajahmu

“Selamat pagi.”

Aku baru saja akan melanjutkan tidur sebelum mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Jantungku bergedup. Refleks kukenakan kupluk biru yang teronggok di samping bantal. Kujejalkan topi rajut itu ke kepalaku yang hampir tak berambut lagi.

“Oh. Halo,” ujarku canggung.

Ivan tersenyum sambil berjalan ke arah ranjangku. Diletakkannya serumpun bunga berwarna merah dan ungu di pangkuanku. Kelopaknya yang tipis tapi lentur masih basah oleh embun tadi pagi. Wanginya juga masih terasa begitu segar. Seperti ada kekuatan dan harapan yang tengah meliuk dan menelusup ke dalam penghidu.

“Tadi papasan sama Tante. Katanya mau pulang dulu dan aku langsung disuruh masuk. Eh iya… Apa kabar?” tanyanya.

Ingin sekali menjawab bahwa seketika nyeri di persendian tiba-tiba menghilang melihat kedatangannya. Tapi yang meluncur dari mulutku hanya, “Seperti yang kamu lihat,” sambil terburu-buru menutupi kedua kaki yang membengkak dengan selimut loreng putih-biru.

Lelaki yang kukenal sejak kecil itu mengalihkan pandangannya menuju tanganku yang terpasang venflon. Senyumnya tertahan. “Pakai beginian sakit, ya?” tanyanya sambil menyentuh ragu selang yang terjulur ke botol infus.

“Ehm… sekarang sih enggak. Tapi kalau lagi pulse methyl… itu baru kerasa sakit.” jawabku. Aku menunggu Ivan bertanya apa itu pulse methyl. Tapi lelaki di depanku hanya menggangguk-anggukkan kepala.

“Kapan masuk kuliah lagi?”

Pertanyaan Ivan membuat hatiku mencelos. Kuliah. Sudah dua bulan kutinggalkan kosa kata itu entah di mana.

Kupalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Mengamati seekor kucing rumah sakit yang sedang berjemur di taman. Rambutnya yang berwarna kuning menjadi keemasan ketika sinar matahari menempa tubuhnya.

Sinar matahari. Betapa hal sesederhana itu sangat kurindukan. Air mata mulai menggenang. Hah! Khas manusia. Menyesal ketika mulai kehilangan kesempatan.

“Iris. Nama bunga itu adalah Iris,” jelasnya tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. Lalu memandangi bunga-bunga Iris yang masih duduk manis di kedua tanganku. “Oh. Seperti judul lagu Goo Goo Dolls.”

Ivan tergelak mendengarku. “Ya ya… Seperti lagu Goo Goo Dolls. Tapi ternyata Iris lebih hebat dari John Rzeznik yang tiba-tiba potong rambut demi lagu itu.”

Mendadak perhatianku teralih. Pikiran tentang kucing yang sedang berjemur telah tergantikan oleh Iris. “Apa?”

Ivan menarik napas panjang. “Dulu, mungkin saat nasib dan hidup kita berdua belum direncanakan, ada seorang pelukis yang depresi dan terasing. Dia gila. Atau paling tidak, orang-orang menyebutnya gila.”

Ivan berhenti sejenak, menimbang apakah harus meneruskan ceritanya.

“Lalu?” tanyaku.

Ivan tersenyum dan meneruskan kembali kisahnya, “Suatu hari, ia melukis sebuah mahakarya. Sebuah padang yang dipenuhi bunga Iris. Lukisan di mana tertuang sisa-sisa kewarasannya di atas kanvas.”

Napasku memberat. Percaya atau tidak, sejujurnya aku tidak sudi disamakan dengan orang yang pernah gila. Tapi sepahit atau sesedih apapun, bukankah sebuah kisah itu selalu ada yang menarik untuk disimak hikmahnya?

“Tapi siapa sangka, dari puing-puing kewarasan yang disusun di rumah sakit jiwa, lukisan Iris justru dikenal sebagai lukisan yang cantik, mewakili perasaan dan kehidupan.”

Kembali kupalingkan wajah ke luar jendela. Kucing berambut kuning sudah tidak ada di sana. Mungkin dia mengembara ke sela-sela dapur untuk mencuri sepotong ikan. Demi bertahan hidup, seekor kucing bisa melakukan segalanya. Dan demi bertahan hidup, aku hanya bisa bergantung pada obat-obatan menyakitkan yang jumlahnya tidak pernah berkurang.

“Mereka… orang-orang yang dulu kukira teman… merasa jijik denganku setelah tahu aku kena Lupus. Mereka menjauh karena rambutku yang rontok perlahan. Mereka menjauh dari kulitku yang memerah dan mengerikan bila tertempa matahari. Bahkan… mereka memanggilku kepiting rebus.”

Suaraku tercekat saat mengatakan ini. Lalu kuingat bagaimana lelahnya menahan sakit kedua lutut yang terasa akan terlepas dari tempatnya. Tentang kulit yang memerah dan seakan terbakar setiap terpapar matahari. Sariawan di mulut yang tidak memudar. Air mata yang menggenang kini jatuh dan membabi buta. Ah, perempuan! Dipancing dengan cerita tentang bunga saja sudah terharu tak keruan.

Namun tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada tangan yang menggenggam tanganku, menenangkannya saat gemetar begitu hebat. “Mereka berbohong. Tidak ada panci yang muat untuk merebusmu,” ujar Ivan.

Aku tergelak, bahkan hampir tersedak air mataku sendiri. Dasar, Ivan! Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuatku merasa lebih baik.

“Enak aja! Kamu juga canggih banget ngomongin dongeng  pasti nyontek dulu, kan?” ledekku, berharap dia akan ikut tertawa bersamaku.

Namun Ivan hanya menyunggingkan senyum kecil dan memandangiku. “Aku tidak akan pernah paham rasanya menderita sakit seperti yang kamu alami. Tapi aku yakin, Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata, Na.”

Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata.

Ada sebuah ruang yang tiba-tiba menyesaki dada. Ruang itu dipenuhi doa dan harapan yang selama ini tak berani kuungkapkan. Jika pelukis gila tadi bisa menyelamatkan sisa kewarasannya lewat lukisan, maka aku pasti bisa menyelamatkan harapan juga. Tidak muluk-muluk. Harapan untuk bisa menikmati sinar matahari pagi. Itu saja.

Tiba-tiba kudengar Ivan bergumam lagi. “Lagi pula… bila itu kamu, maka bukan kepiting yang direbus. Itu adalah kupu-kupu.”

“Hah? Oh… Iya…,” lirihku sambil menutupi ruam merah yang mulai menjalar di kedua pipiku dengan masker berwarna biru. Entah mengapa… Padahal tidak ada sinar matahari yang menerobos ke kamarku.

“Dan… aku menyukai kupu-kupu di wajahmu.”

Lalu kami berdua terdiam. Ruangan berdinding putih dan dingin ini seakan turut membuat suasana menjadi hening.

Dan kupu-kupu di wajahku beterbangan… menyelinap masuk hingga ke lambungku.

***

Malang, June 9th 2014

* Cerita tentang lukisan bunga Iris adalah berdasarkan lukisan Irises oleh Vincent Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889.

** Cerpen ini dibuat dalam rangka ‘pemanasan’. Ahahaha *gemeter*

#RainbowProject: Blue(s)

PicsArt_1396765955614

 

Code Blue.

Sebuah cerpen yang dibuat secara kilat karena prinsip ‘mumpung’. Mumpung ada proyek nulis dengan konsep warna ‘biru’. Karena berdasarkan ide, sepertinya cerita ini enggak bisa masuk ke mana-mana. Enggak ada unsur cinta-cintaan. Yang ada justru unsur pertentangan idealisme yang banyak dipertanyakan. Dan saya ingin sekali-kali mengusung sebuah cerita tentang pertarungan batin semua dokter di dunia, bahwa mereka justru lebih sering mengabdikan diri pada banyak orang, kecuali keluarga sendiri.

Masih ingatkah pada tulisan saya bahwa tulisan fiksi bisa jadi sebuah pertanda? Iya. Akhirnya saya mengalami pergolakan batin itu. Di saat Bapak sedang berjuang melawan ketakutannya akan penyakit gagal ginjal, saya justru lebih banyak meluangkan waktu untuk membangkitkan semangat pasien-pasien di rumah sakit. Di saat Bapak merasa cemas menghadapi hemodialisis pertamanya, saya justru mondar-mandir dan berpikir tentang pasien-pasien yang perlu dikoreksi hiperkalemianya. Dan di saat Bapak memasuki ruang operasi untuk pemasangan dialisis peritoneal, saya bahkan tidak sempat mengucapkan, “Semua akan baik-baik saja, Pak. Bapak akan kembali berusia 17 tahun saat keluar dari pintu operasi itu.”

Sejenak saya merasa kapok menulis fiksi. Terlalu banyak hal menyedihkan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini. Mungkin saya harus bisa lebih berbahagia agar mampu menuliskan sesuatu berbau cinta atau hal-hal yang manis lagi.

Ada yang mau jadi sumber kebahagiaan saya?

*ujung-ujungnya tetap modus*

Btw, sila pesan buku kumpulan cerpen yang diambil dari #RainbowProject berjudul Blue(s) ini di NulisBuku. Tenang saja… Cerita selain Code Blue banyak yang indah dan berakhir bahagia, kok.

O iya. Nama saya Nina Nur Arifah. Bukan Nina Nur Afifah.

Sekian.

***

Malang, April 6th 2014

13 Februari 2014: Pulang

Setelah beberapa hari lupa pada sebuah pagi yang memilukan, kemarin saya diingatkan lagi dengan sebuah presentasi kasus kematian. Bukan mau sok dramatis atau melankolis. Tapi kepulangan Mas Je (panggil saja begitu) membuat saya kembali merenung tentang garis yang tersisip dalam sebuah cerita fiksi.

Pada tanggal 25 Januari, MFF membuat tantangan dalam rangka ulang tahunnya yang pertama. Dan saya ingin terlibat dalam pesta mini sebuah komunitas yang telah menjadi keluarga baru. Tentu saja, karena sudah cukup lama tidak menorehkan aksara dalam cerita 300 kata, saya tergagap dan semacam tidak terarah. Bingung mau nulis tentang apa. Namun akhirnya sebuah tema mencuat di balik keruwetan yang ada di kepala. Dan sebuah flashfiction sedih meluncur dari sana.

Tidak ada firasat atau apapun ketika menuliskan cerita itu. Hingga akhirnya, pada hari minggu malam, seorang pasien laki-laki kurus dan berkulit putih opname di RS. Begitu melihat wajahnya, saya langsung berseru, “Loh, Mas Je kok balik lagi?” Dia heran mengapa saya tahu namanya. Dan keheranannya itu wajar, karena sebenarnya kami tidak saling mengenal. Saya hanya pernah melihatnya ketika masih berstatus residen orientasi di RS.

Namun lelaki kemayu itu tersenyum dan berkata, “Iya, Dok. Masuk lagi. Diare lagi.”

Beberapa hari kemudian, Mas Je berpindah ruangan. Dari ruang rawat inap biasa ke ruang tempat saya bertugas. Yaitu ruang rawat inap khusus pasien dengan penyakit HIV. Sebenarnya, pembagian ruangan seperti ini jauh berbeda dengan harapan WHO mengenai HIV: Zero new HIV infections, Zero discrimination, and Zero AIDS-related deaths. Dengan adanya pembagian ruang seperti ini, tentu saja pasien dengan HIV merasa terdiskriminasi. Dan keluarga pasti merasa terintimidasi. Menjenguk ke ruang itu adalah sebuah aib. Maka tak jarang, pasien-pasien dengan HIV hanya ditunggui oleh anggota LSM.

Tapi Mas Je pindah ruangan saya dengan senyum yang tetap bertengger di bibirnya. Sore itu ia banyak bercerita tentang sakitnya yang mulai berkurang, tentang pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan, dan tentang keluarga yang jarang mau menungguinya.

Keesokan paginya, ketika saya visite, tiba-tiba Mas Je berkata, “Bu Dokter, boleh saya ngomong agak banyak?”

Sebenarnya, pagi itu saya tidak memiliki banyak waktu. Sengaja saya memvisite pasien lebih pagi karena saya harus presentasi pada jam 06:30 WIB. Namun mendengar permintaan Mas Je, alam bawah sadar saya menyuruh diri ini untuk duduk dan mendengar kata-katanya.

“Dokter, saya berterima kasih karena Bu Dokter dan teman-teman di sini mau merawat saya, mau menerima saya dengan baik. Saya nyaman di sini. Penyakit saya memang tidak bisa sembuh. Tapi selama di sini, saya merasa jauh lebih baik. Saya berterima kasih atas bantuannya. Saya sangat berterima kasih,” ucapnya dalam kalimat yang terbata-bata.

Lalu dengan tangan yang gemetar, Mas Je menggenggam tangan saya, lalu mendekap kedua tangan ini hingga ke dadanya. “Sekali lagi, terima kasih sudah merawat saya, Bu Dokter.”

Menanggung sebuah penyakit yang pasti tidak bisa sembuh adalah cobaan berat. Dan mendengar sebuah rasa terima kasih ketika penderitaan itu belum berakhir membuat saya tersentuh. Saya menepuk-nepuk ringan tangannya. Meski wajah ini tertutup masker, tapi saya yakin Mas Je bisa melihat mata saya yang sedang tersenyum. “Sama-sama, Mas. Makanya Mas Je harus cepet sehat, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi,” lirih saya.

Lelaki kemayu – yang menurut sebagian besar orang masih tersisa kegantengan di masa sehat – itu mengangguk dan tersenyum. Saya melirik jam tangan. Jam 06:15 WIB. Sudah waktunya bersiap-siap.

Ketika melangkah keluar dari kamarnya, saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah percakapan kami yang terakhir. Pukul 09:00 WIB, ketika acara laporan pagi baru saja diakhiri, sebuah sms dari dokter muda membuat jantung saya berhenti.

“Dok, nadi Pak Je tidak teraba. What should I do?”

Tanpa pertimbangan apapun, saya langsung melesat lari ke ruangan dan melihat sendiri keadaan Mas Je. Kesadarannya sudah 111, tekanan darah jatuh pada 80 per palpasi. Saya naikkan kecepatan cairan dan menyiapkan obat resusitasi. Namun belum sempat obat resusitasi terpasang, napas Mas Je berhenti. Seketika itu pula, rasanya ada batu besar yang dihantamkan di kepala. Lalu jatuh ke dada, berhenti di perut dan membesar di sana.

Pijatan jantung dan ventilasi sudah tidak bisa membantu. Pukul 09:40 WIB, Mas Je dinyatakan meninggal dunia. Tanpa saudara atau keluarga di sampingnya. Buru-buru saya beranjak pergi dari kamar lelaki kemayu itu karena rasanya sesak sekali.

Seorang administrator berkata, “Nunggu pindah dulu baru meninggal. Mas Je maunya ditungguin dr. Nina itu…”

Lalu air mata yang menggenang jatuh juga. Meskipun seakan-akan Mas Je sudah tahu bahwa dia harus pergi semendadak itu, tetap saja saya tidak suka perpisahan. Apalagi mengingat kondisinya yang membaik dari hari ke hari, rasanya ada yang salah dari cara saya merawatnya.

Namun bukankah memang beginilah yang dinamakan hidup? Bahwa banyak pertanyaan yang memang tidak bisa langsung dijawab. Bahkan setelah kasus kematian Mas Je saya presentasikan di depan senior dan supervisor, penyebab pasti kematian Mas Je pun masih abu-abu.

Kini Mas Je telah menjadi abu. Tersimpan di sebuah bilik bertuliskan namanya. Satu hal yang terjawab adalah meski saudara dan keluarganya jarang menunggui Mas Je, tapi banyak air  mata yang mengiringi kepergiannya. Ayah dan ibu yang sebelumnya tidak pernah menjenguk pun berurai kepedihan.

Dan saya, kembali merenung. Ada sebuah PR besar di sini. Saya harus berlari untuk bisa mengejar kereta Zero AIDS-related deaths yang masih melenggang jauh di depan.

13 Februari 2014.

Mas Je pulang.

***

Malang, February 28th 2014

Ruang 23

Pil warna pink dan putih itu tergeletak di atas meja kayu, bersanding dengan segelas air putih dan sepiring pisang goreng. “Jangan, jangan telan pil itu,” suara di kepalaku berbisik pelan.

Aku menoleh, pandanganku tertuju pada dinding yang sekarang menyeringai. Dinding itu membuka mulutnya yang hitam dan pecah-pecah, “Jika kamu menelan kedua pil itu, kamu tidak akan pernah melihatku lagi.”

Dinding yang putih itu tiba-tiba berlekuk-lekuk, terlipat-lipat sendiri menjadi seraut wajah yang sangat kukenal. Wajah seorang laki-laki yang pergi tanpa peduli perasaannya yang terluka. Pergi bersama seorang perempuan yang tengah berbadan dua.

“Tapi kamu lebih tenang setelah menelanku, “ kata pil perwarna putih.

Pil itu sekarang menumbuhkan sepasang kaki cebol dan berjalan ke arahku. Tapi langkahnya yang kecil terhenti di tepi meja, memandangku dengan satu mata yang memohon.

“Tidak. Setelah memakanmu, aku akan tenang lalu tertidur. Aku akan mimpi buruk.”

Lalu pil berwarna pink buka mulut, “Mimpi burukmu akan hilang saat menelanku.”

“Setelah memakanmu, aku tidak bisa mengingatnya lagi.”

“Bukankah kenangan tentang laki-laki itu adalah luka? Sudah saatnya kamu lupa,” kata pil berwarna pink yang sekarang menggelindingkan dirinya yang mungil, lalu berdiri di samping pil putih. Kini keduanya tepat berada di depan mataku, melompat-lompat kegirangan, memohon-mohon padaku agar aku segera memindahkan mereka ke lambungku.

“Laki-laki itu adalah luka. Tapi bukankah manusia yang bisa bertahan karena mampu melewatinya?”

“Kamu bukan sedang melewatinya. Kamu berputar-putar di sana. Meratap dan menikmati rasa sakit, sehingga menyiksa dirimu sendiri.”

“Aku tidak menyiksa diri sendiri. Kalian yang menyiksaku.”

“Apa kamu pikir, kami semua ada dan nyata?”

“TAI!”

Kuhantamkan sebuah kursi kayu ke meja. Kedua benda berbahan kayu itu beradu, membuat gaduh. Kedua pil biadab itu terlempar ke lantai. Meja itu kini roboh, gelas dari alumunium pun terjatuh dan membuat gaduh, airnya tumpah membasahi sebagian ranjang dan lantai yang licin. Piring plastik yang berisi pisang goreng terpental ke pojok ruangan, isinya berhamburan ke segala arah, satu ada yang terinjak olehku. Kursi kayu yang kuayunkan mendarat tak sempurna ke atas ranjangku.

Dinding yang dingin kembali membentuk wajah yang membuatku ngeri. Matanya melotot ke arahku, alisnya hitam dan terbakar, kulitnya meleleh, menggelambir di kedua pipi yang kempot dan berlubang, hidungnya nyaris tidak ada, hanya terdapat dua lubang sebesar jarum untuk bernafas. Kemudian kulihat, wajah itu berbalik, menjauh, memperlihatkan punggung yang tidak pernah kembali, “Pulang sekarang! PULANG!” Nafasku cepat, dadaku naik-turun dan terengah-engah.

Tiba-tiba, kursi yang kulempar tadi berbalik, terbang perlahan ke arahku. Kemudian muncul dua tangan yang kurus, gelap, dan berbongkol-bongkol, menggapai-gapai udara yang kosong. Baunya amis karena borok yang penuh darah dan nanah kental kehijauan. Aku menutup hidung dengan kedua tangan, ketakutan, berlari, berlindung di balik meja dan gemetar. Kepalaku penuh dengan kenangan di hari itu. Di hari aku merasa kehilangan separuh nyawa. Saat laki-laki itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal dan hingga kini tidak pernah kembali. Tenggorokanku tercekat, aku tidak bisa bernafas. Rongga dadaku sesak sampai akhirnya seluruh udara terlempar keluar melalui sebuah lolongan panjang. Lolonganku berhenti dan berubah menjadi isak tangis yang sendu, saat seorang perempuan berjas putih meraih tubuhku, dan mengikat tangan dan kakiku di atas ranjang.

***

Seorang laki-laki usia tiga puluhan baru saja pulang ke rumah. Kaosnya yang lusuh tampak menempel di kulit karena tubuhnya yang basah oleh keringat. Dia lalu duduk di bale-bale samping rumah, meletakkan sebagian lelah setelah membecak seharian. Memandangi bunga dan rumput liar yang tertata rapi dan basah karena selesai disiram.

Seorang perempuan menghampirinya, meletakkan segelas teh hangat dan sepiring ubi bakar di bale-bale. Perempuan itu kemudian duduk di sampingnya. Tersenyum dan meraih lengan si laki-laki, kemudian memijatnya perlahan, “Capek banget, Pak? Tadi muter kemana saja?”

“Yaaah… Rutenya ndak jauh-jauh, Nah. Kalo bukan akhir minggu, terminal kan ndak terlalu rame. Latifa mana?”

Kemudian terdengar suara langkah kaki yang mungil, berlari dari dalam rumah, berteriak dengan suaranya yang cempreng. Anak perempuan itu menghamburkan diri ke pelukan bapaknya. Menciumi bau keringat bapaknya yang ia rindukan seharian ini, “Bapak… Latifa tadi belajar berhitung di TK. Satu tambah satu jadi dua. Tiga tambah satu jadi empat. Latifa hebat ya, Pak…” katanya sambil memamerkan barisan gigi yang berlubang dan hitam karena jarang gosok gigi. Bapaknya tertawa geli melihat tingkah anak perempuannya itu. Pipinya diciumi hingga habis, “Latifa memang anak bapak yang paling cantik dan pintar.”

Si bapak menoleh pada istrinya, tersenyum, lalu mengecup pipinya sebagai ucapan syukur atas kebahagiaan kecil di sore itu.

***

Perlahan aku membuka mata, kelopaknya berat seperti dihantam godam besar. Perih. Cahaya putih itu membuat mataku perih. Terlalu banyak cahaya. Aku tidak mau banyak cahaya. Sinar yang terang mengaburkan lautan mimpiku tentang dirinya.

Tapi otakku memberikan sinyal lain. Ada yang tidak beres dengan kedua tangan dan kakiku. Tidak bisa bergerak. Sama rasanya saat ia meninggalkanku. Aku panik. Tubuhku berontak. Tidak. Jangan. Jangan diam saja. Kali ini aku harus lari mengejarnya. Kali ini, jangan sampai aku kehilangannya untuk kedua kali. Dia milikku. Milikku saja.

Ruang 23 kembali dipenuhi suara tangis yang pilu, suara hati seseorang yang kehilangan dan merindu.

Lambat laun, kegaduhan yang kubuat menghilang seiring dengan satu tabung suntik yang isinya berpindah ke pembuluh darahku melalui infus di tangan. Kegelisahanku ikut larut dalam sebuah mimpi panjang. Kali ini tentang kehilangan.

***

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya setelah mendengar kasak-kusuk tetangganya saat ia ke pasar tadi pagi. Itu tidak benar. Suaminya adalah laki-laki yang setia.

Berbagai sugesti dia tanamkan dalam sanubari, tapi tetap terasa ada yang salah pada hari-hari suaminya tiba-tiba datang dengan membawa dua kantong besar belanjaan yang mewah. Ada yang salah pada saat suaminya pulang lebih larut dari biasanya. Ada yang salah pada malam-malam terakhir suaminya jarang menyentuhnya.

Tinah terduduk lesu di bale-bale samping rumahnya. Menghapus air mata yang sudah menganak-sungai di pipinya yang tak lagi muda. Matanya menemukan Latifa, memandangnya penuh tanya, apa yang membuat ibunya begitu berduka.

***

Ikatan di kedua tangan dan kakiku sudah dilepaskan. Ekstremitasku bebas. Tapi aku tetap tidak bisa berlari ke masa ia menghilang.

Aku berusaha menyatukan kepingan-kepingan yang melayang dalam kepalaku. Banyak sekali. Seperti serangga-serangga yang mudah bereplikasi menjadi jutaan dan berlomba-lomba mencari jalan keluar dari sarang yang sempit. Mereka ingin segera keluar. Mencari udara bebas.

Di atas meja, teronggok pil-pil biadab itu lagi. Kali ini bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk kolak pisang. Sejenak aku mengabaikan mereka. Memandangi dinding putih yang biasanya membuat suara-suara.

“Terakhir kali kamu tidak meminum kami, mereka mengikatmu seperti mereka mengikat orang gila,” kata pil pink. Kepalaku menoleh, mataku menemukan pil itu menumbuhkan sayap berwarna putih, dengan bulu-bulu kecil yang kepakannya membelah udara di sekitarnya, terbang kesana-kemari. Aku tak habis pikir, berapa banyak jumlah transfomasi yang bisa ia ciptakan.

“Setan!”

“Wah, sekarang kamu sudah berani menyebut kami ‘setan’. Padahal kami yang membuat hidupmu lebih damai,” kata pil putih. Mataku terbelalak saat mendapati pil laknat itu menumbuhkan dua telinga panjang berwarna lavender, juga sepasang tangan dan kaki yang halus seperti bulu kucing. Sebenarnya apa wujud asli pil-pil ini? Aku tidak bisa mengerti. Mereka sudah gila.

“Bisa diam? Atau mau aku hanyutkan bersama taiku yang belum kubuang?”

Pil-pil itu bergidik ketakutan. Gigi-gigi mereka beradu, menimbulkan bunyi gemeretak yang lucu. Mereka menyatukan tangan mereka, melayangkan pandangan ngeri padaku, lalu mendarat sempurna di atas meja.

Aku menang. Kalian bisa apa?

“Kamu pikir, kami takut mendengar ancamanmu tadi? Bukankah kamu lebih takut sekarang?” kata pil putih.

Aku marah, “Aku tidak takut. Memangnya aku takut apa?”

“Takut menjadi waras dan menghadapi kenyataan hidupmu yang tidak bahagia,” kata pil putih lagi. Pil pink menyeringai. Tatapannya menghina. Jelek sekali.

“Kalian yang tidak waras. Kalian ada untuk membuat orang tidak bahagia.”

“Kamu bahagia karena khayalanmu sendiri. Ya… khayalan tentang sesuatu yang kamu buat sendiri. Kamu pengecut,” kata pil pink.

“AKU TIDAK GILA! AKU TIDAK TAKUT! AKU BUKAN PENGECUT!”

Seperti yang sudah-sudah, aku melayangkan nampan ke arah meja. Gelas dan piring membentur lantai dan menimbulkan suara yang keras. Lalu dinding putih itu kembali membentuk siluet punggung. Punggung yang ia rindukan. Menoleh sejenak dengan senyum terakhir yang mengerikan. Dari sudut bibirnya keluar taring yang panjang dan mengerikan. Lalu tangannya yang bopeng menjulur ke arahku, berusaha mencengkeram leherku. Suaraku tercekat. Hilang. Sama seperti saat ia berjalan keluar dari rumah dan tidak kembali. Dadaku penuh sesak. Lolonganku kembali terdengar. Meluruhkan jutaan perih yang lama bertengger di tubuhku. Tapi aneh, aku tidak merasa lebih baik.

***

KROMPYANG!!!

Latifa yang sedang belajar di kamar terkejut mendengar suara gaduh dari dapur. Bapak dan ibunya ada di situ. Tapi Latifa terlalu takut untuk menghampiri mereka. Ada apa? Latifa kecil tidak mampu mencerna apa yang sedang terjadi di sana. Otaknya masih sibuk mengingat berapakah hasil dari tujuh ditambah lima.

Tapi teriakan-teriakan ibunya begitu menggoda hasrat ingin tahu Latifa. Kakinya menuntun tubuh kecilnya menuju pintu dapur. Ia mengendap-endap di balik tirai hijau yang sudah lusuh.

“Kenapa kamu tega seperti itu? Kamu ndak mikir gimana nasibku dan Latifa?”

“Kalo aku kawin sama dia, hidup kita ndak susah kaya gini!”

“Kamu mau kawin sama dia karena sudah hamil, kan? Aku denger dari orang-orang pasar, Pak!”

“Ya kalo sudah denger malah bagus. Trus apa? Kamu tetep mau minta cerai?”

“Kurang ajar! Laki-laki laknat! Aku lebih baik jadi janda dari pada harus ngemis-ngemis sama si Tutik itu!”

“Yo wes. Jangan nyari-nyari aku lagi! Mulai sekarang, aku ndak ada urusan sama kamu!”

Lalu langkah kaki bapaknya mendekati pintu dapur. Bapaknya menangkap sepasang mata Latifa yang ketakutan. Latifa terkesiap memandang wajah bapaknya yang begitu menakutkan. Mata itu terlihat begitu mantap meninggalkan rumah. Latifa ngeri dan merasa kehilangan. Maka ia menghampiri bapaknya dengan setengah  berlari, meninggalkan ibunya yang menangis tanpa henti.

Tapi langkah Latifa terhenti di ambang pintu. Kakinya bagai dipasung. Malihat bapaknya memeluk seorang perempuan yang bukan ibunya. Mata Latifa memandang lekat perempuan itu. Tidak lebih cantik dari ibunya. Hanya polesan bedak dan pemerah bibir yang lebih tebal dari ibunya. Padangan Latifa turun, menemukan perut perempuan itu membesar.

“Bapak…” panggil Latifa dengan suara lirih dan merana.

Bapaknya menoleh. Singkat. Lalu pergi selamanya. Latifa baru menyadari. Tidak ada lagi cinta bapak untuknya.

***

Pil pink dan putih itu datang lagi. Tetap di atas meja, bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk bubur yang hambar. “Jangan, jangan minum pil itu.” Suara-suara di kepalaku kembali bicara. Kali ini tidak berbisik, tapi riuh bergemuruh, seperti sebuah konser yang tidak bisa dibendung. Aku menoleh pada dinding yang putih, menyentuhnya dengan ujung jariku yang gemetar. Bibirku yang kering menjadi pecah saat menyebut namanya, berdarah saat menangisi dimana keberadaannya. Tidak. Sudah cukup ia menghilang dari hidupku. Jangan lagi hilang dari ingatanku. Jangan.

Aku meraih kedua pil pembuat lupa itu, menggenggamnya, dan merintih.

***

Dokter muda perempuan itu sumringah. Hari ini presentasinya berjalan lancar. Dia lulus bagian Psikiatri. Dua hari lagi dia akan bertugas di bagian Neurologi. Maka pagi itu, dia memutuskan untuk menemui pasiennya sekali lagi, menyampaikan salam perpisahan pada Latifa.

***

Sudah lima belas hari. Tiap pagi aku menantikan pil-pil itu datang, lalu kuhanyutkan bersama kotoran. Tidak ada lagi yang bisa membuatku lupa. Tidak ada lagi yang merampas kebahagiaanku. Hanya ada aku, bersama kepungan rindu yang hanya bisa terpuaskan sendiri dalam rangkaian adegan seperti film yang bergerak di otakku. Tentang aku dan bapak. Bapak yang mengatakan aku cantik dan pintar. Bapak yang bau keringatnya sangat aku suka. Bapak yang aku rindukan sepanjang hari. Bapak yang memelukku dan suka mendaratkan ciuman di pipinya.

Aku baru saja akan berbincang pada dinding putih itu. Tiba-tiba seorang perempuan berbaju putih panjang datang. Wajahnya sangat ku kenal. Wajah yang setiap hari menyajikan kedua pil pembuat lupa itu. Kehadirannya selalu kuingat sebagai perampas bayang bahagiaku. Aku membencinya. Dia sama kejamnya dengan perempuan yang dipeluk bapak. Perempuan yang perutnya membesar. Perempuan yang mengambil bapak dariku.

Perempuan itu mendekat. Hatiku tercekat. Kali ini, tidak akan aku biarkan dia merampas bapak, meski bayangannya saja. Sudah cukup kejahatannya memberikan aku benda-benda yang menghapus kebahagiaan. Harus dihentikan. Sekarang.

***

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang 23. Perawat dan dokter muda segera berhamburan, menuju satu bilik dengan teralis besi. Lalu langkah terburu-buru mereka terhenti saat melihat kekacauan di kamar itu. Sebuah kursi terguling, bersanding dengan kubangan darah dari sisi ranjang Latifa, dengan seorang perempuan berjas putih panjang tergolek tak berdaya di lantainya. Matanya membelalak ngeri, mulutnya terbuka, kepalanya nyaris pecah, perutnya tercabik tak karuan. Lukanya menganga dan berdarah. Semua terkesiap, menutup mata dan hampir muntah.

Sedangkan Latifa, bersenandung kecil di atas ranjangnya. Gadis berusia 18 tahun itu tampak begitu bahagia memandangi dinding yang pucat, meracau tanpa arti yang jelas, dan menggenggam pecahan cermin berdarah di tangan kanannya.

***

[Sheila On 7 – Ketidakwarasan Padaku]

September 17th 2012

Moru – Alor – NTT

* Cerita terinspirasi dari sebuah kasus di Ruang 23 (Ruang bagi para penderita penyakit kejiwaan) di RS Saiful Anwar Malang beberapa tahun yang lalu.

** Diterbitkan dalam Random 2

%d bloggers like this: