Archive for the ‘ PTT ’ Category

2013 ~ 2014

Postingan tentang pencapaian tahun 2013 dan resolusi untuk 2014 mulai bermunculan di linimasa Twitter. Juga Path. Dan Facebook. Lalu saya pun merasa tergelitik untuk membuat postingan serupa. Latah? Bisa jadi. Selain lagi kangen ngisi blog, saya juga ingin menuliskan sebuah rekam jejak betapa tahun 2013 (dan tahun-tahun sebelumnya) memberi banyak kesempatan dan keajaiban.

Awal tahun 2013 dimulai dengan sebuah kejadian menegangkan di rumah dinas Moru. Kejadian yang membuat saya merenung bahwa sesungguhnya saya belum sekuat yang saya pikirkan. Namun selain kejadian tidak menyenangkan itu, ada pula sebuah email gembira tentang cerpen saya yang lolos seleksi di sebuah kompetisi. Harapan saya merangkak naik. Satu pertanda bagus di tahun ini.

Lalu Maret datang dengan dua kabar bahagia. Pertama, Dua cerpen saya lolos di Random 2, sebuah kompetisi menulis yang diadakan oleh @NBC_IPB (salah satu cerpen saya masuk di posisi kedua). Saat mengetahui hal itu, saya benar-benar bersyukur atas sebuah kegagalan. Belum mencapai tengah tahun, tapi sudah ada tiga cerpen yang diterbitkan karena kengangguran di masa PTT di Alor. Agak jumawa, sih. Tapi bangga dengan diri sendiri boleh dong, ya hehehe…

Kedua, pada pertengahan bulan Maret Ibu akan diwisuda. Sebuah momen haru di mana akhirnya Ibu benar-benar memuaskan nafsu belajarnya yang bertahun-tahun tertunda demi adik-adik, suami serta anak-anaknya. Sebuah penyemangat bagi saya untuk mengobarkan lagi mimpi yang pernah dipaksa padam. Sebuah titik yang membuat saya kembali bertanya, “Maumu apa?”

Pertanyaan itu tetap menghantui hingga bulan April, ketika saya berkesempatan berdoa di tanah suci, dengan membawa serta segala cita-cita dan cinta yang berdesakan di kepala. Tidak usah ditanya bagaimana perasaan ini ketika berdoa tepat di depan Kakbah. Dada seakan mau meledak. Air mata tumpah ruah. Kalimat pinta yang telah disusun begitu panjang menguap begitu saja. Yang tersisa adalah perasaan berdosa, seolah-olah belum pantas meminta terlalu banyak. Sehingga yang berulang-ulang meluncur adalah, “Tuhan, mohon pilihkan yang terbaik untukku. Berikan cita-cita dan cinta di waktu yang paling tepat bagiku untuk bisa menerima semuanya.”

Sepulang dari umroh, kegalauan saya sedikit terobati dengan kabar menakjubkan. Cerpen saya yang dikabarkan lolos di bulan Januari telah diterbitkan melalui major publisher di dalam sebuah antologi (Antologi Cinta, ByPass, 2013). Akhirnya saya bisa merasakan degup gempita saat melihat buku yang covernya memuat cuplikan cerpen saya untuk pertama kalinya. Norak banget. Tapi jujur, saya menunjuk-nunjukkan buku antologi itu pada siapa saja ahahaha. Bocoran juga. Cerita di antologi itu adalah kisah cinta kedua orang tua saya. Dan mereka nangis bombay saat membaca cerpen saya itu.

Perlahan, kemantapan hati atas kebimbangan yang pernah saya tumpahkan di depan Kakbah itu datang. Di akhir bulan Mei, saya menetapkan pilihan, mengubah haluan, dan kembali mencoba setia pada cita-cita yang pernah dikubur dalam. Maunya, sekalian mantap pada bagian ‘cinta’nya. Tapi tapi tapi… (alah… ujung-ujungnya begini).

Bulan Juni, iseng-iseng saya masuk di sebuah komunitas pecinta flashfiction. Monday Flashfiction (MFF). Dan ternyata, saya tidak pernah menyesal! Ini adalah keluarga baru saya dengan orang-orang yang bersemangat luar biasa dalam hal menulis. Dan semangat itu menular. Ditambah lagi dengan sebuah pengumuman lomba menulis kembali membuat semangat menulis saya membumbung tinggi. Cerpen saya menduduki posisi ketiga. Subhanallah. Tidak pernah ada yang sia-sia. Termasuk sebuah kegagalan. Tidak hanya tiga. Tapi Tuhan menggenapkannya menjadi empat cerpen yang dimuat dan diterbitkan. Alhamdulillah…

Bulan Juli, saya mulai disibukkan dengan berbagai persiapan pendaftaran calon PPDS di sebuah perguruan tinggi negeri di Malang. Ketegangan mulai terasa. Perut sudah sering terasa mulas. Tidur berangsur kurang nyenyak. Namun ikhtiar ini masih panjang. Menjadi lemah sama sekali bukan pilihan. Yang ada hanya berjuang sampai perlahan doa-doa itu menjadi nyata.

Agustus dan September, dua bulan penuh ketegangan. Buku teks yang tak tersentuh sekian lama harus mulai kembali dibuka dan dibaca. Susah banget! Lebih susah lagi jika memikirkan tentang kemungkinan gagal lagi. Ah, untuk apa berburuk sangka pada Tuhan? Bukankah karena kegagalan saja, Dia telah menggantinya dengan pengalaman dan kejutan yang lebih luar biasa?

Dan bulan Oktober memberikan pos-pos kenangan yang luar biasa hebat. Alhamdulillah, sebuah pintu cita-cita terbuka. Saya diterima dalam seleksi calon PPDS. Akhirnya setelah sekian lama, bulan Oktober kembali bersahabat dengan saya. Setidaknya, tanggal 15 tidak saya lewatkan dengan memendam duka ahahaha… Sejak tanggal 8 Oktober 2013, saya bertekad untuk tidak pernah lemah pada tantangan. Jalan baru ini beronak dan berduri. Terjal, berpalung, dipenuhi jurang. Tapi sekali lagi. Tidak ada perjuangan yang sia-sia. Jangan mengeluh, Chil. Ingatlah betapa jarak dan waktu yang ditempuh demi jalan baru ini telah cukup melelahkan. Jangan sia-siakan semuanya. Jangan pernah.

Di bulan Oktober pula, saya ikut serta di MFF Idol. Sebuah pertarungan flashfiction yang seru dan unik. Saya merasa seperti benar-benar sedang ada di sebuah panggung. Panggung yang hampir membuat saya minder dan merasa tak pantas berdiri di atasnya. Keberuntunganlah yang membawa saya sampai di Grand Final. Dan menjadi runner up tidak begitu buruk, bukan? (menghibur diri sendiri).

Di penghujung tahun 2013 Masehi ini, saya kembali merenung dan merangkum rangkaian adegan yang menakjubkan. Meski ada rencana yang belum juga terwujud (kawin, salah satunya. Mwahahaha…), namun Tuhan telah banyak menganugerahkan keajaiban di tahun 2013. Kesempatan baru. Keluarga baru. Yang belum adalah cinta baru (tetep).

Pada sebuah perjalanan manusia, selalu ada titik-titik tertentu yang meninggalkan bekas semacam tato. Susah dihilangkan. Jika bisa, pasti akan sangat menyakitkan. Termasuk puncak kegagalan di tahun 2011, tahun yang memberi tamparan bahwa cita-cita dan mimpi akan setia jika kita pun bersikap demikian. Pengkhianatan nasib terhadap saya adalah hasil dari pengkhianatan terhadap mimpi diri sendiri. Maka datanglah tahun 2012 yang saya sebut sebagai tahun pelarian atas kegagalan di tahun sebelumnya.

Namun pada akhirnya saya menyadari. Betapa Tuhan telah memberi jalan yang lebih baik dari rencana manusia. Semua kegagalan terjawab dan terbayar satu persatu di tahun 2013. Jalan-jalan ke Alor, kenal dengan dunia menulis, menerbitkan buku, lalu diterima sebagai residen. Luar biasa, bukan?

Mengeluhkan nasib adalah kebiasaan manusia. Karena manusia hanya mampu berpikir sejengkal saja. Sedangkan semesta milik Tuhan adalah keajaiban tak terbatas. Ada banyak kejadian yang kita kira adalah kebetulan belaka. Atau banyak kerikil yang kita pikir menjadi penghalang perjalanan. Tapi seringkali manusia lupa. Bahwa tidak ada selembar daun jatuh pun yang tanpa campur tangan Tuhan. Dia yang paling tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih tepat, dan ada saat lain yang lebih akurat. Dan hanya satu yang menjadi tugas manusia. Tetap percaya.

***

Malang, December 31st 2013

Di antara rinai hujan pengiring malam pergantian tahun

Sebuah Perjalanan Bersama Izar

Batu Putih - Alor - NTT (by: @noichil)

Batu Putih – Alor – NTT (by: @noichil)

Deru motor membelah sunyi Alor yang masih pagi. Helm di kepalaku seakan oleng dan hampir terbang meski sudah kukunci erat-erat. Aku tidak mampu melepaskan tangan dari pinggangnya. Terutama saat laju motor sedikit tersendat ketika ditantang sebuah tanjakan berbatu yang, sewaktu-waktu, bisa membunuh kami berdua.

Gila.

Laki-laki di depanku ini gila.

Berkali-kali mulutku mengoceh, “Awas!” “Ati-ati!” “Aaargh!” Namun ia hanya melirikku lewat kaca spion, tersenyum dan kembali mengaduk-aduk adrenalinku.

“Nyetirmu gila!” ujarku sesampainya kami di pantai Batu Putih.

Debur ombak terdengar merdu. Kapal-kapal nelayan terombang-ambing dalam bisu. Sedangkan di ujung sana, sekita tiga ratus meter dari tempat kami berpijak, bongkahan bebatuan berwarna putih berdiri gagah. Seakan-akan, mereka menolak untuk cemburu, pada laut yang hanya mengejar bibir pantai untuk dicumbu.

“Tapi bola matamu berbinar, Shaula. Aku tahu. Kamu suka,” gumamnya.

Pipiku memerah. Benar-benar tidak ada yang bisa kusembunyikan dari laki-laki di depanku. Iya, dia selalu tahu. Kadang-kadang aku benci dia begitu. Tapi lebih sering, aku justru suka dia begitu.

“Seru! Deg-degan! Tapi … ya, aku suka,” jawabku sambil tertawa.

Izar menyunggingkan senyum. Meraih keranjang piknik kami dengan tangan kirinya, lalu berjalan ke arah bebatuan putih di ujung sana. “Manusia. Sudah tahu berbahaya. Tapi tetap saja tertawa saat mampu melewatinya.”

Aku terkekeh. Benar. Tidak ada yang tidak berbahaya sejak aku dan Izar jadian. Naik gunung, bungee jumping, paralayang, serta menyelam. Menjelajahi bumi, mengitari langit, juga merenangi lautan. Laki-laki ini adalah umpan yang luar biasa sempurna untukku bisa keluar dari zona nyaman yang itu-itu saja.

Kukeluarkan sebuah kamera saku dan mulai memindai pantai yang menakjubkan. “Bukankah itu intinya? Seperti yang pernah kamu bilang. Tidak peduli seberapa cepat, melewati jalan yang terjal, berombak atau terjebak badai, perjalanan panjang dan melelahkan akan terbayar dengan kepuasan saat kita sampai di tujuan,” ujarku.

Izar menoleh dan tersenyum. Nampak bangga padaku yang rupanya sudah paham betul apa yang ada di dalam kepalanya.

Batu putih sudah terpampang di depan mata. Megah. Kokoh. Bongkahan rahasia yang tidak mudah dihancurkan. Sama seperti catatan Tuhan tentang perjalanan manusia. Tidak ada yang tahu.

“Kalo gitu … mau kuajak ke sebuah perjalanan yang lebih gila? Perjalanan panjang yang mungkin lebih terjal, lebih berombak, lebih banyak badai yang melelahkan. Tapi aku ingin membagi kebahagiaan yang sama denganmu saat kita sampai nanti,” kata Izar tiba-tiba.

“Ke mana?”

Tangan kanan Izar meraih tanganku yang bebas, “Nikah, yuk.”

***

Flashfiction ini diikutsertakan dalam Giveaway Perjalanan oleh @ManDewi

So Long, Alor.

Sebulan penyesuaian, dua bulan di puskesmas Kabir, dan sembilan bulan di puskesmas Moru.

Lalu apa yang didapat? Jika bisa, maka pertanyaan ini akan saya skip dan mari kita duduk bersama, berjam-jam, jika perlu hingga senja berganti berpuluh hari dan cangkir kopi kita telah beratus kali diisi.

Setahun yang lalu, nama saya tertera (bersama enam nama lainnya) di laman ropeg sebagai salah satu dokter PTT yang akan ditugaskan ke sebuah kabupaten antah-berantah bernama Alor. Sebuah kepulauan yang sebelumnya, keberadaannya tidak pernah saya ketahui. Tentu saja, kepergian saya di bandara, yang pada saat itu dilepaskan oleh berpuluh pelukan orang tua saya, meninggalkan isak tangis yang cukup dramatis. Selanjutnya, saya akan berada di sebuah lingkungan baru yang sama sekali tidak saya ketahui bagaimana cara menghadapinya.

Saya dan keenam rekan PTT periode April 2012 (@mareretha, @aninouz, @aprilianayu, @Rizki__MD, Ferry Fong dan Ilman), tiba di Alor pada tanggal 5 April 2012. Sesampainya di Alor, kejadian-kejadian unik sudah mulai bermunculan. Mulai dari kamera saku yang mati total karena tercemari air laut Sebanjar sehingga harus dikirim ke Jawa untuk direparasi, drama yang berhubungan dengan penempatan dokter PTT, keracunan massal di sebuah rumah makan Padang dua hari sebelum berangkat ke Kabir, dan peristiwa-peristiwa lain yang saking banyaknya, saya harus menyediakan waktu dan memori khusus untuk menceritakannya kembali.

Kemarin, saya ditanya, “PTT itu enak, ya?” Dan saya sempat terdiam beberapa detik. Enak adalah kata yang subyektif. Dan secara keseluruhan, saya bahagia pernah melalui masa-masa PTT.

Banyak kasus unik yang saya dapatkan selama PTT ini. Mulai dari tangan yang hancur karena tergilas balok es atau tangan yang koyak karena digigit babi, retensio plasenta yang tertunda ditangani karena pustu tidak terjangkau oleh sinyal komunikasi, kasus KDRT yang dianggap wajar, hingga amputasi jari tangan yang terpaksa dilakukan dengan gergaji besi berukuran kecil karena tidak ada perlengkapan yang memadai. Dengan keterbatasan peralatan, listrik, obat dan juga transportasi (terutama ketika saya berada di Kabir), rasanya cukup membuat otak saya bekerja lebih keras dari biasanya agar masyarakat mendapatkan penanganan yang layak.

Belum lagi budaya, kebiasaan dan bahasa yang berbeda yang tentunya harus dipahami. Sakit setengah mati untuk orang Alor adalah sakit cenut-cenut. Nyeri punggung hingga tidak bisa berdiri untuk orang Alor adalah pegel linu yang masih bisa digunakan untuk berkebun. Batuk hingga napas terasa mau habis untuk orang Alor adalah batuk keras yang terjadi tiap kali mereka mengisap rokok. Perbedaan nilai dan rasa antara saya dan warga Alor yang demikian memang cukup memusingkan ketika mendiagnosis dan memberikan terapi. Tapi beruntung ada staf puskesmas yang membantu dan mempermudah pekerjaan saya. Meskipun ritme bekerja kami sangat berbeda, tapi mereka benar-benar membantu saya dan menjadi keluarga di tempat yang asing.

Atas: Bersama staf puskesmas Kabir. Bawah: Bersama staf puskesmas Moru

Atas: Bersama staf puskesmas Kabir. Bawah: Bersama staf puskesmas Moru

 

PTT juga bukan sekadar perkara melatih kemampuan dan keterampilan. Tapi juga tentang persaudaraan. Bahkan kebersamaan itu sudah terasa sebelum saya sampai di Alor. Terima kasih banyak untuk @nugroho_bismo sebagai seksi sibuk sejak mengetahui kami diterima di Alor, mencarikan tempat kos, menjemput ke bandara ketika kami datang ke Alor untuk pertama kali dan menjadi pemandu kami dalam bersosialisasi dan berekreasi. Sukses ya, PakDok untuk residensinya.

Sok kenal, sok dekat. Itulah saya pada @keke_raid. Ketika datang ke Alor, Keke sedang pulang kampung, sehingga sampai di Alor, saya tidak kenal Keke. Bismo menunjukkan beberapa video dan foto Keke sebagai artis Alor (ahem). Dan entah kenapa, saya tergoda untuk menghubungi Keke dan menitip sebuah novel padanya. Rasanya urat malu ssaya abaikan demi bisa membaca novel Partikel yang memang baru diluncurkan ketika kami sudah berangkat ke Alor. Dan setelahnya, banyak moment yang kami lahap bersama. Curhat, masak, jalan-jalan. Terima kasih atas semuanya, Butet. Semoga ujian PPDSnya sukses dan bisa jadi dr. Anike Natalina Sirait, SpB yang keren!

Jauh sebelum datang ke Alor, seorang sahabat sering berkisah tentang seorang dokter gigi dengan banyak bakat. Dan ketika bertemu dengan drg. Puteri Gading, rasanya saya ingin memberikan sebagian lemak padanya. Kurus banget! *ditampol*. Tapi perkataan @si_nu memang benar, Gading adalah perempuan multitalenta. Balet, fotografi, dunia perkopian, ilustrasi dan gambar, bermusik, duh… apa lagi yang Gading tidak bisa? Terima kasih @jinggakecil sudah menyediakan studio foto berkali-kali, membuatkan saya kopi yang enak, meminjami saya alat snorkel dan sebagainya-sebagainya-sebagainya. Sukses ujian PPDSnya!

Ketika awal bertemu di dinas kesehatan provinsi, pertama kali yang terlintas di pikiran saya saat bertemu @mareretha adalah, “Oh… Ini mantan adiknya Odhi.” *pilin-pilin ujung jilbab* Dan selanjutnya, Retha adalah partner in crime selama di Alor. Pintar berdandan dan suka travelling. Pernah takut melihat wajah saya yang tiba-tiba jutek karena kecapekan (hehehe…). Retha sangat serius menulis. Rasanya setiap di kamar, anak ini ngetik terus. Terima kasih, Retha untuk setahun ini. Goodluck untuk proyek novelnya, yah. Semoga jadi dr. Maretha Primariayu, SpKK sekaligus penulis yang sukses!

@aninouz dan @fatimah_hsn adalah dua perempuan yang pernah serumah (dinas) dengan saya. Tidak diragukan lagi, pasti keduanya pernah (atau sering) jadi sasaran kejutekan saya jika bad mood sedang melanda. Sampai sekarang, rasanya masih teringat bagaimana kepanikan saya mencari sinyal untuk posting blog pernah merusak suasana dan meletupkan salah paham. Untuk Anin dan Ifat, terima kasih untuk kerja samanya. Semoga Anin sukses dengan jalan-jalannya, dan Ifat sukses untuk rencana-rencananya.

Kepada @DedyPraja, Bima dan Nyoboy yang mengaku takut dengan kejudesan saya (ahahaha…) semoga dilancarkan semua rencana cita-cita dan cintanya. Semoga di lain kesempatan, Bima kembali bisa menyutradarai pembuatan video klip temu kangen dokter/dokter gigi PTT Alor.

Kepada @pascalia_anna, maaf kemarin tidak sempat pamit langsung. Ayo sekolah lagi! Kepada @aprilianayu, pasti betah di tempat PTT baru hehehe… Goodluck yah. Kepada dokter selebtwit @Rizki__MD, semoga lancar rencana sekolah dan kiash kasihnya (ahem). Kepada @ezradebento, kapan nih jadi direktur rumah sakit? xD

Kepada mbak Gabrielli @GaluhKiting, semoga sukses proyek memakai softlensnya hehehe. Kepada @kaykaira, semangat menjaga Mebung, Kaka. Kepada @drg_ninaricci, ayo segera disahkan sama Fong! Kepada @bangun_lg dan kak @N3NSH3, semangat dalam menjaga Alor yah. Siapa tahu tahun depan ada nama kalian di daftar pejabat Alor x))

Kepada @hewod_87, salut sama PakDok satu ini! Semoga lancar PTTnya dan segera kembali ke keluarga tercinta. Kepada @tichewaaw dan @okarahaditya, semangat di RSB, ya. Mudah-mudahan puskemas Moru segera diisi dokter baru. Kepada @tika_widz dan @ariyoga64, terima kasih sudah sering diajak jalan-jalan dan diajari snorkeling. Mari jalan-jalan ke Bromo! Kepada Mira, Intan, Ferdian, Santoso, Maramis, Novita, dan Desi, baik-baik, ya, kalian di Alor.

Kepada kalian, semua saudara seperjuanganku selama di Alor, setahun atau beberapa bulan bukan waktu singkat yang meniadakan arti kebersamaan. Kalian adalah alasan dan penyemangat setiap kali saya merasa jenuh atau bosan. Saya mohon maaf atas segala hal yang pernah bersinggungan dan tidak menyenangkan. Semoga persaudaraan kita tidak berhenti pada ucapan selamat tinggal.

Dokter dan dokter gigi PTT Alor

Dokter dan dokter gigi PTT Alor

Banyak orang menganggap PTT adalah pengabdian. Tapi buat saya, PTT lebih dari pengabdian. Ini adalah tantangan untuk diri sendiri. Jika dilihat dengan hitung-hitungan ala pedagang, dengan jam pekerjaan yang cukup santai dan pendapatan yang besar, PTT adalah pekerjaan yang menjanjikan. Bisa jadi, PTT adalah zona nyaman baru. Tapi bagaimana pun, banyak hal yang tidak bisa dihitung. Semua itu tergantung pada apa tujuan yang ingin dicapai dengan berangkat PTT. Selembar surat SMB, pengalaman, tantangan, gaji, jalan-jalan, atau jodoh (lalu terdengar lagu We Found Love-nya Rihanna. Ahem). Salah satunya bisa kita dapat. Dan saya jamin, yang lainnya bisa juga didapat sebagai bonus. Maka, bagi dokter-dokter yang baru lulus, berangkatlah PTT. Nikmati petualangan di tanah yang asing. Dan temukan semua hal yang tidak didapat di ranah kelahiranmu. Saya? Yang saya dapat? Yah, intinya, yang terakhir itu sepertinya sulit sih (,___, )7 *mendadak curcol*

So long, Alor. Terima kasih atas satu tahun yang menakjubkan. Till we meet again :*

***

Probolinggo, Maret 2013

Antara MTV, Hyun Bin dan Kamis Sore Yang Menakutkan

Kamis, 31 Januari 2013. Kamis pagi cukup cerah dan tidak terlalu melelahkan. Pasien di puskesmas Moru tidak sebanyak biasanya. Bahkan kami, tiga dokter puskesmas Moru, sempat berbagi cerita tentang novel dan film. Meski ada satu waktu dimana obrolan kami terinterupsi seorang pasien dengan TB paru yang telah mengalami drop out OAT sebanyak dua kali.

Jam sebelas siang, kami beranjak meninggalkan puskesmas. Ifat dan Nina (Ricci) pergi ke kota Kalabahi untuk sebuah urusan. Sedangkan saya tetap tinggal di rumah dinas dan bersantai. Beginilah kegiatan dokter PTT. Tampak begitu santai dengan jam kerja (resmi) yang pendek. Jam sebelas siang sudah berada di rumah. Tetapi sesungguhnya, di luar jam itu, kami diwajibkan siap untuk melayani pasien dengan kondisi gawat dan darurat.

Tapi mulai dari paragraf ini, cerita ini tidak berjalan setenang Kamis di pagi hari. Cerita ini akan membawa kita pada jabaran yang cukup panjang (atau karena cara penyampaian saya yang sedikit lebay). Maka siapkan cemilan dan minuman ringan sebagai pendamping. Jangan lupa, bagi-bagi pada mereka yang belum gajian :”(

Sekitar jam setengah satu siang, Irma Boling, nona yang tinggal bersama kami, pergi ke desa Boteng untuk mengambil sirih yang akan dijual di pasar. Irma adalah nona asli Alor yang selama ini membantu dokter-dokter PTT di Moru. Termasuk kami. Anaknya lucu, sering meledak-ledak ketika berbicara tapi pintar memasak.

Setelah kepergian Irma, saya sendirian di rumah dinas. Segera saya kunci semua pintu dan jendela, sambil mengecek apakah masih ada keributan di teras rumah. Dan benar saja, segerombolan anak muda masih nongkrong di teras sambil makan kacang, tapi tanpa nongkrongin MTV (yakalik). Sebenarnya keberadaan mereka cukup mengganggu. Karena selain kongkow dan makan kacang, mereka tidak segan minum sopi atau jenis alkohol lain sehingga mabuk di sekitar area rumah dinas dokter dan puskesmas. Tapi keluhan seperti ini, hanya dianggap angin lalu oleh pihak puskesmas.

Pernah sekali, Irma menegur mereka ketika berbuat demikian. Tetapi yang didapat adalah ancaman, “Awas saja eee. Kalo sebentar malam kita ada mabuk, kita lempar ini rumah!” Dan mereka membuktikan ancaman itu. Atap rumah dinas dilempar pada malam harinya, tepat saat kita memasuki sudah rumah setelah menjahit luka seorang remaja yang robek karena terkena kayu. Kejadian itu juga telah kami sampaikan kepada staf puskesmas, tetapi tindak lanjtunya nol besar. Jadilah kami menahan-nahankan diri mendengarkan mereka berteriak-teriak, mengumpat atau menggebrak dinding rumah dinas.

Lalu apa kegiatan saya ketika sendirian seperti Kamis siang itu? Ya apalagi jika bukan nonton TV. Siang itu, RCTI sedang memutar ulang tayangan audisi X-Factor Indonesia. Kebetulan sekali, saya memang belum pernah nonton acara ini (iya, saya kasian banget). Taufik Hidayat dari Ternate ini suaranya unik, jilbab membuat Rossa semakin cantik, dan kenapa Anggun hanya titip nama sebagai juri?

Ah entahlah. Yang jelas, tidak beberapa lama saya menikmati acara ini, tiba-tiba saya mendengar suara teriakan yang saling bersahut dari luar rumah. Waktu itu sekitar pukul setengah tiga sore. Saya mengintip dari balik jendela depan. Yang terlihat adalah dua motor yang salah satunya berwarna kuning, terparkir manis tepat di depan pintu rumah, seorang anak yang kira-kira berusia sepuluh tahun bermain-main dengan pagar besi puskesmas, dan anak muda yang tadi bergerombol di teras kini berkeliaran di jalan aspal dengan gerakan yang mulai sempoyongan. Saya tidak bisa memastikan, tapi mengingat kebiasaan anak muda Moru, kemungkinan besar mereka sedang dalam keadaan mabuk. Saya hanya berdoa di dalam hati, semoga tidak ada baku pukul atau kekerasan lain.

Tidak lama setelah itu, saya tertidur di depan televisi. Dan bangun pada jam empat sore. Segera saya mengambil air wudhu dan sholat Ashar. Setelah itu, kembali saya mengintip dari balik jendela kamar kondisi di luar rumah. Orang-orang masih ada di luar, berlalu-lalang di jalan. Sesekali teriakan kembali terdengar. “Puki … puki … puki …!!!” begitu bunyinya (jangan ditiru. Puki itu umpatan kasar (tapi ditulis juga di blog (ini kenapa bisa ada tanda kurung di dalam tanda kurung yang berada di dalam tanda kurung? #KurungCeption))).

Saya menutup jendela dengan korden lalu kembali menonton TV. Kali ini adalah serial lama Korea berjudul My Lovely Kim Sam Soon. Ya, sebenarnya saya sudah pernah menonton serial ini. Tapi dulu sekali. Waktu Hyun Bin masih sedikit cupu dengan jas berwarna pink tapi Daniel Henney tetap ganteng.

Di tengah keharuan saya melihat Sam Soon yang diPHPin (lagi) oleh Sam Shik, sekitar pukul setengah lima sore, saya dikagetkan oleh suara debum keras di dinding samping rumah dinas. Keras sekali. Dinding yang saya jadikan sandaran punggung pun ikut bergetar. Rumah ini telah dilempar oleh sesuatu. Kala itu, jantung saya langsung berdetak sangat kencang. Sampai-sampai saya bisa mendengarnya melalui telinga sendiri. Napas saya memberat, seperti tertahan oleh perut yang mulai terasa mulas.

Dan ketakutan menyergap dengan cepat ketika dinding rumah sebelah depan berdebum lagi dua kali. Rumah ini dilempar lagi. lalu suara umpatan puki terdengar lagi, bahkan semakin riuh. Duh Gusti… Jujur, saya tidak pernah setakut ini (well… pernah sih. Ketika itu saya sedang koass interna dan akan mempresentasikan laporan kasus SLE, padahal malam sebelumnya saya jaga di UGD sehingga sama sekali tidak belajar #KhasKoass #CeritaYangKeluarJalur).

Setelah mendengar bunyi lemparan, merasakan tembok rumah yang bergetar dan suara makian dari luar sana, rasanya bingung mau berbuat apa. Dan refleks untuk meminta pertolongan pun seperti mati rasa. Dengan dada yang berdebar, saya mengintip dari balik jendela kamar. Di depan warung bakso, terdapat seorang lelaki di atas motor yang sepertinya ditenangkan oleh beberapa orang. Sedangkan yang lainnya sedang menenangkan seorang lelaki berbaju biru yang berjalan sempoyongan. Lalu lelaki berbaju biru itu berjalan cepat ke arah lelaki di atas motor sambil mengacungkan bogem tangannya. Tapi warga segera melerai. Saya melihat beberapa orang menyeret si lelaki berbaju biru ke tempat yang agak sepi.

Kamis sore di Moru mendadak seperti terjadi peperangan. Umpatan dan teriakan terdengar dari mana-mana. Segera saya mematikan televisi dan listrik, lalu berbaring dan meringkuk di lantai dan memutuskan untuk tidak berbuat apa-apa (bisa kebayang kan bagaimana #GalauAbis-nya saya). Saya tidak berpikir untuk mengatakan kehebohan ini kepada siapapun, bahkan nyali saya sudah menciut ketika mendengar pintu belakang digedor oleh seseorang. Dalam hati, saya berdoa agar keributan di luar sana segera berakhir dan Ifat atau Irma segera datang. Setidaknya, saya tidak sendirian.

Jam setengah enam, kericuhan sudah berakhir. Tapi saya tetap merasa tidak aman dan ketakutan. Lampu sengaja saya biarkan padam. Saya meringkuk dalam gelap dan sepi, serta memainkan game burung-burung yang marah karena mereka selalu dilempar-lempar ke segala arah. Kalian harus tahu, suara Angry Birds tidak pernah semenyenangkan ini. Hingga pada akhirnya Ifat datang pada jam enam sore. Saya segera menceritakan semuanya.

Usai sholat Maghrib, datanglah tiga orang polisi untuk meminta keterangan kami. Rupanya, Pak Camat telah melapor bahwa ada kejadian pelemparan terhadap rumah dinas dokter. Dan kami berdua kaget ketika melihat dinding rumah yang sudah pecah dan berlubang akibat lemparan batu yang cukup besar sore tadi (tembok rumah bagian depan juga ada yang sudah berlubang karena kejadian yang sama setahun yang lalu. Kaca jendela juga ada yang pecah. Tapi tadi lupa tidak difoto. Kapan-kapan deh ya…).

Sisi samping rumah dinas yang bolong. Pas di bagian kamar mandinya masaaa T.T

Sisi samping rumah dinas yang bolong. Pas di bagian kamar mandinya masaaa T.T

Rasanya perut saya mulas. Kondisi Moru sangat tidak aman. Rasanya ingin segera ke Kalabahi saja. Tapi malam ini, tentu jalan sekitar Moru tidak aman untuk dilalui.

Saya marah, tapi Ifat lebih marah lagi. Ifat sudah hampir dua tahun menjadi dokter PTT di Moru. Tahun lalu, ia mendapat perlakuan yang lebih tidak menyenangkan. Jendela kaca dilempar batu hingga pecah di tengah malam. Tetapi sejak saat itu, tindak lanjut dari pihak puskesmas bisa dibilang tidak ada. Dalih mereka adalah, semua itu terjadi karena anak muda yang sering mabuk. Kampret! Jadi mabuk bisa dijadikan pembenaran? Apakah benar mereka minum minuman keras di sekitar puskesmas, meracau tiada henti dengan suara yang mengganggu dan mendengarkan musik dengan volume sangat kencang hingga dari malam hingga shubuh? Bahkan pernah ketika saya terbangun dan bersin-bersin pada pukul tiga dini hari,  mereka justru menertawakan dan menirukan suara bersin saya dari luar rumah dinas. Menyebalkan, meski sebenarnya lucu juga mendengarkan orang mabuk merasa lucu mendengarkan suara bersin saya yang lucu #LucuCeption.

Akhirnya, Jumat pagi, saya dan Ifat memutuskan untuk tidak melakukan pelayanan di puskesmas dan melaporkan kejadian tidak menyenangkan itu ke polsek setempat. Meskipun saya tahu bahwa hal ini mungkin tidak memberikan banyak perubahan dan sebenarnya bukan wewenang saya untuk melaporkan hal itu secara langsung, karena bagaimanapun lokasi rumah dinas masih di bawah tanggung jawab. Tapi menunggu kepala puskesmas turun tangan rasanya tidak mungkin. Ketika kabar ini sampai pada beliau, beliau hanya berkata (via sms), “Iya, laporkan saja ke polisi agar segera diketahui pelakunya.” Itu saja. Bukan perlindungan atau jaminan keamanan terhadap tenaga medis yang menjadi tanggung jawabnya.

Baru sekali ini saya dan Ifat berada cukup lama di kantor polisi. Pagi tadi, jam setengah sembilan, kantor polsek Alor Barat Daya (Abad) masih sepi. Tetapi salah seorang polisi yang semalam mengunjungi rumah dinas rupanya sudah ada di sana. Beberapa saat kemudian, Kapolsek bergabung dan kami mengobrol tentang kejadian Kamis sore. Mereka berkata, bahwa tidak ada saksi terhadap kejadian pelemparan rumah dinas dokter.

Omong kosong! Mana mungkin tidak ada saksi? Sedangkan sekitar rumah dinas dan puskesmas saat itu dipenuhi oleh orang-orang yang turut menyaksikan keributan antar remaja yang sedang mabuk. Dalam hati saya membatin, mungkin orang-orang itu takut dijadikan saksi. Mereka takut anak-anak pemabuk itu nekat dan membalas dengan perbuatan yang lebih gila.

Kapolsek keluar dari ruang reskrim. Dan dari dalam ruangan kami mendengar Kapolsek sedang memarahi beberapa orang yang diduga pelaku pelemparan rumah dinas. Polisi yang sedang menerima aduan kami berkata, bahwa sudah ada 8 orang yang dikumpulkan. Ia bertanya, apakah saya sempat melihat atau mengingat wajah orang yang melempari rumah dinas. Tentu saja tidak. Jangankan melihat wajahnya, membuka pintu rumah saja saya tidak berani. Dan di sinilah penyesalan saya muncul. Kesulitan mengingat wajah rupanya sangat penting, terutama untuk kasus-kasus seperti ini. Setidaknya saya bisa mengingat wajah-wajah yang biasa nongkrong di teras rumah dinas, kan. *sigh*

Kapolsek berkata, bahwa ia akan menghukum anak-anak itu hingga mereka mengaku siapa yang melempar rumah kami. Oh well … MANA ADA MALING NGAKU NGELEMPAR RUMAH? Iya, memang tidak akan ada. Maling ngaku maling juga tidak pernah ada (masukkan emoticon rolling eyes di sini. Bukan Rolling in the deep). Apakah kalian semua ingin tahu apa hukuman bagi mereka? minum sopi sampai teler. Ya, silakan berhening ria.

Sama saja dengan maling dikasih berlian, pengguna narkoba dimasukkan ke gudang putaw, atau pencuri hati disuruh kawin. Saya dan Ifat berpandangan. Hukuman macam apa itu? Kami semakin tidak mengerti ketika dengan bangga pak Kapolsek berkata bahwa ia sudah menyediakan 20 L sopi untuk mereka. Astaga… Pak… Jika ada kasus intoksikasi alkohol karena kejadian ini, bukankah kami lagi yang repot? #NangisDarah

Sepulangnya dari kantor polsek, kami segera bergegas kabur ke kota Kalabahi. Kami sudah mengajukan ijin untuk tidak melakukan pelayanan sampai kondisi aman dan ada jaminan keamanan serta penyelesaian dari pihak puskesmas, dinas kesehatan atau kepolisian. Sebenarnya, hal lain yang membuat kami #NangisDarah juga adalah kedelapan orang tersangka (yang sebentar lagi berpesta sopi) itu mengetahui kami melapor ke polisi. Kami tidak tahu, nantinya, apakah mereka akan menuntut balas karena telah menyebabkan mereka berada di kantor polisi, atau justru berbahagia karena di kantor polisi tersebut mereka mendapatkan sopi yang melimpah secara gratis. Iya, rasa takut dan terancam itu tidak otomatis hilang dengan melapor pada polisi. Tapi yang terjadi adalah keparnoan itu semakin tumbuh dan bersarang di mana-mana.

Kami sudah siap mencegat angkot. Tetapi ada kehebohan (lagi) yang terjadi di depan rumah dinas Moru. Muncul Kapolsek sambil memapah seorang remaja pria dengan baju putih yang berlumur darah, “Ibu Dokter, tolong dulu ko …”

Damn. Bagaimanapun, hati nurani tidak bisa dibohongi. Meski sebenarnya saya kesal sekali, tetap saja saya tidak sampai hati melihat anak itu kesakitan. Saya dan Ifat menuju ruang UGD dan melihat luka anak itu. Luka itu disebabkan oleh tusukan pisau. Beruntung lukanya tidak terlalu dalam (dibandingkan luka di hati saya). Kak Billy, seorang perawat yang menemani kami sudah menyuntikkan satu ampul Lidocain sebagai bius lokal sebelum kami menjahit luka itu. Tapi area sekitar luka anak tadi tidak juga mati rasa. Iya, jawabannya adalah karena anak itu baru saja minum sopi. Kampretos, Leee! Sudahlah. Jahit saja.

“Nyong, kalo lu mau minum sopi, jangan beli di luar eee. Datang sa ke puskesmas. Saya kasih ini alkohol 70% buat lu minum sampai puas!”

Saat itu, saya tidak peduli dengan teriakan anak tadi. Karena dia, dan mungkin juga sebagian besar anak-anak Moru lainnya, tidak peduli pada uang orang tua yang mereka gunakan untuk bermabuk ria. Mereka tidak peduli pada harapan orang tua ketika menyekolahkan mereka. Dan mereka tidak peduli pada lingkungan sekitarnya.

Untuk sementara, saya mengungsi di kota Kalabahi dulu. Doakan agar keadaan di Moru segera aman, tentram dan sentosa. Aamiin…

***

Kalabahi – Alor – NTT

February 1st 2013

 

* Sebenarnya ndak ada hubungan antara MTV, Hyun Bin dan Kamis sore. Biar pada penasaran aja sih ya… #dijitak

Berpetualang Ke Wolang

My heart is sinking as I’m lifting up above the clouds away from you
And I can’t believe I’m leaving
Oh I don’t kno-kno-know what I’m gonna do

Tulisan ini ndak ada hubungannnya dengan lagu Simple Plan di atas. Hanya sebagai lagu pengiring dalam menulis cerita ini ehehehe ^^

Akhir tahun selalu menjadi saat yang cukup sibuk. Laporan. Dan di Puskesmas Moru, laporan belum bisa dibuat mengingat banyaknya program kegiatan yang belum terlaksana. Konsekuensinya adalah selama kami meningkatkan kecepatan kerja dan berusaha melaksanakan semua program kegiatan.

Beberapa program itu adalah kunjungan kemitraan dukun dan kader ke desa-desa, serta puskesmas keliling ke daerah yang sulit. Salah satu daerah sulit itu adalah Wolang, sebuah desa cakupan Probur, sekitar 2 – 3 jam dari Moru.

Puskesmas Moru adalah puskesmas utama di kecamatan Abad, Alor Barat Daya. Mencakup 20 desa, termasuk Probur. Probur adalah daerah yang cukup terpencil. Berada di bukit dengan kondisi jalan yang menyedihkan. Probur sendiri memiliki dusun-dusun, salah satunya adalah Wolang. Dusun terisolir dengan sekitar 20 kepala keluarga.

peta+alaor_edit

Untuk mencapai Moru, warga Wolang harus menggunakan jalur laut sekitar dua jam (tergantung perahu motor dan gelombang lautnya). Sebenarnya Wolang bukan pulau tersendiri, masih berada di satu daratan dengan Moru. Tetapi kondisi jalan darat yang tidak memungkinkan, maka jalur laut lebih mudah untuk dilewati.

Kamis, 29 November 2012, saya, dr. Ifat dan drg. Nina sudah siap berangkat sejak jam enam pagi karena sehari sebelumnya, staf puskesmas Moru telah sepakat akan berangkat jam tujuh pagi. Tapi, tidak bosan saya mengingatkan bahwa masyarakat NTT lemah dalam menghitung jarak dan waktu. Sehingga kami baru naik kapal sekitar jam setengah delapan pagi. Kondisi laut cukup tenang.

Sesekali saya merebahkan diri di dek kapal karena mengantuk. Tetapi pemandangan laut lebih menggoda. Kami melewati beberapa gua kelelawar yang cukup unik. Dan ada sebuah daerah berkarang yang berwarna merah.

image

Kami sampai di lautan Wolang sekitar jam sepuluh pagi. Tetapi kapal tidak memungkinkan untuk mencapai pantai Wolang. Maka kami semua harus menaiki ketinting, perahu kecil yang hanya bisa diisi 4 – 6 orang. Tidak perlu takut naik ketinting. Lihat saja lengannya. Jika ada dua, aman. Tetapi jika ada satu, maka jatuhkan berat tubuh ke arah lengan ketinting. Jika tidak ada lengannya, ya… jangan lupa berdoa untuk yang tidak bisa berenang [sweet smile].

Kami tiba di pantai Wolang sekitar pukul sepuluh pagi. Kami disambut wajah-wajah bahagia warga Wolang. Maklum saja, kunjungan pusling terakhir sekitar setahun yang lalu. Hanya segelintir orang yang mau berlama-lama di laut atau bercapek-capek di darat untuk menuju fasilitas kesehatan di Moru. Sebenarnya miris juga. Seharusnya dengan dana bantuan operasional kesehatan, Wolang bisa dijangkau setidaknya setiap satu atau tiga bulan sekali. Tetapi kadang-kadang, pemegang kebijakan di dalam puskesmas terlalu membesar-besarkan masalah bahaya dan keruwetan membawa sebagian fasilitas kesehatan ke tanah antah berantah. Padahal jka dikerjakan bersama, semua terasa lebih mudah. [Dengan catatan tidak sedang badai besar ya… *begidik*]

image

Di Wolang, tidak ada sinyal untuk komunikasi, listrik menggunakan generator, tetapi airnya jernih dan melimpah. Dan seperti yang saya sebutkan sebelumnya, Wolang dihuni oleh sekitar 20 KK saja. Rumah-rumah tersebar tidak terlalu jauh. Sehingga komunikasi bisa menggunakan kentungan. Saat kami sampai di balai pengobatan, kepala desa langsung memukul kentungan sebagai tanda warga harus berkumpul.

image

Pelayanan kesehatan dimulai dari jam 10:30 WITA. Kegiatan berjalan cukup lancar meski diwarnai drama seorang nenek yang tidak bisa bahasa Indonesia dan kami cukup kebingungan menerjemahkan keluhan beliau. Ketika kami mencari anaknya, sang anak hanya berdiri dengan wajah masam dan bersilang tangan di depan dada. Sang anak mendekati ibunya sambil marah-marah menggunakan bahasa lokal. Lalu pergi. Kami semua terheran-heran melihat tingkah lelaki yang kira-kira berusia 30an itu.

Saya teringat pada seorang nenek renta yang rutin datang ke poli puskesmas Moru. Komunikasi dengan geriatri memang dipengaruhi banyak faktor. Pendengaran, daya ingat, konsentrasi, dan kondisi fisiknya sendiri. Dan ketika saya menanyakan tentang anak, nenek itu menangis. Dia berkata dengan begitu pilu, “Anggap saja anak saya sudah mati semua!” Rasanya jantung ini ingin melompat dan berlari mendekat pada ibu. Doa seorang ibu itu seperti anak tangga yang mendekatkan mimpi kita agar bisa dipeluk Tuhan lebih cepat. Jika seorang ibu sudah menyumpah seperti itu, bagaimana seorang anak bisa hidup mulia di mata Tuhan?

Melihat kepergian anak lelaki dari nenek di Wolang tadi, seorang bidan berkata lirih, “Anak-anak Alor memang tidak cinta orang tua, Ibu…” Saya tidak menganggap ini ungkapan generalisasi. Tetapi melihat anak lelaki yang sehat dan kuat tadi meninggalkan ibunya yang sudah renta sendirian dalam keadaan sakit rasanya menyesakkan. Mungkin, dia benar-benar lupa dari siapa dia dilahirkan dan mendapat makanan pertamanya.

Pelayanan diakhiri pada jam 12:30 WITA. Dan dilanjutkan dengan makan siang. Lalu kami duduk santai di depan balai pengobatan. Bercanda dengan seorang anak perempuan bernama Naomi. Dia manis sekali. Senyum malu-malunya membuat seorang perawat Moru (Kak Malik) berniat menculik Naomi dan membawanya pulang.

image

Om Boma, supir ambulans Moru yang juga pemilik perahu motor yang kami tumpangi tadi memberi kabar, bahwa kami bisa pulang ke Moru sekitar jam tiga sore karena siang ini, gelombang masih cukup berbahaya. Saya, dr. Ifat dan drg. Nina berjalan menuju pantai dan duduk di tepinya. Menyaksikan ombak yang menggila. Seperti ingin menelan semua batu di pinggir pantai. Dan kami dibuat takjub oleh anak-anak Wolang yang berenang menantang ombak. Keren! [Balada baru bisa berenang. Selalu iri melihat orang-orang yang jago berenang.]

Tiba-tiba ada seorang nenek yang mendekati kami dan berkata, “Ibu Dokter, bisa minta tolong foto saya dulu?” Ahahaha… Senyumnya manis sekali, Nenek. Pasti waktu muda dulu menjadi primadona Wolang 😉

image

Setelah menikmati kelapa muda yang dipetik oleh Om Boma, kami bersiap meninggalkan Wolang. Kembali menaiki ketinting untuk menuju perahu motor yang diparkir di tengah laut. Lalu bergerak menuju Moru.

Di tengah perjalanan, Ifat berkata, “Kayanya nggak lega kalo nggak nyebur, Chil. Renang yuk!” Dan Om Boma menyetujui. Awalnya saya ragu. Secara lupa membawa pelampung. Tapi melihat Kak Malik, Om Boma, Ifat dan Nina nyebur, jadilah saya ikutan nyebur! Aaak! Beginilah seharusnya PTT! xD [Karena tidak ada manusia yang tidak suka main air.]

image

Kami sampai dengan selamat di Moru pada jam 17.30 WITA. Capek. Tapi senang! Entah apa pesan perjalanan ke Wolang kali ini. Yang jelas, setiap perjalanan pusling yang melelahkan, selalu menyisakan rasa syukur telah dilahirkan di tempat dengan fasilitas yang cukup. Pada hari itu, saya juga bersyukur bahwa orang tua saya telah memberikan teladan bagaimana seharusnya memuliakan dan mencintai orang tua. Dan sepanjang perjalanan itu, ada beban pribadi yang sedikit terbebaskan setelah beberapa hari mengalami perang dingin [bhahahaks…]. Kadang-kadang, kita tidak sadar bahwa tingkah laku kita sama sekali jauh dari kata dewasa. Emosi dan menghindar. Kita bisa saja menghindari jalan berduri dengan mengambil jalan lain. Dengan risiko, bisa saja kita akan menemui jurang tanpa dasar atau tebing yang sangat tinggi. Atau jalan itu justru menjauhkan kita dari tujuan akhir. [Sepertinya sudah melenceng jauh dari tema awal xD]

Anyway… Selamat Tahun Baru Masehi 2013. Semoga cinta dan cita-cita bisa direngkuh semua. Lalu bahagia selamanya. Aamiin. [lempar petasan]

But someday I will find my way back to where your name is written in the sand

Cause I remember every sunset I remember every word you said

“We were never gonna say goodbye”

Tell me how to get back to back to summer paradise with you

And I’ll be there in a heartbeat

***

Kalabahi – Alor – NTT

Dec 30th 2012

 

Pi Tapaleuk Ke Alor (Bagian Kedua)

Di bagian kedua ini, saya akan membahas tentang tempat-tempat yang wajib dikunjungi di Kepulauan Alor, baik yang di pulau Alor maupun Pantar. Sebagian besar tempat ini bisa dijangkau dengan oto atau motor. Tapi saran sih menggunakan motor. Dan untuk penginapan, di Kalabahi banyak hotel kok. Ada Pelangi, Nusa Kenari, Melati, dll. Tarifnya standar.

Untuk makanan juga ndak perlu khawatir berkurang selera makan. Makanan di sini hampir sama dengan di Jawa (secara yang jualan orang Jawa semua). Makanan tradisional biasanya kalo di daerah (lebih) terpencil. Sebagian besar warga Alor memodifikasi jagung sebagai makanan sehari-hari. Dikuliti (jagung bose), dicampur sayur (jagung ketema), atau ditumbuk dan dibuat cemilan (jagung titi). Cemilan khas lainnya di Alor adalah kenari (oleh karenanya Kalabahi disebut Kota Kenari). Dan ada sejenis lontong yang dicampur kacang merah, disebut kaleso. Enak nih, semacam lepetnya Jawa.

Image

Baiklah… [kretek-kretekin jari tangan]… mari kita runtut tempat-tempat yang semlohay dan smonighoy di Alor dan sekitarnya:

1. Batu Putih

Banyak yang trauma ke pantai ini. Kenapa? Karena untuk menuju ke pantai Batu Putih, harus melalui jalan yang cukup ekstrim. Sebenarnya kondisi fisik jalan cukup bagus. Tetapi yang jadi masalah adalah tanjakan ekstrim dan risiko nyungsep ke jurang. Saran, naik motor. Jangan mobil. Karena pernah ada pengalaman rombongan dokter PTT yang mengendarai mobil dan hampir nyungsep di jurang. Tapi saya sendiri sudah dua kali ke pantai Batu Putih. Satu perjalanan aman, satu lagi berhasil nggelundung bersama @mareretha (ehehehe…).

Image

Batu Putih berjarak sekitar 10 KM dari Mali, dan sekitar 30 KM dari Kalabahi. Pantainya berpasir putih dan  besar pasirnya seperti merica. Ombaknya cukup oke untuk berenang, tetapi tidak untuk surfing. Untuk snorkeling, sepertinya tidak disarankan. Karena ke tengah dikit, ombaknya sudah tidak bersahabat.

Disebut Batu Putih karena ada tebing berbatu yang berwarna putih. Sebenarnya bukan tebing Batu Putihnya yang menarik. Tetapi sunsetnya. sunset di sini sangat bagus. Sekali lagi, SANGAT BAGUS! Untuk mengejar sunset, setidaknya lepas Ashar sudah berangkat dari Kalabahi. Dan harap berhati-hati karena saat pulang, tidak ada penerangan jalan yang memadai. Sangat berbahaya untuk area yang berkelok-kelok dan tanjakan ekstrim.

2. Pantai Deere

Pantai Deere terletak sekitar 7 KM dari Mali, sebelum ke Batu Putih. Jalannya lumayan… parah. Tapi ndak jelek banget koook… (evil face).

Dulu ke pantai ini hanya sekali dan cuma numpang foto-foto. Pantainya berpasir yang lembut, dan sepertinya enak buat berenang (saat ke pantai ini belum bisa berenang soalnya. Ahiks).

3. Pantai Maimol

Ini adalah satu-satunya mall di Alor (digarukin ke aspal saking garingnya). Dan merupakan pantai yang selalu ramai tiap minggunya. Pantainya berpasir, gradasi warna birunya ciamik. Tiap hari minggu, banyak warga Alor yang berlibur di sini. Ada yang menyewakan ban untuk berenang (Rp 10.000,00 sepuasnya). Ada yang berjualan jagung rebus (Rp 2.000,00/biji) dan kelapa muda (Rp 3.000,00/buah). Dari Kalabahi, bisa naik ojek dengan membayar Rp 6.000,00.

Image

Pantai Maimol enak banget buat berenang. Tapi untuk snorkeling jangan. Mau piknik-piknik di sini juga asik. Ada yang jual ikan di sepanjang jalan, ya kali mau bakar ikan di pinggir pantai.

4. Desa Takpala

Desa ini adalah desa tradisional, kebanggaan Alor. Sekitar 13 KM dari Kalabahi. Bisa ditempuh dengan mobil atau motor, tapi keduanya tidak bisa sampai ke bukit Takpalanya. Harus parkir di bawah, lalu lanjut jalan kaki sekitar lima belas menit ke bukit Takpala.

takpala

Tidak ada listrik maupun sinyal. Kabarnya sih demi mempertahankan keaslian desa (kasian juga ya…). Air dialirkan dari sumber mata air. Ada tiga belas kepala keluarga yang tinggal di desa ini. Mereka menghuni rumah berbentuk limas persegi yang bertingkat-tingkat.

Di desa ini, kita bisa menyewa baju adat Alor untuk berfoto-foto. Kemudian dipandu oleh kepala suku yang akan menjelaskan tentang sejarah Takpala. Ada souvenir berupa kain tenun dan hiasan yang bisa dibeli. Setiap tanggal 20 Juni, ada perayaan Tifoltol yang berarti tanam baru. Biasanya rame banget nih kalo lagi Tifoltol. Saya sendiri malah belum sempat lihat Tifoltol, karena saat itu masih bertugas di pulau  Pantar. Ahiks.

5. Pantai Maukuru

Image

Pantai ini terletak di wilayah kekuasaan Bukapiting. Lumayan jauh dari Kalabahi, sekitar 1,5 jam perjalanan dengan motor. Pantainya berbatu yang bulat, tidak sakit dan tidak licin. Di pantai inilah akhirnya saya bisa berenang (penting dibahas). Sunsetnya bagus. Foto ini diambil dengan kamera Blackberry. Tapi tetep bagus kan :’)

6. Pantai Lola

Pantai ini terletak di wilayah kekuasaan Moru, sekitar 1,5 jam dari Kalabahi. Ombak di pantai ini agak berbahaya, jadi ndak disarankan untuk berenang karena karang-karangnya cukup besar dan tajam.

Image

Di dekat pantai Lola, ada pasar yang menyediakan hasil laut segar, seperti cumi, gurita, ikan, kerang, dan sebagainya. Daaan… pasar Lola terkenal dengan sopi-nya (tuak) yang konon, kadar alkoholnya cukup tinggi.

7. Pulau Kepa

Ini dia pulau yang menakjubkan. Pulau ini terletak di depan daerah Alor Kecil. Untuk menuju ke Alor Kecil, kita bisa menggunakan motor atau oto biru, sekitar satu jam perjalanan. Dari Alor Kecil, kita bisa menyewa perahu motor dengan harga bervariasi (tergantung besar kecilnya perahu motor, standar sih Rp 75.000,00). Perjalanan dengan perahu motor hanya sepuluh menit, dan sampailah kita di Kepa.

Image

Kepa adalah tempat yang BUAGUS untuk berenang, snorkeling dan diving (diving belum pernah nyoba sih, tapi kabarnya bagus). Pokoknya indah banget! Tapi sayang, pulau ini sudah disewa oleh warga asing, dijadikan resort gitu. Ada penginapan yang harganya Rp 600.000,00/malam (buat honeymoon oke nih). Dan karena sudah disewa asing, jadi untuk diving di Kepa, harus bayar dulu ke orang asing itu.

Di sekitar Alor Kecil dan Kepa ini, ada yang namanya arus dingin. Terjadi hanya sekitar tiga hari dalam setahun. Saat arus dingin tiba, ikan-ikan mati dan mengambang di laut. Jadi kita bisa langsung ambil. Tapi saya sendiri belum pernah melihat arus dingin ini. Kendala waktu, bukan weekend soalnya 😥

8. Pantai Sabanjar

Image

Pantai ini terletak sekitar 20 menit dari Alor Kecil. Pantainya berkarang, sakit di kaki. Tapi ndak sesakit rasanya ditinggal pergi. Menurut mereka yang pernah snorkeling, karangnya bagus. Jadi bawalah alat snorkeling jika ke sini. Tapi hati-hati dengan ombaknya yang kadang-kadang menggila. Biasanya kalo ke sini, bawa perbekalan lengkap, sambil bakar ikan dan menikmati kelapa muda. Aih… ❤

9. Pantai Bota

Image

Terletak di wilayah kekuasaan Kokar. Pantai ini bagus sunsetnya, tapi pantainya kotor (untuk ukuran pantai Alor). Dua kali ke sana, tidak oke untuk berenang. Ya cukup foto-foto dan mengabadikan sunset.

10. Pantai Lawar dan Wailawar

peta+alaoredit

lawar wailawar

Pantai ini terletak di pulau Pantar, di wilayah kekuasaan Kabir. Sekitar 30 menit dari Kabir. Di pantai Lawar, kita bisa hunting meti (sejenis bulu babi berbulu pendek *mbulet*). Cara masaknya tinggal dibakar sampe menghitam, lalu dibuka cangkangnya. Rasanya agak amis asin klenyer-klenyer gimana gitu. Saya sih ndak doyan (._. )7 Kalo bulu babi berbulu panjang katanya lebih enak.

***

Yang saya tampilkan di sini hanya tempat-tempat yang pernah saya kunjungi. Sebenarnya masih banyak lagi tempat yang bagus. Tapi karena kendala transportasi, kondisi fisik jalan dan waktu, jadi yang sering dikunjungi ya yang dekat-dekat saja.

Sebagai catatan, perjalanan antara pulau Alor ke Pantar membutuhkan waktu yang bervariasi. Untuk ke Kabir, membutuhkan waktu 2,5 – 3 jam. Di perjalanan antara Alor – Pantar, kita bisa melihat Tanjung Munaseli, indah banget! Ombaknya cukup tinggi. Gelombangnya relatif memabukkan (jangan lupa bawa Antimo). Dan jika beruntung, ada lumba-lumba yang genit mengiringi perjalanan laut kita.

Ya sekian dulu edisi jalan-jalan di Alor. Semoga dari cerita yang mungkin kurang menarik ini bisa memotivasi pembaca untuk pesiar ke Alor. Masalah pemandu wisata, tenang aja. Silakan SKSD pada dokter PTT setempat. Harga bisa nego xD *dikepruk*

See you at Alor :*

***

Kalabahi – Alor – NTT

Dec 28th 2012

 

Thanks to: @nugroho_bismo dan @aprilianayu untuk foto-fotonya. Maaf ndak ijin dulu. Tapi udah dikasih watermark kok foto-fotonya xD [diarak keliling lapangan]

Pi Tapaleuk Ke Alor (Bagian Pertama)

Sudah hampir sepuluh bulan hidup dan main-main (sambil bekerja) di Alor, sepertinya saya belum pernah menuliskan tentang Alor dan semua hal tentang Alor. Karena saya sedang menganggur, maka saya akan memberikan info-info yang BERMANFAAT jika pembaca terdampar di Alor (perhatikan kata bermanfaat).

Baiklah. Mari disimak.

Alor adalah sebuah kepulauan di propinsi Nusa Tenggara Timur. Ayo semua melihat peta.

[menunggu pembaca mencari peta NTT]

[…]

LAMA!

Nih! [yaelah… dari awal aje kali, Chil!]

image

Kepulauan Alor terdiri dari dua pulau besar, yaitu Alor dan Pantar; serta beberapa pulau kecil. Bentuk pulau Alor cukup unik. Seperti kucing berekor pendek.

Untuk menuju Alor, pertama, harus sampai ke Kupang dulu. Penerbangan dari Jakarta atau Surabaya sudah cukup banyak. Garuda, Batavia, Sriwijaya, Lion Air. Harga bervariasi, mulai dari Rp 600.000,00 hingga sejuta lebih.

Dari Kupang – Alor, bisa menggunakan jalur udara dan jalur laut. Untuk jalur udara, Kupang – Alor ditempuh dalam waktu 45 menit. Bandara Alor bernama Mali. Dari Kupang – Alor, terdapat dua penerbangan, Merpati dan TransNusa. Harga tiket rata-rata Rp 360.000,00 (kadang-kadang ada promo juga). Untuk tiket Merpati bisa dilihat di web. Tetapi untuk TransNusa, harus telepon ke kantornya untuk mengetahui harga pasti tiket. Setiap hari ada penerbangan, tetapi hanya dua jadwal penerbangan, Merpati dan TransNusa.

Untuk jalur laut, bisa menggunakan jasa kapal Sirimau. Tiket Rp 100.000,00 dengan waktu perjalanan sekitar 12 jam. Transportasi kapal tidak tersedia setiap hari. Kalo ndak salah seminggu sekali.

Kota di Alor adalah Kalabahi. Jangan bayangkan kota di sini sama seperti kota lainnya. Tapi juga jangan terlalu lebay membayangkan keprimitifan Alor. Kalo di Jawa, mungkin Kalabahi ini hampir sama seperti Wlingi. Eh… Mending Wlingi sih.

Iklim di Alor panas. Pernah dingin pas Ramadhan kemaren (alhamdulillah…). Tapi selanjutnya ya kaya lagi kencan sama matahari trus diputusin. Panas. Jadi kalo ke sini, lihat dulu bulan apa. Tapi mending yang tipis dan menyerap keringat. Dan jangan lupa sunblock ya (menatap miris pantulan diri yang menghitam di cermin).

Transportasi di Alor ada dua macam (kecuali kendaraan pribadi), yaitu ojek dan oto (semacam angkot) (sebutan mobil di NTT adalah oto). Oto ada dua macam, warna merah dan warna biru. Warna merah beroperasi di dalam Kalabahi kota dan sekitarnya. Sedangkan oto warna biru untuk antar kecamatan. Jurusan Bukapiting, Moru, Mebung, Kokar, dan sebagainya (iya saya lupa. Maklumi aja.). Oto merah bertarif Rp 2.000,00. Sedangkan oto biru tarifnya bervariasi, tergantung jauh dekatnya tujuan. Untuk ke Bukapiting Rp 10.000,00. Untuk ke Moru Rp 3.000,00. Jangan kaget dengan dekorasi dan sound system oto Alor yang cetar membahana. Ya pokoknya jangan kaget.

image

Ojek di Alor ndak ada pangkalannya. Cluenya adalah asalkan ada pengendara motor yang sendirian dan membawa satu helm tambahan, stop aja. Dia bisa menjadi ojek dadakan. Tarif biasanya Rp 3.000,00. Tapi kalo dekat, dibayar seceng juga mau kok. Ahahahaks.

Untuk kota, listrik sudah menyala selama 24 jam, sinyal 3G hingga HSDPA, air lancar. Sedangkan untuk kecamatan lain, tidak seberuntung kota. Sinyal rata-rata bisa EDGE, kecuali daerah perbatasan seperti Maritaing, Padang Alang, Mademang, atau Lawahing. Untuk listrik, ada beberapa tempat yang fasilitas listriknya menyala selama 12 jam, ada yang 6 jam, ada yang hanya 4 jam. Akhir-akhir ini sudah diusahakan bisa 24 jam sih. Tetapi daya di Alor sepertinya belum cukup, jadi sering padam juga *sigh*.

Untuk komunikasi, gunakan Telkomsel. Dulu pernah ada Indosat. Tapi sejak Oktober tanggal 16, sinyal Indosat kepret (di sini drama dimulai). Air, biasanya menggunakan air ledeng. Jadi kalo hujan, airnya kuning sampai cokelat.

Pertokoan melimpah, dan tutup setelah jam delapan malam. Hari minggu, sebagian besar toko tutup hingga sore hari. Untuk harga, ya… memang jauh lebih mahal daripada di Jawa. Tetapi untuk kebutuhan sehari-hari ndak sampe kesusahan lah ya. Toko elektronik juga ada. Dealer motor juga ada. Yang ndak ada cuma NAV, Happy Puppy, Pizza Hut, KFC, Hypermart, Giant, Ace Hardware, dan banyak lagi yang lainnya.

Yak. Segini dulu deskripsi tentang Alor. Bisa dibayangkan Alor seperti apa? (kasih duit biar pada jawab ‘bisa’). Untuk episode selanjutnya, saya akan bercerita tentang tempat-tempat yang wajib dikunjungi. Ikuti terus postingan di blog ini. Dan tinggalkan jejakatamu di sini (dikepret jejakubikel).

***

Moru – Alor – NTT
Dec 27th 2012

%d bloggers like this: