Archive for the ‘ Lagu ’ Category

[BeraniCerita #15] Lima Belas

GettyImages

GettyImages

Sebuah film diputar di kepalaku. Sebuah pertemuan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang masih lugu di pos satpam yang kosong di depan sekolah. Keduanya terbalut seragam putih dan biru. Keduanya terjebak hujan. Anak laki-laki itu menoleh pada anak perempuan yang bibirnya membiru dan tubuhnya menggigil kedinginan, “Siapa namamu?”

Saat itu aku tidak terlalu mendengar sebuah nama yang ia sebutkan. Suaranya yang lembut tersapu debur hujan. Yang kutahu, anak perempuan ini adalah bidadari yang jatuh dari surga*.

***

I’m fifteen for a moment
Caught in between ten and twenty
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

***

“Bagaimana keadaanmu?”
“Buruk. Seharusnya kamu tanya bagaimana perasaanku.”
“Baiklah. Bagaimana perasaanmu?”
“Aku luar biasa merindukanmu.”

***

I’m thirty three for a moment
Still the man, but see I’m of age
A kid on the way
A family on my mind
The sea is high
And I’m heading into a crisis
Chasing the years of my life

***

“Di saat-saat seperti ini, seluruh memori berdatangan di kepalaku. Dan di setiap framenya, selalu ada kamu.”
“Benarkah? Apakah aku terlihat cantik?”
“Kamu selalu terlihat cantik. Dan aku bingung harus menyaksikan koleksi memori yang mana dulu. Semua hal bersamamu selalu membuatku tersenyum.”
“Termasuk ketika aku memergokimu makan siang berdua sekretarismu yang seksi itu?”
“Ah, ya. Itulah satu-satunya kenangan di mana wajahmu terlihat mengerikan. Dan itu membuatku sadar. Aku tidak ingin melihatnya lagi seumur hidupku.”
“Dan kamu berhasil.”

***

Half time goes by
Suddenly you’re a wise
Another blink of an eye
Sixty seven is gone
The sun is getting high
We’re moving on

***

“Pasti kamu sudah kangen sekali padaku…”
“No doubt. I miss you everyday.”
“Maaf. Aku telah meninggalkanmu cukup lama.”
“Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kamu merindukanku juga.”
“Sangat. Aku sangat merindukanmu.”
“Haruskah aku menemuimu lebih cepat?”
“Tidak perlu. Bersabarlah.”

***

I’m ninety nine for a moment
Dying for just another moment
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

***

Sedikit lagi. Lima belas menit lagi, bisiknya.

Kudengar sebuah suara nyaring dan memekakkan telinga dari alat yang ujung-ujung kabelnya tertempel di dadaku. Disusul pekik tangis histeris yang mengiris serta sentuhan terakhir pada tubuhku yang tak lagi bergerak.

Dan aku tersenyum. Setelah penantian panjang yang melelahkan dan menyakitkan, akhirnya anak laki-laki berseragam putih-biru itu akan kembali bertemu dengan bidadarinya yang sudah menunggu di surga sejak lama.

Fifteen, there’s never a wish better than this
When you only got hundred years to live

***

Malang, June 8th 2013
* Lirik lagu Coboy Junior – Bidadari
** Five For Fighting – 100 Years
*** Again. No twist. Karena saya lupa caranya -“-

image

Reuni

image

“Sekolah ini sudah banyak berubah, ya…”

Aku memutar tubuhku lalu bergeming sesaat. Mulutku menganga. Ini adalah dua detik terlama.

I haven’t seen you in ages
Sometimes I find myself wondering where you are

“Hei, Ar! Kukira kamu nggak datang. Apa kabar?” seruku sambil menyodorkan tangan.

Arya menyambut tanganku dengan jabatan yang membuat senyumku berhenti mengembang dan kenangan masa lalu kembali berlalu lalang. “Baik. As always. Kamu apa kabar, Ri?” tanyanya.

“As you see. I’m fat,” ujarku dengan tangan yang membuat gerakan melebarkan badanku sendiri.

Arya menahan gelaknya, “Tapi kamu tetap cantik.”

Dan seperti yang lalu-lalu, pujian Arya membuat duniaku serasa berhenti berputar. Selama beberapa saat, jantungku berdebar hebat. Mungkin, wajahku memerah. Buru-buru kusesap es buah yang sudah habis airnya, lalu memutar-mutar sendok kecilnya di antara potongan buah nanas dan semangka.

Kucoba menenangkan diri dengan menggerak-gerakkan kaki seiring irama lagu. Kepalaku bergoyang-goyang. Dan perlahan telingaku mulai menangkap lirik lagunya. Kugumamkan lagu Tak Bisa Ke Lain Hati milik Kla Project yang sedang melantun di seluruh aula sekolah ini.

Tunggu.

Kenapa harus lagu ini? Rasanya aku ingin menumpahkan sepanci es buah pada siapapun yang menjadi panitia acara ini.

“Lagu yang provokatif. Menurutku, sih,” bisiknya sambil memasukkan potongan brownies ke dalam mulutnya.

Aku merapikan anak rambut yang mengganggu pandangan dan mengulum senyum. Aku teringat pada masa SMA, ketika kami sedang dipeluk cinta. Dan lagu ini adalah pengiring perjalanan yang kami kira untuk selamanya.

“Hmmm… Not for me,” timpalku.

Arya menengadahkan kepala. Dahinya berkerut. Matanya mencari-cari tanda akan sesuatu di dalam kalimatku yang mungkin tidak ia mengerti. Arya salah tingkah.

“Oh, maaf. Kukira …rasa yang sama di antara jabat tangan kita itu… Ah sudahlah. Mungkin hanya aku.”

Buru-buru ia mengunyah sisa brownies yang tinggal seperempat. Aku terkekeh melihatnya. Arya sama seperti dulu, selalu berusaha melenyapkan kegusaran dengan memenuhi mulutnya dengan makanan.

“Nggak. Kamu nggak salah mengartikannya, Ar. Rasanya tetap sama seperti dulu.”

Entah ada apa dengan semesta. Tiba-tiba jemari kami saling bertaut. Memagutkan kenangan dan rindu yang sejak tadi sudah meletup dengan terburu-buru.

Iya. Rasanya tetap sama. Meski hitungan tahun sudah berlalu sepuluh kali, rasanya tetap sama. Adrenalin yang menghentak-hentakkan jiwa muda. Ada jantung yang memburu ketika aku membolos pelajaran Fisika demi bisa mengintipnya bermain basket. Ada isi perut yang diaduk ketika ia menggenggam tanganku dengan diam-diam di barisan kelas kami yang berdampingan saat upacara bendera. Ada senyum yang tak bisa luntur ketika pertama kali ia mengecup pipiku di hari kasih sayang.

For me you’ll always be eighteen and beautiful
And dancing away with my heart

“Keadaannya yang berbeda. Kita bukan lagi remaja sepuluh tahun lalu yang masih berseragam putih abu-abu,” bisiknya. Ibu jari Arya mengelus punggung tanganku.

Aku tersenyum. Wajah Arya pun turut menyunggingkan lengkung yang sama. Senyum yang melepaskan. Sama seperti aku. Malam ini, kami sama-sama membebaskan untuk kesekian kali.

Kulepaskan genggaman tangan Arya. Lagu sudah berganti. Dan rasanya sudah seharusnya memori rindu ini diakhiri.

Tiba-tiba ada wangi yang sangat kukenal. Lalu pemiliknya menjulurkan tangan, memeluk pinggangku dari belakang dan mengelus-elus perutku yang sedang hamil tujuh bulan. “Yang, pulang duluan nggak masalah, kan?” pinta Rian.

Aku menoleh dan mendapati wajahnya membengkak. Kulitnya memerah. “Astaga! Pasti nekat makan udang, deh!” pekikku sambil memukul lengannya.

“Minum ini dulu aja,” ujar Arya sambil menyerahkan selembar obat antihistamin yang, aku tahu, selalu ia bawa kemana-mana.

“Hehehe terima kasih, Ya. Abis udang asam manisnya menggoda,” kekeh Rian ketika menerima obat tadi. Arya mengangguk-angguk dan tersenyum. Aku memalingkan muka. Sepertinya kami sedang memikirkan hal yang sama. Entah bagaimana ceritanya. Tapi Arya dan Rian adalah dua lelaki yang sama-sama alergi pada udang.

“Ya udah, kami pulang duluan. Makasih obatnya, Ya…” ujarku sambil tersenyum. Kurangkul lengan Rian. Kubiarkan hanya suamiku yang berjabat tangan dengan Arya sebagai tanda perpisahan.

“Oke. Sampe ketemu lagi. Hati-hati di jalan,” kata Arya.

“Tengkyu, Ya. Gue harap kalo ketemu lagi, lo udah ada yang nemenin. Jangan lupa undangannya,” bisik Rian pada Arya dengan nada bercanda.

Wajah Arya canggung. Pipiku pias. Seiring dengan langkahku dan Rian yang menjauh, segera kulupakan pesan singkat Arya beberapa minggu yang lalu. Pesan yang berkata ‘Kutunggu jandamu’.

***

Dancin’ Away With My Heart – Lady Antebellum
Kalabahi – Alor – NTT
March 10th 2013

Sempat Melayani Hatimu

Sempat kau berharap kau tak harus pergi
Sempat kau katakan kau rindu padaku

Hari Minggu sudah berjalan selama delapan belas jam. Dan makan malam istimewa masih belum sepenuhnya kuselesaikan. Sedikit lagi. Tersisa seekor ayam berlumur bumbu taliwang yang belum dipanggang. Sedangkan plecing kangkung sudah siap di meja makan. Dan puding mangga tinggal mengeluarkan dari lemari es saja.

Ini memang akhir bulan. Tapi sengaja kulonggarkan pengeluaran demi menyambut belahan jiwa yang sudah pergi selama tiga puluh hari. Ia adalah lelaki istimewa. Maka setidaknya, masakan yang tidak biasa ini bisa menunjukkan betapa selama tiga puluh hari ini aku merindukannya.

Sudah seminggu ini rasanya aku tidak bisa tidur. Penantian akan kedatangannya terasa lebih mendebarkan dari biasanya. Tapi bagaimanapun, senyum tak bisa lepas dari bibirku. Sudah kubayangkan malam-malam yang akan kami lewati untuk menikmati rindu yang sudah tertumpuk sekian lama.

Sempat saling berdekapan dan menghangatkan
Menyaksikan malam penuh bintang

Kumasukkan ayam yang sudah berlumur bumbu ke dalam panggangan. Kubersihkan jejak-jejak minyak dan kotoran bekas memasak dengan cepat. Lalu aku mandi dan mengenakan pakaian terbaik yang kupunya. Malam ini harus sempurna.

Berkali-kali aku mencuri pandang pada jam tangan. Pukul tujuh malam. Seharusnya, dua jam lagi ia sudah mendarat di bandara. Dadaku sesak oleh rasa bahagia. Kerinduan ini sudah semakin membabi-buta.

Sempat kunikmati kecupan senyummu
Sempat kuresapi redupnya matamu

Tiba-tiba, tayangan kartun di televisi berhenti dan digantikan oleh tayangan headline news. Seorang penyiar lelaki mengucapkan selamat malam dengan wajah muram. Dan mendadak, aura di ruang keluarga ini begitu menyesakkan. Perhatianku kini telah tertuju pada layar televisi yang sebelumnya kuabaikan.

“Telah terjadi kecelakaan pesawat Airbus A330-300 ketika hendak mendarat di lanud Halim Perdanakusuma. Kecelakaan pesawat ini menyebabkan seluruh penumpang yang berjumlah 98 orang dan 12 awak meninggal dunia. Penumpang pesawat yang merupakan Kontingen Garuda ini baru saja menyelesaikan misi di Lebanon…”

Suara penyiar itu menjauh perlahan.

Rasanya jantungku berhenti. Melihat badan pesawat yang sudah hancur tak berbentuk itu membuat air mataku mengalir tanpa kusadari. Dan rasanya aku tidak sanggup membaca nama-nama korban yang telah terpampang di layar kaca.

Ini tidak benar. Ini pasti tidak benar.

“Kolonel Arga Bimantara. Bu, itu seperti nama Bapak…”

Anak lelakiku yang masih berusia tujuh tahun itu bimbang memandang ibunya yang sangat berduka. Ia menanti jawaban. Tapi suara Dirga tenggelam. Seperti jiwaku yang ikut terbenam bersama kekasih yang telah tiada.

Sempat saling mendengarkan ombak bersuara
Dan kita berkhayal keliling dunia
Dan sempat kumelayani hatimu

***

Sempat Melayani Hatimu – Titi DJ
Kalabahi – Alor – NTT
February 24th 2013

I Won’t Give Up

When I look into your eyes
It’s like watching the night sky
Or a beautiful sunrise

Seperti biasa, aku bangun sebelum adzan shubuh berkumandang. Kuisi bak mandi dengan air. Kusiapkan bahan makanan yang mudah untuk dimasak. Pagi ini, rebusan daun singkong, ikan laut goreng dan sambal tomat.

Setelah mandi, kubangunkan istriku yang tidur dengan hati-hati. Kubelai rambutnya yang berantakan. Kecup pipinya yang ranum dan menggemaskan, “Sayang, bangun. Ayo sholat shubuh dulu.”

Ia mengerjap-ngerjapkan mata yang selalu menjadi oase di antara kelelahanku. Ia memandangku dengan mata yang menjadi cerminan kebahagiaan tanpa jeda. Sambil tersenyum ia berkata, “Selamat pagi, Suamiku.”

Segera kusodorkan sebuah baskom besar berisi air bersih untuk digunakannya berwudhu. Lalu kusiram kakinya sebagai penuntas. Dan dalam kesyahduan pagi, kami sholat shubuh berjamaah.

Kuselesaikan kegiatan masakku, menyajikannya di atas meja dan kami sarapan bersama. Sesekali aku memandangnya, memastikan bahwa ia menghabiskan seluruh isi di piringnya. Kubersihkan ujung bibirnya yang belepotan. “Terima kasih,” katanya.

Dadaku sesak. Ada perasaan yang terguncang setiap ia mengucapkan dua kata itu. Aku tidak mau ia mengucapkannya terlalu sering. Itu tidak perlu. Sangat tidak perlu.

Jam setengah tujuh pagi. Setelah membantunya membersihkan diri, aku siap berangkat bekerja. Kutuntun kursi rodanya ke teras. Kuserahkan tubuhnya kepada sang matahari agar sudi membagi hangat serta semangatnya.

Dengan kasih dan cinta yang tak pernah berkurang, kukecup bibirnya, “Aku berangkat dulu, ya. Sebentar lagi, Mbok Sumi datang untuk menemani Adinda.”

“Iya, Mas. Maaf…” jawabnya. Ada suara yang bergetar di sana. Suara yang selalu kudengar setelah tubuhnya lumpuh karena kecelakaan lalu lintas setahun lalu. Suara tanpa harapan. Suara yang hanya menyisakan penyesalan dan rasa bersalah.

Jangan meminta maaf, Istriku. Bahkan aku tidak mengutuk Tuhan atas apa yang terjadi padamu. Pada kita.

Ini hanya ujian. Dan aku memastikan, bahwa kita akan lulus dengan nilai sempurna.

Well, I won’t give up on us
God knows I’m tough enough
We’ve got a lot to learn
God knows we’re worth it

***

I Won’t Give Up – Jason Mraz
Kalabahi – Alor – NTT
February 16th 2013

Aku Jatuh Cinta Di Hari Jumat

the-cure-friday-im-in-love-4867

Monday you can fall apart

Tuesday, Wednesday break my heart

Oh, Thursday doesn’t even start

“Udah ada yang ngetweet, ‘Ayo sholat Jumat. Biar tambah ganteng!’ belum, San?”

Suara itu muncul secara tiba-tiba dari balik kubikel di sampingku. Aku tergelak mendengar kalimatnya. Refleks aku menggeleng-geleng tanpa mengalihkan perhatian dari netbook di depanku. Dari lini masa Twitter tepatnya, “Yang ada malah bilang, ‘Kiwil rajin sholat Jumat tuh. Bisa dibilang ganteng?’”

“Hanjir! Tega bener yang ngetweet begitu. Tapi meski casing luar Kiwil begitu, istrinya dua. Bisa jadi bukti ganteng nggak?”

Terdengar bunyi klik sekali. Lalu bunyi scroll mouse. Pasti Si Kampret ini juga sedang mengamati lini masa Twitter. Jangan hujat apa yang kami lakukan di hari Jumat. Di luar sana, pasti banyak yang menganggap, Jumat adalah akhir minggu yang tertunda.

“Ya tergantung, Ki. Indikator gantengnya apa dulu. Buktinya, Kiwil dimaki-maki istri keduanya. Berarti gantengnya luntur ihihihi…” kataku sambil terkekeh, membuka beberapa halaman blog dan mulai membaca.

Kini kepala Uki muncul dari balik kubikel. Matanya membulat, dahinya berkerut, “Ahahaha life guide tuh. Ganteng jangan disablon. Kena cuci dua kali udah ilang gantengnya,” katanya lagi. Mau tak mau aku tertawa mendengarnya. Kalimat-kalimat Si Kampret ini memang selalu kampret. Aku tak mengerti mengapa Si Kampret ini bisa sedemikian serius masalah kegantengan. Kadang-kadang dia bisa menjadi lelaki yang narsis luar biasa

“Tambahin hashtag ngaca, ya, di belakangnya ahahaha…” jawabku sekenanya. Senyum jumawa di wajah Uki mendadak hilang. Lalu kepalanya menghilang. Kembali berkutat dengan netbooknya di samping kubikelku.

“Kampret! Eh jam berapa sih ini?” tanyanya.

“Jam sebelas. Kenapa?”

“Gue cabut dulu.”

Saturday, wait

And Sunday always comes too late

But Friday, never hesitate…

Lalu terdengar musik tanda netbook sudah ditutup. Kini giliranku yang memunculkan kepala ke kubikelnya, “Kemana, lo?”

“Nambah ganteng yang nggak pake sablonan,” jawabnya sambil membungkuk, melepaskan kedua sepatu pantovel dan kaos kakinya, lalu mengenakan sandal jepit yang sudah usang.

“Ahahaha… Bagooos! Tapi percuma elo ganteng nggak pake sablon kalo nggak bisa jadi imam,” ujarku dengan nada mengejek. Sebenarnya Uki selalu rajin sholat Jumat. Dan juga sholat lima waktu lainnya. Entah kenapa, tiba-tiba pernyataan ini keluar begitu saja.

“Siapa bilang? Gue bisa kali,” protesnya. Kini ia mengeluarkan selembar sajadah dan peci berwarna hitam dari ranselnya.

“Pret!”

“Kok pret? Ayo sekarang gue buktiin ke elo, Sandya,” tiba-tiba wajah Uki menegang. Matanya mengarah lurus padaku yang bertopang dagu di papan kubikelnya.

Senyumku pudar. Rasanya jantungku ikut berdebar.

“Emang elo mau jadi imam pas sholat Jumat nanti?”

“Nggak. Gue mau jadi imam setiap elo sholat.”

You can never get enough

Enough of this stuff

It’s Friday, I’m in love

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 4th 2013

[The Cure – Friday, I’m In Love]

Cintaku Hilang Di Perempatan Jalan

3378955882_2cd36ce6ca_b

Jam sebelas lewat sepuluh menit. Tapi riuh bandara belum juga terlelap. Aku menggenggam erat gagang sebuah koper besar, lalu berjalan menuju pintu keluar. Tidak ada penjemput, tentu saja. Karena kedatanganku kali ini adalah kejutan. Bertahun-tahun aku meninggalkan Indonesia demi menjalani pendidikan doktoral di negeri orang. Bertahun-tahun aku memendam kerinduan pada keluarga yang kutinggalkan. Kini saatnya kembali dan memulai lagi apa yang pernah terbengkalai.

Kakiku melangkah menuju pangkalan taksi. Sebuah taksi berwarna biru membawaku memecah keheningan malam yang belum tidur. Masih terasa nyawa ibu kota yang masih membara. Sesekali aku memejam-mejamkan mata karena rasa ngantuk yang tak tertahankan. Tetapi barisan kenangan sebelum aku berangkat ke luar negeri semacam memberi energi lebih.

Di dalam kepalaku, terputar film hitam putih. Masih lekat di ingatanku, betapa beratnya saat memutuskan untuk pergi. Meninggalkan Arya dan Riani, gadis kecilku yang saat itu masih berusia tiga tahun. Tapi karirku di bidang pendidikan dan penelitian biomolekuler memang tidak bisa dibendung. Melonjak pesat seperti hormon luteal saat perempuan sedang menjelang masa ovulasi. Dan aku menikmatinya. Sangat menikmatinya. Ini adalah impianku. Menjadi doktor di usia muda. Gairah untuk mencapai aktualisasi diri tertinggi tidak dapat dihapus oleh apapun. Bahkan dengan iming-iming kebersamaan sebuah keluarga. Tidak ada salahnya dicoba. Kesempatan tidak datang dua kali.

Mengetahui hal ini, Arya tidak berkata apa-apa selain mengiyakan.

“Pergilah, Farah. Bukankah ini yang kamu inginkan?” katanya sambil menggendong dan menenangkan Riani yang sedang merengek meminta dibelikan balon berbentuk hati.

“Kita pergi bersama. Bagaimana? Di Jerman pasti banyak pekerjaan, Arya,” kataku.

Tetapi Arya menggeleng dan tersenyum, “Kamu tahu untuk jadi PNS itu susah. Kalo aku seenaknya pergi dengan alasan ikut istri, nggak lucu jadinya.”

Dan hingga saat ini, kuanggap sikap diam Arya adalah persetujuan. Seorang suami yang keberatan pasti sudah marah-marah. Tetapi Arya tidak begitu. Meski mertuaku mencibir dan menganggapku perempuan yang gila gelar, Arya tetap mengiyakan dalam diam. Aku tidak butuh anggapan orang. Toh selama sekolah, aku rutin mengirimkan sejumlah uang yang kudapat dari biaya penelitian. Jadi tidak ada alasan Arya dan keluargaku tidak merestui keputusanku ini.

Taksi berhenti di sebuah perempatan yang sepi. Hanya ada segelintir kendaraan yang berlalu lalang. Kelap-kelip lampu mewarnai malam seperti kembang api bisu. Tapi gemuruh di hatiku sudah tak mampu lagi disembunyikan. Ada perasaan yang tak karuan di dalamnya. Aku rindu memeluk Arya. Dan Riani tentunya.

Arya tidak banyak berubah. Dari komunikasi melalui Skype, suamiku tetap tampan seperti terakhir kali kami berpelukan. Tapi aku tidak terlalu banyak berbincang dengannya. Entah kenapa, sepertinya suamiku semakin pendiam.

Dan Riani sudah masuk SD sekarang. Tiba-tiba tubuhku mengejang. Takut. Takut menghadapi Riani yang selama lima tahun hanya mengenal ibunya melalui layar. Masih terbayang bagaimana gadis kecil itu menangis meraung-raung ketika melihatku melambaikan tangan dan menghilang di balik pintu masuk bandara. Bermalam-malam, tangisan Riani telah menjadi mimpi buruk.

Pernah sekali aku membuat akun Facebook, dan membaca sebuah status teman lama. Ia menggambarkan betapa bahagianya bisa memeluk anak-anak dan membaktikan diri pada keluarga. Jantungku mencelos. Entah di sisi bagian mana, ada hati yang terusik membaca deretan kata itu. Seakan status itu ditujukan padaku. Kalian tidak tahu. Asal ngomong. Aku pergi jauh seperti ini karena punya mimpi yang tinggi. Tidak seperti kalian yang bisanya hanya ngerumpi di Facebook.

Kulirik angka di samping lampu lalu lintas yang merah menyala.

Tiga puluh detik. Jika aku menyetir sendiri, sudah kuterobos saja lampu merah ini. Lagipula, di malam sesepi ini, kecil kemungkinan terjadi baku tabrak antar kendaraan. Tapi pikiranku disusupi sebuah ingatan pada percakapan lewat Skype seminggu yang lalu. Riani bercerita dengan riang tentang pengalaman pertamanya menjadi petugas keamanan sekolah. Aku tersenyum membayangkan gadis kecilku merepet tanpa henti tentang pentingnya mematuhi lampu lalu lintas.

Lima belas detik. Terdengar sebuah ketukan halus dari luar jendela taksi. Aku menoleh. Kudapati seorang perempuan tersenyum lebar sambil mengacung-acungkan alat musik sederhana yang dibuat dari beberapa tutup botol yang dipipihkan. Dandanannya menor sekali. Seakan berusaha menyembunyikan banyak hal. Pandanganku turun ke bagian lehernya. Jakun tidak bisa berbohong, Nona. Aku tersenyum. Menyusup rasa kasihan pada perempuan jadi-jadian ini. Bahkan di gelap malam, dia masih harus menutupi hidupnya dengan dandanan yang menipu. Lalu kehidupan nyata seperti apa yang kamu punya?

Ketika telunjukku menekan tombol untuk menurunkan kaca taksi, sopir berkata, “Jangan dibuka, Bu. Kadang-kadang mereka ngawur.”

Sejenak aku ragu. Tapi biar saja. Setidaknya selembar uang yang kuberikan malam ini bisa mengganti polesan rias wajah dan topeng yang ia kenakan sepanjang malam. Mungkin sepanjang hidupnya.

Kaca mobil bergerak turun. Sang perempuan KW semakin keras menghentak-hentakkan alat musik ke pahanya. Suara pecahnya semakin jelas terdengar. Dia menyanyikan sebuah lagu dari Naif yang melejitkan nama Avi, salah satu anggota Silverboy.

Mengapa aku begini

Jangan kau mempertanyakan

Kuserahkan selembar uang lima puluh ribuan padanya. Jemari lentiknya meraih uang itu dengan gemulai. Aku melayangkan senyum dan menatap wajahnya. Senyumnya mengembang. Tiga detik wajah kami berhadapan. Ada desiran yang mengacaukan hatiku. Senyumannya hilang. Dan bongkahan es dijejalkan begitu saja ke tubuhku. Rasa dinginnya menyeruak hingga ke kepala. Ke mana saja. Bisa kupastikan, perempuan jadi-jadian itu pun sama tertegunnya denganku. Jakunnya naik turun. Dan bekas luka di pelipis kirinya masih cukup jelas meski tersamarkan dempul wajah yang tebal.

Arya.

Bila ku mati, kau juga mati

Walau tak ada cinta, sehidup semati

***

Kalabahi – Alor – NTT

December 21st, 2012

Sonata No. 2 In B Flat Minor

grand_piano

Tidak ada yang lebih menyayat dari perpaduan hujan lebat di siang hari, pilihan sulit dan lagu patah hati. Di bawah sinar mentari yang membakar kulit, engkau justru merasakan dinginnya air hujan yang melumat habis hangatmu. Belum lagi dilema antara pilihan-pilihan yang semuanya bisa membunuh masa depan. Atau masa lalu. Dan alunan nada pedih yang membuatmu ingin mengiris nadi. Saat itu juga.

Itulah yang kurasakan siang ini. Hujan lebat di luar sana. Begitu hebat hingga aku tidak bisa pergi ke mana-mana. Sepuluh menit yang lalu, sebuah pesan kuterima. Pesan singkat. Pesan yang membolak-balik duniaku. Dan entah kenapa, playlist di laptop kerjaku memutar lagu Separated milik Usher. Keparat.

Dua setengah jam lagi, ada rapat penting yang harus kupimpin sendiri. Tidak dapat diwakilkan. Tetapi pesan singkat tadi juga tidak bisa kutangani melalui orang lain. Harus aku sendiri. Dilema. Hujan. Dan lagu patah hati.

“Vaya, kamu tenang dulu. Kita ketemuan di tempat biasa. Setengah jam lagi aku sampai di sana. Percayalah. Semua akan baik-baik saja.”

Aku menutup telepon. Berusaha untuk terdengar tenang di saat gemuruh mencabik-cabik hati, sungguh tidak menyenangkan. Tapi kurasa, pilihan kata dan suaraku tadi sudah cukup meyakinkan Vaya, bahwa semua akan baik-baik saja. Iya, semoga saja begitu. Karena aku sendiri pasti akan ragu jika mendengar saran atau nasehat yang ragu-ragu.

Aku sampai pelataran di Resto Classic sepuluh menit lebih awal. Kuparkir mobilku dengan serampangan. Otakku sudah tidak mampu berpikir secara benar. Langkah kakiku sudah tidak karuan. Berpacu dengan detak jantung yang berdentuman. Lup dup lup dup lup lup dup dup lup lup lup dup dup dup.

Rupanya Vaya sudah tiba. Wajahnya pucat. Bibirnya saling berpagut. Biasanya, melihat bibirnya sudah membuatku hilang akal. Tetapi siang ini, aku tidak mau akalku hilang.

“Mas… Gimana ini?” kata Vaya saat aku mendekati mejanya. Dia bahkan berdiri dari duduknya. Dan tidak bisa menyembunyikan kegelisahan.

“Kita bicarakan semuanya siang ini. Kamu sudah makan?” kataku. Sambil mengelus pelan lengannya yang gemetar. Lalu menuntunnya duduk bersamaku. Berdampingan.

“Aku ndak nafsu makan,” ujarnya sambil menggeleng dan hampir menangis.

Gawat. Aku tidak pernah suka perempuan yang menangis. Apalagi di tempat umum seperti ini. Rasanya seperti penjahat asmara yang tega membuat seorang hawa sakit hati.

Aku mengedarkan pandang dan bernapas lega. Sepi. Tidak ada pengunjung lain. Jadi aku tidak harus berpura-pura larut dalam drama siang ini.

“Oke. Aku pesankan makanan dulu ya. Kamu harus makan. Setelah itu, baru kita bicara.”

Aku bangkit dan menuju meja pemesanan. Menyebutkan dua porsi makan siang. Jemariku mengetuk-ngetuk tidak sabar. Rasanya ingin segera kuselesaikan. Tetapi tidak bisa. Harus perlahan. Tuhan tidak suka hamba yang terburu-buru. Karena akupun tidak mau, dilema ini berakhir dengan pilu.

Aku kembali ke tempat duduk kami dengan membawa satu nampan berisi makanan untuk berdua. Kemudian kami menikmati makan siang dalam diam. Sesekali kuseka bekas saus di ujung bibirnya. Cantik sekali. Perempuanku itu cantik sekali siang ini.

“Jadi… masalah ini bagaimana, Mas?” tanya Vaya. Tepat setelah suapan terakhirnya. Ia menyodorkan sebuah foto hitam putih. Cukup buram, tetapi aku tahu gambar apa yang ada di sana.

“Aku tidak mengira bahwa ini akan terjadi, Sayang. Ternyata metode kalender kita tidak tepat,” jawabku sambil menyeka mulut dengan selembar tisu. Tanganku meraih foto hitam putih itu. Bagaimanapun aku penasaran, sebesar apa janin yang ada di rahim Vaya. Ada tonjolan sebesar 5 mm, gestational sac, 4 – 6 minggu.

“Aku juga nggak. Trus aku harus gimana?” Vaya mulai panik. Sebagian dari diriku merasa, perilaku Vaya ini cukup menggelikan. Biasanya, kehamilan justru digunakan perempuan untuk mengancam laki-laki agar segera menikahinya. Tetapi tidak dengan Vaya.

“Kalo… digugurkan bagaimana?” tawarku. Hati-hati sekali. Perempuan hamil biasanya memiliki naluri keibuan yang kuat. Naluri ingin melindungi. Atau malah menjelma sebagai monster pembunuh janin karena tidak ingin kehamilan menghambat hidupnya.

“Nggak! Aku nggak mau aborsi!”

Nah. Rupanya Vaya termasuk perempuan yang pertama. Baiklah. Aku akan membuatnya semakin mudah.

“Aku akan cari cara, Sayang. Seperti yang kamu tahu, sudah lama aku ingin menceraikan istriku. Bahkan sebelum bertemu denganmu. Jika seperti ini keadaannya…”

“Cari jalan keluar! Aku nggak mau anak ini lahir sebagai anak haram!” Dan air mata Vaya tumpah sudah. Aku mencoba menenangkannya dengan memberi belaian lembut di tangannya yang basah oleh keringat.

Inilah alasannya, aku memilih Vaya sebagai selingkuhan. Terlalu polos, lugu, kadang-kadang bodoh. Jika tidak mau punya anak haram, kenapa mau diajak berhubungan haram, Vaya…

“Masalah seperti ini tidak bisa aku putuskan dengan tergesa-gesa, Sayang. Tapi yakin, aku pasti bertanggung jawab. Kamu jangan terlalu gelisah memikirkan hal ini. Kamu calon ibu. Harus kuat ya…”

Kalimat yang kuhapal sepanjang jalan tadi akhirnya keluar juga. Aku melihat, Vaya tersenyum ringan. Tawa kecilnya mulai terdengar. Dan dadaku melonggar. Menyelesaikan masalah ini dengan Vaya ternyata tidak butuh usaha banyak.

Kupeluk tubuhnya yang rapuh. Kukecup bibirnya yang basah. Aroma parfum dan rasa bibir Vaya tidak pernah berubah. Seperti sedang mengulum gula-gula rasa strawberry yang manis, dan wanginya mendesak seluruh sistem untuk meminta lebih. Aku tertawa dalam hati. Sialan. Semua dilema ini ada gara-gara aroma dan rasa strawberry. Dan mulai detik ini, aku membenci strawberry.

“Mainkan sebuah lagu, Mas,” pinta Vaya. Matanya melirik sebuah piano mewah.

“Kamu mau denger lagu apa?” tanyaku.

Vaya mendekatkan lagi tubuhnya ke arahku, “Apa saja. Dari Chopin. Lagu-lagunya selalu membangkitkan sisi romantisme bagi siapapun yang mendengarkan. Ekspresif dan penuh hasrat. Seperti rasaku buat kamu.”

Aku tersenyum mendengar permintaannya. Kugenggam kedua tangannya. Lalu beranjak, dan berjalan menuju piano hitam di tengah ruangan.

Dentingan piano menggema di restoran yang kosong ini. Nadanya jernih dan begitu intim. Senada dengan dentuman hujan di luar sana, mengiringi irama hatiku dan Vaya. Mengingatkan pada saat kami terbakar dan bercinta. Sesekali aku melempar senyum ke arah Vaya yang tampak lebih tenang. Dia membalas senyumanku, lalu meneguk habis jus tomat yang kupesankan. Hati berbunga melihatnya.

Tiba-tiba Vaya memegangi lehernya. Napasnya memendek. Dan cepat. Suaranya parau memanggil-manggil namaku. Kumainkan lagu ini dengan tempo lebih cepat. Berlomba dengan waktu yang tak lagi lama.

Tubuh Vaya mengejang. Matanya terbelalak begitu mengerikan. Lalu ia terjatuh ke lantai. Dan menggeliat-geliat seperti lintah yang disiram garam.

Baiklah. Inilah puncaknya. Tempo permainan pianoku makin menggila. Dentingan piano tidak lagi bisa didefinisikan. Hanya terdengar alunan lagu kematian yang memburu dan menderu seperti pusaran angin yang marah. Ini seperti lomba lari yang harus aku menangkan.

Tubuh Vaya melemas perlahan. Buih putih keluar dari mulutnya. Kemudian gerakan tubuhnya sirna. Dengan mata yang masih memintaku untuk memandangnya.

Vaya… Tadinya aku bangga mendengarmu menyebutkan tentang Chopin dan lagu-lagunya. Tetapi sepertinya kamu tidak tahu. Bahwa lagu yang kumainkan ini, Sonata no. 2 in B Flat Minor, adalah lagu pengiring kematian Chopin setelah dilanda patah hati. Sepuluh tahun ia merelakan cintanya hanya dihargai nomor dua. Dan Goerge Sand meninggalkan Chopin demi suami sahnya. Lalu sakit dan merana. Hingga nyawanya tiada. Seperti kamu, Vaya. Seperti kamu, yang kutinggalkan demi istri sahku.

Jariku menari tanpa jeda. Dan dua menit setelah Vaya tiada, aku mengakhiri resital tunggalku. Perfecto. Napasku melambat. Denyut jantungku tak lagi cepat. Kupejamkan mata dan menikmati harmoni yang baru saja kumainkan. Simfoni piano, hujan dan lagu kematian memang begitu sempurna.

***

Moru – Alor – NTT

December 11th 2012

%d bloggers like this: