Archive for the ‘ 100 Kata ’ Category

Lingerie Merah

“Suamiku selingkuh.”

“Selingkuh?” tanyaku.

Vera mengangguk lemah, menyesap segelas piña colada dan mendesah. “Aku menemukan lingerie merah di koper yang dibawanya ke luar kota.”

“Mungkin itu hadiah untukmu, Ver,” ujarku.

“Enggak mungkin. Aku enggak suka pakai lingerie. Macam pelacur saja.”

Aku terkejut mendengarnya. Bagaimana mungkin dia menganalogikan lingerie dengan pelacur? Ada kalanya aku merasa sahabatku ini terlampau dangkal dalam melabeli sesuatu.

“Jelas Mas Braga selingkuh. Dia gugup sekali waktu kutanya tentang lingerie merah itu,” racaunya.

“Semoga enggak,” lirihku. Sambil melirik pesan baru di ponselku. ‘Kutunggu di tempat biasa.’

Aku tersenyum. Mengelus lingerie merah dalam tasku. Hadiah dari Braga untukku.

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Advertisements

Kedua Matanya adalah Lubang Hitam

Kedua matanya adalah lubang hitam. Menarikku. Menyesatkanku. Aku rela hilang di pusaran mata cokelatnya yang redup dan sendu. Lebih-lebih saat bibirnya berkata, “Aku cinta padamu.”

Kedua matanya adalah telaga rindu. Menenangkan. Menenggelamkan. Aku bersedia hanyut dan terbenam. Sambil mencabuti luka masa lalu, dan menancapkan cintaku di dasarnya.

Kedua matanya adalah penyulut cemburu. Membakar. Menghanguskan. Aku sesak dalam kobaran amarah serta murka yang meliar, acap kali kedua matanya melirik sepersekian detik pada perempuan lain.

Setahun. Dua tahun.

Aku hangus berkali-kali.

Maka kuputuskan. Kedua mata itu kuselamatkan.

Kupandangi kedua bola mata lelakiku. Melingkar-lingkar di dasar cangkir kopi sore ini. Bercahaya untukku sendiri.

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Jam Lima Sore

Jam lima sore.

Aku berdiri di depan pintu rumah indekos yang sudah kuhapal kebiasaan penghuninya. Gadis berkacamata akan keluar lima menit lagi untuk membeli siomay. Setelahnya, gadis berjilbab bergegas pergi ke masjid.

Kuketuk pintu kayunya.

Tok tok tok.

Tidak ada respon. Sepertinya mereka belum sadar ada yang bertamu. Mungkin harus kuketuk pintunya sekali lagi.

Tok tok tok.

Terdengar teriakan cempreng, “Sebentaaar.”

Pintu terbuka. Seorang gadis menyapa, “Cari sia…,”

“AAARGH!”

Dibantingnya pintu, tepat di hadapanku yang berdiri mengangkang dan tanpa celana. Ia histeris mengabari rekan-rekannya, “Penjahat kelamiiin!”

Ah. Puas. Tanganku menuntaskan ejakulasi yang tertahan lama. Besok pamer ke mana lagi, ya?

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Mengapa Ayah Berbeda?

Aku ingin segera bertemu Ibu. Aku bosan. Selama ini hanya bisa mendengar suaranya. Meskipun aku suka ketika Ibu menyanyi lagu-lagu tentang bulan dan bintang – bahkan lebih suka lagi saat Ibu mengaji – tapi aku ingin melihat Ibu. Dari suara yang lembut dan merdu, wajah Ibu pasti cantik sekali.

Kalau Ayah, aku justru sering berjumpa dengannya. Beliau rutin mengunjungiku. Tidak lama, sih. Ayah datang untuk menanyakan kabarku, mengirim makanan atau mengajakku bermain balon-balon penuh warna.

Dan sekaranglah saatnya. Ibu… Ayah… Aku datang!

Tepat dugaanku! Ibu secantik yang kubayangkan.

Tapi Ayahku… mengapa wajahnya berbeda dengan sebelumnya saat ia mengunjungiku di dalam kandungan Ibu?

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Ingin Jadi Dokter

“Cita-citamu apa?”

“Penting, ya, punya cita-cita?”

“Iyalah! Itu artinya punya tujuan hidup.”

“Ehm … Emang cita-citamu apa?”

“Jadi dokter, dong.”

“Kenapa?”

“Enak. Bisa nolong orang. Aku sering denger, tuh. Kalo Ibu sakit perut, ke dokter. Kalo mual atau muntah, ke dokter. Kalo pusing-pusing, ke dokter. Kayanya hebat banget.”

“Wah. Kalo gitu aku juga, deh. Aku juga mau nyembuhin orang-orang yang sakit perut sama pusing.”

“Tapi kita harus keluar dulu.”

“Iya lah. Eh … emang sekarang, ya?”

***

“Terima kasih banyak. Anda sudah menyelamatkan karir saya.”

“Sama-sama.”

“Berapa yang harus saya bayar, Dok?”

“Karena bayi di dalam rahim ibu itu kembar, jadi biaya aborsinya ….”

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Ampas Kopi di Dasar Gelas

image

“Ning, kopi tubruk siji, yo.”

Ning mengangguk dan tersenyum. Ia mengecilkan api kompor minyak agar gorengannya tidak gosong, sebelum membuat kopi pesananku.

“Monggo, Mas,” ujarnya sembari menunduk dan meletakkan kopi hitam di hadapanku. Lipatan dadanya menyembul dari balik kemeja bunga-bunga.

Lalu pandangan kami bertubrukan. Senyum malu-malu Ning merona. Membuat dentuman tak karuan di dada.

Ning berbalik dan membalik gorengannya. Aku menyesap kopi perlahan. Sambil tetap mencuri pandang pada pinggul Ning yang bergoyang-goyang.

Kopi tubruk telah tandas. Hanya ampas kopi yang teresidu di dasarnya. Sedangkan rinduku pada Ning meresap sampai ke jiwa. Dan omelan istriku pagi tadi, menguap entah ke mana.

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

Sebelum Selamanya

PLAK!

Hime menamparku. Keras sekali. Ia memelototiku hingga bola matanya hampir terpental.

“Permintaanmu itu kurang ajar!” pekiknya.

Kuelus pipi yang memanas. Duh. Apa salahnya, sih? Kupikir semua orang harus paham kondisi pasangannya. Aku hanya ingin tahu segala hal tentangnya. Dari luar hingga dalam. Dan untuk itu, aku harus memastikan, bukan?

“Jangan marah dulu, Sayang. Sebulan lagi kita menikah, kan? Lagipula aku mau lihat aja. Enggak ngapa-ngapain,” bujukku.

Aku berjalan mendekatinya. Tapi Hime mendorong tubuhku. Ia mundur teratur sambil menggenggam erat rok selututnya. “Bajingan! Kenapa tiba-tiba kamu ingin … me … melihat se … selaput daraku?”

“Soalnya bapakku bilang … jangan terima jika segel rusak.”

***

Diikutsertakan dalam #FF100Kata

%d bloggers like this: