Archive for the ‘ nonfiksi ’ Category

13 Juli 2018

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Yang terhormat,

Ibu Dekan beserta para Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ibu Direktur Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang atau yang mewakili

Bapak Direktur Rumah Sakit Jejaring atau yang mewakilli

Bapak Ketua dan Sekretaris TKP PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Kepala Laboratorium di lingkungan FKUB

Guru-guru yang kami hormati

Segenap civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ayah, Ibu serta keluarga yang kami cintai, serta rekan-rekan sejawat dokter spesialis baru yang saya banggakan

Perkenankanlah saya, sebagai perwakilan para dokter spesialis baru, mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puja dan puji pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai rasa syukur kita atas seluruh berkah dan anugerah yang dilimpahkanNya sehingga hari ini kita dapat mengikuti acara Pelantikan Dokter Spesialis Baru Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Bapak, Ibu, para guru dan kolega yang berbahagia,

hari ini merupakan bagian tak terlupakan dalam perjuangan kami. Hari ini adalah akhir yang menjadi awal dari perjalanan yang lain. Apa yang kita lakukan hingga mencapai hari ini adalah bekal untuk menghadapi perjuangan yang lebih menantang. Menjadi residen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami semua. Kami mendapatkan bekal yang lebih dari sekadar pengetahuan. Kami membiasakan diri mengatasi keraguan dan ketakutan, belajar berkolaborasi, serta bekerja di bawah tekanan; sehingga kami belajar untuk cermat kapan harus bertindak, bertahan atau merelakan. Semoga kami menjadi dokter spesialis yang cakap dalam mengeksplorasi pasien sebagai manusia, bukan objek semata.

Saat ini, masing-masing dari kita mungkin sedang mengenang masa lelahnya bertugas jaga belasan kali dalam sebulan, rasa sedih karena tidak mampu menemani keluarga yang sedang sakit, marah atau kecewa ketika ego yang satu bergesekan dengan ego yang lain. Pendidikan spesialis telah meminta persembahan yang tidak sedikit. Kita telah mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, materi, atau keluarga. Semoga tidak ada dari kita yang secara suka rela mengorbankan kejujuran, loyalitas, kemanusiaan dan hati nuraninya selama menempuh pendidikan ini. Satu persatu pengorbanan telah dijatuhkan. Tanggung jawab berat telah menunggu seiring gelar yang lebih panjang. Maka mari kita menjadi dokter spesialis yang sebaik-baiknya, bagi kebaikan pasien serta martabat dokter Indonesia.

Alhamdulillah. Rasa syukur tertinggi kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. TakdirNya telah memungkinkan kita semua berada di ruangan ini. BerkahNya tidak hanya berupa kemampuan materiil, tetapi juga kesempatan, kesabaran, kesehatan, kelapangan hati serta keikhlasan menjalani pendidikan spesialis yang tidak mudah, baik bagi para residen maupun bagi keluarga. Semoga kita menjadi hamba yang selalu bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Terima kasih kami haturkan kepada guru-guru kami, yang telah beramal jariyah melalui ilmu-ilmunya, baik dalam hal akademik maupun kehidupan, bagi kami dokter-dokter yang masih dipenuhi ego tinggi, namun belum bijaksana dalam bertindak. Maka dengan kerendahan hati, kami memohon maaf atas segala kelalaian kami, baik dalam hal kurangnya ilmu, sikap tak pantas, ucapan serta perilaku yang menyinggung dan menyakitkan. Meski sudah menamatkan pendidikan ini, kami tetaplah murid yang masih memerlukan banyak bimbingan dan arahan guru-guru sekalian. Demi pena dan apa yang telah Para Guru goreskan pada pendidikan kami, ilmu-ilmu dari engkau akan selalu menjadi rumah bagi siapapun dari kami yang ingin pulang.

Terima kasih juga kami persembahkan pada keluarga; ayah, ibu, istri/suami, anak, saudara, yang telah melakukan perjuangan besar sebagai keluarga residen; telah tabah menghadapi wajah kusut serta emosi yang labil, begitu sabar menjadi stuntman/stuntwoman dalam menggantikan peran yang hilang selama pendidikan spesialis dan berjiwa besar telah menghibahkan anak/suami/istri mereka bagi pelayanan, pendidikan dan pengabdian sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis. Rayakanlah hari ini. Bapak dan Ibu dapat menagih pijatan di pundak dan betis yang mulai kaku. Suami/istri dipersilakan menggugat lagi kecupan hangat di pagi hari. Putra/putri dapat menuntut kembali rutinitas dongeng sebelum tidur.

Selamat dan terima kasih saya ucapkan pada kolega dokter-dokter spesialis baru, atas interaksi yang istimewa di RS Saiful Anwar Malang. Kita telah bekerja sama, beradu argumen, berselisih, namun tetap berangkulan satu sama lain. Masa sekolah residen telah menunjukkan keluarga baru, saudara seperjuangan yang saling berbagi kisah, keringat serta air mata. Mari lanjutkan harmonisasi itu dengan saling membantu dan menghargai di tempat kerja kelak, demi kepentingan pasien, nama baik almamater serta persatuan dokter di Indonesia.

Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity (Hippocrates). Cintailah ilmu kedokteran sebagai ibu yang telah mengasuh dan menyusui kita dengan ilmu dan filsafatnya. Selamat bertugas, berbakti dan mengabdi.

Curiosity killed the cat. But a doctor without curiosity could kill. Tetaplah rendah hati, bekerja dengan hati dan berhati-hati. Karena sesungguhnya, dokter hanya mengetahui sedikit dari alam semesta. Tanpa kebijaksanaan, ia mungkin memberikan pengobatan yang diketahui sedikit saja, untuk memulihkan penyakit yang dipahami sekadarnya, pada manusia/pasien yang hidupnya tidak diketahui apa-apa (Voltaire).

Dan dalam masa-masa sulit yang mungkin akan kita hadapi di kemudian hari, ingatlah pasien-pasien yang pernah kita rawat terdahulu, yang sembuh dan yang kurang beruntung. Tubuh dan pikiran kita hari ini adalah buah dari apa yang kita letakkan pada nasib mereka. Berterimakasihlah pada pasien-pasien sebagai guru kita, dengan selalu menjadi dokter yang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian sambutan dari saya. Mohon dimaafkan atas kata-kata yang kurang berkenan.

Nuun wal qolaami wamaa yasthuruun

Wassalamualaikum Wr Wb

Malang, 13 Juli 2018

Wakil Dokter Spesialis Baru

dr. Nina Nur Arifah, SpPD

***

IMG-20180713-WA0138

Mengingat masa sekolah dasar dan menengah yang standar, dilanjutkan dengan pendidikan dokter umum yang cukup jatuh bangun, saya pernah melewati masa-masa bekerja yang dihantui ketidakjelasan arah dan tujuan. Ada ketakutan pada diri sendiri karena merasa tidak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat, selalu menyusahkan, tidak membanggakan. Saya orang yang lambat, penakut dan cuek. Apalagi hal-hal itu diutarakan oleh orang-orang terdekat yang secara eksplisit. Baper, jelas! Hingga akhirnya saya mengasingkan diri dengan PTT di Alor, NTT (di samping tujuan lainnya adalah menantang diri sendiri dan demi meningkatkan ‘nilai jual’ dengan selembar surat Selesai Masa Bakti; karena jujur saja, saya tidak bisa apa-apa dan bukan ‘siapa-siapa’).

Mungkin memang sudah jalannya. Mungkin memang begini ‘skenario’Nya. Gagal di percobaan pertama seleksi masuk Pendidikan Dokter Spesialis. Pergi PTT. Mendapatkan berbagai pengalaman (jalan-jalan, menggeluti hobi menulis, fotografi) dan perenungan terhadap diri sendiri. Memantapkan diri mencoba peruntungan di Program Studi Ilmu Penyakit Dalam (yang sebenarnya diminati sejak lama, tapi selalu tidak percaya diri karena saya biasa-biasa saja). Mungkin sudah takdir dari Tuhan, saya diberi kesempatan berharga menimba ilmu di PS Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Brawijaya; meski di tahun pertama pendidikan, musibah itu datang. Bapak terkena gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal.

Sekali lagi. Perasaan gagal itu ada. Saya dokter, tapi gagal mencegah gagal ginjal pada orang tua sendiri. Menyalahkan diri sendiri? Tidak perlu ditanya. Bukan sekadar menyesali. Saya mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menunggui Bapak dengan maksimal. Bahkan sehari menjelang kepergian Bapak, saya harus jaga di UGD selama 24 jam. Dengan kondisi kelelahan lahir dan batin, kepulangan saya di tanggal 27 Desember 2015 meninggalkan sedu sedan di bis patas, dan menemui Bapak yang tampaknya sudah mulai dijemput naza’. Ada sebagian diri yang membela, bahwa saya bekerja untuk orang lain pun merupakan ibadah. Bahkan sebagian diri saya menyalahkan sejawat yang menangani Bapak saya saat itu gagal mengenali kondisi sepsis, gagal membedakan pneumonia dan kongesti paru, antibiotik terlambat diberikan, sepsis telanjur datang. Tapi sebagian diri yang lain lebih agresif, memojokkan saya dan berkata, “Mestinya kamu menemani Bapak dan merawat dengan baik, bukan malah menyerahkan tugas itu pada dokter yang lain. Durhaka.”

Tanggung jawab menjadi dokter itu berat. Seberat mengakui bahwa kita tidak pandai, kita kurang teliti, kita kurang berusaha, kita mengabaikan petunjuk-petunjuk yang sebenarnya nyata, kita kurang memberikan hati saat menjalankan profesi ini. Kekecewaan dan kesedihan saya terhadap kondisi Bapak cukup membuat trauma. Saya sempat marah pada dokter jaga UGD saat itu. Tapi ternyata kemarahan justru membakar saya sendiri. Toksik. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarahan yang menyala-nyala. Akan lebih mudah dan mengurangi energi, jika saya memulai dengan diri sendiri. Menilik dan mengintrospeksi, apakah saya pernah memeriksa atau memvisite pasien sekadar saja, tanpa ‘rasa penasaran’. Karena dokter tanpa rasa ingin tahu itu sesungguhnya bisa membunuh.

Alhamdulillah, rangkaian pendidikan yang cukup melelahkan dan penuh drama sudah selesai. Tidak mudah, tapi ternyata saya mampu. Bapak (selain Ibu) adalah orang yang selalu menguatkan dan memberikan saya anak tangga untuk percaya diri. Bapak percaya, bahwa bungsunya yang biasa-biasa saja ini bisa mengembangkan diri (jika dipaksa, tentunya). Tidak perlu menjadi yang terhebat, cukup menjadi yang lebih baik. Bapak, Gemini yang cukup melankolis, pernah menangis bahagia saat saya disumpah menjadi dokter umum. Kali ini, Bapak tidak bisa mendampingi. Saya tak sempat melihat tangis bahagianya jatuh sekali lagi. Saya tak sempat menanyakan, “Did I do good? Did I do well? Did I…?

Mungkin pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh saya sendiri, mau melaksanakan profesi ini dengan seperti apa. Jika belum sampai lelah, terkapar atau menangis, maka mungkin saya belum mengerjakan apa-apa. Bapak mungkin korban keegoisan anak bungsunya. Semoga saya tidak lagi menjadi alasan orang lain merasa ‘dikorbankan’.

Bismillah. Perjalanan selanjutnya akan dimulai dengan judul Wajib Kerja Dokter Spesialis. Setting tempat belum ditetapkan. Semoga berkah di mana pun ditempatkan. Aamiin.

***

Malang, 14 Juli 2018

Advertisements

Ibuku Cantik

Ibuku cantik jelita dan sering tertawa.
Ia senang berdendang riang, dan lagu-lagu keroncong atau Koes Ploes yang sering ia gumamkan.
Akhir-akhir ini, Ibu sering menanyakan cara bernyanyi sesuai irama
Tuk tuk tuk… kami bernyanyi sambil membuat ketukan bersama.
Lalu tawa pecah, Ibu lupa liriknya.
Kemudian Ibu memintaku menuliskan lirik lagu Widuri dari Broery Marantika.
“Untuk dinyanyikan di acara Prolanis,” begitu katanya.
Perlahan kugoreskan pena di atas kertas
berhati-hati sekali karena untuk menulis dengan bagus, jujur saja… aku sudah lupa caranya.
Ah, Broery… penyanyi favorit almarhum Bapak.

Ibuku dulu jarang bercerita atau menggoda.
Namun kini berbeda.
Ia gemar mengisahkan hari-harinya yang luar biasa.
Kemarin, Ibu menghadiri reuni alumni SMA almarhum bapak.
Ibuku bernyanyi, lagu zaman lawas tentu saja.
Dengan suara renyah, Ibu berkata, “Dulu Ibu sering duet dengan Bapakmu, karena dipaksa tentunya. Sekarang malah Ibu ikut keranjingan.”

Ibuku sangat kusayangi.
Jika kupunya sayap, aku tak akan lupa membawanya terbang tinggi ke angkasa.
Mungkin ada kalanya kami bersilang pendapat.
Tapi pelukan Ibuku tetap menjadikannya Ratu tercantik jelita sedunia.

(Sebagian kalimat diambil dari lirik lagu Ibuku Cantik – Maisha Kanna; Ost. Kulari Ke Pantai)

Prolog

“Berlarilah. Lupakan luka di masa lalu.

  Berlarilah. Rasakan adrenalin yang menginfiltrasi seluruh sel di tubuhmu.

  Berlarilah. Karena ada jutaan mimpi yang menunggu untuk kau cumbu.”

***

2 Maret 2012

Satu jam lima puluh menit.

Rasanya ini akan menjadi perjalanan paling lama yang pernah kulakukan. Lebih lama dari Malang menuju Jogja yang memakan waktu tempuh enam jam dengan kereta. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kenangan bersama mantan pacar yang sudah kucintai selama lima tahun dan dengan gagahnya meminta hubungan kami berakhir karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain.

Seorang perempuan paruh baya di sampingku telah nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halusnya menjadi musik pengiring bagi pikiranku yang melayang-layang, menembus awan putih yang mengapung di luar sana. Aku terhipnotis dengan putihnya yang menenangkan. Mungkin terdengar picisan. Tapi tidak ada manusia yang tidak tergoda untuk mencoba menjejakkan kaki di atas awan. Mungkin saja awan memang bisa dijadikan alas tidur yang nyaman. Jauh dari hiruk pikuk di bawahnya. Tapi kemudian awan-awan itu mengejutkanku. Mengembalikanku pada kenyataan ketika ia membuat guncangan pada badan pesawat.

Jutaan pertanyaan itu datang lagi. Mereka meminta penjelasan untuk hal-hal yang terjadi sebelum aku pergi. Tentang secarik kertas yang kini terselip di sebuah buku harian. Secarik kertas yang membuatku memutuskan untuk melarikan diri. Secarik kertas yang membuatku kehilangan semangat dan harapan. Secarik kertas yang menciptakan jarak antara aku dan Bapak. Secarik kertas yang turut andil membuatku memutuskan untuk pergi.

“Roti, Mbak?”

Tiba-tiba ada sebuah kantong kertas berisi roti di depanku. Aku terkejut dan menoleh. Rupanya ibu yang menjadi teman perjalananku itu sudah bangun.

“Ini makan aja. Daripada ngelamun,” bisiknya sambil tersenyum. Ia kembali menyodorkan kantong roti yang wanginya memang tidak bisa kutolak.

“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tak lupa kububuhkan senyum untuk mengiringinya. Dua gerakan sederhana ini memang menjadi gerakan universal untuk menunjukkan rasa penghormatan dan terima kasih kita pada seseorang. Dua gerakan yang menyimbolkan bahwa kita memang tidak diijinkan untuk mendongakkan kepala melebihi orang lain.

“Ke Kupang juga, Mbak?” tanya ibu itu padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Iya, Bu.”

Itu adalah pertanyaan umum yang sedikit aneh. Oke. Tidak sedikit. Tapi memang aneh. Retoris. Pesawat bukan bis atau kereta yang bisa berhenti di lokasi yang berbeda, bukan? Sejenak mataku mengamati roti yang tengah kunikmati. Ah, Alika. Berani-beraninya kamu membatin hal yang tidak menyenangkan pada seseorang yang telah mau membagi sebungkus roti yang lezat padamu?

“Kalo Ibu, menuju Kupang atau pulang ke Kupang?” tanyaku.

“Pulang ke Kupang. Kemarin ada pelatihan komputerisasi untuk persiapan akreditasi rumah sakit. Lumayan sekalian jalan-jalan juga, Mbak.”

“Oooh…”

Dan kata ‘Oooh’ adalah salah satu tanda percakapan telah berakhir. Aku memang tidak pandai menjaga suasana hangat. Hari ini, contohnya.

Aku memutuskan untuk menikmati lagi pemandangan dari jendela pesawat. Awan-awan itu telah pergi. Sepertinya semesta tahu bahwa aku membutuhkan penyegaran. Hamparan hijau seperti beledu yang halus terbentang begitu indah di bawah sana. Bukit atau lembah, tidak ada bedanya. Sepertinya kakiku akan dimanjakan dengan sempurna. Tidak ada gedung-gedung atau atap rumah yang mendominasi. Hanya pepohonan, hutan, stepa, sabana, atau entah apa lagi namanya. Provinsi ini memang sangat indah.

Dalam beberapa saat lagi, kita akan mendarat di bandara El Tari, Kupang. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Surabaya. Kami harap, anda tetap mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat ini mendarat dengan sempurna. Terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.”

Aku memutar kenop jam tangan dan mulai menyesuaikan waktu. Satu jam lebih cepat dari Indonesia bagian Barat. Setidaknya aku berharap, perasaan kacau yang kubawa ke tanah yang baru ini juga akan lebih cepat berlalu.

“Kalo ada waktu, main-main dulu ke rumah saya, Mbak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada ibu yang ramah ini, “Jika ada waktu, Bu. Perjalanan saya harus berlanjut lagi.”

“Loh, kemana?”

“Ke Alor.”

Kepalaku berputar. Kini mataku memandang hamparan hijau yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan kering dan gersang di kota Kupang.

***

Kalabahi, 24 Februari 2013

 

PS:

  • Draft novel ini udah lama mangkrak. Bab 1-nya ada di hard disk, tapi hard disknya semacam rusak ehehehehe #getir

Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Iqra’

Iqra’

Membaca.

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, kepada siapa dan di mana.

***

Wlingi, 18 November 2016

(Belum ada judul)

Sekitar pertengahan tahun 2014, saya dipertemukan dengan sepasang suami istri yang kebetulan opname di ruangan tempat saya bertugas. Sang suami, Tn. NK, terdiagnosis menderita gagal ginjal kronis di usia yang cukup muda, sekitar 35 tahun. 

Ketika mendengar bahwa Tn. NK terdiagnosis gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal, keduanya sempat sedih dan tertekan. Mereka baru tiga tahun menikah, dan belum punya anak. Seperti pasien GGK pada umumnya, mereka takut menghadapi pilihan-pilihan terapi yang ditawarkan, entah itu hemodialisis, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), atau cangkok ginjal. 

Saya paham kekhawatiran dan ketakutan yang mereka hadapi. Tapi sebagai salah satu dokter yang merawat, saya berusaha membangkitkan keberanian Tn. NK dan istrinya. Saya juga menceritakan pengalaman Bapak saya menggunakan CAPD, serta menyelipkan kalimat yang pernah Bapak ucapkan ketika pertama kali didiagnosis menderita GGK sekitar lima bulan sebelumnya, bahwa selama Tuhan masih menitipkan hidup, maka manusia wajib menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya.

Akhirnya setelah berbagai edukasi, Tn. NK dan istri memilih CAPD sebagai terapi pengganti ginjal. Mereka memelajari teknik CAPD dengan cukup cepat. Dan kami tidak bertemu kembali sejak akhir tahun 2014.

Februari 2016. Kala itu saya bertugas di divisi nefrologi. Secara kebetulan saya bertemu kembali dengan Tn. NK dan istri yang kontrol ke poli CAPD. Sang istri menanyakan, “Kabar bapaknya gimana, dr. Nina?” Getir saya menjawab, “Alhamdulillah, Bapak saya sudah ga sakit sejak 2 bulan yang lalu. Beliau sudah duluan, Bu.”

Mereka berdua tampak kaget. Selama beberapa detik, poli CAPD menjadi lebih hening dirundung kesedihan dan saya dapat membaui ketakutan mereka. Karena ternyata ada masalah dengan CAPD Tn. NK, yaitu sering terasa nyeri, dan ia tidak bisa buang air besar dengan lancar.

Betapa Tuhan menciptakan tubuh manusia untuk selalu dinikmati. Mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa buang air besar adalah anugerah yang besar bagi manusia. Tidak bisa BAB bagi pasien-pasien GGK dengan CAPD merupakan aba-aba bahwa sesaat lagi infeksi akan datang. 

Tn. NK mengalami CAPD yang terinfeksi sehingga muncul peritonitis. Dan kondisi ini merupakan kedua kalinya. Akhirnya diputuskan bahwa CAPD dihentikan dan Tn. NK beralih ke hemodialisis konvensional. 

Sekitar satu setengah tahun berlalu. Saya sudah menyelesaikan rotasi stase dan sedang menunggu ujian nasional. Begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan, karena belajar memang tidak pernah menjadi kebiasaan bagi saya (ehehehe…). Saya dan beberapa rekan sedang berjalan di koridor RSSA, kemudian tidak sengaja bertemu dengan istri Tn. NK yang terlihat membantu ibu-ibu lain mengurusi administrasi pasien-pasien hemodialisis.

“Bu NK, apa kabar? Bapak apa kabar? Lagi HD, ya?” sapa saya.

“Alhamdulillah, Dok. Suami saya sudah ga sakit lagi. Sudah dipanggil sekitar lima bulan yang lalu,” jawabnya.

Dengan susah payah saya menahan tangis ketika memeluknya. Pelukan yang bermakna saling menguatkan dari perempuan yang sama-sama telah kehilangan lelaki istimewa karena GGK. Kami sudah berusaha yang terbaik, begitu juga Bapak dan Tn. NK. Mereka telah lulus. 

InsyaAllah, Bapak saya dan Tn. NK sudah benar-benar sembuh sekarang.

PS: Gambar adalah boks-boks cairan dialisat pasien GGK dengan CAPD yang akan digunakan dalam sebulan.

Cinta Yang Tak Pernah Menua

wpid-IMG_1913.JPG

Di usiaku yang sekarang, aku berusaha mensyukuri apa yang sudah aku lalui. Sebagai perempuan yang sudah melampaui setengah abad, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta, anak-anak yang berhasil, serta cucu-cucu mungil yang memanggilku dengan sebutan, “Uti…” dengan suara yang menggemaskan. Mereka adalah anugerah Tuhan dari seorang lelaki yang kupilih menjadi pendampingku selama tiga puluh tahun.

Suamiku. Dulunya adalah don juan dengan tubuh tegap, kulit gelap dan rambut gondrong, pemuda yang ramah, penebar senyum dan pesona pada gadis-gadis di sekitarnya. Bahkan saat pertama kali kami bertemu dulu, dia sedang berkencan dengan seorang gadis sales. Ketika kami mengenang romantisme masa lalu, dia tidak pernah gagal membuat pipiku bersemu merah jambu, “Bertemu denganmu membuatku lupa menjemput pacarku saat itu.” Dia mengaku, memutuskan cinta gadis itu seminggu setelah bertemu denganku, karena sang gadis terlalu cemburu.

Suatu saat dia datang ke kosku, bertanya tentang rumah kos khusus laki-laki. “Kenapa dengan kosmu yang sekarang?” tanyaku. Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa. Hanya ingin suasana baru.” Dan pada akhirnya, dia pindah ke kos yang letaknya tidak jauh dari kosku. Kami pun semakin sering bertemu. Dia biasa menjemputku dengan sepeda kayuhnya yang berwarna hitam kusam, lalu kami berkencan layaknya Galih dan Ratna. Setahun setelah perkenalan pertama kami, akhirnya dia melamarku. Sesaat setelah kami menikah dan tinggal di rumah kontrakan yang sederhana, aku mendengar kabar bahwa alasan dia pindah kos adalah karena ibu kosnya ingin mengambilnya sebagai menantu. Ada was-was dalam hatiku, kekhawatiran hati perempuan yang posesif saat menikah dengan laki-laki yang digemari perempuan. Tetapi terselip bangga bahwa laki-laki ini telah memilihku sebagai pendamping hidupnya.

***

Kami membangun keluarga dari anak tangga terbawah. Baik dalam hal materi maupun emosi. Saat itu dia adalah mandor di sebuah pabrik kertas, dan aku adalah penjahit yang belum banyak pelanggannya. Usia kami yang masih belia kadang membuat riak-riak kecil menjadi besar. Dia tidak pernah rapi saat mengambil baju dari tumpukan terbawah, handuk dilemparnya begitu saja seusai mandi, dan sering sekali lupa menaruh barang-barang penting. Pernah aku sangat kesal di pagi hari karena dia panik tidak bisa menemukan kunci motor. Sampai akhirnya suamiku pergi ke kantor dengan menggunakan angkot karena kunci itu tetap raib entah ke mana. Di siang harinya, aku ingin tertawa ketika menemukan kunci motor itu. Entah bagaimana kunci itu bisa teronggok di dalam kulkas. Tapi memulai rumah tangga berdua dan jauh dari orang tua membuat kami saling mengandalkan dan menjaga satu sama lain.

Setahun setelah pernikahan kami, Tuhan menganugerahi seorang anak perempuan yang manis. Sejujurnya aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak kami dengan cukup. Aku dan suamiku hanyalah lulusan SMA. Tapi kami ingin anak-anak kami kelak bisa lebih tinggi dari kami. Dan rupanya Tuhan telah membukakan pintu rezekinya. Suamiku naik pangkat dengan pesat. Bahkan dia dipromosikan untuk studi di  luar negeri dan menjelajahi negeri-negeri lain untuk belajar mengenai pembuatan kertas yang berkualitas.

Aku melepas kepergian suamiku dengan berat. Hidup berdua dengan anak yang masih balita adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi suamiku berkata, “Kamu adalah perempuan yang kuat. Jangan banyak menangis. Karena aku ingin anakku bisa melihat dan belajar bagaimana kuatnya perempuan saat dia sudah menjadi seorang istri dan ibu.”

Selama dua tahun, kami hanya berkomunikasi lewat surat dan kartu pos. Aku selalu menyimpan surat-suratnya. Pada masa aku rindu, aku membaca lagi tulisan-tulisannya yang selalu membuatku ingin tersenyum. Suamiku adalah laki-laki humoris yang tidak pernah kehilangan alasan untuk tertawa. Ada rasa sedih dan kehilangan, melihat pasangan lain bisa jalan-jalan bersama anak-anak mereka. Aku merindukan senyum dan tawanya yang lepas tanpa beban. Tapi aku harus menjadi Hajjar yang tegar bersama Ismail saat ditinggal Ibrahim di padang tandus. Aku harus bersyukur, tidak harus berlari antara Shafa dan Marwa untuk mencari setetes air. Karena kiriman dari suamiku tidak pernah terlambat dan pesanan jahitanku sudah mulai berdatangan.

***

Setelah suamiku kembali ke tanah air, kehidupan ekonomi kami menjadi jauh lebih baik. Kami bisa membeli sebuah rumah sederhana, rumah yang sampai saat ini kami tinggali. Suamiku diangkat menjadi kepala bagian. Aku sudah bisa membeli mesin jahit yang baru dan memperkerjakan satu asisten. Setelah anak pertama kami berusia tujuh tahun, maka lahirlah putri kami yang kedua. Kebahagiaan kami terasa lengkap.

Suatu hari, aku didatangi seorang perempuan yang sedang hamil. Dia berkata, bahwa itu adalah anak suamiku. Rasanya hatiku bagai tercabik-cabik. Selama ini, aku tahu bahwa suamiku selalu menolak jika harus pergi berdua dengan teman perempuannya. Kalaupun terpaksa, biasanya dia akan meminta izin dulu padaku. Bukan. Bukan aku yang memaksanya untuk berbuat demikian. Tapi suamiku adalah laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Baginya, menjaga harga diri dan orang lain dari fitnah itu tanggung jawab setiap orang.

Tapi sekarang… Bagaimana bisa kecolongan dengan hal ini? Aku langsung menelpon kantor dan meminta dia untuk segera pulang. Dia kaget dan panik, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sesampainya dia di rumah dan bertemu dengan perempuan itu, wajahnya tampak marah tapi berusaha memendam emosi. Dia meminta perempuan itu untuk pulang. Aku menangis sejadi-jadinya. Putri pertama kami mengintip dari balik kamarnya, si bungsu masih terlelap dalam tidur siangnya. Suamiku berkata pelan, “Aku bukan laki-laki super yang memiliki dua jantung, atau lebih. Menikah dengan kamu sudah cukup membuat jantungku berdegup tak karuan tiap hari. Buat apa aku mencari perempuan lain lagi?”

Dia berusaha memelukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tangisku semakin keras, hatiku kian merana. “Aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya. Tapi sebagai bapak dari dua orang anak perempuan, rasanya aku tidak akan tega berbuat demikian. Aku pun tidak akan rela jika suatu saat anak-anakku mengalami hal seperti ini.” Dan beberapa hari kemudian, perempuan hamil itu datang lagi dan memohon maaf. Sebenarnya dia marah karena pernah ditolak mentah-mentah oleh suamiku dan akhirnya berhubungan dengan laki-laki lain. Seketika aku memeluk suamiku, meminta maaf atas ketidakpercayaanku. Dan aku ingin memeluk Tuhan, karena telah menjaga hati suamiku dari perempuan selain aku.

***

Kini usia kami sudah tidak lagi muda. Kami hidup berdua di rumah yang sederhana. Aku masih berkutat dengan jahitan-jahitanku dan suamiku menanti saat-saat pensiun. Anak pertamaku sudah menikah dan memiliki dua orang putri yang lucu, kini tinggal di luar kota. Anak keduaku masih kuliah di kota yang sama dengan anak sulungku dan sesaat lagi akan diwisuda. Entah kebahagiaan yang mana yang bisa kami dustakan.

Namun beberapa hari ini ada yang berbeda dengan suamiku. Dia lebih banyak berkutat dengan ponselnya, entah mengetik apa. Padahal aku tahu, dengan usia yang sudah lanjut, pandangannya pasti mengalami kesulitan mengetik pesan dengan tulisan yang kecil-kecil itu. Pernah aku memergokinya sedang berbicara di ponselnya dengan nada lirih seakan tidak ingin terdengar oleh orang lain, lalu buru-buru menyudahi percakapannya. Hatiku mencelos. Dan tiba-tiba mengingat istilah puber kedua, di mana laki-laki merasa punya banyak uang dan ingin membuangnya dengan sesuatu yang membuatnya merasa kembali muda. Mungkinkah…? Dengan status manajer, mungkin masih banyak gadis muda yang mau diperistri oleh suamiku. Tapi aku mengingat kejadian perempuan penipu bertahun-tahun yang lalu. Aku berusaha percaya dan menganggap itu hanya pikiranku saja.

Sampai pada suatu hari, aku tidak bisa menghubungi suamiku sama sekali. Dia pamit pergi ke kantor tapi tidak ada di sana. Ponselnya tidak aktif. Staf dan anak buahnya tidak ada yang tahu ke mana perginya. Otakku tidak bisa berpikir dengan waras, yang ada hanyalah ketakutan seorang perempuan yang sudah menopause dengan kerutan-kerutan yang semakin jelas di ujung mata, perempuan yang badannya sudah tak lagi langsing dan kencang, perempuan yang sudah berevolusi menjadi nenek tua.

Aku menelpon anak bungsuku, “Bapakmu kesana tidak?”

“Ndak, Bu. Memang Bapak ndak ke kantor tho?”

“Ndak ada. Ya sudah,” kataku singkat. Ada hasrat untuk menanyakan hal ini pada anak sulungku. Tapi siang-siang begini, pasti dia sedang mengajar. Aku tidak mau membebaninya.

Tapi perasaanku makin tidak karuan. Aku ingat mantan pacarnya pernah menelpon. Aku tidak pernah curiga apapun karena mantan pacar suamiku itu juga sempat berbicara hangat denganku. Selama ini, aku telah belajar menjadi perempuan yang percaya sepenuhnya pada suami, bahwa kebaikan-kebaikannya pada orang-orang semata-mata karena memang dia adalah orang yang hangat. Dan selama kami menikah, suamiku menunjukkan tabiat yang tidak bisa kubantah dengan kecurigaan yang berlebihan. Tapi entah apa yang terjadi jika hati suamiku benar-benar telah berubah. Perselingkuhan bukan hal bisa aku maafkan. Tiba-tiba tubuhku bergetar. Ketakutan itu menyergap seperti bunga karnivora yang mencengkram seekor serangga, lalu memakanku perlahan.

***

Menjelang maghrib, aku mendengar suara mobil memasuki garasi. Aku terkesiap. Suamiku. Buru-buru aku menyeka air mata yang sudah menganak sungai di pipiku. Dia masuk kamar, mendapati aku yang termenung di sisi ranjang. Dia terlihat begitu lelah, bajunya kusut, tapi dia tidak lupa tersenyum dan mencium pipiku, “Assalamualaikum, Mama. Masak apa hari ini?” Aku hanya menjawab salamnya dengan ringan lalu kembali terdiam. Dia masih berdiri dengan wajah bingung, lalu meletakkan tas kerjanya dan bertanya, “Ada apa sih kok cemberut gitu? Habis berantem sama pelanggan?” Aku tidak menjawab dan memalingkan muka.

Aku mendengar langkah kakinya menuju kamar mandi. Lalu insting perempuanku meliar. Aku menggeledah isi tasnya dengan degup jantung yang bergemuruh seperti sirine perang yang bertabuh. Tanganku gemetar dan berkeringat. Di dalam tasnya, hanya ada kertas-kertas pekerjaan yang biasa ia bawa dan dompet dengan isi beberapa lembar uang dan kartu-kartu, serta sebuah sikat gigi yang biasa ia bawa. Namun saat aku menarik tanganku untuk keluar dari tas itu, kelingkingku menyentuh sesuatu. Nafasku berhenti. Sebuah kotak dengan permukaan halus khas beludru. Aku menggenggamnya dengan gemetar dan mengeluarkan kotak itu. Jantungku melorot. Karena di dalam kotak itu ada dua cincin. Emas putih dengan berlian yang kilaunya indah sekali. Benarkah suamiku akan menikah lagi?

Air mataku sudah tidak dapat dibendung. Sekeluarnya suamiku dari kamar mandi, dia menatapku dengan bingung. Dia mendekatiku, memeluk bahuku, “Mama kenapa? Kok tiba-tiba nangis?” Wangi shampo yang aku suka menyeruak di segala penjuru penghidu. Tapi dadaku makin sesak, naik-turun mengikuti irama tangis yang belum menemukan alasan untuk berhenti.

Aku menampik lengannya, lalu berdiri menghadapnya yang masih duduk terbengong-bengong. Nafasku memburu, “Hari ini kamu ke mana, Mas? Pamitnya ke kantor. Tapi dihubungi di kantor ndak ada. Ditelpon ndak bisa. Kamu ke mana?” kata-kata itu meluncur secepat kilat. Pandanganku marah. Aku ingin menusuk-nusuknya dengan garpu yang tajam.

“Aku tadi izin, Ma. Ada urusan mendadak di luar kota,” jelasnya dengan terbata-bata. Wajahnya bingung. Ada sesuatu yang disembunyikan. Aku tahu.

“Kota mana? Kenapa staf di kantor tidak ada yang tahu?”

“Itu… Aduh. Mama ini kenapa sih? Kok tumben marah-marah gini?”

“Aku ngerti kalo aku udah ndak muda lagi, Mas. Udah nenek-nenek. Tapi coba kamu inget perjuangan kita dari awal! Bahkan aku ndak pernah ngeluh waktu kamu ke luar negeri selama dua tahun. Lalu ini apa? Kenapa ada sepasang cincin di tas kamu?” aku nyaris teriak sambil mengacungkan kotak cincin itu ke wajahnya.

Suamiku terkejut. Dia memandang kotak cincin itu cukup lama. Mulutnya membuka, lalu dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sejenak aku mengamati rambutnya yang sudah mulai tertutup uban. Jantungku merosot. Bagaimana bisa laki-laki masih berpikir untuk menikah lagi saat rambutnya sudah tidak hitam lagi.

Tiba-tiba bahunya terguncang-guncang, terdengar suara dari mulut suamiku. Dia tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hah! Saat ketahuan, pasti semua laki-laki seperti ini. Berlagak bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Ngapain tertawa? Ini ndak lucu, Mas!”

Suamiku berdiri dari duduknya, lalu tersenyum sambil memandangku. Dengan gerakan tangan yang ringan dan lembut, ia meraih kotak cincin dari tanganku lalu menghela nafas panjang.

“Ternyata kalo sudah tua gini, susah ya mau kasih kejutan romantis,” ujarnya. Aku makin bingung dan marah. Seperti dipermainkan. Romantis macam apa ini, membuat jantung berhenti saja.

“Tadi aku ketemu sama anak-anak. Ada sesuatu yang aku pesan dari mereka sejak sebulan yang lalu. Tapi aku minta mereka untuk jangan bilang-bilang Mama. Soalnya…” dia membuka kotak cincin itu, lalu mengambil cincin yang berukuran kecil dan memasangkannya ke jari manisku, “Bapaknya mau kasih cincin kawin lagi ke ibu mereka. Niatnya sih mau bikin lamaran kedua.”

Aku masih berdiri, tidak mengerti. Cincin kawin? Lamaran kedua?

“Ma… Maksudnya apa, Mas?”

“Ini cincin pengganti cincin kawin yang dulu kita jual untuk nambah-nambah uang beli rumah ini, Ma. Juga sebagai rasa terima kasihku, suami yang beruntung pernah lupa menjemput pacarnya dulu dan ketemu kamu, permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan sebagai suami dan bapak yang ndak sempurna, dan rasa cinta yang tidak pernah menua.”

Aku sesenggukan. Pipiku memanas. Romantisme memang bukan bagian dari pernikahan kami. Ah bukan. Aku yang tidak romantis. Tapi…

“Tapi ini dalam rangka apa? Kenapa kamu tiba-tiba…”

“Nah kan. Sekalinya marah-marah pinternya jadi ilang. Besok itu… ulang tahun pernikahan kita yang ke 30, kan?”

Sejenak darahku berhenti. Besok. Astaga. Bukan. Bukan perkara bagaimana aku bisa lupa, aku memang tidak pernah ingat. Bagiku, tanggal pernikahan bukan sesuatu yang harus diingat-ingat atau dirayakan. Cukup kujalani dengan penuh bakti kepada suami dan anak-anak. Tapi bagaimana suamiku ini bisa mengingatnya?

“Besok? Ya ampun… Aku lupa, Mas. Aku cuma takut saat kamu mulai sibuk sama ponsel dan telepon-telepon yang aku ndak tahu,” kataku di sela-sela nafas yang sesenggukan menghentikan tangis.

“Ahahaha. Aku juga sebenernya lupa. Cuma dari dulu memang pengen bikin cincin kawin lagi. Anak-anak yang maksa-maksa biar ngasih cincinnya dipasin sama tanggal pernikahan kita.”

Ada rasa hangat yang menggerayangi tubuhku. Sekali lagi kepercayaanku diuji. Sekali lagi kecurigaanku salah dan tidak pada tempatnya. Kali ini, aku ingin Tuhan lebih erat memeluk hatiku agar dijauhkan dari kecurigaan yang tidak perlu.

Laki-laki tambun itu merengkuhku dalam pelukannya dan memberi kecupan hangat di keningku, “Selamat ulang tahun pernikahan kurang satu hari, Mama…”

Perut kami yang sama-sama buncit beradu. Mungkin lucu jika melihat pasangan di usia lebih dari separuh abad, dengan rambut beruban dan tubuh yang tak lagi kencang saling berpelukan. Seperti Carl dan Ellie. Tapi tidak ada hal lain yang aku inginkan lagi saat ini. Kebahagiaan mana lagi yang bisa kudustakan. Orang tua dan anak adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa ditolak dan harus diterima apa adanya. Tapi menjalani hidup dan menua bersamanya belahan jiwa adalah pilihan. Aku dan suamiku telah memilih satu sama lain dari jutaan laki-laki dan perempuan yang hidup di dunia ini.

Dan di usia pernikahan yang tidak lagi muda, kami berdua merasa menang. Menang atas ego kami, menang atas perjuangan jatuh bangun membangun bahtera di atas gelombang yang tidak pernah berhenti, menang atas kejenuhan yang berusaha mengubah cinta menjadi mati.

Sekali lagi, aku bukanlah orang yang romantis. Dalam dekapannya, aku hanya membalas dengan pelukan yang lebih erat, dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Dia tersenyum. Dia mengerti. Bahwa di antara pelukan kami, ada hatiku yang juga berkata, “Aku bahagia telah mencintaimu setiap hari. Sampai mati.”

[Backsound: Saat Aku Lanjut Usia – Sheila On 7]

***

Moru – Alor – NTT

10 Oktober 2012

 

PS:

  • Cerita pendek ini based on true story tapi dengan beberapa modifikasi (the present wasn’t a diamond ring. We couldn’t afford it ahahaha). Cerita ini adalah cerpen pertama yang menang sayembara menulis antologi. Sehingga mohon maaf jika ditemukan penulisan yang masih (banyak) salah dan banyak yang perlu dikoreksi di sana-sini.
  • Cerita ini adalah cerpen pertama yang masuk kompilasi buku dengan penerbit mayor (meski royaltinya entah ke mana) (hiks). Sempat jadi top 10 di beberapa toko buku online, dan ternyata masih ada yang jual ahahaha…
  • Dalam buku Antologi Cinta, ada 14 cerita pendek yang bisa dinikmati. Kalo kalian pengin baca cerita lainnya, silakan (coba) pesan di sini. Ada tulisan dari Daeng Khrisna Pabichara juga, Gaes :* (ga ngerti apakah bener-bener masih bisa dipesan hehehe)
  • Keputusan mengunggah cerpen ini adalah karena alasan sentimentil.
Advertisements
%d bloggers like this: