Archive for the ‘ review ’ Category

Review: Sabtu Bersama Bapak

https://i2.wp.com/movie.co.id/wp-content/uploads/2015/02/Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1.jpg

 

Saya pribadi ga menaruh harapan tinggi pada film ini. Pengin nonton karena suka sama bukunya, penasaran sama Saka dan tentu saja alasan sentimental lainnya.

Beberapa hal memang diubah. Film ini ga persis plek sama bukunya. Tapi menurut saya esensinya tetep sama.

Film diawali dengan scene yang penuh dengan air mata. Lalu berkembang menjadi adegan-adegan humor kejomloan Cakra yang menyedihkan (iya, kaya saya). Klimaksnya adalah saat masing-masing tokoh memiliki masalah sendiri, yang akhirnya disatukan oleh pesan di hari Sabtu oleh Bapak Gunawan Garnida.

Akting Arifin Putra bagus. Kita cukup liat matanya, udah ngerti emosi yang bakal keluar dari situ. Kece, lah. Apalagi pas berantem sama Risa. Kece, lah (2).

Akting Deva sebagai pendatang baru (? – saya ga tau sebelumnya dia main di film apa) juga lumayan. Cocok dengan peran Cakra Garnida yang nerd dan konvensional, doyan bahas hal ga penting serta menaruh hati sama (pemilik) sepatu yang sering mangkal di depan musala.

Saya suka dengan efek blur saat Satya ketemu sama bayangan Bapak Gunawan. Apa, sih, namanya… Pokoknya itu. Hawa sendu dan gamangnya jadi lebih kerasa.

Salut buat make up artist-nya yang bisa bikin Ira Wibowo berubah-ubah usia. Detil banget.

Kelemahannya… As usual. Mindahin novel ke film itu susah. Ada beberapa hal yang terasa maksa di film padahal di novel enggak. Seperti perkenalan Itje dan Retna, yang sebenernya udah dimulai sejak awal. Di film malah seperti ujug-ujug dikenalin. Dan akting anak-anak Satya yang… ya… enggak ngerti, deh, milih kedua anak itu berdasarkan apa. Selain wajah yang ga bisa dimiripin ke Acha dan Arifin Putra sama sekali, ekspresi mereka datar abis.

Tapi bagaimanapun… Banyak banget pesan yang disajikan di film ini. Bahwa hidup seharusnya terencana. Termasuk tentang pekerjaan, cita-cita, keuangan, dan pernikahan. Bahwa kemenangan itu diraih, bukan dikasih. Bahwa dalam membangun sebuah hubungan yang kuat, diperlukan dua orang yang sama-sama kuat. Bukan saling melengkapi. Karena melengkapi diri adalah tanggung jawab masing-masing. Bahwa meski kita sudah dewasa dan punya keluarga, orang tua tetap menjadi orang pertama yang bisa kita andalkan.

Film ini direkomendasikan buat siapa saja yang ingin terus belajar menjadi lebih baik… Sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai istri, sebagai suami, sebagai calon pasangan 😊 Tapi kalo mau bandingin sama novelnya, ya… Pikir-pikir dulu, deh 😁

❤❤❤❤💔

IMG-20160710-WA0000

Malang, Juli 10th 2016

Advertisements

Pelangi SO7 ~ Analekta 7 Warna

Pelangi SO7 ~ Analekta 7 Warna

Pelangi SO7 ~ Analekta 7 Warna

Siapa, sih, yang ndak kenal sama Sheila on 7? Dan, Kita, J.A.P, Seberapa Pantas, dan banyak lagi lagu yang sering berlalu lalang di pendengaran kita. Menjadi SheilaGank adalah sebuah keharusan bagi anak gaul… di jamannya (uhuk). Dan saya adalah salah satu SheilaGank gagal karena kartu anggotanya ilang. Entah terselip di mana. Hiks T_T

Nah, bulan Mei yang lalu, band asal Jogja kesayangan kita semua itu ulang tahun yang ketujuh belas. Udah dapat KaTePeh \o/ Sebagai bentuk rasa cinta dan kangen sama Sheila on 7, maka @siputriwidi bikin proyek #PelangiSO7 (@siputriwidi ini rajiii~n banget bikin proyek nulis. SALUT!).

Ada tujuh cerita di #PelangiSO7. Kenapa cuma tujuh? Karena ada tujuh warna pelangi, tujuh tangga nada, tujuh… belas tahun (ahem). Pastinya, semua cerita yang ada di #PelangiSO7 ini terinspirasi dari lagu-lagu magis dari Sheila on 7.  Dan sebagai SheilaGank, saya ikutan! Judul cerpen saya adalah Mesin Jahit Ibuku dan saya menggunakan lagu Ingin Pulang dari album 507.

Tujuh cerita #PelangiSO7 #Analekta7Warna akan dipublikasikan dalam bentuk ebook dan GRATIS! Kenapa gratis? Karena kami para SheilaGank hanya ingin berbagi. Ini juga sebagai hadiah sebagai rasa terima kasih untuk Sheila on 7 yang telah mengiringi masa dan hari-hari kami dengan lagu-lagunya yang easy listening dan pas sebagai soundtrack sehari-hari (terutama dalam hal percintaan. Ahem).

Alhamdulillah malam ini sudah bisa diunduh di sini ^^

Yak. Demikian postingan promosinya. Semoga Sheila on 7 segera menelurkan album terbaru mereka \o/

Ibu tidak pernah gagal merenda cintanya padaku. Aku saja yang tidak mau tahu.”

[Mesin Jahit Ibuku]

***

Malang, 15 Agustus 2013

Antologi Benci: Buku yang Kau Benci

antologi benci

Beberapa waktu lalu, @siputriwidi bikin proyek anti-mainstream. Sebuah kumpulan cerpen dan puisi bertema ‘benci’ tanpa ada kata ‘benci’.

Kenapa ‘benci’? Benci itu manusiawi. Dari covernya aja udah keliatan… Bahkan seorang ksatria yang gagah berani pun pernah dirasuki rasa benci *aih sedap* Someone said, untuk mencintai, seseorang tidak butuh alasan. Tapi saat sampai pada urusan benci, alasan itu selalu ada.

Sebagai salah satu kontributor Antologi Cinta, diriku merasa tertantang dong yah… #DilemparKeJurang #JurangPenderitaan. Jadinya sayah nyumbang satu cerpen. Judulnya Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu.

Begitu banyak orang yang memuja senja. Tapi akulah satu-satunya orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagian. Menggores jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang. Agar indahnya selalu terbawa melalui darah yang mengaliri tubuhnya. Agar ia selalu mengingatku.”

[Surga di Bawah Telapak Kaki Ibu]

Antologi ini sempat ditawarkan ke penerbit mayor. Tapi rupanya dianggap kurang komersil dan profitable. Yah, lagian mau jualan benci agak susah, sih, ya… Jadi diterbitkan via indie. Nanti pasti dikabari kalo udah live di @nulisbuku \o/

Demikian postingan promosi Antologi Benci: Buku yang Kau Benci. Dibeli, yaaah ~ ~ ~ \o/

***

Malang, 14 Agustus 2013

 

 

[Review] Random: Payudara Sebelum Lusa

Random: Payudara Sebelum Lusa (plus karya saya di dalamnya ehehehe ^^)

Random: Payudara Sebelum Lusa (plus karya saya di dalamnya ehehehe ^^)

Sebenarnya, saya sudah pernah menulis review singkat Random: Payudara Sebelum Lusa ini via Twitter. Tapi belum afdol kalo’ ndak dimasukin ke blog hehehe

Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di sini, Random: Payudara Sebelum Lusa adalah sebuah antologi cerpen yang dihasilkan dari sebuah lomba menulis yang diselenggarakan Nulis Buku Club Institut Pertanian Bogor (@NBC_IPB) pada bulan Februari 2013 lalu. Ada lima belas cerpen dari dua belas penulis di buku ini, termasuk saya yang menyumbang dua judul, yaitu Lukisan Tanpa Warna Merah dan Ruang 23.

Saya tidak pandai menilai sebuah karya, menilai dari sisi yang detil dan sebagainya, atau mereview buku, apalagi antologi seperti ini. Karena ceritanya beragam dan tentu setiap penulis memiliki gaya bahasanya sendiri. Tapi ada beberapa cerita yang menjadi favorit saya.

  • Payudara Sebelum Lusa (Imam Solikhi): Cerita ini menjadi pemenang pertama lomba menulis Random 2. Dari judulnya saja sudah membuat semua orang penasaran sebenarnya cerita ini tentang apa. Dan menurut saya, cerpen ini memang juara! Ada sebuah paradoks yang ingin disampaikan pada pembaca. Bahwa payudara yang telah menghidupi anak-anak dengan air susunya, justru menjadi penyebab kematian dengan cara yang cukup menyedihkan. Meskipun pada kalimat terakhir cerita ini, saya lebih sreg jika menggunakan kata ‘kami’ daripada ‘kita’, tapi secara keseluruhan, Payudara Sebelum Lusa ini daebak! Pesan saya pribadi setelah membaca cerpen ini adalah mari budayakan SARARI (perikSA payudaRA sendiRI) sebagai deteksi dini kanker payudara.
  • Yakuza (Eka Prasetyani): Apa yang terjadi pada Yasu dan keluarganya pasti banyak juga terjadi di negeri kita sendiri. Mungkin justru lebih memprihatinkan. Bahwa kemiskinan itu menjerumuskan. Cerita ini mengalir dengan sederhana dan enak dibaca.
  • Beras (Rosi Lutfi): Menggunakan ‘ayam’ sebagai metafora manusia yang mengais-ngais ‘makanan’, menurut saya, keren. Lagi-lagi, kemiskinan itu menjerumuskan. Kemiskinan bisa membuat orang-orang kehilangan logika. Kemiskinan bisa memisahkan seorang perempuan dari belahan jiwanya. Dan perempuan, di dalam cerita ini, digambarkan sebagai percontohan perempuan pada umumnya yang merelakan segala hal demi kemuliaan keluarganya (“Meski hati telah kami pautkan sejak lama. Aku berjuang dan rela meski seandainya nanti harus menggelandang. Karena sejak turunnya kakiku dari bus itu, tekad telah tertancap kuat dalam batinku – akan kuserahkan hal yang lebih berharga dari seisi dunia ini pada dunia dan juga pada anak-anakku”). Meskipun akhir dari cerita ini cukup ‘nggantung’, tapi saya suka.
  • Matahari Senja di Minggu Pagi (Indah Arifallah): Satu kata: manis. Dari ide, gaya bertutur serta ending yang dipilih, semuanya manis dan membuat pembacanya tersenyum lega.
  • Sang Pesaing (Reni Indrastuti): Cerita ini sederhana, tapi mungkin sangat sering terjadi pada masing-masing orang, terutama sejak adanya jejaring sosial bernama Facebook. Tentang rasa iri dan hasrat ingin bersaing dengan orang lain. Padahal, urip iku sawang sinawang.
  • Waris (Suguh Kurniawan): Cerita yang menarik. Karena memang akhir-akhir ini saya sering sekali mendengar cerita menyedihkan tentang sengketa waris yang sepertinya kurang manusiawi, sama seperti bagaimana sikap Purnama dan Angga terhadap Kus. Tidak perlu diragukan lagi, semua karya dari Mas Suguh ini te-o-pe be-ge-te. Bagus. Secara beliau adalah penikmat sastra yang sudah seriiing sekali menulis untuk media massa nasional seperti Media Indonesia, Kabar Indonesia, Republika Online, dan sebagainya dan sebagainya dan sebagainya (kalo’ ditulis semua, takut ndak muat halaman blognya).
  • Pria Berkulit Pucat (Lidya Pawestri): Sejak awal, saya digiring untuk berpikir bahwa mungkin ini adalah cerita tentang cinta berbeda usia. Memang benar. Tapi tetap saja, endingnya DANG! Twist yang oke sekali. Dan manis. Betewe, Mbak Lidya ini keren, loh. Ada tiga karyanya yang masuk di buku Random ini! Doi juga nulis bareng sayah di Antologi Cinta ^^
  • Sang Ego (Wahyu Budi Nugroho): Membaca cerita ini, satu hal yang pertama kali terlintas di otak saya adalah penulisnya pasti sudah sangat berpengalaman dalam dunia tulis-menulis. Lana, seorang mahasiswa yang cerdas luar biasa. Digambarkan sebagai laki-laki yang bebas, mandiri, jenius, unik dan sedikit gila. Bagi saya, cerita ini seakan tanpa konflik. Tapi tetap menarik untuk dibaca. Well, pengalaman ndak dapat menipu. Membaca biodata singkatnya membuat saya cukup iri ehehehe… Btw, stok laki-laki seperti Lana masih ada ndak, ya… :p

Selain nama-nama di atas, ada Mbak Amanatia Junda, seorang mahasiswi ilmu komunikasi UGM yang sering menjuarai sayembara menulis; Teteh Assrianti, mahasiswi IPB pecinta travelling yang karyanya diterbitkan bersama antologi Kumpulan Cinta Paling Mengharukan; dan Mbak Hana Adiningsih yang masih belia dan mencintai fiksi..

Buku Random: Payudara Sebelum Lusa ini terdiri dari 195 halaman. Diterbitkan secara indie oleh NulisBuku, dan bisa dipesan dengan mengirimkan email berisi nama, alamat, nomor telepon, judul dan jumlah buku yang akan dipesan ke admin@nulisbuku.com.

Yak. Demikian review singkat saya tentang Random: Payudara Sebelum Lusa. Meskipun buku ini diproduksi secara indie, tapi saya bahagia dan bangga telah bersanding dengan orang-orang yang kompeten di bidang sastra seperti sebelas orang di buku ini (karena saya masih sangat amatir sekali hehehe).

Semoga menginspirasi dan selamat membaca ^^

***

Malang, June 25th 2013

[BeraniCerita #15] Lima Belas

GettyImages

GettyImages

Sebuah film diputar di kepalaku. Sebuah pertemuan sepasang anak laki-laki dan perempuan yang masih lugu di pos satpam yang kosong di depan sekolah. Keduanya terbalut seragam putih dan biru. Keduanya terjebak hujan. Anak laki-laki itu menoleh pada anak perempuan yang bibirnya membiru dan tubuhnya menggigil kedinginan, “Siapa namamu?”

Saat itu aku tidak terlalu mendengar sebuah nama yang ia sebutkan. Suaranya yang lembut tersapu debur hujan. Yang kutahu, anak perempuan ini adalah bidadari yang jatuh dari surga*.

***

I’m fifteen for a moment
Caught in between ten and twenty
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

***

“Bagaimana keadaanmu?”
“Buruk. Seharusnya kamu tanya bagaimana perasaanku.”
“Baiklah. Bagaimana perasaanmu?”
“Aku luar biasa merindukanmu.”

***

I’m thirty three for a moment
Still the man, but see I’m of age
A kid on the way
A family on my mind
The sea is high
And I’m heading into a crisis
Chasing the years of my life

***

“Di saat-saat seperti ini, seluruh memori berdatangan di kepalaku. Dan di setiap framenya, selalu ada kamu.”
“Benarkah? Apakah aku terlihat cantik?”
“Kamu selalu terlihat cantik. Dan aku bingung harus menyaksikan koleksi memori yang mana dulu. Semua hal bersamamu selalu membuatku tersenyum.”
“Termasuk ketika aku memergokimu makan siang berdua sekretarismu yang seksi itu?”
“Ah, ya. Itulah satu-satunya kenangan di mana wajahmu terlihat mengerikan. Dan itu membuatku sadar. Aku tidak ingin melihatnya lagi seumur hidupku.”
“Dan kamu berhasil.”

***

Half time goes by
Suddenly you’re a wise
Another blink of an eye
Sixty seven is gone
The sun is getting high
We’re moving on

***

“Pasti kamu sudah kangen sekali padaku…”
“No doubt. I miss you everyday.”
“Maaf. Aku telah meninggalkanmu cukup lama.”
“Tidak perlu minta maaf. Aku tahu kamu merindukanku juga.”
“Sangat. Aku sangat merindukanmu.”
“Haruskah aku menemuimu lebih cepat?”
“Tidak perlu. Bersabarlah.”

***

I’m ninety nine for a moment
Dying for just another moment
And I’m just dreaming
Counting the ways to where you are

***

Sedikit lagi. Lima belas menit lagi, bisiknya.

Kudengar sebuah suara nyaring dan memekakkan telinga dari alat yang ujung-ujung kabelnya tertempel di dadaku. Disusul pekik tangis histeris yang mengiris serta sentuhan terakhir pada tubuhku yang tak lagi bergerak.

Dan aku tersenyum. Setelah penantian panjang yang melelahkan dan menyakitkan, akhirnya anak laki-laki berseragam putih-biru itu akan kembali bertemu dengan bidadarinya yang sudah menunggu di surga sejak lama.

Fifteen, there’s never a wish better than this
When you only got hundred years to live

***

Malang, June 8th 2013
* Lirik lagu Coboy Junior – Bidadari
** Five For Fighting – 100 Years
*** Again. No twist. Karena saya lupa caranya -“-

image

Random 2: Payudara Sebelum Lusa

randomedit

Cover oleh Nuzula @zulazula Fildzah

“Cerita indah tidak melulu tentang cinta dan air matanya. Cerita indah bisa saja tercipta dari pemikiran paling gila dan irisan kulit yang berdarah-darah.”

Kengangguran saya selama menjadi dokter PTT membuahkan sesuatu yang cukup menyenangkan. Pada awal bulan Februari, saya membaca linimasa Twitter dan menemukan sebuah lomba menulis yang diadakan oleh Nulis Buku Club Institut Pertanian Bogor (@NBC_IPB) dengan tema ‘Random (2)’. Iya, Random. Acak. Terserah mau menulis cerpen tentang apa. Boleh jadi, yang paling liar sekalipun.

Membaca ketentuan yang ‘random’ itu, akhirnya saya pun menggila. Seluruh draft cerpen paling random, saya kirimkan. Saat itu saya sempat berpikir untuk ‘ngerjain’ juri-jurinya supaya membaca cerita-cerita random dari saya *nyengir* tanpa berharap (terlalu banyak) bahwa kerandoman saya bisa tersemat sebagai nominator di antara ratusan naskah yang masuk.

Dan alhamdulillah, cerpen saya masuk, yaitu Ruang 23 (cerpen yang pernah saya unggah ke blog) dan Lukisan Tanpa Warna Merah (cerpen baru yang memang selama ini sedang mencari peruntungannya sendiri). Dua cerpen ini akan dibukukan bersama 13 cerpen lainnya di dalam buku Random: Payudara Sebelum Lusa. Payudara Sebelum Lusa adalah pemenang dari lomba menulis Random 2 tersebut, karangan Imamessiah Solikhi. Dan alhamdulillah, Lukisan Tanpa Warna Merah menempati posisi kedua :”>

Buku ini sudah terbit secara indie. Silakan pesan di nulisbuku.com ya ^^

Dan mudah-mudahan, ada penerbit mayor yang mau meminang buku Random: Payudara Sebelum Lusa ini (aamiin…). Tunggu perkembangan selanjutnya untuk bisa menikmati keacakan pikir kami dalam aksara ^^

Untitled

***

G.I. Joe: Retaliation – Review (Spoiler Included)

image

Sutradara : Jon M. Chu
Penulis : Rhett Reese, Paul Wernick
Genre : Action, Sci-Fi
Durasi : 110 menit

Ini adalah film pertama saya setelah sekian lama tidak menapakkan kaki di gedung bioskop (belum apa-apa sudah lebay). Dan ada dua hal yang menjadi perhatian saya setelah nonton film ini. Pertama, sepertinya saya tertarik nonton G.I. Joe: The Rise Of Cobra. Kedua, saya menyadari bahwa betapa sulitnya membuat review film ini tanpa spoiler xD

Cerita diawali dengan aksi G.I. Joe menyelamatkan sandera di negara Korea Utara (tampaknya ada tujuan khusus mengapa Korea Utara ditampilkan di sini. Hingga akhir, ucapan sinis terhadap Korea Utara bisa kita nikmati. Mungkin, posisi Rusia sebagai musuh bebuyutan di tiap film buatan Amerika akan segera digantikan Korea Utara.) Dengan Duke sebagai pemimpin, misi penyelamatan ini tampak seperti menyelesaikan game Angry Birds level pertama dan kedua. Gampang. Mungkin, ini juga simbol bahwa Korea Utara tidak sebanding dengan pertahanan Amerika (mulailah menganalisis semuanya, Chil.)

Selanjutnya, Joe menerima perintah dari Presiden US untuk mengambil alih senjata nuklir Pakistan. Tembakan yang presisi, kerja sama yang kompak, dan letupan bom di mana-mana. Pada akhirnya, Joe berhasil. Semua bersorak. Dan Joe semakin dikenal sebagai pasukan pelindung Amerika yang paling tangguh dan berani.

Tapi rupanya, semuanya hanya jebakan. President is not President. Dan Zartan, dalam penyamarannya, menyebarkan tuduhan bahwa G.I. Joe telah mengkhianati Amerika dengan menguasai senjata nuklir untuk mereka sendiri. Sehingga Presiden Amerika mengeluarkan ulitmatum. G.I. Joe harus dimusnahkan (entah kenapa, jalan cerita ini mengingatkan saya pada serial Korea IRIS ehehehe…). Tiga anggota Joe bertahan. Dan mereka merencanakan ‘retaliation’; pembalasan.

Ada satu pertanyaan. Meskipun Roadblock mengatakan bahwa kepergian rekannya pasti untuk sebuah alasan yang bagus, tapi di mana Snake Eyes?

Satu per satu, para penjahat muncul. Firefly dengan kunang-kunangnya yang bombastis, Destro yang tidak jelas nasibnya di dalam tabung air, Storm Shadow yang memesona dengan abdomen papan caturnya, dan Cobra Commander dengan suaranya yang seksi. Snake Eyes tetap hadir dengan sikap mutisnya. Dan keterlibatan baby-faced grandpa Bruce Willis mencerahkan film dari pertengahan hingga akhir. Seperti alur cerita film kepahlawanan lain, pada akhirnya, yang benar akan mengalahkan kebatilan (meski kebenaran ini dalam konteks ‘Amerika’). 

Jujur. Banyak hal yang di luar dugaan. Dalam artian, saya mengharapkan hal-hal yang sadis, spektakuler dan mencengangkan. Tapi ketika Zartan menimang-nimang tang cabut gigi hanya untuk mainan (tanpa dilanjutkan adegan yang berdarah-darah), well… saya cukup kecewa (di sini jiwa psikopat dimulai). Saya juga berharap ada sebuah rahasia yang akhirnya terungkap. Entah itu siapa mengkhianati siapa, atau siapa menyamar jadi siapa, atau siapa membunuh siapa. Tapi ternyata harapan saya harus musnah seperti butiran debu. Penyusupan Lady Jaye untuk mendapatkan sampel rambut Zartan in disguise terlalu biasa. Penyelamatan presiden oleh Joe, rasanya, terlalu mudah untuk ukuran pasukan pertahanan (yang katanya) paling hebat di dunia. Terbukanya rahasia Storm Shadow pun terasa ‘kurang’. Mungkin karena memang Storm Shadow bukan inti dari film ini. Ya tapi kan kasihan Lee Byung Hun yang udah jauh-jauh terbang dari Korea Selatan… 😥 *dilindes buldozer Roadblock*

Witty conversations, tremendous amunitions, gorgeous Bruce Willis and Lee Byung Hun; adalah kombinasi yang pas. Saya memberi nilai 3/5 untuk film ini. Meski mungkin pada akhirnya, Presiden US tidak lagi berani mengutak-atik gadgetnya di depan umum (karena takut dikira main Angry Birds), tapi secara keseluruhan, film ini cukup menghibur. Dan endingnya membuat kita (saya, maksudnya) keluar dari bioskop dengan isi kepala, “Yah, mungkin yang ini ndak terlalu spektakuler soalnya Cobra masih hidup.” Tapi kenapa London duluan yang dibom, sih? *peluk @TomFelton*

Sekian review (plus spoiler) G.I. Joe: Retaliation dari saya. Semoga bisa dijadikan sebagai referensi untuk menghabiskan libur panjang akhir minggu ini. Dan ada pesan dari Destro, “Sialan. Nongol cuma bentar. Keliatan muka aja nggak.”

Happy holiday! \o/

***

Probolinggo, March 29th 2013

%d bloggers like this: