Bales Kangenku, Dong!

coffee-cup-of-tea-love-tea-Favim.com-350640 (1)

“Cieee … Lo dapet surat kaleng tuh, Gi. Sedih amat isinya ahahaha …”

Elian yang duduk di depanku tertawa hingga tersedak kopi Aceh yang disesapnya. Lalu terbatuk-batuk hingga tetes-tetes kopi tersembur ke mana-mana. Buru-buru kuserahkan segelas air putih yang disajikan gratis karena aku memesan banana split, “Sante aja dong ketawanya. Tuh kan muncrat. Majalah gue kotor deh …”

Elian meneguk air putih yang kuberikan, lalu mengambil beberapa tisu. Ia membersihkan meja, komputer tablet miliknya dan majalah milikku. Seringai iseng di wajahnya masih tetap sama, “Maaf, Gi. Refleks. Abisan penasaran, siapa yang kirim surat kaleng yang isinya sedih begini. ‘Di dunia kita tidak bisa bersama. Semoga kelak, kita bisa menyatu di keabadian.’ Sedaaap.”

Wajah Elian mendadak pucat ketika menyadari cangkir kopinya tumpah dan menghancurkan majalah yang baru saja kubeli. Kami berpandangan selama beberapa detik. Jika kami sedang berada dalam skenario FTV, maka selanjutnya kami akan saling jatuh cinta.

Tapi tidak. Justru aku kesal sekali. Dengan cepat kuraih majalah yang telah menghitam. Dan membersihkan majalah itu dengan berlembar-lembar tisu, “Eliaaan! Duh wajah Ryan Gosling jadi item gini …”

“Aduh, Maaf, Gi. Janji abis ini gue beliin baru. Dijamin wajah Ryan Gosling masih tetep seganteng gue.”

“Seralo, El,” dengan kesal kuselamatkan majalah yang terlanjur basah jauh-jauh dari jangkauan Elian. Lalu kembali berkutat dengan laptop, segelas besar Green Tea Frappe dan juga banana split yang hampir habis. Dalam hati tetap berharap Elian akan memegang janjinya, membelikanku majalah yang baru.

“Hehehe … Lo nggak penasaran sama yang kirim surat kaleng ini?” tanya Elian.

“Lo nggak baca berapa surat kaleng yang harus gue penasaranin?” jawabku. Aku tahu Elian sedang memandangku. Tapi aku masih kesal. Dan menjawab pertanyaannya sambil berpura-pura sibuk dengan laptopku. Padahal sejujurnya aku penasaran betul mengetahui identitas sebelas orang yang sudah mengirimkan surat kaleng melalui akun PosCinta ini. Ternyata gue terkenal juga ya…

“Cih … sombong banget. Iya deh yang lagi naik daun di Twitter. Itu kalo lo nggak mau disebut selebtwit,” cibir Elian.

“Itu karena tweet-tweet gue banyak yang suka,” jawabku. Tapi Elian hanya tertawa dengan ekspresi wajah yang menyebalkan. Dia mengangkat tangan sebagai kode untuk memesan minuman lagi. Mendengarnya memesan kopi Aceh lagi membuatku heran. Lambung orang ini kuat banget ya. Jika memesan kopi Aceh lagi, berarti sudah empat cangkir kopi yang ia konsumsi selama pergi denganku.

“Jangan bangga dulu, Nona. Lo liat dong follower lo banyakan cowok. Itu berarti mereka lebih suka avatar lo,” kali ini Elian merampas piring banana split dari hadapanku.

“Mending daripada lo yang isi timelinenya sepikan sama modus mulu. Desperate banget kayanya. Minta perhatian kok dari follower ahahaha …” ejekku sambil menunjukkan sebuah tweet Elian yang berbunyi, ‘Gue bisa ngeramal kepribadian dari cara memegang ponsel. Twitpic foto terbaru kalian.’

Rupanya kata-kataku telah tepat sasaran. Wajah Elian merah padam, “Kampret! Iya iya, Nyah … Gue nggak dapet perhatian dari lo makanya desperate gini. Makanya ajarin dong bikin kata-kata galau kaya lo gitu.”

“Gue nggak galau,” elakku.

Semua orang tahu aturan main di Twitter. Tidak ada yang benar-benar serius. Ya … sesekali bolehlah. Tapi tidak semua hal yang tertulis di sana adalah yang benar-benar terjadi.

“Nggak galau apaan? Apa nih … ‘Rindu adalah tanaman rimbun yang berakar. Memenuhi taman hati dan selalu butuh ruang baru karena ia akan terus tumbuh.’ Lo lagi kangen sama siapa, sih? Lo nggak liat ada orang seganteng Ryan Gosling dengan ikhlas nemenin lo ngetik novel seharian?”

“Ryan Gosling kecebur got sih iya. Nggak ada! Random aja. Lo tau kan sebagai orang dengan follower banyak itu perlu pencitraan. Ya kali ada yang bales tweet gue tadi pake serius hehehe …” kataku. Lalu dengan cepat menandaskan Green Tea Frappe yang memang tinggal seperempat.

“Lo juga modus, Gi …”

“Tapi cara gue lebih elegan dibanding lo, Nyet!”

“Ahahaha. Well … Gia, boleh gue aja yang bales tweet ini pake serius?”

***

Moru – Alor – NTT

January 17th 2013

  1. cerita yang segar…😀 terus menulis, ya!😀

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: