Archive for the ‘ 30HariMenulisSuratCinta ’ Category

Harapan yang Lebih Banyak Untukku

Hai,

kamu datang lagi, dengan senyuman lebar serta pekik histeris, “Benjolan di ketiak kiriku hilang!” Hahaha… konyol rasanya. Semua orang di poliklinik ini tertawa. Namun semua orang di sini tahu, tidak ada yang aneh dari keriangan atas benjolan yang menghilang. Itu adalah keajaiban.

Lalu jarum infus melukai pembuluh venamu. Entah sudah yang keberapa kali. Mungkin ratusan. Kupikir kulitmu sudah mati rasa. Namun dengan santai kamu berkata, “Sakit yang sesungguhnya itu ketika tidak punya harapan.”

Seiring dengan cairan obat masuk ke tubuhmu, kamu bercerita tentang rambut yang semakin rontok, teman-teman sekolahmu yang makin sering mengolok-olok, mual dan muntah hebat setelah kunjungan tiga minggu yang lalu, serta jemari tangan dan kaki yang kadang-kadang terasa ngilu. Kepedihan itu ada, tapi sinar matamu menguburnya dalam-dalam. Kegetiran itu terasa, tapi mimpimu lebih bergelora.

“Aku ingin jadi dokter juga, Dok. Aku ingin jadi harapan bagi orang-orang sepertiku,” ujarmu.

Betapa lucu… di saat kamu datang padaku untuk mencari harapan, sesungguhnya akulah yang menemukan harapan, kebahagiaan dan rasa syukur padamu. Harapan adalah ketika engkau menghitung jumlah nodul* di leher, ketiak dan selangkangan. Kebahagiaan adalah ketika engkau mengetahui jumlahnya berkurang. Dan bersyukur adalah ketika engkau diberi kesempatan sehari lagi untuk bisa melakukannya berulang-ulang.

Nah! Selesai sudah kemoterapi hari ini. Sekarang pulanglah. Jangan lupa meminum obat anti-muntahmu. Datanglah padaku tiga minggu lagi. Dan bawakan untukku harapan yang lebih banyak dari hari ini.

***

Malang, February 5th 2015

* Nodul: benjolan pada kulit atau di bawah kulit yang berukuran lebih dari 0,5 cm

Dari Sebuah Pena di Balik Stetoskop dan Jas Putih

Hujan siang ini.

Dan aku masih mencari-cari bongkahan jurus dan mantra untuk menuliskan satu kata. Atau sebuah kalimat. Atau barisan paragraf. Ternyata tak semudah dulu. Imajinasi tak lagi seliar sebelumnya. Otakku sudah terpasung di antara kepuasan atas pencapaian hingga hari ini, serta sejumput kecewa, sedih, serta hati yang terpatahkan dari mereka yang menghakimi.

Bagaimana kabarmu?

Dari diammu, sepertinya engkau kecewa karena tidak ada yang mengunjungimu akhir-akhir ini. Bukan, bukan karena aku tak menyayangimu lagi.

Aku punya alasan.

Ketika aku pamit padamu setahun yang lalu, aku bertekad untuk tidak kembali kecuali menyajikan hal yang baik. Sebulan, dua bulan… ah, bahkan aku kecewa pada diriku sendiri. Jujur saja, hanya rasa sakit yang ingin kubagi. Bukan aku mau mengeluh. Namun di dunia ini, tak pernah ada yang suka jika seseorang mengacungkan telunjuk atas sesuatu yang tak pernah terjadi, bukan?

Hujan mulai berhenti.

Tidak begitu dengan rasa perih pada guratan luka ketika jatuh bangun aku berjalan. Namun seorang pendekar mengatakan, “Mengeluh itu melemahkan.” Dan padamu, aku selalu mampu menemukan tenang.

Ah, rintik hujan sangat pandai memanggil rindu. Dan kini aku kembali. Menyisir ruang-ruang rindu pada aksara yang pernah engkau ajarkan, mencari jalinan kata yang entah lesap di mana, mengurai kusutnya ide yang dikikis lelah yang menjemukan.

Mari… sesap teh hangat bersamaku di Perguruan Kuno ini. Mungkin aku harus kembali merangkak dan tertatih untuk memulai lagi. Namun percayalah… I still keep a pen behind my stethoscope and white coat.

I always do.

***

Malang, January 31th 2015; 02:45 pm

Untuk Kamu, Kamu dan Kamu

Kepada tiga tukang pos favorit saya. Apa kabar? Masih sehat dan bugar, kan? Mudah-mudahan nggak tepar setelah sebulan mengantarkan surat-surat dari dan ke seluruh penjuru Indonesia. Semoga Tuhan selalu bersama kalian ^^

1. @zulhaq_ :
Halo. Saya nggak menyangka akhirnya kamu jadi tukang pos juga, Zia. Cukup kaget juga sebenarnya. Tapi jika diingat-ingat, selama saya mengikuti kicauanmu, seorang Zia memang selalu membuat kejutan. Dari tweet-tweet kocak ketika hampir terlambat masuk ke pesawat (masih kepikiran, kok sempat sih, Zi…), atau keribetan tempat kerja yang sering berpindah-pindah (bahkan kamu sering menyebutnya dengan hutan, bukan? Hehehe…), atau tweet-tweet pecun yang kadang bikin hening, atau kemunculan buku pertamamu yang berjudul Home Tweet Home. Zia selalu punya inovasi untuk hidupnya. Salut! Semangat untuk ke depannya, ya. Semoga semakin sukses di udara 😉

2. @ikavuje :
Halo, Ika. Awalnya saya tidak mengikuti kicauan-kicauan Ika di Twitter. Tapi ketika saya berjalan-jalan di blog berisi surat-surat yang Ika nahkodai, saya takjub. Ika menyempatkan diri untuk memberi komentar di semua surat! Bahkan selalu membubuhkan kalimat penyemangat agar besok pasukan-pasukanmu tidak lupa membuat surat lagi. Bagi semua orang, mendapat komentar di blog sebagai peninggal jejak itu rasanya luar biasa. Dan sebagai tukang pos yang sangat sibuk, Ika telah melakukannya dengan sangat baik. Good job!

3. @chachathaib :
Halo, Chacha… Akhirnya selesai juga ya tugas nganter-nganter suratnya. Saya berterima kasih karena selama ini surat-surat saya telah diantar dengan baik. Sempat ada pertanyaan di awal-awal kegiatan #30HariMenulisSuratCinta ini, tentang jadwal penyampaian surat yang sepertinya terlalu malam. Rasanya tujuan silaturahmi antarblog semacam ‘tersendat’ karena tidak banyak manusia yang bisa mampu bertahan hingga malam. Tapi ternyata nggak juga. Silaturahmi tetap berjalan tanpa harus menunggu tukang pos menyampaikan surat-surat itu. Kiriman surat lewat pos aja bisa dilacak keberadaannya, apalagi via Twitter hehehe…
Kadang-kadang kloter akun L-O sangat penasaran dengan surat-surat terpilih. Karena sempat beberapa hari seakan-akan kloter ini terlewatkan begitu saja (lalu terdengar lagu Sheila on 7 – Yang Terlewatkan. Saya pribadi sih nggak berharap banyak (untuk terpilih), karena memang isi surat-surat saya nggak pernah ‘rapi’ hehehe…).
Tapi mengetahui Chacha sampai sakit, sepertinya memang aktivitasmu banyak sekali hingga tidak cukup waktu untuk beristirahat. Dari pagi hingga tengah malam (termasuk menyempatkan membaca dan mengantarkan seluruh surat yang memenuhi tab mensyenmu). Saya maklum. Menjadi manusia multitasking memang nggak mudah. Bisa jadi ada beberapa pekerjaan yang tidak maksimal. Tapi saya harap, jangan korbankan kesehatanmu, ya. Semoga semua persiapan pernikahannya lancar seperti jalanan Jakarta ketika lebaran. Dan semoga pernikahannya langgeng dan selalu dinaungi oleh cinta yang nggak pernah menua.

Sekian surat dari saya. Senang bisa menjadi bagian dari #30HariMenulisSuratCinta (meskipun nggak konsisten selama 30 hari. Hiks). Sayang sekali saya nggak bisa hadir di acara gathering #30HariMenulisSuratCinta. Tapi dari jauh, saya selalu berdoa untuk kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan kalian.

Best regards,
@noichil

Satu, Dua, Tiga, Ingin Bertemu Semuanya!

Hae, @ajenglembayung @gembrit @tuannico

Jujur, saya bingung. Banyak sekali yang ingin saya temui di acara gathering #30HariMenulisSuratCinta. Mungkin, bisa dibilang saya ingin bertemu dengan hampir semua nama di following saya yang selama ini hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya. Tapi di antara semuanya, nama kalian membuat saya sangat penasaran. Cungguh!

@ajenglembayung, #SahabatPosCinta-nya akuh. Meski saya penasaran karena suratmu belum juga sampai di Alor (saya curiga, jangan-jangan lumba-lumba membawanya pergi ke Timor Leste), tapi saya lebih penasaran sama bentuk kamuh (ehehehe…) Rasanya linimasa saya nggak pernah kosong dari akunmu. Entah kenapa saya membayangkanmu itu mirip seperti bola bekel atau kelinci Energizer. Penuh semangat! Btw, sepatu biru terlihat sangat bagus untukmu ^^

Saya juga ingin bertemu dengan tukang pos saya di #30HariLagukuBercerita, Kak Iko @gembrit. Saya ingin bilang bahwa saya kangen dengan komentar-komentar di tiap postingan. Meskipun pernah berkomentar tentang salah satu cerpen saya yang katanya absurd (bhahahaks…) tapi komentar-komentar Kak Iko selalu membangkitkan semangat (dari kuburnya). Oh iya, saya suka surat Kak Iko buat Cinta Laura. Simpel tapi lucu ^^

Lalu @tuannico. Sepertinya sudah lama ‘kenal’ via twitter (sejak kamu selalu menggunakan L besar), tapi nggak pernah ketemu yah, Nic. Saya ingin memastikan apakah benar kamu mirip Raditya Dika (ahahaha… tiba-tiba inget postingmu tentang kemiripan ini). Dan berhubung dirimu sudah nggak di Lampung lagi, mudah-mudahan lain kali kita bisa tweet-up. Dan saya bisa menagih karya pengembangan dari tweet “Aku adalah lampu di kala senja yang meredup pasrah. Kamu, sesosok yang terduduk di taman, tapi bukan menanti aku datang.” ^^

Dan yaaah … Lagi-lagi, saya tidak bisa menghadiri acara gathering @PosCinta karena jarak yang memisahkan. Dan uang tiket juga. Dan waktu yang mepet juga. Jadi rasa penasaran saya tentang kalian harus ditunda dulu (hiks…). Atau kalian mamu berbaik hati memfasilitasi semuanya? ^^ *dibuang ke laut*

Baiklah, demikian surat untuk kalian. Senang berkenalan dengan @ajenglembayung @gembrit dan @tuannico meski (masih) sebatas dunia maya. Semoga lain kesempatan kita bisa benar-benar bertemu, ya ^^

Semoga hari kalian selalu menyenangkan.

Best regards,
@noichil

Kepada Calon Mempelai Priaku

Halo. Apa kabar?

Ah ya… kamu tahu, tiga kata itu adalah pembuka dari semua surat di dunia. Bagi beberapa orang, tiga kata itu sama seperti tulisan ‘Tarik’ di pintu bilik ATM atau tulisan ‘Kutunggu Jandamu’ di belakang truk gandeng. Kalimat wajib yang keberadaannya sering diabaikan.

Tapi untukmu, aku akan selalu melontarkan pertanyaan ‘Apa kabar?’ dengan sepenuh hati. Setiap hari. Kamu tidak perlu menjawab dengan ‘Aku baik-baik saja’ jika memang kamu sedang tidak baik-baik saja. Tidak boleh ada alasan ‘Ceritanya panjang’ untuk mengungkapkan perasaanmu. Ungkapkan saja, Lelakiku. Aku bisa menyediakan waktu sebanyak yang kamu inginkan. Mungkin tentang deadline pekerjaan, kertas-kertas data yang menghitam karena secangkir kopi yang kau tumpahkan secara tidak sengaja, atau buku-buku yang belum selesai kamu baca. Apa saja. Ceritakan padaku. Untukmu, aku adalah kertas yang mampu memuat semua kisah dan keluh kesah. Untukmu, aku adalah papan sasaran yang mampu menerima semua lontaran panah amarah dan gundah. Untukmu, aku adalah cawan tanpa dasar yang mampu menampung segala air mata, sedih, dan gelisah.

Sebelum bertemu denganmu, tanganku telah menggenggam dan melepaskan banyak cerita. Hariku telah dijejaki dan ditinggalkan berbagai kisah. Hatiku telah mendekap dan menyingkirkan sejumlah rasa. Dan aku tidak tahu, berapakah hati yang pernah kau patahkan, berapa tangan yang sudah kau genggam, atau berapa hari yang telah kau lalui tanpa aku. Aku tidak peduli semua itu.

Sesaat lagi, kita akan menjadi pakaian bagi satu sama lain. Pakaian yang memantaskan sepanjang hayat. Pakaian yang meninggikan harga diri dan derajat. Pakaian yang menutupi semua aib dan cacat. Pakaian yang menyisakan kekurangan masing-masing hanya untuk kita sendiri. Dan tidak perlu memikirkan bagaimana cara mencuci pakaian ini. Well, bahkan kita bisa jadikan acara ‘mencuci pakaian masing-masing’ sebagai agenda liburan yang romantis (jika kamu mengerti maksudku).

Sebentar lagi, sekarang dan selamanya, kita adalah dua dunia yang saling bersentuhan. Dua napas yang belajar untuk bisa seirama. Dua detak jantung yang menghidupkan satu sama lain. Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Mungkin, aku dan kamu tidak selalu sekata. Tapi aku yakin. Aku dan kamu selalu sekita.

Mungkin kamu sedang mengernyitkan dahi sekarang. Dan hatimu bertanya-tanya, mengapa perempuanmu ini begitu aneh dengan mengirim surat cinta di saat yang tidak tepat. Biar kuperjelas sekali lagi. Inilah aku, perempuan yang ingin mengabdi sepenuhnya padamu. Perempuan yang mempertaruhkan semuanya hanya untuk bertemu denganmu. Perempuan yang di antara mimpi-mimpinya, telah meletakkan namamu di atas segalanya. Perempuan yang telah dipilihkan Tuhan untuk menjadi bagian dari tulang rusukmu.

Dan bisa kujaminkan satu hal. Aku bukan perempuan yang mudah menyerah. Jangankan berjuang denganmu dalam menantang dunia. Bahkan aku telah menghabiskan dua puluh tujuh tahun untuk menemukan kamu yang sangat kucinta. Dan selama di sisa hidupku nanti (yang akan kujalani denganmu), aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Meskipun dengkuran tidurmu semakin keras. Meskipun perutmu tak lagi rata. Meskipun kamu tidak pernah bisa mengambil kemeja dengan rapi dari tumpukan baju di lemari kita. Aku tidak akan menyerah. Mendapatkanmu adalah perjalanan panjang. Maka aku tidak akan membuat perjalanan kita hanya sekadar hiasan. Aku akan menjadikan kita untuk selamanya.

Sudah cukup. Rasanya apa yang ingin kukatakan sudah tertulis. Jika kurang, kita masih punya banyak waktu, kan. Mungkin akan lebih syahdu dengan ditemani cangkir kopi atau teh, dan sepiring pisang atau ubi goreng. Tentu dengan suara gaduh anak-anak kita yang lucu, jenaka dan menggemaskan.

Aku akan menemuimu sesaat lagi. Sekarang lipat kembali surat ini. Simpan di saku jasmu. Jangan pernah dibuang. Karena suatu waktu, mungkin kita perlu membacanya lagi. Bersama.

Dari calon mempelai wanitamu.

PS: Aku tahu ini sangat mendebarkan. Puluhan pasang mata sudah siap untuk menjadi saksi kita. Mungkin jantungmu sudah berdebar sangat kencang. Tanganmu sudah dibasahi keringat. Tapi ingatlah nama lengkapku, juga nama ayahku. Ucapkan ikrar pengikat itu dengan lantang di depan penghulu. Dan setelahnya, aku sudah halal bagimu.

Turn To Page 394

after all this time

To Severus Snape

Hello, Sev. How are you today? I know that this is not page 394. I’m just trying to remember your deep-heavy-cold voice when you said this. For me, that was incredibly sexy.

I dream that you’re still here, teaching us how to bottle fame, brew glory, even stopper death1. Many times, I wish you didn’t die. I frequently pretend that maybe you just fell asleep from drinking too much of the Draught of the Living Death potion. But then I realize, my imagination is too good to be true.

From the first time you emerged in Harry Potter’s life, you always acted as an evil teacher. You have the cold and dark eyes, curved-hostile lips, a creepy crooked nose, and slick black hair. Your long black cloak could be waving a nightmare for all who see. You’re totally an malicious wizard, Sev. I know you knew that.

Honestly, I really wanted to hate you who were too concerned about the purity of blood. You fail to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow to be2. I wanted to satisfy my anger to you who always gave difficulty to The Golden Trio. I would love to vent my wrath on you that always hurt Neville Longbottom. But there were always reasons for me to believe in you. There was something between the lines. It was you that too brilliant to keep it. But however, I agree with Hermione that Dumbledore trusts you, and if we can’t trust Dumbledore, we can’t trust anyone3.

You’d been judged as a sly Slytherin. Moreover, you were a Death Eater. Or maybe people just are too determined to hate4.

But after all this time, I was wrong for ever doubting your loyalty, Sev.

In fact, you beared the loyalty that was also a torment for the rest of your life. You dared to be in the most dangerous position as a double agent for Voldemort and Dumbledore. You risked your life for the sake of protecting the son of the woman you love.

And finally, a word ‘Always5‘ explained everything. You protected the woman who never knew how much you loved her. You protected a child that couldn’t be protected by her, even if it meant you had to protect a son of your enemy. You’re a part of the greatest love story in the world, Sev. It’s a totally beautiful (never been told) love between you and Harry’s mother. And, I think you should know that most people want to say ‘Always’ rather than ‘Yes’ after they were proposed with ‘Will you marry me?’ sentence. Your single word changed everything. Seriously.

Harry once said that you’re a coward. But you’re the bravest, Sev. Even Harry’s son was named after you as an honor for the bravest Slytherin we know. Your dark past had been misinterpreted as a bad trail for you. But you know, I sometimes think we sort too soon6.

There are so many things that I want to say to you. And I don’t know whether this letter can represent everything. Perhaps, Lily Evans’s love is not what you get. All people made mistakes in love. Or mistakes in making a choice. And people learns from them. It is not our abilities that show what we truly are. It is our choices7. At last, you chose to fight for your love. And now all the people in this world love you as a hero.

 

Lots of love

@noichil

 

1 – Severus Snape, HP and Sorcerer’s Stone

2 – Albus Dumbledore, HP and Goblet of Fire

3 – Hermione Granger, HP and Order of Phoenix

4 – Remus Lupin, HP and Half Blood Prince

5 – Severus Snape, HP and Deathly Hallows

6– Albus Dumbledore, HP and Deathly Hallows

7 – Albus Dumbledore, HP and Chamber of Secret

Surat Dan Romantisme

Assalamualaikum Wr Wb

Dear Bapak Djoko yang tetap joko meski sudah beranak dua dan bercucu tiga. Apa kabar? Apakah Bapak sudah menyelesaikan novel The Last Empress yang saya kirimkan? Terakhir, suaramu terdengar sangat cerah dan ceria, sudah tidak sengau karena flu yang sempat mampir. Bapak malah bersemangat ketika bercerita tentang konspirasi politik dibalik penangkapan Raffi Ahmad dan Wanda Hamidah beberapa hari lalu. Oh well, saya bingung mendengarnya.

Dear Bapak Djoko tersayang. Bapak benar saat berkata bahwa surat adalah salah satu cara untuk menjaga romantisme. Surat adalah lembar kertas dengan barisan aksara yang dirangkai sesuai dengan pemikiran, kegelisahan, cinta serta rasa rindu pengirim kepada sang penerima. Dan semua orang suka mengirim dan menerima surat. Buktinya, sudah lebih dari dua minggu ini, para penggiat Twitter dan blogger berlomba-lomba mengirimkan surat cinta. Mereka saling menyampaikan isi hati yang mungkin tidak bisa diucapkan ketika saling bertatap mata. Seperti kata-kata yang mengambang di udara ketika seorang lelaki tidak mampu menyampaikan cinta pada seorang perempuan (Iya, saya masih ingat kata-kata Bapak yang ini, “Jangan harapkan lelaki yang mencintaimu bisa mahir berkata-kata di depanmu. Melihat wajahmu saja, semua sistem tubuh lelaki bisa lumpuh. Apalagi buat ngomong banyak. Mereka tidak akan bisa.”)

Jika Bapak punya akun Twitter, pasti suka sekali dengan akun @PosCinta. Mereka mengantarkan surat-surat kepada siapapun. Dan apapun. Bahkan saya mengirimkan surat ini melalui @PosCinta, Pak. Kenalkan, tukang pos saya adalah seorang muslimah yang cantik. Namanya Annisa atau @chachathaib. Dia pintar sekali merangkai kata. Tapi mungkin surat ini akan terbaca di tengah malam, karena tukang pos saya sedang sibuk menyiapkan pernikahannya, Pak 😉

Bapak ingat ndak ketika saya masih SD dan SMP, saya sering sekali berkorespondensi dengan teman-teman yang saya kenal dari majalah Bobo atau Mentari Putera Harapan atau Koran Kecil Republika? Setiap kali pak pos datang, membunyikan bel klakson motornya dan menyerahkan selembar amplop, ada sesuatu yang hadir di kepala dan hati saya. Penasaran dan bertanya-tanya, dari siapa? Kira-kira apa isinya? Cerita apa yang kali ini akan saya baca?

Dan ada rasa bahagia yang membuat senyum saya tidak berhenti terkembang. Bahwa di luar sana, ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk menggoreskan pena di atas selembar (atau bahkan berlembar-lembar) kertas, menceritakan perasaan dan hari-harinya di dalamnya, membubuhkan perangko di amplonya dan mengirimkannya pada saya. Perasaan bahagia itu sama hebatnya dengan menemukan es krim Magnum dengan harga yang murah di kota Soe. Atau mengetahui bahwa Lee Min Ho sudah putus dengan Park Min Young.

Bapak Djoko tersayang, mengingat segala romantisme yang ada di dunia (yang salah satunya adalah dengan surat-menyurat), alasan itulah yang membuat saya sering mengirim surat untukmu dan Ibu di rumah. Menceritakan hari-hari saya di perantauan, tentang pantai Alor yang indah, perbedaan adat dan budaya, dan tentang perilaku masyarakat Alor yang unik dan kadang menggemaskan. Karena saya percaya, romantisme bukan hanya milik mereka yang jatuh cinta. Romantisme juga milik mereka yang saling merindukan.

Tentu saya sering bercerita tentang banyaknya kejadian kekerasan dalam rumah tangga di sini. Sebagian besar laki-laki di Alor merasa dirinya superior dan ringan tangan pada tubuh istrinya yang tidak berdaya. Dan di sinilah kebanggaan saya terhadap Bapak semakin membabi buta. Selama 35 tahun menikah, rasanya saya tidak pernah melihat Bapak mengeraskan suara pada Ibu, apalagi melakukan kekerasan. Yang saya lihat, justru cinta dan kasih sayang yang nilainya seperti fosil bersejarah, semakin berharga ketika dimakan usia. Bahkan Bapak tidak ragu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menjemur cucian. Romantisme tidak hanya kata-kata. Tidak hanya kecupan dan pelukan (yang sepertinya makin sering Bapak dan Ibu lakukan. Mumpung masih bisa pacaran, begitu Bapak bilang). Tapi, romantisme juga tentang bagaimana kita peduli terhadap pasangan, tentang apa yang ia suka dan tidak suka, apa yang membuatnya bahagia atau berduka. Romantisme bagi Bapak juga tentang rasa syukur, bahwa selama 35 tahun kehidupan bersama Ibu, Bapak telah menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia.

Di setiap surat yang saya kirimkan, tak lupa juga saya selipkan beberapa foto, sebagai bukti bahwa putri kalian selalu sehat wal’afiat ketika jauh dari pandangan mata. Seorang sejawat berkata, “Buat apa repot-repot mengirim surat? Kenapa nggak kirim email atau suruh orang tuamu melihat foto-fotomu di Facebook?” Ah, dia ndak ngerti ya, Pak. Betapa mengirim dan menerima surat adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan di dunia. Goresan pena adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada dan bahagia ketika menuliskan berbagai cerita dan menorehkan sejuta rindu. Sang pengirim tentu akan memilih kata yang pas agar surat itu terbaca seakan benar-benar berbicara dengan rasa yang tepat. Dan semoga rinduku yang sudah menggebu ini juga sampai padamu dan Ibu (padahal alasan utama adalah karena Bapak dan Ibu tidak bisa mengoperasikan komputer sama sekali. Iya, Bapak juga benar saat berkata bahwa kadang romantis dan kere atau udik itu beda tipis hehehe…)

Demikian surat cinta dari putrimu, wahai Bapak Djoko yang tetap joko sampai kapanpun. Salam sayang dan rindu untuk Bapak dan Ibu. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.

Wassalamualaikum Wr Wb

Moru – Alor – NTT
January 30th 2013

Enam Puluh Tiga Hari

Kepada kota kelahiran saya,

Enam puluh tiga hari menuju kamu. Rasanya beberapa hari belakangan, waktu seperti diacak. Mengingat bahwa saya telah menjalani hampir sepuluh bulan di perantauan, rasanya waktu begitu cepat berlalu. Ada banyak hal yang belum saya lakukan di sini. Dan ada banyak tempat yang belum saya kunjungi.

Tapi menjalani enam puluh tiga hari ke depan, rasanya waktu berjalan begitu lambat. Detik, menit, jam. Semua angka satuan waktu seakan tak pernah habis saya hitung. Dan saya begitu merindukan pulang menujumu.

Dua kali menerjang awan dan menjejaki tiga hiruk pikuk bandara. Keduanya tidak sesyahdu perjalanan pulang dengan mengarungi jalan sempit di dalam aroma bis. Lalu turun di daerah Kopian dan mencegat angkot yang kadang malah ngetem terlalu lama. Angkot yang menyediakan guyonan-guyonan ga penting berbahasa ‘telo-lema’, atau sumpah serapah yang sudah cukup lama tidak pernah saya dengarkan.

Angkot akan melaju, melewati gedung SMA yang mengingatkan saya pada teman-teman lama. Juga cinta lama, tentunya. Saya tidak pernah suka dengan warnanya yang kini dominan merah dan merah jambu (yang konon disebabkan adanya penyesuaian warna seluruh sekolah terhadap partai sponsor bapak walikota). Dan mata saya selalu liar mencari kedai bakso Probolinggo yang dulu saya kunjungi dua minggu sekali. Bukan karena nggak enak. Tapi karena saya harus menabung untuk bisa membelinya.

Lalu angkot akan melewati satu pertokoan terbesarmu. Giant. Ahahaha… Konyol sekali ketika mendengar seorang sejawat yang berkunjung pernah mengatakan, “Bagaimana bisa kamu hidup di kota tanpa hiburan macam ini?” Yah, bahkan nyatanya saya bisa hidup di Alor, tho? Tapi setidaknya, sekarang kamu sudah memiliki sebuah restoran siap saji yang kerenyahan kulit ayamnya bisa saya nikmati setiap saat. Saya teringat pada sebuah malam. Ketika masih bekerja di salah satu rumah sakit yang berhadapan dengan restoran itu, mendadak saya dilanda rasa lapar yang parah. Mungkin karena hujan pasien yang bertubi-tubi, atau hormon yang mengibarkan bendera ‘binge eating alert’ sejak pagi. Maka malam itu, perut saya dipenuhi produk makanan sampah, dan dompet saya dikuras isinya.

Sekarang ingatan saya sudah sampai di pasar. Pasti ibu-ibu akan memenuhi angkot dengan barang-barang dagangannya. Dan ritual saya di sini adalah memandangi sebuah warung internet bobrok di sudut pasar, tempat saya sering menghabiskan waktu untuk mengirim surat elektronik dan kartu elektronik, beserta kata-kata picisan khas anak SMA. Rasanya lucu mengingatnya sekarang, terlebih lagi sang penerima sudah memiliki keluarga sendiri.

Turun di depan toko Semeru, dan becak akan membawa saya ke rumah. Dan saya tahu, ayah sudah menunggu di teras dan ibu di dalam bersama makanan favorit saya. Selalu rutinitas yang sama… duduk bertiga di depan TV, membahas apapun yang sedang ditayangkan. Bahkan hal yang tidak saya mengerti seperti politik, hukum, ekonomi, dan sebagainya.

Kemudian pembicaraan beralih saat ayah bertanya, “Piye piye ceritane, Non?” Dan dua orang pecandu kopi ini memulai aktivitas rutin, bercerita dan mendengar (saya yang lebih banyak bercerita, ayah yang lebih banyak mendengar hehehe). Pada saat itu… rasanya secangkir kopi menjadi sangat banyak, dan akan habis setelah seluruh kisah telah habis diceritakan. Suara TV hanyalah soundtrack, dan kadang-kadang, kami tidak peduli. Lalu ibu membawakan pisang goreng andalannya, yang kadang baru kami nikmati setelah pisang itu mendingin karena kami terlalu sibuk dengan cerita yang terlewatkan.

Ya… itulah rutinitas saya ketika pulang padamu. Biasa saja… terlalu biasa… Tapi saya selalu ingin pulang. Saya kangen kamu.

Pulang… mengingatkan saya betapa mengesankan masa-masa sekolah saya. Dari sebuah MI dengan gedung bobrok yang bahkan tidak ada toilet maupun kamar mandi, tidak memiliki nama di masyarakat, dan harus menumpang ketika ujian nasional berlangsung. Lalu hijrah ke sebuah SMP negeri yang saat masuk semua guru memicingkan mata saat saya menyebut MI saya berasal. Dan berhasil menembus SMU negeri bersama kawan-kawan seperjuangan.

Masih teringat di ingatan saat saya membuat kekacauan di hari pertama masuk SD karena menggampar anak orang (maaf ya T_T), disuruh lari keliling lapangan yang luas (pada saat itu terkesan luas karena saya masih cebol sekali saat SD) karena lupa mengerjakan PR (dan merasa malu karena tersandung batu dan jatuh di depan seorang kakak kelas yang saya suka). Atau ngebut di atas sepeda jengki berwarna biru (yang sudah dijual) demi mengambil PR yang ketinggalan di rumah (ketik SMP dan saat angin Gendingmu sedang kenceng-kencengnya).

Pulang… selalu menjadi tempat saya untuk menenangkan diri. Meski udaramu terlalu panas untuk mendinginkan kepala dan hati. Saya teringat, beberapa tahun lalu, saat saya merasa gagal karena Tugas Akhir secara sepihak dihancurkan dan tidak tahu harus berbuat apa. Seperti ingin terjun dari lantai 5 gedung FK *errr… saat itu belum ada… jadi rektorat sajalah…*. Sesak karena data yang telah terkumpul selama setahun, yang telah membuat waktu belajar, clerkship dan tugas-tugas saya cemburu menjadi sia-sia. Sesak karena bersikeras mempertahankan harga diri di depan pembimbing sehingga tangis tak sempat tertumpah. Sesak karena saat kembali ke kos, saya sendirian (semua udah pulang, berlibur, dan saya masih tertahan… mengerjakan TA yang mengerikan). Kemudian dengan menahan rasa sakit itu, saya memutuskan untuk pulang, untuk mendinginkan kepala yang masih membara.

Pulang… selalu menjadi tempat saya untuk merecharge tenaga dan pikiran. Dalam semua kekalutan pre-masuk koass, dengan membawa semua pikiran buruk yang sudah tertanam tentang bagaimana seorang koass menjadi alas kaki di rumah sakit dan segala konflik yang pasti muncul. Saya memutuskan untuk pulang… karena saya yakin, kepulangan saya dapat membangun lagi hasrat saya untuk berjuang demi sesuatu yang layak dan berharga.

Pulang… membuat saya selalu ingat, dari sinilah saya hidup dan belajar. Dari sesuatu yang sangat sederhana dan tidak neko-neko. Mungkin terlalu muluk dan berani jika saya bermimpi besar. Dan bahkan saya pernah terlalu pengecut untuk pulang setelah kekalahan satu setengah tahun yang lalu. Memilih untuk melupakanmu dan rela dirundung kesedihan. Tapi harus saya akui, pulang dapat mengembalikan saya pada semangat muda yang berkobar. Gairah untuk tidak pernah berhenti bermimpi dan mewujudkannya.

Pulang… mengingatkan saya bahwa apapun yang terjadi dalam hidup saya, sepahit apapun perjalanan saya menuju cita-cita dan cinta, tentang kegagalan, kekecewaan dan sakit hati, sekering apapun gurun hidup yang saya jalani, sederas apapun air mata yang telah saya buang demi menggali jati diri, ada orang-orang yang selalu menunggu saya, di sebuah tempat biasa dengan cerita-cerita serta tawa hangat di dalamnya, sebuah tempat tenang yg saya sebut rumah.

Enam puluh tiga hari menujumu. Dan saya sudah tidak sabar menjejaki setiap sudut kotamu. Mencicipi makanan berpenyedap di tepi alun-alun, menyantap nasi jagung, dan bernostalgia di atas jalan yang pernah saya lewati bersama impian, cita-cita dan cinta.

Sampai ketemu lagi, Probolinggo ^^

Dari satu orang penghuni yang masih terdampar di pulau nan jauh.

Surat Penghilang Jejak

image

Hai.

Kado darimu sudah kuterima dengan selamat. Manis sekali. Sebuah compact disc yang kupilih sendiri ketika pergi bersama. Ahahaha … Aku merasa ini cukup lucu. Aku benar-benar tidak menyangka CD itu kau berikan untukku. Kupikir, ketika kamu bilang ingin mencari sebuah CD kumpulan lagu cinta, itu untuk kekasihmu.

Bagaimana kabar kandang ayam yang kabarnya terbakar? Sepertinya peternakan tempatmu bekerja mengalami rugi besar ya … Aku turut sedih mendengarnya. Aku tahu kamu merawat ayam-ayam itu dengan baik supaya bisa dipanen dan dikirimkan tepat waktu ke restoran cepat saji yang terkenal kerenyahan kulitnya. Kuharap kamu tidak mendapat masalah karena telah mengalihkan tugas jaga kandang ke rekanmu supaya bisa menemuiku kala itu.

Entah bagaimana memulainya. Tapi terima kasih selama ini kamu telah memercayakan pengalihan kasih sayangmu padaku. Tunggu … Bisakah kusebut begitu? Ya, anggap saja begitu.

Di awal pertemuan kita setelah bertahun-tahun tidak bersua selepas lulus SMA, hari itu seperti keajaiban. Kamu tiba-tiba muncul dan sejak saat itu, aku menemukan lagi teman bicara tentang kegilaan masa lalu. Aku menikmati kenyataan bahwa kita memiliki banyak kesamaan dan kita berbagi keluh kesah tiap hari.

Kamu pernah bertanya, mengapa aku begitu baik padamu. Mengingatkanmu untuk mengurangi jumlah batang rokok yang kau isap setiap hari. Rela meminjamkan jas hujan agar kamu tidak kehujanan (padahal aku sendiri membutuhkannya). Dan menyediakan waktu dan telinga untuk mendengar curahan hatimu tentang masalah percintaanmu.

Aku menjawab, aku juga tidak mengerti alasan mengapa aku berbuat begitu. Pada akhirnya kamu menyimpulkan bahwa aku adalah perempuan yang memang melakukan hal-hal baik pada semua orang, Pada akhirnya kamu berkata, bahwa mungkin aku tidak bisa melihat maksud dari segala perhatianmu.

Kuberitahu sebuah rahasia. Sesungguhnya aku bukanlah orang secuek itu.

Iya, aku merasakannya. Bagaimana mungkin aku tidak membaui niat seorang pria yang tiba-tiba rajin menembus jarak hampir 150 kilometer hanya untuk menemui seorang teman lama? Menemaniku mengerjakan tugas-tugas hingga dini hari meski hanya melalui pesan singkat dan sambungan telepon. Atau perhatian-perhatian kecil yang seharusnya hanya kamu bagi dengan kekasihmu.

Tapi aku bertahan untuk berpura-pura tidak merasakannya. Aku berusaha keras untuk tidak terbuai oleh kebiasaan-kebiasaan yang kamu tawarkan. Dan usaha kerasku itu berbuah pada sebuah pembelaan ego yang justru mengijinkan semuanya terjadi. Menganggap perhatian yang saling balas itu wajar dilakukan dalam sebuah ikatan pertemanan yang kubilang tanpa tendensi.

Dan pada akhirnya, aku disadarkan oleh seorang teman yang menyampaikan curahan hatinya tentang hal yang hampir sama. Ia mengatakan, posisi sebagai orang ketiga adalah masalah yang cukup memusingkan. Masalah? Bukankah tidak ada masalah jika kamu, atau aku, tidak memberi label diri sendiri sebagai pihak ketiga?

Lalu dalam beberapa detik, ada rasa bersalah yang menggerogotiku perlahan. Aku mengingat bagaimana wajahmu yang sedih setiap kali menceritakan kisah cinta yang diujung tanduk. Kamu bilang, kamu bosan dengan perilaku kekasihmu yang terlalu protektif dan insecure. Dan aku mengingat bagaimana repotnya kamu ketika menerima telepon kekasihmu. Suara dilirihkan dan beranjak pergi, menjauh, dan tidak ingin ada jejak sedikitpun yang bersuara bahwa kamu sedang bersamaku. Perlahan, aku merasa ini adalah masalah. Aku adalah masalah. Karena di belakang perjumpaan diam-diam kita, ada kekasihmu yang meneteskan air mata.

Jujur saja, aku tidak tau mengapa akhirnya kutulis surat ini untukmu. Aku bahkan tidak mampu berkata bahwa aku harus melepasmu. Tapi mungkin, surat ini adalah penegasan bahwa aku baik-baik saja setelah kamu memutuskan untuk melepasku. Anggap saja begitu. Meskipun ada jejak yang tidak bisa hilang ketika kamu pergi dan menjalani lagi jalan cinta yang pernah kamu tinggalkan, aku bahagia mendengarnya. Iya, aku memang terluka. Tapi itu sepenuhnya urusanku, yang mengijinkan kamu berlama-lama mengisi hari dan hatiku selama beberapa waktu.

Selamat menempuh hidup baru. Semoga pernikahan kalian selalu dilumuri cinta yang tak luntur oleh masa, rasa bosan atau kulit yang berkerut. Maaf, aku tidak datang. Karena aku paham, istrimu tidak menginginkanku berada di sana.

Dari seseorang yang belajar mereparasi lubang hati yang tak pernah terisi.

Kepada Ibu Dari Seorang Ibu

mother and baby3

 

Kepada: Ibunda tercinta

Apa kabar, Bu? Semoga Tuhan selalu merentangkan pelukNya pada Ibu dan menjaga Ibu seperti engkau yang tak pernah melepasku dari dekapan tangan dan doa yang hangat.

Hari ini Bagas rewel sekali. Seharian merengek dan merajuk. Puting susuku sedikit lecet karena Bagas selalu mengigitnya ketika ia gemas. Mungkin karena rasa sakit di lengannya setelah diimunisasi BCG pagi tadi. Nanda sempat frustasi karena hampir kehilangan kesabaran. Tapi akhirnya, setelah berjam-jam membujuk Bagas, cucumu telah lelap dalam tidurnya. Dan putrimu ini bisa menulis surat rindu pada Ibu. Iya, saya kangen Ibu. Kangen sekali. Padahal belum genap seminggu Ibu pulang dari rumah ini.

Di pertemuan kita terakhir, sebenarnya banyak sekali hal yang ingin kuceritakan, Bu. Tapi rasanya takkan pernah cukup. Nanda ingin berkeluh kesah, tentang bagaimana lelahnya mengandung dan membawa-bawa perut yang begitu besar ke mana-mana. Tentang nyeri kontraksi yang menjalar dari punggung, perut, hingga ke sumsum tulang. Tentang rasa ngilu ketika bidan melakukan episiotomi agar Bagas yang beratnya 3850 gram bisa lewat melalui jalan lahir. Juga tentang emosi ketika Nanda tidak bisa memahami apa yang diinginkan Bagas. Rasanya sedih, marah, cemas, putus asa. Kadang-kadang, Nanda merasa ingin menyerah saja. Kebebasan Nanda terbelenggu. Ingin sekedar pergi berjalan-jalan saja tidak bisa. Nanda sering jengkel tiap kali tidak mampu menerjemahkan apa mau Bagas. Dia hanya bisa menangis. Dan Ibu tahu, Nanda tidak pernah suka mendengar suara bayi menangis.

Tetapi Nanda teringat, seperti inilah Ibu dulu. Perempuan muda yang baru saja melahirkanku sebagai anak pertama. Ibu juga pasti pernah mengalami kebingungan yang sama dengan yang Nanda alami saat ini. Berusaha mengartikan arti tangis dan kerewelan bayi yang bahkan belum bisa membuka kelopak matanya dengan sempurna. Satu per satu. Apakah dia lapar? Apakah dia kesakitan? Apakah dia ngompol? Apakah perutnya sakit karena ingin buang air besar? Apakah dia merasa tidak nyaman di suatu tempat di tubuhnya? Atau apakah dia kesal karena ibunya tidak juga mengerti apa yang ia katakan?

Nanda kerap membayangkan, nanti Bagas akan tumbuh sebagai pribadi yang bagaimana ya… Di dalam hati, ada ketakutan yang diam-diam datang, Bu. Jika sudah besar nanti, pasti ia akan memilih jalannya sendiri. Cita-citanya sendiri. Nanda takut, tidak ada nama ibunya di dalam rencana hidup Bagas. Lalu bagaimana jika Bagas salah mengartikan larangan-laranganku sebagai penjara, bukan perlindungan? Bagaimana jika, suatu waktu, tiba saatnya keinginanku dan keinginannya bersinggungan? Bagaimana jika, kelak, Bagas secara tidak sengaja mengucapkan kata kasar atau menyakitkan pada ibunya? Atau bagaimana jika ia diam-diam benci padaku? Dan bagaimana jadinya jika aku gagal mendidiknya dan merasa bersalah hingga waktu yang tidak terbatas?

Ketika menulis surat ini, sesekali Nanda memandang Bagas yang sedang tidur. Memastikan tidak ada nyamuk yang hinggap di kulitnya, atau posisi kepala dan tangan yang membuatnya tidak nyaman. Entah apa namanya, tapi pasti Ibu tahu. Semacam sifat protektif yang berlebihan. Rasanya Nanda tidak rela ada satu halpun yang mengancam dan menyakiti Bagas. Bahkan sesungguhnya, Nanda tidak tega ketika tadi pagi melihat lengan Bagas ditusuk jarum kecil untuk memasukkan vaksin BCG. Kerepotan dan rasa sakit ketika hamil dan melahirkan tidak sebanding dengan rasa sakit yang dirasakan seorang ibu ketika anaknya terluka.

Merasakan itu semua, Nanda menyampaikan maaf yang sangat besar. Nanda ingat bagaimana marahnya Ibu ketika Nanda bolos mengaji. Atau ketika pertama kali Nanda terlambat pulang ke rumah. Dan juga ketika Ibu memergoki Nanda kabur dari sekolah dan main di mall. Saat itu, Nanda kecewa, mengapa Ibu begitu murka, mencubit lengan Nanda hingga membiru. Saat itu, Nanda mengartikannya sebagai ketidaksayangan Ibu. Tapi sekarang, Nanda ngerti, Bu. Seorang ibu tidak akan rela anaknya mengambil jalan yang salah. Karena seorang ibu sudah tahu bagaimana sakitnya kegagalan dan rasa kecewa.

Nanda mengingat pesan Ibu seminggu yang lalu. Pesan yang sama ketika Nanda menikah dulu, “Menandatangani buku nikah sama saja dengan menandatangani sebuah perjanjian kerja tak tertulis, yaitu menjadi orang tua. Dan pekerjaan itu nggak ada akhirnya, Nda. Karena kamu harua terus belajar.” Dan ternyata menjadi ibu tidak sesederhana menitipkan sebagian dirinya pada sosok manusia baru. Banyak sekali tugas yang harus dipelajari dan disempurnakan. Nanda baru menjalani jalan sebagai ibu selama dua bulan. Tapi begitu banyak hal yang Nanda pelajari. Tentang sabar, tulus, dan cinta. Dan dari semuanya, Nanda belajar tentang ikhlas terhadap apa rencana Tuhan terhadap Bagas.

Mungkin tidak akan ada habisnya kata maaf yang harus Nanda ucapkan atas kenakalan, kerewelan, keegoisan dan kekecewaan yang pernah Nanda lakukan pada Ibu. Nanda menyadari, betapa hati Ibu sangat terluka ketika melihat wajah Nanda yang muram ketika diminta membelikan sekantong gula pasir, atau telinga yang pura-pura tidak mendengar setelah kita bersitegang, atau ucapan Nanda yang menyakitkan. Nanda bisa merasakan perih yang sama seandainya semua itu terjadi pada Bagas dan Nanda.

Dan Nanda berterima kasih karena Ibu telah menjadi panutan yang sangat luar biasa. Sabar, pengorbanan dan ikhlasmu adalah puncak tertinggi dari apa yang harus kuteladani.

Kecupku untuk Ibu yang selalu memelukku dengan doa dan cinta. Semoga Nanda bisa menjadi ibu yang sama baiknya bagi Bagas, sebagaimana Ibu telah menjadi ibu yang sempurna untuk Nanda.

Sudah dulu ya, Bu. Bagas terbangun. Mulutnya mulai mencucut mencari gentong susunya.

Nanda sayang Ibu.

%d bloggers like this: