Archive for the ‘ cerita pendek ’ Category

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Kumatikan puntung rokok yang nikotinnya sudah habis kuhisap, lalu berjalan menuju jendela. Ada sebaris cahaya yang menembus celah di antara dua bongkahan kayu yang dipaku sembarangan. Aku memicingkan mata dan mulai mengintip ke luar. Sepi. Silau. Sepertinya matahari sudah tepat sejajar di arah Barat. Matahari telah berancang-ancang mengembara ke belahan bumi lainnya. Sebentar lagi, senja akan datang.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat pedih, tepatnya.

Begitu banyak orang yang memuja senja. Tapi akulah satu-satunya orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagian. Menggoreskan jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang. Agar indahnya selalu terbawa melalui darah yang mengaliri tubuhnya. Agar ia selalu mengingatku.

“Uhuk uhuk…”

Aku menoleh ke arah suara batuk seorang perempuan di ruangan ini. Ia sedang terduduk lunglai pada sebuah kursi kayu lapuk. Rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Tapi sinar matahari yang masih belum berlalu memberikan pantulan yang nyata bagi penglihatanku. Perempuan yang jantungnya ingin kujejali senja itu sudah sangat lelah.

Perempuan itu memandangku dengan mata sendunya. Seakan ia meminta sejumput kasih sayang yang selama ini ia abaikan. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergetar. “Air. Minta air…” katanya.

Aku mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku yang lusuh, menyalakannya dengan pemantik api tua pemberian Ayah, lalu menghisapnya dengan mata terpejam. Kurasakan nikmatnya racun nikotin mencumbui seluruh sistem di tubuhku. Kepalaku melayang, meletupkan sebuah bayangan yang melenakan untuk sejenak. Dan dalam beberapa detik, aku lupa ada perempuan lemah yang menginginkan air.

Kubuka mata dan menemukan perempuan itu masih memandangiku. Kulangkahkan kaki ke arahnya. Suara sepatu pantofelku beradu dengan lantai dan menggema ke seluruh ruang yang gelap dan sunyi ini.

Dalam delapan langkah, aku sudah berhadapan dengan perempuan itu. Bersamaan dengan ia yang mendongakkan kepalanya dengan lemah, kutundukkan kepalaku. Pandangan kami beradu lagi. Ada sesuatu di dalam dada yang sangat menyesakkan. Rasanya ingin kurobek saja. Tapi aku tahu, merobek dan membuangnya akan sangat sia-sia. Perasaan yang menyesakkan ini adalah sarang laba-laba yang akan datang lagi dalam beberapa detik.

Satu-satunya cara untuk melenyapkannya adalah dengan membunuh laba-labanya.

“Air? Mau air apa? Teh? Kopi? Susu?” tanyaku dengan suara lirih. Kucoba menunjukkan rasa sayangku padanya. Meski untuk yang terakhir kali.

“Apa saja. H… Haus,” jawabnya dengan suara pecah. Mungkin pita suaranya sudah berkerut karena kekeringan.

Kini aku berlutut di depannya. Membelai pipi kanannya yang tirus karena tiga hari tidak makan. Aku menunggu balasan belaian darinya. Tapi kemudian aku tersenyum. Aku lupa, kedua tangannya telah kuikat erat di belakang punggungnya.

“Lapar juga?” tanyaku.

Ia mengangguk dengan cepat.

Aku terkekeh. Kuhisap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, lalu menghembuskan asapnya ke wajah perempuan itu. Ah, rupanya ia tidak suka. Ia langsung memalingkan wajah dan terbatuk-batuk.

Dengan cepat, kuraih wajahnya menggunakan tangan kiriku, memalingkannya hingga wajahnya berhadapan dengan wajahku, “Kapan terakhir kali kamu menanyaiku apakah aku kelaparan? Kapan terakhir kali kamu menyediakanku makan? KAPAN?”

Dapat kurasakan tubuhnya menggeliat. Wajahnya tampak kesakitan. Kulepaskan cengkraman tanganku dari wajahnya dan menghembuskan asap rokokku padanya sekali lagi.

Aku bangkit dan berjalan ke seberang ruangan, seiring dengan ia yang mulai menangis. Tangisannya pilu. Terdengar penuh penderitaan dan dibumbui secuil sesal di dalamnya. Menyesalkah ia? Aku meragukannya.

Dari sebuah meja kayu bundar, kuraih segelas air putih di atasnya. Aku kembali ke hadapannya dan berlutut lagi. Kuteguk sedikit air putih di gelas, lalu kutempelkan ujungnya ke bibir perempuan itu. Aku tertawa melihatnya meneguk habis air itu hingga ia tersedak dan terbatuk-batuk.

“Lihat, tidak usah disuruh dua kali, aku sudah mengambilkanmu air minum ini,” kataku sambil mengacungkan gelas kosong yang kupegang ke arahnya.

“Lalu mengapa Ibu tidak pernah mendengarkan permintaanku untuk kembali ke rumah? KENAPA? DASAR PEREMPUAN BUSUUUK!”

Aku berteriak tepat di depan wajahnya. Sebagian dari dahi dan pipinya tercemar bilur-bilur salivaku yang terlontar keluar bersama kemurkaan yang telah kupendam sekian lama. Napasku memberat, seakan membawa bongkahan lara yang selalu bertambah selama tiga puluh tahun.

Aku bangkit. Memandanginya yang menunduk dan tersedu. Sekelebat bayangan Ayah kembali mengambang di kepalaku. Ayah yang baik dan selalu merana. Ayah yang selalu tersenyum dan memiliki segudang cinta.

Aku mengambil sebuah kursi kayu yang teronggok di bawah jendela. Lalu menyeretnya hingga berada tepat di depan ibuku. Kupandangi wajahnya sekali lagi. Air mata itu masih mengalir.

“Apa salahku hingga Ibu sama sekali tidak mau merawatku?” tanyaku. Rasa pedih menyusup melalui kata yang kuucapkan. Perasaan tidak diinginkan itu datang lagi.

Perempuan di hadapanku ini memang telah mengijinkanku hidup di rahimnya selama sembilan bulan. Tapi selebihnya, aku nyaris tidak pernah merasa kasih sayangnya. Aku tidak pernah merasakan air susunya. Aku tidak pernah dibelai di pangkuannya hingga tertidur. Aku tidak pernah didekap ketika menggigil dan kesakitan.

Sebagai anak-anak, dulu, aku terus menunggu uluran tangan yang merengkuhku ke pelukannya. Tapi pada akhirnya aku tahu. Sudah tiba saatnya aku menyadari bahwa aku tidak pernah memiliki seorang ‘ibu’ ketika anak-anak di sekolahku memanggilku dengan sebutan ‘anak pelacur’.

“Masih ingat Ayah?” tanyaku dengan geram.

Aku menunggu jawaban darinya, sambil menikmati isapan rokok yang tinggal separuh. Tapi Ibu tetap tertunduk dengan tangisnya. Air mata membasahi bibirnya yang kering. Aku meragukan, apakah air mata itu juga mampu membasuh hatinya yang kerontang.

“Ayah tidak pernah berhenti menunggumu pulang. Setelah shalat Isya, Ayah selalu duduk di teras rumah sederhana kita. Pandangannya tidak pernah lepas dari gapura gang. Ia sangat menginginkanmu muncul dari sana.”

Dadaku kembali disesaki sarang laba-laba. Ingatanku melayang pada kebiasaan Ayah. Sepulang dari masjid, Ayah selalu menunggu Ibu pulang. Lengkap dengan sarung berwarna biru dan bermotif kotak-kotak yang sudah usang dan sebuah peci hitam yang berlubang.

Entah sejak kapan, aku selalu membuatkannya segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng sebagai teman penantiannya. Dan sejak saat itu, nikotin adalah sahabat kami berdua dalam melalui masa-masa sulit. Kami adalah dua laki-laki yang dikhianati satu perempuan yang sama.

“Sudahlah, Yah. Cari istri lagi,” kataku di suatu malam. Tapi Ayah hanya menjawabnya dengan senyuman. Hatiku mencelos. Ayah tidak pernah lelah menanti.

Kupandangi lagi wajah Ibu dengan lekat. Diselingi sebuah rasa jijik pada perempuan, yang kutahu, sudah lama telah mati hatinya. “Tapi memang… kadang-kadang penantian Ayah tidak sia-sia. Ibu pernah pulang,” kataku.

“Tapi tidak sendirian. Aku sempat mengira, aku ini dilahirkan oleh perempuan setan, yang tega kembali ke rumah suaminya bersama laki-laki lain di pelukannya!”

Sebuah perasaan marah kembali menggelegak. Marah karena ketidakberdayaan Ayah. Aku muak pada Ayah yang hanya menatap hampa ketika Ibu melewati pintu rumah dalam keadaan mabuk bersama pria yang bergonta-ganti, lalu menempati kamar yang seharusnya hanya ditiduri Ibu dan Ayah.

Sebagai laki-laki, aku bisa menyebut bahwa Ayah adalah laki-laki lemah yang telah dicucuk hidungnya. Seharusnya Ayah bisa menampar perempuan ini, atau menyeretnya ke pengadilan dan menceraikannya tanpa rasa hormat. Ayah adalah pria pedagang yang terhormat. Seharusnya tidak perlu tunduk dan merendahkan harga dirinya di hadapan perempuan macam Ibu.

Tapi ayahku adalah laki-laki yang lembut hatinya. Lebih lembut dari perempuan yang seharusnya memeluk keluarganya dengan kasih sayang. Lebih lembut dariku yang tumbuh tanpa mengenal cinta dan kata maaf.

“Ibu pasti sudah tahu, kan? IBU ADALAH IBLIS!” teriakku. Suaraku menggema di ruang yang menggelap, dihiasi suara Ibu yang meraung-raung dan menangis. Dan tangisannya membuat perasaan marahku menjadi-jadi.

Kucoba menenangkan diri dan menoleh ke arah jendela. Rupanya, malam telah tiba. Aku berjalan ke arah pintu dan menyalakan lampu bohlam lima watt yang tergantung tepat di atas kepala Ibu.

Wajahnya kini terlihat jelas. Perempuan berusia lima puluh tahun ini memang masih cantik. Terlepas dari kulitnya yang kusam karena sudah tiga hari kusekap di rumah tua yang pengap dan berjamur ini, ia masih terlihat cantik. Kecantikan yang melenakan para lelaki muda hidung belang. Kecantikan yang diijinkan Ibu sebagai alasan, wajahnya adalah modal untuk mencari uang.

Inilah perempuan yang pernah kutinggali rahimnya. Inilah perempuan yang telah merendahkan suaminya. Inilah perempuan yang telah membuang hatinya dan membiarkan anak laki-lakinya meraung-raung meminta kasih sayang.

“Maaf, Le… Maafkan Ibu…” rengeknya dalam tangis yang pecah seperti harapan yang jatuh karena tak kunjung tertangkap. Aku menemukan secuil harap itu, bercampur dengan sesal dan permohonan maafku. Aku bisa mendengar bahwa dadanya telah sesak. Seperti ada rongga tertutup yang dihujani air comberan. Mungkin, sekarang tubuh Ibu sudah ingin meluapkan rasa bersalah yang begitu besar. Rasa bersalah yang ia abaikan selama bertahun-tahun.

Tapi bukan itu yang aku mau. Aku sudah tidak ingin mendengar penyesalannya. Sudah terlambat jika penyesalan itu datang sekarang.

“Seharusnya, Ibu minta maaf pada Ayah,” tukasku dengan gemas. Kepalan tanganku mengeras mengingat bagaimana menderitanya Ayah selama bertahun-tahun. Bahkan hingga kematiannya. Tanpa terasa, bilur air merebak di sudut mata.

“Ayah mau mengasuhku, anak yang bukan anak kandungnya. Anak yang Ibu bawa setelah dihamili pemuda hidung belang. Ayah merengkuhku dengan kasih sayang meski aku bukan siapa-siapa.”

Tangisku meledak. Seiring dengan perasaan terluka ketika mengetahui bahwa tidak ada darah Ayah yang mengaliri tubuhku. Sebuah perasaan terbuang dan dipungut. Aku adalah anak anjing yang ditinggalkan ibunya. Dan Ayah adalah tuan yang memberiku makan, menyediakanku rumah dan pendidikan, dan membelaiku dengan kedua tangannya yang penuh dengan permata dan kasih sayang.

“Ibu tahu bagaimana Ayah meninggal? Bertahun-tahun ia menderita karena batuk. Hingga akhirnya Ayah mengeluarkan dahak bercampur darah. Kanker. Penyakit yang mengambil daging dari tubuh Ayah dan menyisakan tulang belulangnya saja. Seharusnya kamu tahu kondisi Ayah saat itu. SEHARUSNYA KAMU LIHAAAT!”

Kubanting gelas kaca yang dari tadi kupegang, tepat di depan kakinya. Suaranya diredam teriakan Ibu yang memekik dan mengumbar ketakutan. Pecahan kacanya memantul dan mengenai kulit pipi kanan Ibu hingga berdarah.

Aku tersenyum.

Darah itu tidak seberapa, Bu. Ibu harus tahu, bahwa perasaanku dan Ayah telah lama tergenang darah dan air mata karena tabiat Ibu yang lebih buruk dari binatang!

“Tapi bagaimanapun, kamu tetap Ibuku. Perempuan yang melahirkanku. Guru agamaku pernah bilang, seburuk-buruknya seorang ibu, tetap harus dihormati.”

Kurengkuh dagunya dan mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi, “Saat guru itu kutanya ‘meski ibuku seorang pelacur, apa tetap harus kuhormati?’ Guru agama bilang, ‘iya’.”

Aku berdiri, menegapkan tubuh dan meletakkan telapak tangan kananku di pelipis, “Jadi lihat ini… Aku sudah hormat sekarang. Sudah cukup? Ahahaha…”

Di antara tawaku yang belum usai, tangisan Ibu merebak dengan sangat merdu, “Maafkan Ibu, Le… Ibu menyesal…” Tangis penuh sesal yang selama ini kutunggu hingga bosan. Hingga sudah tidak ingin kudengar. Tangisannya malam ini terasa sebagai nyanyian. Dan tawaku semakin menyala-nyala.

“Iya, aku memaafkan Ibu. Aku mencintai Ibu. Selama tubuh Ibu dihinggapi setan, Ayah tidak pernah mengajariku tentang rasa muak, jijik, atau marah, meski rasa itu ditujukan pada Ibu,” lirihku. Kuusap bahu Ibu. Kubelai pipinya yang berdarah. Kukecup dahinya yang berkeringat dan mengigil ketakutan. Aku menemukan rasa ingin dikasihani di dalam telaga matanya. Bukan cinta.

Cinta itu tidak ada. Dan aku kecewa.

“Selama ini, Ayah yang mengajariku tentang cinta. Cinta itu mau menunggu. Meskipun tidak akan pernah tahu, apakah penantiannya tidak berbuah dan sia-sia. Dan kamu… Ibu… mengajariku tentang bagaimana menyia-nyiakan cinta dan penantian itu. Dengan cara yang sangat sempurna.”

Kudekap tubuhnya yang gemetar. Aku ingin memberitahunya, bahwa inilah pelukan seorang anak laki-laki yang merindu. Dalam sebuah pelukan yang semakin erat ini, aku ingin berbicara. Bahwa aku mencintainya.

“Aku mencintaimu, Bu. Jika kemarin engkau belum tahu, saat ini kukatakan padamu. Aku mencintaimu,” kataku, sambil mengecup pipinya yang basah oleh air mata.

Ibu meraung-raung. Tubuhnya terguncang-guncang di pelukanku. Mungkin, ia ingin membalas rengkuhanku itu dengan kedua tangannya. Tapi sengaja, belum kubiarkan kedua tangannya bebas.

Beginilah rasanya tidak bisa memeluk, Bu. Begini rasanya menjadi aku selama bertahun-tahun.

Perlahan, aku melepas pelukanku. Kuraih sebuah parang besi yang tergeletak di samping kursinya. Parang yang sudah kusiapkan sejak tiga hari yang lalu. Parang yang telah kuasah dengan rasa cinta. Bersama sejuta amarah di dalamnya.

“Karena aku mencintai Ibu, tidak kuijinkan Ibu menyakitiku lagi. Atau menyakiti siapapun.”

Kuayunkan parang yang mengilat. Ibu memekik kesakitan ketika parang itu menembus dan memotong kedua tungkainya. Teriakannya menyayat hati. Mungkin hatinya, bukan hatiku.

Bau anyir darah menyeruak. Lebih kuat dari yang kukira sebelumnya. Bau darah itu mengandung luka dan kehilangan. Kehilangan yang tidak akan hilang selamanya.

“Maaf, Le. Maaf… Ibu bersalah. Ibu salah… Hentikan, Le… Berhenti… Sakit, Le… Sakiiit…” rengeknya.

Aku terkekeh geli. “Persetan dengan rasa bersalahmu. Tiga puluh tahun aku menunggu. Tiga puluh tahun aku merasa sakit karena celaan dan hinaan orang-orang terhadapku. Aku sakit karena Ibu tidak mau melihatku! Tawaranmu sekarang sudah kadaluarsa, Bu!”

Kuhantamkan lagi parang yang berdarah-darah ke dada Ibu. Teriakan Ibu semakin memanjang dan memekakkan telinga. Lalu perlahan memelan dan tiada.

Aku mencintaimu, Bu. Sangat mencintaimu. Malam ini, kuakhiri dosamu dengan melumurkan dosa di kedua tanganku.

Kupandangi tubuh Ibu yang berdarah-darah. Wajahnya pucat, matanya terbelalak dengan begitu mengerikan, dan napasnya sudah tidak lagi ada.

Napasku memelan. Ada rongga yang mengembang bebas. Bertahun-tahun rasa kecewa, muak, jijik, dan amarah ini bercampur dan mengaduk-aduk hidupku. Seperti laba-laba yang menyarangkan jaringnya setiap saat dan menyesakkan ruang di dadaku.

Malam ini, laba-laba itu kubunuh dengan kedua tanganku.

Kuseret mayat Ibu ke halaman belakang dan membiarkannya tergeletak di atas tanah. Kusiram mayat itu dengan dua ember air, lalu kubalutkan kain putih pada tubuh mayat Ibu yang sudah telanjang. Kuberikan empat kali takbir untuknya, bersama tangis penuh dendam yang rasanya belum terbayar.

Kugali tanah kosong di sampingnya dengan cangkul yang berkarat. Ada sedikit harap yang mencuat, bahwa dengan mengubur Ibu, rasa pedih ini juga terpendam dalam-dalam.

Nanar, kupandangi gundukan tanah yang masih basah. Guru agamaku bilang, meski seorang pelacur, tetap ada surga di bawah kedua kaki Ibu. Sudah kukubur tubuhmu dengan sholat dan doa sebagai penghormatan terakhir, Bu.

Kecuali kedua kakimu. Akan kugantung di langit-langit kamarku.

***

Probolinggo, April 30th 2013

Advertisements

Kupu-kupu di Wajahmu

“Selamat pagi.”

Aku baru saja akan melanjutkan tidur sebelum mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Jantungku bergedup. Refleks kukenakan kupluk biru yang teronggok di samping bantal. Kujejalkan topi rajut itu ke kepalaku yang hampir tak berambut lagi.

“Oh. Halo,” ujarku canggung.

Ivan tersenyum sambil berjalan ke arah ranjangku. Diletakkannya serumpun bunga berwarna merah dan ungu di pangkuanku. Kelopaknya yang tipis tapi lentur masih basah oleh embun tadi pagi. Wanginya juga masih terasa begitu segar. Seperti ada kekuatan dan harapan yang tengah meliuk dan menelusup ke dalam penghidu.

“Tadi papasan sama Tante. Katanya mau pulang dulu dan aku langsung disuruh masuk. Eh iya… Apa kabar?” tanyanya.

Ingin sekali menjawab bahwa seketika nyeri di persendian tiba-tiba menghilang melihat kedatangannya. Tapi yang meluncur dari mulutku hanya, “Seperti yang kamu lihat,” sambil terburu-buru menutupi kedua kaki yang membengkak dengan selimut loreng putih-biru.

Lelaki yang kukenal sejak kecil itu mengalihkan pandangannya menuju tanganku yang terpasang venflon. Senyumnya tertahan. “Pakai beginian sakit, ya?” tanyanya sambil menyentuh ragu selang yang terjulur ke botol infus.

“Ehm… sekarang sih enggak. Tapi kalau lagi pulse methyl… itu baru kerasa sakit.” jawabku. Aku menunggu Ivan bertanya apa itu pulse methyl. Tapi lelaki di depanku hanya menggangguk-anggukkan kepala.

“Kapan masuk kuliah lagi?”

Pertanyaan Ivan membuat hatiku mencelos. Kuliah. Sudah dua bulan kutinggalkan kosa kata itu entah di mana.

Kupalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Mengamati seekor kucing rumah sakit yang sedang berjemur di taman. Rambutnya yang berwarna kuning menjadi keemasan ketika sinar matahari menempa tubuhnya.

Sinar matahari. Betapa hal sesederhana itu sangat kurindukan. Air mata mulai menggenang. Hah! Khas manusia. Menyesal ketika mulai kehilangan kesempatan.

“Iris. Nama bunga itu adalah Iris,” jelasnya tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. Lalu memandangi bunga-bunga Iris yang masih duduk manis di kedua tanganku. “Oh. Seperti judul lagu Goo Goo Dolls.”

Ivan tergelak mendengarku. “Ya ya… Seperti lagu Goo Goo Dolls. Tapi ternyata Iris lebih hebat dari John Rzeznik yang tiba-tiba potong rambut demi lagu itu.”

Mendadak perhatianku teralih. Pikiran tentang kucing yang sedang berjemur telah tergantikan oleh Iris. “Apa?”

Ivan menarik napas panjang. “Dulu, mungkin saat nasib dan hidup kita berdua belum direncanakan, ada seorang pelukis yang depresi dan terasing. Dia gila. Atau paling tidak, orang-orang menyebutnya gila.”

Ivan berhenti sejenak, menimbang apakah harus meneruskan ceritanya.

“Lalu?” tanyaku.

Ivan tersenyum dan meneruskan kembali kisahnya, “Suatu hari, ia melukis sebuah mahakarya. Sebuah padang yang dipenuhi bunga Iris. Lukisan di mana tertuang sisa-sisa kewarasannya di atas kanvas.”

Napasku memberat. Percaya atau tidak, sejujurnya aku tidak sudi disamakan dengan orang yang pernah gila. Tapi sepahit atau sesedih apapun, bukankah sebuah kisah itu selalu ada yang menarik untuk disimak hikmahnya?

“Tapi siapa sangka, dari puing-puing kewarasan yang disusun di rumah sakit jiwa, lukisan Iris justru dikenal sebagai lukisan yang cantik, mewakili perasaan dan kehidupan.”

Kembali kupalingkan wajah ke luar jendela. Kucing berambut kuning sudah tidak ada di sana. Mungkin dia mengembara ke sela-sela dapur untuk mencuri sepotong ikan. Demi bertahan hidup, seekor kucing bisa melakukan segalanya. Dan demi bertahan hidup, aku hanya bisa bergantung pada obat-obatan menyakitkan yang jumlahnya tidak pernah berkurang.

“Mereka… orang-orang yang dulu kukira teman… merasa jijik denganku setelah tahu aku kena Lupus. Mereka menjauh karena rambutku yang rontok perlahan. Mereka menjauh dari kulitku yang memerah dan mengerikan bila tertempa matahari. Bahkan… mereka memanggilku kepiting rebus.”

Suaraku tercekat saat mengatakan ini. Lalu kuingat bagaimana lelahnya menahan sakit kedua lutut yang terasa akan terlepas dari tempatnya. Tentang kulit yang memerah dan seakan terbakar setiap terpapar matahari. Sariawan di mulut yang tidak memudar. Air mata yang menggenang kini jatuh dan membabi buta. Ah, perempuan! Dipancing dengan cerita tentang bunga saja sudah terharu tak keruan.

Namun tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada tangan yang menggenggam tanganku, menenangkannya saat gemetar begitu hebat. “Mereka berbohong. Tidak ada panci yang muat untuk merebusmu,” ujar Ivan.

Aku tergelak, bahkan hampir tersedak air mataku sendiri. Dasar, Ivan! Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuatku merasa lebih baik.

“Enak aja! Kamu juga canggih banget ngomongin dongeng  pasti nyontek dulu, kan?” ledekku, berharap dia akan ikut tertawa bersamaku.

Namun Ivan hanya menyunggingkan senyum kecil dan memandangiku. “Aku tidak akan pernah paham rasanya menderita sakit seperti yang kamu alami. Tapi aku yakin, Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata, Na.”

Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata.

Ada sebuah ruang yang tiba-tiba menyesaki dada. Ruang itu dipenuhi doa dan harapan yang selama ini tak berani kuungkapkan. Jika pelukis gila tadi bisa menyelamatkan sisa kewarasannya lewat lukisan, maka aku pasti bisa menyelamatkan harapan juga. Tidak muluk-muluk. Harapan untuk bisa menikmati sinar matahari pagi. Itu saja.

Tiba-tiba kudengar Ivan bergumam lagi. “Lagi pula… bila itu kamu, maka bukan kepiting yang direbus. Itu adalah kupu-kupu.”

“Hah? Oh… Iya…,” lirihku sambil menutupi ruam merah yang mulai menjalar di kedua pipiku dengan masker berwarna biru. Entah mengapa… Padahal tidak ada sinar matahari yang menerobos ke kamarku.

“Dan… aku menyukai kupu-kupu di wajahmu.”

Lalu kami berdua terdiam. Ruangan berdinding putih dan dingin ini seakan turut membuat suasana menjadi hening.

Dan kupu-kupu di wajahku beterbangan… menyelinap masuk hingga ke lambungku.

***

Malang, June 9th 2014

* Cerita tentang lukisan bunga Iris adalah berdasarkan lukisan Irises oleh Vincent Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889.

** Cerpen ini dibuat dalam rangka ‘pemanasan’. Ahahaha *gemeter*

Lukisan Tanpa Warna Merah

Kepalanya berdenyut. Pusing. Sudah seharian kuasnya menari di atas kanvas, tetapi ada sesuatu yang tidak pas. Berkali-kali ia mengamati lukisan yang dikerjakannya. Berusaha mengartikan keganjilan yang dibuatnya sendiri. Tapi tetap saja. Nihil. Otaknya buntu.

Ia menyerah. Perempuan itu melemparkan kuas yang sedari tadi dipegangnya ke tumpukkan tube cat minyak yang mulai gepeng karena isinya hampir habis. Lalu menghempaskan diri di atas kursi anyaman bambu yang menghadap pantai, menyalakan sepuntung rokok filter, lalu mengisapnya dengan syahdu.

Perempuan itu memejamkan mata. Menajamkan telinga. Ia ingin menangkap semua suara yang ada. Debur ombak yang memburu. Daun kelapa yang dibuai angin. Serta senda gurau dua remaja di mabuk cinta yang bekejaran di tepi pantai.

“Iiih… udah, ah. Capek kejar-kejaran terus,” kata remaja perempuan. Suaranya begitu manja dan ia seperti sengaja memanjangkan suku kata di akhir kalimat dengan intonasi yang menggemaskan.

“Segitu aja udah capek. Aku dong, nggak pernah capek ngejar-ngejar kamu…” ujar remaja laki-laki. Suaranya terdengar begitu jumawa dan percaya diri. Diikuti dengan gelak tawa remaja perempuan, tersirat malu-malu di dalamnya.

Perempuan pelukis tersenyum sinis mendengar obrolan mereka.

Young love.

Cinta yang memburu seperti ombak, dan mudah terbuai oleh kata-kata mutiara. Cinta naif yang menggebu.

Kalian belum mengerti, bahwa akan ada saatnya cintamu memburu hati yang salah.

Perempuan pelukis tidak lagi seorang pemburu. Ia memilih menghindari belantara dan menghempaskan diri ke dasar samudera. Membiarkan kata-kata mutiara itu terlepas dari dirinya dan kembali ke lautan.

Tiba-tiba pintu ruang pribadinya terbuka secara paksa. Pelukis perempuan itu terhenyak dan menghentikan lamunannya. Ia hampir saja menjatuhkan rokok dan menghancurkan karpet beledu favoritnya ketika melihat siapa yang datang.

Seorang perempuan menerobos masuk. Tanpa mengucapkan salam atau permisi. Semua pasti setuju bahwa perempuan ini mirip musang. Mukanya tirus, kempot dan kisut seperti buah yang disesap habis airnya. Gigi depannya mencuat sehingga membuatnya susah menutup mulut. Wajahnya kaku karena riasannya begitu tebal, seakan retak jika ia menggerakkan otot wajahnya meski sedikit saja. Blouse yang dikenakannya begitu ketat. Seolah tidak ada ruang baginya untuk bernapas. Dan suara sepatu berhak tingginya… sangat mengganggu. Beradu dengan kerasnya lantai kayu. Tak-tuk-tak-tuk. Membuat langkah kakinya seperti irama ketukan pemanggil kematian.

“Gimana jawaban untuk tawaranku, El? Sudah kau pikirkan?” tanya perempuan berwajah musang itu. Si perempuan musang bahkan tidak memandang perempuan yang dipanggilnya El. Matanya jalang. Liar mengamati ruangan yang baru saja ditapakinya.

Perempuan yang dipanggil El memalingkan muka. El memijit-mijit keningnya. Sial. Rupanya perempuan berwajah musang ini tidak bisa membaca tanda Don’t Disturb yang tergantung di pintu.

El kembali memandangi pantai dan buruannya. Wajahnya masam. Jelas sekali ia tidak menyukai kehadiran si perempuan berwajah musang. El tidak mau ambil pusing, atau repot-repot menanggapi perempuan berwajah musang itu. Ia kembali menumpuk nikotin ke dalam tubuhnya. Dan berpura-pura, seakan perempuan musang itu tiada.

Perempuan berwajah musang memandang El dengan mata yang menyipit. Mulutnya mencibir, “Jangan jual mahal. Kapan lagi ada yang berbaik hati memberi fasilitas mewah untuk pelukis amatir seperti kamu?”

El tetap bergeming. Bukannya El tak peduli. Justru ia sangat peduli. Peduli tentang bagaimana caranya mengenyahkan perempuan musang ini secepatnya.

Persetan dengan tawaranmu. Sekali pun aku tidak akan sudi direndahkan di bawah kakimu.

El menyesap rokoknya dengan mata terpejam. Menikmati aliran racun tembakau yang mulai mengisi alveoli. Racun itu membawa serta kenangan-kenangan buruk. Di dalam kelopak matanya, kini sebuah piringan hitam dimainkan. Menyanyikan sebuah lagu luka. Luka yang seharusnya telah tenggelam bersama hatinya.

Tapi sikap dingin dan angkuh El tidak menyurutkan semangat perempuan berwajah musang. Dahinya berkerut, ujung bibir kanannya terangkat, raut mukanya menunjukkan bahwa ia semakin penasaran.

Kini perempuan berwajah musang melempar tas mahalnya ke sebuah kursi bambu di sebelah El. Lalu berjalan menuju salah satu lukisan abstrak. Sebuah pusaran tak beraturan yang didominasi warna merah dan hitam. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Dahinya berkerut, “Lukisan ini terlihat sangat… Marah. Kamu sedang memikirkan siapa saat melukis ini, El? Suamiku? Ahahaha…”

El membuka matanya. Kata-kata perempuan berwajah musang tadi sangat mengganggunya. Rahangnya menegang, hingga terdengar gigi yang beradu. Kedua tangannya mengepal sangat keras, hingga kuku jari yang dipotong serampangan meninggalkan jejak di telapak tangannya. Dan yang membuatnya semakin geram adalah perubahan sikapnya menunjukkan bahwa ia terluka. El tidak suka perempuan berwajah musang itu berpikir mampu melukai hatinya. Tapi terlambat. Kata-kata peremepuan berwajah musang memang tepat pada sasaran.

Perempuan berwajah musang tampak bahagia kalimatnya tadi menusuk pada titik yang tepat. Ujung bibir kanannya mencuat ke atas, membentuk seringai yang mengerikan. Otaknya berpikir banyak hal. Dan semuanya tentang bagaimana caranya memenangkan pertarungan hari ini.

Kini ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu berjalan pelan, mendekati El yang mematikan puntung rokoknya, “Apa tawaranku terlalu kecil untukmu, El? Dengar… Tidak ada tawaran yang lebih baik dari ini. Aku telah berbaik hati meminjamkan galeri lukisku padamu. Kamu bisa melukis sebebas-bebasnya. Dan hasil karyamu akan langsung dipamerkan. Bukankah itu hebat?”

El bangkit dari duduknya, berjalan menuju kanvas yang seharian dikerjakannya. Ia duduk bersila dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Padahal, di dalam dadanya, kini terdapat jantung yang bergemuruh. Ia membersihkan beberapa kuas cat, merapikan tube cat minyak yang berantakan dan berharap perempuan berwajah musang ini segera angkat kaki dari pondoknya.

Tapi perempuan berwajah musang bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tidak akan pergi sebelum keinginannya terkabul. Bukan. Dia bukanlah orang yang mau berbaik hati menawarkan bantuan pada perempuan yang pernah menjadi selingkuhan suaminya. Perempuan berwajah musang itu hanya ingin melihat El terjajah di depan matanya.

Ia mengambil sebatang rokok dari meja El. Menyulutnya, lalu mengisap perlahan. Sejenak ia menikmati pantai yang sudah sangat lama tidak disinggahinya. Matanya menangkap sepasang remaja yang duduk di sebuah bangku kayu. Tertawa bahagia sambil berbagi sebuah kelapa muda dengan dua batang sedotan.

Young love.

Perempuan berwajah musang memicingkan matanya. Memandang sepasang remaja itu dengan kecemburuan tiada tara. Mulutnya mengatup begitu erat, seakan menahan kekecewaan karena tidak bisa mengecap keindahan cinta yang hanya tahu tentang berbagi, bukan saling meminta. Kalian belum tahu, bahwa kesetiaan adalah barang yang langka. Bahkan aku harus bisa membelinya dengan harga yang sangat mahal. Seperti yang kulakukan pada suamiku.

“Tapi jangan harap kamu bisa menggoda suamiku seperti dulu, El. Dia sudah seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Dia tahu pada siapa dia harus meletakkan kesetiaan. Karena tanpa aku, dia hanya laki-laki payah yang hanya bisa makan dan mendengkur,” kata perempuan berwajah musang. Lirih. Seakan ia mengucapkan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Sebagai sebuah kebanggaan karena mampu membeli hati suaminya. Atau sekedar peringatan bahwa yang dimilikinya hanya sekedar bayangan.

Pikiran El membuncah. Dadanya sesak karena api amarah yang menyala-nyala. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan berwajah musang ini tampak begitu bahagia menyampaikan hal yang menyakitkan. Jantungnya mencelos. Sakit. Ketika memorinya memanggil lembaran kenangan tentang bagaimana cara perempuan berwajah musang ini mempermalukannya di depan umum. Menjambak rambutnya, menyeretnya keluar dari restoran dan menyebutnya pelacur.

Benar, suamimu hanya bisa makan dan mendengkur. Setelah menipuku dan berkata bahwa ia belum pernah menikah, laki-laki busuk itu hanya berdiri mematung ketika melihatku diperlakukan seperti anjing.

“Meski nantinya nama yang harus tertera di lukisanmu adalah namaku, aku tetap memberimu upah 30% dari hasil penjualan. Aku rasa, 70-30 adalah pembagian yang adil, mengingat fasilitas yang kamu gunakan adalah milikku.”

“Jika kamu merasa hebat, gunakan lukisanmu sendiri.”

Akhirnya El tidak tahan untuk menahan kata-katanya lebih lama. Harga dirinya pernah terbuang percuma. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.

Perempuan berwajah musang menoleh, memandangi El dengan tatapan berbinar. Ia merasa bahwa umpan-umpan yang dilemparkannya telah berhasil menangkap ikan terbesar yang ia inginkan. Dalam hati, ia berharap segera membawa ikan itu pulang, dan mengawetkannya bersama rasa sakit dan lara setelah dikhianati oleh suami dan selingkuhannya.

Sampai saat ini, perempuan berwajah musang tidak bisa melupakan ejekan dan pandangan negatif publik terhadap dirinya. Seniman sukses yang gagal mempertahankan cinta. Ironis. Lukisan-lukisannya selalu bercerita tentang romantisme. Tetapi romantisme hanyalah cadar pernikahannya yang tidak pernah bahagia. Dan ketika romantismenya dikhianati, ia memilih menggunakan romantisme yang sama sebagai kamuflase. Demi nama baik dan karirnya.

“Seniman sibuk dan terkenal sepertiku tidak punya banyak waktu untuk melukis. Kamu pikir semua yang dipamerkan itu murni lukisanku? Jangan naif, El! Ahahaha…”

“Sampah!”

“Sudahlah… Jangan menilai dirimu terlalu tinggi. Selain jadi selingkuhan, kamu hanya pelukis amatir yang memasrahkan nasib pada orang yang salah. Goresan kuasmu memang indah, El. Tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang lukisan. Lihat saja… Menyimpan lukisan di ruang terbuka yang terpapar sinar matahari, di dalam rumah bambu pinggir pantai yang udaranya bersifat korosif. Kamu pikir lukisan itu sekedar barang dagangan?”

Tanpa sadar, El mematahkan sebuah kuas yang digenggamnya dengan sangat erat. Perempuan ini kurang ajar sekali. Tahu apa dia tentang lukisan jika dia sendiri menggunakan lukisan untuk mencederai hati orang lain?

“Ini lukisan yang sedang kau kerjakan, El? Hmmm… Ada yang kurang. Tidak ada harmoni dalam warnanya. Mungkin akan sempurna jika kamu mengerjakannya di galeriku. Tentu saja jika kamu tidak terlalu sibuk merayu suamiku.”

Tiba-tiba saja perempuan berwajah musang ini sudah berdiri di belakang El yang membungkuk dan membersihkan kuas-kuasnya. Kepala perempuan berwajah musang itu menunduk, matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum yang menjijikkan. Ia berkacak pinggang selayaknya majikan yang berkuasa pada bawahan yang tak berharga.

Keparat!

Emosi El meluap dan tumpah tak terkendali. Tidak ada ruang kosong di tubuhnya. Semua terisi benci dan amarah yang buihnya menggelegak.

“Jadi gimana, El? Aku sudah membawa kertas kontrak. Kamu tinggal tanda tangan dan semua beres. Aku akan segera…”

Belum sempat perempuan berwajah musang itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba El menghantam kepalanya dengan easel kayu mahoni. Perempuan berwajah musang terhuyung mundur. Keseimbangannya jatuh. Tubuhnya luruh dan menghantam lantai kayu.

El gelap mata. Ia mendaratkan pukulan sekali lagi. Tepat di bahu perempuan berwajah musang. Dan sekali lagi. Memukulnya tepat di pelipis perempuan berwajah musang hingga berdarah-darah.

Mata El meliar. Bau anyir darah mengingatkannya pada janin yang digugurkan secara paksa oleh laki-laki bangsat yang hanya tahu makan dan mendengkur. Nyeri dan sakit hati yang dirasakannya selama berbulan-bulan, kini dipindahkan lebih hebat pada perempuan busuk yang sudah terkulai. Berkubang darah dan tanpa nyawa.

El terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Matanya nanar memandang sekeliling. Cipratan darah di mana-mana. Bahkan di wajahnya.

El dan perempuan berwajah musang tidak menyadari bahwa mereka adalah perempuan yang sama-sama terluka. Dengan cara yang berbeda. Perempuan berwajah musang memilih untuk memiliki cinta yang menghancurkan. Dan El, memilih menghancurkan diri dengan mencintai cinta yang tak bisa dimiliki.

Pandangan El berhenti pada lukisan yang belum selesai dikerjakannya seharian. Senyumnya mengembang. Langkahnya terayun pelan. Jari tangannya meraih sebuah kuas yang tergeletak tepat di samping mayat perempuan berwajah musang.

“Benar. Paduan warna di lukisanku ini belum memiliki harmoni. Karena aku baru ingat. Aku kehabisan cat warna merah.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 11th 2013

 

* Cerpen ini pernah dimuat di Random 2: Payudara Sebelum Lusa.

Mutiara yang Ketinggalan Kereta

12:16 WIB

Sudah hampir satu jam aku di stasiun ini. Keretaku datang masih enam jam lagi. Jika engkau bertanya untuk apa aku menghabiskan waktu dengan duduk dan memandangi rel kereta api, maka jawabannya adalah, “Aku sedang patah hati.”

“AAARGH!”

Kepalaku menegak. Mataku memicing dan mencari-cari pemilik suara teriakan yang mengejutkan dan melengking secara tiba-tiba. Lalu perhatianku tertuju pada seorang perempuan dengan gaya klasik di seberang kursi ruang tunggu. Ia mengenakan atasan kaos berwarna putih yang tertutup sweater hangat berwarna kuning dan rok polkadot selutut yang berwarna hijau, serta sepasang sepatu tanpa hak berwarna toska. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal, tubuhnya melunglai, kemudian membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Rambutnya yang ikal dan sebahu menutupi wajah yang belum tamat kuperhatikan. Bahu dan punggungnya naik turun. Ia memuaskan napasnya yang terengah-engah. Sepertinya, napas perempuan mungil itu habis setelah berlari dan diakhiri dengan sebuah lonjakan kekesalan pada Gaya Baru Malam yang baru saja pergi.

Ketinggalan kereta rupanya. Lucu. Di kala aku datang terlalu awal karena sudah tak punya harapan, ada orang lain yang datang terlampau akhir sehingga melewatkan kesempatan.

Sambil mengatur napas, perempuan mungil itu mengamati secarik kertas serupa tiket kereta di tangannya. Ia mengumpulkan udara di dalam mulutnya hingga pipinya menggelembung. Menghembuskan napas panjang lalu berjalan menuju loket pembelian tiket. Entah apa yang membuatku tersenyum melihatnya. Mungkin bagiku, karena dia nampak sangat ekspresif. Menarik.

Aku memalingkan wajah dari perempuan mungil itu dan menyaksikan sebuah band akustik yang tampil di tengah ruang tunggu stasiun Gubeng ini. Aku tidak tahu lagu apa yang mereka bawakan. Aku melihat, tapi tidak memerhatikan. Mataku memandang sekadarnya. Telingaku bahkan tidak mampu mendengar suara-suara. Sudah kubilang. Hatiku dipatahkan.

13:08 WIB

“Sial.”

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara. Perempuan mungil yang ketinggalan kereta tadi kini duduk di sampingku. Ia mencampakkan tas ransel di samping kakinya. Seakan turut membuang sebagian kekesalan atas apa yang baru saja terjadi. Ia meluruskan kaki, badannya melorot hingga lehernya tepat berada di sandaran kursi, lalu memasrahkan kepalanya di sana.

Wajahnya menengadah, matanya terpejam. Aku bisa melihat, ada sebuah bekas luka yang membentang di pipi kirinya. Sesekali, gadis ini menghela napas panjang. Nampaknya ia mulai tenang. Tanpa sadar aku memerhatikan dada dan dua gundukan yang naik turun perlahan. Aku tersenyum dalam hati. Pas.

13:21 WIB

Have you done?

“A … Apa?” tanyaku dengan tergagap.

Sedangkan perempuan mungil itu menatapku dengan tidak suka, “That look.”

Aku membenarkan letak kacamataku dan berdehem pelan. “Oh … anu … Kalungnya bagus,” ujarku seraya menunjuk sebuah liontin berbentuk burung hantu yang sedang mengantuk.

Hah! Kalungnya bagus. Khas laki-laki saat hampir ketahuan bahwa dirinya sedang mengamati sesuatu yang tidak seharusnya terlalu lama. Oke. Sepertinya bukan ‘hampir ketahuan’. Karena gadis di sampingku ini sedang memandangiku dengan pandangan yang sedikit menakutkan. Oh. Mungkin karena goresan hitam di kelopak matanya. Eyeliner kata para perempuan. Nampak begitu kontras dengan kulitnya yang putih dan sepucat mutiara.

Perempuan itu menegakkan duduknya. Menilaiku dari sudut mata dari kepala hingga kaki dan kembali ke kepala. “Mau ke mana?” tanyanya.

“Jakarta,” jawabku dengan sedikit terbata-bata. Ada senyum getir yang terasa di bibirku. Aku berusaha membubuhkan rasa bersalah dan sejumput malu.

“Sama. Tapi saya sedang sial hari ini. Ketinggalan kereta dan kehabisan tiket untuk kereta berikutnya,” lirihnya sambil menjatuhkan punggung ke sandaran kursi.

Seketika senyum itu hilang. Digantikan oleh raut wajah yang muram. Dia menggaruk halus lipatan hidungnya yang tidak seberapa mancung. Tidak terlalu pesek, tapi mungkin kacamata model bold-frame akan langsung terjatuh jika disematkan di sana. Namun pipinya yang menyembul seperti muffin itu membuatnya semakin manis dan menggemaskan.

Lalu kami dihanyutkan pikiran masing-masing. Pikiranku tentang sebuah penyesalan, betapa aku telah menyia-nyiakan waktu. Dan mungkin, pikiran perempuan sepucat mutiara tentang kesempatan yang ia lewatkan.

Aku mendengar lantunan pelan dari sebelah. Rupanya perempuan sepucat mutiara itu bersenandung syahdu. Matanya lekat pada sosok vokalis berambut kribo yang juga terbuai oleh lagu yang dinyanyikannya sendiri. Aku menduga, mungkin perempuan sepucat mutiara akan ke Jakarta untuk menemui sang kekasih.

“Saya harus segera bertemu Ayah,” lirihnya.

Oh. Bukan kekasih.

Tapi aku merasa ada nada sedih dan rindu yang tertahan di antara kata-katanya. Seperti rasa cinta yang menunggu untuk disambut, tapi cinta itu sudah terlalu lelah untuk menunggu. Ah, bahasaku rumit sekali.

Aku memandanginya selama beberapa detik. Lalu mengikuti atmosfer yang diam dan sepi. Tanpa bertanya atau menanggapi. Kami terlalu sibuk dengan lamunan sendiri.

15:15 WIB

Keretaku datang sekitar tiga jam lagi. Dan aku masih saja terpekur dalam sakit hati. Bersama perempuan sepucat mutiara, rasanya kami seperti saling menemani.

Betapa kesempatan itu mungkin telah luput dari tangan kami berdua. Aku dan perempuan sepucat mutiara, tentu saja. Perempuan sepucat mutiara terlambat mengejar kesempatannya. Sedangkan aku, terlalu ragu dan pengecut mengejar hati perempuan yang kupuja selama beberapa lama. Dan kini harus kembali tanpa mendapat apa-apa selain sebuah kata ‘maaf’.

Kesempatan itu seperti kereta api. Meski ia datang berkali-kali, kadang waktunya sudah tidak pas lagi.

15:32 WIB

Tiba-tiba perempuan sepucat mutiara itu bangkit dan berjalan ke arah band akustik yang sedari tadi menyanyikan lagu untuk kami. Ia dan vokalis berambut kribo bercakap-cakap. Sesekali aku melihat raut wajah memohon dan meminta dari perempuan sepucat mutiara. Dan setelahnya, aku dikejutkan oleh sebuah lagu yang dilantunkannya dari tengah ruang tunggu.

Chances are when said and done

Who’ll be the lucky ones who make it all the way?

Though you say I could be your answer

Nothing lasts forever no matter how it feels today

Nothing lasts forever, no matter how it feels today. Aku meragukan. Karena aku tidak yakin, kapan rasa sakit dan penyesalan ini bisa kuakhiri.

15:46 WIB

Musik telah berhenti. Tapi perempuan sepucat mutiara itu masih tetap berdiri di sana. Kedua tangannya menggenggam microphone begitu erat dan gemetar, “Maaf sebelumnya. Saya sangat butuh tiket untuk ke Jakarta untuk menemui ayah saya. Jika ada pengunjung yang memiliki tiket lebih atau batal pergi, saya bersedia menjadi penggantinya. Terima kasih.”

Aku takjub. Berani sekali.

Tiba-tiba aku tertampar. Perempuan sepucat mutiara telah merelakan keretanya pergi. Tapi ia tidak berhenti berusaha meraih kereta lain malam ini. Sedangkan aku? Aku masih meratapi kereta yang sudah jauh pergi. Kereta yang memang tidak pernah kuraih, baik berjalan maupun berlari.

Ah, sial. Aku gagal sebagai laki-laki.

16:04 WIB

Perempuan sepucat mutiara kembali ke tempat duduknya. Di sebelahku, tentu saja.

“Usaha yang bagus,” ujarku.

“Semoga hasilnya juga bagus,” jawabnya.

Kali ini ia tersenyum begitu tulus. Aku bisa melihat wajahnya yang bulat tampak menukik pada dagunya yang lancip. Disinari harapan. Dihujani keyakinan bahwa kesempatan itu masih ada.

Aku merogoh saku depan tas ransel yang kupangku sedari tadi. Lalu menarik dua lembar kertas dari sana. Selembar untukku. Selembar lagi, kusiapkan untuk seseorang yang empat jam lalu memberiku kata ‘maaf’. Lembar terakhir yang kuharap menjadi jimat pemanggil agar orang itu berubah pikiran. Lembar terakhir yang mungkin akan tersia-siakan.

“Sebenarnya ini milik seseorang. Tapi rupanya, ia tidak jadi pergi.”

Perempuan sepucat mutiara meraih tiket itu dengan mulut membuka lebar. Lalu memandangku seakan tidak percaya bahwa doanya terjawab saat itu juga.

Sudah cukup. Mungkin sakit hatiku masih ada. Entah untuk berapa lama. Tapi sakit ini adalah pengingat bahwa aku tidak boleh lagi menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Dan semoga perempuan sepucat mutiara juga memikirkan hal yang sama.

“Tempat duduknya bersebelahan. Kita jadi teman berkelana untuk semalam,” ujarku lagi. Kesempatan ini milikmu, Wahai Perempuan Sepucat Mutiara. Kuharap kereta ini akan membawamu pada sesuatu yang berani dan gigih kamu perjuangkan.

Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga aku tak sanggup mendengarnya lagi. “Terima kasih banyak! O iya, nama saya Mutiara. Nama Mas siapa?”

Aku menyambut jabat tangannya sambil tersenyum, “Nama saya ….”

The End

***

Malang, 2013

* Dulu pernah dipost. Lalu ditarik lagi karena mau ditawarin ke media. Tapi sudah hampir setahun (egilak setahun) enggak ada kabar, akhirnya nyerah juga. Ya sudahlah, mungkin memang mutiaranya cuma dapat jatah di blog ini saja :”)

Ruang 23

Pil warna pink dan putih itu tergeletak di atas meja kayu, bersanding dengan segelas air putih dan sepiring pisang goreng. “Jangan, jangan telan pil itu,” suara di kepalaku berbisik pelan.

Aku menoleh, pandanganku tertuju pada dinding yang sekarang menyeringai. Dinding itu membuka mulutnya yang hitam dan pecah-pecah, “Jika kamu menelan kedua pil itu, kamu tidak akan pernah melihatku lagi.”

Dinding yang putih itu tiba-tiba berlekuk-lekuk, terlipat-lipat sendiri menjadi seraut wajah yang sangat kukenal. Wajah seorang laki-laki yang pergi tanpa peduli perasaannya yang terluka. Pergi bersama seorang perempuan yang tengah berbadan dua.

“Tapi kamu lebih tenang setelah menelanku, “ kata pil perwarna putih.

Pil itu sekarang menumbuhkan sepasang kaki cebol dan berjalan ke arahku. Tapi langkahnya yang kecil terhenti di tepi meja, memandangku dengan satu mata yang memohon.

“Tidak. Setelah memakanmu, aku akan tenang lalu tertidur. Aku akan mimpi buruk.”

Lalu pil berwarna pink buka mulut, “Mimpi burukmu akan hilang saat menelanku.”

“Setelah memakanmu, aku tidak bisa mengingatnya lagi.”

“Bukankah kenangan tentang laki-laki itu adalah luka? Sudah saatnya kamu lupa,” kata pil berwarna pink yang sekarang menggelindingkan dirinya yang mungil, lalu berdiri di samping pil putih. Kini keduanya tepat berada di depan mataku, melompat-lompat kegirangan, memohon-mohon padaku agar aku segera memindahkan mereka ke lambungku.

“Laki-laki itu adalah luka. Tapi bukankah manusia yang bisa bertahan karena mampu melewatinya?”

“Kamu bukan sedang melewatinya. Kamu berputar-putar di sana. Meratap dan menikmati rasa sakit, sehingga menyiksa dirimu sendiri.”

“Aku tidak menyiksa diri sendiri. Kalian yang menyiksaku.”

“Apa kamu pikir, kami semua ada dan nyata?”

“TAI!”

Kuhantamkan sebuah kursi kayu ke meja. Kedua benda berbahan kayu itu beradu, membuat gaduh. Kedua pil biadab itu terlempar ke lantai. Meja itu kini roboh, gelas dari alumunium pun terjatuh dan membuat gaduh, airnya tumpah membasahi sebagian ranjang dan lantai yang licin. Piring plastik yang berisi pisang goreng terpental ke pojok ruangan, isinya berhamburan ke segala arah, satu ada yang terinjak olehku. Kursi kayu yang kuayunkan mendarat tak sempurna ke atas ranjangku.

Dinding yang dingin kembali membentuk wajah yang membuatku ngeri. Matanya melotot ke arahku, alisnya hitam dan terbakar, kulitnya meleleh, menggelambir di kedua pipi yang kempot dan berlubang, hidungnya nyaris tidak ada, hanya terdapat dua lubang sebesar jarum untuk bernafas. Kemudian kulihat, wajah itu berbalik, menjauh, memperlihatkan punggung yang tidak pernah kembali, “Pulang sekarang! PULANG!” Nafasku cepat, dadaku naik-turun dan terengah-engah.

Tiba-tiba, kursi yang kulempar tadi berbalik, terbang perlahan ke arahku. Kemudian muncul dua tangan yang kurus, gelap, dan berbongkol-bongkol, menggapai-gapai udara yang kosong. Baunya amis karena borok yang penuh darah dan nanah kental kehijauan. Aku menutup hidung dengan kedua tangan, ketakutan, berlari, berlindung di balik meja dan gemetar. Kepalaku penuh dengan kenangan di hari itu. Di hari aku merasa kehilangan separuh nyawa. Saat laki-laki itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal dan hingga kini tidak pernah kembali. Tenggorokanku tercekat, aku tidak bisa bernafas. Rongga dadaku sesak sampai akhirnya seluruh udara terlempar keluar melalui sebuah lolongan panjang. Lolonganku berhenti dan berubah menjadi isak tangis yang sendu, saat seorang perempuan berjas putih meraih tubuhku, dan mengikat tangan dan kakiku di atas ranjang.

***

Seorang laki-laki usia tiga puluhan baru saja pulang ke rumah. Kaosnya yang lusuh tampak menempel di kulit karena tubuhnya yang basah oleh keringat. Dia lalu duduk di bale-bale samping rumah, meletakkan sebagian lelah setelah membecak seharian. Memandangi bunga dan rumput liar yang tertata rapi dan basah karena selesai disiram.

Seorang perempuan menghampirinya, meletakkan segelas teh hangat dan sepiring ubi bakar di bale-bale. Perempuan itu kemudian duduk di sampingnya. Tersenyum dan meraih lengan si laki-laki, kemudian memijatnya perlahan, “Capek banget, Pak? Tadi muter kemana saja?”

“Yaaah… Rutenya ndak jauh-jauh, Nah. Kalo bukan akhir minggu, terminal kan ndak terlalu rame. Latifa mana?”

Kemudian terdengar suara langkah kaki yang mungil, berlari dari dalam rumah, berteriak dengan suaranya yang cempreng. Anak perempuan itu menghamburkan diri ke pelukan bapaknya. Menciumi bau keringat bapaknya yang ia rindukan seharian ini, “Bapak… Latifa tadi belajar berhitung di TK. Satu tambah satu jadi dua. Tiga tambah satu jadi empat. Latifa hebat ya, Pak…” katanya sambil memamerkan barisan gigi yang berlubang dan hitam karena jarang gosok gigi. Bapaknya tertawa geli melihat tingkah anak perempuannya itu. Pipinya diciumi hingga habis, “Latifa memang anak bapak yang paling cantik dan pintar.”

Si bapak menoleh pada istrinya, tersenyum, lalu mengecup pipinya sebagai ucapan syukur atas kebahagiaan kecil di sore itu.

***

Perlahan aku membuka mata, kelopaknya berat seperti dihantam godam besar. Perih. Cahaya putih itu membuat mataku perih. Terlalu banyak cahaya. Aku tidak mau banyak cahaya. Sinar yang terang mengaburkan lautan mimpiku tentang dirinya.

Tapi otakku memberikan sinyal lain. Ada yang tidak beres dengan kedua tangan dan kakiku. Tidak bisa bergerak. Sama rasanya saat ia meninggalkanku. Aku panik. Tubuhku berontak. Tidak. Jangan. Jangan diam saja. Kali ini aku harus lari mengejarnya. Kali ini, jangan sampai aku kehilangannya untuk kedua kali. Dia milikku. Milikku saja.

Ruang 23 kembali dipenuhi suara tangis yang pilu, suara hati seseorang yang kehilangan dan merindu.

Lambat laun, kegaduhan yang kubuat menghilang seiring dengan satu tabung suntik yang isinya berpindah ke pembuluh darahku melalui infus di tangan. Kegelisahanku ikut larut dalam sebuah mimpi panjang. Kali ini tentang kehilangan.

***

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya setelah mendengar kasak-kusuk tetangganya saat ia ke pasar tadi pagi. Itu tidak benar. Suaminya adalah laki-laki yang setia.

Berbagai sugesti dia tanamkan dalam sanubari, tapi tetap terasa ada yang salah pada hari-hari suaminya tiba-tiba datang dengan membawa dua kantong besar belanjaan yang mewah. Ada yang salah pada saat suaminya pulang lebih larut dari biasanya. Ada yang salah pada malam-malam terakhir suaminya jarang menyentuhnya.

Tinah terduduk lesu di bale-bale samping rumahnya. Menghapus air mata yang sudah menganak-sungai di pipinya yang tak lagi muda. Matanya menemukan Latifa, memandangnya penuh tanya, apa yang membuat ibunya begitu berduka.

***

Ikatan di kedua tangan dan kakiku sudah dilepaskan. Ekstremitasku bebas. Tapi aku tetap tidak bisa berlari ke masa ia menghilang.

Aku berusaha menyatukan kepingan-kepingan yang melayang dalam kepalaku. Banyak sekali. Seperti serangga-serangga yang mudah bereplikasi menjadi jutaan dan berlomba-lomba mencari jalan keluar dari sarang yang sempit. Mereka ingin segera keluar. Mencari udara bebas.

Di atas meja, teronggok pil-pil biadab itu lagi. Kali ini bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk kolak pisang. Sejenak aku mengabaikan mereka. Memandangi dinding putih yang biasanya membuat suara-suara.

“Terakhir kali kamu tidak meminum kami, mereka mengikatmu seperti mereka mengikat orang gila,” kata pil pink. Kepalaku menoleh, mataku menemukan pil itu menumbuhkan sayap berwarna putih, dengan bulu-bulu kecil yang kepakannya membelah udara di sekitarnya, terbang kesana-kemari. Aku tak habis pikir, berapa banyak jumlah transfomasi yang bisa ia ciptakan.

“Setan!”

“Wah, sekarang kamu sudah berani menyebut kami ‘setan’. Padahal kami yang membuat hidupmu lebih damai,” kata pil putih. Mataku terbelalak saat mendapati pil laknat itu menumbuhkan dua telinga panjang berwarna lavender, juga sepasang tangan dan kaki yang halus seperti bulu kucing. Sebenarnya apa wujud asli pil-pil ini? Aku tidak bisa mengerti. Mereka sudah gila.

“Bisa diam? Atau mau aku hanyutkan bersama taiku yang belum kubuang?”

Pil-pil itu bergidik ketakutan. Gigi-gigi mereka beradu, menimbulkan bunyi gemeretak yang lucu. Mereka menyatukan tangan mereka, melayangkan pandangan ngeri padaku, lalu mendarat sempurna di atas meja.

Aku menang. Kalian bisa apa?

“Kamu pikir, kami takut mendengar ancamanmu tadi? Bukankah kamu lebih takut sekarang?” kata pil putih.

Aku marah, “Aku tidak takut. Memangnya aku takut apa?”

“Takut menjadi waras dan menghadapi kenyataan hidupmu yang tidak bahagia,” kata pil putih lagi. Pil pink menyeringai. Tatapannya menghina. Jelek sekali.

“Kalian yang tidak waras. Kalian ada untuk membuat orang tidak bahagia.”

“Kamu bahagia karena khayalanmu sendiri. Ya… khayalan tentang sesuatu yang kamu buat sendiri. Kamu pengecut,” kata pil pink.

“AKU TIDAK GILA! AKU TIDAK TAKUT! AKU BUKAN PENGECUT!”

Seperti yang sudah-sudah, aku melayangkan nampan ke arah meja. Gelas dan piring membentur lantai dan menimbulkan suara yang keras. Lalu dinding putih itu kembali membentuk siluet punggung. Punggung yang ia rindukan. Menoleh sejenak dengan senyum terakhir yang mengerikan. Dari sudut bibirnya keluar taring yang panjang dan mengerikan. Lalu tangannya yang bopeng menjulur ke arahku, berusaha mencengkeram leherku. Suaraku tercekat. Hilang. Sama seperti saat ia berjalan keluar dari rumah dan tidak kembali. Dadaku penuh sesak. Lolonganku kembali terdengar. Meluruhkan jutaan perih yang lama bertengger di tubuhku. Tapi aneh, aku tidak merasa lebih baik.

***

KROMPYANG!!!

Latifa yang sedang belajar di kamar terkejut mendengar suara gaduh dari dapur. Bapak dan ibunya ada di situ. Tapi Latifa terlalu takut untuk menghampiri mereka. Ada apa? Latifa kecil tidak mampu mencerna apa yang sedang terjadi di sana. Otaknya masih sibuk mengingat berapakah hasil dari tujuh ditambah lima.

Tapi teriakan-teriakan ibunya begitu menggoda hasrat ingin tahu Latifa. Kakinya menuntun tubuh kecilnya menuju pintu dapur. Ia mengendap-endap di balik tirai hijau yang sudah lusuh.

“Kenapa kamu tega seperti itu? Kamu ndak mikir gimana nasibku dan Latifa?”

“Kalo aku kawin sama dia, hidup kita ndak susah kaya gini!”

“Kamu mau kawin sama dia karena sudah hamil, kan? Aku denger dari orang-orang pasar, Pak!”

“Ya kalo sudah denger malah bagus. Trus apa? Kamu tetep mau minta cerai?”

“Kurang ajar! Laki-laki laknat! Aku lebih baik jadi janda dari pada harus ngemis-ngemis sama si Tutik itu!”

“Yo wes. Jangan nyari-nyari aku lagi! Mulai sekarang, aku ndak ada urusan sama kamu!”

Lalu langkah kaki bapaknya mendekati pintu dapur. Bapaknya menangkap sepasang mata Latifa yang ketakutan. Latifa terkesiap memandang wajah bapaknya yang begitu menakutkan. Mata itu terlihat begitu mantap meninggalkan rumah. Latifa ngeri dan merasa kehilangan. Maka ia menghampiri bapaknya dengan setengah  berlari, meninggalkan ibunya yang menangis tanpa henti.

Tapi langkah Latifa terhenti di ambang pintu. Kakinya bagai dipasung. Malihat bapaknya memeluk seorang perempuan yang bukan ibunya. Mata Latifa memandang lekat perempuan itu. Tidak lebih cantik dari ibunya. Hanya polesan bedak dan pemerah bibir yang lebih tebal dari ibunya. Padangan Latifa turun, menemukan perut perempuan itu membesar.

“Bapak…” panggil Latifa dengan suara lirih dan merana.

Bapaknya menoleh. Singkat. Lalu pergi selamanya. Latifa baru menyadari. Tidak ada lagi cinta bapak untuknya.

***

Pil pink dan putih itu datang lagi. Tetap di atas meja, bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk bubur yang hambar. “Jangan, jangan minum pil itu.” Suara-suara di kepalaku kembali bicara. Kali ini tidak berbisik, tapi riuh bergemuruh, seperti sebuah konser yang tidak bisa dibendung. Aku menoleh pada dinding yang putih, menyentuhnya dengan ujung jariku yang gemetar. Bibirku yang kering menjadi pecah saat menyebut namanya, berdarah saat menangisi dimana keberadaannya. Tidak. Sudah cukup ia menghilang dari hidupku. Jangan lagi hilang dari ingatanku. Jangan.

Aku meraih kedua pil pembuat lupa itu, menggenggamnya, dan merintih.

***

Dokter muda perempuan itu sumringah. Hari ini presentasinya berjalan lancar. Dia lulus bagian Psikiatri. Dua hari lagi dia akan bertugas di bagian Neurologi. Maka pagi itu, dia memutuskan untuk menemui pasiennya sekali lagi, menyampaikan salam perpisahan pada Latifa.

***

Sudah lima belas hari. Tiap pagi aku menantikan pil-pil itu datang, lalu kuhanyutkan bersama kotoran. Tidak ada lagi yang bisa membuatku lupa. Tidak ada lagi yang merampas kebahagiaanku. Hanya ada aku, bersama kepungan rindu yang hanya bisa terpuaskan sendiri dalam rangkaian adegan seperti film yang bergerak di otakku. Tentang aku dan bapak. Bapak yang mengatakan aku cantik dan pintar. Bapak yang bau keringatnya sangat aku suka. Bapak yang aku rindukan sepanjang hari. Bapak yang memelukku dan suka mendaratkan ciuman di pipinya.

Aku baru saja akan berbincang pada dinding putih itu. Tiba-tiba seorang perempuan berbaju putih panjang datang. Wajahnya sangat ku kenal. Wajah yang setiap hari menyajikan kedua pil pembuat lupa itu. Kehadirannya selalu kuingat sebagai perampas bayang bahagiaku. Aku membencinya. Dia sama kejamnya dengan perempuan yang dipeluk bapak. Perempuan yang perutnya membesar. Perempuan yang mengambil bapak dariku.

Perempuan itu mendekat. Hatiku tercekat. Kali ini, tidak akan aku biarkan dia merampas bapak, meski bayangannya saja. Sudah cukup kejahatannya memberikan aku benda-benda yang menghapus kebahagiaan. Harus dihentikan. Sekarang.

***

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang 23. Perawat dan dokter muda segera berhamburan, menuju satu bilik dengan teralis besi. Lalu langkah terburu-buru mereka terhenti saat melihat kekacauan di kamar itu. Sebuah kursi terguling, bersanding dengan kubangan darah dari sisi ranjang Latifa, dengan seorang perempuan berjas putih panjang tergolek tak berdaya di lantainya. Matanya membelalak ngeri, mulutnya terbuka, kepalanya nyaris pecah, perutnya tercabik tak karuan. Lukanya menganga dan berdarah. Semua terkesiap, menutup mata dan hampir muntah.

Sedangkan Latifa, bersenandung kecil di atas ranjangnya. Gadis berusia 18 tahun itu tampak begitu bahagia memandangi dinding yang pucat, meracau tanpa arti yang jelas, dan menggenggam pecahan cermin berdarah di tangan kanannya.

***

[Sheila On 7 – Ketidakwarasan Padaku]

September 17th 2012

Moru – Alor – NTT

* Cerita terinspirasi dari sebuah kasus di Ruang 23 (Ruang bagi para penderita penyakit kejiwaan) di RS Saiful Anwar Malang beberapa tahun yang lalu.

** Diterbitkan dalam Random 2

Akhir Cinta Diam-diam

Pukul lima pagi.

Lelaki itu memang selalu datang sepagi ini. Setelah meletakkan tas ransel, ia berjalan di lorong bangsal sambil menggenggam stetoskop hitam. Di depan pasien, ia tak pernah kehilangan senyumnya yang cerah, membuat matahari merasa tersinggung karena sinarnya terkalahkan.

Satu jam berlalu. Akhirnya lelaki itu selesai memeriksa semua pasien dan berjalan ke arahku. Ke meja di depanku, tepatnya. Ia menggeser tumpukan status pasien ke hadapannya dan mulai menulis instruksi baru di dalamnya.

Ya Tuhan… Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Saat aku bisa leluasa mengagumi gerakan tangannya, bahunya, rambutnya…

Ups.

Lelaki itu mendongakkan kepala. Mata kami beradu. Rupanya cinta diam-diamku sudah sampai di batas waktu.

***

“Ngeliatin apaan, Dit?” tanya Rio.

“Hah? Enggak liat apa-apa, kok!”

Buru-buru kutundukkan kepala dan mulai kembali sibuk menulis.

Perlahan kuraba logam keperakan di jari manisku. Aku tak ingin membuat Rio terkejut. Biar aku saja yang tahu, bahwa ada perempuan berbaju putih dan berambut panjang yang melayang di samping pintu. Dan selalu menebar senyum padaku.

***

Malang, February 15th 2014

  • #FF161Kata yang – sekali lagi – terlambat T_T

Jamuan Istimewa

“Kamu sudah memaafkanku, Bim?”

Aku terdiam di depan pintu rumahnya. Masih menyembunyikan kedua tangan di saku celana, dan memilih untuk tidak menyambut jabat tangannya.

Aku mematung, memandangi wajahnya yang polos tanpa riasan. Cantik. Seperti biasa. Senyumnya menawan. Seperti biasa. Melihatnya hidup dan berbahagia seakan tidak ada apa-apa seperti itu membuat hatiku perih bagai tersayat. Seperti biasa.

“Boleh masuk?” tanyaku. Dan aku menerobos masuk ke rumahnya, tanpa menunggu Aira menjawab pertanyaanku.

“Sepi. Pada ke mana?” tanyaku.

“Keluar kota. Jadi, kamu sudah memaafkanku?” tanyanya lagi.

Kubiarkan punggungku saja yang meladeni pertanyaannya. Aku masih berdiri dan mengamati kesunyian di rumah Aira. Hingga akhirnya pandanganku terhenti pada sebuah sofa bermotif bunga yang warna hijaunya sudah mulai memudar.

Aku mendengus pelan.

Dulu, kukira sofa itu memudar karena sangat sering dijadikan tempat bercinta olehku dan Aira. Ternyata aku salah. Yang memudarkan warnanya, bukan aku saja.

“Ibu … apa kabar?” tanya Aira dengan hati-hati.

Sebuah senyum getir tersungging di bibirku. Pintar sekali. Pertanyaan yang tepat sasaran.

Aku berbalik dan memandang Aira. Matanya berbinar begitu indah. Terlalu indah untuk perasaanku yang masih diliputi amarah. Di mataku, Aira adalah ratu lebah. Memikat para lelaki dengan madunya, lalu membuat mereka mati tanpa daya.

Ah. Bukan. Bukan lelaki saja. Ibuku, sudah termakan racun di dalam madu Aira. Tiba-tiba kepalaku dipenuhi percakapan dengan Ibu pagi tadi.

“Bener kamu putus sama Aira?”

Ayunan sendok yang sudah hampir masuk ke mulutku, terhenti seketika. Dan mendadak, aku hilang selera. Lagi-lagi, Ibu mengajukan pertanyaan yang sama. Lagi-lagi, tentang Aira.

Aku bergeming, bosan dengan pertanyaan yang tak pernah bosan ditanyakan Ibu. Pertanyaan yang sebelumnya tak pernah kujawab karena tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku menghela napas, lalu melanjutkan makan yang sempat tertunda.

“Bima, yakin kamu putus sama Aira? Jawab pertanyaan Ibu,” kata Ibu dengan pandangan lekat ke arahku. Tidak bergeser sedikit pun.

Kuletakkan sendok garpuku dengan agak kasar. Tiba-tiba, nasi goreng buatan Ibu tak lagi seenak biasanya. Kuteguk habis air putih di gelas dan memilih untuk menyerah. Menyerah pada pertanyaan Ibu yang tidak mungkin kuhindari selamanya.

“Iya, Bu. Kami sudah putus dua bulan yang lalu. Aku yang memutuskan jika Ibu bertanya.”

Raut wajah Ibu berubah. Matanya terbelalak. Mukosa bibirnya mengering karena menganga cukup lama. Aku mengalihkan pandang, mencoba membangkitkan hasrat dan rasa lapar pada nasi goreng yang teronggok di depan mata. Tapi hampa.

Ibu kecewa. Sial. Aku benci membuat Ibu kecewa.

Ibu memandangku dengan lekat, “Ibu sudah cocok sama Aira. Aira itu cantik, hatinya baik, pinter masak. Tiga lebaran ini juga selalu sowan sama Ibu. Aira itu kurang opo, Bim? Ibu sudah mikir lebaran nanti akan ada acara lamaran. Eh, lha kok malah kamu putusin. Kamu mau cari perempuan yang kayak gimana lagi, Le?”

“Kebaikan Aira itu bagai alkohol, Bu. Memabukkan. Tapi mudah menguap.”

“Mungkin kamu enggak tahu, seberapa sering Aira nemenin Ibu setiap kamu lagi tugas kantor keluar kota. Ibu sudah tua, takut enggak sempat lihat kamu nikah. Harapan Ibu sebelum nyusul Bapakmu ke surga, ya, nggendong anakmu, Bim.”

Aku menghela napas. “Bu, perempuan enggak cuma Aira. Ada banyak. Kalau memang sudah waktunya putus, ya putus. Enggak jodoh.”

“Tapi Ibu sudah cocok sama dia. Lagian, siapa yang jamin kamu bisa dapat perempuan lain sebaik Aira? Jangan keras kepala, Le. Orang pacaran terus bertengkar itu biasa. Tapi harus ada yang mau ngalah. Kalau putus-putus terus, kapan kamu berkeluarga?”

Ibu berdiri, mengitari meja makan tempat kami berada dan akhirnya berhenti di belakang kursiku. Sambil memegang pundakku, Ibu mencium ubun-ubunku dan berbisik, “Ramadhan kurang tiga hari lagi. Temui Aira. Kamu harus minta maaf. Ibu pengin lihat kalian bahagia.”

Ibu menyudahi percakapan itu dengan meninggalkan ruang makan. Tanganku terkepal. Terasa sakit hingga ujung-ujung kukuku membekas di telapak tangan.

Ada sesuatu yang membuat dadaku bergolak. Ego kelaki-lakianku memuncak. Mungkin mudah bagi Ibu untuk mengatakan bahwa aku harus kembali pada pelacur itu. Karena Ibu sama sekali tidak pernah tahu siapa Aira sebenarnya. Iblis wanita yang berani bermain kotor di belakangku.

Telah kututupi segala aib Aira demi Ibu. Agar hati Ibu tidak terluka. Aku tidak berani membayangkan, bagaimana jika Ibu tahu bahwa Aira berselingkuh. Aku bisa memaafkan Aira ketika untuk pertama kali, aku memergoki seorang pria tambun yang lebih pantas menjadi ayahnya, melumat bibirnya di atas sofa motif bunga yang hijaunya memudar ini. Tapi hingga tiga kali, dengan pria yang berganti-ganti, kurasa tidak. Sudah cukup tiga tahun ini aku merasa tersakiti oleh Aira. Dan juga dengan tabiat buruknya.

Tapi di sinilah aku sekarang. Berhadapan dengan Aira, perempuan yang menyayat hatiku setelah berbagi cinta dengan beberapa pria. Mencoba menyambung lagi kepingan harapan Ibu yang hancur karena kecewa.

“Ibu memintamu datang. Undangan makan malam. Segeralah berganti pakaian,” lirihku.

“Ah iya. Ibu berulang tahun. Jadi, benar kamu memaafkanku, Bim?” tanyanya untuk kesekian kali.

Aku tersenyum. Menghela napas dan menjatuhkan diri di atas sofa motif bunga yang warna hijaunya mulai memudar. “Aku tidak mungkin pulang dengan tangan hampa. Aku tidak ingin Ibu kecewa. Anggap saja aku sedang berbaik hati, menerimamu lagi tepat sebelum bulan puasa.”

Senyum Aira merekah. Tubuhnya yang mungil melompat-lompat hingga akhirnya mendekapku dengan pelukan yang sangat erat. “Aku tahu kamu akan memaafkanku. Aku tahu. Kamu sesayang itu sama aku.”

Setelah menghujani pipi dan bibirku dengan kecupan, Aira melesat menuju kamarnya. Aku memandang punggungnya dengan nanar.

***

Malam yang istimewa. Malam ini adalah ulang tahun Ibu. Sengaja, aku memasak sendiri sirloin steak kesukaan Ibu. Kupotong dagingnya dengan ukuran agak tebal. Lalu menyiramkan saus jamur di atasnya.

“Selamat ulang tahun, Bu,” ujarku sambil meletakkan sepiring sirloin steak saus jamur di hadapannya. Lalu mengecup kedua pipinya.

“Ah, tumben sekali kamu manis begini. Terima kasih, Bima anakku ….” kata Ibu sambil mencubit pipi kiriku.

Aku terkekeh dan segera menempati kursi makan yang berhadapan dengan Ibu. “Bima, kan, selalu manis, Bu. Ayo dicoba steaknya…,” jawabku seraya mengerlingkan mata kanan.

Ibu mengigit potongan steak dengan menggangguk-anggukkan kepala. Aku ikut mengangguk-anggukkan kepala. Puas melihat Ibu tersenyum.

“Enak, Le. Kamu pinter masak juga. Pasti diajari Aira, ya. Katanya tadi kamu jemput Aira. Dia enggak jadi datang?” tanya Ibu.

Aku tersenyum. Memandang piring steak Ibu yang hampir tandas.

“Bima sudah membawanya ke sini, Bu. Sejak tadi.”

***

Juli, 2013

Surabaya – Malang

* Kolaborasi bersama Vanda Kemala, dibukukan dalam Kejutan Sebelum Ramadan – Kolaborasi #2

%d bloggers like this: