Archive for the ‘ semifiksi ’ Category

Kutitipkan Rinduku

image

Kutitipkan rinduku pada awan
Agar setelah hujan berhenti
Kan tumbuh lagi rumput kering yang sejak dulu tak hijau
Dan setelah badai tak lagi hadir
Akan ada damai di taman hati ini

Namun saat air mata harus terurai
Karena genggaman tanganmu akan melepaskan aku
Karena hati ini akan berjarak makin jauh
Percayalah!
Aku akan tegar
Aku mampu melangkah tanpa menunduk
Dan tanganku akan mantap meraih kesejatian

Kutitipkan rinduku pada mentari
Agar ia menjagamu saat jauh dariku
Detik akan terus berjalan dengan waktu
Ia akan memberi bentuk baru pada hati kita
Agar nanti kita bertemu dengan cinta yang lebih hangat

Aku pun berharap
Setelah mengucap selamat berpisah
Engkau tak lupakan manis kisah kita
Atau juga pahit kataku…
Simpanlah foto usangku di dompetmu
Agar kau tak lupa lekuk dan gurat wajahku

Kutitipkan rinduku pada bintang
Untuk melapangkan seluruh ruang di tubuhku dan bisa melepasmu
Agar kau menangkupkan selubung dendam dan dosa
Menebus semua khilaf dan perih yang kubuat hingga detik ini
Dan kita bersih…
bersih selamanya!

Kutitipkan rinduku kepada sang burung camar
Dan aku merelakanmu, merelakan kita
Berjalan, berlari, terbang atau apalah…
Merengkuh sebuah pilihan

Dan entah di tahun keberapa, pilihan itu kan mempertemukan kita dengan segala keadaan
Apapun akhirnya…

Sedih atau bahagia kita berpisah…
Entah bagaimana jika nanti kau kurindukan
Maka tersenyumlah!
Karena senyummu telah cukup membuatku teringat
pada semua kenangan tentang kita
dan akan membuatku bertahan

Kutitipkan rindu pada rembulan
Agar kau juga memimpikanku setiap malam-malammu
Tersenyum dan tertawa, seperti saat kita masih bersama

Kecupku untukmu…
sampaikan salamku pada semua indah masa lalu
Demi masa depan kita

***

9 Februari 2003

NB: Puisi ini pernah nongol di majalah sekolah SMA. Saya buat dalam rangka kelulusan (ketauan deh angkatannya. Bhihiks.) Puisi secemen ini pernah dicopas, loh. Saya menemukan secara tidak sengaja di note FB salah seorang alumni SMA Negeri 1 Probolinggo. Karena menanyakan sumber, saya dihapus dari daftar pertemanan FB dan diblock di Twitter xD

Sekotak Tisu Dan Dua Cangkir Yang Mengepul

lovenever

Selamat pagi. Saya tidak tahu apakah saat ini engkau juga sedang menikmati pagi. Atau sudah menjalani siang. Atau justru mencumbui malam. Karena surat ini saya siapkan kepada siapapun engkau yang nantinya menua bersama saya.

Ada satu hal penting yang harus saya sampaikan. Tentang sesuatu yang akan kau dapati ketika memutuskan untuk memilih saya sebagai seseorang yang beruntung karena mendapat ucapan selamat pagimu setiap hari. Sesuatu yang harus engkau tahu dan pahami. Bahwa di setiap pagi yang berembun dan dingin, akan ada hujan suara dari mulut saya yang mungkin tidak nyaman untuk kau dengarkan. Lengkap dengan berlembar-lembar tisu yang berserakan.

Tidak. Saya tidak membicarakan tentang omelan pagi dan saliva yang berhamburan ke mana-mana. Ini tentang keabnormalan sistem vasomotor di hidung saya yang telah saya bawa sejak ibu mertuamu melahirkan saya ke dunia ini. Perlu kau tahu, bahwa hal ini membuat saya tidak toleran terhadap perubahan suhu yang terlalu dingin. Well, sebenarnya ini juga cara lain dari tubuh saya yang juga menolak sikap dinginmu jika suatu saat kita berselisih.

Hal lain yang bisa membuat saya bersin tanpa henti adalah reaksi sistem imun di dalam tubuh yang berlebihan. Biasanya sih terhadap debu. Dan kondisi tubuh saya yang seperti ini juga diwariskan oleh mertuamu ketika menghadirkan saya ke dunia ini. Tapi yang perlu kau tahu juga adalah bahwa kadang-kadang, alergi ini juga menyebabkanku merespon segala sesuatu secara berlebihan. Terutama yang mengancam hidup saya. Seperti rasa cemburu.

Biasanya, orang-orang yang mendengar saya bersin tanpa henti akan bereaksi begini. Mereka panik dan menyuruh saya segera ke dokter spesialis THT untuk memeriksakan diri. Engkau sudah pasti tahu bahwa hal itu tidak ada gunanya bukan? Berobat untuk hal yang saya bawa sejak lahir tidak akan membantu menyembuhkan. Saya hanya tidak mau uang tabungan kita dihamburkan untuk hal yang sia-sia. Kita masih harus mencicil rumah impian, kendaraan yang cukup untuk kita dan dua atau tiga anak yang manis dan lucu, bulan madu kita yang kedua, ketiga dan seterusnya, serta dana khusus untuk buah hati kita hingga mereka menjadi profesor.

Yang perlu engkau lakukan adalah berikan saya sebuah pelukan hangat, sebuah kotak tisu dan dua cangkir teh atau kopi yang asapnya mengepul dan bisa kita nikmati berdua. Tiga hal itu saja, sudah bisa membantu saya memulai hari yang indah dan sempurna.

Terima kasih telah meluangkan waktu membaca surat ini. Dan semoga hatimu juga lebih luang menerima saya dan rhinitis alergi-vasomotorika ini apa adanya. Sebagaimana saya menerimamu dan kekuranganmu sebagai pelengkap hidup saya. Peluk dan kecup untukmu.

***

Moru – Alor – NTT
January 16th 2013

Allons, Ce Sera Pour La Derniere Fois

Aku suka terbang. Tapi aku tidak pernah segugup ini.

Ini adalah terbangku yang ke sekian kali di Festival Tivoli Garden, sesuatu yang rutin kulakukan ketika aku berada di Paris. Dua kali seminggu. Di usia yang tidak lagi muda, banyak orang yang mengkhawatirkanku, melarangku untuk terbang. Tapi terbang adalah satu-satunya hal yang mengingatkanku dengan Jean Pierre. Di atas langit, aku kembali bertemu dan bercinta dengan lelakiku yang telah tiada.

Aku tidak pernah melupakan saat pertama kali Jean Pierre memintaku menemaninya menjejakkan kaki di atas balon udara, dan terbang meninggalkan bumi. Perasaan itu seperti jatuh cinta. Ketakutanku sirna, kegundahanku entah jatuh dimana, kekerdilan jiwaku pada tempat yang ramai, hilang ketika balon udara beranjak terbang. Sensasi yang sangat berbeda. Tidak bisa dibandingkan dengan apapun. Dan sejak saat itu, aku mencintai keduanya. Jean Pierre dan balon udara.

Kami telah melewati banyak kejadian yang berbahaya. Pada tahun 1807, kami mengalami kecelakaan. Jean Pierre mengalami cedera kepala berat, dan aku mengalami syok yang cukup parah sehingga mengalami mutisme selama beberapa saat.

Pada tahun 1809, kami berdua terbang menuju tanah Belanda. Tepat di atas Hague, Jean Pierre mengeluhkan dada kirinya yang tiba-tiba terasa nyeri. Aku panik. Pada saat itu, pertama kalinya aku takut berada di atas langit. Jean Pierre memegangi dada kirinya sambil mengerang. Dahinya basah oleh keringat. Dia bahkan tidak bisa bicara. Dan pada akhirnya, serangan jantung itu tidak membawanya kembali pulang.

Sesaat aku merasa ingin membenci terbang dan balon udara. Tapi aku tidak bisa. Setelah kematian Jean Pierre, aku tetap melakukan penerbangan dengan balon udara, dengan atraksi kembang api yang biasa Jean Pierre lakukan; menjatuhkan anjing berparasut atau keranjang berisi kembang api yang melekat pada sebuah parasut kecil. Dalam keriuhan penonton di bawah sana yang bersorak-sorai memuja atraksi yang ku lakukan, aku menikmati kesendirian di atas langit yang berbintang. Mengenang masa-masa aku dan Jean Pierre bercumbu sambil memandang bulan.

6 Juli 1819.

Entah ada apa dengan orang-orang di malam ini. Mereka begitu kukuh melarangku menunjukkan atraksi kembang api seperti biasanya. Mereka bilang, itu berbahaya. Tapi bagaimanapun, aku masih ingin melihat wajah-wajah takjub atas atraksiku itu. Langit pasti akan lebih indah dengan seorang wanita berdiri gagah mengendarai balon udara, dan menerangi langit malam dengan warna-warni kembang api.

Aku suka terbang. Tapi aku tidak pernah segugup ini.

Kepalaku berdenyut melihat mereka beradu mulut untuk memutuskan atraksi apa yang akan kugunakan di atas sana. Beberapa bahkan berusaha menghentikan semuanya. Tapi hatiku memilih untuk terus. Jean Pierre tidak suka perempuan yang takut terbang. Aku beranjak dari dudukku, membuat suara gesekan kursi dan lantai yang meredam gemuruh manusia-manusia di ruangan ini, “Mari kita pergi, ini akan menjadi yang terakhir kali.”

Aku berjalan mendekati balon udaraku yang indah. Gaun putihku yang sederhana melambai-lambai diterpa angin malam. Topi cantik berwarna putih dengan hiasan bulu-bulu burung unta berwarna-warni hampir terbang sehingga harus kukencangkan lagi talinya. Tanganku menggenggam sebuah bendera berwarna putih. Dan malam ini, aku tidak berharap akan melambaikannya sama sekali.

Angin bertiup kencang. Butuh usaha yang keras bagi balon udaraku untuk dapat melawan gravitasi dan naik ke langit. Aku harus melepaskan beberapa pemberat. Sesaat balon udaraku menabrak pepohonan. Aku mendengar bunyi yang cukup keras. Jantungku berhenti sesaat. Aku berharap, ranting pepohonan itu tidak melukai balon udaraku.

Aku memulai aksi kembang api dengan menggunakan Bengal Fire. Dari atas langit, aku bisa mendengar riuh penonton yang mengelu-elukanku dan langit Paris yang indah berwarna-warni. Dadaku mengembang karena bangga, sebelum akhirnya aku merasa ada yang tidak beres. Terdengar suara menggelegar, menyambar, dekat sekali dengan telingaku. Mungkin lebih dekat dari pembuluh darahku. Denyut jantungku merepet tak karuan saat menyadari sisi balon udara yang terbakar. Sejenak aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Satu-satunya hal yang terpikir adalah melambaikan bendera putih untuk meminta pertolongan. Tapi percuma, mereka sedang bersorak sorai di bawah sana. Bahkan aku tidak bisa mendengar suaraku sendiri, teredam riuh kembang api yang belum berhenti.

Tiba-tiba kurasakan balon udara merosot dengan cepat. Aku akan jatuh. Gravitasi yang tadinya ingin kulawan, kini balik melawanku. Segera kujatuhkan lagi beberapa pemberat agar laju balonku tidak menggila. Tapi sepertinya sia-sia. Kepalaku pening, tubuhku diam tak bergeming. Aku mencengkram tepi kursi kayuku dengan erat. Tidak ada lagi yang dapat kugambarkan, selain ketakutan yang muncul dengan membabi buta, seperti dulu ketika Jean Pierre tiada karena serangan jantung. Ketakutan yang luar biasa. Tubuhku bergetar, seakan nyawaku sudah sampai di tenggorokan. Yang kuingat selanjutnya hanyalah tabrakan hebat antara balon udaraku dengan atap rumah Rue de Provence, sebelum akhirnya salah satu tali balon udaraku putus karena terbakar dan menghempaskanku bersama kursi yang kutempati ke jalanan, bersama nafas dan tubuhku yang tercerai berai.

***

Keterangan:

Allons, Ce Sera Pour La Derniere Fois: “Mari kita pergi, ini akan menjadi yang terakhir kali”, kata-kata Sophie Blanchard sebelum memulai aksinya di Taman Tivoli – Paris pada tahun 1819.

Referensi:

  1. Anonymous. 2012. Sophie Blanchard. http://en.wikipedia.org/wiki/Sophie_Blanchard
  2. Anonymous. 2012. Sophie Blanchard, Penerbang Balon Udara Wanita Pertama. http://cutpen.com/2012/11/sophie-blanchard-balon-udara.html
%d bloggers like this: