Archive for the ‘ puisi ’ Category

Kopiku Tandas

14991200_10210089539727326_3841816215030126076_o

Kopi tandas
Denting cangkir bergegas mengemasi cemas

Kopiku tandas,
dasar cangkir membekas remang rembulan yang diselingkuhi awan rupawan

Dan malamku ini, lengang digeladah sepi
serupa ampas kopimu yang mengering hingga pagi

(Wlingi, 11 November 2016)

Advertisements

Kopi Sore Ini

15578348_10210439434154468_2028409639232716277_o

 

Kopi sore ini…
pahit dan hening
bagai derap-derap langkahmu yang perlahan menjauh,
laiknya rindu yang merayap di lorong tak berujung.

Senyummu pucat
ujung bibirmu gersang
wajahmu telah berpaling, meninggalkan petak ladang kita yang belum sempat ditumbuhi.

Sore ini, kopiku berkubang nestapa
Ia menjadikan pahit sebagai cerita pembuka
Mencintaimu, dijadikannya kutukanku
Dan keheningan telah menjamu segala macam duka dunia di sepanjang abad.

Tanda

‚ÄčKamu adalah deretan aksara

yang tetap kueja meski terbata

meski kata, kalimat, paragraf, telah morat-marit tak patuh adab.
Bibirmu miskin kata-kata.

Ceritamu enggan mengarah ke mana-mana. 

Halaman itu berlalu begitu saja

hanya terisi deretan nama yang akhirnya selalu meninggalkan jeda.
Maka izinkan aku menjadi tanda

sebagai awal mula yang berakhir pada titik akhir pencarian

dan tak akan hilang meninggalkan tanda tanya.

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu

WhatsApp Image 2016-08-25 at 16.29.41

 

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu…

kecuali saat ini.

Ketika jarak semakin mempertegas antara
dan waktu mengulur kesempatanku bertemu denganmu.

Ada lengang berlinang di gelas kaca, serupa cokelat yang meleleh di sudut bibirmu di setiap pagi.

Ada sunyi yang mengendap, selayaknya senyum sederhana dan pelukan hangat darimu yang perlahan ditelusupi mati.

Berharap mungkin dapat memeram rindu. Tapi menunggu menjadikannya tumbuh beringas dan tak tahu malu.

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu… kecuali saat ini.

Ketika panggilanku berdering dua kali
lalu ibu jarimu membuatnya mati.

***

Malang, 24 Agustus 2016

Di Pengembaraan, Satu-Satu Rindu Berjatuhan

image

Ia yang pernah kuhujani peluk
Ia yang pernah kuselimuti cumbu
Perlahan mengabur bersama jejak-jejak kasar roda hidup

Di pengembaraan,
satu-satu rindu bergelimpangan

Ia tak lagi sanggup kureguk
Ia tak lagi sanggup kupagut
Kini hanya menyisakan jelaganya yang mengerak di sudut mataku

(Gambar dan quote diambil dari Path @KataBergerak ^^ )

Hujan Memenjarakan Kita

image

Sesungguhnya hujan memenjarakan kita…
dari kaki-kaki kecil yang berkecipak di atas kuyupnya aspal, dari mulut yang berceloteh ramai mengalahkan rinai, dari mata yang dibasahi bahagia di bawah hujan.

Dan hujan telah memenjarakanku…
dalam kenangan yang menggenang bertubi-tubi itu, aku tenggelam.

Malang, 19 Juni 2016, 08:09 WIB

Aku Tidak Tahu Apa Namanya

image

Sore ini, hujan turun membawa suara-suara
Bisik-bisik ditiupkan perlahan di setiap tetesnya
Bisa kudengar dengan mata terpejam, ada nyanyian yang biasa kamu dendangkan
tentang luka
tentang harapan dan cita-cita
tentang hujan dan segala kenangan yang ia bawa

Di lain waktu, hujan mengembuskan wewangian tanah yang merona
Terlintas ceritamu saat menyesap kopi pekat di kala senja
Bahwa semenjak bumi diciptakan, hujan dan tanah telah berijab kabul, lalu melahirkan bayi-bayi petrikor. Mereka beranak pinak menjadi melodi pemanggil kepiluan.

Hujan dan tanah tak berhenti bereproduksi.
Petrikor.
Pilu.
Cucunya banyak sekali.
Aku tidak tahu apa namanya.

Kopimu lenyap sesaat sebelum tersadar bahwa aku dirasuki ribuan cicit-cicit mereka.

%d bloggers like this: