Sambungan Hati Jarak Jauh

blackberry-bold-heart-love-phone-Favim.com-131824_large

Semua orang pasti setuju. Jarak dan waktu adalah angka yang berkoalisi memupuk rindu. Sama halnya dengan rumus fisika dimana kecepatan berbanding lurus dengan jarak, dan berbanding terbalik dengan waktu. Apa hubungannya?

Begini. Kecepatan merasakan rindu yang menggebu, pertama, jelas dipengaruhi oleh jarak. Semakin besar jarak yang harus ditempuh sepasang pecinta untuk bertemu, maka kadar rindu akan tumbuh makin subur. Lalu bagaimana dengan waktu? Bagaimana bisa waktu berbanding terbalik dengan kecepatan hati merasa rindu? Well, di sini aku berteori. Bahwa kebersamaan yang singkat karena harus segera dipisahkan oleh jarak itu tidak berbeda rasanya dengan ingin memasak mie rebus, lengkap dengan sawi, wortel dan telur, tetapi harus ditunda gara-gara tidak punya uang. Kangennya bertumpuk. Berlipat ganda. Intinya, kadang sampai kalian tidak sanggup lagi menahannya.

Ah, sudahlah. Aku hanya satu dari jutaan pasangan yang rela memunguti rindu setiap hari karena jarak yang memisahkan. Dan saat ini, aku memang sedang berkeluh kesah. Alor dan Surabaya itu jauh, sodara! Kalian tahu sendiri, dewasa ini, kepercayaan seseorang terhadap pasangannya sangat dipengaruhi kuatnya sinyal ketika melakukan komunikasi memalui suara atau dunia maya. Dan sayangnya, Alor masih didominasi dengan daerah dengan sinyal selemah rupiah terhadap dollar. Iya. LDR semenyedihkan itu.

Pernah sekali aku berharap, perempuanku itu sudi mengurus kepindahan kerjanya demi memuaskan rasa rindu kami. Jawabannya adalah, “Kakanda, jauh dekat sama saja. Aku sayang kamu.”

Bukan. Bukan berarti aku tidak mau berkorban menerjang jarak yang membentang. Sudah hampir dua tahun ini aku bertugas sebagai dokter PNS di Alor. Ketergantungan puskesmas terhadap dokter membuatku tidak bisa terlalu sering mengajukan ijin untuk terbang ke pulau Jawa. Dan aku ingin menabung demi keperluan masa depan, sehingga harus menahan diri untuk tidak sering pulang ke Jawa.

Rasanya aku ingin mengatakan pada perempuanku, bahwa hati ini sudah terlalu lama dirundung kemarau panjang. Apalagi sudah sebulan ini lamaranku ia gantungkan tanpa jawaban. Tapi tetap saja, aku lemah ketika mendengar kata manis dan manja. Aku terdiam mendengar jawabannya. Bahkan berbunga-bunga. Sebelum menyadari bahwa kata hanyalah rangkaian aksara tanpa ‘kita’ yang saling menautkan jari dan berbagi pelukan.

Dia pernah datang dan berlibur di Alor. Saat itu, aku bahagia bukan kepalang. Bahkan aku rajin mengupdate kegiatanku dan perempuanku di Twitter, Facebook, status BBM, Foursquare, Instagram, dan sebagainya, untuk sekedar memamerkan kebersamaan kami yang bisa dibilang langka. Tapi setelah itu, kami kembali ditelan kesibukan masing-masing. Dan menyerahkan rindu pada sambungan telepon, untaian pesan singkat BBM, mention di Twitter, dan bercakap-cakap melalui Skype.

Sebentar. Rasanya ponselku sedang melantunkan lagu Dear God. Perempuanku.

“Hallo, Dinda …”

“Hallo. Assalamualaikum, Kakandaku.”

Mendengar suaranya saja aku langsung tersenyum sangat lebar. Beginilah nasib para pejuang LDR. Begitu tersiksa oleh butir-butir suara yang mereplikasi rindu. Berangan-angan bahwa hanya dengan suara, dia ada.

“Walaikumsalam. Tumben tengah malem gini nelpon. Belum tidur?”

“Belum, nih. Dari tadi ngetik-ngetik. Eh, udah makan?”

Yak. Akhirnya muncul juga pertanyaan sejuta umat ini. Tapi tetap saja aku bahagia mendengarnya, “Sudah. Dinda sudah makan tho?”

“Heeh. Tadi beli sate sama Ibu. O iya, Mas nggak bisa pulang ke Jawa dalam waktu dekat ini?”

Tiba-tiba pikiranku tak karuan mendengar pertanyaannya. Adindaku ini jarang sekali memintaku untuk ini-itu. Maka mendengar permintaannya tadi, membuatku berpikir macam-macam, “Ada apa, Dinda? Ada yang sakit atau ada masalah apa?”

“Nggak. Nggak ada masalah.”

“Trus?”

“Ya, gimana saya bisa ngurus kepindahan tugas dengan alasan ikut suami kalo kita belum menikah, Mas?”

Ada jeda selama beberapa detik. Otakku meyakinkan hati yang terlanjut melonjak kegirangan. Diriku memastikan kalimat tadi bukan sekedar mimpi.

“Sebentar, Dinda. Saya tutup dulu telponnya. Nanti saya telpon lagi, ya.”

Tanpa menunggu jawaban dari seberang, kutekan tombol merah di ponselku. Lalu menekan nomor yang sudah kuhapal di luar kepala, “Halo, Bang? Aku mau pesan tiket pesawat. Alor – Kupang, Kupang – Surabaya. Untuk besok.”

***

Moru – Alor – NTT
January 16th 2013

  1. Huhuiiiii….berat ya LDR…

    • Gitu deh, Ke
      Tapi kalo happy ending sih gpp x)) #ngarep

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: