Archive for the ‘ 30HariLagukuBercerita ’ Category

Fin [… but not the end]

Kegiatan menulis #30HariLagukuBercerita sudah berakhir.

Seru.

Saya follow @PosCinta sudah sejak lama. Sering mondar-mandir blognya untuk sekedar membaca postingan yang keren. Tapi untuk ikut menulis, saya belum berani.

Proyek menulis selama 30 hari sepertinya terlalu melelahkan buat saya (pada saat itu). Sekitar satu atau dua tahun lalu, saya pernah ditantang di bulan Oktober, membuat satu cerita atau surat setiap hari. Tapi saya mundur. Alasannya simpel, ndak ada waktu. Bagaimana mungkin bisa konsisten untuk membuat sebuah karya yang penuh kata tiap hari? Apalagi selama ini saya tidak pernah membuat tulisan fiksi. Ide tidak bisa keluar dengan semena-mena. Dia muncul kapan saja. Tapi buat saya, tidak setiap hari.

Di akhir bulan Agustus, setelah @PosCinta mengumumkan akan ada proyek menulis #30HariLagukuBercerita di bulan September. Saya mulai menimbang-nimbang lagi. Sebagai orang yang mengaku ‘suka musik’, banci menyanyi dan sering menyombongkan skor saat berkaraoke di Inul Vista, harga diri saya mulai terusik. Hey, kenapa tidak? Hampir setiap hari saya menggembar-gemborkan betapa musik bisa mempengaruhi hidup, hati dan jalan hidup. Lalu mengapa sekarang tidak ditambah, “musik itu menginspirasi”? (Eh… bukannya sama aja, Chil? Ya pokoknya gitu…)

Oke. Saya ikut. Tidak peduli apakah nanti stok ide itu habis di tengah jalan. Atau kata-kata saya tersendat karena memang kurang banyak membaca. Atau rangkaian kata yang saya sajikan tidak menggetarkan karena kurang kreatif meraciknya. Atau koneksi internet di Alor yang naik turun seperti dada orang yang menanti ajal. Saya ikut proyek ini.

Diawali dengan sebuah skenario khayalan yang sudah lama bertengger di otak saya, tentang putus asa dan harapan, saya memulai kisah tentang Biana VS Gema. Bagi saya, proses menemukan kembali sebuah harapan itu tidak mudah. Menggulingkan hati yang sudah beku karena tidak berani berharap dan tersungkur di keputusasaan itu sangat berat. Entah itu tentang cita-cita maupun cinta. Merangkak naik lebih berat daripada berjalan dan berlari. Tubuh kita harus bisa melawan gravitasi. Kedua tangan kita harus kuat menggenggam tebing yang tajam dan menyakitkan. Kaki kita harus pandai memijak bebatuan yang bisa tergelincir setiap saat. Dan mata kita terarah ke satu titik, berusaha melekatkan cahaya di sensoris, meneruskannya ke sistem berpikir kita dan memerangkapnya erat-erat sebagai motivasi juang.

Lalu apa yang terjadi saat kita mampu mencapai tebing harapan? Sebagian dari kita, mungkin akan duduk sejenak dan menikmati udara sebanyak-banyaknya. Tubuh kita akan meminta paru-paru untuk bernafas sebebas-bebasnya. Mata kita terpejam, menikmati semilir angin yang mendinginkan pipi penuh luka. Kepuasan itu tidak bisa dideskripsikan. Kepuasan itu hanya kita yang rasakan. Seperti Biana yang menemukan harapan pada Gema (meski pada akhirnya mereka ‘dibunuh’). Biana sendirilah yang bisa memahami rasanya. Bahkan penulisnya pun tidak bisa ikut merasakan (lha?).

Sama seperti kepuasan saya saat ‘bisa menulis lagi’. Saat ada berita bahwa Multiply akan ditutup, saya kembali mengunjungi blog saya, dan terkejut saat mendapati banyaknya postingan blog saya di situ. Bahasanya memang kacau balau, seperti dibuat dengan terburu-buru karena minimnya waktu saat koass dan banyaknya kejadian-kejadian unik saat itu. Tapi saya tidak peduli. Saya tetap menulis. Dan menyampaikan isi kepala saya yang berantakan itu pada khalayak ramai. Dan kebahagiaan tersendiri saat akhirnya saya bisa meramu lagi kata-kata yang sempat terbelenggu menjadi satu tulisan yang bisa dibaca orang lain. Entah itu bagus atau tidak. Saya kembali menulis. Dan itu menjadi satu titik tolak. Saya harus kembali belajar menuang kata dan mengukirnya hingga isi hati dan pikiran saya bisa tersampaikan dengan baik.

Sesekali, saya mencoba menulis tentang ‘cinta yang tidak tersampaikan’. Sang Penyembuh adalah debutnya. Apa sih yang ndak lebih menyakitkan dari hati yang menaruh harapan pada sesuatu yang tidak ada? Rasanya cuma bisa bengong, menikmati sendiri desiran di dalam hati tanpa ada yang bisa diajak berbagi. Tapi rupa-rupanya, cerita ini setengah absurd (pffftt…). Sebenarnya banyak sekali ide imajiner yang melayang-layang di dalam kepala. Dipengaruhi dari karya fiksi yang selama ini saya baca, baik dari lagu, komik, novel atau film. Tapi ternyata imajinasi saya selama ini masih belum cukup oke untuk dituangkan dalam barisan kata. Sekali lagi. Saya harus belajar.

Dan memang paling dapet ‘feel’nya jika menuliskan sesuatu yang dialami sendiri. Berasa kawin dengan diri sendiri. Seperti Walk On Fire. Meski pada akhirnya masih ada kekurangan di sana-sini, karena ide yang masih mentah dan disajikan sebelum dibumbui dengan pas, tapi ada sesuatu yang membuat saya berpikir, bahwa dengan menulis, kita bisa berbagi cerita dengan orang lain (yah… memang aslinya cerewet sih. Mau gimana lagi :p ).

Ruang 23 adalah satu cerita yang paling banyak mendapat komentar. Sebagian besar protes karena terlalu datar. Jujur, saya sendiri merasa demikian hehehe… Tapi saya terharu mengetahui bahwa ternyata tulisan saya layak baca. Meski itu sederhana dan kacau di sana-sini, tetapi dengan adanya kritikan, saya semakin semangat untuk mengembangkan kekayaan ide, imajinasi dan ramuan bahasa yang saya punya.

Harga Mati adalah satu tulisan yang spontan. Ide itu tiba-tiba meletup saat mengingat sebuah sms mantan gebetan jaman sekolah (tsaaah…) yang mengatakan bahwa, “Saya ndak pernah membayangkan datang ke rumahmu untuk mengantar istri yang akan melahirkan.” Oke. Ini bisa jadi tagline cerita tentang perselingkuhan (note: saya tidak pernah jadi selingkuhan gebetan saya itu #dijelasin).

Fireworks adalah sebuah cerita yang selama ini mengganggu pikiran saya yang terinspirasi dari beberapa serial Korea, dimana karakter perempuan berpura-pura menjadi laki-laki, dan si laki-laki kemudian jatuh hati dan bimbang tentang orientasi seksualnya sendiri. Bukan berarti saya bingung dengan orientasi saya (peluk @TomFelton). Tapi saya membayangkan, bahwa orang-orang dengan orientasi seksual yang ‘berbeda’, mungkin pada awalnya ada sebuah penyangkalan dalam dirinya. Ketakutan dan perang batin, menjadi mimpi buruk selama berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun. Mungkin seperti itu. Dan entah kenapa, saya ikut merasa sedih ketika ada orang-orang yang tidak bebas menjadi dirinya sendiri saat jatuh cinta. Seperti kata Ryan (bukan dari Jombang. Tapi karakter fiksi di cerpen saya), “Tidak peduli kamu laki-laki, alien atau setan, aku mencintaimu.” Ya… Seharusnya cinta bisa sesederhana itu bukan?

Makin lama, saya bisa ‘melihat’, ternyata banyak ide yang bisa dikembangkan. Banyak sekali. Bahkan dari gombalan konyol yang sering dilontarkan di Twitter (Happily Ever After), dari mimpi seorang sahabat saat dia terobsesi pada idolanya yang beda agama, atau dari satu kalimat Sumpah Dokter yang pernah saya ucapkan beberapa tahun lalu (cerpen yang ini belum saya post. Bhihihiks). Pada intinya, banyak hal ‘remeh temeh’ yang bisa dijadikan sumber inspirasi dan pembelajaran. Bukan sekedar untuk dijadikan ide tulisan, tapi bisa lebih dari itu.

September tahun ini sudah berakhir, tapi mudah-mudahan semangat saya tidak ikut padam seperti Gerakan 30 September PKI (mulai garing). Selamat berkumpul bagi para pecinta kata di acara gathering @PosCinta – Bandung. Salam hangat dari Alor – Nusa Tenggara Timur (sebuah kepulauan dengan pantai-pantai yang keren #PromosiTerselubung). Mudah-mudahan, lain waktu saya bisa ikutan mejeng bareng, wahai penulis-penulis keren (cium jauh).

Akhirnya, saya berterima kasih pada @PosCinta atas proyek #30HariLagukuBercerita di bulan September ini. Istilahnya, proyek ini mampu membuka lagi ide-ide yang selama ini terabaikan dalam lembar-lembar gyrus otak saya. Benar-benar bikin September makin ceria (dan juga karena cerita saya pernah masuk jadi cerita pilihan –meski cuma- dua kali ihihihi). Terima kasih pada @gembrit dan @sunoesche yang saya mensyen tiap tiga hari sekali, terima kasih sudah mau membaca tulisan saya yang masih berupa tunas. Semoga selanjutnya saya rajin siram-siram dan kasih pupuk (wide grin). Mohon kritik dan sarannya :’)

Terima kasih untuk @si_nu dan @Mpiit, dua sahabat yang menjadi kritikus tulisan-tulisan saya. Maap yeee udah maksa-maksa untuk baca mwahahahaha (5S ~ Sun Sing Suwi Sampe Semaput). Dan terima kasih buat semua yang mau mampir ke blog saya (peluk cium buat yang perempuan, virtual hug buat yang laki-laki). Jangan bosen datang ke noichil.tumblr.com yaaa :*

And I want to thank you

For giving me the best day(s) of my life

***

[Thank You – Dido]

September 29th 2012

Kalabahi – Alor – NTT 

Advertisements

Isyarat Hati

‘Cause I live to get lost in lazy afternoons with you

And what I’d give for any cause to turn a day into a few

***

Gadis itu sudah mencuri perhatianku selama 5 bulan 4 hari 7 jam 34 menit dan 45 detik, 15 detik setelah pertama kali aku bertemu dengannya di kios sebelah rumah kosku, saat pertama kali aku pindah ke kota ini. Kami tidak pernah bertegur sapa meski aku tahu namanya. Klasik, aku malu.

Dia adalah anak ketua RT. Rumahnya tepat di depan rumah kosku. Kamarku ada di lantai dua, tepat berhadapan dengan kamarnya yang juga berada di lantai dua. Pagiku selalu hangat, ditemani sinar matahari, secangkir kopi dan senyuman malu-malu gadis itu dari rumah seberang. Dan malamku damai melihat bayangan hitamnya dari balik tirai kamarnya. Siluet tubuhnya tampak sempurna hingga ingin suatu saat aku bisa memeluknya dari belakang. Sejak 5 bulan 4 hari 7 jam 40 menit dan 37 detik  yang lalu, memandangnya dari jauh telah menjadi kebiasaanku.

For once, I wouldn’t need my guitars

‘Cause right now I’d rather be in your arms

Kegiatannya sehari-hari adalah membantu ibunya yang memiliki sebuah warung makan. Aku terbiasa menahan lapar dan menolak ajakan rekan-rekanku untuk makan bersama sepulang kerja agar bisa mampir ke warung bu RT. Tempat duduk favoritku adalah di pojok kiri, berhadapan langsung dengan gadis itu saat ia menyiapkan minuman. Aku cukup senang meski hanya duduk, mengunyah makanan di piring dan menikmati gadis itu bekerja di hadapanku. Terlebih lagi saat mata kami beradu, lalu bertukar senyum. Rasanya seperti ada hantaran llistrik yang berdenyut hingga sewindu.

Sehari-hari, dia suka mengenakan rok selutut. Dia menyukai motif bunga-bunga, ada empat motif bunga yang berbeda. Aku suka saat dia mengenakan rok yang dominan hijau dengan bunga-bunga kecil berwarna jingga-kuning, dan atasan berwarna putih polos. Di mataku, dia terlihat seperti dewi. Rambutnya bergelombang dan cukup panjang, sekitar 10 cm di bawah bahu. Model rambutnya hampir selalu sama, ekor kuda yang cukup tinggi hingga aku bisa memandangi tengkuknya. Kulitnya langsat. Beberapa detik, kadang muncul keinginan mendaratkan ribuan kecupan di sana.

Tapi pada hari Jumat biasanya dia menggunakan celana kain model kulot berwarna hitam karena pagi harinya dia mengantar ibunya ke pasar dengan menggunakan motor bebek berwarna merah. Kadang-kadang dia menggerai rambut dan menyelipkan sebuah pita kecil di sisi rambut bagian kanan. Aku mengira-ngira, dia suka saat rambutnya melambai diterpa angin yang berlawanan dengan arah laju motornya.

Di hari Selasa dan Kamis pagi, dia rutin membeli bubur ayam yang lewat di depan rumah. Dan di hari itu pula, aku selalu sarapan dengan menu yang sama. Pada hari Minggu, dia suka menghabiskan waktu dengan berkebun di halaman depan rumahnya. Dan di hari Minggu aku selalu bermalas-malasan sambil membaca koran di halaman depan rumah kosku. Kadang aku bangun lebih pagi, mengamati loper koran, lalu menyelipkan kartu rindu untuknya di sela-sela halaman koran. Entah dia menyadari itu aku atau bukan, tapi aku suka melihat wajahnya yang tersipu saat membaca kartu-kartu picisan yang kutuliskan untuknya. Senyum di wajahnya adalah energi yang tidak dapat dimusnahkan. Setidaknya bagiku.

‘Cause just one kiss is all I need

Take my hand and let me lead

Far away to an empty place

I live to see your face smiling back at me after kissing you

***

Suatu pagi, terdengar kegaduhan dari rumah seberang. Dari balkon kamar, terlihat bapak RT serta gadis itu bingung karena motor tidak bisa dinyalakan. Segera aku turun tanpa gosok gigi atau mencuci muka. Jiwa pahlawanku membara, ingin menunjukkan kemampuanku di depan sang gadis dengan jumawa. “Kenapa motornya, Pak?” tanyaku pada Pak RT.

“Ndak bisa distarter, Nak Rudi. Padahal tiap hari sudah dipanasi. Apa karena memang motor tua ya…” jawab Pak RT.

Aku mencoba menyalakan motor itu dengan menginjak pedal starter. Gagal. Berkali-kali. Tetap gagal. “Akinya terakhir disetrum kapan nih, Pak?” tanyaku.

“Wah… Sudah lama sekali. Sejak pembarep saya menikah tahun lalu,” jawab Pak RT.

“Sepertinya memang karena akinya, Pak RT. Coba nanti saya bawa ke bengkel. Hari sabtu gini saya kan libur…”

“Lha ini motornya mau dipake anak saya ke SLB buat ngajar, Nak Rudi.”

“Kalo saya yang antar gimana, Pak RT?” kata-kata itu meluncur begitu saja. Sejenak aku tertegun. Entah dari mana keberanian itu muncul. Dan jujur, hatiku bergemuruh menanti jawaban Pak RT.

“Wah, makasih sudah mau direpoti, Nak Rudi. Piye, Nduk?” tanya Pak RT pada gadis itu. Sang gadis tersenyum sumringah dan mengangguk. Rasanya tidak bisa dideskripsikan. Tapi jelas ada orkestra yang sedang melantunkan lagu bahagia di sana-sini, mengiringi senyumku yang tidak berhenti mengembang.

“Oke. Sebentar, Mbak. Saya cuci muka dulu.” Dengan setengah berlari aku menuju kamar, cuci muka, sikat gigi, ganti baju dan memakai minyak wangi. Anggap saja kencan singkat. Akhirnya aku bisa memboncengnya. Tidak. Aku tidak berani menyuruhnya berpegangan pada pinggangku atau berpura-pura mengerem mendadak. Seperti ini sudah cukup. Aku sudah bahagia. Hari sabtu itu, adalah hari bersejarah untukku.

***

Hari-hari berikutnya, aku sering berkunjung ke rumah Pak RT dengan alibi ngobrol tak tentu arah, ditemani gelas kopi yang tidak pernah kosong karena gadis itu selalu menyediakan seteko penuh kopi panas. Setiap kami berhadapan, reaksi tubuhku semakin kuat. Rasa ingin memiliki itu tidak hanya sekedar bahagia karena bisa memboncengnya di hari Sabtu. Lebih dari itu. Interaksi kami tetap seperti dulu. Hanya sebatas senyum dan berbagi pandangan malu-malu. Tanpa suara. Tapi matanya yang bening tanpa kaca mata atau lensa warna-warni, hidungnya yang tidak begitu mancung, pipinya yang merah dan ranum, juga bibirnya yang tipis tanpa pulasan lipstick, sudah berminggu-minggu menjadi bayang-bayang yang tidak mau hilang.

Sebagai laki-laki, berani jatuh cinta tanpa menyatakan adalah dosa besar. Tapi rasa malu mengalahkan harga diri itu, berkeyakinan bahwa cinta diam-diam seperti ini lambat laun akan memudar dan hilang selamanya. Dan keyakinan ini menyiksaku dalam mimpi yang tidak kunjung padam. Semakin aku menahan diri untuk tidak mencari keberadaannya, semakin hatiku berontak dan ingin melanggar aturanku sendiri. Gadis itu adalah rangkaian rindu paling gaduh, membuatku tidak lagi bisa mengendalikan sinaps syaraf otak, dan menyiksaku karena dentuman kata-kata yang ingin segera menabrak dinding malu yang tinggi. Obsesi itu mungkin sudah tumbuh dan berbunga sayang. Atau cinta. Aku tidak tahu. Yang jelas, aku ingin menghabiskan hidupku bersama gadis itu. Menikmati pagi dengan hangatnya matahari, secangkir kopi dan senyumannya, serta menjemput malam dengan damai karena memeluknya. ‘Rudi, dia masih sendiri. Apa yang kamu takutkan.’

Kini, dia ada di depanku. Aku melihat sekeliling, sudah sepi. Ini sudah jam delapan malam. Sajian di warung sudah tandas. Aku memandang gamang gadis yang sedang menunduk dan membereskan gelas-gelas kosong dan piring-piring kotor untuk dicuci. Bu RT sedang memasukkan kompor ke dalam rumah. Setelah menimbang-nimbang dengan bimbang, badanku menegak, berjalan dengan panik dan keringat yang menetes di dahi, kemudian berdiri di samping gadis itu hingga akhirnya dia menoleh kepadaku dan memandang dengan tatapan menyelidik, “Mbak Dila…” Ah kata-kataku kembali macet. Bagaimana harus memulainya. Otakku beku. Wajah Dila semakin bingung. Keningnya berkerut, mulutnya sedikit terbuka dan menganga. Dia mengangkat bahunya, tanda tak mengerti.

Aku tersenyum getir, “Eh… Bukan apa-apa. Cuma minta tolong temenin saya malem mingguan. Mulai besok. Dan seterusnya.” Kata-kata itu meluncur begitu saja. Seperti tanpa skenario atau berpikir bagaimana tanggapan gadis itu atau betapa malunya aku jika Dila menertawakan kalimatku tadi. Sejenak Dila mengedip-ngedipkan mata. Seperti tidak mengerti. Tubuhku membeku seperti disiram air es. Oh bukan. Seperti ditenggelamkan di laut antartika. Seperti yang semua orang tahu, perempuan bisa mematikan semangat laki-laki yang telah dibangun cukup lama hanya dalam tiga detik, hanya dengan pandangan yang seolah-olah tidak mengerti. Rasanya aku ingin menghilang saja.

Tapi kemudian senyum Dila merekah, menghangatkan tubuhku meski sejenak. Dila mengeringkan tangan yang basah dengan lap yang ada di atas meja. Kemudian tangannya bergerak-gerak di udara, diiringi suara parau yang keluar dari mulutnya. Aku bisa membaca isyarat itu, “Dengan senang hati.”

Puing-puing tubuhku yang membeku, perlahan meleleh. Hangat. Seperti musim semi. Aku menggerakkan telapak tangan kananku yang terbuka ke atas, mengayunkannya dengan sebuah gerakan ringan dari ujung bibir ke depan, sebagai isyarat sebuah ucapan ‘Terima kasih’. Kami tersenyum dan berpandangan dalam diam. Membiarkan hati kami menyatukan frekuensinya, saling menyampaikan rindu dan kata, tanpa bicara.

***

 

[All I Need – Tom Felton]

Kalabahi – Alor – NTT

September 28th 2012

Brighter Than Anyone

Dua cangkir kopi itu tidak lagi mengepul. Hanya teronggok pasrah menerima atmosfer yang dingin. Hujan sedang lebat-lebatnya. Gemuruh di langit membuncahkan lagi sesuatu dalam hatiku. Takut.

“Aku sayang kamu.”

“Aku tau. Aku juga begitu.”

Jawabannya mantap. Terlalu mantap untukku. Aku belum mau seperti ini. Tidak. Aku tidak mau.

So this is how it goes

“Lalu kenapa tidak mencoba lebih keras lagi?”

“Untuk apa? Aku tidak mau kita menjadi orang yang egois.”

“Egois bagi siapa? Orang tua kamu? Orang tuaku?”

“Tidak ada hubungannya dengan mereka. Ini tentang kita. Kita sama-sama punya pilihan. Dan itu berbeda.”

Lagi. Tentang ini lagi. Bisakah semesta menghilangkan topik yang satu ini? Saat ini aku benar-benar takut. Takut kehilangan. Sampai-sampai kedua tanganku mengepal, seakan menggenggam sesuatu yang nyaris tergelincir di sela-sela jari.

“Jadi pilihan kita yang disalahin? Atau pilihan kita yang bikin kaya gini? Kenapa nggak mau nyoba nyari jalan keluar sih?”

“Ini jalan keluarnya. Kamu juga sudah tau kan…”

“Nggak.”

“Jangan menipu diri sendiri, Rani… Pada akhirnya, kita akan saling menyakiti.”

“Sekarang, kamu menyakitiku.”

Aku menatap lekat matanya. Hatiku bergemuruh dengan hebat. Ada genangan di sana. Bibirnya menahan sesuatu. Tapi tidak ada ragu sama sekali. Membuat suasana menjadi lebih dingin. Aku gemetar.

“Gimana kalo kita tenang dulu. Bicarakan ini baik-baik. Tidak mencari satu sama lain bukan penyelesaiannya. Bukan. Sama sekali bukan.”

“Ran… Please. Semakin lama kita menunda, semakin sulit bagi kita untuk menerima dan jalan terus.”

“Tapi aku nggak mau ini berakhir sekarang!”

Now I think we’re taking this too far

Don’t you know that it’s not this hard?

Well it’s not this hard

But if you take what’s yours and I take mine

Must we go there?

Please not this time

No, not this time.

Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa Rino. Entah kenapa, hati kami terasa benar, satu sama lain. Tapi entah kenapa, semesta memberi restu pada sesuatu yang tidak mungkin. Dadaku sakit. Seperti ada manusia cebol yang menggergaji paru dan jantung dengan perlahan. Nafasku sudah hancur tak karuan. Semua ototku tegang, termasuk pita suara. Aku hampir tak mampu bicara.

“Aku juga nggak. Tapi harus. Cepat atau lambat, harus seperti ini, Ran. Kamu tau…”

“Berhenti! Aku nggak mau denger!”

“Kamu harus denger!” Lalu dengan kedua tangannya, dia meraih tangan kananku yang mengepal di atas meja. Menggenggamnya dengan lembut, seperti biasanya. Hatiku berdesir. Berusaha menyatukan rasa dan rindu saat kulit kami bersentuhan. Mungkin, untuk terakhir kali. Hatiku menyangkal. Tapi mungkin semesta sudah memutuskan. Ini saatnya.

“Denger… Aku tau ini sulit. Tapi kamu tau, pada akhirnya akan seperti ini. Karena setiap kali aku dan kamu ingin menggenapkan perasaan cinta dan rindu, kita tertampar oleh tangan masing-masing agar segera terbangun. Bahwa setiap kita melakukan sesuatu, aku dan kamu, berdoa dan memohon pada Tuhan dengan sebutan yang berbeda.”

Tangisku pecah sudah.

Berbulan-bulan aku menyangkal bahwa hari ini tidak akan datang. Bahwa akan ada masa aku dan Rino bisa menyatukan pilihan hidup kami. Atau bertahan dengan jalan masing-masing Memaksakan untuk satu, saat ini, membuat salah satu dari kami menjadi orang yang egois. Bertahan dengan jalan masing-masing tentu akan lebih sulit. Anak-anak, serta keyakinan masing-masing. Sekelebat kenanganku dan Rino mengalir bagai anak sungai yang jernih. Sakit rasanya saat menyadari bahwa tiba saatnya untuk meninggalkan itu semua.

Rino benar. Semakin lama menunda keputusan, semakin banyak kenangan yang harus dihapus. Semakin lama sakit ini sembuh.

“Jadi… Hanya seperti ini?”

“Iya. Hanya seperti ini.”

“Tapi kita tidak berhenti untuk saling mendoakan, kan?”

“Tidak pernah, Ran. Aku tidak akan pernah berhenti berdoa. Untuk aku dan kamu. Kita harus sama-sama bahagia.”

Aku tertunduk lesu, menahan tangis agar tidak makin menjadi. Dan hujan belum berhenti. Menanti sepasang emosi yang menata hati.

Well this is not your fault

But if I’m without you

Then I will feel so small

And if you have to go

We’ll always know that you shine brighter than anyone does.

***

[Brighter – Paramore]

Moru – Alor – NTT

September, 27th 2012

Happily Ever After

“Kamu suka nulis ya?”

“Ehm… Lumayan.”

“Lumayan sering maksudmu? Aku baca blogmu loh… Tulisanmu lumayan layak untuk dibaca hehehe…” kata Felin sambil menunjukkan gadget tabletnya, ada halaman blogku di sana.

“O ya? Makasih hehehe Itu karena nganggur aja, Fel,” kataku canggung, sambil melirik sekilas ke arah tablet Felin. Aku menyesap kopi Americano dari mug besar di depanku, dan melanjutkan tarian jemari di atas keyboard notebook. Aku terharu. Baru kali ini ada yang mengatakan bahwa hasil karyaku layak baca. Selama ini aku hanya membiarkannya terpasang di situs blogging yang tidak ada fasilitas untuk memberikan komentar. Bukan tidak ingin dikomentari, tapi aku takut membaca komentar yang aneh-aneh. Kerdil sekali.

“Nganggur berkualitas ya hehehe. Tapi tulisan-tulisan yang fiksi, kenapa banyak yang sad ending sih? Nih ya… Pertama, Harga Mati. Maria itu dokter kandungan. Tentunya pinter dong. Masa iya dia ndak pake pengaman atau mini pil setelah bercinta? Apalagi dia kan selingkuhan, ” kata Felin sambil tetap menunduk dan membaca blogku di gadget tabletnya. Rambutnya yang sebahu menutupi wajahnya dariku yang duduk di sampingnya.

“Cinta ndak melulu melibatkan isi otak, Fel. Yaaa siapa tau si Maria memang ingin hamil. Mengingat Kara belum juga ngasih keturunan. Orang jatuh cinta kadang membuat harapan yang di luar nalar. Siapa tau, Maria ingin punya anak untuk mengikat Teguh.”

“Ya siapa yang tau… Kamu kan penulisnya, Han,” kata Felin dengan nada jengkel. Tapi justru wajahnya terlihat jenaka dan menarik. Aku mengalihkan pandangan dan mengulum senyum.

“Sudah… Tinggalkan Maria sendiri. Seperti yang kamu bilang, dia pinter. Pasti bisa menjalani kehidupan sebagai single parent hehehe…” Dan tawaku mendadak berhenti saat melihat tatapan Felin yang seakan mengancam akan membunuhku.

“Lalu, kedua. Ruang 23. Well… Aku ngerti ini kamu ambil dari laporan kasusmu saat jadi dokter muda dulu. Membiarkan karakter pasien Nn. L menangis tersedu di akhir cerita ini cukup kejam, Han. Dia udah kehilangan kewarasan. Kalo aku, lebih baik mati daripada hidup dalam kondisi seperti itu. Kenapa ndak sekalian kamu bunuh aja karakter Nn. L ini?”

“Hmmm… Sebenarnya aku membuat cerita itu dalam rangka ‘benar-benar menganggur’. Ndak bisa berpikir untuk berimajinasi tentang plot cerita. Hanya berhenti di satu titik. Fokus pada Nn. L yang menderita. Tapi jujur, aku sendiri tidak puas dengan cerita itu. Iya, mungkin lebih baik aku bunuh saja karakter Nn. L ini.”

“Kalo dibikin ‘waras’ ndak bisa ya, Han? Seperti film A Beautiful Mind, jadi pada akhirnya Nn. L ini bisa membedakan antara halusinasi dan kenyataan gitu,” tanya Felin kemudian.

“Semakin lama, kamu semakin pintar, Fel. Mudah-mudahan kamu ndak jadi SpOG lalu hamil seperti Maria…”

“Sialan kamu, Burhanudin Boling! Dikasih masukan kok malah nyebelin ahahaha…” Felin pun tergelak, lalu menikmati sesendok es krim dan melanjutkan kuliahnya lagi.

“Lalu terakhir. Kenapa kamu begitu jahat membunuh karakter Biana dan Gema? Gini ya… Mereka sudah melewati masa-masa sulit, keputusan-keputusan yang tidak mudah, juga perasaan yang campur aduk. Kenapa kamu ngasih kesempatan buat mereka untuk menjalani kehidupan yang bahagia sih?”

“Mungkin… karena luka adalah jalan manusia untuk bahagia, dengan mengingat bahwa mereka jatuh dan berusaha untuk bangkit lagi, berusaha melewati luka itu. Pada saat itu, aku melihat Biana sebagai perempuan yang sangat terobsesi pada seseorang yang menjadi penyelamatnya. Dan mungkin semesta pun tidak mau Gema menjadi milik orang lain.”

“Ah… Kamu terserang virus galau twitter rupanya, Han. Jangan follow yang galau-galau dong. Ndak bagus untuk jalan berpikirmu. Tulisan-tulisanmu depresif semua gini…”

Hmmm… Mungkin ini dipengaruhi oleh jiwa psikopatku juga sih, Fel. Ahahaha… 

“Iiih… ngeri ah!” katanya sambil tergelak.

“Lalu kapan kamu akan membuat cerita yang happy ending?” tanya Felin lagi. Kini dia meletakkan gadget tabletnya, mengambil mangkuk es krim dan menghadapkan tubuhnya padaku sambil menyendokkan es krim ke dalam mulutnya. Ada es krim yang belepotan di ujung bibir kanannya. Aku menelan ludah.

“Aku ndak mau happy ending,” sambil tertunduk, menenangkan diri.

“Kenapa?”

“Karena happy ending berarti akhir yang bahagia. Aku maunya bahagia selama-lamanya hehehe…”

“Ahahaha basi! Gombal teruuus… Maksudku, apa kamu ndak pingin sekali-kali bikin yang seneng-seneng gitu?”

“Ya pingin. Tapi nanti.”

“Tulisan itu sebagian dari doa loh, Han. Pernah ada seleb twitter yang bilang gitu,” kata Felin sambil nyengir.

“Ahahaha dasar anak Twitter.”

“Eh serius. Apa kamu mau hidup jadi selingkuhan, atau jadi gila, atau mati sebelum bahagia?” tanyanya dengan nada mengancam. Matanya yang bulat semakin besar, memantulkan perasaan dari mataku yang tidak sabar.

“Yang jelas, meski jadi selingkuhan, aku ndak mau sampe hamil, Fel.” Mendengar jawabanku, Felin mendelik dan meninju lenganku. Aku pura-pura kesakitan sampai Felin berhenti meninjuku. Aku tersenyum ringan lalu kembali berkutat dengan notebookku.

Jari-jariku membuka folder Lagi Nganggur di direktori My Documents. Harga Mati, Ruang 23, serial cerita bersambung Biana vs Gema, bahkan draft ketikanku yang saat ini sedang aku mainkan. Seakan-akan hidupku penuh dengan luka. Padahal itu fiksi belaka. Hanya saja aku tidak pandai mendeskripsikan perasaan bahagia.

Tapi mungkin, hati yang sedang terluka lebih mudah mengukir sesuatu dalam kenangan, sehingga lebih mudah mengingat dan menuliskannya kembali. Sesuatu yang berakhir buruk selalu menimbulkan pertanyaan, ‘Kenapa?’ lalu dilanjutkan dengan memulai sebuah perjalanan baru untuk menuju bahagia. Kadang-kadang, akhir yang sedih membuat seseorang lebih bisa menilik ke dalam dirinya sendiri, lalu memanggil lagi memori-memori tidak menyenangkan sebagai alarm atau petunjuk agar tidak melewati jalan yang sama. Eh… atau hanya aku yang berpikir demikian?

“Setelah dipikir-pikir lagi, memang ndak bagus untuk terus-terusan membuat cerita yang depresif. Manusia memang bisa belajar dari rasa sakit. Tapi manusia bisa belajar bersyukur dengan merasa bahagia. Lama-lama aku ikutan depresi baca blogku sendiri…”

“Nah… Itu kamu mulai pinter. Pada dasarnya, melewati sakit atau tidak, semua orang menginginkan akhir yang bahagia, Han. Seperti lagu Cinta-nya Melly Goeslaw, ‘Bukankah hidup kita akhirnya harus bahagia…’. Iya kan?” kata Felin dengan nada gembira. Wajahnya kini berseri, kedua sudut bibirnya terangkat tinggi membentuk sebuah lesung di pipi kiri. Manis.

“Ahahaha iya iya… Makasih loh udah ngasih masukan. Mulai sekarang aku akan belajar membuat sesuatu yang membahagiakan. Seperti katamu, atau kata seleb twitter itu, tulisan adalah doa.”

“Happy ending! Yay!” sorak Felin.

“Bukan. Happily ever after… Aku ingin ini bukan sekedar fiksi. Ini adalah doa dan harapan, juga perjalanan hidup yang selalu bahagia.”

“Wogh. Bahagia selama-lamanya! Siiip! Jadikan aku pembaca pertama karya bahagiamu itu,” kata Felin dengan riang. Dia bertepuk tangan ringan seperti anak TK, wajahnya yang belepotan es krim tampak begitu berbinar. Aku hanya terkekeh geli melihatnya. Perasaanku membuncah.

“Ahahaha. Bukan. Bukan pembaca pertama. Kamu adalah pemeran utamanya.”

Jangan pernah berakhir cerita cinta kita

***

[Kahitna – Cerita Cinta]

September 23th 2012

Moru – Alor – NTT

I See God In You

Biana cemas dan bahagia. Senyumnya tidak berhenti mengembang, tapi bibirnya bergetar. Matanya lurus ke depan, tapi pikirannya melayang. Pagi ini, ia baru saja pulang dari dinas luar kota. Di sepanjang perjalanan, ia tak henti merindukan kekasihnya. Dan mengenang bagaimana ia jatuh bangun demi hari ini. Memperjuangkan seseorang yang bisa mencintai dan dicintainya dengan segenap jiwa dan raga. Tiba-tiba Biana melihat sebuah cahaya putih di depan mobil yang dikendarainya.

***

Laki-laki itu adalah Gema. Seorang pegawai negeri di catatan sipil. Lelaki yang berani memperjuangkan dirinya meski tahu bagaimana sulit Biana mencintai dan dicintai. Lelaki yang berani menanggung risiko sulitnya berhadapan dengan kerumitan keluarga Biana. Gema mampu mendidihkan lagi harapan dan mimpi Biana yang telah beku selama bertahun-tahun.

Setahun yang lalu, Biana datang ke tempat Gema bekerja, mengurus akte kelahiran adik tirinya, anak ibunya dari pernikahan di bawah tangan dengan laki-laki yang sebelumnya sudah beristri dua. Ibu Biana terlalu malu untuk sekedar mengurus akte kelahiran adik tirinya itu. Gema dengan senyumnya yang sederhana dan tidak dibuat-buat, datang tergesa-gesa meski tubuhnya sudah tampak sangat lelah. Mengalihkan kegelisahan Biana akan kasak-kusuk pegawai catatan sipil lainnya yang seakan-akan membuat asumsi terhadap permintaan akte kelahiran yang tanpa surat nikah, “Wah, Mbak datangnya terlalu sore. Sekarang berkasnya masuk dulu ya. Besok pagi sekitar jam 9 bisa diambil. Besok langsung aja nyari saya, Gema. Kalau orang lain nanti masih nyari-nyari berkasnya.” Biana tersenyum malu-malu. Entah apa yang dipikirannya, tapi pipi Biana memerah. Seakan ada tangan tidak terlihat menamparnya, ‘Gema sedang tidak mencari-cari cara untuk bertemu denganmu, Bi.’

You didn’t ask anything, you didn’t demand for anything

Whatever you gave, you gave from your heart

Rupanya nama adik tiri Biana salah tulis. Biana kembali berurusan dengan Gema. Hati Biana campur aduk. Ia tidak lagi mampu mendeskripsikan perasaannya. Seakan Tuhan secara perlahan telah meruntuhkan pertahanan Biana. Dan sejak hari itu, rindu Biana selalu terbit lebih pagi dari matahari.

“Wah, salah ketik ya, Mbak? Mohon maaf. Mana yang salah?”

“Ini. Namanya ‘Kinanti Tunggadewi’. Bukan ‘Kinan Tungdewi’. Apa saya nulisnya yang salah ya, Mas?”

“Ya bisa aja yang baca siwer, Mbak hehehe. Ini mepet jam makan siang. Saya kasih sekarang ke petugas bagian ngetik. Nanti jam 1 bisa diambil.”

“Oke. Di sini ada kantin ndak ya? Saya malas wira-wiri.”

“Mau makan siang bareng? Angin lagi kenceng-kencengnya, Mbak. Kalo saya sendirian naik motor nanti terbang hehehe.”

Ya Tuhan, itu adalah pick-up line abad ke-19. Tapi Biana terlalu sibuk merona, sehingga lupa untuk tidak tersipu. Semu merah menyebar di kedua pipinya. Perutnya bergejolak, dipenuhi kupu-kupu berwarna-warni. Dadanya sesak, ada sesuatu yang ingin berhamburan keluar. Tetapi Biana hanya mampu berkata, “Boleh.”

Maka jadilah setahun ini, Gema adalah detak yang beriringan dengan jantungnya. Gema yang membenarkan kacamatanya dengan sendi telunjuk kanannya yang ditekuk. Gema yang sering kehilangan sandal saat nonton di bioskop karena selalu duduk bersila di kursi. Gema yang tangannya bisa ia genggam setiap saat. Gema yang ia rindukan di detik pertama sambungan telepon yang terputus.

Satu hari teman sekampusnya yang dulu pernah jalan berdua dengan ayahnya, tiba-tiba datang ke kos Biana dan menamparnya, “Bapak lo bangsat! Berani dia nularin penyakit ke gue! Mampus keluarga kalian semua! Mampus!!!” Serta merta Biana mendaratkan pukulan keras ke pipi dan tendangan ke perut perempuan itu. Menyeretnya ke luar rumah kosnya, lalu kembali meringkuk di tempat tidur. Lalu Gema datang dengan sekotak es krim dan merengkuh Biana ke dalam pelukannya yang hangat. Usapan lembut tangan Gema di punggung Biana merontokkan bilur-bilur sakit di hatinya. Lelaki itu duduk di sudut kamar, memangku gitar dan bernyanyi serampangan, menutupi suara tangis Biana yang meraung-raung. Tidak ada kata atau pertanyaan. Cukup Gema ada di sana, membagi sebagian dirinya untuk Biana.

You didn’t say anything, you didn’t weigh the pros and cons

You’re the warmth, you’re the shade. You’re my own and a stranger

Kehadiran Gema adalah candu, repetisi rindu yang tidak pernah membuat Biana bosan. Gema bagi Biana seperti Rahul Raichand yang rela melepaskan keluarganya demi Anjali Sharma. Atau Kertawiyoga yang berani memperistri Dewi Erawati dengan mempertaruhkan semua yang ia punya sebagai pewaris tahta kerajaan Tirtakandasan.

Gema meminangnya, empat bulan yang lalu, tanpa ragu. Heningnya malam itu seakan ikut turut andil memberikan suasana yang syahdu. Daun-daun pohon mangga bergesekan ringan dibuai angin. Sesekali terdengar sayap serangga yang berderik-derik.

“Kamu ngerti kan tentang semua ketakutanku pada sebuah pernikahan? Dan kamu juga paham bagaimana malunya aku pada keluargamu, Ge…”

“Aku tahu, kamu sudah melalui perjuangan yang sulit, bahkan untuk mau membicarakan ini denganku. Keluargaku sudah setuju, Bi. Memang sangat sulit meyakinkan mereka. Tapi aku sudah sampai di sini, dan aku ndak mau mundur. Kamu ndak akan menyia-nyiakan perjuanganku ini, kan?” kata Gema sambil tersenyum dan menggenggam jari-jari Biana yang basah karena keringat.

Dalam jeda percakapan sakral mereka, terdengar jarum jam yang berdetik, nafas yang mmeburu dan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Biana memandang Gema dengan setengah menahan tawa. Terlihat jelas bagaimana laki-laki di depannya itu berusaha untuk tetap menapakkan kedua kakinya di ubin yang dingin. Tubuhnya sudah basah oleh keringat, kemejanya sudah hampir menempel di kulit. Tangannya gemetar dan kakinya mungkin terasa kram. Beginikah sulitnya melamar seorang gadis, Ge? 

“Bagaimana bisa kamu seyakin ini, Ge?”

“Bahkan aku sudah meyakini takdir sejak pertama kali kita ketemu di kantor catatan sipil. Sejak saat itu, aku selalu berdoa, Bi. Berdoa agar Tuhan melunakkan hatimu, dan membiarkanku membangun mimpi-mimpi yang pernah kamu buang. Membiarkanku memporakmorandakan dindingmu yang terlanjur tinggi. Aku tau, pasti akan sakit dan terluka merasakan runtuhannya. Tapi aku ingin kamu percaya, sebagian dari ketakutanmu akan aku tanggung, dan aku sudah mengambil langkah besar dengan mencintaimu.”

“Dan aku berdoa, Bi… Aku berdoa agar Tuhan segera memulihkan hatiku jika aku lelah, agar Tuhan melemparku pada hari pertama aku sudah terpikat pada senyummu, pada saat aku memperjuangkan kita atas keluargaku, dan pada hari-hari aku berusaha meyakinkan kamu bahwa kita hidup untuk satu sama lain.”

Sesaat Biana masih dilanda bimbang. Ia berusaha membaca apa yang dituliskan Tuhan untuknya. Cinta pernah menyatukan ayah ibunya. Atas nama cinta pula Biana hadir di dunia ini. Jika cinta kedua orang tuanya gagal, mungkin Tuhan menginginkan Biana membuat cintanya berhasil. Mungkin, di masa lalu Tuhan merancang hidupnya menjadi carut marut. Orang tuanya berpisah, ayahnya meninggal, ibunya menikah lagi dan memiliki anak, Biana mengurus akte kelahiran adik tirinya, dan voila… Gema adalah jawabannya. Tuhan telah menggariskan takdir dan mengirimkan Gema untuk Biana. Dan Biana tidak akan melepaskannya. Demi apapun.

***

Di sinilah Biana. Di ruangan serba putih, kamar pengantinnya, memandangi punggung Gema yang duduk dengan gagah di satu sisi ranjangnya yang wangi karena bertaburan bunga. Sebuah belati terselip di jemari tangan Biana. Ia ingin segera  menyelesaikan rencana Tuhan. Hari ini.

God has joined this couple together

***

Epilog

20 September 2012

[Semarang] Pagi ini, warga Desa Mulyorejo, Kecamatan Kedopok, digegerkan oleh sosok mayat pria berinisial G, 28 tahun, yang ditemukan tewas di kamarnya dengan belati tertancap di dada kirinya. Sudah dilakukan otopsi serta penyelidikan terhadap TKP dan barang bukti, namun pihak kepolisian mengalami jalan buntu. Didapatkan satu sidik jari di belati tersebut, dan pemiliknya adalah wanita berinisial B, 25 tahun, yang telah tewas akibat kecelakaan lalu lintas tiga hari sebelumnya.

***

[Tujh Mein Rab Dikhta Hai – Shreya Ghoshal]*

September 23th 2012

Kalabahi – Alor – NTT

* Lagu ini adalah soundtrack dari film india berjudul Rab Ne Bana Di Jodi

Fireworks

“Jadi gimana?”

“Gimana apanya?”

“Sudah bisa berhenti berpura-pura?”

“Ngomong apa sih?”

“Ngomong tentang kamu. Kapan kamu bisa berhenti pura-pura nggak sayang sama aku?”

“Ahahaha… Siang-siang gini ngomongin ‘sayang’, kita bisa jadi bahan tontonan orang banyak, Ka.”

“Kenapa? Takut? Atau malu?”

“Duh… Lagi nggak ada mood sama sekali buat ngomongin hal ini.”

“Aku cuma nggak mau kamu membohongi diri sendiri.”

“Aku nggak berbohong mengenai apa pun. Dan tolong, hentikan ini sekarang. Aku nggak mau jadi pusat perhatian orang-orang di warteg ini.”

Obrolan di warteg tadi siang membuatku pulang dengan hati dongkol. Dongkol karena Arka, yang sekali lagi, telah mengelupas habis perasaanku. Sayang? Oke. Sampai saat itu aku masih menyangkal dengan berbagai dalih. ‘Sayang’, Ka, bukan ‘cinta’, sebuah kalimat pembelaan ego yang sampai saat ini masih bertengger di otakku. Hatiku adalah kotak pandora. Biarkan saja ia tertutup seperti ini. Karena akan ada begitu banyak jelaga bila aku membukanya. Bahkan sekali saja.

Aku yakin betul, Arka pasti tahu kenapa aku terus menyangkal sampai sekarang. Seharusnya Arka tidak terus memaksaku untuk meruntuhkan pembelaan itu. Seharusnya dia membiarkan saja dan berpura-pura tidak terjadi apa-apa. Malam itu aku tidur dengan mimpi buruk. Ayah ibuku marah dan memaki-maki. Lalu menyeretku keluar rumah dan membuangku di jalan.

***

Pagi harinya, BBM dari Arka membangunkanku, “Morning, cupcake. Apa rencanamu hari ini?” Perasaan bahagia menyusup dengan membabi buta, menabrak semua sistem dan membuatnya berhenti. Ada stimulan rasa yang membuat bibirku tidak berhenti tersenyum. Aku bisa gila.

“Rencanaku sarapan, ke kantor, nyuruh Mang Udit bikin kopi, meeting sekalian makan siang sama klien jam 12 siang.”

“Lalu kangen aku-nya ditaruh dimana?”

Ah. Perasaan aneh ini lagi. Aku hanya tersenyum singkat sambil berusaha mengalihkan perhatian pada lembar-lembar penuh angka yang memusingkan. Kubiarkan Arka menunggu jawaban. Kubiarkan hatiku dipenuhi bimbang. Tapi memang tidak ada yang bisa membuatku merasa seperti ini selain Arka. Dan jujur, aku takut. 

“Kangen kamu-nya ketinggalan di WC. Mungkin sudah terurai oleh bakteri setelah aku flush tadi.”

“Ahahaha. Jahatnya… Have a great day ya. Have a great love juga, dari aku tentunya (kiss)” Pipiku memanas. Sial.

***

Menjelang Maghrib, tiba-tiba Arka muncul di depan kubikelku, dengan kemeja lengan panjang berwarna merah marun dan celana kain panjang warna hitam yang masih rapi meski sudah dipakai kerja seharian. “Sore…” katanya sambil mengulum senyum. Membuatnya semakin tampan.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Minta tolong temenin saya makan malam, bisa?” ujarnya sambil tersenyum.

Susah payah aku menyembunyikan entah-apa-ini. Orang bilang, seperti dentuman dalam dada dan perut yang bisa mematikan sistem tubuh selama beberapa saat. Mungkin Arka sudah bisa membaca. Karena kata-kata tidak bisa menipu saat mata menjelaskan segalanya. Tapi aku terlalu sibuk menyembunyikan perasaan, tertawa seadanya dan segera merapikan meja kerja. Entah sampai kapan aku bisa bertahan untuk berpura-pura tidak jatuh pada Arka.

Arka mengajakku ke sebuah warung sea food. Mengobrol tentang pekerjaan dan sebagainya. Membahas gosip artis terhangat tentang mantan menteri yang ternyata punya istri simpanan, atau gosip di twitter tentang siapa jadian dengan siapa. Entah bagaimana alurnya, percakapan kembali lagi pada topik yang sudah-sudah. Dan perasaanku kembali gusar dan gelisah.

“Sampai kapan kamu seperti ini? Hatimu bisa meledak kalo terus-terusan sembunyi.”

“Jangan mulai lagi deh…”

“Denger ya, Ry. Cinta itu seperti kembang api. Setelah dibakar, harus dilepaskan agar kita bisa liat cahayanya yang berwarna-warni dan bisa denger suaranya yang keras memekakkan telinga. Selalu seperti itu. Dan kita nggak akan bosan atau berpikir untuk berhenti terpesona olehnya. Tapi kalo kembang api itu nggak dilepaskan, tangan kita yang hancur.”

Mataku panas. Dadaku seperti dihantam batu besar yang tak mampu kusingkirkan dengan tanganku sendiri. Perutku mual seperti dimasuki laba-laba yang membangun sarang di dalamnya. Tanpa bisa kubendung, air mataku meleleh. Suaraku parau dan tidak mampu berkata banyak, “Ka, anter aku pulang.”

Selama perjalanan, atmosfer di dalam mobil Arka terasa lengang, lembab oleh emosi yang menguap. Penyiar radio mengoceh tiada henti. Lagu-lagu hanya berlalu lalang tanpa arti. Kepalaku pening, mencari pembenaran atas sakit akibat memendam rindu pada seseorang yang tiap hari ada di depanku. Ini tidak benar, otakku bilang ini salah. Tapi sistem limbik di otakku tidak berhenti menayangkan kenangan dengan aku dan Arka sebagai pemeran utamanya. Emosiku memburu, terpaku pada satu waktu Arka mencuri ciuman dari bibirku. Ciuman yang berbeda dari kekasihku yang lain. Satu lumatan yang bahkan dengan mengingatnya saja mampu meletupkan perasaan bagai kembang api.

Arka menghentikan mobilnya di depan rumahku. Dia memandangku, tanpa bicara. Dia tahu ada sesuatu yang menahanku. Aku belum mau turun. Tiba-tiba air mataku merebak, segala gundahku tumpah dan berserakan. Ini saatnya, aku melepaskan beban yang kutanggung sendiri, beban yang ingin Arka buang di jauh-jauh hari sebelumnya. Hatiku telah memilih Arka.

Adalah kau tuangkan cinta ke dalam tungku yang tengah panas menyala

***

“Aku sedang berusaha menyempurnakan rinduku buat kamu. Tapi kenapa kamu sudah nyerah, Ka?”

“Ternyata aku tidak bisa. Kembang apiku meledak terlalu hebat sehingga melukai orang-orang yang aku cintai. Keluargaku.”

“Lalu aku? Bagaimana dengan aku?”

“Aku ngerti, kata maaf aja nggak akan bisa menjelaskan semua ini. Kamu pernah takut dan bimbang. Bayangkan saja, saat ini aku ada di posisi seperti itu.”

“Menurutmu sekarang aku nggak merasa takut dan bimbang? Keputusanmu yang seperti ini membuatku merasa seperti orang bodoh. Bodoh karena percaya bahwa cinta cukup buat kita. Bahwa dengan percaya cinta adalah kembang api, maka kita tidak akan terbakar saat melepaskannya. Aku udah milih kamu. Tapi kenapa sekarang rasanya malah lebih buruk dari terbakar?”

“Anggap saja, bagiku, kamu adalah kembang apiku. Jika aku tidak melepasmu, maka aku akan terbakar.”

“Susah payah aku mencapai hari dimana aku tidak lagi peduli tentang norma, atau takut membuat orang tuaku murka. Selama bertahun-tahun aku memakai topeng, Ka. Menipu pacar-pacarku sebelumnya dengan sesuatu yang nggak ada. Aku nggak peduli kamu laki-laki, alien atau setan sekalipun, aku memilih untuk mencintaimu. Sejak saat itu, aku bisa menikmati indahnya kembang api kita. Sejak sama kamu, aku nggak mau berbohong lagi. Lalu kenapa sekarang kamu yang jadi penipu?”

“Anggap saja, aku realistis.”

“Kamu egois.”

“Aku tahu, Ryan. Aku tahu.”

Adalah kau padamkan bara tatkala hangat mulai membuai jiwa

***

Hari ini, tiga tahun setelah hari aku menyatakan kebebasan dan menyerahkan diri pada sesuatu yang kusebut cinta, kuterima satu kartu undangan pernikahan. Kartu berwarna merah marun itu tergeletak tanpa daya di atas meja kerjaku. Satu kartu yang kembali membelengguku dalam kepingan ragu untuk menjalani cinta dengan jujur, tanpa topeng apapun. Lipatan kartu yang terbuka itu menghadap ke atas. Tulisannya yang berwarna emas, meliuk indah membentu nama Arka dan calon istrinya, mengisyaratkan bahwa semua yang pernah terbakar dan membara, kini benar-benar menjadi beku.

Hatiku sakit, lebih sakit dari dihempas ombak lalu menghantam batu karang. Demi Arka, aku berani menabrak dinding yang tinggi, menyakiti orang-orang yang berusaha melindungiku dari runtuhan dinding itu. Aku berani mengabaikan racauan tentang keabnormalan cinta, perasaan bersalah dan perang dalam batinku sendiri. Demi Arka, aku sudah melalui masa-masa sulit dan menyiksa, sesuatu yang tidak bisa dideskripsikan, tentang keraguan, ketakutan dan penyesalan, tentang pertanyaan-pertanyaan kenapa ini terjadi pada aku dan Arka.

Rupanya cinta bisa seperti peluru yang dilapisi gula. Manis, tapi membunuh. Harapan yang pernah Arka berikan, sesuatu yang pernah menyelamatkanku dari kepura-puraan, telah habis ditelan pikiran realistis Arka. Keraguan dan ketakutanku seakan menari-nari, menjemputku untuk kembali bercinta dengan mereka. Hatiku yang pernah dipenuhi rindu-rindu dari Arka, sudah hancur karena dirobek paksa oleh kenyataan.

Kini, anggap saja demi Arka, aku adalah kembang api yang harus ia lepaskan agar ia tidak terbakar. Dan Arka adalah kembang apiku yang harus aku lepaskan agar dia bisa terbang ke langit yang lebih tinggi, bercahaya terang, berwarna-warni di atas langit yang gelap. Memberikan suara riuh yang membahagiakan bagi orang-orang di sekitarnya, meski tidak ada aku di dalamnya. 

Pandanganku kosong. Otakku berusaha menenangkan perasaan yang kembali goyah. Entah hati mana yang akan kupilih selanjutnya. Laki-laki, perempuan, alien atau setan.

Terhempas dan hampa tak terkira

***

[Kla Project – Terpuruk Ku Di Sini]

Moru – Alor – NTT

September 20th 2012

Harga Mati

Baru kali ini aku datang ke klinik ini. Dan aku adalah pasien terakhir di malam itu. Suamiku, Teguh, masih setia menemani. Duduk di sebelahku dengan menyesap teh hangat yang disediakan klinik dan membolak-balik majalah politik. Perawat memanggil namaku. Aku dan Teguh berpandangan dan bertukar senyum serta cemas. Tidak sabar untuk segera berkonsultasi dengan dokter.

Kami masuk ke sebuah ruangan berukuran 4×4 meter. Dindingnya dihiasi oleh wallpaper berwarna hijau muda yang lembut dengan motif sulur tumbuhan yang segar. Terdapat sebuah sofa panjang nyaman berwarna hijau tua, sebuah meja kecil dan sebuah kursi beroda untuk dokternya. Dokter kandungan perempuan yang dulunya adalah teman SMA suamiku.

***

Ny. Kara. Pasienku yang terakhir. Dari catatan medis yang ada di tanganku, perempuan ini belum pernah datang sebelumnya. Menikah sudah 4,5 tahun, belum memiliki anak, lalu kemudian terlambat datang bulan selama dua minggu. Hatiku berdesir. Entah kenapa. Mungkin karena tiga malam ini, aku selalu bermimpi tentang lelaki yang menjadi cinta pertamaku. Di mimpi itu, ia terihat bahagia bersama istri dan anaknya. Berlibur di sebuah pulau yang tenang dan menikmati kebersamaan mereka. Di mimpi itu, aku hanya jadi bagian dari orang yang pernah dicintai, dari masa lalu. Dan aku benci melihatnya.

Pintu ruanganku terbuka, lalu masuklah seorang perempuan muda, mungkin 4 atau 5 tahun lebih muda dariku. Rambutnya dikuncir kuda, mengenakan mini-dress selutut berwarna lembayung, manis sekali. Seorang laki-laki yang sebaya denganku, mengikuti istrinya di belakang. Duniaku berhenti berputar. Laki-laki itu adalah Teguh. Teguh yang ku kenal dulu. Teguh yang pernah jadi aktor dalam hari-hariku.

Aku berdiri dan menyalami pasienku dan mempersilakan mereka untuk duduk nyaman di sofa. “Selamat malam. Dari catatan medis yang saya terima dari perawat di meja terima… Sepertinya malam ini ada kabar baik. Bukan begitu?” tanyaku dengan riang, sebuah mode default yang selalu aktif secara otomatis saat menghadapi pasien-pasienku. Siapa yang pernah menduga, bahwa dalam ruangan ini, perasaanku cukup terintimidasi. Pikiranku melayang pada mimpi semalam. Rupanya ini alasannya. Sial.

“Iya, Dok. Saya terlambat haid. Seharusnya saya haid dua minggu yang lalu. Dan tadi pagi saya cek urin dengan alat yang saya beli di apotek, rupanya positif. Lalu suami mengajak saya untuk periksa ke sini.” jawab Kara dengan semangat. Pandanganku beralih pada Teguh, yang saat itu sibuk menyembunyikan senyum yang dibuat-buat. Teguh mengajak istrinya ke sini?

“Oh. Suami saya ini bilang, dr. Maria adalah teman SMAnya dulu,” ujar Kara. Hatiku mencelos. Bagus.

“Ah iya… Teguh dan saya memang sekelas selama tiga tahun di SMA. Sudah lama sekali tidak ketemu, jadi tadi saya ragu untuk ragu dan berakrab-akrab ria hehehe…” aku mengumpat dalam hati. Sistem kerja otakku sepertinya kacau malam ini. Otak, mulut, dan hati, semuanya diadu dalam satu panggung, ruang praktekku sendiri.

“Jadi, ada keluhan apa selama ini?” tanyaku.

“Ehm… Sepertinya belum ada, Dok. Saya belum merasa apa-apa. Nafsu makan juga bagus. Tidak mual atau sebagainya. Makanya saya ragu apakah alat tes kehamilan itu akurat,”

“Gejala kehamilan seperti mual atau pusing tidak terjadi pada semua ibu. Beruntunglah jika Ibu Kara tidak mengalaminya. Jadi suaminya juga ndak pusing, tho?” Aku memandang wajah mereka yang cerah dan saling pandang. Jari-jariku gemas meremas flipchart yang ada di tanganku. Aku harap ada seorang pencari bakat di sini. Lihat, aku bisa berakting dengan begitu meyakinkan. “Oke. Yuk ke tempat periksa, biar saya USG dulu.”

Kara segera beranjak dan berjalan menuju tempat tidur periksa yang berada di seberang sofa. Setelah berbaring, aku duduk di sampingnya, membuka baju Kara sampai sebatas dada, dan menutup tubuh bagian bawah Kara dengan selimut. Aku mengoleskan cairan bening dan dingin berbentuk gel ke perut bagian bawah Kara, “Mari kita liat calon pemimpin ini,” kataku sambil tersenyum.

Aku memutar-mutar probe USG di atas area pubis Kara sambil memperhatikan layar di depanku. Sedangkan Kara dan suaminya, bisa melihat gambar USG dari televisi yang sudah tersambung pada alat USG di depanku. “Jika menghitung dari hari pertama haid terakhir, usia kandungan Kara sekarang sekitar 4-6 minggu. Nah… Kalo di USG, yang terlihat paling dominan masih penebalan dinding rahim. Dan ini…” kataku, sambil mengarahkan pointer USG pada sebuah tonjolan kecil di sisi kanan rahim Kara, “ini adalah kantong hasil pembuahan, besarnya embrio kira-kira 5 mm.”

Wajahku menoleh dan melihat betapa bahagianya Kara saat itu. Tangannya segera meraih jari-jari Teguh dan menggenggamnya dengan lembut. Ah… Jari-jari itu pernah mengisi ruang di sela jariku. Dan jantungku bergemuruh, saat Teguh memberikan kecupan di kening istrinya. Kecupan yang pernah jadi milikku. Setidaknya sampai sehari yang lalu.

I know you think that I shouldn’t still love you, or tell you that

***

Rupanya alat tes kehamilan itu benar. Tuhan, aku bahagia. Kehadiran anak adalah satu hal yang kami nanti selama hampir lima tahun pernikahan. Aku memandang layar televisi yang menampilkan isi rahim Kara dengan haru. Perasaan rindu membuncah, ada sebagian dari aku di sana.

Ku genggam erat tangan Kara. Lalu mataku bertemu dengan mata Maria. Dan sejenak ada perasaan pedih dan terluka di sana. Sebagian dari hatiku ikut merasakannya. Juga rasa berdosa.

***

Dokter Maria menyerahkan gambar hasil USG itu padaku. Aku memandangnya dengan mata yang hampir basah karena bahagia, “Akhirnya… Setelah hampir lima tahun kami menikah. Saya tidak bisa menggambarkan kebahagiaan ini, Dok.”

“TIdak perlu diungkapkan pada saya. Berbahagialah dengan menjaga malaikat kecil itu,” kata dr. Maria.

Aku mengenang bagaimana pedihnya saat pertanyaan tentang anak semakin sering dilontarkan oleh orang-orang. Bagaimana perilaku suaminya semakin murung meski berusaha disangkalnya. Bagaimana ngerinya berbagai ketakutan menghantui saat mengetahui ada pesan bernada mesra di ponsel suaminya, dari seseorang bernama Jingga.

Tapi kini, mungkin ini adalah awal baru menuju bahagia. Bagiku, Teguh dan bayi kami. Semoga begitu.

***

“Maaf, Jingga. Aku tidak pernah bermimpi datang seperti itu, membawa istriku yang sedang hamil padamu.”

“Apa maafmu bisa mengganti rasa cemburuku tadi?”

“Aku mohon pengertianmu.”

“Aku bisa mengerti saat kamu ingin putus saat aku sekolah spesialis. Kamu bilang, kamu ingin seorang istri yang tidak terlalu sibuk. Dan aku tidak keberatan menjadi perempuan lain di kehidupanmu saat kamu bilang, tidak bahagia dengan istrimu yang kamu bilang kuno dan sebagainya. Bahkan aku mau menunggu saat kamu bilang akan menceraikan istrimu jika ia tidak juga memberikanmu keturunan. Lalu tadi… tadi itu seperti hukuman, Guh! Aku hampir mati berdiri. Kamu sengaja datang secara tiba-tiba, seolah-olah memberikan sebuah harga mati buatku.”

“Sebenarnya, itu yang ingin aku bicarakan. Aku mau, cinta kita cukup sampai di sini.”

I understand if you can’t talk to me again

And if you live by the rules of “it’s over”

then I’m sure that that makes sense

Kepalaku pening.

Selama ini, kebutaanku atas cinta pada Teguh membuatku menjadi perempuan paling berdosa. Mengabaikan perasaan istrinya, menepis kenyataan bahwa istrinya juga perempuan yang punya ego terhadap apa yang jadi miliknya. Tapi egoku sebagai perempuan juga berkata demikian. Teguh adalah milikku. Tidak pernah terlintas dalam pikirku akan berpisah dari Teguh. Teguh adalah cinta pertamaku, sejak SMA sampai sekarang. Cinta yang menggebu-gebu, cinta yang tidak lenyap meski telah ada seseorang yang telah menyandang nama Ny. Teguh. Cinta yang berani mengambil risiko. Cinta yang naif, percaya bahwa cinta pertama tidak pernah mati. Cinta pertama dibawa sampai mati.

“Kamu barusan bilang apa, Guh? Aku ndak ngerti.”

“Aku yakin semua sudah jelas, Maria. Aku pernah jadi bagian darimu. Bahkan sampai sekarang. Tapi aku sadar, ini seperti cinta yang dipaksakan. Aku cinta kamu, Maria. Tapi saat melihat gambar anakku di dalam rahim Kara, duniaku berubah. Ada sesuatu yang harus aku perjuangkan, bukan hatiku sendiri. Aku mau menjadi bapak yang baik bagi anakku.”

Pandanganku menjadi gelap. Kepalaku seperti dihantam godam yang amat berat. Perutku mual, dan aku menangis sejadi-jadinya. Teguh sudah berhenti memanggilnya Jingga. Hati kecilku merutuk, mengingatkan bahwa hal seperti ini akan terjadi. Otakku yang selama ini berlogika tentang cinta telah gagal membaca hati yang terluka karena cintaku dan Teguh.

Tapi bagaimana dengan anakku, Guh? Jari-jariku lemas, test pack dengan dua garis merah terlepas dari sela-selanya, jatuh ke lantai, membuat gaduh malam yang gelap dan sepi.

I will go down with this ship

And I won’t put my hands up and surrender

I’m in love and always will be

***

[Dido – White Flag]

Kalabahi – Alor – NTT

September 15th 2012

%d bloggers like this: