Archive for the ‘ flashfiction ’ Category

Malam Gila

falasca_painting_web

 

Kamarku pecah. Musik berdentum mengiringi lima orang yang melantai dan kesetanan. Kepala terangguk-angguk dan tergeleng-geleng bergantian. Tubuhku dan mereka berlumur peluh. Pekik tawa dan candaan kotor terderngar rusuh. Euforia membuana, namun ada balon udara yang siap meledak di masing-masing kepala. Balon udara yang berisi kegelisahan, kekecewaan, frustasi, keputusasaan, dan patah hati. Balon udara yang kami rayakan kehadirannya dengan cara seperti ini… hampir tiap hari.

Tiba-tiba kepalaku sakit bukan main. Seakan ada batu besar yang dihantamkan dari belakang. Keringatku menderas seakan ruangan ini dijatuhi hujan. Tangan dan kakiku kram. Perutku mual seperti diremas ratusan tangan.

Setan!

Rasanya aku butuh isapan baru. Kutarik alumunium berisi shabu yang tak habis diisap Bram. Hidung dan tanganku terampil memainkan pemantik api dan bong, kemudian menyesap shabu itu dalam-dalam. Pahit serbuk putih ini segera tergantikan dengan sebuah film layar lebar di depan mataku. Film tentang cita-cita dan mimpi yang semakin menjauh. Cerita tentang cinta yang gagal kurengkuh.

Kuteguk segelas air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.

Ah, selalu begini!

Mungkin karena gigi-geligiku tak lagi utuh. Mungkin karena ini adalah aku. Bahkan air putih pun tak mau tinggal di dalam mulutku.

Lalu jantungku menghentak bagai kerasukan. Rasanya dadaku mau meledak. Kerongkongan tercekat. Aku tak bisa bernapas.

Di atas lantai yang dingin, tubuhku meluruh.

Jantungku berdenyut semakin rancak. Ada pelukan ayah sebelum ia dibui karena korupsi dan bunuh diri. Ingatanku teracak. Ada senyum ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku dulu.

Sebelum pandanganku menggelap, bayangan mantan kekasihku datang mengucapkan selamat tinggal.

***

Entah sudah berapa lama, tubuhku terasa ringan. Kamarku sepi. Bram dan yang lain sudah pergi. Mungkin ini sudah pagi.

Lalu ada yang menepuk pelan pundakku. Wajahnya asing.

“Man robbuka?”

Seketika aku mengejang.

Aku tak tahu jawabannya.

***

Malang, End of November 2015

 

NB: hwaaa… nulis beginian aja susah bener. Gini nih efeknya kalo kelamaan enggak nulis T___T

Advertisements

Hidung

Aku benci hidungku. Bentuknya sama sekali tidak seksi. Hanya gumpalan bulat tanpa sudut yang membuatku hampir mirip badut di taman mini. Tidak ada gundukan di jarak mata. Lurus saja. Tanpa tulang. Membuatku semakin sering disebut pesek.

Belum lagi dengan kepekaan yang di atas rata-rata, hidungku sering berulah dan membuatku mual muntah. Aku benci bau wangi yang menyengat. Aku benci bau busuk yang bejat.

Dan kepekaan itu kini semakin bertambah. Aku tidak mengerti… Mengapa bau di sekitarku menjadi tidak sedap sama sekali. Aku harus mengenakan selembar masker setiap hari. Lalu menambahnya selembar lagi. Dan lagi. Hingga wajahku penuh dengan masker, namun bau itu sungguh tak tertahankan lagi.

Aku panik. Ingus hijau kental mengalir tanpa henti. Mataku berair terkena pedih yang asalnya tak kupahami. Dan tenggorokanku kering karena rasa asam yang merangkak naik dari lambung hingga ke lekum.

Kurang ajar! Siapa yang menciptakan bau sebacin ini?!

Kepalaku pening. Perutku pecah oleh muntahan bernanah kuning. Lalu sebuah suara berdenging nyaring, “Lihat hatimu.”

Sial!

Hatiku membusuk.

***

Malang, 2 September 2015

NB: Tulisan absurd. Enggak ngerti mikir apa waktu bikin ini. Niatnya bikin FF. Tapi memulai sesuatu yang lama mengendap itu susah. Butuh dipanasin dulu. Hiks.

Kandas

Prompt 71

Aku tidak pernah melewati jalan ini sebelumnya. Gelap. Pengap. Licin. Teman-temanku yang lain tertinggal jauh. Aku sendirian.

Sesekali aku menoleh ke belakang. Rasanya aku sempat mendengar beberapa pekik kesakitan di sana. Seperti ada pembantaian besar-besaran. Sayup kudengar mereka berteriak, “Jangan menyerah, John! Kamu harus berjuang!”

Berjuang? Aku bahkan tidak mengerti harus berjuang untuk apa. Tidak pernah ada yang memberitahuku sebelumnya untuk apa aku di sini dan bagaimana caranya melaksanakan untuk-apa-aku-di-sini. Aku hanya mengikuti insting.

Maka aku terus bergerak tanpa henti. Menyusuri lorong gelap yang mulai berkelok, menyeimbangkan tubuh dengan arah gerak rerumputan halus yang ada di situ. Sepi dan sendiri.

Tiba-tiba tubuhku menabrak sesuatu yang tak pernah kutahu sebelumnya. Seseorang, lebih tepatnya. Cantik. Ia tersenyum. Seakan-akan ia memang sengaja menungguku.

Aku mendekat, menyentuh tubuhnya yang bulat. Dan segera ia membiarkanku menyusup ke peluknya.

Aku tidak tahu menahu, tapi rasanya ini adalah tujuan yang tepat. Karena dari kejauhan, aku mendengar jutaan hantu rekan-rekanku mengumandangkan kemenangan.

***

Seorang perempuan muda meringkuk di lorong sekolah. Rambutnya semrawut. Sedangkan di sampingnya berdiri seorang remaja pria. Ia ketakutan. Ia berkata, “Aku masih ingin sekolah.” Dan keping bergaris dua itu dilemparnya ke tong sampah.

***

Malang, 18 November 2014

Beda jauh sama gambar prompt ahahaha

*digetok admin*

Si Pembawa Pesan

Prompt 62

Baru saja aku bergegas menuju kantor ketika kucing itu tiba-tiba berjalan ke arahku. Ia menatapku lurus dengan mata hijaunya. Oh, tidak! Apa yang sudah kulakukan?

Aku tahu Crayon tak pernah suka padaku. Pernah aku digigitnya tanpa alasan hingga menyisakan luka yang terinfeksi selama beberapa hari. Mungkin gara-gara aku mencuci tempat makannya meski masih ada sisa di sana. Atau secara tidak sengaja menendang mangkuk susunya hingga habis tak bersisa. Atau mungkin juga… karena aku pernah menginjak ekornya dengan high heelsku. Tidak sengaja, tentu saja! Tapi dari dulu, aku dan Crayon tidak pernah akur.

Dengan panik, aku membuka pintu mobil. Kenapa kucing galak itu ada di sini, sih? Bukankah rumah pemiliknya jauh dari sini? Ah… Perutku mulas mengingat pemilik kucing abu-abu itu. Sudah hampir sebulan ia menghilang, namun pagi ini malah kucingnya yang datang. Kepalaku berputar-putar, berusaha mencari petunjuk. Namun tatapan Crayon semakin membangkitkan bulu kuduk.

Tiba-tiba aku melihat sesuatu yang putih di leher kucing tadi. Memang Crayon punya kalung nama. Tapi bukan warna putih seperti itu.

Aku mendekat perlahan. Crayon duduk dengan tenang. Kurendahkan tubuh dan meraih tubuh Crayon dengan tanganku. Tak seperti biasanya, kali ini Crayon mengeong dengan manja. Ia membiarkan kulitku menyentuh rambut halusnya. Tanganku mengelus lehernya hingga jemariku menyentuh secarik kertas.

Tubuhku bergetar saat membaca tulisan di kertas itu. Kepalaku menengadah. Mataku menemukan ayah Crayon. Serta merta tubuhku melompat ke dalam pelukannya. Perlahan kumasukkan kertas mungil tadi ke dalam saku. Crayon memalingkan muka dan mengeong pelan. Seakan menyesal telah turut menjadi pembawa pesan paling manis sedunia.

“Would you marry my daddy?”

***

Malang, September 22nd 2014

Tiga Punggung yang Berlalu

Prompt 61

“Jadi… kami benar-benar harus pergi?” Si Seksi pecinta rok mini bertanya dengan mata berkaca-kaca.

Aku mengangguk dengan hati perih, “Bukankah selalu ada yang mengucapkan selamat tinggal lebih dulu?”

“Ini bukan selamat tinggal. Elo ngusir kami!” pekik Si Pirang. Ia bersedekap erat, membuat dada ranumnya makin terangkat.

“Sampai kapan mereka ikut campur sama hidupmu?” hardik Si Menor sambil memasukkan barang-barang ke dalam koper besar.

“Sampai kalian bertiga pergi dari sini,” jawabku sambil menelan ludah melihat Si Pirang merapikan beberapa pakaian dalam berwarna cerah

“Kamu enggak akan bahagia!” pekik Si Pirang sebelum ia mengomando dua perempuan lainnya untuk pergi.

Namun aku hanya terdiam menatap ketiga punggung cantik itu berlalu dan menghilang di balik pintu.

***

“Oke, Mas Wahyu. Saya kira cukup untuk konseling hari ini.”

Aku beranjak dari sofa panjang. Melemparkan senyum pada psikiater muda itu dan berbalik pergi.

Mungkin aku tidak bahagia. Tapi tanpa kalian bertiga, aku waras. Setidaknya bagi mereka.”

***

Hwaaa… setelah lamaaa sekali enggak nulis fiksi, akhirnya pecah juga. Ide standar. Sepertinya enggak ngerem. Ya sudahlah. Jangan dikasih kripik pedas, ya. Saya belum adaptasi lagi ahahaha #DilemparBotol

Ingatan Bunga Kertas

image

“Ingatan itu seperti bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap.”

“Kata siapa?” tanyaku.

Lelaki berkulit gelap itu tersenyum tanpa memandangku. Jari telunjuk dan jari tengah begitu lihai memilin-milin sebatang rokok yang baru saja dinyalakan. Kemudian disesapnya rokok itu hingga pipinya terisap dalam. Dan berderet asap terembus pelan dari hidung dan mulutnya.

“Menurutmu aku bisa membuat kata-kata sekeren itu?” jawabnya ringan.

Aku terkekeh. “Sudah kuduga,” lirihku.

“Jika aku pergi, ingatan-ingatanmu masih mau berbicara tentang aku, kan?” tanyanya. Senyumnya hilang. Wajahnya muram.

Perutku mulas. Membayangkan dia pergi membuatku hilang nyali. Bagaimana bisa aku menghadapi hari tanpa bisa melihat senyumnya lagi?

Perlahan, kupilin ujung blus biruku, “Enggak tahu. Aku bahkan mungkin tak bisa berpikir jika kamu pergi.”

“Tapi aku harus pergi.”

Aku menelan ludah. Intonasi itu sangat kukenal baik. Berat, rendah, dan dari hati. Lelaki berkulit gelap ini tidak main-main. Dia memang akan pergi.

“Kenapa?” tanyaku getir.

Kali ini ia memandangku. Mulutnya hendak membuka. Namun yang terdengar olehku hanya kata-kata yang memekakkan telinga.

Lalu sebuah pusaran hitam muncul di balik kepalanya. Menarik pelan tubuhnya, seakan memaksa lelaki itu untuk hilang dari hidupku begitu saja.

Dan dia hilang. Lenyap. Bersama ingatan yang ia minta untuk tetap setia mengenangnya.

***

“Selamat pagi, Alya.” Suara perempuan itu mengusikku. Mengganggu tidurku. Menginterupsi ingatanku yang mengambang dan dipenuhi lelaki berkulit gelapku.

Mataku terbuka pelan. Kulihat perempuan berkerudung putih itu menatapku penuh haru. Tampak jelas ada air mata yang tertahan di ujung matanya yang redup.

Lalu aku mendengar bibirku sendiri terbuka dengan suara yang terbata-bata, “Alya? Aku… Aku ini siapa?”

Air mata perempuan itu jatuh. Tanpa pernah tahu bahwa ingatanku adalah bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap. Tidak terlihat, tapi berbunga tanpa pernah kita tahu bagaimana caranya ia tinggal. Dan ketika bunga kertas itu ditunjukkan pada dunia, maka ia tidak akan bisa kembali lagi ke tempatnya semula.

Dan aku memilih meleburkan ingatan-ingatanku pada suara terakhir lelaki berkulit gelapku yang selalu terngiang-ngiang di kepala sebelum ia pergi selamanya.

“Mantanku mengandung anakku.”

***

Prompt 42 yang terlambat T____T

Quote diambil dari novel Jodi Picoult ~ “Each memory is like a paper flower stowed up a magician’s sleeve: invisible one moment and then so substantial and florid the next I cannot imagine how it stayed hidden all this time. And like those paper flowers, once they’ve been let loose in the world, the memories are impossible to tuck away again.”

Akhir Cinta Diam-diam

Pukul lima pagi.

Lelaki itu memang selalu datang sepagi ini. Setelah meletakkan tas ransel, ia berjalan di lorong bangsal sambil menggenggam stetoskop hitam. Di depan pasien, ia tak pernah kehilangan senyumnya yang cerah, membuat matahari merasa tersinggung karena sinarnya terkalahkan.

Satu jam berlalu. Akhirnya lelaki itu selesai memeriksa semua pasien dan berjalan ke arahku. Ke meja di depanku, tepatnya. Ia menggeser tumpukan status pasien ke hadapannya dan mulai menulis instruksi baru di dalamnya.

Ya Tuhan… Aku selalu suka saat-saat seperti ini. Saat aku bisa leluasa mengagumi gerakan tangannya, bahunya, rambutnya…

Ups.

Lelaki itu mendongakkan kepala. Mata kami beradu. Rupanya cinta diam-diamku sudah sampai di batas waktu.

***

“Ngeliatin apaan, Dit?” tanya Rio.

“Hah? Enggak liat apa-apa, kok!”

Buru-buru kutundukkan kepala dan mulai kembali sibuk menulis.

Perlahan kuraba logam keperakan di jari manisku. Aku tak ingin membuat Rio terkejut. Biar aku saja yang tahu, bahwa ada perempuan berbaju putih dan berambut panjang yang melayang di samping pintu. Dan selalu menebar senyum padaku.

***

Malang, February 15th 2014

  • #FF161Kata yang – sekali lagi – terlambat T_T
%d bloggers like this: