Archive for the ‘ cerita pendek ’ Category

Kisah Tentang (Bukan) Mantan

“Mantanmu ada berapa?”

Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Aku menghentikan kegiatan membaca tabloidku, menoleh dan memandang Arga. Yang dipandang malah berpura-pura tidak tahu dan berlagak sibuk membaca tabloid otomotif.

“Ngapain tiba-tiba nanya begituan?” tanyaku dengan tawa geli. Selama ini, kami sudah berkomitmen bahwa mantan dan segala sesuatunya adalah masa lalu. Dan sudah sepatutnya masuk ke dalam kotak yang tidak akan pernah dibuka saat ini atau esok hari.

Arga menghentikan aksi pura-pura membacanya dan menyesap seteguk kopi hitam buatanku. Dia tersenyum dan berkata, “Ya nggak kenapa-kenapa. Pengin tau aja, dulu kekasihku ini pernah takluk sama cowok yang seculun apa sih ahahaha…”

“Diiih… Berarti kamu juga culun, dong,” amukku sambil memukulkan gulungan tabloid ke lengannya.

“Nggak laaah. Pasti aku yang paling keren ehehehe…” jawabnya.

Aku mencibir dan mencubit lengannya, “Nggak penting, ah. Pasti kamu pengen ngetawain aja, kan…”

Arga meraih kedua tanganku untuk menghentikan cubitan-cubitanku. Ia merapikan poniku yang diporakporandakan angin sore. Lalu lelakiku itu berdehem, “Serius. Aku cuma pengin tau. Bukan karena insecure. Tapi lebih pada… ehm… apa ya… I just don’t wanna fail like the other men.”

Kalimatnya membuatku terdiam. Lalu hanya ada suara gemericik air kolam yang mengiringi tiga detik keheningan kami. Dan melihat wajah Arga yang memang tampak serius sekali membuatku tersenyum geli.

You won’t fail, Arga. Percaya, deh…”

“Iya, aku tahu. Aku nggak akan gagal kaya laki-laki lain. Soalnya aku paling keren,” sesumbar Arga sambil menaik-naikkan kedua alisnya dengan nakal. Ujung bibir kanannya terangkat. Dan entah apa yang membuatnya mengedipkan mata kanannya.

“KePDan! Kukasih tahu, ya. Aku nggak punya mantan,” racauku sambil menutupi kedua pipi yang memerah dan memanas karena malu.

“Please, Anya. Jangan merusak keindahan sore ini dengan berbohong padaku,” ujarnya dengan nada yang menyebalkan. Suaranya dilambat-lambatkan dan begitu rendah. Tapi kuberitahu sebuah rahasia. Aku suka suaranya yang demikian. Menurutku, itu seksi dan sangat laki-laki.

“Ahahaha I’m serious, Arga. I don’t have any-ex.”

“Kenapa bisa gitu? Astaga… Jangan-jangan kekasihku ini frigid!” pekiknya.

Serta merta kuhujani Arga dengan pukulan kepalan tanganku bertubi-tubi, “Eh… Suka asal, deh…”

Arga menghindar. Barisan gigi putihnya membentuk tawa yang menambah ketampanannya, “Aw aw aw! Bercanda, Cintaku… Look. Aku nggak pernah peduli sudah berapa hati yang kamu patahkan. Atau kamu sudah patah hati berapa kali. But I wanna learn from them. May I?”

“Hehehe wajah kamu serius banget. Aku kasih warning dulu, ya… Ini akan menjadi cerita yang cukup membosankan,” kataku.

“Menurutmu, kita bisa bertahan lima tahun gini karena apa?”

“Argaaa!”

Arga meraih leherku dan mengecup keningku, “Hehehe iya iya… tuh sudah kucium biar nggak ngambek. So, the story goes…?”

So… this is my stories.”

Tidak ada kisah cinta yang lebih indah untuk dikenang selain kisah cinta remaja SMA.

“Dikenang, Arga. Bukan untuk diulang,” bisikku ketika melihat raut wajah Arga yang merengut seketika.

Aku dan anak lelaki ini, sebut saja namanya Roni, awalnya adalah dua remaja yang saling mencaci dan memaki. Kami disatukan oleh rasa benci. Aku membencinya karena sikapnya yang sok bossy. Dia membenciku karena aku terlalu cerewet.

Tapi ketika kami akhirnya dipisahkan oleh dinding kelas, ada sesuatu yang berubah dan terasa menghilang. Dia sering berpura-pura meminjam catatan dari anak di kelasku. Aku sering berpura-pura ijin ke toilet dan mengintip ke kelasnya. Perilaku malu-malu kami tentu saja menjadi sumber gosip bagi seluruh siswa di sekolah. Tidak terkecuali para guru dan bahkan kepala sekolah.

Satu hal yang membuatku heran. Roni adalah anak lelaki yang bossy. Tapi untuk masalah percintaan, dia kelas teri. Well, ya… dalam artian, untuk mengajakku kencan saja dia tidak pernah memberanikan diri.

“Kenapa kamu nggak nembak duluan?” interupsinya.

“Aku masih percaya bahwa melamar adalah tugas laki-laki,” jawabku singkat.

“Tapi dulu Khadijah melamar Nabi, Anya,” sanggahnya lagi. Ah, Arga sore ini cerewet sekali.

“Bisa nggak ceritanya kulanjutin dulu?”

“Hehehe oke oke.”

Menjalin pertemanan dengan Roni itu mudah. Cukup dengan membencinya. Tapi menyebutkan kata cinta rasanya sulit sekali. Sampai akhirnya kami sama-sama lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Dan perasaan Roni hanya tersampaikan dari promosi teman-temannya, bukan dari mulut dia sendiri. Jujur, aku merasa sedikit kecewa. Kecewa pada Roni, dan kecewa pada diriku sendiri. Pertanyaan ‘mengapa tidak kunyatakan saja?’ juga pernah terlintas di pikiranku. Tapi kenyataannya, aku tidak melakukannya. Dan kami berdua berjalan ke arah yang berbeda tanpa pernah saling menyatakan bahwa rasa suka itu pernah ada.

“Trus, Roni sekarang dimana?” tanya Arga.

“Dia bahagia dengan istri dan satu anak laki-lakinya.”

Arga mengangguk-angguk sambil membelai-belai jenggotnya yang tumbuh satu-satu, “Hmmm… Jadi, kamu dan Roni tidak pernah ‘jadian’?”

Aku menggeleng, “Nggak pernah.”

“Selanjutnya adalah kisah cinta semasa kuliah. Sebut saja namanya Toni,” lanjutku.

“Kenapa harus Roni dan Toni?’ protes Arga.

“Arga, bisa nggak sih nggak protes dulu?”

“Hehehe iya iya, maaf…”

Aku dan Toni adalah sahabat yang disatukan oleh kekejaman ospek. Tidak dipungkiri, ospek adalah masa yang paling mengenaskan bagi mahasiswa perantauan. Euforia remaja yang baru saja menghirup udara sebagai mahasiswa harus luluh lantak oleh minggu pertama yang bernama ospek. Tidak ada sanak saudara, tapi harus melewati serangkaian tugas dan perintah yang sepertinya tidak masuk akal.

Tapi bersama Toni, semuanya menjadi lebih mudah. Bersama Toni, gambaran masa kuliah yang menyenangkan kembali terbentang di depan mata. Dia adalah lentera di antara kelamnya tugas baca yang tidak mungkin diselesaikan dalam semalam. Toni merawatku ketika aku terbaring karena sakit demam tifoid. Dan aku tak pernah lupa mengopikan salinan bahan kuliah setiap dia membolos karena kerja paruh waktu. Banyak yang meragukan, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Maka, di antara keharmonisan pertemanan kami yang indah, Toni dan aku menyebut hubungan ini sebagai partnership.

Dan pada akhirnya aku mengaku kalah. Hatiku takluk. Ada banyak malam yang kulalui dengan memimpikan Toni, berkhayal bahwa suatu saat nanti kami berdua bisa melewatkan senja berdua dan menua bersama. Di antara tatapan mataku yang mulai melunak, senyum yang selalu mengembang, dan degup jantung yang tidak karuan, aku dipaksa mengalah. Something came between us. Sesuatu yang sangat besar hingga mendesak kami agar berjauhan.

Saat menceritakan bagian ini, aku tidak tahan. Aku tertawa.

“Kok ketawa?” tanya Arga sambil mengerutkan dahinya.

“Aku pernah menyesal karena terlalu pengecut mengatakan perasaan pada Roni. Terhadap Toni, aku tidak ingin menjalani hidup dengan penyesalan yang sama. Maka kunyatakan cinta. Dan…”

“Dan? Dia punya pacar?”

Aku mengangguk dan kembali tertawa ketika kepalaku dipenuhi wajah Toni di malam itu, “ Toni sudah punya pacar. Dan pacarnya, laki-laki.”

Arga tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya terayun ke belakang. Matanya menyipit, bahkan suara tawanya hampir tidak terdengar.

“Astaga, ada bidadari cantik di sampingnya, tapi Toni justru lebih memilih laki-laki. Lucky me…” ujar Arga sambil mengusap matanya yang berair karena tertawa terlalu keras.

“Begitulah cintaku yang kedua, berakhir tragis sekali.”

Aku menyesap teh yang tak lagi hangat dan menunggu Arga mampu mengendalikan tawanya. Dari sudut mata, aku melihat Arga menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya. Aku tersenyum, menertawakan diri sendiri yang juga tak percaya pernah mencintai lelaki homoseksual.

Now, the third?” tagih Arga.

“Yang ketiga. Ini adalah cerita paling singkat, namun paling berkesan.”

Wait. Let’s call him ‘Doni’.”

Aku tersenyum.

Setelah lulus, aku mulai bekerja sebagai dokter jaga di UGD sebuah rumah sakit. Kehidupanku tidak jauh dari jaga-pulang-jaga-pulang. Benar-benar tidak ada waktu untuk mencari pacar untuk sekadar bermalam minggu. Karena sesungguhnya, malam minggu itu tidak pernah ada untukku. Tapi tetap saja, cinta adalah butiran debu yang mampu mengisi celah sesempit apapun.

Di antara jadwal jaga yang tidak kenal ampun, seorang Doni datang padaku. Ia memberikan perhatian-perhatian yang selama ini hanya kudengar dari kisah dan cerita para sahabat. Jam berapa pulang jaga? Banyakkah pasien hari ini? Sempatkah kamu makan malam? Bahkan Doni sering mampir ke UGD dan memberikan sekantong cemilan atau sebungkus nasi goreng untukku. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri mampir ke rumah dan menyelipkan sekotak susu cokelat dengan catatan, “Jangan sampai sakit, ya.”

At that time, he was just so perfect. Semua berjalan sangat lancar dan mulus seperti jalanan Jakarta di hari lebaran. Dan rasanya, aku tidak mau berpaling. Mungkin, Doni adalah orangnya.

Tapi semuanya buyar ketika Doni memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Layaknya sebuah jalan cerita dongeng dan telenovela, maka cinta kami pun sedemikian mengenaskan. Keluarga ningrat Doni menolak berbesanan dengan keluargaku yang sederhana.

Seketika, gambaran sebuah cinta yang sempurna itu retak. Hatiku hancur. Impian indah di depan mata itu kini harus terendam bersama lumpur. Tapi yang lebih mengecewakanku adalah Doni tidak memperjuangkanku. Doni diam saja. Menerima dan berlalu. Ada satu bagian dariku yang merasa bahwa nasibku lebih buruk dari Cinderella. Pangeranku tidak perlu repot-repot mencari pasangan sepatu kaca yang tertinggal. Ia lebih memilih membuang sekeping sepatu itu dan mencari yang lain. Aku sempat terpuruk selama beberapa bulan, kadang menangisi kotak-kotak susu cokelat yang tak pernah kubuang.

He didn’t deserve you. He didn’t even deserve your tears.”

I know. Ada satu waktu, akhirnya aku benar-benar sadar. Untuk mendapatkanku saja Doni mudah sekali menyerah. Maka aku tidak akan bersusah-susah meratapi seorang laki-laki yang bahkan tidak tahu bagaimana mengayunkan pedang.”

Arga menggenggam tanganku. Lalu meletakkan kepalaku di bahunya yang hangat. Sejenak, kami membiarkan diri kami terbuai keheningan. Awan yang bergumul di langit memburamkan cahaya matahari dan senjanya. Sinarnya yang seharusnya menyilaukan, kini hanya sampai di wajah kami sebagai siluet yang hangat dan menenangkan.

“Jadi, kamu berbohong,” kata Arga secara tiba-tiba.

“Bohong tentang apa?”

“Katamu, kamu nggak punya mantan.”

“Ahahaha… Doni, maksudmu? Serius. Kami nggak pernah mengungkapkan kata ‘pacaran’. Mungkin, kami sama-sama memiliki pemikiran naif bahwa cinta tidak dibatasi oleh kata ‘pacar’. Tapi akhirnya aku sadar, itu hanya alasan baginya supaya tidak pernah merasa memilikiku.”

“Laki-laki bodoh. Dan aku tidak bisa mengerti, kamu bisa terjebak dengan orang-orang seperti itu. Roni, Toni, Doni. Mereka semua absurd,” bisiknya. Tak lupa, Arga memberikan tekanan yang menyenangkan di genggaman tangannya. Kini jari-jari kami bertaut begitu sempurna.

“Ahahaha. Jadi, sudah selesai ceritaku. Belajarlah dari itu,” godaku.

“Apa yang bisa kupelajari? Dari Toni, bahkan aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri mencintai laki-laki. Yucks!” kata Arga.

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati wajah Arga merengut begitu jelek. Mulutnya mencucut, dahinya berkerut.

“Ya, setidaknya jangan membuat ceritaku sore ini menjadi sia-sia, Sayang…”

Kudekatkan wajah pada wajahnya, lalu menjatuhi pipi kirinya dengan sebuah kecupan singkat. Arga terkesiap karena kaget. Dan jingga matahari senja memulaskan ronanya pada pipiku dan Arga.

Arga tersenyum dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Seketika, aku berharap waktu berhenti sejenak dan membiarkan kami menikmati masa ini cukup lama.

“Ketika bertemu denganmu, aku tidak tahu berapa banyak hati yang telah kamu jejaki. Atau berapa kali kamu patah hati. Sebelum mengetahui kisah-kisahmu, aku memang tidak pernah berniat membiarkanmu menunggu lama. Maka, dulu, kunyatakan cinta setelah kita dua bulan berkenalan.”

Aku tersenyum. Menunduk dan menikmati pipiku yang pias dan merona.

“Setelah itu, memperjuangkanmu itu sama pentingnya dengan memperjuangkan masa depan. Karena aku mau, di dalam masa depanku, ada kita.”

Jantungku berdegup sangat kencang. Rasanya dadaku sesak oleh rasa haru dan bahagia.

“Dan jangan khawatir, selamanya, aku nggak akan membiarkan bidadariku ini terabaikan.”

“Janji?” tanyaku.

“Setidaknya, I’m not a gay, Darling,” godanya.

“Dasar! Pasti habis ini cerita yang itu kamu jadiin bahan olok-olok, deh…”

“Hehehe bercanda, Istriku. Yuk masuk. Udah adzan. Kelamaan di luar gini nanti kamu masuk angin. Kasian anakku nanti…” katanya sambil merangkul bahuku dan mengelus perutku yang menyembul karena hamil lima bulan.

Aku mengikuti Arga yang sudah bangkit dan membawa dua cangkir teh yang sudah kosong isinya. Kami berjalan menuju rumah kontrakan sederhana yang baru kami tempati selama tujuh bulan.

Dari sudut mataku, dapat kulihat bulan purnama di atas sana. Ia merekah begitu lebar, memayungi dua hati yang kembali berdansa di antara cinta.

“Arga, aku lupa bilang,” bisikku.

“Apa?”

“Doni itu nama sebenarnya.”

***

Probolinggo, Maret 2013

Advertisements

Puisi Pada Gerimis Yang Sepi

TELP

 

Rintik gerimis menyuguhkan sepi
pada penyair yang merimakan puisi
Baru saja ia terima telepon yang berdering
Cinta di seberang telah kering

Kesatria dan Tuan Putri yang Merindu

Lampu

Kesatria rupawan menghunus pedang
Ditikamnya para pecundang di medan perang
Kesatria telah jadi pemenang
Kini namanya riuh dikumandang

Jauh di kampung halaman, Sang Putri merindu tiada berbilang
Telah ia siapkan kidung dan dendang, untuk disenandungkan di bawah purnama dan bintang-bintang

Hati Sang Putri dibanjiri gamang, Kesatria tak kunjung terlihat hingga petang
Rindu Sang Putri telah membumbung bukan kepalang
Tapi sayang, Kesatria lupa jalan pulang

***

Malang, 11 Desember 2017

Cinta Yang Tak Pernah Menua

wpid-IMG_1913.JPG

Di usiaku yang sekarang, aku berusaha mensyukuri apa yang sudah aku lalui. Sebagai perempuan yang sudah melampaui setengah abad, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah keluarga yang hangat dan penuh cinta, anak-anak yang berhasil, serta cucu-cucu mungil yang memanggilku dengan sebutan, “Uti…” dengan suara yang menggemaskan. Mereka adalah anugerah Tuhan dari seorang lelaki yang kupilih menjadi pendampingku selama tiga puluh tahun.

Suamiku. Dulunya adalah don juan dengan tubuh tegap, kulit gelap dan rambut gondrong, pemuda yang ramah, penebar senyum dan pesona pada gadis-gadis di sekitarnya. Bahkan saat pertama kali kami bertemu dulu, dia sedang berkencan dengan seorang gadis sales. Ketika kami mengenang romantisme masa lalu, dia tidak pernah gagal membuat pipiku bersemu merah jambu, “Bertemu denganmu membuatku lupa menjemput pacarku saat itu.” Dia mengaku, memutuskan cinta gadis itu seminggu setelah bertemu denganku, karena sang gadis terlalu cemburu.

Suatu saat dia datang ke kosku, bertanya tentang rumah kos khusus laki-laki. “Kenapa dengan kosmu yang sekarang?” tanyaku. Dia hanya tersenyum dan menjawab, “Tidak apa-apa. Hanya ingin suasana baru.” Dan pada akhirnya, dia pindah ke kos yang letaknya tidak jauh dari kosku. Kami pun semakin sering bertemu. Dia biasa menjemputku dengan sepeda kayuhnya yang berwarna hitam kusam, lalu kami berkencan layaknya Galih dan Ratna. Setahun setelah perkenalan pertama kami, akhirnya dia melamarku. Sesaat setelah kami menikah dan tinggal di rumah kontrakan yang sederhana, aku mendengar kabar bahwa alasan dia pindah kos adalah karena ibu kosnya ingin mengambilnya sebagai menantu. Ada was-was dalam hatiku, kekhawatiran hati perempuan yang posesif saat menikah dengan laki-laki yang digemari perempuan. Tetapi terselip bangga bahwa laki-laki ini telah memilihku sebagai pendamping hidupnya.

***

Kami membangun keluarga dari anak tangga terbawah. Baik dalam hal materi maupun emosi. Saat itu dia adalah mandor di sebuah pabrik kertas, dan aku adalah penjahit yang belum banyak pelanggannya. Usia kami yang masih belia kadang membuat riak-riak kecil menjadi besar. Dia tidak pernah rapi saat mengambil baju dari tumpukan terbawah, handuk dilemparnya begitu saja seusai mandi, dan sering sekali lupa menaruh barang-barang penting. Pernah aku sangat kesal di pagi hari karena dia panik tidak bisa menemukan kunci motor. Sampai akhirnya suamiku pergi ke kantor dengan menggunakan angkot karena kunci itu tetap raib entah ke mana. Di siang harinya, aku ingin tertawa ketika menemukan kunci motor itu. Entah bagaimana kunci itu bisa teronggok di dalam kulkas. Tapi memulai rumah tangga berdua dan jauh dari orang tua membuat kami saling mengandalkan dan menjaga satu sama lain.

Setahun setelah pernikahan kami, Tuhan menganugerahi seorang anak perempuan yang manis. Sejujurnya aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan anak kami dengan cukup. Aku dan suamiku hanyalah lulusan SMA. Tapi kami ingin anak-anak kami kelak bisa lebih tinggi dari kami. Dan rupanya Tuhan telah membukakan pintu rezekinya. Suamiku naik pangkat dengan pesat. Bahkan dia dipromosikan untuk studi di  luar negeri dan menjelajahi negeri-negeri lain untuk belajar mengenai pembuatan kertas yang berkualitas.

Aku melepas kepergian suamiku dengan berat. Hidup berdua dengan anak yang masih balita adalah hal yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya. Tapi suamiku berkata, “Kamu adalah perempuan yang kuat. Jangan banyak menangis. Karena aku ingin anakku bisa melihat dan belajar bagaimana kuatnya perempuan saat dia sudah menjadi seorang istri dan ibu.”

Selama dua tahun, kami hanya berkomunikasi lewat surat dan kartu pos. Aku selalu menyimpan surat-suratnya. Pada masa aku rindu, aku membaca lagi tulisan-tulisannya yang selalu membuatku ingin tersenyum. Suamiku adalah laki-laki humoris yang tidak pernah kehilangan alasan untuk tertawa. Ada rasa sedih dan kehilangan, melihat pasangan lain bisa jalan-jalan bersama anak-anak mereka. Aku merindukan senyum dan tawanya yang lepas tanpa beban. Tapi aku harus menjadi Hajjar yang tegar bersama Ismail saat ditinggal Ibrahim di padang tandus. Aku harus bersyukur, tidak harus berlari antara Shafa dan Marwa untuk mencari setetes air. Karena kiriman dari suamiku tidak pernah terlambat dan pesanan jahitanku sudah mulai berdatangan.

***

Setelah suamiku kembali ke tanah air, kehidupan ekonomi kami menjadi jauh lebih baik. Kami bisa membeli sebuah rumah sederhana, rumah yang sampai saat ini kami tinggali. Suamiku diangkat menjadi kepala bagian. Aku sudah bisa membeli mesin jahit yang baru dan memperkerjakan satu asisten. Setelah anak pertama kami berusia tujuh tahun, maka lahirlah putri kami yang kedua. Kebahagiaan kami terasa lengkap.

Suatu hari, aku didatangi seorang perempuan yang sedang hamil. Dia berkata, bahwa itu adalah anak suamiku. Rasanya hatiku bagai tercabik-cabik. Selama ini, aku tahu bahwa suamiku selalu menolak jika harus pergi berdua dengan teman perempuannya. Kalaupun terpaksa, biasanya dia akan meminta izin dulu padaku. Bukan. Bukan aku yang memaksanya untuk berbuat demikian. Tapi suamiku adalah laki-laki yang sangat menghargai perempuan. Baginya, menjaga harga diri dan orang lain dari fitnah itu tanggung jawab setiap orang.

Tapi sekarang… Bagaimana bisa kecolongan dengan hal ini? Aku langsung menelpon kantor dan meminta dia untuk segera pulang. Dia kaget dan panik, bertanya-tanya apa yang terjadi. Sesampainya dia di rumah dan bertemu dengan perempuan itu, wajahnya tampak marah tapi berusaha memendam emosi. Dia meminta perempuan itu untuk pulang. Aku menangis sejadi-jadinya. Putri pertama kami mengintip dari balik kamarnya, si bungsu masih terlelap dalam tidur siangnya. Suamiku berkata pelan, “Aku bukan laki-laki super yang memiliki dua jantung, atau lebih. Menikah dengan kamu sudah cukup membuat jantungku berdegup tak karuan tiap hari. Buat apa aku mencari perempuan lain lagi?”

Dia berusaha memelukku. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Tangisku semakin keras, hatiku kian merana. “Aku tidak tahu bagaimana cara membuatmu percaya. Tapi sebagai bapak dari dua orang anak perempuan, rasanya aku tidak akan tega berbuat demikian. Aku pun tidak akan rela jika suatu saat anak-anakku mengalami hal seperti ini.” Dan beberapa hari kemudian, perempuan hamil itu datang lagi dan memohon maaf. Sebenarnya dia marah karena pernah ditolak mentah-mentah oleh suamiku dan akhirnya berhubungan dengan laki-laki lain. Seketika aku memeluk suamiku, meminta maaf atas ketidakpercayaanku. Dan aku ingin memeluk Tuhan, karena telah menjaga hati suamiku dari perempuan selain aku.

***

Kini usia kami sudah tidak lagi muda. Kami hidup berdua di rumah yang sederhana. Aku masih berkutat dengan jahitan-jahitanku dan suamiku menanti saat-saat pensiun. Anak pertamaku sudah menikah dan memiliki dua orang putri yang lucu, kini tinggal di luar kota. Anak keduaku masih kuliah di kota yang sama dengan anak sulungku dan sesaat lagi akan diwisuda. Entah kebahagiaan yang mana yang bisa kami dustakan.

Namun beberapa hari ini ada yang berbeda dengan suamiku. Dia lebih banyak berkutat dengan ponselnya, entah mengetik apa. Padahal aku tahu, dengan usia yang sudah lanjut, pandangannya pasti mengalami kesulitan mengetik pesan dengan tulisan yang kecil-kecil itu. Pernah aku memergokinya sedang berbicara di ponselnya dengan nada lirih seakan tidak ingin terdengar oleh orang lain, lalu buru-buru menyudahi percakapannya. Hatiku mencelos. Dan tiba-tiba mengingat istilah puber kedua, di mana laki-laki merasa punya banyak uang dan ingin membuangnya dengan sesuatu yang membuatnya merasa kembali muda. Mungkinkah…? Dengan status manajer, mungkin masih banyak gadis muda yang mau diperistri oleh suamiku. Tapi aku mengingat kejadian perempuan penipu bertahun-tahun yang lalu. Aku berusaha percaya dan menganggap itu hanya pikiranku saja.

Sampai pada suatu hari, aku tidak bisa menghubungi suamiku sama sekali. Dia pamit pergi ke kantor tapi tidak ada di sana. Ponselnya tidak aktif. Staf dan anak buahnya tidak ada yang tahu ke mana perginya. Otakku tidak bisa berpikir dengan waras, yang ada hanyalah ketakutan seorang perempuan yang sudah menopause dengan kerutan-kerutan yang semakin jelas di ujung mata, perempuan yang badannya sudah tak lagi langsing dan kencang, perempuan yang sudah berevolusi menjadi nenek tua.

Aku menelpon anak bungsuku, “Bapakmu kesana tidak?”

“Ndak, Bu. Memang Bapak ndak ke kantor tho?”

“Ndak ada. Ya sudah,” kataku singkat. Ada hasrat untuk menanyakan hal ini pada anak sulungku. Tapi siang-siang begini, pasti dia sedang mengajar. Aku tidak mau membebaninya.

Tapi perasaanku makin tidak karuan. Aku ingat mantan pacarnya pernah menelpon. Aku tidak pernah curiga apapun karena mantan pacar suamiku itu juga sempat berbicara hangat denganku. Selama ini, aku telah belajar menjadi perempuan yang percaya sepenuhnya pada suami, bahwa kebaikan-kebaikannya pada orang-orang semata-mata karena memang dia adalah orang yang hangat. Dan selama kami menikah, suamiku menunjukkan tabiat yang tidak bisa kubantah dengan kecurigaan yang berlebihan. Tapi entah apa yang terjadi jika hati suamiku benar-benar telah berubah. Perselingkuhan bukan hal bisa aku maafkan. Tiba-tiba tubuhku bergetar. Ketakutan itu menyergap seperti bunga karnivora yang mencengkram seekor serangga, lalu memakanku perlahan.

***

Menjelang maghrib, aku mendengar suara mobil memasuki garasi. Aku terkesiap. Suamiku. Buru-buru aku menyeka air mata yang sudah menganak sungai di pipiku. Dia masuk kamar, mendapati aku yang termenung di sisi ranjang. Dia terlihat begitu lelah, bajunya kusut, tapi dia tidak lupa tersenyum dan mencium pipiku, “Assalamualaikum, Mama. Masak apa hari ini?” Aku hanya menjawab salamnya dengan ringan lalu kembali terdiam. Dia masih berdiri dengan wajah bingung, lalu meletakkan tas kerjanya dan bertanya, “Ada apa sih kok cemberut gitu? Habis berantem sama pelanggan?” Aku tidak menjawab dan memalingkan muka.

Aku mendengar langkah kakinya menuju kamar mandi. Lalu insting perempuanku meliar. Aku menggeledah isi tasnya dengan degup jantung yang bergemuruh seperti sirine perang yang bertabuh. Tanganku gemetar dan berkeringat. Di dalam tasnya, hanya ada kertas-kertas pekerjaan yang biasa ia bawa dan dompet dengan isi beberapa lembar uang dan kartu-kartu, serta sebuah sikat gigi yang biasa ia bawa. Namun saat aku menarik tanganku untuk keluar dari tas itu, kelingkingku menyentuh sesuatu. Nafasku berhenti. Sebuah kotak dengan permukaan halus khas beludru. Aku menggenggamnya dengan gemetar dan mengeluarkan kotak itu. Jantungku melorot. Karena di dalam kotak itu ada dua cincin. Emas putih dengan berlian yang kilaunya indah sekali. Benarkah suamiku akan menikah lagi?

Air mataku sudah tidak dapat dibendung. Sekeluarnya suamiku dari kamar mandi, dia menatapku dengan bingung. Dia mendekatiku, memeluk bahuku, “Mama kenapa? Kok tiba-tiba nangis?” Wangi shampo yang aku suka menyeruak di segala penjuru penghidu. Tapi dadaku makin sesak, naik-turun mengikuti irama tangis yang belum menemukan alasan untuk berhenti.

Aku menampik lengannya, lalu berdiri menghadapnya yang masih duduk terbengong-bengong. Nafasku memburu, “Hari ini kamu ke mana, Mas? Pamitnya ke kantor. Tapi dihubungi di kantor ndak ada. Ditelpon ndak bisa. Kamu ke mana?” kata-kata itu meluncur secepat kilat. Pandanganku marah. Aku ingin menusuk-nusuknya dengan garpu yang tajam.

“Aku tadi izin, Ma. Ada urusan mendadak di luar kota,” jelasnya dengan terbata-bata. Wajahnya bingung. Ada sesuatu yang disembunyikan. Aku tahu.

“Kota mana? Kenapa staf di kantor tidak ada yang tahu?”

“Itu… Aduh. Mama ini kenapa sih? Kok tumben marah-marah gini?”

“Aku ngerti kalo aku udah ndak muda lagi, Mas. Udah nenek-nenek. Tapi coba kamu inget perjuangan kita dari awal! Bahkan aku ndak pernah ngeluh waktu kamu ke luar negeri selama dua tahun. Lalu ini apa? Kenapa ada sepasang cincin di tas kamu?” aku nyaris teriak sambil mengacungkan kotak cincin itu ke wajahnya.

Suamiku terkejut. Dia memandang kotak cincin itu cukup lama. Mulutnya membuka, lalu dia menghela nafas panjang dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Sejenak aku mengamati rambutnya yang sudah mulai tertutup uban. Jantungku merosot. Bagaimana bisa laki-laki masih berpikir untuk menikah lagi saat rambutnya sudah tidak hitam lagi.

Tiba-tiba bahunya terguncang-guncang, terdengar suara dari mulut suamiku. Dia tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Hah! Saat ketahuan, pasti semua laki-laki seperti ini. Berlagak bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Ngapain tertawa? Ini ndak lucu, Mas!”

Suamiku berdiri dari duduknya, lalu tersenyum sambil memandangku. Dengan gerakan tangan yang ringan dan lembut, ia meraih kotak cincin dari tanganku lalu menghela nafas panjang.

“Ternyata kalo sudah tua gini, susah ya mau kasih kejutan romantis,” ujarnya. Aku makin bingung dan marah. Seperti dipermainkan. Romantis macam apa ini, membuat jantung berhenti saja.

“Tadi aku ketemu sama anak-anak. Ada sesuatu yang aku pesan dari mereka sejak sebulan yang lalu. Tapi aku minta mereka untuk jangan bilang-bilang Mama. Soalnya…” dia membuka kotak cincin itu, lalu mengambil cincin yang berukuran kecil dan memasangkannya ke jari manisku, “Bapaknya mau kasih cincin kawin lagi ke ibu mereka. Niatnya sih mau bikin lamaran kedua.”

Aku masih berdiri, tidak mengerti. Cincin kawin? Lamaran kedua?

“Ma… Maksudnya apa, Mas?”

“Ini cincin pengganti cincin kawin yang dulu kita jual untuk nambah-nambah uang beli rumah ini, Ma. Juga sebagai rasa terima kasihku, suami yang beruntung pernah lupa menjemput pacarnya dulu dan ketemu kamu, permohonan maaf atas kesalahan-kesalahan sebagai suami dan bapak yang ndak sempurna, dan rasa cinta yang tidak pernah menua.”

Aku sesenggukan. Pipiku memanas. Romantisme memang bukan bagian dari pernikahan kami. Ah bukan. Aku yang tidak romantis. Tapi…

“Tapi ini dalam rangka apa? Kenapa kamu tiba-tiba…”

“Nah kan. Sekalinya marah-marah pinternya jadi ilang. Besok itu… ulang tahun pernikahan kita yang ke 30, kan?”

Sejenak darahku berhenti. Besok. Astaga. Bukan. Bukan perkara bagaimana aku bisa lupa, aku memang tidak pernah ingat. Bagiku, tanggal pernikahan bukan sesuatu yang harus diingat-ingat atau dirayakan. Cukup kujalani dengan penuh bakti kepada suami dan anak-anak. Tapi bagaimana suamiku ini bisa mengingatnya?

“Besok? Ya ampun… Aku lupa, Mas. Aku cuma takut saat kamu mulai sibuk sama ponsel dan telepon-telepon yang aku ndak tahu,” kataku di sela-sela nafas yang sesenggukan menghentikan tangis.

“Ahahaha. Aku juga sebenernya lupa. Cuma dari dulu memang pengen bikin cincin kawin lagi. Anak-anak yang maksa-maksa biar ngasih cincinnya dipasin sama tanggal pernikahan kita.”

Ada rasa hangat yang menggerayangi tubuhku. Sekali lagi kepercayaanku diuji. Sekali lagi kecurigaanku salah dan tidak pada tempatnya. Kali ini, aku ingin Tuhan lebih erat memeluk hatiku agar dijauhkan dari kecurigaan yang tidak perlu.

Laki-laki tambun itu merengkuhku dalam pelukannya dan memberi kecupan hangat di keningku, “Selamat ulang tahun pernikahan kurang satu hari, Mama…”

Perut kami yang sama-sama buncit beradu. Mungkin lucu jika melihat pasangan di usia lebih dari separuh abad, dengan rambut beruban dan tubuh yang tak lagi kencang saling berpelukan. Seperti Carl dan Ellie. Tapi tidak ada hal lain yang aku inginkan lagi saat ini. Kebahagiaan mana lagi yang bisa kudustakan. Orang tua dan anak adalah anugerah Tuhan yang tidak bisa ditolak dan harus diterima apa adanya. Tapi menjalani hidup dan menua bersamanya belahan jiwa adalah pilihan. Aku dan suamiku telah memilih satu sama lain dari jutaan laki-laki dan perempuan yang hidup di dunia ini.

Dan di usia pernikahan yang tidak lagi muda, kami berdua merasa menang. Menang atas ego kami, menang atas perjuangan jatuh bangun membangun bahtera di atas gelombang yang tidak pernah berhenti, menang atas kejenuhan yang berusaha mengubah cinta menjadi mati.

Sekali lagi, aku bukanlah orang yang romantis. Dalam dekapannya, aku hanya membalas dengan pelukan yang lebih erat, dan menyandarkan kepalaku di dadanya. Dia tersenyum. Dia mengerti. Bahwa di antara pelukan kami, ada hatiku yang juga berkata, “Aku bahagia telah mencintaimu setiap hari. Sampai mati.”

[Backsound: Saat Aku Lanjut Usia – Sheila On 7]

***

Moru – Alor – NTT

10 Oktober 2012

 

PS:

  • Cerita pendek ini based on true story tapi dengan beberapa modifikasi (the present wasn’t a diamond ring. We couldn’t afford it ahahaha). Cerita ini adalah cerpen pertama yang menang sayembara menulis antologi. Sehingga mohon maaf jika ditemukan penulisan yang masih (banyak) salah dan banyak yang perlu dikoreksi di sana-sini.
  • Cerita ini adalah cerpen pertama yang masuk kompilasi buku dengan penerbit mayor (meski royaltinya entah ke mana) (hiks). Sempat jadi top 10 di beberapa toko buku online, dan ternyata masih ada yang jual ahahaha…
  • Dalam buku Antologi Cinta, ada 14 cerita pendek yang bisa dinikmati. Kalo kalian pengin baca cerita lainnya, silakan (coba) pesan di sini. Ada tulisan dari Daeng Khrisna Pabichara juga, Gaes :* (ga ngerti apakah bener-bener masih bisa dipesan hehehe)
  • Keputusan mengunggah cerpen ini adalah karena alasan sentimentil.

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Kumatikan puntung rokok yang nikotinnya sudah habis kuhisap, lalu berjalan menuju jendela. Ada sebaris cahaya yang menembus celah di antara dua bongkahan kayu yang dipaku sembarangan. Aku memicingkan mata dan mulai mengintip ke luar. Sepi. Silau. Sepertinya matahari sudah tepat sejajar di arah Barat. Matahari telah berancang-ancang mengembara ke belahan bumi lainnya. Sebentar lagi, senja akan datang.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat pedih, tepatnya.

Begitu banyak orang yang memuja senja. Tapi akulah satu-satunya orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagian. Menggoreskan jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang. Agar indahnya selalu terbawa melalui darah yang mengaliri tubuhnya. Agar ia selalu mengingatku.

“Uhuk uhuk…”

Aku menoleh ke arah suara batuk seorang perempuan di ruangan ini. Ia sedang terduduk lunglai pada sebuah kursi kayu lapuk. Rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Tapi sinar matahari yang masih belum berlalu memberikan pantulan yang nyata bagi penglihatanku. Perempuan yang jantungnya ingin kujejali senja itu sudah sangat lelah.

Perempuan itu memandangku dengan mata sendunya. Seakan ia meminta sejumput kasih sayang yang selama ini ia abaikan. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergetar. “Air. Minta air…” katanya.

Aku mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku yang lusuh, menyalakannya dengan pemantik api tua pemberian Ayah, lalu menghisapnya dengan mata terpejam. Kurasakan nikmatnya racun nikotin mencumbui seluruh sistem di tubuhku. Kepalaku melayang, meletupkan sebuah bayangan yang melenakan untuk sejenak. Dan dalam beberapa detik, aku lupa ada perempuan lemah yang menginginkan air.

Kubuka mata dan menemukan perempuan itu masih memandangiku. Kulangkahkan kaki ke arahnya. Suara sepatu pantofelku beradu dengan lantai dan menggema ke seluruh ruang yang gelap dan sunyi ini.

Dalam delapan langkah, aku sudah berhadapan dengan perempuan itu. Bersamaan dengan ia yang mendongakkan kepalanya dengan lemah, kutundukkan kepalaku. Pandangan kami beradu lagi. Ada sesuatu di dalam dada yang sangat menyesakkan. Rasanya ingin kurobek saja. Tapi aku tahu, merobek dan membuangnya akan sangat sia-sia. Perasaan yang menyesakkan ini adalah sarang laba-laba yang akan datang lagi dalam beberapa detik.

Satu-satunya cara untuk melenyapkannya adalah dengan membunuh laba-labanya.

“Air? Mau air apa? Teh? Kopi? Susu?” tanyaku dengan suara lirih. Kucoba menunjukkan rasa sayangku padanya. Meski untuk yang terakhir kali.

“Apa saja. H… Haus,” jawabnya dengan suara pecah. Mungkin pita suaranya sudah berkerut karena kekeringan.

Kini aku berlutut di depannya. Membelai pipi kanannya yang tirus karena tiga hari tidak makan. Aku menunggu balasan belaian darinya. Tapi kemudian aku tersenyum. Aku lupa, kedua tangannya telah kuikat erat di belakang punggungnya.

“Lapar juga?” tanyaku.

Ia mengangguk dengan cepat.

Aku terkekeh. Kuhisap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, lalu menghembuskan asapnya ke wajah perempuan itu. Ah, rupanya ia tidak suka. Ia langsung memalingkan wajah dan terbatuk-batuk.

Dengan cepat, kuraih wajahnya menggunakan tangan kiriku, memalingkannya hingga wajahnya berhadapan dengan wajahku, “Kapan terakhir kali kamu menanyaiku apakah aku kelaparan? Kapan terakhir kali kamu menyediakanku makan? KAPAN?”

Dapat kurasakan tubuhnya menggeliat. Wajahnya tampak kesakitan. Kulepaskan cengkraman tanganku dari wajahnya dan menghembuskan asap rokokku padanya sekali lagi.

Aku bangkit dan berjalan ke seberang ruangan, seiring dengan ia yang mulai menangis. Tangisannya pilu. Terdengar penuh penderitaan dan dibumbui secuil sesal di dalamnya. Menyesalkah ia? Aku meragukannya.

Dari sebuah meja kayu bundar, kuraih segelas air putih di atasnya. Aku kembali ke hadapannya dan berlutut lagi. Kuteguk sedikit air putih di gelas, lalu kutempelkan ujungnya ke bibir perempuan itu. Aku tertawa melihatnya meneguk habis air itu hingga ia tersedak dan terbatuk-batuk.

“Lihat, tidak usah disuruh dua kali, aku sudah mengambilkanmu air minum ini,” kataku sambil mengacungkan gelas kosong yang kupegang ke arahnya.

“Lalu mengapa Ibu tidak pernah mendengarkan permintaanku untuk kembali ke rumah? KENAPA? DASAR PEREMPUAN BUSUUUK!”

Aku berteriak tepat di depan wajahnya. Sebagian dari dahi dan pipinya tercemar bilur-bilur salivaku yang terlontar keluar bersama kemurkaan yang telah kupendam sekian lama. Napasku memberat, seakan membawa bongkahan lara yang selalu bertambah selama tiga puluh tahun.

Aku bangkit. Memandanginya yang menunduk dan tersedu. Sekelebat bayangan Ayah kembali mengambang di kepalaku. Ayah yang baik dan selalu merana. Ayah yang selalu tersenyum dan memiliki segudang cinta.

Aku mengambil sebuah kursi kayu yang teronggok di bawah jendela. Lalu menyeretnya hingga berada tepat di depan ibuku. Kupandangi wajahnya sekali lagi. Air mata itu masih mengalir.

“Apa salahku hingga Ibu sama sekali tidak mau merawatku?” tanyaku. Rasa pedih menyusup melalui kata yang kuucapkan. Perasaan tidak diinginkan itu datang lagi.

Perempuan di hadapanku ini memang telah mengijinkanku hidup di rahimnya selama sembilan bulan. Tapi selebihnya, aku nyaris tidak pernah merasa kasih sayangnya. Aku tidak pernah merasakan air susunya. Aku tidak pernah dibelai di pangkuannya hingga tertidur. Aku tidak pernah didekap ketika menggigil dan kesakitan.

Sebagai anak-anak, dulu, aku terus menunggu uluran tangan yang merengkuhku ke pelukannya. Tapi pada akhirnya aku tahu. Sudah tiba saatnya aku menyadari bahwa aku tidak pernah memiliki seorang ‘ibu’ ketika anak-anak di sekolahku memanggilku dengan sebutan ‘anak pelacur’.

“Masih ingat Ayah?” tanyaku dengan geram.

Aku menunggu jawaban darinya, sambil menikmati isapan rokok yang tinggal separuh. Tapi Ibu tetap tertunduk dengan tangisnya. Air mata membasahi bibirnya yang kering. Aku meragukan, apakah air mata itu juga mampu membasuh hatinya yang kerontang.

“Ayah tidak pernah berhenti menunggumu pulang. Setelah shalat Isya, Ayah selalu duduk di teras rumah sederhana kita. Pandangannya tidak pernah lepas dari gapura gang. Ia sangat menginginkanmu muncul dari sana.”

Dadaku kembali disesaki sarang laba-laba. Ingatanku melayang pada kebiasaan Ayah. Sepulang dari masjid, Ayah selalu menunggu Ibu pulang. Lengkap dengan sarung berwarna biru dan bermotif kotak-kotak yang sudah usang dan sebuah peci hitam yang berlubang.

Entah sejak kapan, aku selalu membuatkannya segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng sebagai teman penantiannya. Dan sejak saat itu, nikotin adalah sahabat kami berdua dalam melalui masa-masa sulit. Kami adalah dua laki-laki yang dikhianati satu perempuan yang sama.

“Sudahlah, Yah. Cari istri lagi,” kataku di suatu malam. Tapi Ayah hanya menjawabnya dengan senyuman. Hatiku mencelos. Ayah tidak pernah lelah menanti.

Kupandangi lagi wajah Ibu dengan lekat. Diselingi sebuah rasa jijik pada perempuan, yang kutahu, sudah lama telah mati hatinya. “Tapi memang… kadang-kadang penantian Ayah tidak sia-sia. Ibu pernah pulang,” kataku.

“Tapi tidak sendirian. Aku sempat mengira, aku ini dilahirkan oleh perempuan setan, yang tega kembali ke rumah suaminya bersama laki-laki lain di pelukannya!”

Sebuah perasaan marah kembali menggelegak. Marah karena ketidakberdayaan Ayah. Aku muak pada Ayah yang hanya menatap hampa ketika Ibu melewati pintu rumah dalam keadaan mabuk bersama pria yang bergonta-ganti, lalu menempati kamar yang seharusnya hanya ditiduri Ibu dan Ayah.

Sebagai laki-laki, aku bisa menyebut bahwa Ayah adalah laki-laki lemah yang telah dicucuk hidungnya. Seharusnya Ayah bisa menampar perempuan ini, atau menyeretnya ke pengadilan dan menceraikannya tanpa rasa hormat. Ayah adalah pria pedagang yang terhormat. Seharusnya tidak perlu tunduk dan merendahkan harga dirinya di hadapan perempuan macam Ibu.

Tapi ayahku adalah laki-laki yang lembut hatinya. Lebih lembut dari perempuan yang seharusnya memeluk keluarganya dengan kasih sayang. Lebih lembut dariku yang tumbuh tanpa mengenal cinta dan kata maaf.

“Ibu pasti sudah tahu, kan? IBU ADALAH IBLIS!” teriakku. Suaraku menggema di ruang yang menggelap, dihiasi suara Ibu yang meraung-raung dan menangis. Dan tangisannya membuat perasaan marahku menjadi-jadi.

Kucoba menenangkan diri dan menoleh ke arah jendela. Rupanya, malam telah tiba. Aku berjalan ke arah pintu dan menyalakan lampu bohlam lima watt yang tergantung tepat di atas kepala Ibu.

Wajahnya kini terlihat jelas. Perempuan berusia lima puluh tahun ini memang masih cantik. Terlepas dari kulitnya yang kusam karena sudah tiga hari kusekap di rumah tua yang pengap dan berjamur ini, ia masih terlihat cantik. Kecantikan yang melenakan para lelaki muda hidung belang. Kecantikan yang diijinkan Ibu sebagai alasan, wajahnya adalah modal untuk mencari uang.

Inilah perempuan yang pernah kutinggali rahimnya. Inilah perempuan yang telah merendahkan suaminya. Inilah perempuan yang telah membuang hatinya dan membiarkan anak laki-lakinya meraung-raung meminta kasih sayang.

“Maaf, Le… Maafkan Ibu…” rengeknya dalam tangis yang pecah seperti harapan yang jatuh karena tak kunjung tertangkap. Aku menemukan secuil harap itu, bercampur dengan sesal dan permohonan maafku. Aku bisa mendengar bahwa dadanya telah sesak. Seperti ada rongga tertutup yang dihujani air comberan. Mungkin, sekarang tubuh Ibu sudah ingin meluapkan rasa bersalah yang begitu besar. Rasa bersalah yang ia abaikan selama bertahun-tahun.

Tapi bukan itu yang aku mau. Aku sudah tidak ingin mendengar penyesalannya. Sudah terlambat jika penyesalan itu datang sekarang.

“Seharusnya, Ibu minta maaf pada Ayah,” tukasku dengan gemas. Kepalan tanganku mengeras mengingat bagaimana menderitanya Ayah selama bertahun-tahun. Bahkan hingga kematiannya. Tanpa terasa, bilur air merebak di sudut mata.

“Ayah mau mengasuhku, anak yang bukan anak kandungnya. Anak yang Ibu bawa setelah dihamili pemuda hidung belang. Ayah merengkuhku dengan kasih sayang meski aku bukan siapa-siapa.”

Tangisku meledak. Seiring dengan perasaan terluka ketika mengetahui bahwa tidak ada darah Ayah yang mengaliri tubuhku. Sebuah perasaan terbuang dan dipungut. Aku adalah anak anjing yang ditinggalkan ibunya. Dan Ayah adalah tuan yang memberiku makan, menyediakanku rumah dan pendidikan, dan membelaiku dengan kedua tangannya yang penuh dengan permata dan kasih sayang.

“Ibu tahu bagaimana Ayah meninggal? Bertahun-tahun ia menderita karena batuk. Hingga akhirnya Ayah mengeluarkan dahak bercampur darah. Kanker. Penyakit yang mengambil daging dari tubuh Ayah dan menyisakan tulang belulangnya saja. Seharusnya kamu tahu kondisi Ayah saat itu. SEHARUSNYA KAMU LIHAAAT!”

Kubanting gelas kaca yang dari tadi kupegang, tepat di depan kakinya. Suaranya diredam teriakan Ibu yang memekik dan mengumbar ketakutan. Pecahan kacanya memantul dan mengenai kulit pipi kanan Ibu hingga berdarah.

Aku tersenyum.

Darah itu tidak seberapa, Bu. Ibu harus tahu, bahwa perasaanku dan Ayah telah lama tergenang darah dan air mata karena tabiat Ibu yang lebih buruk dari binatang!

“Tapi bagaimanapun, kamu tetap Ibuku. Perempuan yang melahirkanku. Guru agamaku pernah bilang, seburuk-buruknya seorang ibu, tetap harus dihormati.”

Kurengkuh dagunya dan mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi, “Saat guru itu kutanya ‘meski ibuku seorang pelacur, apa tetap harus kuhormati?’ Guru agama bilang, ‘iya’.”

Aku berdiri, menegapkan tubuh dan meletakkan telapak tangan kananku di pelipis, “Jadi lihat ini… Aku sudah hormat sekarang. Sudah cukup? Ahahaha…”

Di antara tawaku yang belum usai, tangisan Ibu merebak dengan sangat merdu, “Maafkan Ibu, Le… Ibu menyesal…” Tangis penuh sesal yang selama ini kutunggu hingga bosan. Hingga sudah tidak ingin kudengar. Tangisannya malam ini terasa sebagai nyanyian. Dan tawaku semakin menyala-nyala.

“Iya, aku memaafkan Ibu. Aku mencintai Ibu. Selama tubuh Ibu dihinggapi setan, Ayah tidak pernah mengajariku tentang rasa muak, jijik, atau marah, meski rasa itu ditujukan pada Ibu,” lirihku. Kuusap bahu Ibu. Kubelai pipinya yang berdarah. Kukecup dahinya yang berkeringat dan mengigil ketakutan. Aku menemukan rasa ingin dikasihani di dalam telaga matanya. Bukan cinta.

Cinta itu tidak ada. Dan aku kecewa.

“Selama ini, Ayah yang mengajariku tentang cinta. Cinta itu mau menunggu. Meskipun tidak akan pernah tahu, apakah penantiannya tidak berbuah dan sia-sia. Dan kamu… Ibu… mengajariku tentang bagaimana menyia-nyiakan cinta dan penantian itu. Dengan cara yang sangat sempurna.”

Kudekap tubuhnya yang gemetar. Aku ingin memberitahunya, bahwa inilah pelukan seorang anak laki-laki yang merindu. Dalam sebuah pelukan yang semakin erat ini, aku ingin berbicara. Bahwa aku mencintainya.

“Aku mencintaimu, Bu. Jika kemarin engkau belum tahu, saat ini kukatakan padamu. Aku mencintaimu,” kataku, sambil mengecup pipinya yang basah oleh air mata.

Ibu meraung-raung. Tubuhnya terguncang-guncang di pelukanku. Mungkin, ia ingin membalas rengkuhanku itu dengan kedua tangannya. Tapi sengaja, belum kubiarkan kedua tangannya bebas.

Beginilah rasanya tidak bisa memeluk, Bu. Begini rasanya menjadi aku selama bertahun-tahun.

Perlahan, aku melepas pelukanku. Kuraih sebuah parang besi yang tergeletak di samping kursinya. Parang yang sudah kusiapkan sejak tiga hari yang lalu. Parang yang telah kuasah dengan rasa cinta. Bersama sejuta amarah di dalamnya.

“Karena aku mencintai Ibu, tidak kuijinkan Ibu menyakitiku lagi. Atau menyakiti siapapun.”

Kuayunkan parang yang mengilat. Ibu memekik kesakitan ketika parang itu menembus dan memotong kedua tungkainya. Teriakannya menyayat hati. Mungkin hatinya, bukan hatiku.

Bau anyir darah menyeruak. Lebih kuat dari yang kukira sebelumnya. Bau darah itu mengandung luka dan kehilangan. Kehilangan yang tidak akan hilang selamanya.

“Maaf, Le. Maaf… Ibu bersalah. Ibu salah… Hentikan, Le… Berhenti… Sakit, Le… Sakiiit…” rengeknya.

Aku terkekeh geli. “Persetan dengan rasa bersalahmu. Tiga puluh tahun aku menunggu. Tiga puluh tahun aku merasa sakit karena celaan dan hinaan orang-orang terhadapku. Aku sakit karena Ibu tidak mau melihatku! Tawaranmu sekarang sudah kadaluarsa, Bu!”

Kuhantamkan lagi parang yang berdarah-darah ke dada Ibu. Teriakan Ibu semakin memanjang dan memekakkan telinga. Lalu perlahan memelan dan tiada.

Aku mencintaimu, Bu. Sangat mencintaimu. Malam ini, kuakhiri dosamu dengan melumurkan dosa di kedua tanganku.

Kupandangi tubuh Ibu yang berdarah-darah. Wajahnya pucat, matanya terbelalak dengan begitu mengerikan, dan napasnya sudah tidak lagi ada.

Napasku memelan. Ada rongga yang mengembang bebas. Bertahun-tahun rasa kecewa, muak, jijik, dan amarah ini bercampur dan mengaduk-aduk hidupku. Seperti laba-laba yang menyarangkan jaringnya setiap saat dan menyesakkan ruang di dadaku.

Malam ini, laba-laba itu kubunuh dengan kedua tanganku.

Kuseret mayat Ibu ke halaman belakang dan membiarkannya tergeletak di atas tanah. Kusiram mayat itu dengan dua ember air, lalu kubalutkan kain putih pada tubuh mayat Ibu yang sudah telanjang. Kuberikan empat kali takbir untuknya, bersama tangis penuh dendam yang rasanya belum terbayar.

Kugali tanah kosong di sampingnya dengan cangkul yang berkarat. Ada sedikit harap yang mencuat, bahwa dengan mengubur Ibu, rasa pedih ini juga terpendam dalam-dalam.

Nanar, kupandangi gundukan tanah yang masih basah. Guru agamaku bilang, meski seorang pelacur, tetap ada surga di bawah kedua kaki Ibu. Sudah kukubur tubuhmu dengan sholat dan doa sebagai penghormatan terakhir, Bu.

Kecuali kedua kakimu. Akan kugantung di langit-langit kamarku.

***

Probolinggo, April 30th 2013

Kupu-kupu di Wajahmu

“Selamat pagi.”

Aku baru saja akan melanjutkan tidur sebelum mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Jantungku bergedup. Refleks kukenakan kupluk biru yang teronggok di samping bantal. Kujejalkan topi rajut itu ke kepalaku yang hampir tak berambut lagi.

“Oh. Halo,” ujarku canggung.

Ivan tersenyum sambil berjalan ke arah ranjangku. Diletakkannya serumpun bunga berwarna merah dan ungu di pangkuanku. Kelopaknya yang tipis tapi lentur masih basah oleh embun tadi pagi. Wanginya juga masih terasa begitu segar. Seperti ada kekuatan dan harapan yang tengah meliuk dan menelusup ke dalam penghidu.

“Tadi papasan sama Tante. Katanya mau pulang dulu dan aku langsung disuruh masuk. Eh iya… Apa kabar?” tanyanya.

Ingin sekali menjawab bahwa seketika nyeri di persendian tiba-tiba menghilang melihat kedatangannya. Tapi yang meluncur dari mulutku hanya, “Seperti yang kamu lihat,” sambil terburu-buru menutupi kedua kaki yang membengkak dengan selimut loreng putih-biru.

Lelaki yang kukenal sejak kecil itu mengalihkan pandangannya menuju tanganku yang terpasang venflon. Senyumnya tertahan. “Pakai beginian sakit, ya?” tanyanya sambil menyentuh ragu selang yang terjulur ke botol infus.

“Ehm… sekarang sih enggak. Tapi kalau lagi pulse methyl… itu baru kerasa sakit.” jawabku. Aku menunggu Ivan bertanya apa itu pulse methyl. Tapi lelaki di depanku hanya menggangguk-anggukkan kepala.

“Kapan masuk kuliah lagi?”

Pertanyaan Ivan membuat hatiku mencelos. Kuliah. Sudah dua bulan kutinggalkan kosa kata itu entah di mana.

Kupalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Mengamati seekor kucing rumah sakit yang sedang berjemur di taman. Rambutnya yang berwarna kuning menjadi keemasan ketika sinar matahari menempa tubuhnya.

Sinar matahari. Betapa hal sesederhana itu sangat kurindukan. Air mata mulai menggenang. Hah! Khas manusia. Menyesal ketika mulai kehilangan kesempatan.

“Iris. Nama bunga itu adalah Iris,” jelasnya tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. Lalu memandangi bunga-bunga Iris yang masih duduk manis di kedua tanganku. “Oh. Seperti judul lagu Goo Goo Dolls.”

Ivan tergelak mendengarku. “Ya ya… Seperti lagu Goo Goo Dolls. Tapi ternyata Iris lebih hebat dari John Rzeznik yang tiba-tiba potong rambut demi lagu itu.”

Mendadak perhatianku teralih. Pikiran tentang kucing yang sedang berjemur telah tergantikan oleh Iris. “Apa?”

Ivan menarik napas panjang. “Dulu, mungkin saat nasib dan hidup kita berdua belum direncanakan, ada seorang pelukis yang depresi dan terasing. Dia gila. Atau paling tidak, orang-orang menyebutnya gila.”

Ivan berhenti sejenak, menimbang apakah harus meneruskan ceritanya.

“Lalu?” tanyaku.

Ivan tersenyum dan meneruskan kembali kisahnya, “Suatu hari, ia melukis sebuah mahakarya. Sebuah padang yang dipenuhi bunga Iris. Lukisan di mana tertuang sisa-sisa kewarasannya di atas kanvas.”

Napasku memberat. Percaya atau tidak, sejujurnya aku tidak sudi disamakan dengan orang yang pernah gila. Tapi sepahit atau sesedih apapun, bukankah sebuah kisah itu selalu ada yang menarik untuk disimak hikmahnya?

“Tapi siapa sangka, dari puing-puing kewarasan yang disusun di rumah sakit jiwa, lukisan Iris justru dikenal sebagai lukisan yang cantik, mewakili perasaan dan kehidupan.”

Kembali kupalingkan wajah ke luar jendela. Kucing berambut kuning sudah tidak ada di sana. Mungkin dia mengembara ke sela-sela dapur untuk mencuri sepotong ikan. Demi bertahan hidup, seekor kucing bisa melakukan segalanya. Dan demi bertahan hidup, aku hanya bisa bergantung pada obat-obatan menyakitkan yang jumlahnya tidak pernah berkurang.

“Mereka… orang-orang yang dulu kukira teman… merasa jijik denganku setelah tahu aku kena Lupus. Mereka menjauh karena rambutku yang rontok perlahan. Mereka menjauh dari kulitku yang memerah dan mengerikan bila tertempa matahari. Bahkan… mereka memanggilku kepiting rebus.”

Suaraku tercekat saat mengatakan ini. Lalu kuingat bagaimana lelahnya menahan sakit kedua lutut yang terasa akan terlepas dari tempatnya. Tentang kulit yang memerah dan seakan terbakar setiap terpapar matahari. Sariawan di mulut yang tidak memudar. Air mata yang menggenang kini jatuh dan membabi buta. Ah, perempuan! Dipancing dengan cerita tentang bunga saja sudah terharu tak keruan.

Namun tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada tangan yang menggenggam tanganku, menenangkannya saat gemetar begitu hebat. “Mereka berbohong. Tidak ada panci yang muat untuk merebusmu,” ujar Ivan.

Aku tergelak, bahkan hampir tersedak air mataku sendiri. Dasar, Ivan! Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuatku merasa lebih baik.

“Enak aja! Kamu juga canggih banget ngomongin dongeng  pasti nyontek dulu, kan?” ledekku, berharap dia akan ikut tertawa bersamaku.

Namun Ivan hanya menyunggingkan senyum kecil dan memandangiku. “Aku tidak akan pernah paham rasanya menderita sakit seperti yang kamu alami. Tapi aku yakin, Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata, Na.”

Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata.

Ada sebuah ruang yang tiba-tiba menyesaki dada. Ruang itu dipenuhi doa dan harapan yang selama ini tak berani kuungkapkan. Jika pelukis gila tadi bisa menyelamatkan sisa kewarasannya lewat lukisan, maka aku pasti bisa menyelamatkan harapan juga. Tidak muluk-muluk. Harapan untuk bisa menikmati sinar matahari pagi. Itu saja.

Tiba-tiba kudengar Ivan bergumam lagi. “Lagi pula… bila itu kamu, maka bukan kepiting yang direbus. Itu adalah kupu-kupu.”

“Hah? Oh… Iya…,” lirihku sambil menutupi ruam merah yang mulai menjalar di kedua pipiku dengan masker berwarna biru. Entah mengapa… Padahal tidak ada sinar matahari yang menerobos ke kamarku.

“Dan… aku menyukai kupu-kupu di wajahmu.”

Lalu kami berdua terdiam. Ruangan berdinding putih dan dingin ini seakan turut membuat suasana menjadi hening.

Dan kupu-kupu di wajahku beterbangan… menyelinap masuk hingga ke lambungku.

***

Malang, June 9th 2014

* Cerita tentang lukisan bunga Iris adalah berdasarkan lukisan Irises oleh Vincent Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889.

** Cerpen ini dibuat dalam rangka ‘pemanasan’. Ahahaha *gemeter*

Lukisan Tanpa Warna Merah

Kepalanya berdenyut. Pusing. Sudah seharian kuasnya menari di atas kanvas, tetapi ada sesuatu yang tidak pas. Berkali-kali ia mengamati lukisan yang dikerjakannya. Berusaha mengartikan keganjilan yang dibuatnya sendiri. Tapi tetap saja. Nihil. Otaknya buntu.

Ia menyerah. Perempuan itu melemparkan kuas yang sedari tadi dipegangnya ke tumpukkan tube cat minyak yang mulai gepeng karena isinya hampir habis. Lalu menghempaskan diri di atas kursi anyaman bambu yang menghadap pantai, menyalakan sepuntung rokok filter, lalu mengisapnya dengan syahdu.

Perempuan itu memejamkan mata. Menajamkan telinga. Ia ingin menangkap semua suara yang ada. Debur ombak yang memburu. Daun kelapa yang dibuai angin. Serta senda gurau dua remaja di mabuk cinta yang bekejaran di tepi pantai.

“Iiih… udah, ah. Capek kejar-kejaran terus,” kata remaja perempuan. Suaranya begitu manja dan ia seperti sengaja memanjangkan suku kata di akhir kalimat dengan intonasi yang menggemaskan.

“Segitu aja udah capek. Aku dong, nggak pernah capek ngejar-ngejar kamu…” ujar remaja laki-laki. Suaranya terdengar begitu jumawa dan percaya diri. Diikuti dengan gelak tawa remaja perempuan, tersirat malu-malu di dalamnya.

Perempuan pelukis tersenyum sinis mendengar obrolan mereka.

Young love.

Cinta yang memburu seperti ombak, dan mudah terbuai oleh kata-kata mutiara. Cinta naif yang menggebu.

Kalian belum mengerti, bahwa akan ada saatnya cintamu memburu hati yang salah.

Perempuan pelukis tidak lagi seorang pemburu. Ia memilih menghindari belantara dan menghempaskan diri ke dasar samudera. Membiarkan kata-kata mutiara itu terlepas dari dirinya dan kembali ke lautan.

Tiba-tiba pintu ruang pribadinya terbuka secara paksa. Pelukis perempuan itu terhenyak dan menghentikan lamunannya. Ia hampir saja menjatuhkan rokok dan menghancurkan karpet beledu favoritnya ketika melihat siapa yang datang.

Seorang perempuan menerobos masuk. Tanpa mengucapkan salam atau permisi. Semua pasti setuju bahwa perempuan ini mirip musang. Mukanya tirus, kempot dan kisut seperti buah yang disesap habis airnya. Gigi depannya mencuat sehingga membuatnya susah menutup mulut. Wajahnya kaku karena riasannya begitu tebal, seakan retak jika ia menggerakkan otot wajahnya meski sedikit saja. Blouse yang dikenakannya begitu ketat. Seolah tidak ada ruang baginya untuk bernapas. Dan suara sepatu berhak tingginya… sangat mengganggu. Beradu dengan kerasnya lantai kayu. Tak-tuk-tak-tuk. Membuat langkah kakinya seperti irama ketukan pemanggil kematian.

“Gimana jawaban untuk tawaranku, El? Sudah kau pikirkan?” tanya perempuan berwajah musang itu. Si perempuan musang bahkan tidak memandang perempuan yang dipanggilnya El. Matanya jalang. Liar mengamati ruangan yang baru saja ditapakinya.

Perempuan yang dipanggil El memalingkan muka. El memijit-mijit keningnya. Sial. Rupanya perempuan berwajah musang ini tidak bisa membaca tanda Don’t Disturb yang tergantung di pintu.

El kembali memandangi pantai dan buruannya. Wajahnya masam. Jelas sekali ia tidak menyukai kehadiran si perempuan berwajah musang. El tidak mau ambil pusing, atau repot-repot menanggapi perempuan berwajah musang itu. Ia kembali menumpuk nikotin ke dalam tubuhnya. Dan berpura-pura, seakan perempuan musang itu tiada.

Perempuan berwajah musang memandang El dengan mata yang menyipit. Mulutnya mencibir, “Jangan jual mahal. Kapan lagi ada yang berbaik hati memberi fasilitas mewah untuk pelukis amatir seperti kamu?”

El tetap bergeming. Bukannya El tak peduli. Justru ia sangat peduli. Peduli tentang bagaimana caranya mengenyahkan perempuan musang ini secepatnya.

Persetan dengan tawaranmu. Sekali pun aku tidak akan sudi direndahkan di bawah kakimu.

El menyesap rokoknya dengan mata terpejam. Menikmati aliran racun tembakau yang mulai mengisi alveoli. Racun itu membawa serta kenangan-kenangan buruk. Di dalam kelopak matanya, kini sebuah piringan hitam dimainkan. Menyanyikan sebuah lagu luka. Luka yang seharusnya telah tenggelam bersama hatinya.

Tapi sikap dingin dan angkuh El tidak menyurutkan semangat perempuan berwajah musang. Dahinya berkerut, ujung bibir kanannya terangkat, raut mukanya menunjukkan bahwa ia semakin penasaran.

Kini perempuan berwajah musang melempar tas mahalnya ke sebuah kursi bambu di sebelah El. Lalu berjalan menuju salah satu lukisan abstrak. Sebuah pusaran tak beraturan yang didominasi warna merah dan hitam. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Dahinya berkerut, “Lukisan ini terlihat sangat… Marah. Kamu sedang memikirkan siapa saat melukis ini, El? Suamiku? Ahahaha…”

El membuka matanya. Kata-kata perempuan berwajah musang tadi sangat mengganggunya. Rahangnya menegang, hingga terdengar gigi yang beradu. Kedua tangannya mengepal sangat keras, hingga kuku jari yang dipotong serampangan meninggalkan jejak di telapak tangannya. Dan yang membuatnya semakin geram adalah perubahan sikapnya menunjukkan bahwa ia terluka. El tidak suka perempuan berwajah musang itu berpikir mampu melukai hatinya. Tapi terlambat. Kata-kata peremepuan berwajah musang memang tepat pada sasaran.

Perempuan berwajah musang tampak bahagia kalimatnya tadi menusuk pada titik yang tepat. Ujung bibir kanannya mencuat ke atas, membentuk seringai yang mengerikan. Otaknya berpikir banyak hal. Dan semuanya tentang bagaimana caranya memenangkan pertarungan hari ini.

Kini ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu berjalan pelan, mendekati El yang mematikan puntung rokoknya, “Apa tawaranku terlalu kecil untukmu, El? Dengar… Tidak ada tawaran yang lebih baik dari ini. Aku telah berbaik hati meminjamkan galeri lukisku padamu. Kamu bisa melukis sebebas-bebasnya. Dan hasil karyamu akan langsung dipamerkan. Bukankah itu hebat?”

El bangkit dari duduknya, berjalan menuju kanvas yang seharian dikerjakannya. Ia duduk bersila dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Padahal, di dalam dadanya, kini terdapat jantung yang bergemuruh. Ia membersihkan beberapa kuas cat, merapikan tube cat minyak yang berantakan dan berharap perempuan berwajah musang ini segera angkat kaki dari pondoknya.

Tapi perempuan berwajah musang bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tidak akan pergi sebelum keinginannya terkabul. Bukan. Dia bukanlah orang yang mau berbaik hati menawarkan bantuan pada perempuan yang pernah menjadi selingkuhan suaminya. Perempuan berwajah musang itu hanya ingin melihat El terjajah di depan matanya.

Ia mengambil sebatang rokok dari meja El. Menyulutnya, lalu mengisap perlahan. Sejenak ia menikmati pantai yang sudah sangat lama tidak disinggahinya. Matanya menangkap sepasang remaja yang duduk di sebuah bangku kayu. Tertawa bahagia sambil berbagi sebuah kelapa muda dengan dua batang sedotan.

Young love.

Perempuan berwajah musang memicingkan matanya. Memandang sepasang remaja itu dengan kecemburuan tiada tara. Mulutnya mengatup begitu erat, seakan menahan kekecewaan karena tidak bisa mengecap keindahan cinta yang hanya tahu tentang berbagi, bukan saling meminta. Kalian belum tahu, bahwa kesetiaan adalah barang yang langka. Bahkan aku harus bisa membelinya dengan harga yang sangat mahal. Seperti yang kulakukan pada suamiku.

“Tapi jangan harap kamu bisa menggoda suamiku seperti dulu, El. Dia sudah seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Dia tahu pada siapa dia harus meletakkan kesetiaan. Karena tanpa aku, dia hanya laki-laki payah yang hanya bisa makan dan mendengkur,” kata perempuan berwajah musang. Lirih. Seakan ia mengucapkan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Sebagai sebuah kebanggaan karena mampu membeli hati suaminya. Atau sekedar peringatan bahwa yang dimilikinya hanya sekedar bayangan.

Pikiran El membuncah. Dadanya sesak karena api amarah yang menyala-nyala. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan berwajah musang ini tampak begitu bahagia menyampaikan hal yang menyakitkan. Jantungnya mencelos. Sakit. Ketika memorinya memanggil lembaran kenangan tentang bagaimana cara perempuan berwajah musang ini mempermalukannya di depan umum. Menjambak rambutnya, menyeretnya keluar dari restoran dan menyebutnya pelacur.

Benar, suamimu hanya bisa makan dan mendengkur. Setelah menipuku dan berkata bahwa ia belum pernah menikah, laki-laki busuk itu hanya berdiri mematung ketika melihatku diperlakukan seperti anjing.

“Meski nantinya nama yang harus tertera di lukisanmu adalah namaku, aku tetap memberimu upah 30% dari hasil penjualan. Aku rasa, 70-30 adalah pembagian yang adil, mengingat fasilitas yang kamu gunakan adalah milikku.”

“Jika kamu merasa hebat, gunakan lukisanmu sendiri.”

Akhirnya El tidak tahan untuk menahan kata-katanya lebih lama. Harga dirinya pernah terbuang percuma. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.

Perempuan berwajah musang menoleh, memandangi El dengan tatapan berbinar. Ia merasa bahwa umpan-umpan yang dilemparkannya telah berhasil menangkap ikan terbesar yang ia inginkan. Dalam hati, ia berharap segera membawa ikan itu pulang, dan mengawetkannya bersama rasa sakit dan lara setelah dikhianati oleh suami dan selingkuhannya.

Sampai saat ini, perempuan berwajah musang tidak bisa melupakan ejekan dan pandangan negatif publik terhadap dirinya. Seniman sukses yang gagal mempertahankan cinta. Ironis. Lukisan-lukisannya selalu bercerita tentang romantisme. Tetapi romantisme hanyalah cadar pernikahannya yang tidak pernah bahagia. Dan ketika romantismenya dikhianati, ia memilih menggunakan romantisme yang sama sebagai kamuflase. Demi nama baik dan karirnya.

“Seniman sibuk dan terkenal sepertiku tidak punya banyak waktu untuk melukis. Kamu pikir semua yang dipamerkan itu murni lukisanku? Jangan naif, El! Ahahaha…”

“Sampah!”

“Sudahlah… Jangan menilai dirimu terlalu tinggi. Selain jadi selingkuhan, kamu hanya pelukis amatir yang memasrahkan nasib pada orang yang salah. Goresan kuasmu memang indah, El. Tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang lukisan. Lihat saja… Menyimpan lukisan di ruang terbuka yang terpapar sinar matahari, di dalam rumah bambu pinggir pantai yang udaranya bersifat korosif. Kamu pikir lukisan itu sekedar barang dagangan?”

Tanpa sadar, El mematahkan sebuah kuas yang digenggamnya dengan sangat erat. Perempuan ini kurang ajar sekali. Tahu apa dia tentang lukisan jika dia sendiri menggunakan lukisan untuk mencederai hati orang lain?

“Ini lukisan yang sedang kau kerjakan, El? Hmmm… Ada yang kurang. Tidak ada harmoni dalam warnanya. Mungkin akan sempurna jika kamu mengerjakannya di galeriku. Tentu saja jika kamu tidak terlalu sibuk merayu suamiku.”

Tiba-tiba saja perempuan berwajah musang ini sudah berdiri di belakang El yang membungkuk dan membersihkan kuas-kuasnya. Kepala perempuan berwajah musang itu menunduk, matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum yang menjijikkan. Ia berkacak pinggang selayaknya majikan yang berkuasa pada bawahan yang tak berharga.

Keparat!

Emosi El meluap dan tumpah tak terkendali. Tidak ada ruang kosong di tubuhnya. Semua terisi benci dan amarah yang buihnya menggelegak.

“Jadi gimana, El? Aku sudah membawa kertas kontrak. Kamu tinggal tanda tangan dan semua beres. Aku akan segera…”

Belum sempat perempuan berwajah musang itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba El menghantam kepalanya dengan easel kayu mahoni. Perempuan berwajah musang terhuyung mundur. Keseimbangannya jatuh. Tubuhnya luruh dan menghantam lantai kayu.

El gelap mata. Ia mendaratkan pukulan sekali lagi. Tepat di bahu perempuan berwajah musang. Dan sekali lagi. Memukulnya tepat di pelipis perempuan berwajah musang hingga berdarah-darah.

Mata El meliar. Bau anyir darah mengingatkannya pada janin yang digugurkan secara paksa oleh laki-laki bangsat yang hanya tahu makan dan mendengkur. Nyeri dan sakit hati yang dirasakannya selama berbulan-bulan, kini dipindahkan lebih hebat pada perempuan busuk yang sudah terkulai. Berkubang darah dan tanpa nyawa.

El terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Matanya nanar memandang sekeliling. Cipratan darah di mana-mana. Bahkan di wajahnya.

El dan perempuan berwajah musang tidak menyadari bahwa mereka adalah perempuan yang sama-sama terluka. Dengan cara yang berbeda. Perempuan berwajah musang memilih untuk memiliki cinta yang menghancurkan. Dan El, memilih menghancurkan diri dengan mencintai cinta yang tak bisa dimiliki.

Pandangan El berhenti pada lukisan yang belum selesai dikerjakannya seharian. Senyumnya mengembang. Langkahnya terayun pelan. Jari tangannya meraih sebuah kuas yang tergeletak tepat di samping mayat perempuan berwajah musang.

“Benar. Paduan warna di lukisanku ini belum memiliki harmoni. Karena aku baru ingat. Aku kehabisan cat warna merah.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 11th 2013

 

* Cerpen ini pernah dimuat di Random 2: Payudara Sebelum Lusa.

Advertisements
%d bloggers like this: