Mumun: Keajaiban di Depan Pintu

I am a cat person since I was a kid.

Pas SD, pernah punya 3 kucing: Lupus, Miller, Miko.

Lupus: dibuang karena beranak melulu.

Miller: dibuang karena mencretan.

Miko: mati karena enggak sengaja makan racun tikus (aku sampai nangis tiga hari tiga malam).

Setelahnya, aku enggak pernah merawat kucing lagi karena merasa belum mampu, secara waktu, finansial, emosi.

Begitu pun hingga tahun lalu. Aku cuma menyimpan makanan kucing seandainya sewaktu-waktu ada kucing yang mampir minta makan. Ya sebatas itu. Sekadar ingin memuaskan rasa kecintaanku pada kucing. 

Sampai akhirnya ada kucing betina yang jelek, kurus, kudisan muncul di kamar kos. Ga pergi-pergi selama 2 minggu. Sempet dimarahi Bapak Kos karena si Kucing berak sembarangan. Tapi si Kucing tetep nungguin aku pulang setiap petang.

Entah ada angin apa … dengan berbekal baca-baca informasi, aku memberanikan diri merawat kucing jelek itu. Si Kucing kubawa ke vet agar diperiksa kira-kira perlu diobati apa aja. Penginnya kalau dia sudah sehat, langsung vaksin dan steril. Ternyata saat itu vet bilang, “Dia berkutu, skabies, dan mungkin cacingan. Dan kucing ini hamil. Jadi Saya cuma bisa kasih obat kutu yang aman untuk kucing hamil. Setelah lahiran, baru obat cacing dan vaksin. O iya … Nama kucingnya siapa?” 

Me: “Belum tau, Dok. Saya pikir nanti.”

Sampai rumah kepikiran.  Lha. Kok ya rescue kucing bunting. Ntar nambah lagi dong yang perlu dikasih makan. Trus dikasih nama apa, ya?

Mumun.

Entah kenapa kepikiran nama sederhana itu.

Dan dalam perjalanan merawat Mumun, ia membawakanku pengetahuan-pengetahuan baru tentang perkucingan. Bahwa kucing ndak didesain untuk mencerna tepung/pati jadi hati-hati dalam memilih dry food karena makanan yang salah dapat menyebabkan masalah kesehatan jangka panjang. Gigi kucing juga bisa dipenuhi karang kalo ndak sikat gigi. Kucing juga bisa diabetes dan kalo sudah terkena juga perlu disuntik insulin. Terlepas pro dan kontra, steril pada kucing (jantan/betina) akan mengurangi risiko stres berulang, tumor, kanker, piometra (pada betina), penyakit di saluran kemih, serta perkembangbiakan anak-anak kucing yang akhirnya jadi hama karena ditelantarkan pawrent yang ndak sanggup merawat. Tidak semua obat manusia bisa diberikan untuk kucing (karena saya selalu berpikir bahwa toh sama-sama mamalia … ternyata ini pemikiran sok tauku).

Sebulan setelah dirawat, Mumun akhirnya beranak tiga. Anaknya mati satu di usia dua minggu karena ketidaktahuanku merawat kucing. Tinggal Simba (jantan) dan Nala (betina). Awalnya berpikir bahwa ‘ah ntar anak-anaknya dikasih orang aja’. Ketika keduanya berusia dua bulan, duo cemeng mengalami diare. Kuperiksakan ke klinik dan dicek sampel fesesnya, ternyata ada amoeba. Simba dan Nala perlu diberi obat dan disuapin berkala.

Kemudian aku jadi kepikiran… Apa iya orang lain bisa merawat mereka dengan telaten? Apalagi Simba dan Nala adalah kucing domestik, dan waktu itu masih tampak burik dan berjamur (sekali lagi karena ketidaktahuanku merawat anak kucing), rasanya ndak bakal ada yang mau. Plus ikatan emosiku ke ketiga kucing ini udah telanjur lekat. Sama Simba yang tiap pagi selalu membangunkanku dengan nduselin kepala untuk minta makan dan minta dipeluk sebelum aku berangkat kerja. Mumun yang minta dipeluk waktu aku pulang kerja. Kalo Nala … ya dia emang sering jual mahal. Pengetahuan-pengetahuan baruku ketika merawat Mumun CS membuatku merasa bersalah karena di masa lalu telah memperlakukan Lupus, Miller, Miko dengan cara yang kurang layak. Mumun CS membuatku ingin menebus kesalahan dan bertekad sebisa mungkin menemani tiga makhluk ini hingga akhir hayatnya.

Ah sudahlah. Mungkin memang ditakdirkan merawat sepaket. Trio huru-hara yang membuat rumah enggak sepi-sepi banget.

Dan sekarang ketiganya sudah steril. Hingga sekarang sehat dan aktif, relatif ndak rewel kecuali kadang-kadang tengah malem kumat berisik dan lari-lari. Simba dan Nala sudah vaksin lengkap. Simba mulai menunjukkan ras mix-domestik. Badannya bongsor, bulunya halus dan panjang di beberapa bagian tubuh. Nala kayanya niru bapaknya (yang entah siapa), kucing domestik yang suka julid tapi tetep cantik.

Sedangkan Mumun … kupikir dia masih berusia 1 tahun waktu kami dipertemukan. Ternyata vet mengestimasi usianya sudah 5-6 tahun. Giginya sudah banyak yang tanggal. Sudah mulai osteoartritis juga. Selama beberapa bulan dirawat, baru keliatan kalo sepertinya ada ras persiannya. Entah bener apa ndak. Ga penting. Toh tetep cantik. Berat badannya sudah ideal, bulunya mekar. Tapi ternyata memiliki rhinitis kronis sehingga belum memungkinkan untuk divaksin. 

Kalo ada yang bilang, “Enaknya jadi kucing tinggal makan tidur berak,” ya itu kalo dia ketemu sama manusia yang tepat. Nyatanya masih banyak manusia yang suka nyiram kucing, mukul, ngelempar pakai batu, kasih racun, dsb. Liat kondisi Mumun waktu awal direscue kemudian membandingkan dengan kondisinya sekarang, seringkali aku bertanya-tanya apa saja yang dia lewati sebelum kami bertemu? Dia berantem sama kucing mana aja? Dia udah beranak berapa kali? Dia dijahatin manusia sampe segimana, ya? Dia pernah disiram, kah? Atau dilempar barang karena dia nyolong makanan? 

Kadang gemas sama yang memperlakukan kucing masih liat bulunya panjang atau pendek, berwarna atau tidak, lucu atau tidak. Padahal semua kucing bisa cantik dan lucu asal dirawat dengan baik. Kalo bisa: adopt, don’t shop. Karena banyak kucing liar yang sedang mencari rumah dan sangat bisa kita tolong. Kalo tidak suka kucing atau belum bisa merawat, setidaknya jangan menyiksa. Sayangnya manusia memang berakal, tapi lupa kalo juga punya hati, jadi lupa bahwa kucing juga makhluk hidup, bisa terluka serta merasa sakit.

Sehat-sehat ya, Majikan-majikanku… Sehat-sehat untuk semua anak bulu di dunia. Semoga kita diberi rezeki dan kesehatan agar bisa merawat mereka dengan baik hingga nanti tiada.

Malang, 27 Juni 2021

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: