Archive for the ‘ Monday FlashFiction ’ Category

Size Does Matter

Size doesn’t matter.

Siapapun yang percaya hal ini, pasti belum pernah berada di posisiku. Nelangsa. Tertekan. Merasa tak berdigdaya. Semua itu kurasakan karena perihal ukuran.

Bayangkan. Baru seminggu menikah, istriku sudah protes. Dia bilang, aku tidak bisa menyentuh titik-titik paling erotis di tubuhnya. Dia bilang, alu yang kupunya tak mampu menghidupkan lesungnya. Dia bilang… Dia bilang ukuran alat vitalkulah masalahnya.

Siang tadi, aku berkonsultasi pada seorang tabib terkenal. Dia sesumbar mampu membesarkan penisku dengan sempurna, dan meningkatkan kinerjanya menjadi luar biasa. Tabib itu memberiku sebuah ramuan oranye. Bukan biru. Padahal setahuku, pil viagra berwarna biru. Mungkin karena ramuan ini lebih hebat dari viagra yang berwarna biru, pikirku.

Aku tidak mau membuang waktu. Selepas dari tabib, aku melesat pulang. Menghias kamar tidur dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Menyalakan tiga lilin aromaterapi patchouli. Serta memasang lagu-lagu romantis Eric Clapton dari dek musik di kamar kami.

Kugenggam botol ramuan oranye itu dengan tangan gemetar. Tabib itu bicara tentang konsekuensi. Jujur saja, ketakutan itu ada. Karena tabib itu tidak memberitahuku apa konsekuensinya.

Tapi, size does matter. Bayangan pergumulan panjang dan istriku yang terpuaskan sudah terbayang di pelupuk mata. Kuhabiskan ramuan oranye itu dalam sekali tenggak. Pahit. Lidah dan kerongkonganku seakan terbakar. Lalu tubuhku memanas. Mungkin ini tanda yang bagus. Bukankah dalam gairah itu ada api yang membara? Jika tidak, dari mana lenguh, peluh dan kulit memerah itu datang?

Aku harus bersiap di atas ranjang untuk menyambut istriku. Derap langkahnya mendekat. Dia sudah sampai di depan pintu kamar saat aku merasa lingga di selangkanganku mulai membengkak.

Klek.

Istriku memasuki kamar.

Tapi ada yang tidak beres. Tubuhku sesak. Seperti ditekan dari segala arah.

Oh… tidak. Tubuhku…

“Astaga! Kenapa ada dildo sebesar ini di atas ranjang? Mas? Kamu di mana? Mas…,” pekik istriku sambil berhambur ke luar kamar.

***

Malang, 15 Oktober 2013

Dua Sisi

“Tuhan itu kejam.”

Akbar, laki-laki kurus berambut gondrong yang sudah setia selama delapan tahun menjadi anak buahku itu menatapku ganar. Kulempar sebatang rokok untuknya. Lalu ia menyalakan api untuk rokok yang sudah bertengger di bibirku.

“Tuhan menciptakan harapan. Menurutmu …mengapa?” tanyaku.

Mata Akbar terbelalak. Ia bernapas lewat mulutnya yang terbuka. Lalu menggeleng dengan wajah paling jelek sedunia, “Enggak tahu, Bos.”

“Jelas kamu enggak tahu. Kalo tahu, kamu enggak mungkin jadi kacung ahahaha.”

Akbar ikut terbahak bersamaku hingga terbatuk-batuk. Dungu. Dia menertawakan ketololannya sendiri.

Kuraba akta tanah yang bertumpuk-tumpuk. Tanganku yang kasar terasa nyata menyentuh lembar-lembar berharga. Krajan. Tanah leluhur yang seharusnya memang menjadi milikku.

“O iya … Sebenernya saya heran Kasman mau menghancurkan desa Krajan. Dia, kan, orang Krajan, Bos,” ujar Akbar.

Aku tersenyum. Mengingat bahwa akulah pahlawan penyelamat Kasman dan adiknya beberapa tahun lalu. Mereka difitnah dan terpaksa pergi dari Krajan yang telah menjadi tempat berteduh. Kasman dan adiknya berkeliaran di jalan. Terkatung-katung. Tanpa pekerjaan. Tanpa tempat tinggal.

“Goblok. Kasman itu bukan orang yang enggak tahu terima kasih. Dulu dia dan Ratemi kupungut dari jalan. Kuberi tempat tinggal. Kuberi pekerjaan. Enggak mungkin sekarang dia enggak setia sama aku!” racauku sambil mengoyak pisang goreng dengan gigiku yang menghitam karena terlalu banyak mengisap tembakau.

Akbar kembali mengangguk-angguk. Tanpa tahu bahwa aku adalah Tuhan yang telah memberi Kasman harapan. Harapan untuk tetap hidup dan bernapas.

Hujan di luar sana. Seekor kucing berteduh di bawah tripleks yang hampir runtuh. Hampir menyatu dengan puing bangunan masyarakat desa Krajan yang habis diluluhlantakkan Kasman tiga hari yang lalu.

Tidak ada yang mengira sebelumnya, bahwa kakek dari kakek buyutku adalah seorang yang kaya raya. Ningrat yang menjadi tuan tanah di Krajan. Namun bodohnya, kakek dari kakek buyutku itu hijrah ke kampung tempat kelahiranku dulu. Sebuah desa tandus yang sama sekali tidak layak sebagai tempat hidup. Sebuah tanah gersang yang hanya mampu meletupkan ketakutan akan kematian karena kelaparan. Sebuah bentala yang pada akhirnya membuatku mengerti. Bahwa Tuhan menciptakan harapan karena terlebih dulu Ia mencumbui manusia dengan ketakutan. Kejam, bukan?

Dan mimpi-mimpi burukku atas hidup penuh derita telah memberiku harapan. Merampas Krajan kembali.

“Kasman sakit hati waktu difitnah mencuri beras dari lumbung pagi, Bos. Dia dendam sekali. Kasihan …,” ujar Akbar tiba-tiba sambil mengetuk-ngetukkan rokoknya ke asbak. Abu berjatuhan. Sama seperti nuraniku yang berguguran. Demi tanah leluhur. Demi Krajan.

“Oh. Kamu dengar kasus itu juga, tho?”

Akbar mengangguk. Menyesap rokoknya yang tinggal sepertiga dan kerkata, “Sampai saat ini saya belum nemu siapa tukang fitnah itu, Bos.”

Kutekan puntung rokok yang tinggal seperempat ke asbak yang penuh abu. Aku berdiri dan melemaskan otot-otot yang tegang karena terlalu bersemangat. “Tuhan menciptakan ketakutan terlebih dulu untuk menumbuhkan harapan. Menurutmu, aku berbuat apa?”

Kembali Akbar membuat wajah paling dungu sedunia. Matanya terbelalak. Ia bernapas dari mulutnya yang terbuka.

Aku terkekeh pelan melihatnya. Berusaha melukis kembali ingatan saat diam-diam kucecerkan padi di sekitar rumah Kasman.

***

Malang, 05 Desember 2013

Monster di Ambang Pintu

Ada monster yang selalu menungguku di ambang pintu. Wajah dan tubuhnya berborok dan bau. Begitu kakiku melangkah keluar rumah, tangannya menembus dadaku. Lalu menyusup ke dalam kepala dan memutar bayang-bayang jahat tentang orang-orang di sekitarku. Karenanya, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Atau sekadar tersenyum.

Sebelumnya, aku pasrah dan diam saja. Tapi hari ini, aku sudah muak. Aku ingin hidup tenang.

Dengan terburu-buru, aku menuju ke arahnya. Kuraih sebuah kursi kayu. Kuhantamkan tepat di kepalanya. Monster terhuyung dan terjatuh. Kuambil sebilah belati dari balik jaketku. Kutusuk monster itu tepat di dadanya. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.

Mati sudah. Setan yang bernama Dengki.

***

Malang, 2 Oktober 2013

Malam Gila

falasca_painting_web

 

Kamarku pecah. Musik berdentum mengiringi lima orang yang melantai dan kesetanan. Kepala terangguk-angguk dan tergeleng-geleng bergantian. Tubuhku dan mereka berlumur peluh. Pekik tawa dan candaan kotor terderngar rusuh. Euforia membuana, namun ada balon udara yang siap meledak di masing-masing kepala. Balon udara yang berisi kegelisahan, kekecewaan, frustasi, keputusasaan, dan patah hati. Balon udara yang kami rayakan kehadirannya dengan cara seperti ini… hampir tiap hari.

Tiba-tiba kepalaku sakit bukan main. Seakan ada batu besar yang dihantamkan dari belakang. Keringatku menderas seakan ruangan ini dijatuhi hujan. Tangan dan kakiku kram. Perutku mual seperti diremas ratusan tangan.

Setan!

Rasanya aku butuh isapan baru. Kutarik alumunium berisi shabu yang tak habis diisap Bram. Hidung dan tanganku terampil memainkan pemantik api dan bong, kemudian menyesap shabu itu dalam-dalam. Pahit serbuk putih ini segera tergantikan dengan sebuah film layar lebar di depan mataku. Film tentang cita-cita dan mimpi yang semakin menjauh. Cerita tentang cinta yang gagal kurengkuh.

Kuteguk segelas air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.

Ah, selalu begini!

Mungkin karena gigi-geligiku tak lagi utuh. Mungkin karena ini adalah aku. Bahkan air putih pun tak mau tinggal di dalam mulutku.

Lalu jantungku menghentak bagai kerasukan. Rasanya dadaku mau meledak. Kerongkongan tercekat. Aku tak bisa bernapas.

Di atas lantai yang dingin, tubuhku meluruh.

Jantungku berdenyut semakin rancak. Ada pelukan ayah sebelum ia dibui karena korupsi dan bunuh diri. Ingatanku teracak. Ada senyum ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku dulu.

Sebelum pandanganku menggelap, bayangan mantan kekasihku datang mengucapkan selamat tinggal.

***

Entah sudah berapa lama, tubuhku terasa ringan. Kamarku sepi. Bram dan yang lain sudah pergi. Mungkin ini sudah pagi.

Lalu ada yang menepuk pelan pundakku. Wajahnya asing.

“Man robbuka?”

Seketika aku mengejang.

Aku tak tahu jawabannya.

***

Malang, End of November 2015

 

NB: hwaaa… nulis beginian aja susah bener. Gini nih efeknya kalo kelamaan enggak nulis T___T

Kandas

Prompt 71

Aku tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Gelap. Pengap. Licin. Teman-temanku yang lain tertinggal jauh. Aku sendirian.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Rasanya aku sempat mendengar beberapa pekik kesakitan di sana. Seperti ada pembantaian besar-besaran. Sayup kudengar mereka berteriak, “Jangan menyerah, John! Kamu harus berjuang!”

Berjuang? Aku bahkan tidak mengerti harus berjuang untuk apa. Tidak pernah ada yang memberitahuku sebelumnya untuk apa aku di sini dan bagaimana caranya melaksanakan untuk-apa-aku-di-sini. Aku hanya mengikuti insting.

Maka aku terus bergerak tanpa henti. Menyusuri lorong gelap yang mulai berkelok, menyeimbangkan tubuh dengan arah gerak rerumputan halus yang ada di situ. Sepi dan sendiri.

Tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu yang tak pernah kutahu sebelumnya. Seseorang, lebih tepatnya. Cantik. Ia tersenyum. Seakan-akan ia memang sengaja menungguku.

Aku mendekat, menyentuh tubuhnya yang bulat. Dan segera ia membiarkanku menyusup ke peluknya.

Aku tidak tahu menahu, tapi rasanya ini adalah tujuan yang tepat. Karena dari kejauhan, aku mendengar jutaan hantu rekan-rekanku mengumandangkan kemenangan.

***

Seorang perempuan muda meringkuk di lorong sekolah. Rambutnya semrawut. Sedangkan di sampingnya berdiri seorang remaja pria. Ia ketakutan. Ia berkata, “Aku masih ingin sekolah.” Dan keping bergaris dua itu dilemparnya ke tong sampah.

***

Malang, 18 November 2014

Beda jauh sama gambar prompt ahahaha

*digetok admin*

Si Pembawa Pesan

Prompt 62

Baru saja aku bergegas menuju kantor ketika kucing itu tiba-tiba berjalan ke arahku. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan?

Aku tahu Crayon tak pernah suka padaku. Pernah aku digigitnya tanpa alasan hingga menyisakan luka yang terinfeksi selama beberapa hari. Mungkin gara-gara aku mencuci tempat makannya meski masih ada sisa di sana. Atau secara tidak sengaja menendang mangkuk susunya hingga habis tak bersisa. Atau mungkin juga… karena aku pernah menginjak ekornya dengan high heelsku. Tidak sengaja, tentu saja! Tapi dari dulu, aku dan Crayon tidak pernah akur.

Dengan panik, aku membuka pintu mobil. Kenapa kucing galak itu ada di sini, sih? Bukankah rumah pemiliknya jauh dari sini? Ah… Perutku mulas mengingat pemilik kucing abu-abu itu. Sudah hampir sebulan ia menghilang, namun pagi ini malah kucingnya yang datang. Kepalaku berputar-putar, berusaha mencari petunjuk. Namun tatapan Crayon semakin membangkitkan bulu kuduk.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang putih di leher kucing tadi. Memang Crayon punya kalung nama. Tapi bukan warna putih seperti itu.

Aku mendekat perlahan. Crayon duduk dengan tenang. Kurendahkan tubuh dan meraih tubuh Crayon dengan tanganku. Tak seperti biasanya, kali ini Crayon mengeong dengan manja. Ia membiarkan kulitku menyentuh rambut halusnya. Tanganku mengelus lehernya hingga jemariku menyentuh secarik kertas.

Tubuhku bergetar saat membaca tulisan di kertas itu. Kepalaku menengadah. Mataku menemukan ayah Crayon. Serta merta tubuhku melompat ke dalam pelukannya. Perlahan kumasukkan kertas mungil tadi ke dalam saku. Crayon memalingkan muka dan mengeong pelan. Seakan menyesal telah turut menjadi pembawa pesan paling manis sedunia.

“Would you marry my daddy?”

***

Malang, September 22nd 2014

Tiga Punggung yang Berlalu

Prompt 61

“Jadi… kami benar-benar harus pergi?” Si Seksi pecinta rok mini bertanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku mengangguk dengan hati perih, “Bukankah selalu ada yang mengucapkan selamat tinggal lebih dulu?”

“Ini bukan selamat tinggal. Elo ngusir kami!” pekik Si Pirang. Ia bersedekap erat, membuat dada ranumnya makin terangkat.

“Sampai kapan mereka ikut campur sama hidupmu?” hardik Si Menor sambil memasukkan barang-barang ke dalam koper besar.

“Sampai kalian bertiga pergi dari sini,” jawabku sambil menelan ludah melihat Si Pirang merapikan beberapa pakaian dalam berwarna cerah

“Kamu enggak akan bahagia!” pekik Si Pirang sebelum ia mengomando dua perempuan lainnya untuk pergi.

Namun aku hanya terdiam menatap ketiga punggung cantik itu berlalu dan menghilang di balik pintu.

***

“Oke, Mas Wahyu. Saya kira cukup untuk konseling hari ini.”

Aku beranjak dari sofa panjang. Melemparkan senyum pada psikiater muda itu dan berbalik pergi.

Mungkin aku tidak bahagia. Tapi tanpa kalian bertiga, aku waras. Setidaknya bagi mereka.”

***

Hwaaa… setelah lamaaa sekali enggak nulis fiksi, akhirnya pecah juga. Ide standar. Sepertinya enggak ngerem. Ya sudahlah. Jangan dikasih kripik pedas, ya. Saya belum adaptasi lagi ahahaha #DilemparBotol

Ingatan Bunga Kertas

image

“Ingatan itu seperti bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap.”

“Kata siapa?” tanyaku.

Lelaki berkulit gelap itu tersenyum tanpa memandangku. Jari telunjuk dan jari tengah begitu lihai memilin-milin sebatang rokok yang baru saja dinyalakan. Kemudian disesapnya rokok itu hingga pipinya terisap dalam. Dan berderet asap terembus pelan dari hidung dan mulutnya.

“Menurutmu aku bisa membuat kata-kata sekeren itu?” jawabnya ringan.

Aku terkekeh. “Sudah kuduga,” lirihku.

“Jika aku pergi, ingatan-ingatanmu masih mau berbicara tentang aku, kan?” tanyanya. Senyumnya hilang. Wajahnya muram.

Perutku mulas. Membayangkan dia pergi membuatku hilang nyali. Bagaimana bisa aku menghadapi hari tanpa bisa melihat senyumnya lagi?

Perlahan, kupilin ujung blus biruku, “Enggak tahu. Aku bahkan mungkin tak bisa berpikir jika kamu pergi.”

“Tapi aku harus pergi.”

Aku menelan ludah. Intonasi itu sangat kukenal baik. Berat, rendah, dan dari hati. Lelaki berkulit gelap ini tidak main-main. Dia memang akan pergi.

“Kenapa?” tanyaku getir.

Kali ini ia memandangku. Mulutnya hendak membuka. Namun yang terdengar olehku hanya kata-kata yang memekakkan telinga.

Lalu sebuah pusaran hitam muncul di balik kepalanya. Menarik pelan tubuhnya, seakan memaksa lelaki itu untuk hilang dari hidupku begitu saja.

Dan dia hilang. Lenyap. Bersama ingatan yang ia minta untuk tetap setia mengenangnya.

***

“Selamat pagi, Alya.” Suara perempuan itu mengusikku. Mengganggu tidurku. Menginterupsi ingatanku yang mengambang dan dipenuhi lelaki berkulit gelapku.

Mataku terbuka pelan. Kulihat perempuan berkerudung putih itu menatapku penuh haru. Tampak jelas ada air mata yang tertahan di ujung matanya yang redup.

Lalu aku mendengar bibirku sendiri terbuka dengan suara yang terbata-bata, “Alya? Aku… Aku ini siapa?”

Air mata perempuan itu jatuh. Tanpa pernah tahu bahwa ingatanku adalah bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap. Tidak terlihat, tapi berbunga tanpa pernah kita tahu bagaimana caranya ia tinggal. Dan ketika bunga kertas itu ditunjukkan pada dunia, maka ia tidak akan bisa kembali lagi ke tempatnya semula.

Dan aku memilih meleburkan ingatan-ingatanku pada suara terakhir lelaki berkulit gelapku yang selalu terngiang-ngiang di kepala sebelum ia pergi selamanya.

“Mantanku mengandung anakku.”

***

Prompt 42 yang terlambat T____T

Quote diambil dari novel Jodi Picoult ~ “Each memory is like a paper flower stowed up a magician’s sleeve: invisible one moment and then so substantial and florid the next I cannot imagine how it stayed hidden all this time. And like those paper flowers, once they’ve been let loose in the world, the memories are impossible to tuck away again.”

Bum!

large

Sudah tiga bulan sejak perpisahan yang memilukan antara aku dan dia. Namun aku masih saja dikejar oleh seraut wajahnya yang pucat dan tak berdaya. Oleh tangisnya yang menyayat luka. Juga cintanya yang kuhempas dengan paksa hingga tiada.

Jujur saja. Meski akulah yang menginginkan kesendirian ini, namun aku tak pernah menyangka bisa menjadi semerana ini. Setiap malam, aku tidak bisa tidur. Tidak enak makan. Seakan-akan, aku tak lagi bisa hidup. Pertanyaan ‘mengapa’ bergema setiap waktu. Namun akal gilaku selalu menjawab dengan, “Dia bukan untukmu.”

Hari ke-93 sejak perpisahanku dengannya. Dan malam ini, suara lembutnya terdengar begitu nyaring di telinga. Semakin keras. Semakin pekak. Lalu sebuah letupan kecil meledak di kepala.

Bum!

Gendang telingaku pecah. Berdarah.

Lalu anak perempuan itu keluar dari kepalaku. Ia melayang di hadapanku. Tangan kanannya terjulur sendu, seakan meminta sesuatu yang pernah kuambil darinya dulu.

“Bisa kau kembalikan jantungku?” lirihnya.

Tubuhku bergetar melihat tubuh mungilnya yang pucat menggigil dan gemetar. Sementara mataku berusaha berpaling dari dada kirinya yang kosong dan menganga.

“Bisa kau kembalikan jantungku? Aku ingin mencintai lagi.”

Air mataku jatuh. Aku menangis. Histeris. Dan mulai mencabik-cabik perutku sendiri dengan penyesalan yang tajam seperti dua garis merah di pagi hari.

Andai bisa, akan kukembalikan jantungmu. Lalu cintailah perempuan lain yang bisa mencintaimu. Cintailah perempuan lain yang mampu menjadi ibumu. Bukan aku… perempuan yang telah membuangmu setelah laki-laki itu membuangku.

***

Malang, March 3rd 2014

*) Dari fiksimini: Rosita J Aisyah ~ “Bisa kau kembalikan hatiku? Aku ingin mencintai lagi.”

Satu Adegan dalam Mimpi

“Banyak hal yang dimulai dari rasa penasaran. Termasuk jatuh cinta.”

Aku mengernyit. Lalu memandanginya dengan tatapan teori-macam-apa-itu. Namun ia justru terbahak melihat wajahku.

Diambilnya secarik kertas dan sebuah pensil warna merah. Kemudian ia menggambarkan sesuatu di sana. “Akui saja. Kamu pasti pernah penasaran ketika tiba-tiba banyak benda ini berceceran, bukan?” katanya sambil menyodorkan hasil gambar kilatnya padaku.

Sebuah g-string merah.

Aku berusaha menahan senyum ketika otakku mulai mengingat rasa penasaran yang dulu pernah meletup-letup di kepalaku. “Hey! Siapa yang tidak penasaran jika benda yang selama ini disimpan hanya di lemari perempuan harus disebarluaskan seperti membagi tiket konser Maroon 5?” kilahku.

Ia kembali terkekeh dan mengangguk-angguk. “Lalu bagaimana dengan sebuah bon minuman? Tidak ada yang aneh. Tapi kamu penasaran, kan?” selidiknya.

Kupanggil lagi barisan memori yang berderet di sebuah folder bertuliskan namanya. Bon minuman. Iya, sesungguhnya itu biasa saja.

“Itu biasa saja sampai banyak orang membuatnya menjadi istimewa. Aku penasaran, apa yang membuatnya begitu sangat menarik. Reaksiku itu wajar!” ujarku sambil melipat kedua tangan di dada.

Ia tersenyum dan memandangku dalam. Matanya menjurus tepat pada mataku. Lalu menggeleng-geleng seolah-olah semua kata yang kubangun demi pertahananku adalah salah.

“Reaksimu itu bukan disebut ‘wajar’. Tapi memang begitu seharusnya. Karena aku tahu, orang-orang sepertimu pasti akan penasaran. Dan tertantang,” ujarnya mantap.

“Orang-orang sepertiku? Maksudmu?” sengitku. Pertahananku mulai goyah. Percakapan ini mulai absurd.

Namun ia tetap tenang. “Haus akan aksara, kurasa. Saat itu kamu sedang tidak punya kerjaan yang menyita banyak waktu, bukan? Dan kamu… lapar akan sebuah komunitas. Karena saat itu… kamu sendirian,” ujarnya sambil membereskan kertas-kertas di atas meja dan memasukkannya ke dalam sebuah map plastik berwarna biru.

Kupalingkan wajah darinya dan kertas-kertas lain yang masih berserakan. Lalu kubuka lagi folder bertuliskan namanya. Ada sebuah surat yang belum kusampaikan, bahwa aku bersyukur pernah bertemu dengannya. Bermula dari seekor ‘Ayam’ hingga sebuah kontes akbar. Setelahnya, ia adalah alasan mengapa hari senin menjadi tak lagi begitu mengerikan. Ia adalah alasan aku selalu ingin belajar. Ia adalah alasan aku menuliskan cerita ini.

“Akui saja. Kata-kataku benar. Banyak hal yang dimulai dari rasa penasaran,” ujarnya.

Aku terdiam sesaat, dan memandangnya untuk kesekian kali. Kuamati sebuah wajah yang memiliki beragam rona. Sebuah wajah yang berisi milyaran ide di dalam semesta. Sebuah wajah yang menyelamatkanku dari rasa bosan akan rutinitas. Sebuah wajah yang mungkin… telah menjadi rumah kedua.

“Iya. Kamu benar. Kamu selalu benar.”

“Termasuk jatuh cinta.”

“Termasuk jatuh cinta,” lirihku.

“Maka jangan lari lagi. Berjalan saja seperti apa adanya. Kami selalu menunggu. Karena kami adalah taman bermain yang bisa kamu jejak kapanpun kamu suka.”

Aku menunduk, tersenyum dan menertawakan diri sendiri yang pernah ingin lari. Sial. Entah sejak kapan ia menjadi tahu segalanya.

Azan subuh baru saja berkumandang. Garis cakrawala menjingga. Matahari mulai merangkak naik dan menyinari belahan dunia yang kupijak. Tiba-tiba tepukan hangat Ibu di bahu membuatku tersentak dan terbangun.

“Waktunya berangkat ke rumah sakit, Noy.”

Oh. Adegan tadi hanya mimpi. Mimpi yang terasa seperti nyata.

Aku bangkit dari tidur dan bergerak keluar kamar. Namun mataku tertahan ke atas meja, pada sebuah map plastik berwarna biru yang sepertinya tidak pernah ada di sana sebelumnya.

Perlahan, kuambil map itu dan kubaca tulisan di atasnya. “Surat Terbuka untuk Monday Flashfiction – oleh Noichil.”

***

Malang, 28 Januari 2014
Selepas subuh.

image

%d bloggers like this: