Archive for the ‘ nonfiksi ’ Category

(Belum ada judul)

Sekitar pertengahan tahun 2014, saya dipertemukan dengan sepasang suami istri yang kebetulan opname di ruangan tempat saya bertugas. Sang suami, Tn. NK, terdiagnosis menderita gagal ginjal kronis di usia yang cukup muda, sekitar 35 tahun. 

Ketika mendengar bahwa Tn. NK terdiagnosis gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal, keduanya sempat sedih dan tertekan. Mereka baru tiga tahun menikah, dan belum punya anak. Seperti pasien GGK pada umumnya, mereka takut menghadapi pilihan-pilihan terapi yang ditawarkan, entah itu hemodialisis, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), atau cangkok ginjal. 

Saya paham kekhawatiran dan ketakutan yang mereka hadapi. Tapi sebagai salah satu dokter yang merawat, saya berusaha membangkitkan keberanian Tn. NK dan istrinya. Saya juga menceritakan pengalaman Bapak saya menggunakan CAPD, serta menyelipkan kalimat yang pernah Bapak ucapkan ketika pertama kali didiagnosis menderita GGK sekitar lima bulan sebelumnya, bahwa selama Tuhan masih menitipkan hidup, maka manusia wajib menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya.

Akhirnya setelah berbagai edukasi, Tn. NK dan istri memilih CAPD sebagai terapi pengganti ginjal. Mereka memelajari teknik CAPD dengan cukup cepat. Dan kami tidak bertemu kembali sejak akhir tahun 2014.

Februari 2016. Kala itu saya bertugas di divisi nefrologi. Secara kebetulan saya bertemu kembali dengan Tn. NK dan istri yang kontrol ke poli CAPD. Sang istri menanyakan, “Kabar bapaknya gimana, dr. Nina?” Getir saya menjawab, “Alhamdulillah, Bapak saya sudah ga sakit sejak 2 bulan yang lalu. Beliau sudah duluan, Bu.”

Mereka berdua tampak kaget. Selama beberapa detik, poli CAPD menjadi lebih hening dirundung kesedihan dan saya dapat membaui ketakutan mereka. Karena ternyata ada masalah dengan CAPD Tn. NK, yaitu sering terasa nyeri, dan ia tidak bisa buang air besar dengan lancar.

Betapa Tuhan menciptakan tubuh manusia untuk selalu dinikmati. Mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa buang air besar adalah anugerah yang besar bagi manusia. Tidak bisa BAB bagi pasien-pasien GGK dengan CAPD merupakan aba-aba bahwa sesaat lagi infeksi akan datang. 

Tn. NK mengalami CAPD yang terinfeksi sehingga muncul peritonitis. Dan kondisi ini merupakan kedua kalinya. Akhirnya diputuskan bahwa CAPD dihentikan dan Tn. NK beralih ke hemodialisis konvensional. 

Sekitar satu setengah tahun berlalu. Saya sudah menyelesaikan rotasi stase dan sedang menunggu ujian nasional. Begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan, karena belajar memang tidak pernah menjadi kebiasaan bagi saya (ehehehe…). Saya dan beberapa rekan sedang berjalan di koridor RSSA, kemudian tidak sengaja bertemu dengan istri Tn. NK yang terlihat membantu ibu-ibu lain mengurusi administrasi pasien-pasien hemodialisis.

“Bu NK, apa kabar? Bapak apa kabar? Lagi HD, ya?” sapa saya.

“Alhamdulillah, Dok. Suami saya sudah ga sakit lagi. Sudah dipanggil sekitar lima bulan yang lalu,” jawabnya.

Dengan susah payah saya menahan tangis ketika memeluknya. Pelukan yang bermakna saling menguatkan dari perempuan yang sama-sama telah kehilangan lelaki istimewa karena GGK. Kami sudah berusaha yang terbaik, begitu juga Bapak dan Tn. NK. Mereka telah lulus. 

InsyaAllah, Bapak saya dan Tn. NK sudah benar-benar sembuh sekarang.

PS: Gambar adalah boks-boks cairan dialisat pasien GGK dengan CAPD yang akan digunakan dalam sebulan.

Advertisements

Cinta Yang Tak Pernah Menua

wpid-IMG_1913.JPG

Di usiaku yang sekarang, aku berusaha mensyukuri apa yang sudah aku lalui. Sebagai perempuan yang sudah melampaui setengah abad, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta, anak-anak yang berhasil, serta cucu-cucu mungil yang memanggilku dengan sebutan, “Uti…” dengan suara yang menggemaskan. Mereka adalah anugerah Tuhan dari seorang lelaki yang kupilih menjadi pendampingku selama tiga puluh tahun.

Suamiku. Dulunya adalah don juan dengan tubuh tegap, kulit gelap dan rambut gondrong, pemuda yang ramah, penebar senyum dan pesona pada gadis-gadis di sekitarnya. Bahkan saat pertama kali kami bertemu dulu, dia sedang berkencan dengan seorang gadis sales. Ketika kami mengenang romantisme masa lalu, dia tidak pernah gagal membuat pipiku bersemu merah jambu, “Bertemu denganmu membuatku lupa menjemput pacarku saat itu.” Dia mengaku, memutuskan cinta gadis itu seminggu setelah bertemu denganku, karena sang gadis terlalu cemburu.

Suatu saat dia datang ke kosku, bertanya tentang rumah kos khusus laki-laki. “Kenapa dengan kosmu yang sekarang?” tanyaku. Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa. Hanya ingin suasana baru.” Dan pada akhirnya, dia pindah ke kos yang letaknya tidak jauh dari kosku. Kami pun semakin sering bertemu. Dia biasa menjemputku dengan sepeda kayuhnya yang berwarna hitam kusam, lalu kami berkencan layaknya Galih dan Ratna. Setahun setelah perkenalan pertama kami, akhirnya dia melamarku. Sesaat setelah kami menikah dan tinggal di rumah kontrakan yang sederhana, aku mendengar kabar bahwa alasan dia pindah kos adalah karena ibu kosnya ingin mengambilnya sebagai menantu. Ada was-was dalam hatiku, kekhawatiran hati perempuan yang posesif saat menikah dengan laki-laki yang digemari perempuan. Tetapi terselip bangga bahwa laki-laki ini telah memilihku sebagai pendamping hidupnya.

***

Kami membangun keluarga dari anak tangga terbawah. Baik dalam hal materi maupun emosi. Saat itu dia adalah mandor di sebuah pabrik kertas, dan aku adalah penjahit yang belum banyak pelanggannya. Usia kami yang masih belia kadang membuat riak-riak kecil menjadi besar. Dia tidak pernah rapi saat mengambil baju dari tumpukan terbawah, handuk dilemparnya begitu saja seusai mandi, dan sering sekali lupa menaruh barang-barang penting. Pernah aku sangat kesal di pagi hari karena dia panik tidak bisa menemukan kunci motor. Sampai akhirnya suamiku pergi ke kantor dengan menggunakan angkot karena kunci itu tetap raib entah ke mana. Di siang harinya, aku ingin tertawa ketika menemukan kunci motor itu. Entah bagaimana kunci itu bisa teronggok di dalam kulkas. Tapi memulai rumah tangga berdua dan jauh dari orang tua membuat kami saling mengandalkan dan menjaga satu sama lain.

Setahun setelah pernikahan kami, Tuhan menganugerahi seorang anak perempuan yang manis. Sejujurnya aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak kami dengan cukup. Aku dan suamiku hanyalah lulusan SMA. Tapi kami ingin anak-anak kami kelak bisa lebih tinggi dari kami. Dan rupanya Tuhan telah membukakan pintu rezekinya. Suamiku naik pangkat dengan pesat. Bahkan dia dipromosikan untuk studi di  luar negeri dan menjelajahi negeri-negeri lain untuk belajar mengenai pembuatan kertas yang berkualitas.

Aku melepas kepergian suamiku dengan berat. Hidup berdua dengan anak yang masih balita adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi suamiku berkata, “Kamu adalah perempuan yang kuat. Jangan banyak menangis. Karena aku ingin anakku bisa melihat dan belajar bagaimana kuatnya perempuan saat dia sudah menjadi seorang istri dan ibu.”

Selama dua tahun, kami hanya berkomunikasi lewat surat dan kartu pos. Aku selalu menyimpan surat-suratnya. Pada masa aku rindu, aku membaca lagi tulisan-tulisannya yang selalu membuatku ingin tersenyum. Suamiku adalah laki-laki humoris yang tidak pernah kehilangan alasan untuk tertawa. Ada rasa sedih dan kehilangan, melihat pasangan lain bisa jalan-jalan bersama anak-anak mereka. Aku merindukan senyum dan tawanya yang lepas tanpa beban. Tapi aku harus menjadi Hajjar yang tegar bersama Ismail saat ditinggal Ibrahim di padang tandus. Aku harus bersyukur, tidak harus berlari antara Shafa dan Marwa untuk mencari setetes air. Karena kiriman dari suamiku tidak pernah terlambat dan pesanan jahitanku sudah mulai berdatangan.

***

Setelah suamiku kembali ke tanah air, kehidupan ekonomi kami menjadi jauh lebih baik. Kami bisa membeli sebuah rumah sederhana, rumah yang sampai saat ini kami tinggali. Suamiku diangkat menjadi kepala bagian. Aku sudah bisa membeli mesin jahit yang baru dan memperkerjakan satu asisten. Setelah anak pertama kami berusia tujuh tahun, maka lahirlah putri kami yang kedua. Kebahagiaan kami terasa lengkap.

Suatu hari, aku didatangi seorang perempuan yang sedang hamil. Dia berkata, bahwa itu adalah anak suamiku. Rasanya hatiku bagai tercabik-cabik. Selama ini, aku tahu bahwa suamiku selalu menolak jika harus pergi berdua dengan teman perempuannya. Kalaupun terpaksa, biasanya dia akan meminta izin dulu padaku. Bukan. Bukan aku yang memaksanya untuk berbuat demikian. Tapi suamiku adalah laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Baginya, menjaga harga diri dan orang lain dari fitnah itu tanggung jawab setiap orang.

Tapi sekarang… Bagaimana bisa kecolongan dengan hal ini? Aku langsung menelpon kantor dan meminta dia untuk segera pulang. Dia kaget dan panik, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sesampainya dia di rumah dan bertemu dengan perempuan itu, wajahnya tampak marah tapi berusaha memendam emosi. Dia meminta perempuan itu untuk pulang. Aku menangis sejadi-jadinya. Putri pertama kami mengintip dari balik kamarnya, si bungsu masih terlelap dalam tidur siangnya. Suamiku berkata pelan, “Aku bukan laki-laki super yang memiliki dua jantung, atau lebih. Menikah dengan kamu sudah cukup membuat jantungku berdegup tak karuan tiap hari. Buat apa aku mencari perempuan lain lagi?”

Dia berusaha memelukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tangisku semakin keras, hatiku kian merana. “Aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya. Tapi sebagai bapak dari dua orang anak perempuan, rasanya aku tidak akan tega berbuat demikian. Aku pun tidak akan rela jika suatu saat anak-anakku mengalami hal seperti ini.” Dan beberapa hari kemudian, perempuan hamil itu datang lagi dan memohon maaf. Sebenarnya dia marah karena pernah ditolak mentah-mentah oleh suamiku dan akhirnya berhubungan dengan laki-laki lain. Seketika aku memeluk suamiku, meminta maaf atas ketidakpercayaanku. Dan aku ingin memeluk Tuhan, karena telah menjaga hati suamiku dari perempuan selain aku.

***

Kini usia kami sudah tidak lagi muda. Kami hidup berdua di rumah yang sederhana. Aku masih berkutat dengan jahitan-jahitanku dan suamiku menanti saat-saat pensiun. Anak pertamaku sudah menikah dan memiliki dua orang putri yang lucu, kini tinggal di luar kota. Anak keduaku masih kuliah di kota yang sama dengan anak sulungku dan sesaat lagi akan diwisuda. Entah kebahagiaan yang mana yang bisa kami dustakan.

Namun beberapa hari ini ada yang berbeda dengan suamiku. Dia lebih banyak berkutat dengan ponselnya, entah mengetik apa. Padahal aku tahu, dengan usia yang sudah lanjut, pandangannya pasti mengalami kesulitan mengetik pesan dengan tulisan yang kecil-kecil itu. Pernah aku memergokinya sedang berbicara di ponselnya dengan nada lirih seakan tidak ingin terdengar oleh orang lain, lalu buru-buru menyudahi percakapannya. Hatiku mencelos. Dan tiba-tiba mengingat istilah puber kedua, di mana laki-laki merasa punya banyak uang dan ingin membuangnya dengan sesuatu yang membuatnya merasa kembali muda. Mungkinkah…? Dengan status manajer, mungkin masih banyak gadis muda yang mau diperistri oleh suamiku. Tapi aku mengingat kejadian perempuan penipu bertahun-tahun yang lalu. Aku berusaha percaya dan menganggap itu hanya pikiranku saja.

Sampai pada suatu hari, aku tidak bisa menghubungi suamiku sama sekali. Dia pamit pergi ke kantor tapi tidak ada di sana. Ponselnya tidak aktif. Staf dan anak buahnya tidak ada yang tahu ke mana perginya. Otakku tidak bisa berpikir dengan waras, yang ada hanyalah ketakutan seorang perempuan yang sudah menopause dengan kerutan-kerutan yang semakin jelas di ujung mata, perempuan yang badannya sudah tak lagi langsing dan kencang, perempuan yang sudah berevolusi menjadi nenek tua.

Aku menelpon anak bungsuku, “Bapakmu kesana tidak?”

“Ndak, Bu. Memang Bapak ndak ke kantor tho?”

“Ndak ada. Ya sudah,” kataku singkat. Ada hasrat untuk menanyakan hal ini pada anak sulungku. Tapi siang-siang begini, pasti dia sedang mengajar. Aku tidak mau membebaninya.

Tapi perasaanku makin tidak karuan. Aku ingat mantan pacarnya pernah menelpon. Aku tidak pernah curiga apapun karena mantan pacar suamiku itu juga sempat berbicara hangat denganku. Selama ini, aku telah belajar menjadi perempuan yang percaya sepenuhnya pada suami, bahwa kebaikan-kebaikannya pada orang-orang semata-mata karena memang dia adalah orang yang hangat. Dan selama kami menikah, suamiku menunjukkan tabiat yang tidak bisa kubantah dengan kecurigaan yang berlebihan. Tapi entah apa yang terjadi jika hati suamiku benar-benar telah berubah. Perselingkuhan bukan hal bisa aku maafkan. Tiba-tiba tubuhku bergetar. Ketakutan itu menyergap seperti bunga karnivora yang mencengkram seekor serangga, lalu memakanku perlahan.

***

Menjelang maghrib, aku mendengar suara mobil memasuki garasi. Aku terkesiap. Suamiku. Buru-buru aku menyeka air mata yang sudah menganak sungai di pipiku. Dia masuk kamar, mendapati aku yang termenung di sisi ranjang. Dia terlihat begitu lelah, bajunya kusut, tapi dia tidak lupa tersenyum dan mencium pipiku, “Assalamualaikum, Mama. Masak apa hari ini?” Aku hanya menjawab salamnya dengan ringan lalu kembali terdiam. Dia masih berdiri dengan wajah bingung, lalu meletakkan tas kerjanya dan bertanya, “Ada apa sih kok cemberut gitu? Habis berantem sama pelanggan?” Aku tidak menjawab dan memalingkan muka.

Aku mendengar langkah kakinya menuju kamar mandi. Lalu insting perempuanku meliar. Aku menggeledah isi tasnya dengan degup jantung yang bergemuruh seperti sirine perang yang bertabuh. Tanganku gemetar dan berkeringat. Di dalam tasnya, hanya ada kertas-kertas pekerjaan yang biasa ia bawa dan dompet dengan isi beberapa lembar uang dan kartu-kartu, serta sebuah sikat gigi yang biasa ia bawa. Namun saat aku menarik tanganku untuk keluar dari tas itu, kelingkingku menyentuh sesuatu. Nafasku berhenti. Sebuah kotak dengan permukaan halus khas beludru. Aku menggenggamnya dengan gemetar dan mengeluarkan kotak itu. Jantungku melorot. Karena di dalam kotak itu ada dua cincin. Emas putih dengan berlian yang kilaunya indah sekali. Benarkah suamiku akan menikah lagi?

Air mataku sudah tidak dapat dibendung. Sekeluarnya suamiku dari kamar mandi, dia menatapku dengan bingung. Dia mendekatiku, memeluk bahuku, “Mama kenapa? Kok tiba-tiba nangis?” Wangi shampo yang aku suka menyeruak di segala penjuru penghidu. Tapi dadaku makin sesak, naik-turun mengikuti irama tangis yang belum menemukan alasan untuk berhenti.

Aku menampik lengannya, lalu berdiri menghadapnya yang masih duduk terbengong-bengong. Nafasku memburu, “Hari ini kamu ke mana, Mas? Pamitnya ke kantor. Tapi dihubungi di kantor ndak ada. Ditelpon ndak bisa. Kamu ke mana?” kata-kata itu meluncur secepat kilat. Pandanganku marah. Aku ingin menusuk-nusuknya dengan garpu yang tajam.

“Aku tadi izin, Ma. Ada urusan mendadak di luar kota,” jelasnya dengan terbata-bata. Wajahnya bingung. Ada sesuatu yang disembunyikan. Aku tahu.

“Kota mana? Kenapa staf di kantor tidak ada yang tahu?”

“Itu… Aduh. Mama ini kenapa sih? Kok tumben marah-marah gini?”

“Aku ngerti kalo aku udah ndak muda lagi, Mas. Udah nenek-nenek. Tapi coba kamu inget perjuangan kita dari awal! Bahkan aku ndak pernah ngeluh waktu kamu ke luar negeri selama dua tahun. Lalu ini apa? Kenapa ada sepasang cincin di tas kamu?” aku nyaris teriak sambil mengacungkan kotak cincin itu ke wajahnya.

Suamiku terkejut. Dia memandang kotak cincin itu cukup lama. Mulutnya membuka, lalu dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sejenak aku mengamati rambutnya yang sudah mulai tertutup uban. Jantungku merosot. Bagaimana bisa laki-laki masih berpikir untuk menikah lagi saat rambutnya sudah tidak hitam lagi.

Tiba-tiba bahunya terguncang-guncang, terdengar suara dari mulut suamiku. Dia tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hah! Saat ketahuan, pasti semua laki-laki seperti ini. Berlagak bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Ngapain tertawa? Ini ndak lucu, Mas!”

Suamiku berdiri dari duduknya, lalu tersenyum sambil memandangku. Dengan gerakan tangan yang ringan dan lembut, ia meraih kotak cincin dari tanganku lalu menghela nafas panjang.

“Ternyata kalo sudah tua gini, susah ya mau kasih kejutan romantis,” ujarnya. Aku makin bingung dan marah. Seperti dipermainkan. Romantis macam apa ini, membuat jantung berhenti saja.

“Tadi aku ketemu sama anak-anak. Ada sesuatu yang aku pesan dari mereka sejak sebulan yang lalu. Tapi aku minta mereka untuk jangan bilang-bilang Mama. Soalnya…” dia membuka kotak cincin itu, lalu mengambil cincin yang berukuran kecil dan memasangkannya ke jari manisku, “Bapaknya mau kasih cincin kawin lagi ke ibu mereka. Niatnya sih mau bikin lamaran kedua.”

Aku masih berdiri, tidak mengerti. Cincin kawin? Lamaran kedua?

“Ma… Maksudnya apa, Mas?”

“Ini cincin pengganti cincin kawin yang dulu kita jual untuk nambah-nambah uang beli rumah ini, Ma. Juga sebagai rasa terima kasihku, suami yang beruntung pernah lupa menjemput pacarnya dulu dan ketemu kamu, permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan sebagai suami dan bapak yang ndak sempurna, dan rasa cinta yang tidak pernah menua.”

Aku sesenggukan. Pipiku memanas. Romantisme memang bukan bagian dari pernikahan kami. Ah bukan. Aku yang tidak romantis. Tapi…

“Tapi ini dalam rangka apa? Kenapa kamu tiba-tiba…”

“Nah kan. Sekalinya marah-marah pinternya jadi ilang. Besok itu… ulang tahun pernikahan kita yang ke 30, kan?”

Sejenak darahku berhenti. Besok. Astaga. Bukan. Bukan perkara bagaimana aku bisa lupa, aku memang tidak pernah ingat. Bagiku, tanggal pernikahan bukan sesuatu yang harus diingat-ingat atau dirayakan. Cukup kujalani dengan penuh bakti kepada suami dan anak-anak. Tapi bagaimana suamiku ini bisa mengingatnya?

“Besok? Ya ampun… Aku lupa, Mas. Aku cuma takut saat kamu mulai sibuk sama ponsel dan telepon-telepon yang aku ndak tahu,” kataku di sela-sela nafas yang sesenggukan menghentikan tangis.

“Ahahaha. Aku juga sebenernya lupa. Cuma dari dulu memang pengen bikin cincin kawin lagi. Anak-anak yang maksa-maksa biar ngasih cincinnya dipasin sama tanggal pernikahan kita.”

Ada rasa hangat yang menggerayangi tubuhku. Sekali lagi kepercayaanku diuji. Sekali lagi kecurigaanku salah dan tidak pada tempatnya. Kali ini, aku ingin Tuhan lebih erat memeluk hatiku agar dijauhkan dari kecurigaan yang tidak perlu.

Laki-laki tambun itu merengkuhku dalam pelukannya dan memberi kecupan hangat di keningku, “Selamat ulang tahun pernikahan kurang satu hari, Mama…”

Perut kami yang sama-sama buncit beradu. Mungkin lucu jika melihat pasangan di usia lebih dari separuh abad, dengan rambut beruban dan tubuh yang tak lagi kencang saling berpelukan. Seperti Carl dan Ellie. Tapi tidak ada hal lain yang aku inginkan lagi saat ini. Kebahagiaan mana lagi yang bisa kudustakan. Orang tua dan anak adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa ditolak dan harus diterima apa adanya. Tapi menjalani hidup dan menua bersamanya belahan jiwa adalah pilihan. Aku dan suamiku telah memilih satu sama lain dari jutaan laki-laki dan perempuan yang hidup di dunia ini.

Dan di usia pernikahan yang tidak lagi muda, kami berdua merasa menang. Menang atas ego kami, menang atas perjuangan jatuh bangun membangun bahtera di atas gelombang yang tidak pernah berhenti, menang atas kejenuhan yang berusaha mengubah cinta menjadi mati.

Sekali lagi, aku bukanlah orang yang romantis. Dalam dekapannya, aku hanya membalas dengan pelukan yang lebih erat, dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Dia tersenyum. Dia mengerti. Bahwa di antara pelukan kami, ada hatiku yang juga berkata, “Aku bahagia telah mencintaimu setiap hari. Sampai mati.”

[Backsound: Saat Aku Lanjut Usia – Sheila On 7]

***

Moru – Alor – NTT

10 Oktober 2012

 

PS:

  • Cerita pendek ini based on true story tapi dengan beberapa modifikasi (the present wasn’t a diamond ring. We couldn’t afford it ahahaha). Cerita ini adalah cerpen pertama yang menang sayembara menulis antologi. Sehingga mohon maaf jika ditemukan penulisan yang masih (banyak) salah dan banyak yang perlu dikoreksi di sana-sini.
  • Cerita ini adalah cerpen pertama yang masuk kompilasi buku dengan penerbit mayor (meski royaltinya entah ke mana) (hiks). Sempat jadi top 10 di beberapa toko buku online, dan ternyata masih ada yang jual ahahaha…
  • Dalam buku Antologi Cinta, ada 14 cerita pendek yang bisa dinikmati. Kalo kalian pengin baca cerita lainnya, silakan (coba) pesan di sini. Ada tulisan dari Daeng Khrisna Pabichara juga, Gaes :* (ga ngerti apakah bener-bener masih bisa dipesan hehehe)
  • Keputusan mengunggah cerpen ini adalah karena alasan sentimentil.

Kopiku Tandas

14991200_10210089539727326_3841816215030126076_o

Kopi tandas
Denting cangkir bergegas mengemasi cemas

Kopiku tandas,
dasar cangkir membekas remang rembulan yang diselingkuhi awan rupawan

Dan malamku ini, lengang digeladah sepi
serupa ampas kopimu yang mengering hingga pagi

(Wlingi, 11 November 2016)

Nun

whatsapp-image-2016-11-21-at-20-48-39

 

“Nun. Wal qalaami wamaa yasthuruun.”

Konon, Allah lebih dulu menciptakan Al-Qalam sebelum Ia menciptakan semesta. Allah berfirman padanya, “Tulislah!” Dan Al-Qalam bertanya, “Apa yang harus aku tulis?”

“Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi, atau segala sesuatu yang akan ada, dari amal perbuatan, atau rezeki, atau jejak, atau ajal.”

Dan manusia adalah pengikut Al-Qalam berikutnya. Dari hatinya yang membaca semesta, manusia akan menulis takdirnya sendiri.

Manusia dapat memilih pada apa ia menaruh amarah, ke mana ia meletakkan tujuan, dan pada siapa ia menaruh rindu serta percaya.

Dengan pena bermata ilmu dan pengetahuan yang diyakini, manusia akan menggubah cerita-cerita, ide serta risalah tentang rahasia, ledakan dahsyat atau kepiluan, menjadikannya abadi dalam sebuah tulisan, atau sesederhana takdir.

Maka manusia dapat menorehkan ujung-ujung pena di jalan kebaikan, atau menusukan mata pena ke jantungnya sendiri.

“Nun. Demi pena dan apa yang dituliskan.”
(QS Al Qalam, ayat 1)

Hampir Pernah

Ia hampir mengajaknya berbicara, saat Dia diam-diam pernah menunggunya.

Ia hampir memberikannya sebuah novel favorit yang hingga kini usang di laci meja.
Dia pernah menyelipkan sepucuk rindu di buku yang akhirnya tidak pernah terbaca.

Ia hampir bilang cinta.
Dia pernah menyematkan namanya di setiap doa.

Mereka hampir ditakdirkan bersama.
Sayangnya mereka mengucap diam belaka.

Konon kini Ia hampir melupakan semua,
Tapi sesungguhnya Dia masih merasakan hal yang sama.

Rindu Peniru

WhatsApp Image 2016-08-05 at 13.21.09

Bapak dan Ibu adalah dua kutub yang berbeda.

Bapak orangnya hangat dan gemar menunjukkan perasaan. Sebentar-sebentar meluk. Sebentar-sebentar cium. Sedangkan Ibu lebih dingin, cenderung diam dan menyembunyikan perasaan. Kalo anaknya senderan atau rebahan di pangkuannya, she did nothing.

Bapak lebih toleran pada nilai-nilai anaknya yang buruk ketika Ibu sangat disiplin dan menginginkan anak-anaknya belajar dengan baik.

Bapak lebih sering mengungkapkan kekhawatiran pada anak-anaknya. Setiap mbakku ke luar negeri, beliau tidak akan tidur sampai mendengar kabar bahwa mbakku sampai dengan selamat. Ketika aku PTT, Bapak tidak akan tenang jika tidak mendengar suaraku setiap hari. Dan Ibu selalu menjadi obat penenang Bapak. Ibu lebih rasional, meyakinkan Bapak bahwa kami berdua (aku dan mbakku) akan baik-baik saja. Dan kami berdua pun sudah hapal bahwa Bapak sedemikian melankolis. Sebagai pereda galau, kami selalu berusaha ‘ndisiki’ menghubungi beliau sesering mungkin.

Bapak suka nyanyi dan dansa. Ibu adalah perempuan kaku yang sering ngambek setiap kecentilan Bapak muncul. Akan memakan banyak waktu saat Bapak merayu Ibu untuk karaoke atau berdansa di sebuah acara. Hingga akhirnya Bapak lebih sering mengalah dan menjadikan putri-putrinya sebagai korban.

Mungkin benar bahwa kehilangan membuat seseorang lebih tau caranya mengenang. Setiap kepulanganku, selalu ada cerita tentang kenangan-kenangan Bapak… Segala hal tentang Bapak sebagai suami, kekasih dan bapak. Semua itu dikisahkan Ibu secara berulang-ulang hingga kami hapal di luar kepala.

Dan mungkin rindu membuat seseorang menjadi peniru. Ibu masih kaku, tapi sudah melunak. Kalo anaknya ndusel, tangannya mulai sibuk membelai. Dan beberapa hari lalu, Ibu bercerita lewat telepon, “Tadi Ibu nyanyi di acara reuni.”

 ***

Malang, 31 Juli 2016

 

Review: Sabtu Bersama Bapak

https://i2.wp.com/movie.co.id/wp-content/uploads/2015/02/Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1.jpg

 

Saya pribadi ga menaruh harapan tinggi pada film ini. Pengin nonton karena suka sama bukunya, penasaran sama Saka dan tentu saja alasan sentimental lainnya.

Beberapa hal memang diubah. Film ini ga persis plek sama bukunya. Tapi menurut saya esensinya tetep sama.

Film diawali dengan scene yang penuh dengan air mata. Lalu berkembang menjadi adegan-adegan humor kejomloan Cakra yang menyedihkan (iya, kaya saya). Klimaksnya adalah saat masing-masing tokoh memiliki masalah sendiri, yang akhirnya disatukan oleh pesan di hari Sabtu oleh Bapak Gunawan Garnida.

Akting Arifin Putra bagus. Kita cukup liat matanya, udah ngerti emosi yang bakal keluar dari situ. Kece, lah. Apalagi pas berantem sama Risa. Kece, lah (2).

Akting Deva sebagai pendatang baru (? – saya ga tau sebelumnya dia main di film apa) juga lumayan. Cocok dengan peran Cakra Garnida yang nerd dan konvensional, doyan bahas hal ga penting serta menaruh hati sama (pemilik) sepatu yang sering mangkal di depan musala.

Saya suka dengan efek blur saat Satya ketemu sama bayangan Bapak Gunawan. Apa, sih, namanya… Pokoknya itu. Hawa sendu dan gamangnya jadi lebih kerasa.

Salut buat make up artist-nya yang bisa bikin Ira Wibowo berubah-ubah usia. Detil banget.

Kelemahannya… As usual. Mindahin novel ke film itu susah. Ada beberapa hal yang terasa maksa di film padahal di novel enggak. Seperti perkenalan Itje dan Retna, yang sebenernya udah dimulai sejak awal. Di film malah seperti ujug-ujug dikenalin. Dan akting anak-anak Satya yang… ya… enggak ngerti, deh, milih kedua anak itu berdasarkan apa. Selain wajah yang ga bisa dimiripin ke Acha dan Arifin Putra sama sekali, ekspresi mereka datar abis.

Tapi bagaimanapun… Banyak banget pesan yang disajikan di film ini. Bahwa hidup seharusnya terencana. Termasuk tentang pekerjaan, cita-cita, keuangan, dan pernikahan. Bahwa kemenangan itu diraih, bukan dikasih. Bahwa dalam membangun sebuah hubungan yang kuat, diperlukan dua orang yang sama-sama kuat. Bukan saling melengkapi. Karena melengkapi diri adalah tanggung jawab masing-masing. Bahwa meski kita sudah dewasa dan punya keluarga, orang tua tetap menjadi orang pertama yang bisa kita andalkan.

Film ini direkomendasikan buat siapa saja yang ingin terus belajar menjadi lebih baik… Sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai istri, sebagai suami, sebagai calon pasangan 😊 Tapi kalo mau bandingin sama novelnya, ya… Pikir-pikir dulu, deh 😁

❤❤❤❤💔

IMG-20160710-WA0000

Malang, Juli 10th 2016

Advertisements
%d bloggers like this: