Archive for the ‘ 30HariMenulisSuratCinta ’ Category

Harapan yang Lebih Banyak Untukku

Hai,

kamu datang lagi, dengan senyuman lebar serta pekik histeris, “Benjolan di ketiak kiriku hilang!” Hahaha… konyol rasanya. Semua orang di poliklinik ini tertawa. Namun semua orang di sini tahu, tidak ada yang aneh dari keriangan atas benjolan yang menghilang. Itu adalah keajaiban.

Lalu jarum infus melukai pembuluh venamu. Entah sudah yang keberapa kali. Mungkin ratusan. Kupikir kulitmu sudah mati rasa. Namun dengan santai kamu berkata, “Sakit yang sesungguhnya itu ketika tidak punya harapan.”

Seiring dengan cairan obat masuk ke tubuhmu, kamu bercerita tentang rambut yang semakin rontok, teman-teman sekolahmu yang makin sering mengolok-olok, mual dan muntah hebat setelah kunjungan tiga minggu yang lalu, serta jemari tangan dan kaki yang kadang-kadang terasa ngilu. Kepedihan itu ada, tapi sinar matamu menguburnya dalam-dalam. Kegetiran itu terasa, tapi mimpimu lebih bergelora.

“Aku ingin jadi dokter juga, Dok. Aku ingin jadi harapan bagi orang-orang sepertiku,” ujarmu.

Betapa lucu… di saat kamu datang padaku untuk mencari harapan, sesungguhnya akulah yang menemukan harapan, kebahagiaan dan rasa syukur padamu. Harapan adalah ketika engkau menghitung jumlah nodul* di leher, ketiak dan selangkangan. Kebahagiaan adalah ketika engkau mengetahui jumlahnya berkurang. Dan bersyukur adalah ketika engkau diberi kesempatan sehari lagi untuk bisa melakukannya berulang-ulang.

Nah! Selesai sudah kemoterapi hari ini. Sekarang pulanglah. Jangan lupa meminum obat anti-muntahmu. Datanglah padaku tiga minggu lagi. Dan bawakan untukku harapan yang lebih banyak dari hari ini.

***

Malang, February 5th 2015

* Nodul: benjolan pada kulit atau di bawah kulit yang berukuran lebih dari 0,5 cm

Advertisements

Dari Sebuah Pena di Balik Stetoskop dan Jas Putih

Hujan siang ini.

Dan aku masih mencari-cari bongkahan jurus dan mantra untuk menuliskan satu kata. Atau sebuah kalimat. Atau barisan paragraf. Ternyata tak semudah dulu. Imajinasi tak lagi seliar sebelumnya. Otakku sudah terpasung di antara kepuasan atas pencapaian hingga hari ini, serta sejumput kecewa, sedih, serta hati yang terpatahkan dari mereka yang menghakimi.

Bagaimana kabarmu?

Dari diammu, sepertinya engkau kecewa karena tidak ada yang mengunjungimu akhir-akhir ini. Bukan, bukan karena aku tak menyayangimu lagi.

Aku punya alasan.

Ketika aku pamit padamu setahun yang lalu, aku bertekad untuk tidak kembali kecuali menyajikan hal yang baik. Sebulan, dua bulan… ah, bahkan aku kecewa pada diriku sendiri. Jujur saja, hanya rasa sakit yang ingin kubagi. Bukan aku mau mengeluh. Namun di dunia ini, tak pernah ada yang suka jika seseorang mengacungkan telunjuk atas sesuatu yang tak pernah terjadi, bukan?

Hujan mulai berhenti.

Tidak begitu dengan rasa perih pada guratan luka ketika jatuh bangun aku berjalan. Namun seorang pendekar mengatakan, “Mengeluh itu melemahkan.” Dan padamu, aku selalu mampu menemukan tenang.

Ah, rintik hujan sangat pandai memanggil rindu. Dan kini aku kembali. Menyisir ruang-ruang rindu pada aksara yang pernah engkau ajarkan, mencari jalinan kata yang entah lesap di mana, mengurai kusutnya ide yang dikikis lelah yang menjemukan.

Mari… sesap teh hangat bersamaku di Perguruan Kuno ini. Mungkin aku harus kembali merangkak dan tertatih untuk memulai lagi. Namun percayalah… I still keep a pen behind my stethoscope and white coat.

I always do.

***

Malang, January 31th 2015; 02:45 pm

Untuk Kamu, Kamu dan Kamu

Kepada tiga tukang pos favorit saya. Apa kabar? Masih sehat dan bugar, kan? Mudah-mudahan nggak tepar setelah sebulan mengantarkan surat-surat dari dan ke seluruh penjuru Indonesia. Semoga Tuhan selalu bersama kalian ^^

1. @zulhaq_ :
Halo. Saya nggak menyangka akhirnya kamu jadi tukang pos juga, Zia. Cukup kaget juga sebenarnya. Tapi jika diingat-ingat, selama saya mengikuti kicauanmu, seorang Zia memang selalu membuat kejutan. Dari tweet-tweet kocak ketika hampir terlambat masuk ke pesawat (masih kepikiran, kok sempat sih, Zi…), atau keribetan tempat kerja yang sering berpindah-pindah (bahkan kamu sering menyebutnya dengan hutan, bukan? Hehehe…), atau tweet-tweet pecun yang kadang bikin hening, atau kemunculan buku pertamamu yang berjudul Home Tweet Home. Zia selalu punya inovasi untuk hidupnya. Salut! Semangat untuk ke depannya, ya. Semoga semakin sukses di udara 😉

2. @ikavuje :
Halo, Ika. Awalnya saya tidak mengikuti kicauan-kicauan Ika di Twitter. Tapi ketika saya berjalan-jalan di blog berisi surat-surat yang Ika nahkodai, saya takjub. Ika menyempatkan diri untuk memberi komentar di semua surat! Bahkan selalu membubuhkan kalimat penyemangat agar besok pasukan-pasukanmu tidak lupa membuat surat lagi. Bagi semua orang, mendapat komentar di blog sebagai peninggal jejak itu rasanya luar biasa. Dan sebagai tukang pos yang sangat sibuk, Ika telah melakukannya dengan sangat baik. Good job!

3. @chachathaib :
Halo, Chacha… Akhirnya selesai juga ya tugas nganter-nganter suratnya. Saya berterima kasih karena selama ini surat-surat saya telah diantar dengan baik. Sempat ada pertanyaan di awal-awal kegiatan #30HariMenulisSuratCinta ini, tentang jadwal penyampaian surat yang sepertinya terlalu malam. Rasanya tujuan silaturahmi antarblog semacam ‘tersendat’ karena tidak banyak manusia yang bisa mampu bertahan hingga malam. Tapi ternyata nggak juga. Silaturahmi tetap berjalan tanpa harus menunggu tukang pos menyampaikan surat-surat itu. Kiriman surat lewat pos aja bisa dilacak keberadaannya, apalagi via Twitter hehehe…
Kadang-kadang kloter akun L-O sangat penasaran dengan surat-surat terpilih. Karena sempat beberapa hari seakan-akan kloter ini terlewatkan begitu saja (lalu terdengar lagu Sheila on 7 – Yang Terlewatkan. Saya pribadi sih nggak berharap banyak (untuk terpilih), karena memang isi surat-surat saya nggak pernah ‘rapi’ hehehe…).
Tapi mengetahui Chacha sampai sakit, sepertinya memang aktivitasmu banyak sekali hingga tidak cukup waktu untuk beristirahat. Dari pagi hingga tengah malam (termasuk menyempatkan membaca dan mengantarkan seluruh surat yang memenuhi tab mensyenmu). Saya maklum. Menjadi manusia multitasking memang nggak mudah. Bisa jadi ada beberapa pekerjaan yang tidak maksimal. Tapi saya harap, jangan korbankan kesehatanmu, ya. Semoga semua persiapan pernikahannya lancar seperti jalanan Jakarta ketika lebaran. Dan semoga pernikahannya langgeng dan selalu dinaungi oleh cinta yang nggak pernah menua.

Sekian surat dari saya. Senang bisa menjadi bagian dari #30HariMenulisSuratCinta (meskipun nggak konsisten selama 30 hari. Hiks). Sayang sekali saya nggak bisa hadir di acara gathering #30HariMenulisSuratCinta. Tapi dari jauh, saya selalu berdoa untuk kesehatan, kesuksesan dan kebahagiaan kalian.

Best regards,
@noichil

Satu, Dua, Tiga, Ingin Bertemu Semuanya!

Hae, @ajenglembayung @gembrit @tuannico

Jujur, saya bingung. Banyak sekali yang ingin saya temui di acara gathering #30HariMenulisSuratCinta. Mungkin, bisa dibilang saya ingin bertemu dengan hampir semua nama di following saya yang selama ini hanya bisa berkomunikasi lewat dunia maya. Tapi di antara semuanya, nama kalian membuat saya sangat penasaran. Cungguh!

@ajenglembayung, #SahabatPosCinta-nya akuh. Meski saya penasaran karena suratmu belum juga sampai di Alor (saya curiga, jangan-jangan lumba-lumba membawanya pergi ke Timor Leste), tapi saya lebih penasaran sama bentuk kamuh (ehehehe…) Rasanya linimasa saya nggak pernah kosong dari akunmu. Entah kenapa saya membayangkanmu itu mirip seperti bola bekel atau kelinci Energizer. Penuh semangat! Btw, sepatu biru terlihat sangat bagus untukmu ^^

Saya juga ingin bertemu dengan tukang pos saya di #30HariLagukuBercerita, Kak Iko @gembrit. Saya ingin bilang bahwa saya kangen dengan komentar-komentar di tiap postingan. Meskipun pernah berkomentar tentang salah satu cerpen saya yang katanya absurd (bhahahaks…) tapi komentar-komentar Kak Iko selalu membangkitkan semangat (dari kuburnya). Oh iya, saya suka surat Kak Iko buat Cinta Laura. Simpel tapi lucu ^^

Lalu @tuannico. Sepertinya sudah lama ‘kenal’ via twitter (sejak kamu selalu menggunakan L besar), tapi nggak pernah ketemu yah, Nic. Saya ingin memastikan apakah benar kamu mirip Raditya Dika (ahahaha… tiba-tiba inget postingmu tentang kemiripan ini). Dan berhubung dirimu sudah nggak di Lampung lagi, mudah-mudahan lain kali kita bisa tweet-up. Dan saya bisa menagih karya pengembangan dari tweet “Aku adalah lampu di kala senja yang meredup pasrah. Kamu, sesosok yang terduduk di taman, tapi bukan menanti aku datang.” ^^

Dan yaaah … Lagi-lagi, saya tidak bisa menghadiri acara gathering @PosCinta karena jarak yang memisahkan. Dan uang tiket juga. Dan waktu yang mepet juga. Jadi rasa penasaran saya tentang kalian harus ditunda dulu (hiks…). Atau kalian mamu berbaik hati memfasilitasi semuanya? ^^ *dibuang ke laut*

Baiklah, demikian surat untuk kalian. Senang berkenalan dengan @ajenglembayung @gembrit dan @tuannico meski (masih) sebatas dunia maya. Semoga lain kesempatan kita bisa benar-benar bertemu, ya ^^

Semoga hari kalian selalu menyenangkan.

Best regards,
@noichil

Kepada Calon Mempelai Priaku

Halo. Apa kabar?

Ah ya… kamu tahu, tiga kata itu adalah pembuka dari semua surat di dunia. Bagi beberapa orang, tiga kata itu sama seperti tulisan ‘Tarik’ di pintu bilik ATM atau tulisan ‘Kutunggu Jandamu’ di belakang truk gandeng. Kalimat wajib yang keberadaannya sering diabaikan.

Tapi untukmu, aku akan selalu melontarkan pertanyaan ‘Apa kabar?’ dengan sepenuh hati. Setiap hari. Kamu tidak perlu menjawab dengan ‘Aku baik-baik saja’ jika memang kamu sedang tidak baik-baik saja. Tidak boleh ada alasan ‘Ceritanya panjang’ untuk mengungkapkan perasaanmu. Ungkapkan saja, Lelakiku. Aku bisa menyediakan waktu sebanyak yang kamu inginkan. Mungkin tentang deadline pekerjaan, kertas-kertas data yang menghitam karena secangkir kopi yang kau tumpahkan secara tidak sengaja, atau buku-buku yang belum selesai kamu baca. Apa saja. Ceritakan padaku. Untukmu, aku adalah kertas yang mampu memuat semua kisah dan keluh kesah. Untukmu, aku adalah papan sasaran yang mampu menerima semua lontaran panah amarah dan gundah. Untukmu, aku adalah cawan tanpa dasar yang mampu menampung segala air mata, sedih, dan gelisah.

Sebelum bertemu denganmu, tanganku telah menggenggam dan melepaskan banyak cerita. Hariku telah dijejaki dan ditinggalkan berbagai kisah. Hatiku telah mendekap dan menyingkirkan sejumlah rasa. Dan aku tidak tahu, berapakah hati yang pernah kau patahkan, berapa tangan yang sudah kau genggam, atau berapa hari yang telah kau lalui tanpa aku. Aku tidak peduli semua itu.

Sesaat lagi, kita akan menjadi pakaian bagi satu sama lain. Pakaian yang memantaskan sepanjang hayat. Pakaian yang meninggikan harga diri dan derajat. Pakaian yang menutupi semua aib dan cacat. Pakaian yang menyisakan kekurangan masing-masing hanya untuk kita sendiri. Dan tidak perlu memikirkan bagaimana cara mencuci pakaian ini. Well, bahkan kita bisa jadikan acara ‘mencuci pakaian masing-masing’ sebagai agenda liburan yang romantis (jika kamu mengerti maksudku).

Sebentar lagi, sekarang dan selamanya, kita adalah dua dunia yang saling bersentuhan. Dua napas yang belajar untuk bisa seirama. Dua detak jantung yang menghidupkan satu sama lain. Aku adalah kamu. Kamu adalah aku. Mungkin, aku dan kamu tidak selalu sekata. Tapi aku yakin. Aku dan kamu selalu sekita.

Mungkin kamu sedang mengernyitkan dahi sekarang. Dan hatimu bertanya-tanya, mengapa perempuanmu ini begitu aneh dengan mengirim surat cinta di saat yang tidak tepat. Biar kuperjelas sekali lagi. Inilah aku, perempuan yang ingin mengabdi sepenuhnya padamu. Perempuan yang mempertaruhkan semuanya hanya untuk bertemu denganmu. Perempuan yang di antara mimpi-mimpinya, telah meletakkan namamu di atas segalanya. Perempuan yang telah dipilihkan Tuhan untuk menjadi bagian dari tulang rusukmu.

Dan bisa kujaminkan satu hal. Aku bukan perempuan yang mudah menyerah. Jangankan berjuang denganmu dalam menantang dunia. Bahkan aku telah menghabiskan dua puluh tujuh tahun untuk menemukan kamu yang sangat kucinta. Dan selama di sisa hidupku nanti (yang akan kujalani denganmu), aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah. Meskipun dengkuran tidurmu semakin keras. Meskipun perutmu tak lagi rata. Meskipun kamu tidak pernah bisa mengambil kemeja dengan rapi dari tumpukan baju di lemari kita. Aku tidak akan menyerah. Mendapatkanmu adalah perjalanan panjang. Maka aku tidak akan membuat perjalanan kita hanya sekadar hiasan. Aku akan menjadikan kita untuk selamanya.

Sudah cukup. Rasanya apa yang ingin kukatakan sudah tertulis. Jika kurang, kita masih punya banyak waktu, kan. Mungkin akan lebih syahdu dengan ditemani cangkir kopi atau teh, dan sepiring pisang atau ubi goreng. Tentu dengan suara gaduh anak-anak kita yang lucu, jenaka dan menggemaskan.

Aku akan menemuimu sesaat lagi. Sekarang lipat kembali surat ini. Simpan di saku jasmu. Jangan pernah dibuang. Karena suatu waktu, mungkin kita perlu membacanya lagi. Bersama.

Dari calon mempelai wanitamu.

PS: Aku tahu ini sangat mendebarkan. Puluhan pasang mata sudah siap untuk menjadi saksi kita. Mungkin jantungmu sudah berdebar sangat kencang. Tanganmu sudah dibasahi keringat. Tapi ingatlah nama lengkapku, juga nama ayahku. Ucapkan ikrar pengikat itu dengan lantang di depan penghulu. Dan setelahnya, aku sudah halal bagimu.

Turn To Page 394

after all this time

To Severus Snape

Hello, Sev. How are you today? I know that this is not page 394. I’m just trying to remember your deep-heavy-cold voice when you said this. For me, that was incredibly sexy.

I dream that you’re still here, teaching us how to bottle fame, brew glory, even stopper death1. Many times, I wish you didn’t die. I frequently pretend that maybe you just fell asleep from drinking too much of the Draught of the Living Death potion. But then I realize, my imagination is too good to be true.

From the first time you emerged in Harry Potter’s life, you always acted as an evil teacher. You have the cold and dark eyes, curved-hostile lips, a creepy crooked nose, and slick black hair. Your long black cloak could be waving a nightmare for all who see. You’re totally an malicious wizard, Sev. I know you knew that.

Honestly, I really wanted to hate you who were too concerned about the purity of blood. You fail to recognize that it matters not what someone is born, but what they grow to be2. I wanted to satisfy my anger to you who always gave difficulty to The Golden Trio. I would love to vent my wrath on you that always hurt Neville Longbottom. But there were always reasons for me to believe in you. There was something between the lines. It was you that too brilliant to keep it. But however, I agree with Hermione that Dumbledore trusts you, and if we can’t trust Dumbledore, we can’t trust anyone3.

You’d been judged as a sly Slytherin. Moreover, you were a Death Eater. Or maybe people just are too determined to hate4.

But after all this time, I was wrong for ever doubting your loyalty, Sev.

In fact, you beared the loyalty that was also a torment for the rest of your life. You dared to be in the most dangerous position as a double agent for Voldemort and Dumbledore. You risked your life for the sake of protecting the son of the woman you love.

And finally, a word ‘Always5‘ explained everything. You protected the woman who never knew how much you loved her. You protected a child that couldn’t be protected by her, even if it meant you had to protect a son of your enemy. You’re a part of the greatest love story in the world, Sev. It’s a totally beautiful (never been told) love between you and Harry’s mother. And, I think you should know that most people want to say ‘Always’ rather than ‘Yes’ after they were proposed with ‘Will you marry me?’ sentence. Your single word changed everything. Seriously.

Harry once said that you’re a coward. But you’re the bravest, Sev. Even Harry’s son was named after you as an honor for the bravest Slytherin we know. Your dark past had been misinterpreted as a bad trail for you. But you know, I sometimes think we sort too soon6.

There are so many things that I want to say to you. And I don’t know whether this letter can represent everything. Perhaps, Lily Evans’s love is not what you get. All people made mistakes in love. Or mistakes in making a choice. And people learns from them. It is not our abilities that show what we truly are. It is our choices7. At last, you chose to fight for your love. And now all the people in this world love you as a hero.

 

Lots of love

@noichil

 

1 – Severus Snape, HP and Sorcerer’s Stone

2 – Albus Dumbledore, HP and Goblet of Fire

3 – Hermione Granger, HP and Order of Phoenix

4 – Remus Lupin, HP and Half Blood Prince

5 – Severus Snape, HP and Deathly Hallows

6– Albus Dumbledore, HP and Deathly Hallows

7 – Albus Dumbledore, HP and Chamber of Secret

Surat Dan Romantisme

Assalamualaikum Wr Wb

Dear Bapak Djoko yang tetap joko meski sudah beranak dua dan bercucu tiga. Apa kabar? Apakah Bapak sudah menyelesaikan novel The Last Empress yang saya kirimkan? Terakhir, suaramu terdengar sangat cerah dan ceria, sudah tidak sengau karena flu yang sempat mampir. Bapak malah bersemangat ketika bercerita tentang konspirasi politik dibalik penangkapan Raffi Ahmad dan Wanda Hamidah beberapa hari lalu. Oh well, saya bingung mendengarnya.

Dear Bapak Djoko tersayang. Bapak benar saat berkata bahwa surat adalah salah satu cara untuk menjaga romantisme. Surat adalah lembar kertas dengan barisan aksara yang dirangkai sesuai dengan pemikiran, kegelisahan, cinta serta rasa rindu pengirim kepada sang penerima. Dan semua orang suka mengirim dan menerima surat. Buktinya, sudah lebih dari dua minggu ini, para penggiat Twitter dan blogger berlomba-lomba mengirimkan surat cinta. Mereka saling menyampaikan isi hati yang mungkin tidak bisa diucapkan ketika saling bertatap mata. Seperti kata-kata yang mengambang di udara ketika seorang lelaki tidak mampu menyampaikan cinta pada seorang perempuan (Iya, saya masih ingat kata-kata Bapak yang ini, “Jangan harapkan lelaki yang mencintaimu bisa mahir berkata-kata di depanmu. Melihat wajahmu saja, semua sistem tubuh lelaki bisa lumpuh. Apalagi buat ngomong banyak. Mereka tidak akan bisa.”)

Jika Bapak punya akun Twitter, pasti suka sekali dengan akun @PosCinta. Mereka mengantarkan surat-surat kepada siapapun. Dan apapun. Bahkan saya mengirimkan surat ini melalui @PosCinta, Pak. Kenalkan, tukang pos saya adalah seorang muslimah yang cantik. Namanya Annisa atau @chachathaib. Dia pintar sekali merangkai kata. Tapi mungkin surat ini akan terbaca di tengah malam, karena tukang pos saya sedang sibuk menyiapkan pernikahannya, Pak 😉

Bapak ingat ndak ketika saya masih SD dan SMP, saya sering sekali berkorespondensi dengan teman-teman yang saya kenal dari majalah Bobo atau Mentari Putera Harapan atau Koran Kecil Republika? Setiap kali pak pos datang, membunyikan bel klakson motornya dan menyerahkan selembar amplop, ada sesuatu yang hadir di kepala dan hati saya. Penasaran dan bertanya-tanya, dari siapa? Kira-kira apa isinya? Cerita apa yang kali ini akan saya baca?

Dan ada rasa bahagia yang membuat senyum saya tidak berhenti terkembang. Bahwa di luar sana, ada seseorang yang meluangkan waktunya untuk menggoreskan pena di atas selembar (atau bahkan berlembar-lembar) kertas, menceritakan perasaan dan hari-harinya di dalamnya, membubuhkan perangko di amplonya dan mengirimkannya pada saya. Perasaan bahagia itu sama hebatnya dengan menemukan es krim Magnum dengan harga yang murah di kota Soe. Atau mengetahui bahwa Lee Min Ho sudah putus dengan Park Min Young.

Bapak Djoko tersayang, mengingat segala romantisme yang ada di dunia (yang salah satunya adalah dengan surat-menyurat), alasan itulah yang membuat saya sering mengirim surat untukmu dan Ibu di rumah. Menceritakan hari-hari saya di perantauan, tentang pantai Alor yang indah, perbedaan adat dan budaya, dan tentang perilaku masyarakat Alor yang unik dan kadang menggemaskan. Karena saya percaya, romantisme bukan hanya milik mereka yang jatuh cinta. Romantisme juga milik mereka yang saling merindukan.

Tentu saya sering bercerita tentang banyaknya kejadian kekerasan dalam rumah tangga di sini. Sebagian besar laki-laki di Alor merasa dirinya superior dan ringan tangan pada tubuh istrinya yang tidak berdaya. Dan di sinilah kebanggaan saya terhadap Bapak semakin membabi buta. Selama 35 tahun menikah, rasanya saya tidak pernah melihat Bapak mengeraskan suara pada Ibu, apalagi melakukan kekerasan. Yang saya lihat, justru cinta dan kasih sayang yang nilainya seperti fosil bersejarah, semakin berharga ketika dimakan usia. Bahkan Bapak tidak ragu melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak dan menjemur cucian. Romantisme tidak hanya kata-kata. Tidak hanya kecupan dan pelukan (yang sepertinya makin sering Bapak dan Ibu lakukan. Mumpung masih bisa pacaran, begitu Bapak bilang). Tapi, romantisme juga tentang bagaimana kita peduli terhadap pasangan, tentang apa yang ia suka dan tidak suka, apa yang membuatnya bahagia atau berduka. Romantisme bagi Bapak juga tentang rasa syukur, bahwa selama 35 tahun kehidupan bersama Ibu, Bapak telah menjadi laki-laki yang paling beruntung di dunia.

Di setiap surat yang saya kirimkan, tak lupa juga saya selipkan beberapa foto, sebagai bukti bahwa putri kalian selalu sehat wal’afiat ketika jauh dari pandangan mata. Seorang sejawat berkata, “Buat apa repot-repot mengirim surat? Kenapa nggak kirim email atau suruh orang tuamu melihat foto-fotomu di Facebook?” Ah, dia ndak ngerti ya, Pak. Betapa mengirim dan menerima surat adalah salah satu kegiatan yang paling menyenangkan di dunia. Goresan pena adalah bukti nyata bahwa seseorang itu ada dan bahagia ketika menuliskan berbagai cerita dan menorehkan sejuta rindu. Sang pengirim tentu akan memilih kata yang pas agar surat itu terbaca seakan benar-benar berbicara dengan rasa yang tepat. Dan semoga rinduku yang sudah menggebu ini juga sampai padamu dan Ibu (padahal alasan utama adalah karena Bapak dan Ibu tidak bisa mengoperasikan komputer sama sekali. Iya, Bapak juga benar saat berkata bahwa kadang romantis dan kere atau udik itu beda tipis hehehe…)

Demikian surat cinta dari putrimu, wahai Bapak Djoko yang tetap joko sampai kapanpun. Salam sayang dan rindu untuk Bapak dan Ibu. Semoga kalian sehat dan bahagia selalu.

Wassalamualaikum Wr Wb

Moru – Alor – NTT
January 30th 2013

%d bloggers like this: