Archive for the ‘ Uncategorized ’ Category

Tidak Pernah Ada Waktu yang Cukup untuk Mengenangmu

Kamu adalah siluet sinar mentari pagi yang menelusup diam-diam dari celah jendela
Pagi ini merah warnanya
Memantulkan kemarahanmu saat kaki-kaki kecilku yang tak mau pulang meski petang datang

Kala itu telingaku panas
Kali ini hatiku pias

Lain waktu, kau menjelma sebagai alunan musik di siang yang ramai
Jingga. Cerah.
Menyanyikan kerianganmu setiap aku pulang bersama cerita-cerita
Kita duduk berdua berlama-lama, jemarimu tak henti memanja
Mendekatkan telingaku di detak jantungmu yang paling indah sedunia

Kala itu senyumku merekah
Kali ini rinduku membuncah

Petang… kau adalah lembayung yang indah
Semburat menyampaikan hangat lewat peluk mesra dan nasehat-nasehat
Sebuah selimut kau selubungkan di tubuhku yang sempat gemetar
Pelukan meredam segala gentar

Kala itu resahku pudar
Kali ini air mataku meliar

Tidak ada satu pun hal berharga yang mampu membeli waktu bersamamu, Bapak.
Kenangan membabi-buta kapan saja
Bahkan pada keluhan-keluhan mereka di bangsal, aku melihatmu berbicara.

Tidak pernah ada waktu yang cukup untuk mengenangmu, Bapak.
Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun.
Bahkan tulisan ini hanyalah kerinduan yang dikelabui kata-kata.

***

Malang, 25 Desember 2016

Setahun tanpa Bapak

Advertisements

Membaca

15094990_10210128729547047_2747612973354932354_n

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, untuk siapa dan di mana.

Seminggu

Seminggu.

Kopi pagi ini mengingatkanku pada pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang tenang di dapur, dengan siluet bapak yang riang menggoreng tempe gembus. Sesekali bapak bercerita tentang menara masjid yang hampir rampung dibangun, lengkap dengan mozaik dinding warna-warni. Sesekali bapak berkeluh tentang nyeri lutut yang hilang timbul. Sesekali bapak mendesah tentang satu teman seperjuangan dialisis yang meninggal dunia.

Sesapan kopi kedua.

Bapak mulai bertanya bagaimana hari-hariku. Ia tak pernah menerima jawaban, “Ya gitu-gitu aja, Pak.” Bapak selalu bilang bahwa duniaku sama sekali berbeda dengan dunia orang kebanyakan. Unik, katanya. Dengan pemahaman orang awam, bapak tidak protes saat aku lebih sibuk dengan ‘printilan-printilan’ saat ia masih muntah-muntah karena efek obat bius. Bahkan ia hanya tertawa saat aku menceritakan pernah ‘disetrap’ karena kesalahan-kesalahan bodoh.

Kopi tinggal separuh.

Kemarin seseorang bercerita tentang kehilangannya terhadap seorang bapak. Bapaknya jatuh saat bekerja di rantau. Jenazahnya kembali dalam kondisi sudah dimandikan dan tertutup kafan.

Aku merasa bersyukur.

Di saat-saat terakhir, aku masih bisa membopongnya ke kamar mandi, membersihkan kotorannya, menyeka tubuh bapak yang makin tidak berisi, serta membantunya menyikat gigi.

Sisa kopi sudah tak ada lagi.

Kepada Hidup, terima kasih atas 30 tahun kebersamaanku bersama bapak, seseorang yang senantiasa menjaga martabat keluarga. Seseorang yang kadang-kadang memberikan kejutan romantis tak terduga pada tiga perempuannya. Seseorang yang selalu percaya anak-anaknya tumbuh jadi perempuan yang mampu, kuat dan tidak mudah mengeluh, which is I’m totally far from his hope.

I’m gonna miss you, Dad.

Always.

Malam Gila

falasca_painting_web

 

Kamarku pecah. Musik berdentum mengiringi lima orang yang melantai dan kesetanan. Kepala terangguk-angguk dan tergeleng-geleng bergantian. Tubuhku dan mereka berlumur peluh. Pekik tawa dan candaan kotor terderngar rusuh. Euforia membuana, namun ada balon udara yang siap meledak di masing-masing kepala. Balon udara yang berisi kegelisahan, kekecewaan, frustasi, keputusasaan, dan patah hati. Balon udara yang kami rayakan kehadirannya dengan cara seperti ini… hampir tiap hari.

Tiba-tiba kepalaku sakit bukan main. Seakan ada batu besar yang dihantamkan dari belakang. Keringatku menderas seakan ruangan ini dijatuhi hujan. Tangan dan kakiku kram. Perutku mual seperti diremas ratusan tangan.

Setan!

Rasanya aku butuh isapan baru. Kutarik alumunium berisi shabu yang tak habis diisap Bram. Hidung dan tanganku terampil memainkan pemantik api dan bong, kemudian menyesap shabu itu dalam-dalam. Pahit serbuk putih ini segera tergantikan dengan sebuah film layar lebar di depan mataku. Film tentang cita-cita dan mimpi yang semakin menjauh. Cerita tentang cinta yang gagal kurengkuh.

Kuteguk segelas air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.

Ah, selalu begini!

Mungkin karena gigi-geligiku tak lagi utuh. Mungkin karena ini adalah aku. Bahkan air putih pun tak mau tinggal di dalam mulutku.

Lalu jantungku menghentak bagai kerasukan. Rasanya dadaku mau meledak. Kerongkongan tercekat. Aku tak bisa bernapas.

Di atas lantai yang dingin, tubuhku meluruh.

Jantungku berdenyut semakin rancak. Ada pelukan ayah sebelum ia dibui karena korupsi dan bunuh diri. Ingatanku teracak. Ada senyum ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku dulu.

Sebelum pandanganku menggelap, bayangan mantan kekasihku datang mengucapkan selamat tinggal.

***

Entah sudah berapa lama, tubuhku terasa ringan. Kamarku sepi. Bram dan yang lain sudah pergi. Mungkin ini sudah pagi.

Lalu ada yang menepuk pelan pundakku. Wajahnya asing.

“Man robbuka?”

Seketika aku mengejang.

Aku tak tahu jawabannya.

***

Malang, End of November 2015

 

NB: hwaaa… nulis beginian aja susah bener. Gini nih efeknya kalo kelamaan enggak nulis T___T

Merindukan Purnama

Aku buta. Sejak lama. Anggap saja begitu. Mungkin engkau tak percaya. Namun seseorang pernah menumpahkan lahar di kedua mataku. Dulu. Ketika aku tahu rasanya jatuh cinta.

Sejak saat itu, gelap adalah tempat ternyaman. Kepalaku tak lagi butuh tudung yang mengganggu. Mataku tak perlu memicing pada cahaya menyilaukan. Jalanku tidak lagi diikuti bayang-bayang. Dalam gelap, mataku lebih bisa terbuka. Aku adalah diriku sendiri.

Namun kemarin dulu, ada ceritamu menelusup di telingaku, mengisahkan warna-warni lembut yang pernah kutahu. Sentuhmu bersahaja. Kamu adalah binar sederhana, memendar samar… membuatku berani kembali membuka mata.

Dan cintaku kembali tumbuh kala aku bisa melihat purnama di kedua matamu.

***

Malang, 31 Agustus 2015

Unrequited Love

Sejak dilahirkan, ia adalah perempuan yang paling kusuka. Rambutnya tak pernah dibiarkan melebihi bahu. Selalu tergerai dengan jepit rambut warna merah jambu. Matanya biasa saja, namun bagiku selalu tersemat semangat di dalamnya. Begitu serasi dengan bibirnya yang sebenarnya tidak istimewa, kecuali senyum yang tak pernah ia lepaskan.

Perempuan yang kupuja… dia adalah alasan aku senantiasa memata-mata. Dia adalah alasan aku tak pernah membiarkan diriku tertidur barang sedetik saja. Dia adalah alasan pertama kalinya aku jatuh cinta.

Namun beberapa minggu belakangan, perempuan manis itu kehilangan pendarnya yang berkilau. Mukanya pucat, bibirnya kering, tubuhnya mengurus. Pagi ini ia memuntahkan semua makanan yang ia telan. Banyak sekali. Mulutnya mengerang, mengeluh perutnya sakit. Ibunya datang tergopoh-gopoh seraya menyodorkan sesendok sirup penghilang nyeri. Alih-alih menyembuhkan, kesakitan perempuan itu semakin menjadi.

Kuulurkan tangan untuk memeluknya. Setidaknya menyampaikan bahwa selama ini aku peduli. Bahwa aku ada dalam ketiadaan. Namun tubuhnya menggigil hebat. Ibunya menangis, hatiku merintih.

Dan kedukaan kian tumpah ketika muntahan berubah menjadi merah. Darah. Entah apa yang terjadi pada perempuanku. Firasat buruk menari-nari di pelupuk mata. Hingga tanpa suara, muncul pria berbaju hitam. Keberadaannya membuatku naik pitam.

“Jangan dekat-dekat dengannya. Pergi!” teriakku sembari menarik jubahnya yang usang.

Namun pria tadi bergeming, memandangku dengan sinis dari ujung mata seakan aku sekadar  pemuja rahasia yang gelap mata.

Sebaris senyum ia lemparkan, “Pembangkang! Kamu bisa apa jika Tuhan lebih mencintainya?”

Dan napas perempuanku tak terdengar lagi ketika Izrail menggandeng nyawanya pergi.

Besok, aku harus mencari manusia lain untuk kulindungi.

***

Malang, Juli 19th 2015

Luka yang Tertinggal di Unit Gawat Darurat

Bip. Bip. Bip. Bip.

Suara itu membuatku semakin pusing. Nyeri di dada kiriku terasa semakin menjadi. Seharusnya, obat-obat yang tadi kutelan dan gas oksigen yang kuhirup melalui selang membuat sakitku berkurang. Setidaknya itu yang dikatakan dokter barusan.

Tapi nyatanya tidak.

Mataku terpejam. Tapi kenangan pada tiga puluh tahun yang silam memenuhi kelopak mata. Mataku terpejam. Tapi hidungku masih bisa membaui kerasnya aroma antiseptik, anyirnya bau darah, dan pekatnya rasa takut yang menusuk.

Ketakutan ini yang dirasakannya. Ketakutan yang seperti ini. Ketakutan ketika begitu dekat dengan kata mati.

“Masih terasa sakit, Bu?” tanya Mas Sofyan sambil menggenggam lembut tanganku yang sudah mulai menghangat dan kering. Tidak lagi dingin dan berkeringat seperti setengah jam yang lalu.

Aku menelan ludah. Pahit. Ada secuil amarah di dalamnya. Secuil amarah yang kutelan lagi karena tidak sanggup meluapkannya pada suamiku sendiri karena merasa diriku tidak lagi pantas dipanggil sebagai ‘ibu’.

Tidak perlu membuka mata untuk mengetahui tempat aku berada saat ini. Tubuhku sudah mengenalnya dengan baik. Suara hiruk pikuknya, dentingan benda logam dan derap langkah yang terburu-buru atau langkah yang diseret dalam keputusasaan, serta suara rintihan sakit dan ketakutan. Setiap jengkal dan isi tempat ini mengingatkanku pada jejak paling pahit yang perihnya masih terasa dari kaki hingga kepala.

Di brangkar yang berderit, aku bisa mengingat bagaimana pertama kali aku membawa Aina yang pucat ke unit gawat darurat. Ia mimisan tanpa henti seperti ada keran bocor di dalam hidungnya. Jika engkau bertanya bagaimana rasanya, bayangkan saja seperti ratusan tombak yang ditusukkan ke ulu hati. Nyeri yang tak terdefinisi. Melihat buah hatiku menanggung sakit membuatku bertanya-tanya. Apa salahku? Mengapa harus Aina? Mengapa harus anakku?

Kekhawatiranku memudar ketika dokter sudah memberikan cairan infus dan transfusi darah berwarna putih kekuningan yang katanya bisa membuat mimisan Aina berkurang. Kupikir, saat itu keadaan sudah menjadi lebih baik. Tapi aku salah. Bukan hanya salah memprediksi keadaan. Tapi juga salah sebagai ibu yang seharusnya tahu perubahan pada tubuh anaknya.

***

“Bengkak di gusi, persendian kaki dan tangan ini muncul sejak kapan, Bu?”

Apa? Bengkak? Di mana?

Kuikuti lengan dokter laki-laki berkacamata yang tangannya berakhir pada gusi, lalu turun ke lutut Aina yang nampak membesar. Jantungku mencelos. Aina, sejak kapan? Jika memang dia merasa kesakitan, mengapa ia tidak bilang? Dan mengapa aku tidak tahu?

Ada air mata yang tertahan. Entah karena apa. Yang jelas saat itu aku sudah merasa gagal dan tidak pantas lagi dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Kugenggam jari tangan Aina yang dingin dan lembab. Menelan ludah dan menjawab, “Saya tidak tahu, Dokter.”

Dokter itu membenarkan letak kacamatanya dan menghela napas. Dia menggeser celana selutut Aina sehingga nampak kulit paha yang dihiasi bentukan yang membiru. Aku merasa ditampar. Aku tidak tahu sejak kapan lebam itu ada di sana.

“Sebelumnya Aina pernah mimisan atau mengalami gusi berdarah ketika sikat gigi?” tanya dokter itu.

Ah. Kali ini aku tahu. Sebuah kebanggaan menyeruak karena akhirnya ada satu hal yang aku tahu. Apakah ini penyangkalan atau bukan. Setidaknya, ada sesuatu yang tidak luput dari pengamatanku.

“Iya, Dok. Aina memang pernah mimisan beberapa kali. Terutama ketika dia demam. Saya pikir, mimisan itu terjadi karena demam.”

“Demam? Sering demam?”

Aku menahan napas. Seringkah? Bukankah sudah biasa jika anak-anak mengalami demam?

Aku mengusap dahi Aina yang dipenuhi peluh. Dia tidak kepanasan. Pendingin ruangan UGD ini bekerja dengan baik. Aku mengelus pipinya yang gemetar. Aina menggigit bibir bawahnya. Aina ketakutan.

“Eng … Saya pikir, hanya demam biasa, Dok. Karena empat atau lima hari demamnya sudah hilang.”

“Sejak kapan, Bu?”

“Ehm … kira-kira sebulan yang lalu.”

Dokter itu melihat sebuah kertas di flipchart yang sepertinya memuat hasil pemeriksaan darah Aina yang dilakukan sebelumnya. Dia mengerutkan kening. Bibirnya menipis begitu kencang. Rahangnya menegang.

Yang kutahu, bahasa tubuh itu menandakan ada yang tidak bagus di sini.

“Aina dirawat inap, ya, Bu. Karena hasil pemeriksaan Aina tidak sebagus yang saya harapkan. Saya menduga, ini bukan kasus mimisan biasa.”

Ketakutanku sudah mencapai puncak. Tapi aku tidak boleh gentar. Kugenggam tangan Aina sambil berkata, “Tidak apa-apa. Aina hanya menginap beberapa hari sampai sakitnya benar-benar hilang. Setelah sembuh, kita pulang.”

Aina tidak boleh tahu, bahwa di dalam kepalaku ada sebuah monster yang mungkin tidak akan hilang selamanya. Makhluk buruk rupa yang mengambil seluruh kebahagiaanku hingga aku tidak pernah bisa merasa bahagia lagi. Karena selanjutnya, UGD dan rumah sakit adalah rumah kedua bagi kami.

***

Mas Sofyan membelai lembut punggung tangan kiriku. Seakan mencoba mengurangi nyeri yang tersisa karena plastik infus yang terbenam di pembuluh vena.

Perlahan aku membuka mata. Lampu neon yang sangat putih di langit-langit tempatku berbaring begitu menyilaukan. Mataku rabun untuk beberapa saat. Lalu aku bisa memandang wajahnya. Wajah suamiku yang nampak begitu lelah dan diselubungi kekhawatiran. Ia mencoba tersenyum. Tapi dia tidak bisa menipuku. Ia takut. Sama sepertiku.

“Sudah enggak. Sakitnya sudah berkurang,” jawabku. Dibumbui sedikit senyum kecil yang langsung menyakitkan pada bibirku yang terasa begitu kering. Tentu saja, aku berbohong. Hanya agar aku tidak melihat suamiku semakin sedih dan merana.

Ia menghela napas. Lega. Diciumnya punggung tangan kiriku. Tepat di atas balutan plester berwarna putih yang menahan selang infus. “Kukasih mantra biar sakitnya cepet ilang,” lirihnya.

Betapa laki-laki yang usianya sudah melewati separuh abad ini hampir sama dengan dewa. Atau malaikat. Selama hidupnya, ia tidak pernah kehabisan rasa sabar. Bahkan menghadapi aku yang hidup seperti mayat. Makan, tidur dan bernapas sekadarnya. Karena sejak tiga puluh tahun yang lalu, aku sudah tidak lagi mengenal bagaimana caranya tersenyum dan tertawa.

Aku memicingkan mata. Berusaha mengurangi cahaya yang masuk ke mata. Memiringkan kepala hingga nampak olehku sebuah alat yang sedari tadi berdetak dengan sangat memusingkan. Ada sebuah garis yang naik turun seperti sandi rumput. Ada sebuah lambang hati yang berkedip-kedip di sebuah angka 88.

Bip. Bip. Bip. Bip.

Aku tidak pernah melupakan nama alat itu. Monitor elektrokardiogram. Alat yang sama dengan yang pernah menjadi sahabat dekat putriku. Alat yang selalu berada di ranjang Aina yang warna bibirnya mulai membiru. Alat yang tiap dentingnya mampu memorak-morandakan degup jantungku.

Dan alat yang pertama kali berteriak lantang ketika ia tidak mampu menemukan sandi rumput di jantung Aina. Garis lurus. Garis mati.

Saat itu aku sadar. Bahwa batas antara hidup dan mati seseorang tidak ditentukan oleh jalan yang terjal atau berliku. Tidak juga ditentukan oleh persimpangan dan kebingungan. Hidup dan mati dibatasi oleh sebuah garis lurus. Garis yang tidak bisa bangkit lagi.

Mati.

***

“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Bu. Infeksi dapat memperburuk kondisi Aina. Dan saat ini infeksinya sudah sangat luas. Sepsis. Sehingga Aina mengalami koma.”

Sepsis. Makhluk jahat apakah sepsis itu? Mengapa sepsis tega merenggut kesadaran Aina yang sudah banyak merasakan penderitaan karena sakit dan rangkaian terapi yang seakan tidak kunjung berhenti?

Air mataku tak berhenti jatuh ketika hanya sanggup memandangi Aina yang tidak sadar sejak tiga hari yang lalu. Kugenggam tangannya yang dingin. Mengusap-usapnya agar setidaknya ada hangat yang sanggup aku hibahkan pada tubuhnya. Kembali kusalahkan diriku sendiri. Aku tak pernah menyangka batuk-batuk biasa bisa menyebabkan kondisinya menurun hingga seperti ini.

Putriku yang baru berusia delapan tahun itu sedang tertidur. Kepalanya botak karena efek dari kemoterapi. Wajahnya pucat karena kadar hemoglobin yang terus terjun bebas. Mulutnya menganga karena tertahan sebuah selang yang membantu pernapasannya. Entah berapa banyak selang lain yang menjamah tubuhnya. Hidung, lengan, bahu, kaki, bahkan saluran kencingnya dimasuki selang penampung urin.

Dadaku sesak. Putri yang semasa bayinya kulindungi dari gigitan semut dan nyamuk, kini harus ditempa begitu banyak alat yang menyakitkan. Tidak ada yang mengajariku bagaimana melalui semua ini. Semua hanya berkata, “Sabar dan ikhlas, ya.”

Tapi meraka tidak pernah tahu rasanya. Mereka tidak pernah mengerti ada ketakutan yang semakin hari semakin besar, seperti roti yang diragi. Mereka tidak tahu ada penyesalan yang menggerogoti diri sendiri, sebuah pertanyaan bahwa apakah aku pernah melakukan dosa yang sangat besar sehingga siksa itu diturunkan kepadaku dengan cara yang sedemikian keji. Mereka tidak tahu bahwa semakin aku meminta dan berdoa pada Tuhan, hatiku menyangsikan keberadaanNya karena doa itu tak kunjung dikabulkan.

***

“Kapan aku bisa pindah ke ruangan, Mas? Aku bosan di UGD terus,” lirihku.

“Dokter masih mengobservasi kondisimu. Bersabarlah …,” ujar Mas Sofyan.

Sabar. Kata itu juga sering diungkapkan Mas Sofyan padaku selama tiga puluh tahun ini. Pernah aku merasa bahwa suamiku tidak berduka. Tidak kehilangan Aina. Sampai pada suatu malam aku mendapati laki-laki itu menangis di dalam shalatnya. Suamiku hanya berusaha terlihat tegar di depanku. Supaya aku mampu bangkit dan melanjutkan hidup. Tapi kenyataannya aku bukan orang tua yang setabah Mas Sofyan. Tidak bisa. Bahkan di malam-malam setelah Aina tiada, aku tidur dengan memeluk baju tidurnya.

“Aku bisa melihat senyum Aina, Mas,” bisikku.

Mas Sofyan menegang mendengar nama almarhumah putrinya. Ia menggenggam tanganku lebih erat lagi. Menghela napas dan menunduk. “Jangan biarkan luka itu membebanimu, Mira. Saat ini yang kamu butuhkan adalah semangat untuk sembuh. Semangat untuk hidup.”

Jantungku mencelos.

Dulu, ketika ibuku tiada, rasanya tidak selama ini aku merasa sedih dan kehilangan. Setiap anak akan sedih dan terluka ketika orang tuanya tiada. Akan ada sesal yang terselip ketika menyadari bahwa mereka belum cukup memuliakan orang tuanya. Tapi bagaimanapun, aku selalu berpikir bahwa harus segera kembali tegar dan melanjutkan hidup karena ada Mas Sofyan dan Aina di hidupku.

Tapi ketika orang tua melihat anak-anaknya lebih dulu dirangkul oleh kematian, mereka akan selamanya terkungkung dalam keterpurukan selama sisa usia. Menangis, meratap, dan merana. Ayah dan Bunda akan nelangsa memikirkan apakah mungkin mereka tidak cukup sempurna dalam membesarkan anak sehingga cinta itu harus terhenti di tengah jalan. Kasih sayang yang sudah direncanakan akan ditumpahkan selama-lamanya, mendadak harus berhenti di tengah jalan dan direnggut begitu saja. Bahkan membayangkan pijatan di kaki ketika mereka menua pun sudah tidak bisa. Melanjutkan hidup, mungkin akan dijalani sekadarnya. Karena selamanya, pertanyaan ‘mengapa’ itu tidak akan pernah bisa hilang.

“Semangat hidup … untuk siapa, Mas? Aina sudah enggak ada.”

“Untuk aku, Mir. Untuk aku. Apakah aku enggak cukup berharga?”

Aku menelan ludah. Pertanyaan itu pun selalu menghantuiku selama ini. Bagaimana bisa aku mengabaikan keberadaan Mas Sofyan karena kesedihan yang tidak pernah berhenti? Mengapa hatiku tidak juga tersentuh atas kesabaran dan kesetiaannya menghadapiku yang keras kepala menyimpan luka?

Aina. Ibumu ini telah menyia-nyiakan hati ayahmu. Apakah ini artinya selain gagal menjadi ibu, apakah Ibu juga gagal menjadi istri?

Air mataku menderas dan membabi buta. Mas Sofyan memintaku untuk tetap hidup. Tapi hingga saat ini, aku tidak menemukan alasan diriku sendiri untuk sembuh dan hidup.

Tiba-tiba dadaku sakit. Rasanya jantungku berdegup kencang dan tak keruan. Napasku terengah-engah. Pandanganku berkunang-kunang. Untuk kesekian kalinya aku merintih kesakitan. Ada Aina yang menghampiri di pelupuk mata. Dan selanjutnya, yang kutahu hanya gelap.

***

“CODE BLUE! P1 ventricular fibrilation!”

Serombongan orang berseragam menghampiri Mira. Sedangkan dokter yang berteriak tadi langsung naik ke sebuah pijakan dan menekan dada Mira. Ada laki-laki yang segera menuju puncak kepala Mira. Menengadahkan kepala istriku dan memasukkan sebuah selang besar yang dihubungkan dengan tabung oksigen. Ia menekan alat seperti balon yang bisa ditekan maka dada Mira ikut naik.

Aku sesak melihatnya. Ada manusia cebol yang saat ini memukul-mukul dinding dada. Tiga puluh tahun aku tidur dengan memimpikan Aina. Dan sekarang aku tidak bisa membayangkan apakah aku sanggup melalui hari-hari tanpa Mira.

Ternyata lebih mudah menjalani hidup dengan kenestapaan. Sekadar makan, tidur dan bernapas. Mira tidak pernah berpikir bahwa aku tegar dan bertahan karena aku mencintainya. Dan setelah mengalami serangan jantung yang tiba-tiba, kini Mira kolaps dan seakan tidak ingin bernyawa.

Apa aku harus menjalani hidup sebagaimana kamu melaluinya selama tiga puluh tahun ini, Mir?

Dokter yang menekan dada Mira kini menggenggam dua buah pedal yang terhubung pada sebuah alat. Alat yang di layarnya tergambar sebuah garis tidak beraturan seperti sandi rumput. Garis yang lebih buruk dari lima menit yang lalu. Alat itu dulu gagal mengembalikan Aina. Dan kini, aku ingin melepas jantungku saja. Karena rasanya aku tidak sanggup kehilangan belahan jiwa untuk kedua kalinya.

“360 Joule.”

Clear. Shock!”

***

“Ibu nangis kenapa?”

“Ibu nangis karena liat Aina sakit. Ibu mau sakit Aina dipindah ke Ibu aja.”

“Ibu jangan nangis. Aina enggak sesakit itu, kok. Kalo Ibu sedih gitu, Aina jadi merasa bersalah.”

“Kok bersalah?”

“Sejak lahir Aina sakit-sakitan. Demam, mimisan, sekarang jadi botak dan jelek. Lalu kapan Aina bisa lihat Ibu senyum dan tertawa?”

Mungkin sebentar lagi, Aina. Ketika bertemu dengan Aina, Ibu akan tersenyum dan tertawa. Sebentar lagi.

***

Biiip…

***

Malang, August 28th 2013

By: Nina @noichil

PS: stok cerpen lama yang nganggur cantik. Aplot aja lah daripada enggak diapa-apain jugak T_T

%d bloggers like this: