Bangunkan Aku Pukul Tujuh

image

Sunday is gloomy

the hours are slumberless

dearest the shadows I live with are numberless

“Bangunkan aku pukul tujuh pagi.”

Kalimatnya tadi terngiang-ngiang di kepalaku. Kupandangi wajahnya yang damai. Matanya tertutup. Bibirnya membentuk sebuah senyuman. Aku ikut tersenyum melihatnya. Tak perlu menembus ke dalam kepalanya untuk tahu alasannya. Aku hanya perlu melihat tangan kanan yang tak pernah dipindahkan sebuah cincin di jari manis tangan kirinya.

Kuraba alisnya yang tebal. Alis yang melekuk sempurna tanpa perlu dipahat seperti perempuan lainnya. Kiaraku cantik sekali. Ia seperti langit senja. Meskipun ia hanya muncul dalam beberapa menit, atau bahkan beberapa detik, tapi keindahannya patut ditunggu setiap hari.

Little white flowers will never awaken you,

not where the dark coach of sorrow has taken you

Dingin. Kulit Kiara dingin. Aku memeluknya di bawah selimut. Berusaha menyatukan panas tubuh kami agar Kiaraku tidak membeku.

Kusandarkan kepalaku di dadanya yang tenang. Hidungku membaui anyir darah. Mataku mendapati cairan pekat nan merah. Ada bahagia yang menyusup pelan ketika melihat sebuah luka yang menganga di dada kiri Kiara. Sudah kubilang, Kiara. Jantungmu tidak boleh berdebar kencang untuk orang lain selain aku. Tidak boleh.

Angels have no thought of ever returning you

would they be angry if I thought of joining you?

Kulirik jam tanganku. Pukul tiga dini hari.

Sudah saatnya.

Gloomy Sunday

with shadows I spend it all my heart and I have decided to end it all

Soon there’ll be prayers and candles are lit, I know

let them not weep

let them know, that I’m glad to go

Kuambil sebilah pisau yang berdarah-darah. Lalu meletakkan ujungnya yang tajam tepat di atas jantungku. Jantung yang telah melewati masa-masa sulit. Diburu cinta dan cemburu. Jantung yang hanya berpacu untukmu, Kiara. Hanya untukmu. Ia bekerja keras untuk memperjuangkan satu nama. Kiara. Perempuan yang pagi ini akan menikah dengan sahabatku sendiri.

Death is a dream

for in death I’m caressing you

with the last breath of my soul

I’ll be blessing you

“Bangunkan aku pukul 7 pagi.”

Kalimatnya tadi terngiang-ngiang di kepalaku. Kalimat terakhir sebelum ia tertidur dan kubuat ia tidak bisa bangun lagi.

Maaf, Kiara. Tidak akan ada pukul tujuh untukmu. Juga untukku.

Kita. Mati.

Darling, I hope that my dream hasn’t haunted you

my heart is telling you how much I wanted you

***

Kalabahi – Alor – NTT
January 22nd2013
[Lagu: Gloomy Sunday – Billie Holliday ]

    • A. Abdul Muiz
    • January 22nd, 2013

    Darah? Mati? *pingsan*

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: