Archive for the ‘ jalan-jalan ’ Category

Prolog

“Berlarilah. Lupakan luka di masa lalu.

  Berlarilah. Rasakan adrenalin yang menginfiltrasi seluruh sel di tubuhmu.

  Berlarilah. Karena ada jutaan mimpi yang menunggu untuk kau cumbu.”

***

2 Maret 2012

Satu jam lima puluh menit.

Rasanya ini akan menjadi perjalanan paling lama yang pernah kulakukan. Lebih lama dari Malang menuju Jogja yang memakan waktu tempuh enam jam dengan kereta. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kenangan bersama mantan pacar yang sudah kucintai selama lima tahun dan dengan gagahnya meminta hubungan kami berakhir karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain.

Seorang perempuan paruh baya di sampingku telah nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halusnya menjadi musik pengiring bagi pikiranku yang melayang-layang, menembus awan putih yang mengapung di luar sana. Aku terhipnotis dengan putihnya yang menenangkan. Mungkin terdengar picisan. Tapi tidak ada manusia yang tidak tergoda untuk mencoba menjejakkan kaki di atas awan. Mungkin saja awan memang bisa dijadikan alas tidur yang nyaman. Jauh dari hiruk pikuk di bawahnya. Tapi kemudian awan-awan itu mengejutkanku. Mengembalikanku pada kenyataan ketika ia membuat guncangan pada badan pesawat.

Jutaan pertanyaan itu datang lagi. Mereka meminta penjelasan untuk hal-hal yang terjadi sebelum aku pergi. Tentang secarik kertas yang kini terselip di sebuah buku harian. Secarik kertas yang membuatku memutuskan untuk melarikan diri. Secarik kertas yang membuatku kehilangan semangat dan harapan. Secarik kertas yang menciptakan jarak antara aku dan Bapak. Secarik kertas yang turut andil membuatku memutuskan untuk pergi.

“Roti, Mbak?”

Tiba-tiba ada sebuah kantong kertas berisi roti di depanku. Aku terkejut dan menoleh. Rupanya ibu yang menjadi teman perjalananku itu sudah bangun.

“Ini makan aja. Daripada ngelamun,” bisiknya sambil tersenyum. Ia kembali menyodorkan kantong roti yang wanginya memang tidak bisa kutolak.

“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tak lupa kububuhkan senyum untuk mengiringinya. Dua gerakan sederhana ini memang menjadi gerakan universal untuk menunjukkan rasa penghormatan dan terima kasih kita pada seseorang. Dua gerakan yang menyimbolkan bahwa kita memang tidak diijinkan untuk mendongakkan kepala melebihi orang lain.

“Ke Kupang juga, Mbak?” tanya ibu itu padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Iya, Bu.”

Itu adalah pertanyaan umum yang sedikit aneh. Oke. Tidak sedikit. Tapi memang aneh. Retoris. Pesawat bukan bis atau kereta yang bisa berhenti di lokasi yang berbeda, bukan? Sejenak mataku mengamati roti yang tengah kunikmati. Ah, Alika. Berani-beraninya kamu membatin hal yang tidak menyenangkan pada seseorang yang telah mau membagi sebungkus roti yang lezat padamu?

“Kalo Ibu, menuju Kupang atau pulang ke Kupang?” tanyaku.

“Pulang ke Kupang. Kemarin ada pelatihan komputerisasi untuk persiapan akreditasi rumah sakit. Lumayan sekalian jalan-jalan juga, Mbak.”

“Oooh…”

Dan kata ‘Oooh’ adalah salah satu tanda percakapan telah berakhir. Aku memang tidak pandai menjaga suasana hangat. Hari ini, contohnya.

Aku memutuskan untuk menikmati lagi pemandangan dari jendela pesawat. Awan-awan itu telah pergi. Sepertinya semesta tahu bahwa aku membutuhkan penyegaran. Hamparan hijau seperti beledu yang halus terbentang begitu indah di bawah sana. Bukit atau lembah, tidak ada bedanya. Sepertinya kakiku akan dimanjakan dengan sempurna. Tidak ada gedung-gedung atau atap rumah yang mendominasi. Hanya pepohonan, hutan, stepa, sabana, atau entah apa lagi namanya. Provinsi ini memang sangat indah.

Dalam beberapa saat lagi, kita akan mendarat di bandara El Tari, Kupang. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Surabaya. Kami harap, anda tetap mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat ini mendarat dengan sempurna. Terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.”

Aku memutar kenop jam tangan dan mulai menyesuaikan waktu. Satu jam lebih cepat dari Indonesia bagian Barat. Setidaknya aku berharap, perasaan kacau yang kubawa ke tanah yang baru ini juga akan lebih cepat berlalu.

“Kalo ada waktu, main-main dulu ke rumah saya, Mbak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada ibu yang ramah ini, “Jika ada waktu, Bu. Perjalanan saya harus berlanjut lagi.”

“Loh, kemana?”

“Ke Alor.”

Kepalaku berputar. Kini mataku memandang hamparan hijau yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan kering dan gersang di kota Kupang.

***

Kalabahi, 24 Februari 2013

 

PS:

  • Draft novel ini udah lama mangkrak. Bab 1-nya ada di hard disk, tapi hard disknya semacam rusak ehehehehe #getir
Advertisements

Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Noichil Goes to Bali

mtf_UNMgQ_258.jpg

Meski rumah di Probolinggo, tapi saya belum pernah sekalipun ke Bali. Iya. Padahal Probolinggo-Bali cuma selemparan kutang doang. Entah kutangnya siapa (apa si…)

Akhir Oktober lalu, kebetulan ada acara ilmiah di Denpasar, Bali. Udah girang, sih, membayangkan bakal jalan-jalan ke pantai, belanja-belanji dan bersenang-senang. Namun yang terjadi di awal perjalanan adalah justru perasaan sedih, ketika bis yang kami kendarai memasuki wilayah Probolinggo. Bukannya mau sok melankolis, ya. Tapi ada perasaan bahwa tanah kelahiran dan tempat saya tumbuh ini sudah lama tidak dikunjungi. Apalagi orang tua. Kalau bisa pulang, itu pun ndak akan lebih dari satu malam.

Dan setelahnya, Bali membuat galau. Padahal yang dilihat adalah jalanan aspal yang panas, cuaca yang terik serta kegiatan ilmiah (dan non-ilmiah) yang tiada henti. Enggak ada sumber pencetus galaunya. Mungkin karena enggak sempet jalan-jalan dan perjalanan panjang yang membuat pikiran saya menjelajah ke awang-awang. Karena tidak ke mana-mana, jadinya saya tidak membawa oleh-oleh apa pun. *digetok*

Namun suasana galau berhasil membuat saya mem-posting kalimat-kalimat ajaib yang mungkin membuat muntah bagi beberapa orang. Dan sepertinya sayang jika hanya teronggok manis di linimasa Path.

Maka, silakan menikmati.

29 Oktober 2014

Pada kaca jendela, pandanganku terlempar… menyapu terang dan redup lampu jalanan. Namun deru kendaraan di luar sana masih tak senyaring suaramu semalam yang masih terngiang di kepala. Merajuk padaku sambil berseru, “Cepatlah pulang.”

Aku hanya tersenyum. Tak perlu kukatakan bahwa hatiku telah memejam. Karena kamu pun tahu. Bahwa padamu, telah tersemat jutaan rindu yang kutinggal

30 Oktober 2014

Riuh suara di luar sana, beradu dengan tubuh yang satu per satu dijatuhkan ke air kolam. Setelah dua hari yang panjang, mereka berpesta dan berenang.

Sedangkan aku di sini, meringkuk di dalam kamar. Disesaki gelembung warna-warni di dalam dada. Karena dalam rinduku untukmu yang menggenang, aku telah tenggelam.

31 Oktober 2014

Denpasar malam ini…

Cemas ripuh memandang bulan separuh

Air mata meluruh

Baru saja kau bilang, cintamu tak lagi utuh.

1 November 2014

Denpasar pagi ini…

Semangat menggersang

Gugur bersama lelah yang usang

Hatiku kian mengerang

Ada rindumu yang memanggilku pulang

2 November 2014

Denpasar pagi ini…

Sinar matahari berpendar dari sela tirai kamar

Kembali kurapikan setumpuk lelah ke dalam koper

Penuh. Tak sanggup tertutup.

Di sela-selanya, ada banyak cerita yang menyusup.

Dan aku ingin segera pulang

Entah hingga berapa malam, telah kusediakan jutaan rindu untuk kita lumat berdua.

Jpeg

Enggak ada hubungannya sama puisi-puisi di atas, sih. Nunjukin kalo beneran ikut ilmiah aja gitu… #CaptionMacamApaIni

***

Malang, 15 November 2014

19:15 WIB ~ Mari pulang jaga

Koper

Saya mengenal seorang kawan yang memiliki koper tua berukuran sangat kecil, mungkin hanya sebesar kotak surat. Suatu saat, saya tertarik melihat isinya dan sedikit terheran-heran. Pakaian di dalamnya tidak banyak, dua atau tiga saja. Dan terlihat sangat usang. Bukan. Bukan karena tidak pernah diganti. Lebih tepatnya, sandang itu tidak pernah dicuci. Padat memenuhi koper sehingga tidak bisa diisi lagi.

Saya pernah bertanya padanya, apakah dia tidak risih menggunakan pakaian yang telah dikenakan berulang-ulang tanpa dicuci? Dia memandang saya. Tanpa tersenyum atau marah. Wajahnya biasa saja. Dia berkata, “Pakaian-pakaian ini adalah prinsip. Sama sekali tidak boleh luntur. Kenyamanan itu relatif. Yang penting adalah bagaimana perasaan saya.”

Namun penjelasan darinya tidak membuat saya puas. Apakah selama perjalanan, tidak ada pakaian yang menarik hatinya? Apakah selama perjalanan, dia tidak ingin mencoba sesuatu yang berbeda? Apakah selama perjalanan, tidak ada orang yang mengatakan bahwa sudah saatnya ia mendaur ulang – atau setidaknya mencuci – baju-baju yang ia punya? Kemudian pandangan saya tertuju pada sebuah koper berukuran kotak surat. Benar saja. Dengan ukuran koper sekecil itu, tidak akan banyak pakaian yang bisa masuk. Kemudian saya bermaksud untuk menyarankannya membeli koper baru yang lebih besar. Namun belum sempat saya membuka mulut, laki-laki itu sudah berlalu.

Di suatu tempat yang berbeda, saya bertemu dengan seorang perempuan bertubuh mungil yang kesusahan menarik kopernya. Kopernya sangat besar, berat, dan ada beberapa helai kain yang mencuat dari sela-selanya. Saya menghampirinya dan berusaha membantu. Kami berdua menepikan koper itu ke samping sebuah bangku taman dan beristirahat sejenak.

Kembali saya terheran-heran dan penasaran akan isi koper perempuan di samping saya. Ia merogoh saku celananya dan menarik sebuah kunci dari dalamnya. Ketika gembok koper itu dibuka, penutupnya terpental saking banyaknya benda yang ada di dalamnya. Sejenak saya terperanjat. Pandangan saya menelusuri benda-benda yang kini berserakan. Tidak hanya pakaian. Tapi pemanas ruangan, kompor minyak, alu dan lesung penghalus bumbu, serta ratusan jarum pentul dan peniti. Saya memungut benda-benda itu dan menjejerkannya di dekat koper . “Jika terlalu berat, tinggalkan saja beberapa barang. Saya rasa ada beberapa benda yang tidak perlu dibawa,” ujar saya sembari meletakkan tumpukan surat-surat yang hurufnya sudah luntur.

Perempuan itu menatap saya dengan pandangan tidak percaya. Ia meraih bungkusan berisi pisau dari tangan saya dengan kasar dan menjawab, “Jangan sok tahu! Tidak ada dari barang-barang ini yang tidak penting. Semuanya berarti bagi saya. Barang-barang ini adalah bukti bahwa saya telah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Benda-benda ini adalah identitas saya!”

Mendengar penjelasannya yang emosional, saya menelan ludah. Lalu menatap getir benda-benda yang berhamburan dan menunggu nasib. Tidak butuh waktu lama, perempuan itu membungkuk dan mulai menjejalkan semua barangnya ke dalam koper.

“Aw!”

Perempuan itu menjerit. Tangan kanannya berdarah karena tergores mata pisau. Segera saya mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membalut lukanya. Dan rupanya, luka itu bukan satu-satunya. Ada banyak bekas luka yang belum sembuh di beberapa bagian tangannya. Sesaat, kami berpandangan. Dengan derai air mata yang tak mampu tertahan, perempuan itu berkata, “Saya hanya berusaha membawa semua yang mungkin berguna. Meskipun terlihat kepayahan, saya yakin, akan selalu ada orang-orang yang membantu saya. Seperti anda sekarang.”

Kami berdua bangkit dan berjalan beriringan, sambil membawa koper yang sangat besar tadi, tentu saja. Namun tujuan kami berbeda. Di sebuah persimpangan, kami berpisah. Dan dalam hati, saya berdoa semoga ada seseorang yang ia temui untuk membantunya membawa beban yang sangat berat itu.

Kemudian di sebuah taman bermain, saya berjumpa dengan seorang pria yang tengah duduk di sebuah ayunan. Di sebelahnya, ada sebuah koper berukuran sedang. Pria itu menoleh dan melambaikan tangannya pada saya. Saya bingung. Saya tidak pernah mengenalnya. Namun semesta menuntun langkah saya untuk mendekatinya dan duduk di ayunan sebelah.

Rupanya, dia baru saja berpetualang. Menyeberang dan menjelajah laut untuk melihat kehidupan di dasarnya, serta terbang melintasi langit dan awan untuk menjejakkan kaki ke tanah yang baru. Dia memiliki cerita yang menarik. Semenarik kopernya yang lebih terlihat seperti seorang sahabat. Saya bertanya, “Engkau telah berjalan begitu jauh. Namun koper yang ada di sana nampak tidak berat sama sekali. Tidakkah seharusnya perjalanan yang panjang membuat koper itu semakin berat oleh benda-benda yang baru diperoleh?”

Dia tersenyum, kemudian meraih koper itu dan membukanya. Tidak ada yang istimewa. Ada dua pasang pakaian lama yang terlihat bersih, tiga pakaian baru, satu handuk kecil, satu senter, sepasang ponsel dan kabel catu daya, sepasang sepatu bot, sebuah file berisi foto-foto, kamera, dompet serta sebuah buku catatan. “Saya tidak suka menumpuk barang, sehingga saya menukar beberapa benda di setiap perjalanan. Tidak semua, sih. Saya tidak akan menukar ini karena kenang-kenangan dari ibu saya,” jelasnya sambil membelai lembut sehelai sweater rajut berwarna abu-abu.

“Sebenarnya, ada banyak hal yang menarik di setiap perjalanan. Termasuk kerikil yang membuat saya tersandung, maupun kapal besar yang hampir terbalik di tengah samudera. Namun saya tidak mungkin membawa semuanya. Alih-alih mengenang, mungkin saya tidak akan bisa ke mana-mana. Jadi, beberapa hal itu saya pindahkan saja menjadi foto-foto dan tulisan,” lanjutnya sambil mengayun-ayunkan file berisi foto-foto dan sebuah buku catatan.

Mendengar penjelasannya, saya kembali mengingat laki-laki berkoper kecil dan perempuan berkoper sangat besar tadi. Berbeda sekali. Yang satu memilih untuk tidak mengganti barang bawaannya sama sekali. Mungkin ia tidak peduli bahwa orang-orang di sekitarnya akan terganggu dengan pakaian yang tidak pernah ia cuci. Bahkan ia memilih untuk tidak mengganti koper kecilnya dengan koper lain yang lebih besar. Sudah tidak ada ruang untuk menambah saran dan wawasan. Berpikiran sempit, begitu orang-orang bilang.

Sedangkan yang satu memilih untuk membawa semua barang yang ia temui. Tanpa kecuali. Termasuk benci dan sakit hati. Masa lalu adalah jejaknya, begitu dia bilang. Dan dia membawa jejak itu di dalam hidupnya. Memanggul beban yang lebih berat dari yang bisa ia tanggung sehingga tidak mampu beranjak ke mana-mana. Mungkin ia berpindah tempat dengan membawa koper besar dengan isi yang hampir meledak. Namun ketika ingin menilik kembali apa yang sudah dapat,  ia bahkan tidak mampu lagi memilah-milah apa yang ada di dalam kopernya karena terlalu sesak dan tidak beraturan. Menambah pengalaman baru akan semakin membebani jika isi kopernya tidak segera dikurangi.

Diam-diam, saya menatap nanar koper sendiri. Besar, namun kosong di beberapa bagian. Masih ada banyak ruang yang seharusnya bisa diisi dengan cerita dan pengalaman. Saya membuang serangkai kecewa, kegagalan dan sakit hati yang berwujud kenangan, namun tidak membawa serta tawa, bahagia dan cinta yang pernah saya temui.

Saya menoleh ke belakang. Jalan sudah tertutup. Saya tidak bisa kembali.
Pria di atas ayunan tadi tersenyum. Dia bilang, sebenarnya ada perjalanan lain yang ingin dilalui. Sejenak saya berpikir untuk berkata ‘sampai jumpa’. Karena entah mengapa, saya ingin sekali berjumpa lagi dengannya. Mungkin sekadar bertukar foto, cerita dan pengalaman. Atau menertawakan batu-batu yang menjadi penghalang perjalanan. Atau merayakan keberhasilan setelah menggandeng tawa, bahagia serta cinta.

Saya menggenggam koper dengan erat. Bersiap untuk berpisah dengan sang pria petualang. Alih-alih pergi dan berlalu, pria itu justru bangkit dan mendekati saya. Ia mengambil alih koper di tangan saya, lalu berkata, “Saya bisa membantumu mengisi koper ini dengan hal-hal yang sangat menarik. Kita bisa menjadi partner yang baik di dalam perjalanan. Asal kamu percaya padaku.”

Saya terkejut untuk beberapa saat. Kemudian menjawab, “Tawaran yang bagus.”

Lalu kami berdua berjalan bersama. Ia dengan kopernya. Saya dengan koper saya. Lima menit setelahnya, saya merasa bahagia. Ternyata sebuah perjalanan tidak berarti jika dilalui tanpa kawan. Berbagi itu menyenangkan. Meskipun sekadar berbagi cerita.

Beberapa jam berlalu. saya dan pria itu benar-benar menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Berbagi kisah dan pengalaman. Bertukar saran tentang hal-hal baru yang bisa kami buang atau bawa serta di dalam koper masing-masing. Atau sekadar saling melepaskan kerinduan.

Lalu tiba-tiba pria itu menggandeng tangan saya. Memberi tekanan lembut yang saya suka. Belum sempat saya merasa canggung ataupun malu, ia mendekat. Berbisik tepat di telinga saya. “Sepertinya, kita berdua butuh koper yang lebih besar.”

Jantung ini ingin melompat. Namun yang meluncur dari mulut saya hanyalah, “Ide yang sangat bagus.”

***

Malang, 2 November 2013

PS: Yang ini sempet dikirim ke media. Tapi karena tak kunjung mendapat balasan, jadi ya sudahlah… Dipost di sini aja x)))

2013 ~ 2014

Postingan tentang pencapaian tahun 2013 dan resolusi untuk 2014 mulai bermunculan di linimasa Twitter. Juga Path. Dan Facebook. Lalu saya pun merasa tergelitik untuk membuat postingan serupa. Latah? Bisa jadi. Selain lagi kangen ngisi blog, saya juga ingin menuliskan sebuah rekam jejak betapa tahun 2013 (dan tahun-tahun sebelumnya) memberi banyak kesempatan dan keajaiban.

Awal tahun 2013 dimulai dengan sebuah kejadian menegangkan di rumah dinas Moru. Kejadian yang membuat saya merenung bahwa sesungguhnya saya belum sekuat yang saya pikirkan. Namun selain kejadian tidak menyenangkan itu, ada pula sebuah email gembira tentang cerpen saya yang lolos seleksi di sebuah kompetisi. Harapan saya merangkak naik. Satu pertanda bagus di tahun ini.

Lalu Maret datang dengan dua kabar bahagia. Pertama, Dua cerpen saya lolos di Random 2, sebuah kompetisi menulis yang diadakan oleh @NBC_IPB (salah satu cerpen saya masuk di posisi kedua). Saat mengetahui hal itu, saya benar-benar bersyukur atas sebuah kegagalan. Belum mencapai tengah tahun, tapi sudah ada tiga cerpen yang diterbitkan karena kengangguran di masa PTT di Alor. Agak jumawa, sih. Tapi bangga dengan diri sendiri boleh dong, ya hehehe…

Kedua, pada pertengahan bulan Maret Ibu akan diwisuda. Sebuah momen haru di mana akhirnya Ibu benar-benar memuaskan nafsu belajarnya yang bertahun-tahun tertunda demi adik-adik, suami serta anak-anaknya. Sebuah penyemangat bagi saya untuk mengobarkan lagi mimpi yang pernah dipaksa padam. Sebuah titik yang membuat saya kembali bertanya, “Maumu apa?”

Pertanyaan itu tetap menghantui hingga bulan April, ketika saya berkesempatan berdoa di tanah suci, dengan membawa serta segala cita-cita dan cinta yang berdesakan di kepala. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan ini ketika berdoa tepat di depan Kakbah. Dada seakan mau meledak. Air mata tumpah ruah. Kalimat pinta yang telah disusun begitu panjang menguap begitu saja. Yang tersisa adalah perasaan berdosa, seolah-olah belum pantas meminta terlalu banyak. Sehingga yang berulang-ulang meluncur adalah, “Tuhan, mohon pilihkan yang terbaik untukku. Berikan cita-cita dan cinta di waktu yang paling tepat bagiku untuk bisa menerima semuanya.”

Sepulang dari umroh, kegalauan saya sedikit terobati dengan kabar menakjubkan. Cerpen saya yang dikabarkan lolos di bulan Januari telah diterbitkan melalui major publisher di dalam sebuah antologi (Antologi Cinta, ByPass, 2013). Akhirnya saya bisa merasakan degup gempita saat melihat buku yang covernya memuat cuplikan cerpen saya untuk pertama kalinya. Norak banget. Tapi jujur, saya menunjuk-nunjukkan buku antologi itu pada siapa saja ahahaha. Bocoran juga. Cerita di antologi itu adalah kisah cinta kedua orang tua saya. Dan mereka nangis bombay saat membaca cerpen saya itu.

Perlahan, kemantapan hati atas kebimbangan yang pernah saya tumpahkan di depan Kakbah itu datang. Di akhir bulan Mei, saya menetapkan pilihan, mengubah haluan, dan kembali mencoba setia pada cita-cita yang pernah dikubur dalam. Maunya, sekalian mantap pada bagian ‘cinta’nya. Tapi tapi tapi… (alah… ujung-ujungnya begini).

Bulan Juni, iseng-iseng saya masuk di sebuah komunitas pecinta flashfiction. Monday Flashfiction (MFF). Dan ternyata, saya tidak pernah menyesal! Ini adalah keluarga baru saya dengan orang-orang yang bersemangat luar biasa dalam hal menulis. Dan semangat itu menular. Ditambah lagi dengan sebuah pengumuman lomba menulis kembali membuat semangat menulis saya membumbung tinggi. Cerpen saya menduduki posisi ketiga. Subhanallah. Tidak pernah ada yang sia-sia. Termasuk sebuah kegagalan. Tidak hanya tiga. Tapi Tuhan menggenapkannya menjadi empat cerpen yang dimuat dan diterbitkan. Alhamdulillah…

Bulan Juli, saya mulai disibukkan dengan berbagai persiapan pendaftaran calon PPDS di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Ketegangan mulai terasa. Perut sudah sering terasa mulas. Tidur berangsur kurang nyenyak. Namun ikhtiar ini masih panjang. Menjadi lemah sama sekali bukan pilihan. Yang ada hanya berjuang sampai perlahan doa-doa itu menjadi nyata.

Agustus dan September, dua bulan penuh ketegangan. Buku teks yang tak tersentuh sekian lama harus mulai kembali dibuka dan dibaca. Susah banget! Lebih susah lagi jika memikirkan tentang kemungkinan gagal lagi. Ah, untuk apa berburuk sangka pada Tuhan? Bukankah karena kegagalan saja, Dia telah menggantinya dengan pengalaman dan kejutan yang lebih luar biasa?

Dan bulan Oktober memberikan pos-pos kenangan yang luar biasa hebat. Alhamdulillah, sebuah pintu cita-cita terbuka. Saya diterima dalam seleksi calon PPDS. Akhirnya setelah sekian lama, bulan Oktober kembali bersahabat dengan saya. Setidaknya, tanggal 15 tidak saya lewatkan dengan memendam duka ahahaha… Sejak tanggal 8 Oktober 2013, saya bertekad untuk tidak pernah lemah pada tantangan. Jalan baru ini beronak dan berduri. Terjal, berpalung, dipenuhi jurang. Tapi sekali lagi. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jangan mengeluh, Chil. Ingatlah betapa jarak dan waktu yang ditempuh demi jalan baru ini telah cukup melelahkan. Jangan sia-siakan semuanya. Jangan pernah.

Di bulan Oktober pula, saya ikut serta di MFF Idol. Sebuah pertarungan flashfiction yang seru dan unik. Saya merasa seperti benar-benar sedang ada di sebuah panggung. Panggung yang hampir membuat saya minder dan merasa tak pantas berdiri di atasnya. Keberuntunganlah yang membawa saya sampai di Grand Final. Dan menjadi runner up tidak begitu buruk, bukan? (menghibur diri sendiri).

Di penghujung tahun 2013 Masehi ini, saya kembali merenung dan merangkum rangkaian adegan yang menakjubkan. Meski ada rencana yang belum juga terwujud (kawin, salah satunya. Mwahahaha…), namun Tuhan telah banyak menganugerahkan keajaiban di tahun 2013. Kesempatan baru. Keluarga baru. Yang belum adalah cinta baru (tetep).

Pada sebuah perjalanan manusia, selalu ada titik-titik tertentu yang meninggalkan bekas semacam tato. Susah dihilangkan. Jika bisa, pasti akan sangat menyakitkan. Termasuk puncak kegagalan di tahun 2011, tahun yang memberi tamparan bahwa cita-cita dan mimpi akan setia jika kita pun bersikap demikian. Pengkhianatan nasib terhadap saya adalah hasil dari pengkhianatan terhadap mimpi diri sendiri. Maka datanglah tahun 2012 yang saya sebut sebagai tahun pelarian atas kegagalan di tahun sebelumnya.

Namun pada akhirnya saya menyadari. Betapa Tuhan telah memberi jalan yang lebih baik dari rencana manusia. Semua kegagalan terjawab dan terbayar satu persatu di tahun 2013. Jalan-jalan ke Alor, kenal dengan dunia menulis, menerbitkan buku, lalu diterima sebagai residen. Luar biasa, bukan?

Mengeluhkan nasib adalah kebiasaan manusia. Karena manusia hanya mampu berpikir sejengkal saja. Sedangkan semesta milik Tuhan adalah keajaiban tak terbatas. Ada banyak kejadian yang kita kira adalah kebetulan belaka. Atau banyak kerikil yang kita pikir menjadi penghalang perjalanan. Tapi seringkali manusia lupa. Bahwa tidak ada selembar daun jatuh pun yang tanpa campur tangan Tuhan. Dia yang paling tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih tepat, dan ada saat lain yang lebih akurat. Dan hanya satu yang menjadi tugas manusia. Tetap percaya.

***

Malang, December 31st 2013

Di antara rinai hujan pengiring malam pergantian tahun

Sebuah Perjalanan Bersama Izar

Batu Putih - Alor - NTT (by: @noichil)

Batu Putih – Alor – NTT (by: @noichil)

Deru motor membelah sunyi Alor yang masih pagi. Helm di kepalaku seakan oleng dan hampir terbang meski sudah kukunci erat-erat. Aku tidak mampu melepaskan tangan dari pinggangnya. Terutama saat laju motor sedikit tersendat ketika ditantang sebuah tanjakan berbatu yang, sewaktu-waktu, bisa membunuh kami berdua.

Gila.

Laki-laki di depanku ini gila.

Berkali-kali mulutku mengoceh, “Awas!” “Ati-ati!” “Aaargh!” Namun ia hanya melirikku lewat kaca spion, tersenyum dan kembali mengaduk-aduk adrenalinku.

“Nyetirmu gila!” ujarku sesampainya kami di pantai Batu Putih.

Debur ombak terdengar merdu. Kapal-kapal nelayan terombang-ambing dalam bisu. Sedangkan di ujung sana, sekita tiga ratus meter dari tempat kami berpijak, bongkahan bebatuan berwarna putih berdiri gagah. Seakan-akan, mereka menolak untuk cemburu, pada laut yang hanya mengejar bibir pantai untuk dicumbu.

“Tapi bola matamu berbinar, Shaula. Aku tahu. Kamu suka,” gumamnya.

Pipiku memerah. Benar-benar tidak ada yang bisa kusembunyikan dari laki-laki di depanku. Iya, dia selalu tahu. Kadang-kadang aku benci dia begitu. Tapi lebih sering, aku justru suka dia begitu.

“Seru! Deg-degan! Tapi … ya, aku suka,” jawabku sambil tertawa.

Izar menyunggingkan senyum. Meraih keranjang piknik kami dengan tangan kirinya, lalu berjalan ke arah bebatuan putih di ujung sana. “Manusia. Sudah tahu berbahaya. Tapi tetap saja tertawa saat mampu melewatinya.”

Aku terkekeh. Benar. Tidak ada yang tidak berbahaya sejak aku dan Izar jadian. Naik gunung, bungee jumping, paralayang, serta menyelam. Menjelajahi bumi, mengitari langit, juga merenangi lautan. Laki-laki ini adalah umpan yang luar biasa sempurna untukku bisa keluar dari zona nyaman yang itu-itu saja.

Kukeluarkan sebuah kamera saku dan mulai memindai pantai yang menakjubkan. “Bukankah itu intinya? Seperti yang pernah kamu bilang. Tidak peduli seberapa cepat, melewati jalan yang terjal, berombak atau terjebak badai, perjalanan panjang dan melelahkan akan terbayar dengan kepuasan saat kita sampai di tujuan,” ujarku.

Izar menoleh dan tersenyum. Nampak bangga padaku yang rupanya sudah paham betul apa yang ada di dalam kepalanya.

Batu putih sudah terpampang di depan mata. Megah. Kokoh. Bongkahan rahasia yang tidak mudah dihancurkan. Sama seperti catatan Tuhan tentang perjalanan manusia. Tidak ada yang tahu.

“Kalo gitu … mau kuajak ke sebuah perjalanan yang lebih gila? Perjalanan panjang yang mungkin lebih terjal, lebih berombak, lebih banyak badai yang melelahkan. Tapi aku ingin membagi kebahagiaan yang sama denganmu saat kita sampai nanti,” kata Izar tiba-tiba.

“Ke mana?”

Tangan kanan Izar meraih tanganku yang bebas, “Nikah, yuk.”

***

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Giveaway Perjalanan oleh @ManDewi

Berpetualang Ke Wolang

My heart is sinking as I’m lifting up above the clouds away from you
And I can’t believe I’m leaving
Oh I don’t kno-kno-know what I’m gonna do

Tulisan ini ndak ada hubungannnya dengan lagu Simple Plan di atas. Hanya sebagai lagu pengiring dalam menulis cerita ini ehehehe ^^

Akhir tahun selalu menjadi saat yang cukup sibuk. Laporan. Dan di Puskesmas Moru, laporan belum bisa dibuat mengingat banyaknya program kegiatan yang belum terlaksana. Konsekuensinya adalah selama kami meningkatkan kecepatan kerja dan berusaha melaksanakan semua program kegiatan.

Beberapa program itu adalah kunjungan kemitraan dukun dan kader ke desa-desa, serta puskesmas keliling ke daerah yang sulit. Salah satu daerah sulit itu adalah Wolang, sebuah desa cakupan Probur, sekitar 2 – 3 jam dari Moru.

Puskesmas Moru adalah puskesmas utama di kecamatan Abad, Alor Barat Daya. Mencakup 20 desa, termasuk Probur. Probur adalah daerah yang cukup terpencil. Berada di bukit dengan kondisi jalan yang menyedihkan. Probur sendiri memiliki dusun-dusun, salah satunya adalah Wolang. Dusun terisolir dengan sekitar 20 kepala keluarga.

peta+alaor_edit

Untuk mencapai Moru, warga Wolang harus menggunakan jalur laut sekitar dua jam (tergantung perahu motor dan gelombang lautnya). Sebenarnya Wolang bukan pulau tersendiri, masih berada di satu daratan dengan Moru. Tetapi kondisi jalan darat yang tidak memungkinkan, maka jalur laut lebih mudah untuk dilewati.

Kamis, 29 November 2012, saya, dr. Ifat dan drg. Nina sudah siap berangkat sejak jam enam pagi karena sehari sebelumnya, staf puskesmas Moru telah sepakat akan berangkat jam tujuh pagi. Tapi, tidak bosan saya mengingatkan bahwa masyarakat NTT lemah dalam menghitung jarak dan waktu. Sehingga kami baru naik kapal sekitar jam setengah delapan pagi. Kondisi laut cukup tenang.

Sesekali saya merebahkan diri di dek kapal karena mengantuk. Tetapi pemandangan laut lebih menggoda. Kami melewati beberapa gua kelelawar yang cukup unik. Dan ada sebuah daerah berkarang yang berwarna merah.

image

Kami sampai di lautan Wolang sekitar jam sepuluh pagi. Tetapi kapal tidak memungkinkan untuk mencapai pantai Wolang. Maka kami semua harus menaiki ketinting, perahu kecil yang hanya bisa diisi 4 – 6 orang. Tidak perlu takut naik ketinting. Lihat saja lengannya. Jika ada dua, aman. Tetapi jika ada satu, maka jatuhkan berat tubuh ke arah lengan ketinting. Jika tidak ada lengannya, ya… jangan lupa berdoa untuk yang tidak bisa berenang [sweet smile].

Kami tiba di pantai Wolang sekitar pukul sepuluh pagi. Kami disambut wajah-wajah bahagia warga Wolang. Maklum saja, kunjungan pusling terakhir sekitar setahun yang lalu. Hanya segelintir orang yang mau berlama-lama di laut atau bercapek-capek di darat untuk menuju fasilitas kesehatan di Moru. Sebenarnya miris juga. Seharusnya dengan dana bantuan operasional kesehatan, Wolang bisa dijangkau setidaknya setiap satu atau tiga bulan sekali. Tetapi kadang-kadang, pemegang kebijakan di dalam puskesmas terlalu membesar-besarkan masalah bahaya dan keruwetan membawa sebagian fasilitas kesehatan ke tanah antah berantah. Padahal jka dikerjakan bersama, semua terasa lebih mudah. [Dengan catatan tidak sedang badai besar ya… *begidik*]

image

Di Wolang, tidak ada sinyal untuk komunikasi, listrik menggunakan generator, tetapi airnya jernih dan melimpah. Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Wolang dihuni oleh sekitar 20 KK saja. Rumah-rumah tersebar tidak terlalu jauh. Sehingga komunikasi bisa menggunakan kentungan. Saat kami sampai di balai pengobatan, kepala desa langsung memukul kentungan sebagai tanda warga harus berkumpul.

image

Pelayanan kesehatan dimulai dari jam 10:30 WITA. Kegiatan berjalan cukup lancar meski diwarnai drama seorang nenek yang tidak bisa bahasa Indonesia dan kami cukup kebingungan menerjemahkan keluhan beliau. Ketika kami mencari anaknya, sang anak hanya berdiri dengan wajah masam dan bersilang tangan di depan dada. Sang anak mendekati ibunya sambil marah-marah menggunakan bahasa lokal. Lalu pergi. Kami semua terheran-heran melihat tingkah lelaki yang kira-kira berusia 30an itu.

Saya teringat pada seorang nenek renta yang rutin datang ke poli puskesmas Moru. Komunikasi dengan geriatri memang dipengaruhi banyak faktor. Pendengaran, daya ingat, konsentrasi, dan kondisi fisiknya sendiri. Dan ketika saya menanyakan tentang anak, nenek itu menangis. Dia berkata dengan begitu pilu, “Anggap saja anak saya sudah mati semua!” Rasanya jantung ini ingin melompat dan berlari mendekat pada ibu. Doa seorang ibu itu seperti anak tangga yang mendekatkan mimpi kita agar bisa dipeluk Tuhan lebih cepat. Jika seorang ibu sudah menyumpah seperti itu, bagaimana seorang anak bisa hidup mulia di mata Tuhan?

Melihat kepergian anak lelaki dari nenek di Wolang tadi, seorang bidan berkata lirih, “Anak-anak Alor memang tidak cinta orang tua, Ibu…” Saya tidak menganggap ini ungkapan generalisasi. Tetapi melihat anak lelaki yang sehat dan kuat tadi meninggalkan ibunya yang sudah renta sendirian dalam keadaan sakit rasanya menyesakkan. Mungkin, dia benar-benar lupa dari siapa dia dilahirkan dan mendapat makanan pertamanya.

Pelayanan diakhiri pada jam 12:30 WITA. Dan dilanjutkan dengan makan siang. Lalu kami duduk santai di depan balai pengobatan. Bercanda dengan seorang anak perempuan bernama Naomi. Dia manis sekali. Senyum malu-malunya membuat seorang perawat Moru (Kak Malik) berniat menculik Naomi dan membawanya pulang.

image

Om Boma, supir ambulans Moru yang juga pemilik perahu motor yang kami tumpangi tadi memberi kabar, bahwa kami bisa pulang ke Moru sekitar jam tiga sore karena siang ini, gelombang masih cukup berbahaya. Saya, dr. Ifat dan drg. Nina berjalan menuju pantai dan duduk di tepinya. Menyaksikan ombak yang menggila. Seperti ingin menelan semua batu di pinggir pantai. Dan kami dibuat takjub oleh anak-anak Wolang yang berenang menantang ombak. Keren! [Balada baru bisa berenang. Selalu iri melihat orang-orang yang jago berenang.]

Tiba-tiba ada seorang nenek yang mendekati kami dan berkata, “Ibu Dokter, bisa minta tolong foto saya dulu?” Ahahaha… Senyumnya manis sekali, Nenek. Pasti waktu muda dulu menjadi primadona Wolang 😉

image

Setelah menikmati kelapa muda yang dipetik oleh Om Boma, kami bersiap meninggalkan Wolang. Kembali menaiki ketinting untuk menuju perahu motor yang diparkir di tengah laut. Lalu bergerak menuju Moru.

Di tengah perjalanan, Ifat berkata, “Kayanya nggak lega kalo nggak nyebur, Chil. Renang yuk!” Dan Om Boma menyetujui. Awalnya saya ragu. Secara lupa membawa pelampung. Tapi melihat Kak Malik, Om Boma, Ifat dan Nina nyebur, jadilah saya ikutan nyebur! Aaak! Beginilah seharusnya PTT! xD [Karena tidak ada manusia yang tidak suka main air.]

image

Kami sampai dengan selamat di Moru pada jam 17.30 WITA. Capek. Tapi senang! Entah apa pesan perjalanan ke Wolang kali ini. Yang jelas, setiap perjalanan pusling yang melelahkan, selalu menyisakan rasa syukur telah dilahirkan di tempat dengan fasilitas yang cukup. Pada hari itu, saya juga bersyukur bahwa orang tua saya telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memuliakan dan mencintai orang tua. Dan sepanjang perjalanan itu, ada beban pribadi yang sedikit terbebaskan setelah beberapa hari mengalami perang dingin [bhahahaks…]. Kadang-kadang, kita tidak sadar bahwa tingkah laku kita sama sekali jauh dari kata dewasa. Emosi dan menghindar. Kita bisa saja menghindari jalan berduri dengan mengambil jalan lain. Dengan risiko, bisa saja kita akan menemui jurang tanpa dasar atau tebing yang sangat tinggi. Atau jalan itu justru menjauhkan kita dari tujuan akhir. [Sepertinya sudah melenceng jauh dari tema awal xD]

Anyway… Selamat Tahun Baru Masehi 2013. Semoga cinta dan cita-cita bisa direngkuh semua. Lalu bahagia selamanya. Aamiin. [lempar petasan]

But someday I will find my way back to where your name is written in the sand

Cause I remember every sunset I remember every word you said

“We were never gonna say goodbye”

Tell me how to get back to back to summer paradise with you

And I’ll be there in a heartbeat

***

Kalabahi – Alor – NTT

Dec 30th 2012

 

Advertisements
%d bloggers like this: