Archive for the ‘ Monday FlashFiction ’ Category

Size Does Matter

Size doesn’t matter.

Siapapun yang percaya hal ini, pasti belum pernah berada di posisiku. Nelangsa. Tertekan. Merasa tak berdigdaya. Semua itu kurasakan karena perihal ukuran.

Bayangkan. Baru seminggu menikah, istriku sudah protes. Dia bilang, aku tidak bisa menyentuh titik-titik paling erotis di tubuhnya. Dia bilang, alu yang kupunya tak mampu menghidupkan lesungnya. Dia bilang… Dia bilang ukuran alat vitalkulah masalahnya.

Siang tadi, aku berkonsultasi pada seorang tabib terkenal. Dia sesumbar mampu membesarkan penisku dengan sempurna, dan meningkatkan kinerjanya menjadi luar biasa. Tabib itu memberiku sebuah ramuan oranye. Bukan biru. Padahal setahuku, pil viagra berwarna biru. Mungkin karena ramuan ini lebih hebat dari viagra yang berwarna biru, pikirku.

Aku tidak mau membuang waktu. Selepas dari tabib, aku melesat pulang. Menghias kamar tidur dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Menyalakan tiga lilin aromaterapi patchouli. Serta memasang lagu-lagu romantis Eric Clapton dari dek musik di kamar kami.

Kugenggam botol ramuan oranye itu dengan tangan gemetar. Tabib itu bicara tentang konsekuensi. Jujur saja, ketakutan itu ada. Karena tabib itu tidak memberitahuku apa konsekuensinya.

Tapi, size does matter. Bayangan pergumulan panjang dan istriku yang terpuaskan sudah terbayang di pelupuk mata. Kuhabiskan ramuan oranye itu dalam sekali tenggak. Pahit. Lidah dan kerongkonganku seakan terbakar. Lalu tubuhku memanas. Mungkin ini tanda yang bagus. Bukankah dalam gairah itu ada api yang membara? Jika tidak, dari mana lenguh, peluh dan kulit memerah itu datang?

Aku harus bersiap di atas ranjang untuk menyambut istriku. Derap langkahnya mendekat. Dia sudah sampai di depan pintu kamar saat aku merasa lingga di selangkanganku mulai membengkak.

Klek.

Istriku memasuki kamar.

Tapi ada yang tidak beres. Tubuhku sesak. Seperti ditekan dari segala arah.

Oh… tidak. Tubuhku…

“Astaga! Kenapa ada dildo sebesar ini di atas ranjang? Mas? Kamu di mana? Mas…,” pekik istriku sambil berhambur ke luar kamar.

***

Malang, 15 Oktober 2013

Advertisements

Dua Sisi

“Tuhan itu kejam.”

Akbar, laki-laki kurus berambut gondrong yang sudah setia selama delapan tahun menjadi anak buahku itu menatapku ganar. Kulempar sebatang rokok untuknya. Lalu ia menyalakan api untuk rokok yang sudah bertengger di bibirku.

“Tuhan menciptakan harapan. Menurutmu …mengapa?” tanyaku.

Mata Akbar terbelalak. Ia bernapas lewat mulutnya yang terbuka. Lalu menggeleng dengan wajah paling jelek sedunia, “Enggak tahu, Bos.”

“Jelas kamu enggak tahu. Kalo tahu, kamu enggak mungkin jadi kacung ahahaha.”

Akbar ikut terbahak bersamaku hingga terbatuk-batuk. Dungu. Dia menertawakan ketololannya sendiri.

Kuraba akta tanah yang bertumpuk-tumpuk. Tanganku yang kasar terasa nyata menyentuh lembar-lembar berharga. Krajan. Tanah leluhur yang seharusnya memang menjadi milikku.

“O iya … Sebenernya saya heran Kasman mau menghancurkan desa Krajan. Dia, kan, orang Krajan, Bos,” ujar Akbar.

Aku tersenyum. Mengingat bahwa akulah pahlawan penyelamat Kasman dan adiknya beberapa tahun lalu. Mereka difitnah dan terpaksa pergi dari Krajan yang telah menjadi tempat berteduh. Kasman dan adiknya berkeliaran di jalan. Terkatung-katung. Tanpa pekerjaan. Tanpa tempat tinggal.

“Goblok. Kasman itu bukan orang yang enggak tahu terima kasih. Dulu dia dan Ratemi kupungut dari jalan. Kuberi tempat tinggal. Kuberi pekerjaan. Enggak mungkin sekarang dia enggak setia sama aku!” racauku sambil mengoyak pisang goreng dengan gigiku yang menghitam karena terlalu banyak mengisap tembakau.

Akbar kembali mengangguk-angguk. Tanpa tahu bahwa aku adalah Tuhan yang telah memberi Kasman harapan. Harapan untuk tetap hidup dan bernapas.

Hujan di luar sana. Seekor kucing berteduh di bawah tripleks yang hampir runtuh. Hampir menyatu dengan puing bangunan masyarakat desa Krajan yang habis diluluhlantakkan Kasman tiga hari yang lalu.

Tidak ada yang mengira sebelumnya, bahwa kakek dari kakek buyutku adalah seorang yang kaya raya. Ningrat yang menjadi tuan tanah di Krajan. Namun bodohnya, kakek dari kakek buyutku itu hijrah ke kampung tempat kelahiranku dulu. Sebuah desa tandus yang sama sekali tidak layak sebagai tempat hidup. Sebuah tanah gersang yang hanya mampu meletupkan ketakutan akan kematian karena kelaparan. Sebuah bentala yang pada akhirnya membuatku mengerti. Bahwa Tuhan menciptakan harapan karena terlebih dulu Ia mencumbui manusia dengan ketakutan. Kejam, bukan?

Dan mimpi-mimpi burukku atas hidup penuh derita telah memberiku harapan. Merampas Krajan kembali.

“Kasman sakit hati waktu difitnah mencuri beras dari lumbung pagi, Bos. Dia dendam sekali. Kasihan …,” ujar Akbar tiba-tiba sambil mengetuk-ngetukkan rokoknya ke asbak. Abu berjatuhan. Sama seperti nuraniku yang berguguran. Demi tanah leluhur. Demi Krajan.

“Oh. Kamu dengar kasus itu juga, tho?”

Akbar mengangguk. Menyesap rokoknya yang tinggal sepertiga dan kerkata, “Sampai saat ini saya belum nemu siapa tukang fitnah itu, Bos.”

Kutekan puntung rokok yang tinggal seperempat ke asbak yang penuh abu. Aku berdiri dan melemaskan otot-otot yang tegang karena terlalu bersemangat. “Tuhan menciptakan ketakutan terlebih dulu untuk menumbuhkan harapan. Menurutmu, aku berbuat apa?”

Kembali Akbar membuat wajah paling dungu sedunia. Matanya terbelalak. Ia bernapas dari mulutnya yang terbuka.

Aku terkekeh pelan melihatnya. Berusaha melukis kembali ingatan saat diam-diam kucecerkan padi di sekitar rumah Kasman.

***

Malang, 05 Desember 2013

Monster di Ambang Pintu

Ada monster yang selalu menungguku di ambang pintu. Wajah dan tubuhnya berborok dan bau. Begitu kakiku melangkah keluar rumah, tangannya menembus dadaku. Lalu menyusup ke dalam kepala dan memutar bayang-bayang jahat tentang orang-orang di sekitarku. Karenanya, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Atau sekadar tersenyum.

Sebelumnya, aku pasrah dan diam saja. Tapi hari ini, aku sudah muak. Aku ingin hidup tenang.

Dengan terburu-buru, aku menuju ke arahnya. Kuraih sebuah kursi kayu. Kuhantamkan tepat di kepalanya. Monster terhuyung dan terjatuh. Kuambil sebilah belati dari balik jaketku. Kutusuk monster itu tepat di dadanya. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.

Mati sudah. Setan yang bernama Dengki.

***

Malang, 2 Oktober 2013

Malam Gila

falasca_painting_web

 

Kamarku pecah. Musik berdentum mengiringi lima orang yang melantai dan kesetanan. Kepala terangguk-angguk dan tergeleng-geleng bergantian. Tubuhku dan mereka berlumur peluh. Pekik tawa dan candaan kotor terderngar rusuh. Euforia membuana, namun ada balon udara yang siap meledak di masing-masing kepala. Balon udara yang berisi kegelisahan, kekecewaan, frustasi, keputusasaan, dan patah hati. Balon udara yang kami rayakan kehadirannya dengan cara seperti ini… hampir tiap hari.

Tiba-tiba kepalaku sakit bukan main. Seakan ada batu besar yang dihantamkan dari belakang. Keringatku menderas seakan ruangan ini dijatuhi hujan. Tangan dan kakiku kram. Perutku mual seperti diremas ratusan tangan.

Setan!

Rasanya aku butuh isapan baru. Kutarik alumunium berisi shabu yang tak habis diisap Bram. Hidung dan tanganku terampil memainkan pemantik api dan bong, kemudian menyesap shabu itu dalam-dalam. Pahit serbuk putih ini segera tergantikan dengan sebuah film layar lebar di depan mataku. Film tentang cita-cita dan mimpi yang semakin menjauh. Cerita tentang cinta yang gagal kurengkuh.

Kuteguk segelas air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.

Ah, selalu begini!

Mungkin karena gigi-geligiku tak lagi utuh. Mungkin karena ini adalah aku. Bahkan air putih pun tak mau tinggal di dalam mulutku.

Lalu jantungku menghentak bagai kerasukan. Rasanya dadaku mau meledak. Kerongkongan tercekat. Aku tak bisa bernapas.

Di atas lantai yang dingin, tubuhku meluruh.

Jantungku berdenyut semakin rancak. Ada pelukan ayah sebelum ia dibui karena korupsi dan bunuh diri. Ingatanku teracak. Ada senyum ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku dulu.

Sebelum pandanganku menggelap, bayangan mantan kekasihku datang mengucapkan selamat tinggal.

***

Entah sudah berapa lama, tubuhku terasa ringan. Kamarku sepi. Bram dan yang lain sudah pergi. Mungkin ini sudah pagi.

Lalu ada yang menepuk pelan pundakku. Wajahnya asing.

“Man robbuka?”

Seketika aku mengejang.

Aku tak tahu jawabannya.

***

Malang, End of November 2015

 

NB: hwaaa… nulis beginian aja susah bener. Gini nih efeknya kalo kelamaan enggak nulis T___T

Kandas

Prompt 71

Aku tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Gelap. Pengap. Licin. Teman-temanku yang lain tertinggal jauh. Aku sendirian.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Rasanya aku sempat mendengar beberapa pekik kesakitan di sana. Seperti ada pembantaian besar-besaran. Sayup kudengar mereka berteriak, “Jangan menyerah, John! Kamu harus berjuang!”

Berjuang? Aku bahkan tidak mengerti harus berjuang untuk apa. Tidak pernah ada yang memberitahuku sebelumnya untuk apa aku di sini dan bagaimana caranya melaksanakan untuk-apa-aku-di-sini. Aku hanya mengikuti insting.

Maka aku terus bergerak tanpa henti. Menyusuri lorong gelap yang mulai berkelok, menyeimbangkan tubuh dengan arah gerak rerumputan halus yang ada di situ. Sepi dan sendiri.

Tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu yang tak pernah kutahu sebelumnya. Seseorang, lebih tepatnya. Cantik. Ia tersenyum. Seakan-akan ia memang sengaja menungguku.

Aku mendekat, menyentuh tubuhnya yang bulat. Dan segera ia membiarkanku menyusup ke peluknya.

Aku tidak tahu menahu, tapi rasanya ini adalah tujuan yang tepat. Karena dari kejauhan, aku mendengar jutaan hantu rekan-rekanku mengumandangkan kemenangan.

***

Seorang perempuan muda meringkuk di lorong sekolah. Rambutnya semrawut. Sedangkan di sampingnya berdiri seorang remaja pria. Ia ketakutan. Ia berkata, “Aku masih ingin sekolah.” Dan keping bergaris dua itu dilemparnya ke tong sampah.

***

Malang, 18 November 2014

Beda jauh sama gambar prompt ahahaha

*digetok admin*

Si Pembawa Pesan

Prompt 62

Baru saja aku bergegas menuju kantor ketika kucing itu tiba-tiba berjalan ke arahku. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan?

Aku tahu Crayon tak pernah suka padaku. Pernah aku digigitnya tanpa alasan hingga menyisakan luka yang terinfeksi selama beberapa hari. Mungkin gara-gara aku mencuci tempat makannya meski masih ada sisa di sana. Atau secara tidak sengaja menendang mangkuk susunya hingga habis tak bersisa. Atau mungkin juga… karena aku pernah menginjak ekornya dengan high heelsku. Tidak sengaja, tentu saja! Tapi dari dulu, aku dan Crayon tidak pernah akur.

Dengan panik, aku membuka pintu mobil. Kenapa kucing galak itu ada di sini, sih? Bukankah rumah pemiliknya jauh dari sini? Ah… Perutku mulas mengingat pemilik kucing abu-abu itu. Sudah hampir sebulan ia menghilang, namun pagi ini malah kucingnya yang datang. Kepalaku berputar-putar, berusaha mencari petunjuk. Namun tatapan Crayon semakin membangkitkan bulu kuduk.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang putih di leher kucing tadi. Memang Crayon punya kalung nama. Tapi bukan warna putih seperti itu.

Aku mendekat perlahan. Crayon duduk dengan tenang. Kurendahkan tubuh dan meraih tubuh Crayon dengan tanganku. Tak seperti biasanya, kali ini Crayon mengeong dengan manja. Ia membiarkan kulitku menyentuh rambut halusnya. Tanganku mengelus lehernya hingga jemariku menyentuh secarik kertas.

Tubuhku bergetar saat membaca tulisan di kertas itu. Kepalaku menengadah. Mataku menemukan ayah Crayon. Serta merta tubuhku melompat ke dalam pelukannya. Perlahan kumasukkan kertas mungil tadi ke dalam saku. Crayon memalingkan muka dan mengeong pelan. Seakan menyesal telah turut menjadi pembawa pesan paling manis sedunia.

“Would you marry my daddy?”

***

Malang, September 22nd 2014

Tiga Punggung yang Berlalu

Prompt 61

“Jadi… kami benar-benar harus pergi?” Si Seksi pecinta rok mini bertanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku mengangguk dengan hati perih, “Bukankah selalu ada yang mengucapkan selamat tinggal lebih dulu?”

“Ini bukan selamat tinggal. Elo ngusir kami!” pekik Si Pirang. Ia bersedekap erat, membuat dada ranumnya makin terangkat.

“Sampai kapan mereka ikut campur sama hidupmu?” hardik Si Menor sambil memasukkan barang-barang ke dalam koper besar.

“Sampai kalian bertiga pergi dari sini,” jawabku sambil menelan ludah melihat Si Pirang merapikan beberapa pakaian dalam berwarna cerah

“Kamu enggak akan bahagia!” pekik Si Pirang sebelum ia mengomando dua perempuan lainnya untuk pergi.

Namun aku hanya terdiam menatap ketiga punggung cantik itu berlalu dan menghilang di balik pintu.

***

“Oke, Mas Wahyu. Saya kira cukup untuk konseling hari ini.”

Aku beranjak dari sofa panjang. Melemparkan senyum pada psikiater muda itu dan berbalik pergi.

Mungkin aku tidak bahagia. Tapi tanpa kalian bertiga, aku waras. Setidaknya bagi mereka.”

***

Hwaaa… setelah lamaaa sekali enggak nulis fiksi, akhirnya pecah juga. Ide standar. Sepertinya enggak ngerem. Ya sudahlah. Jangan dikasih kripik pedas, ya. Saya belum adaptasi lagi ahahaha #DilemparBotol

Advertisements
%d bloggers like this: