Archive for the ‘ BeraniCerita ’ Category

[BeraniCerita #29] Tiga Puluh Enam

image

Satu batang rokok disulut api.

Ujung selubungnya memerah sesaat, lalu berdesis bersama tembakau yang terbakar. Mata laki-laki itu memejam ketika bibir hitam mengulum filter putih yang manis. Khidmat sekali. Pipinya yang kurus menjadi semakin kempot. Entah apa yang ingin dibunuhnya dengan nikotin yang diisap begitu dalam. Rasa sakit, takut, beban hidup.

Entah.

Dia sendiri tidak mengerti.

Yang ia tahu, ketika kepulan asap terhambur dari mulut dan hidungnya, ada kumparan kelegaan yang berkata, “Menantang diri sendiri. Meniti jalan penuh adrenalin. Beginilah seharusnya menjadi lelaki.”

Rokok diisap hingga tinggal separuh.

Dulu laki-laki itu tidak mengira akan mencandui tembakau sampai segila ini. Ketika usianya dua belas tahun, sesapan pertama sudah membuat dadanya seperti akan meledak karena batuk yang tak kunjung berhenti. Tapi sekarang, empat bungkus rokok sehari. Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun. Kalikan dengan dua puluh tiga tahun, sejak pertama kali ia mencoba menjejalkan kerumunan racun itu ke dalam paru.

Orang-orang bilang, ia mencoba bunuh diri. Ah. Mereka hanya mampu menduga dan berasumsi. Bersama batang-batang rokok yang terbakar, ide-idenya brilian. Buah karyanya cemerlang. Tubuhnya mampu melawan lelah dan lapar. Makan? Oh. Dia jarang sekali makan. Nikotin, tar, karbon monoksida, dan teman-temannya sudah cukup mengisi kekosongan yang meronta dalam tubuhnya.

Laki-laki itu tak pernah merasa gagal menjadi laki-laki perkasa. Tembakau adalah belahan jiwanya. Sahabat di masa tersulit. Kekasih di kala ia patah hati.

Sesekali mengalami nyeri tenggorokan bukanlah hal yang patut dibesar-besarkan. Atau dua-tiga kali mengalami nyeri dada. Laki-laki itu menerima sang belahan jiwa apa adanya. Termasuk ketika semakin sering ia dapati sesuatu berwarna merah di dahaknya.

Tinggal satu sesapan.

Laki-laki itu menatap rokoknya dengan nanar.

Seharusnya, lelaki tidak boleh menyesal. Tapi apa mau dikata. Nyatanya, ia telah menjatuhkan kesetiaan pada bahaya. Butiran abu bisa terbang bersama angin. Namun di dalam tubuhnya, belahan jiwa telah menyisakan penyakit yang melimbungkannya. Menenggelamkan sebongkah batu besar yang membuatnya sulit bernapas. Menggerogoti kantong-kantong udara di parunya hingga batuk berdarah-darah.

Puntung rokok tersisa di sela jari tangannya.

Seluruh abu telah meluruh ke tanah. Tak ada lagi kepulan asap. Tidak ada lagi tembakau yang mampu disesap.

Laki-laki itu menjejalkan ujung rokok ke tanah merah. Menengadahkan kepala dan menghela udara tanpa tembakau setelah sekian lama. Air mata yang tertahan akhirnya jatuh juga.

“Tiga puluh enam. Mungkin, jika bisa berhenti atau tidak mencoba sama sekali, aku bisa mengukir angka lebih banyak di sana,” pikir sang laki-laki saat memandang gundukan basah bernisankan namanya.

***

Malang, 28th Sept 2013

Pesan pribadi: STOP MEROKOK! (‘-‘)9

banner-BC_29

[BeraniCerita #28] Firasat Bunda

Hujan turun dengan sangat deras. Jika saja bisa bicara, mungkin wiper mobil ini sudah meronta dan meminta untuk segera diistirahatkan. Kunyalakan dek musik dan mencari channel radio. Apa saja. Asal ada suara.

Bukan. Bukan karena aku sudah bosan. Tapi untuk menghangatkan suasana dalam mobil yang terasa seperti kutub utara. Dingin luar biasa.

“Maafkan Niar, Nda. Tadi sedang ada rapat, jadi terlambat menjemput Bunda di bandara. Lagian enggak biasanya Bunda ke Surabaya tanpa kabar. Ada apa, tho?” tanyaku. Dengan sejumput harap bahwa pertanyaanku akan melumerkan aura dingin dan menusuk hingga ke tulang. Kedatangan Bunda kali ini begitu tiba-tiba. Sama sekali tanpa berita. Perilaku spontan Bunda dan atmosfer canggung ini adalah pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak benar.

Tapi Bunda diam saja. Tangannya dilipat di depan dada. Pandangannya masih tak lepas dari balik jendela. Bibirnya menipis dan nampak begitu kencang. Aku menelan ludah. Ini tidak bagus. Sangat tidak bagus.

“Bagaimana Abangmu sekarang?” Bunda melepas pandangan dari jalanan.

“Baik saja. Tak apa-apa,” kubilang. Aku menarik nafas, sambil terus melaju di jalan tol. Apa yang bakal terjadi ketika bunda berjumpa abangku nanti?

“Dusta. Jika tak apa-apa, tidak mungkin Abangmu mengabaikan telepon Bunda. Sudah hampir tiga bulan … Bunda sama sekali tidak mendengar suaranya.”

Aku bisa mendengar dengusan panjang Bunda. Lalu beliau menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi penumpang. “Kita langsung ke rumah Abangmu,” ujarnya lagi.

Tanganku menggenggam kendali mobil dengan lebih erat. Menguatkan nyali untuk menghadapi hal besar yang sesaat lagi akan terjadi. Pikiranku melaut jauh. Berlayar pada sebuah pesan Abang agar aku tetap tutup mulut. Ah. Uang dan rahasia. Dua hal yang sama sekali sulit untuk kupegang.

Menjelang Maghrib, kami sampai di rumah Abang, aku segera meraih payung di bawah jok dan melindungi Bunda supaya tidak kehujanan hingga ke teras depan. Nampaknya Abang belum pulang. Mobilnya tiada. Lampu rumahnya belum menyala.

Kurogoh tas ransel kumal dan mencari-cari kunci duplikat rumah Abang. Butuh waktu yang cukup lama sebelum akhirnya aku menemukannya.

“Bunda langsung istirahat di kamar aja. Niar masak air buat Bunda mandi sekalian bikin teh panas,” ujarku sambil meletakkan tas bawaan Bunda di sebuah kamar.

“Kamu telepon dulu Abangmu biar cepat pulang,” jawab Bunda sambil menjatuhkan diri di sebuah sofa.

Untuk kesekian kalinya, aku menelan ludah. “I … Iya, Bunda.”

Kuhamburkan diri ke dapur, merogoh ponsel dan mengetik sebuah pesan pada Abang. Bunda datang. Memintamu untuk segera pulang.

Kuraih sebuah panci dan mengisinya dengan air dari keran. Mendaratkan pantat panci di atas kompor dan menyalakan apinya. Di sela-sela udara dingin, tubuhku yang gemetar dan rasa cemas yang merajalela, terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah.

Aku mendengar langkah ringan Bunda menuju pintu depan. Kaki dan tanganku terasa kebas. Perutku mulas. Dadaku terasa berhenti bernapas. Aku menuju pintu depan dengan setengah berlari.

Terlambat.

Bunda telah sampai di ambang pintu. “Iya, Mbak? Cari siapa?”

Seorang perempuan berambut panjang berdiri di depan sana. Ternganga memandangi Bunda, aku, dan layar ponsel yang digenggamnya secara bergantian. Bibir merahnya bergetar. Suara baritonnya pecah, “B … Bunda?”

***

Malang, Sept 24th 2013

  • Ndak ngetwist, yah… Su lama sekali na son bikin FF T~T

IMG-20130919-WA0000[1] (1)

[BeraniCerita #24] Vivienne: (Another) Lady in The Lake

"The Beguiling of Merlin" (1872–1877) by Edward Burne-Jones.

“The Beguiling of Merlin” (1872–1877) by Edward Burne-Jones.

“Bagaimana kabarmu?”

Aku menahan diri untuk tidak terlalu bahagia. Karena dikunjungi Vivienne adalah hal yang kunantikan selama sepekan. “Seperti yang terlihat,” jawabku.

Vivienne mencondongkan tubuhnya. Lalu meraih tanganku yang teronggok di atas meja. “Kamu semakin kurus,” katanya.

Aku tersenyum dan mendekap kedua tangannya di dalam genggaman. “Makanan di penjara tidak ada yang enak.”

Vivienne menatapku dengan mata yang basah. Untuk waktu yang lama kami berpelukan tanpa kata-kata. “Maafkan. Karena aku … Ini semua karena aku.”

Aku membelai rambutnya yang halus. Menghirup wangi sampo yang selalu menggelitik jaras penghidu. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Vivienne berada lagi di pelukanku.

Bagiku, permintaan maafnya sudah tidak penting lagi. Aku yang salah karena terlalu jatuh hati. Bahkan aku rela membuang kebebasanku sendiri.

“Bukan salahmu. Jangan pernah merasa bersalah. Hiduplah seperti namamu. Vivienne1. Hidup.”

Ia memelukku semakin erat. Seakan ingin memberitahukan sesuatu. Di antara pelukan, aku merasakan bahwa saat ini degup jantungnya semakin cepat. Dan aku berharap, itu karenaku.

“Bagaimana bisa aku hidup jika kamu masih di penjara karena …,” bisiknya.

Kulonggarkan pelukan kami. Memandangnya dan berharap ia bisa membaca isyarat yang aku berikan. Jangan dibahas lagi. Tidak ada percakapan yang aman di sini.

Ia mengangguk dan menggenggam tanganku lagi. Aku yakin ada ungkapan rasa terima kasih karena aku telah mau mengakui dosanya. Pembunuhan seorang rentenir yang dilakukan oleh tangan Vivienne di sebuah hotel tiga bulan yang lalu.

“Aku akan mengunjungimu lagi, Thomas,” ujarnya. Lalu mengecup pipi kiriku dan beranjak pergi.

Belum sampai langkahnya keluar dari pintu keluar, dia berbalik dan bertanya, “Tahukah kamu cerita tentang Lady in The Lake2?”

Apa?

Aku menggeleng, “Tidak. Aku tidak tahu.”

Vivienne hanya tersenyum, berbalik dan berlalu.

***

Aku tersenyum dan menghapus air mata yang tadi sempat tertumpah. Lalu berbalik dan benar-benar pergi dari tempat ini.

Jika air mata adalah bukti ketulusan, maka seharusnya ini sudah cukup. Seharusnya Thomas melihat bahwa aku terlihat menyesal. Katakan saja, aku menyesal karena memanfaatkan cintanya. Jika Lady in The Lake menyekap Merlin dalam sebuah karang, maka Vivienne menyekap Thomas di dalam penjara.

Langkahku ringan. Aku keluar dari rumah pesakitan dengan perasaan melayang. Aku membuka pintu mobil sebelah kiri dan menjatuhkan diri di jok kulitnya yang empuk dan nyaman. “Yuk, kita pulang.”

“Akhirnya. Aku sangat tidak suka berada di area penjara. Membuatku ingin muntah,” kata Aria. Ia mengenakan kacamata hitamnya lalu menekan pedal gas dalam-dalam.

Ah. Aku lupa memperkenalkan. Ini Aria, suamiku. Putra tunggal dari rentenir renta yang kami bunuh tiga bulan lalu.

***

Malang, 28th August 2013

  1. Vivienne: nama perempuan dari bahasa Latin yang berarti ‘hidup’.
  2. Lady in The Lake: salah satu karakter pada legenda Arthurian. Selengkapnya, baca di sini.

banner-BC#24

* Sudah lama ndak bikin FF, entahlah ini hasilnya pegimane .___.

[BeraniCerita #21] Kolak Pisang Buatan Istriku

image

Dari BeraniCerita.com

Tidak ada yang mengalahkan kolak pisang buatan istriku. Sebut saja, aku ‘lebay’. Tapi kolak pisang dan istriku adalah sajian yang paling mantap sedunia.

Kuah santannya berwarna kecokelatan. Kolaknya, maksudku. Tidak terlalu kental, tidak terlalu encer. Pas. Istriku memeras sendiri air santannya. Tidak membeli santan instan yang tinggal tuang. Dengan tangan yang bekerja keras seharian, mengatur dan membereskan rumah, ia masih sempat mengerahkan otot lengan dan tangannya untuk menyajikan kolak pisang untukku. Bayangkan. Bagaimana aku tidak terharu.

Sedangkan aroma kuah kolaknya… Dari aromanya saja aku sudah bisa membayangkan manisnya gula aren dengan warna karamel yang cantik. Sama seperti senyum istriku yang tidak berhenti mengembang di awal bulan. Ketika aku menerima gaji.

Lalu harum yang menenangkan dari sejumput daun pandan menggelegak di seluruh penjuru penghidu. Sama efeknya dengan nyanyian nina bobo yang disenandungkan istriku untuk si sulung.

Pisangnya? Istriku suka menggunakan pisang apa saja. Tapi tentu, pisang kepok menjadi favoritku. Teksturnya empuk. Rasanya manis. Persis seperti bibir istriku ketika baru selesai bersuci.

Tapi Ramadan tahun ini, sulit bagiku merasakan enaknya kolak pisang buatan istriku. Di antara jarak yang tidak mungkin dipangkas, mati-matian aku menahan rindu. Di antara takdir yang tidak mungkin ditolak, ada sulur sesal yang kini merambat tanpa kenal jemu. Ah… Seandainya ada caraku untuk mengatakan bahwa betapa aku sangat mencintai si pembuat kolak pisang nomor satu.

Cintaku padanya belum cukup. Tak pernah cukup.

Sepuluh menit lagi. Adzan mghrib kurang sepuluh menit lagi. Sepertinya si sulung sudah bisa menyiapkan menu berbuka. Atau menjaga si kecil yang sudah saatnya tumbuh gigi.

Kuharap rumahku tidak terlalu sering dipenuhi ratap dan tangis. Karena sejak pergi dari dunia ini tiga bulan yang lalu, sudah habis waktuku untuk mencintai mereka lagi.

***

Malang, 12 Juli 2013

image

[BeraniCerita #19] Terus atau Berhenti

image

Dari BeraniCerita.com

Semesta sudah berbisik pada hatimu untuk berhenti. Tapi kamu justru memilih untuk berlari.

***

Warna merah pada lampu zebra cross masih menyala. Di trotoar, para pejalan kaki berjejer dan menunggu. Beberapa orang mengamati lampu seolah melamatkan mantera agar warnanya segera berubah menjadi hijau. Sedangkan yang lain lebih memilih menikmati lalu lalang kendaraan untuk mengusir rasa bosan. Mungkin sekadar memerhatikan merk mobil-mobil mewah yang belum mampu mereka punya, atau teringat kekasih lama yang mengendarai kendaraan yang sama.

Aku di sini. Di salah satu ujung zebra cross. Berdiri dan menahan napas ketika melihat punggungnya beranjak pergi. Di antara kendaraan yang berlalu lalang dan jajaran orang di seberang jalan, aku melihatnya melangkah dan menjauh. Mungkin, tidak akan kembali.

Sial. Lampu merah zebra cross ini tidak juga berganti.

Hijau. Segeralah engkau menjadi hijau.

Tapi manteraku sia-sia.

Semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku berhenti, maka cintanya takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah zebra cross tanpa menoleh ke belakang lagi. Sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Ah tidak … tidak … tidak. Itu bayangan burukku saja. Selalu ada jalan keluar. Selalu ada pilihan selain terus atau berhenti.

Aku masih berdiri di sini. Di ujung zebra cross sambil melirik lampunya yang berpendar. Masih merah. Kendaraan masih berlalu lalang di jalan raya yang membentang di hadapan. Di seberang sana, orang-orang masih berjajar dan menunggu.

Dan oh… itu dia. Di trotoar di seberang jalan raya. Aku masih bisa melihat punggungnya beranjak. Berlalu dan pergi.

Bagaimana ini? Aku tidak pernah mengira, menyeberang jalan akan menjadi serumit ini. Terus atau berhenti? Menyerah atau mati?

Aku mencari-cari celah waktu yang tepat. Pasti akan ada saat di mana jarak antara kendaraan itu meregang dan aku bisa menyeberang sesegera mungkin.

Dua mobil baru saja lewat. Lalu tiga motor. Di belakangnya, ada satu mobil lagi yang sama sekali tidak memberi jarak.

Argh! Kenapa, sih, lampu zebra cross tidak ada yang berwarna kuning? Apakah pilihannya benar-benar hanya terus dan berhenti? Lalu kapan aku harus berhati-hati?

Ragu-ragu. Aku takut melangkahkan kakiku. Bayangan tubuhku sendiri yang terpental dan berdarah-darah sama sekali bukan skenario yang menyenangkan.

Tapi terlambat sepersekian detik saja, aku kehilangan cintanya. Lihat. Punggungnya hampir menghilang. Danang segera menghilang.

Tidak ada waktu lagi. Mungkin, semesta menyuruhku untuk berhenti. Tapi jika aku tetap di sini, maka cinta Danang takkan pernah kumiliki.

Akhirnya aku berlari. Kuterobos lampu merah zebra cross tanpa menoleh ke belakang lagi. Sebuah mobil van terlambat berhenti. Tubuhku terpental. Dan mati.

***

Aku membuka mata. Rasa pusing meraja di kepala. Dahi dan tubuhku basah oleh keringat. Dadaku disesaki rasa takut yang menyeruak.

Oh. Hanya mimpi.

Aku bangun dan menghela napas. Lalu meraih ponsel yang layarnya berkelap-kelip.

Sebuah pesan. Danang.

Hidup dan berbahagialah, meski bukan dengan aku. Karena aku tidak bisa berpisah dari istriku. Maaf.

Aku menelan ludah. Menggigit bibirku sendiri dan menangis.

Terus atau berhenti. Semesta telah menunjukkan tandanya. Maka aku tidak bisa ke mana-mana lagi.

Kulirik sebuah strip yang kukencingi tadi pagi. Dua garis merah.

Merah.

Nak, apakah hidupmu harus kuakhiri juga?

***

Malang, 5th July 2013
Please kindly vote this FF in here

Continue reading

[BeraniCerita #18] Tiket Keberuntungan

A-discarded-rail-ticket-r-006

Diambil dari guardian.co.uk

Ria menahan tangis dengan sekuat tenaga. Kereta api menuju Bandung baru saja berlalu dari hadapannya. Sama seperti harapan yang menjauh dengan sangat nyata.

Bodoh! Tiket keretanya jatuh di mana, sih?

Gadis lima belas tahun itu melirik isi dompetnya. Nampaknya, membeli tiket yang baru bukanlah jawaban. Kata ibu pengurus panti, dia ada di Bandung. Apa ini berarti aku tidak boleh bertemu dengannya?

Bahu Ria mulai terguncang. Dan akhirnya, air mata itu jatuh juga.

***

“Terima kasih atas kesempatannya, Bu.”

Pras berdiri lalu menyalami perempuan berperut buncit di hadapannya. Bu Andini mengangguk-anggukkan kepala sambil tersenyum.

Pras berjalan keluar ruangan. Aku mendapatkan kerja pertamaku. Diam-diam ia berterima kasih pada siapapun pemilik tiket kereta yang ditemukannya secara tidak sengaja di trotoar sekitar Gubeng. Tepat setelah Pras berdoa agar bisa memenuhi panggilan wawancara kerja tepat waktu saat Pras sama sekali tidak memiliki ongkos untuk itu.

Dalam hati, ada sejumput rasa bersalah. Betapapun Pras bahagia, ada seseorang yang tengah meratap. Dalam hati, Pras berdoa untuk si pemilik tiket, agar Tuhan memberi kebahagian yang lebih besar dari yang dirasakannya sekarang.

Belum sampai langkah Pras keluar dari ruangan, tiba-tiba ia mendengar erangan. Pras menoleh. Bu Andini terjatuh dari kursinya dan merintih.

Serta merta Pras menghampirinya, “Ibu kenapa?” Seketika ia menahan napas ketika melihat ada darah yang mengalir di sela kaki Bu Andini.

“Se … Sepertinya saya akan melahirkan.”

***

Rasa cemas meliputi hati Baskoro. Istrinya sedang menjalani operasi sectio caesaria. Menurut keterangan, tekanan darah istrinya naik hingga 170. Denyut jantung janinnya lemah. Ya Tuhan, selamatkan anak dan istri hamba.

Pintu ruang operasi terbuka. Seorang bidan setengah berlari menuju infant warmer, membawa bayi yang merah dan terbungkus kain tebal.

Baskoro bangkit dan segera menuju infant warmer. “Laki-laki, Pak. Prematur. Tapi sehat,” jelas bidan itu sambil mengeringkan bayi berkulit keriput dengan handuk bersih.

Dada Baskoro disesaki rasa haru. Anak pertama. Putra yang sudah ditunggu setelah hampir sepuluh tahun menikah.

Sambil menyeka air mata bahagia, Baskoro berbalik dan memandang pria muda berkemeja lusuh yang tadi mengantar istrinya ke rumah sakit, “Terima kasih banyak, Mas. Siapa tadi namanya?”

“Pras. Prasetya.”

***

Rena berlalu dari ruang operasi sambil melirik jam dinding. Seharusnya panggilan dari rumah sakit tadi diabaikan saja. Langsung berangkat ke bandara. Tapi sudah terlambat. Rena tidak akan bisa menghadiri simposium internasional dokter obstetrik dan ginekologi di Seoul.

Rena menghela napas dan memejamkan mata. Ia tidak pernah bisa mengabaikan panggilan dari malaikat-malaikat itu. Para ibu, dan bayi yang mereka kandung.

Baru saja ia membantu persalinan prematur dengan pre-eklamsi berat. Sama seperti kondisinya lima belas tahun lalu. Air mata Rena jatuh. Ia sedang mengingat kepengecutannya, meninggalkan bayinya dan kabur dari rumah sakit secara diam-diam.

Tuhan, telah kuhabiskan lima belas tahun untuk menjalani rasa bersalah. Bolehkah aku melihatnya sekali saja?

Ponselnya berdering. Sebuah nomor dari Surabaya. “Renaaa, lo enggak jadi ke Seoul? Denger … Gue udah nemu panti asuhannya. Dan nama anak lo Ria. Dabria Maharani.”

Pupil Rena melebar. Senyumnya mengembang. Bahagia menyeruak di tubuhnya. Ia menutup sambungan telepon. Lalu melesat menuju bandara.

Dabria. Malaikatku. Aku akan segera bertemu denganmu.

***

Malang, 3rd June 2013
· Ceritanya maksa banget. Tapi ywd c T~T

image

[BeraniCerita #17] Kertas Koran yang Berminyak

From: The Roots of Design

From: The Roots of Design

 

Roni menimang-nimang sebuah benda kecil berantai di tangannya. Ia tersenyum. Benda logam itu sudah bersih dan berkilat. Untung lumpurnya sudah kubersihkan dengan air di kamar mandi, pikirnya.

Roni membungkus kalung berwarna perak itu dengan kertas koran yang berminyak di ujung-ujungnya. Kemudian Roni berjalan dengan langkah diam-diam ke samping kelas 8-H.

Sesaat, Roni mengedarkan pandang. Sepi, itu yang dirasakan Roni siang itu. Mungkin hanya beberapa anak saja yang berseliweran di lorong kelas saat jam ketiga.

“Kesempatan. Mumpung sepi.”

Roni tersenyum sambil bersyukur dalam hati karena sepertinya suasana sedang berpihak padanya. Diambilnya sebuah kursi, lalu membuka sebuah jendela kelas 8-H yang sudah rusak.

Tidak ada siswa-siswi penghuni 8-H yang menyadari bahwa kepala Roni sedang bertandang dan menyembul dari balik jendela belakang. Mereka semua duduk dan menekuri kertas soal masing-masing. Sebagian besar memegang kening dengan tangan kiri dan memicingkan mata. Sedang tangan kanan mereka terus mencorat-coret kertas di hadapan mereka masing-masing.

Mata Roni mengerjap-ngerjap. Di depan kelas, Pak Hasyim sedang duduk dan menunduk. Roni tersenyum. Pantas saja kelas begitu sepi dan tenang. Tidak ada yang berani mencontek saat ulangan harian bersama Pak Hasyim.

Ketika guru matematika berkumis tebal itu mengangkat kepalanya, cepat-cepat Roni menunduk agar keberadaannya tidak diketahui. Dalam hati, ia menghitung mundur. Biasanya Pak Hasyim akan mengedarkan pandang selama dua puluh hitungan. Hitungan berakhir. Roni mengintip lagi. Tepat ketika Pak Hasyim kembali menunduk dan menggores-goreskan spidol berwarna merah pada tumpukan kertas di hadapannya.

Roni menghentikan pandangan matanya pada seorang anak perempuan yang duduk paling dekat dengan jendela belakang kelas 8-H. Rambutnya ikal dan diikat ekor kuda, bergerak-gerak ke kiri dan ke kanan. Pita berwarna biru langit terselip di sela rambutnya.

Jantung Roni berdebar. Ia sudah sering mengintip Aira dari jendela ini. Tapi tetap saja jantungnya berdebar. Aira, janji, ya. Jangan menangis lagi, katanya dalam hati.

Tanpa suara, Roni melemparkan bungkusan koran berisi kalung ke pangkuan anak perempuan berambut ekor kuda tadi. Dan melesat pergi.

***

“Ketemu di mana, Ra?”

“Eng … Tadi pas ulangan matematika tiba-tiba ada yang melempar dari jendela. Tapi aku enggak berani liat siapa orangnya. Pak Hasyim kan galak.”

“Iya. Untung juga orang yang melempar itu enggak ketahuan sama Pak Hasyim.”

“Heeh.”

“Aku lega sekarang kamu enggak sedih kaya’ kemarin-kemarin. Kalung itu berharga banget, ya, Ra?”

“Iya. Ini hadiah dari almarhum Bapak. Meski bukan emas, tapi ini kenang-kenangan terakhir. Dan aku penasaran, siapa yang rela nyari kalung ini di danau sekolah yang kotor dan bau itu. Padahal hilangnya sudah hampir seminggu. Pasti nyarinya susah. Orang yang nemuin ini baik banget. Aku mau berterima kasih. Tapi siapa, ya ….”

Dari kejauhan, ada seorang anak berkulit gelap dan berambut sebahu, berdiri dan memandangi Aira. Celana kainnya yang selutut dan berwarna hijau gelap masih basah di beberapa bagian. Ada banyak bekas lumpur dan lumut danau di sana. Sedangkan tangannya sibuk memotong-motong kertas koran bekas yang digunakan sebagai alas gorengan yang dijual bapaknya.

Roni tersenyum. Pungguk itu bahagia melihat purnamanya telah menemukan senyumnya lagi. Aira tidak perlu tahu itu aku. Dan biarkan saja begitu.

***

Malang, 26th June 2013

image

%d bloggers like this: