Archive for the ‘ nonfiksi ’ Category

Code Blue

Code Blue ~ International term for cardiopulmonary rescucitation, epinephrine and heart that didn’t stop praying.

***

Dua puluh empat jam pertama

Pantatku baru saja menyentuh kursi ketika pengeras suara di rumah sakit ini berteriak di segala penjuru.

Code blue, ruang CVCU[1]. Code blue, ruang CVCU….”

Cardiac arrest[2].

Dengan terburu-buru, aku segera menuju CVCU. Seorang perawat sudah berinisiatif melakukan pijat jantung di dada Ny. Dariah, sedangkan seorang lagi memompa bag valve mask pada selang ETT[3] yang terjulur melalui bibirnya yang membiru. Aku melirik monitor. Garis naik turun tidak beraturan seperti hasil gambar balita yang baru bisa memegang pensil. Ventricular tachycardia[4].

“Sudah berapa lama?” tanyaku pada perawat yang sedang memompa ambubag. Kuraba leher Ny. Dariah. Tidak ada denyut di sana.

“Sekitar setengah menit, Dok.”

“Defibrilator[5] siap? 360 Joule!”

Kupegang gagang dua elektroda. “Clear[6]?”

Semua tenaga medis bersiap.

Shock[7]!”

Tubuh Ny. Dariah melonjak karena kejutan listrik yang kutekan melalui paddle elektrode defibrilator di dadanya. Seorang perawat kembali menekan dada Ny. Dariah. Kulirik monitor. Tetap sama. Gambaran anak balita masih meliuk-liuk di layarnya.

“Epinefrin 1 mg!” instruksiku pada seorang perawat. Ia menyuntikkan cairan obat melalui selang infus, mengangkat tangan Ny. Dariah selama beberapa detik, lalu meletakkannya kembali.

Seorang perawat pria berdiri di atas pijakan kaki, lalu melakukan pijatan di atas dada Ny. Dariah. Kutatap nanar perempuan tua tak berdaya di hadapanku. Acute myocardial re-infarction on posterior – inferior – lateral[8]. Reinfarction. Serangan jantung yang berulang.

Aku teringat cerita rekan sejawat, betapa Ny. Dariah adalah pasien dengan semangat juang tinggi. Ia telah mengalami henti jantung setidaknya empat kali, termasuk malam ini. Namun Tuhan masih belum berkenan memanggilnya pulang. Kata orang, sepertinya beliau sedang menunggu. Entah apa. Atau siapa.

Kuambil dua gagang paddle elektrode dan bersiap melakukan kejut jantung untuk yang kedua kali. Dalam hati aku berdoa, semoga Ny. Dariah tidak meninggal malam ini. Setidaknya, tunggulah hingga seluruh keluarganya ikhlas melepaskan. Setidaknya, tunggulah hingga rasa rindunya pada dunia fana terpenuhi. Setidaknya, tunggulah hingga tugas jagaku berakhir.

“360 Joule! Clear? Shock!”

***

Dua puluh empat jam kedua

Code Blue. Sebuah istilah internasional terhadap sebuah kondisi di mana jantung dan/atau paru mulai berhenti berfungsi. Entah mengapa disebut biru. Karena bagiku, biru adalah simbol yang dinamis. Bahkan untuk beberapa lelaki, biru dekat dengan hal-hal yang tidak baik. Film biru, misalnya.

Atau mungkin, biru yang dimaksud adalah arti biru bagi perempuan. Kesedihan. Rasa takut akan kehilangan, yang menggantung pada ujung-ujung jari dan bibir yang membiru ketika darah dan oksigen tak lagi dialirkan karena jantung dan paru berhenti memberi makan.

Ah.

Aku sudah lupa kapan terakhir makan layak dan cukup beristirahat. Kepalaku terasa kosong. Badanku melayang. Bahkan perutku sudah lupa rasanya lapar. Jika seorang dokter berkata pada pasien-pasiennya, “Makan teratur dan cukup tidur,” maka percaya saja agar tidak berubah menjadi zombie berjalan. Seperti aku.

Tiba-tiba aku teringat. Lebaran lalu, seorang kawan lama menghubungiku. Teman-teman SMA akan mengadakan reuni. Tentu saja, aku tidak bisa hadir. Bagi dokter umum, hari libur adalah mimpi buruk. Akan selalu ada perebutan jadwal jaga demi kata libur. Dan meskipun akhirnya bisa libur, biasanya tidak pas pada harinya. Pada akhirnya, liburan dihabiskan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Nonton TV, baca koran, atau tidur seharian.

Mengetahui jadwal jagaku yang seperti kerja rodi, salah seorang teman berkomentar, “Jangan kerja terus. Bersenang-senanglah sedikit.”

“Lalu siapa yang mau menanggung uang sekolah anak sulungku bulan depan?”

Tapi jawaban itu kusimpan dalam hati saja. Di dunia ini, siapa yang bisa percaya bahwa seorang dokter bisa mengalami kesulitan keuangan?

Aku mengurut kakiku yang mulai bengkak. Berdiri, berjalan, berlari di lorong-lorong rumah sakit selama belasan jam membuat kedua kakiku meronta kelelahan. Di saat-saat seperti ini, aku sering membayangkan enaknya bekerja di balik meja. Mengetik atau merancang sesuatu yang berguna. Berargumen tentang naiknya harga saham, atau bagaimana menembus pasar dunia dengan produk-produk baru yang istimewa. Serta menikmati hari libur seperti orang-orang pada umumnya.

Ah, tapi hidup itu sawang sinawang[9], bukan? Ketika aku berpikir demikian, ada banyak orang yang berlomba-lomba meninggikan tawaran uang untuk memasukkan anak-anak mereka ke fakultas kedokteran. Sebuah fakultas yang bagiku dulu adalah tempat untuk mengubah nasib. Rakyat jelata, anak buruh pabrik dengan penghasilan tak seberapa, nekat bersaing dengan ribuan hati yang tertambat pada satu profesi yang dianggap mulia dan menyejahterakan.

Namun bayangan hidup sejahtera itu pudar saat titel dokter sudah resmi kusandang. Ketika rekan-rekan seusiaku sudah mampu mandiri dengan satu rumah dan beberapa kendaraan, aku hanya mampu membayar rumah kontrakan. Satu juta sekian per bulan, tidak ada lagi yang tersisa untuk ditabung atau mencicil rumah sendiri. Apalagi mobil.

Dan untuk menambah nominal itu, aku harus bekerja seperti orang kesurupan. Beralih dari rumah sakit satu ke rumah sakit lainnya. Berjalan di lorong yang dingin dan sepi bagai orang gila. Karena tidak hanya istri dan anak yang kupunya. Tapi ibu dan dua adik yang masih kuliah juga menjadi tanggunganku.

“Permisi, Dok. Ada keluarga Bu Dariah yang mau ketemu dr. Aulia.”

Suara Bu Sum – kepala bagian kebersihan – mengagetkanku. Aku mengangkat kepala yang hampir terjatuh dan tertidur di atas meja ruang jaga. Menggosok-gosok mata dan tersenyum sumringah. “Makasih, Bu Sum. Sebentar lagi saya ke CVCU.”

Kucuci muka sekadarnya. Jam sebelas lewat sepuluh menit. Empat puluh jam sudah aku di rumah sakit ini. Tanpa mampu beristirahat sama sekali.

“Terima kasih sudah menyelamatkan Ibu. Ini sudah keempat kalinya beliau mengalami henti jantung. Rasanya, jantung saya seperti mau lepas setiap perawat  dan dokter masuk terburu-buru ke CVCU,” ujar seorang wanita berjilbab yang kuduga usianya sepantaran denganku.

Aku tersenyum mendengarnya. Wajar saja. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Jantung, paru, otak. Semua terasa ingin melesat keluar tubuh setiap panggilan ‘Code Blue’ dikumandangkan. Jika keluarga pasien merasa berduka karena kondisi buruk keluarganya, maka paramedis mati berkali-kali setiap ada pasien yang kondisinya semakin turun dan sulit disembuhkan.

“Sama-sama. Keluarga banyak berdoa, ya. Karena kami hanya mampu mengusahakan apa yang bisa dikerjakan manusia. Hidup atau mati itu apa kata Tuhan,” ujarku.

Wanita itu tersenyum. Begitu juga aku. Merasa bahagia telah bisa menyelamatkan beberapa hati keluarga Ny. Dariah dari kedukaan. Lega, setidaknya kasus kematian tidak bertambah. Karena jika itu terjadi, aku tidak tahu apa yang akan membayangi. Karena ketakutan atas tuduhan malapraktik semakin gencar sekarang. Menjadi dokter tidak lagi leluasa menerapkan seni pengobatannya.

Namun kebanggaanku atas penyelamatan Ny. Dariah yang heroik tadi tidak bertahan lama. Aku disergap kalut setelah membaca sebuah pesan dari istriku yang baru saja kuterima.

From: Astrid

Mas, badan Arga tiba-tiba dingin. Tidur terus, enggak mau dibangunin. Mimisan juga. Gimana?

Received: 16 November 2013; 23:47 WIB

Senyum yang tadi mengembang sempurna harus kutelan lagi.

For: Astrid

Bawa ke sini sekarang. Naik taksi saja.

Sent: 16 November 2013; 23:56 WIB

Empat puluh jam lebih aku menjagai pasien-pasien di sini, namun aku bahkan tak mampu memeluk kesakitan anakku sendiri.

***

17 November 2013; 00:34 WIB

Dengan setengah berlari, aku bergegas ke unit gawat darurat. Istriku baru saja menelepon, Arga mengalami demam berdarah pre-syok. Jantungku berdentam tak karuan. Mengapa sampai tidak ketahuan? Mengapa Astrid sama sekali tidak lapor padaku? Mengapa?

Segala pertanyaan, kekesalan, amarah dan rasa kecewa karena telah menjadi ayah yang gagal berkecamuk di dadaku. Namun semuanya buyar ketika…

Code blue,  lantai dua, ruang ICU[10]. Code blue,  lantai dua, ruang ICU….”

Sial! Mengapa harus di saat-saat seperti ini?

Aku terdiam selama beberapa saat. Ponselku berdering tanpa henti. Astrid dan Arga membutuhkanku. Dan pasien ICU itu juga menungguku. Aku bisa membayangkan wajah Arga yang pucat. Namun sekelebatan wajah pasien ICU yang membiru itu menari-nari di pelupuk mata.

Dadaku sesak. Menahan keputusan yang sama sekali sulit. Selalu ada yang harus dikorbankan. Selalu ada.

***

17 November 2013; 00:35 WIB

Dengan tergesa-gesa aku menuju ICU. Beberapa detik kemudian, aku telah berada di samping seorang lelaki tua. Seorang pasien 75 tahun dengan gagal napas karena penyakit obstruktif baru kronis yang ranjangnya terletak paling ujung ICU. Mulutnya menganga. Tubuhnya diam saja. Dan biru di bibirnya.

Monitor jantung menunjukkan garis lurus saja. Tidak naik. Tidak turun. Lurus. Seperti hidupku yang hanya tahu jalan antara rumah dan rumah sakit. Tidak pernah belok ke mana-mana.

Asystole[11] sudah berapa lama?” tanyaku.

Kubuang selimut bergaris-garis biru agar tampak jelas dada kakek tua itu. Tidak ada gerakan dada atau tanda-tanda bahwa tubuhnya masih bekerja. Kutempelkan ujung jari ke bagian belakang lehernya. Tidak ada denyutan.

“Semenit, Dok!” jawab salah seorang perawat pria.

Aku naik ke sebuah pijakan dan segera memimpin CPR – cardiopulmonary rescucitation. Perawat itu melepas tube yang menghubungkan ETT pada ventilator, lalu menggantinya dengan bag valve mask.

“Epinefrin 1 mg!”

Obat kehidupan itu disuntikkan.

Satu, dua, tiga, empat, lima, …

Arga juga sekarat. Sama sepertimu, Bapak tua.

enam, tujuh, delapan, sembilan, …

Tapi aku memilih menyelamatkanmu daripada menenangkan anak sulungku.

sebelas, dua belas, tiga belas, empat belas, …

Padahal aku tahu, kamu terbaring dan hampir mati seperti ini karena ulahmu sendiri. Rokok empat bungkus sehari?

enam belas, tujuh belas, delapan belas, sembilan belas, …

Ponselku berdering lagi.

Ya Tuhan, aku telah bersalah karena menelantarkan istri dan anakku. Jika memang keluarga lebih penting daripada uang, lalu bagaimana caraku mengisi pundi-pundi tabungan untuk istri, anak-anak, ibu, dan juga adik-adikku tanpa dibatasi tenaga dan waktu?

dua puluh satu, dua puluh dua, dua puluh tiga, dua puluh empat, …

Keparat. Cepatlah. Cepat kembali atau tidak sama sekali. Aku harus segera pergi dari sini!

dua puluh enam, dua puluh tujuh, dua puluh delapan, dua puluh sembilan, …

tiga puluh.

Tiga puluh tekanan pada dada. Entah sudah siklus keberapa. Lima belas menit berlalu sejak kulakukan CPR pertama. Atropin dan epinefrin telah diberikan secara bergantian. Kutempelkan lagi jariku di atas arteri karotis. Tidak ada denyutan. Garis lurus di monitor juga tetap tidak mau berubah.

Aku dan perawat ICU berpandangan. Aku tahu, kami semua merasakan hal yang sama. Sebuah perasaan campur aduk yang tidak bisa dideskripsikan. Antara lelah, marah, sedih, dan kecewa atas kegagalan.

“Panggil keluarganya,” seruku lirih. Memandangi seorang perawat melepas selang dan alat ventilator dari tubuh kakek tua. Lalu menutup wajahnya dengan selimut bergaris-garis biru yang tadi sempat kubuang.

Ah, Pak Tua. Maafkan aku yang tidak mampu mengembalikan napas dan denyut jantungmu. Sepertinya ini memang sudah waktumu untuk pulang. Dan aku harus segera menemani anakku yang malang.

“Tn. Sartono, 75 tahun. Meninggal tanggal 16 November 2013 jam 00:51 WIB.”

Ponselku bergetar pelan. Ada sebuah pesan.

From: Astrid

Mas, Arga sudah dalam kondisi syok. Harus masuk PICU[12].

Received: 17 November 2013; 00:52 WIB

Tubuhku lunglai. Ada beban berat yang rasanya tak mampu kutanggung. Dengan langkah terseret, aku berusaha keluar dari ICU. Karena aku tidak mau orang-orang tahu kedukaanku.

Tuhan, tolong ambil sakit Arga, dan pindahkan saja semuanya padaku.

Kutelurusi daftar nama di ponsel. Meminta bantuan teman sejawat untuk menggantikanku jaga. Setidaknya sampai Arga sembuh total.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Seharusnya sudah seminggu yang lalu. Namun sampai saat ini aku belum mengirim uang untuk Ibu dan adik-adikku. Dan kekesalanku bertambah pilu. Saat mendapati tiket seminar yang setara dengan gaji sebulan di sela-sela dompetku.

Tidak kerja berarti tidak dapat penghasilan.

Almarhum Bapak selalu bilang. Jadilah dokter yang bermartabat. Penuh pengabdian dan rasa ikhlas.

Aku selalu demikian, Pak. Kuabdikan ilmuku demi pasien-pasien ini. Namun sekarang aku menyadari sesuatu. Idealisme tidak mampu menghidupiku, anak dan istriku, Ibu dan adik-adik yang kau tinggalkan untukku.

***

Code blue. Code blue. Code blue.

Kali ini bukan pengeras suara rumah sakit yang bertalu-talu. Itu mata hatiku, sekarat dan membiru. Digantikan oleh mata yang melebar di telapak tangan ketika ia mulai menggoreskan tanda tangan di atas kontrak yang disodorkan pabrik obat dua bulan yang lalu.

***

Malang, 21 November 2013

Catatan Kaki:

[1] Cardiovascular Care Unit: Unit khusus bagi penderita penyakit jantung dan pembuluh darah.

[2] Henti jantung.

[3] Endotrachel tube: tabung yang digunakan untuk membuka jalan napas dari mulut hingga trakea.

[4] Jantung memompa secara abnormal karena titik sinaps listrik jantung yang berubah.

[5] Stimulator detak jantung yang menggunakan listrik dengan tegangan tinggi untuk memulihkan serangan jantung.

[6] Instruksi agar semua orang di sekitar pasien tidak menyentuh pasien atau alat-alat yang terhubung dengan tubuh pasien, termasuk ranjang pasien.

[7] Peringatan bahwa listrik sedang dikejutkan.

[8] Infark miokard akut (serangan jantung karena sumbatan pada pembuluh darah) pada pembuluh darah bagian belakang, bawah dan samping

[9] Pepatah Jawa, artinya hidup itu tergantung dari cara dan sudut pandangnya..

[10] Intensive Care Unit

[11] Garis datar pada elektrokardiograf.

[12] Pediatric Intensive Care Unit: ruang perawatan khusus untuk anak-anak dengan kondisi kritis.

 

PS: Pernah dimuat di #RainbowProject berjudul Blue(s)

Advertisements

13 Juli 2018

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Yang terhormat,

Ibu Dekan beserta para Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ibu Direktur Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang atau yang mewakili

Bapak Direktur Rumah Sakit Jejaring atau yang mewakilli

Bapak Ketua dan Sekretaris TKP PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Kepala Laboratorium di lingkungan FKUB

Guru-guru yang kami hormati

Segenap civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ayah, Ibu serta keluarga yang kami cintai, serta rekan-rekan sejawat dokter spesialis baru yang saya banggakan

Perkenankanlah saya, sebagai perwakilan para dokter spesialis baru, mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puja dan puji pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai rasa syukur kita atas seluruh berkah dan anugerah yang dilimpahkanNya sehingga hari ini kita dapat mengikuti acara Pelantikan Dokter Spesialis Baru Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Bapak, Ibu, para guru dan kolega yang berbahagia,

hari ini merupakan bagian tak terlupakan dalam perjuangan kami. Hari ini adalah akhir yang menjadi awal dari perjalanan yang lain. Apa yang kita lakukan hingga mencapai hari ini adalah bekal untuk menghadapi perjuangan yang lebih menantang. Menjadi residen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami semua. Kami mendapatkan bekal yang lebih dari sekadar pengetahuan. Kami membiasakan diri mengatasi keraguan dan ketakutan, belajar berkolaborasi, serta bekerja di bawah tekanan; sehingga kami belajar untuk cermat kapan harus bertindak, bertahan atau merelakan. Semoga kami menjadi dokter spesialis yang cakap dalam mengeksplorasi pasien sebagai manusia, bukan objek semata.

Saat ini, masing-masing dari kita mungkin sedang mengenang masa lelahnya bertugas jaga belasan kali dalam sebulan, rasa sedih karena tidak mampu menemani keluarga yang sedang sakit, marah atau kecewa ketika ego yang satu bergesekan dengan ego yang lain. Pendidikan spesialis telah meminta persembahan yang tidak sedikit. Kita telah mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, materi, atau keluarga. Semoga tidak ada dari kita yang secara suka rela mengorbankan kejujuran, loyalitas, kemanusiaan dan hati nuraninya selama menempuh pendidikan ini. Satu persatu pengorbanan telah dijatuhkan. Tanggung jawab berat telah menunggu seiring gelar yang lebih panjang. Maka mari kita menjadi dokter spesialis yang sebaik-baiknya, bagi kebaikan pasien serta martabat dokter Indonesia.

Alhamdulillah. Rasa syukur tertinggi kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. TakdirNya telah memungkinkan kita semua berada di ruangan ini. BerkahNya tidak hanya berupa kemampuan materiil, tetapi juga kesempatan, kesabaran, kesehatan, kelapangan hati serta keikhlasan menjalani pendidikan spesialis yang tidak mudah, baik bagi para residen maupun bagi keluarga. Semoga kita menjadi hamba yang selalu bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Terima kasih kami haturkan kepada guru-guru kami, yang telah beramal jariyah melalui ilmu-ilmunya, baik dalam hal akademik maupun kehidupan, bagi kami dokter-dokter yang masih dipenuhi ego tinggi, namun belum bijaksana dalam bertindak. Maka dengan kerendahan hati, kami memohon maaf atas segala kelalaian kami, baik dalam hal kurangnya ilmu, sikap tak pantas, ucapan serta perilaku yang menyinggung dan menyakitkan. Meski sudah menamatkan pendidikan ini, kami tetaplah murid yang masih memerlukan banyak bimbingan dan arahan guru-guru sekalian. Demi pena dan apa yang telah Para Guru goreskan pada pendidikan kami, ilmu-ilmu dari engkau akan selalu menjadi rumah bagi siapapun dari kami yang ingin pulang.

Terima kasih juga kami persembahkan pada keluarga; ayah, ibu, istri/suami, anak, saudara, yang telah melakukan perjuangan besar sebagai keluarga residen; telah tabah menghadapi wajah kusut serta emosi yang labil, begitu sabar menjadi stuntman/stuntwoman dalam menggantikan peran yang hilang selama pendidikan spesialis dan berjiwa besar telah menghibahkan anak/suami/istri mereka bagi pelayanan, pendidikan dan pengabdian sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis. Rayakanlah hari ini. Bapak dan Ibu dapat menagih pijatan di pundak dan betis yang mulai kaku. Suami/istri dipersilakan menggugat lagi kecupan hangat di pagi hari. Putra/putri dapat menuntut kembali rutinitas dongeng sebelum tidur.

Selamat dan terima kasih saya ucapkan pada kolega dokter-dokter spesialis baru, atas interaksi yang istimewa di RS Saiful Anwar Malang. Kita telah bekerja sama, beradu argumen, berselisih, namun tetap berangkulan satu sama lain. Masa sekolah residen telah menunjukkan keluarga baru, saudara seperjuangan yang saling berbagi kisah, keringat serta air mata. Mari lanjutkan harmonisasi itu dengan saling membantu dan menghargai di tempat kerja kelak, demi kepentingan pasien, nama baik almamater serta persatuan dokter di Indonesia.

Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity (Hippocrates). Cintailah ilmu kedokteran sebagai ibu yang telah mengasuh dan menyusui kita dengan ilmu dan filsafatnya. Selamat bertugas, berbakti dan mengabdi.

Curiosity killed the cat. But a doctor without curiosity could kill. Tetaplah rendah hati, bekerja dengan hati dan berhati-hati. Karena sesungguhnya, dokter hanya mengetahui sedikit dari alam semesta. Tanpa kebijaksanaan, ia mungkin memberikan pengobatan yang diketahui sedikit saja, untuk memulihkan penyakit yang dipahami sekadarnya, pada manusia/pasien yang hidupnya tidak diketahui apa-apa (Voltaire).

Dan dalam masa-masa sulit yang mungkin akan kita hadapi di kemudian hari, ingatlah pasien-pasien yang pernah kita rawat terdahulu, yang sembuh dan yang kurang beruntung. Tubuh dan pikiran kita hari ini adalah buah dari apa yang kita letakkan pada nasib mereka. Berterimakasihlah pada pasien-pasien sebagai guru kita, dengan selalu menjadi dokter yang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian sambutan dari saya. Mohon dimaafkan atas kata-kata yang kurang berkenan.

Nuun wal qolaami wamaa yasthuruun

Wassalamualaikum Wr Wb

Malang, 13 Juli 2018

Wakil Dokter Spesialis Baru

dr. Nina Nur Arifah, SpPD

***

IMG-20180713-WA0138

Mengingat masa sekolah dasar dan menengah yang standar, dilanjutkan dengan pendidikan dokter umum yang cukup jatuh bangun, saya pernah melewati masa-masa bekerja yang dihantui ketidakjelasan arah dan tujuan. Ada ketakutan pada diri sendiri karena merasa tidak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat, selalu menyusahkan, tidak membanggakan. Saya orang yang lambat, penakut dan cuek. Apalagi hal-hal itu diutarakan oleh orang-orang terdekat yang secara eksplisit. Baper, jelas! Hingga akhirnya saya mengasingkan diri dengan PTT di Alor, NTT (di samping tujuan lainnya adalah menantang diri sendiri dan demi meningkatkan ‘nilai jual’ dengan selembar surat Selesai Masa Bakti; karena jujur saja, saya tidak bisa apa-apa dan bukan ‘siapa-siapa’).

Mungkin memang sudah jalannya. Mungkin memang begini ‘skenario’Nya. Gagal di percobaan pertama seleksi masuk Pendidikan Dokter Spesialis. Pergi PTT. Mendapatkan berbagai pengalaman (jalan-jalan, menggeluti hobi menulis, fotografi) dan perenungan terhadap diri sendiri. Memantapkan diri mencoba peruntungan di Program Studi Ilmu Penyakit Dalam (yang sebenarnya diminati sejak lama, tapi selalu tidak percaya diri karena saya biasa-biasa saja). Mungkin sudah takdir dari Tuhan, saya diberi kesempatan berharga menimba ilmu di PS Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Brawijaya; meski di tahun pertama pendidikan, musibah itu datang. Bapak terkena gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal.

Sekali lagi. Perasaan gagal itu ada. Saya dokter, tapi gagal mencegah gagal ginjal pada orang tua sendiri. Menyalahkan diri sendiri? Tidak perlu ditanya. Bukan sekadar menyesali. Saya mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menunggui Bapak dengan maksimal. Bahkan sehari menjelang kepergian Bapak, saya harus jaga di UGD selama 24 jam. Dengan kondisi kelelahan lahir dan batin, kepulangan saya di tanggal 27 Desember 2015 meninggalkan sedu sedan di bis patas, dan menemui Bapak yang tampaknya sudah mulai dijemput naza’. Ada sebagian diri yang membela, bahwa saya bekerja untuk orang lain pun merupakan ibadah. Bahkan sebagian diri saya menyalahkan sejawat yang menangani Bapak saya saat itu gagal mengenali kondisi sepsis, gagal membedakan pneumonia dan kongesti paru, antibiotik terlambat diberikan, sepsis telanjur datang. Tapi sebagian diri yang lain lebih agresif, memojokkan saya dan berkata, “Mestinya kamu menemani Bapak dan merawat dengan baik, bukan malah menyerahkan tugas itu pada dokter yang lain. Durhaka.”

Tanggung jawab menjadi dokter itu berat. Seberat mengakui bahwa kita tidak pandai, kita kurang teliti, kita kurang berusaha, kita mengabaikan petunjuk-petunjuk yang sebenarnya nyata, kita kurang memberikan hati saat menjalankan profesi ini. Kekecewaan dan kesedihan saya terhadap kondisi Bapak cukup membuat trauma. Saya sempat marah pada dokter jaga UGD saat itu. Tapi ternyata kemarahan justru membakar saya sendiri. Toksik. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarahan yang menyala-nyala. Akan lebih mudah dan mengurangi energi, jika saya memulai dengan diri sendiri. Menilik dan mengintrospeksi, apakah saya pernah memeriksa atau memvisite pasien sekadar saja, tanpa ‘rasa penasaran’. Karena dokter tanpa rasa ingin tahu itu sesungguhnya bisa membunuh.

Alhamdulillah, rangkaian pendidikan yang cukup melelahkan dan penuh drama sudah selesai. Tidak mudah, tapi ternyata saya mampu. Bapak (selain Ibu) adalah orang yang selalu menguatkan dan memberikan saya anak tangga untuk percaya diri. Bapak percaya, bahwa bungsunya yang biasa-biasa saja ini bisa mengembangkan diri (jika dipaksa, tentunya). Tidak perlu menjadi yang terhebat, cukup menjadi yang lebih baik. Bapak, Gemini yang cukup melankolis, pernah menangis bahagia saat saya disumpah menjadi dokter umum. Kali ini, Bapak tidak bisa mendampingi. Saya tak sempat melihat tangis bahagianya jatuh sekali lagi. Saya tak sempat menanyakan, “Did I do good? Did I do well? Did I…?

Mungkin pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh saya sendiri, mau melaksanakan profesi ini dengan seperti apa. Jika belum sampai lelah, terkapar atau menangis, maka mungkin saya belum mengerjakan apa-apa. Bapak mungkin korban keegoisan anak bungsunya. Semoga saya tidak lagi menjadi alasan orang lain merasa ‘dikorbankan’.

Bismillah. Perjalanan selanjutnya akan dimulai dengan judul Wajib Kerja Dokter Spesialis. Setting tempat belum ditetapkan. Semoga berkah di mana pun ditempatkan. Aamiin.

***

Malang, 14 Juli 2018

Ibuku Cantik

Ibuku cantik jelita dan sering tertawa.
Ia senang berdendang riang, dan lagu-lagu keroncong atau Koes Ploes yang sering ia gumamkan.
Akhir-akhir ini, Ibu sering menanyakan cara bernyanyi sesuai irama
Tuk tuk tuk… kami bernyanyi sambil membuat ketukan bersama.
Lalu tawa pecah, Ibu lupa liriknya.
Kemudian Ibu memintaku menuliskan lirik lagu Widuri dari Broery Marantika.
“Untuk dinyanyikan di acara Prolanis,” begitu katanya.
Perlahan kugoreskan pena di atas kertas
berhati-hati sekali karena untuk menulis dengan bagus, jujur saja… aku sudah lupa caranya.
Ah, Broery… penyanyi favorit almarhum Bapak.

Ibuku dulu jarang bercerita atau menggoda.
Namun kini berbeda.
Ia gemar mengisahkan hari-harinya yang luar biasa.
Kemarin, Ibu menghadiri reuni alumni SMA almarhum bapak.
Ibuku bernyanyi, lagu zaman lawas tentu saja.
Dengan suara renyah, Ibu berkata, “Dulu Ibu sering duet dengan Bapakmu, karena dipaksa tentunya. Sekarang malah Ibu ikut keranjingan.”

Ibuku sangat kusayangi.
Jika kupunya sayap, aku tak akan lupa membawanya terbang tinggi ke angkasa.
Mungkin ada kalanya kami bersilang pendapat.
Tapi pelukan Ibuku tetap menjadikannya Ratu tercantik jelita sedunia.

(Sebagian kalimat diambil dari lirik lagu Ibuku Cantik – Maisha Kanna; Ost. Kulari Ke Pantai)

Prolog

“Berlarilah. Lupakan luka di masa lalu.

  Berlarilah. Rasakan adrenalin yang menginfiltrasi seluruh sel di tubuhmu.

  Berlarilah. Karena ada jutaan mimpi yang menunggu untuk kau cumbu.”

***

2 Maret 2012

Satu jam lima puluh menit.

Rasanya ini akan menjadi perjalanan paling lama yang pernah kulakukan. Lebih lama dari Malang menuju Jogja yang memakan waktu tempuh enam jam dengan kereta. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kenangan bersama mantan pacar yang sudah kucintai selama lima tahun dan dengan gagahnya meminta hubungan kami berakhir karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain.

Seorang perempuan paruh baya di sampingku telah nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halusnya menjadi musik pengiring bagi pikiranku yang melayang-layang, menembus awan putih yang mengapung di luar sana. Aku terhipnotis dengan putihnya yang menenangkan. Mungkin terdengar picisan. Tapi tidak ada manusia yang tidak tergoda untuk mencoba menjejakkan kaki di atas awan. Mungkin saja awan memang bisa dijadikan alas tidur yang nyaman. Jauh dari hiruk pikuk di bawahnya. Tapi kemudian awan-awan itu mengejutkanku. Mengembalikanku pada kenyataan ketika ia membuat guncangan pada badan pesawat.

Jutaan pertanyaan itu datang lagi. Mereka meminta penjelasan untuk hal-hal yang terjadi sebelum aku pergi. Tentang secarik kertas yang kini terselip di sebuah buku harian. Secarik kertas yang membuatku memutuskan untuk melarikan diri. Secarik kertas yang membuatku kehilangan semangat dan harapan. Secarik kertas yang menciptakan jarak antara aku dan Bapak. Secarik kertas yang turut andil membuatku memutuskan untuk pergi.

“Roti, Mbak?”

Tiba-tiba ada sebuah kantong kertas berisi roti di depanku. Aku terkejut dan menoleh. Rupanya ibu yang menjadi teman perjalananku itu sudah bangun.

“Ini makan aja. Daripada ngelamun,” bisiknya sambil tersenyum. Ia kembali menyodorkan kantong roti yang wanginya memang tidak bisa kutolak.

“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tak lupa kububuhkan senyum untuk mengiringinya. Dua gerakan sederhana ini memang menjadi gerakan universal untuk menunjukkan rasa penghormatan dan terima kasih kita pada seseorang. Dua gerakan yang menyimbolkan bahwa kita memang tidak diijinkan untuk mendongakkan kepala melebihi orang lain.

“Ke Kupang juga, Mbak?” tanya ibu itu padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Iya, Bu.”

Itu adalah pertanyaan umum yang sedikit aneh. Oke. Tidak sedikit. Tapi memang aneh. Retoris. Pesawat bukan bis atau kereta yang bisa berhenti di lokasi yang berbeda, bukan? Sejenak mataku mengamati roti yang tengah kunikmati. Ah, Alika. Berani-beraninya kamu membatin hal yang tidak menyenangkan pada seseorang yang telah mau membagi sebungkus roti yang lezat padamu?

“Kalo Ibu, menuju Kupang atau pulang ke Kupang?” tanyaku.

“Pulang ke Kupang. Kemarin ada pelatihan komputerisasi untuk persiapan akreditasi rumah sakit. Lumayan sekalian jalan-jalan juga, Mbak.”

“Oooh…”

Dan kata ‘Oooh’ adalah salah satu tanda percakapan telah berakhir. Aku memang tidak pandai menjaga suasana hangat. Hari ini, contohnya.

Aku memutuskan untuk menikmati lagi pemandangan dari jendela pesawat. Awan-awan itu telah pergi. Sepertinya semesta tahu bahwa aku membutuhkan penyegaran. Hamparan hijau seperti beledu yang halus terbentang begitu indah di bawah sana. Bukit atau lembah, tidak ada bedanya. Sepertinya kakiku akan dimanjakan dengan sempurna. Tidak ada gedung-gedung atau atap rumah yang mendominasi. Hanya pepohonan, hutan, stepa, sabana, atau entah apa lagi namanya. Provinsi ini memang sangat indah.

Dalam beberapa saat lagi, kita akan mendarat di bandara El Tari, Kupang. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Surabaya. Kami harap, anda tetap mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat ini mendarat dengan sempurna. Terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.”

Aku memutar kenop jam tangan dan mulai menyesuaikan waktu. Satu jam lebih cepat dari Indonesia bagian Barat. Setidaknya aku berharap, perasaan kacau yang kubawa ke tanah yang baru ini juga akan lebih cepat berlalu.

“Kalo ada waktu, main-main dulu ke rumah saya, Mbak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada ibu yang ramah ini, “Jika ada waktu, Bu. Perjalanan saya harus berlanjut lagi.”

“Loh, kemana?”

“Ke Alor.”

Kepalaku berputar. Kini mataku memandang hamparan hijau yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan kering dan gersang di kota Kupang.

***

Kalabahi, 24 Februari 2013

 

PS:

  • Draft novel ini udah lama mangkrak. Bab 1-nya ada di hard disk, tapi hard disknya semacam rusak ehehehehe #getir

Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Iqra’

Iqra’

Membaca.

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, kepada siapa dan di mana.

***

Wlingi, 18 November 2016

(Belum ada judul)

Sekitar pertengahan tahun 2014, saya dipertemukan dengan sepasang suami istri yang kebetulan opname di ruangan tempat saya bertugas. Sang suami, Tn. NK, terdiagnosis menderita gagal ginjal kronis di usia yang cukup muda, sekitar 35 tahun. 

Ketika mendengar bahwa Tn. NK terdiagnosis gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal, keduanya sempat sedih dan tertekan. Mereka baru tiga tahun menikah, dan belum punya anak. Seperti pasien GGK pada umumnya, mereka takut menghadapi pilihan-pilihan terapi yang ditawarkan, entah itu hemodialisis, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), atau cangkok ginjal. 

Saya paham kekhawatiran dan ketakutan yang mereka hadapi. Tapi sebagai salah satu dokter yang merawat, saya berusaha membangkitkan keberanian Tn. NK dan istrinya. Saya juga menceritakan pengalaman Bapak saya menggunakan CAPD, serta menyelipkan kalimat yang pernah Bapak ucapkan ketika pertama kali didiagnosis menderita GGK sekitar lima bulan sebelumnya, bahwa selama Tuhan masih menitipkan hidup, maka manusia wajib menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya.

Akhirnya setelah berbagai edukasi, Tn. NK dan istri memilih CAPD sebagai terapi pengganti ginjal. Mereka memelajari teknik CAPD dengan cukup cepat. Dan kami tidak bertemu kembali sejak akhir tahun 2014.

Februari 2016. Kala itu saya bertugas di divisi nefrologi. Secara kebetulan saya bertemu kembali dengan Tn. NK dan istri yang kontrol ke poli CAPD. Sang istri menanyakan, “Kabar bapaknya gimana, dr. Nina?” Getir saya menjawab, “Alhamdulillah, Bapak saya sudah ga sakit sejak 2 bulan yang lalu. Beliau sudah duluan, Bu.”

Mereka berdua tampak kaget. Selama beberapa detik, poli CAPD menjadi lebih hening dirundung kesedihan dan saya dapat membaui ketakutan mereka. Karena ternyata ada masalah dengan CAPD Tn. NK, yaitu sering terasa nyeri, dan ia tidak bisa buang air besar dengan lancar.

Betapa Tuhan menciptakan tubuh manusia untuk selalu dinikmati. Mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa buang air besar adalah anugerah yang besar bagi manusia. Tidak bisa BAB bagi pasien-pasien GGK dengan CAPD merupakan aba-aba bahwa sesaat lagi infeksi akan datang. 

Tn. NK mengalami CAPD yang terinfeksi sehingga muncul peritonitis. Dan kondisi ini merupakan kedua kalinya. Akhirnya diputuskan bahwa CAPD dihentikan dan Tn. NK beralih ke hemodialisis konvensional. 

Sekitar satu setengah tahun berlalu. Saya sudah menyelesaikan rotasi stase dan sedang menunggu ujian nasional. Begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan, karena belajar memang tidak pernah menjadi kebiasaan bagi saya (ehehehe…). Saya dan beberapa rekan sedang berjalan di koridor RSSA, kemudian tidak sengaja bertemu dengan istri Tn. NK yang terlihat membantu ibu-ibu lain mengurusi administrasi pasien-pasien hemodialisis.

“Bu NK, apa kabar? Bapak apa kabar? Lagi HD, ya?” sapa saya.

“Alhamdulillah, Dok. Suami saya sudah ga sakit lagi. Sudah dipanggil sekitar lima bulan yang lalu,” jawabnya.

Dengan susah payah saya menahan tangis ketika memeluknya. Pelukan yang bermakna saling menguatkan dari perempuan yang sama-sama telah kehilangan lelaki istimewa karena GGK. Kami sudah berusaha yang terbaik, begitu juga Bapak dan Tn. NK. Mereka telah lulus. 

InsyaAllah, Bapak saya dan Tn. NK sudah benar-benar sembuh sekarang.

PS: Gambar adalah boks-boks cairan dialisat pasien GGK dengan CAPD yang akan digunakan dalam sebulan.

Advertisements
%d bloggers like this: