Archive for the ‘ fiksi ’ Category

Lampu Baca

Binar di wajahmu malam ini bahkan bulan ingin bersembunyi. Berulang kisah yang sama mengalir dari bibirmu, seakan ada skenario yang kau hafal sejak dulu.

Tentang ia yang memesona.

Tentang ia yang bijaksana.

Tentang ia yang layak mendapatkanmu seutuhnya.

Dan aku pun hafal adegan yang selanjutnya terjadi hingga dini hari nanti…

Kepalamu rebah di pangkuan. Wajahmu dilukis lebar senyuman.

Dan aku hanyalah lampu baca yang terbiarkan menyala di saat kamu sudah terlelap dan bermimpi indah tentangnya.

Advertisements

Pandawa Muksa

Malam hingar, namun Drupadi merenung sendiri di dalam kamar. Baru saja ia menolak ajakan Yudistira untuk turut berpesta merayakan kemenangan Pandawa dalam perang Kurukshetra. Drupadi sedang gusar. Satu-satu helai rambut berjatuhan dari sirkam usang di tangannya. Wajahnya tiada lagi berbinar. Ia berduka mengingat perang yang mengantarkan kelima anaknya direnggut maut di tangan Aswatama.

Teringat ia pada anak panah Arjuna yang melesat pada sebuah sayembara di kerajaan Panchala. Drupadi bahagia. Ia mengira Dewa telah mengabulkan doanya dengan tidak hanya memberikan satu suami mulia. Namun ‘istri kelima Pandawa’ bukanlah gelar yang indah disandang. Nyatanya harga Drupadi hanyalah sebatas putaran dadu Sengkuni dan Duryodana.

Drupadi adalah cinta yang berpindah hati dari hari ke hari. Sesungguhnya ia hanya ingin dicari, bukan mencari.

Tiba-tiba sinar bulan purnama berpendar dari celah kamar. Gelisah di hati Drupadi ambyar. Ia merasakan jari-jari yang ia kenal berusaha meraih-raih tubuhnya.

Ketukan musik semakin gaduh.
Cempala rancak ditabuh.
Drupadi merapikan rambut dan kain panjang, serta memoles gincu paling merah. Ia bersiap membuang semua resah demi lelaki sekian lama digandrunginya.

Kelir terbentang.
Keprak dan dodogan makin lantang.

Drupadi direnggut kasar dari kamar berkayu suren. Matanya silau terkena cahaya blencong di ujung layar.

“Lakon terakhir. Pandawa Muksa.”

Drupadi menatap nanar Sang Dalang.

Ah, iya. Cinta bukanlah hal wajar untuk seonggok wayang.

Prolog

“Berlarilah. Lupakan luka di masa lalu.

  Berlarilah. Rasakan adrenalin yang menginfiltrasi seluruh sel di tubuhmu.

  Berlarilah. Karena ada jutaan mimpi yang menunggu untuk kau cumbu.”

***

2 Maret 2012

Satu jam lima puluh menit.

Rasanya ini akan menjadi perjalanan paling lama yang pernah kulakukan. Lebih lama dari Malang menuju Jogja yang memakan waktu tempuh enam jam dengan kereta. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kenangan bersama mantan pacar yang sudah kucintai selama lima tahun dan dengan gagahnya meminta hubungan kami berakhir karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain.

Seorang perempuan paruh baya di sampingku telah nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halusnya menjadi musik pengiring bagi pikiranku yang melayang-layang, menembus awan putih yang mengapung di luar sana. Aku terhipnotis dengan putihnya yang menenangkan. Mungkin terdengar picisan. Tapi tidak ada manusia yang tidak tergoda untuk mencoba menjejakkan kaki di atas awan. Mungkin saja awan memang bisa dijadikan alas tidur yang nyaman. Jauh dari hiruk pikuk di bawahnya. Tapi kemudian awan-awan itu mengejutkanku. Mengembalikanku pada kenyataan ketika ia membuat guncangan pada badan pesawat.

Jutaan pertanyaan itu datang lagi. Mereka meminta penjelasan untuk hal-hal yang terjadi sebelum aku pergi. Tentang secarik kertas yang kini terselip di sebuah buku harian. Secarik kertas yang membuatku memutuskan untuk melarikan diri. Secarik kertas yang membuatku kehilangan semangat dan harapan. Secarik kertas yang menciptakan jarak antara aku dan Bapak. Secarik kertas yang turut andil membuatku memutuskan untuk pergi.

“Roti, Mbak?”

Tiba-tiba ada sebuah kantong kertas berisi roti di depanku. Aku terkejut dan menoleh. Rupanya ibu yang menjadi teman perjalananku itu sudah bangun.

“Ini makan aja. Daripada ngelamun,” bisiknya sambil tersenyum. Ia kembali menyodorkan kantong roti yang wanginya memang tidak bisa kutolak.

“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tak lupa kububuhkan senyum untuk mengiringinya. Dua gerakan sederhana ini memang menjadi gerakan universal untuk menunjukkan rasa penghormatan dan terima kasih kita pada seseorang. Dua gerakan yang menyimbolkan bahwa kita memang tidak diijinkan untuk mendongakkan kepala melebihi orang lain.

“Ke Kupang juga, Mbak?” tanya ibu itu padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Iya, Bu.”

Itu adalah pertanyaan umum yang sedikit aneh. Oke. Tidak sedikit. Tapi memang aneh. Retoris. Pesawat bukan bis atau kereta yang bisa berhenti di lokasi yang berbeda, bukan? Sejenak mataku mengamati roti yang tengah kunikmati. Ah, Alika. Berani-beraninya kamu membatin hal yang tidak menyenangkan pada seseorang yang telah mau membagi sebungkus roti yang lezat padamu?

“Kalo Ibu, menuju Kupang atau pulang ke Kupang?” tanyaku.

“Pulang ke Kupang. Kemarin ada pelatihan komputerisasi untuk persiapan akreditasi rumah sakit. Lumayan sekalian jalan-jalan juga, Mbak.”

“Oooh…”

Dan kata ‘Oooh’ adalah salah satu tanda percakapan telah berakhir. Aku memang tidak pandai menjaga suasana hangat. Hari ini, contohnya.

Aku memutuskan untuk menikmati lagi pemandangan dari jendela pesawat. Awan-awan itu telah pergi. Sepertinya semesta tahu bahwa aku membutuhkan penyegaran. Hamparan hijau seperti beledu yang halus terbentang begitu indah di bawah sana. Bukit atau lembah, tidak ada bedanya. Sepertinya kakiku akan dimanjakan dengan sempurna. Tidak ada gedung-gedung atau atap rumah yang mendominasi. Hanya pepohonan, hutan, stepa, sabana, atau entah apa lagi namanya. Provinsi ini memang sangat indah.

Dalam beberapa saat lagi, kita akan mendarat di bandara El Tari, Kupang. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Surabaya. Kami harap, anda tetap mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat ini mendarat dengan sempurna. Terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.”

Aku memutar kenop jam tangan dan mulai menyesuaikan waktu. Satu jam lebih cepat dari Indonesia bagian Barat. Setidaknya aku berharap, perasaan kacau yang kubawa ke tanah yang baru ini juga akan lebih cepat berlalu.

“Kalo ada waktu, main-main dulu ke rumah saya, Mbak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada ibu yang ramah ini, “Jika ada waktu, Bu. Perjalanan saya harus berlanjut lagi.”

“Loh, kemana?”

“Ke Alor.”

Kepalaku berputar. Kini mataku memandang hamparan hijau yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan kering dan gersang di kota Kupang.

***

Kalabahi, 24 Februari 2013

 

PS:

  • Draft novel ini udah lama mangkrak. Bab 1-nya ada di hard disk, tapi hard disknya semacam rusak ehehehehe #getir

Rahasia Jarak

Rumah akan tetap sama. Ia menghidangkan harapan dan kenangan yang siap dipanen kapan saja. Sudut-sudutnya tak jemu disesaki kesedihan. Bahkan cangkir tua masih melagukan kisah-kisah bijak penghangat jiwa.

Rumah akan tetap sama.
Ia selalu menunggu hati yang dipisah jarak;
menyeduh teh di sore yang kadang tak lagi jingga;
hingga seseorang kembali dengan bijak yang berlipat-lipat;
hingga pengembara kelelahan menanti jawaban atas ratusan tanya;
hingga pecinta pulang dan menidurkan rindu yang tak lagi sama.

Rumah akan tetap sama. Kita sama-sama terluka. Dalam jarak, hati memendam rahasia. Namun kita tak pernah sangka, betapa jarak lebih mampu mengungkap rahasia-rahasia.

Malang, 19 Mei 2018
18:53 WIB

His Story

I used to wipe away his tears,
but I am not the reasons he smiles.

He used to be my favorite present,
but destiny holds him away to become my past.

We used to have the blueprints of our future,
but now on, his stories will be a history.

***

Malang, May 6th 2018
06:47 WIB

Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Percuma

Di malam-malam berlumur risau
Aku pernah bersaksi bahwa tiada hati selain engkau

Mungkin hati ini sama
Tetapi yang kita lihat hanya percuma

Dan kututup malam dengan kopi berasa kecewa
pahitnya digelandang gerimis karena engkau tak kunjung menepi

Malang, 4 Maret 2018
20:05 WIB

Advertisements
%d bloggers like this: