Archive for the ‘ 15HariNgeblogFFDadakan ’ Category

Kering Kentang Cakalang

Sial.

Tidak berhasil hilang.

Aku memandang ke atas meja, ada separuh badan tikus yang melompat-lompat dengan dua kaki belakangnya. Ekornya bergerak-gerak dengan tidak sabar. Hewan cacat itu mencari tubuh depannya yang sudah kuhilangkan dengan Mantra Penghilang.

Profesor McGonagall memandang galak dari kacamata perseginya. Rahangnya menegang, mulutnya mengerucut, “Jelas sekali bahwa kemampuan Transfigurasimu sangat menurun akhir-akhir ini, Mr. Cracker. Aku sedang memikirkan untuk memberimu detensi, melatihmu secara pribadi. Karena dengan kemampuanmu yang sekarang, aku tidak yakin nilai OWLmu bisa lebih baik dari D. Dreadful.”

Aku menunduk dan menelan ludah. Jari-jariku memillin tongkat lentur dari kayu cemara berinti jantung naga yang berukuran dua belas setengah senti. Untuk saat ini, aku tidak terlalu peduli tentang OWL.

“Dan jangan memainkan tongkatmu seperti itu, Mr. Cracker!”

Sebenarnya, kemampuanku tidak separah ini. Sebelumnya aku berhasil mengubah kodok menjadi kotak kayu. Tapi dalam sebulan ini, aku menggunakan konsentrasi Transfigurasi untuk sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang menjadi mimpiku tiap malam.

Tinggal sedikit lagi. Sedikit saja aku lebih fokus dan menenangkan pikiran, pasti aku berhasil menyempurnakan bagian kakinya. Dan aku harus menyempurnakan semuanya sebelum gelap. Sebelum terlambat.

Setelah kelas Transfigurasi usai, aku menuju Ruang Kebutuhan, dan mencobanya lagi. Mantra Pengubah bergema di seluruh penjuru ruang. Kulit kaki itu perlahan memudar. Entah berapa kali aku melakukan ini. Hingga kadang-kadang aku tidak tersadar bahwa kursi tua yang teronggok di atas lemari telah berubah menjadi kura-kura.

Lalu terdengar bunyi pop yang cukup keras. Kaki itu berubah. Berhasil! Kini semuanya sempurna sudah. Dadaku terasa akan meledak. Ada kembang api yang meledak-ledak saking bahagianya.

Segera ku raih sebuah mangkok tembaga dan mengisinya dengan hasil jerih payahku selama sebulan ini. Lalu menutup dan membungkusnya dengan selembar kain tebal yang sudah kumantrai dengan Mantra Penghangat.

Aku pergi dengan setengah berlari, sambil mendekap bungkusanku tadi. Menabraki tubuh-tubuh mungil anak kelas satu dan dua yang berkeliaran di koridor kastil. Langkahku meninggalkan jejak pada jalanan yang bersalju. Aku menyusuri jalan berkelok yang menuntunku ke Hogsmeade.

Three Broomsticks. Aku membuka pintu kedainya yang berdenting ringan. Madam Rosmerta tersenyum genit ke arahku dan menawarkan segelas Butterbeer.

“Tidak perlu, Madam. Hati saya sudah cukup hangat sekarang,” jawabanku itu membuat Madam Rosmerta membuang senyum dari wajahnya.

Aku melihat Blossom Bloomwood sedang duduk bersila di atas lantai, menghadap ke perapian yang hangat, bersama dua temannya yang namanya tak pernah ku tahu, ditemani tiga gelas Butterbeer yang tinggal separuh. Dengan jantung berdebar aku mendekati anak perempuan itu, murid asrama Ravenclaw yang senyumnya pernah menjadi alasan jus labuku tumpah tak sengaja ke seragam sekolah.

Aku berdehem pelan. Blossom dan kedua temannya menoleh ke arahku.

“Oh… Halo, Bryan,” Blossom tersenyum. Ada buih putih di ujung bibir kiri Blossom. Aku menelan ludah.

Lalu kusodorkan bungkusan tadi dan membuka kainnya, membiarkankan uap panas mengepul dan menyebarkan aromanya. “Wow… Apa ini? Aku tidak pernah melihat ini sebelumnya. Baunya enak sekali,” kata Blossom sambil mengalihkan pandang dari wadah tembaga itu ke arahku. Aku mengatur nafas yang memburu.

“Blossom, aku sudah mengubah pacarmu menjadi kering kentang cakalang. Maukah kamu pergi ke Yule Ball bersamaku minggu depan?”

 

Moru – Alor – NTT

October 31st 2012

Sejumput Rindu

Aku terkesima melihat hamparan hijau di depanku. Kulit kakiku yang telanjang dapat merasakan lembutnya, seperti jubah bulu yang kugunakan di musim dingin. Tapi tidak ada kereta kuda, atau barisan pemanah dan penghunus pedang. Yang ada justru beberapa pria bertubuh tinggi bekejaran, menendang-nendang sebuah benda bulat berwarna putih dan hitam. Sesekali mereka bersorak bahagia dan kecewa ketika bola itu tersangkut di sebuah bilik terbuka dengan jaring yang luas.

Aku dimana?

Seharusnya, ini adalah hari ke delapan belas. Seharusnya, hari ini aku menyampaikan rantai dendam Dewi Amba yang menjemput cintanya, dengan menancapkan panah Hrusangkali tepat di simpul cakra Bisma. Pasukan Kurawa bertekuk lutut dan menyerah kalah. Duryadana mati setelah pahanya berdarah-darah saat dihantam gada Bima. Yudhistira naik tahta di Hastinapura. Dan akhirnya, nyawaku hilang di tangan Aswatama.

Aku meraba punggung yang ringan dan kosong. Gendewaku tiada. Apakah ini artinya, Dewa telah mengabulkan permohonanku untuk mendaur ulang takdir? Tapi mengapa? Apakah aku sudah tidak dibutuhkan lagi di Bharatayudha? Atau perang itu memang tidak pernah ada? Lalu bagaimana aku harus memulai hidup di tempat yang sama sekali asing?

“Bukankah sudah menjadi impianmu, hidup sebagai perempuan biasa yang dicintai dan beranak pinak?”

Suara itu lagi.

Aku meringis, mencengkeram kain jarit yang melilit di tubuhku.

“Bukan begini ceritanya. Bukan begini aturan mainnya.

“Tidak cukupkah Dewa menghilangkan hamparan perang di hadapanmu? Ayolah… Perempuan-perempuan jaman ini sangat memuja sepak bola. Jadilah salah satu dari mereka.”

“Lalu bagaimana dengan tanganku yang telah terbiasa bercumbu dengan busur dan anak panah?”

“Mulailah bercumbu dengan perhiasan. Bersoleklah dan manjakan dirimu.”

“Absurd! Bahkan sehari tanpa memanah, tubuhku bagai diiris sembilu.”

“Lalu apa yang kamu harapkan, wahai perempuan penuntut?”

“Aku mohonkan Dewa mengembalikanku ke masa kecil, dimana tidak ada rangkaian bunga teratai yang harus aku kalungkan. Maka aku tidak akan tumbuh menjadi perempuan ksatria.”

“Absurd! Jalani saja takdirmu yang baru. Tidak usah banyak bertanya. Tidak usah banyak meminta. Karena Dewa adalah pemegang rahasia yang sangat baik. Ia tidak akan membuka pandora sebelum waktunya tiba.”

Tiba-tiba tubuhku oleng. Jatuh tersungkur di rerumputan yang basah oleh embun. Kepalaku berdenyut perlahan. Sejenak aku melirik sebuah bola yang rupanya telah menghantam kepalaku. Seorang pria bertubuh tegap berlari menghampiri, kemudian mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri, “Nona, apakah kamu baik-baik saja?”

Aku memandangnya. Aku membaca ada kekhawatiran ala kadarnya. Pria ini heran dengan baju kemben dan jaritku. Dia memandang lemah padaku. Dia bukan seseorang yang aku kenal. Seseorang yang percaya bahwa aku adalah perempuan kuat, bahkan untuk menggantikan Resi Seta yang telah dikalahkan Bisma.

Tubuhku bergetar. Air mataku jatuh ke tanah, bersetubuh dengan embun yang masih basah. Ada ruang kosong yang menganga di dalam tubuhku. Apa yang terjadi saat ini bagaikan membangun sebuah istana pasir, bagian tengahnya remuk oleh permintaanku sendiri. Istana itu hancur. Pasirnya tergelincir di sela-sela jariku yang gemetar karena sesal dan rasa bersalah. Mungkin hari ini, Srikandi tidak mati di tangan Aswatama. Tapi pesan cinta Amba selamanya takkan tersampaikan. Dan hidup lebih lama dalam bahagia, aku meragukannya.

Aku merasakan ada kepingan anak panah yang terjatuh di bawah tanganku. Aku memungutnya, beserta sejumput rindu yang menggebu pada Arjuna.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 30th 2012

Cerpen ini lanjutan dari cerpen berjudul Busur Panah Patah ^^

I (Really Don’t) Like Monday

Musim penghujan hadir tanpa pesan

Bawa kenangan lama telah menghilang

“Maaf semalam aku langsung pergi.”

“Nggak masalah. Aku bisa ngerti. Kamu perlu jelasin tentang kita ke mantan kamu kan…”

Saat yang indah dikau di pelukan

Setiap nafasmu adalah milikku


“Sekarang lagi sibuk nggak?”

“Ya gitu deh. Senin. Tapi aku seneng banget kamu nyamperin gini hehehe…”

“Ke kantin yuk. Bentar.”

Surya terpancar dari wajah kita


“Sepuluh menit lagi ya. Tanggung. Ngeprintnya tinggal dikit lagi.”

“Ya udah. Kayanya yang lain udah pada ke kantin. Ngomong di kubikelmu ini aja kalo gitu.”

Bagai menghalau,

mendung hitam tiba


“Ehm… Ada apa sih? Kok wajahmu tegang gitu. Ada masalah, Gas?”

“Sebelumnya aku minta maaf…”

Sekejap badai datang

mengoyak kedamaian


“Aku mau putus.”

Segala musnah


“A… Apa?”

“Din, jangan minta aku ngulangin kata-kata tadi. Aku nggak bisa sama kamu lagi. Dan kamu nggak akan menerima aku seperti dulu.”

“Kamu sengaja bilang ini di kantor biar aku nggak bisa nangis dan marah-marah sama kamu?”

“Tolong pahami. Situasiku juga sulit.”

Lalu gerimis

Langit pun menangis


“Kenapa, Gas? Kamu tergoda balikan lagi sama mantanmu?”

“Dia hamil. Dia mengandung anakku.”

Kekasih andai saja kau mengerti

harusnya kita mampu lewati itu semua

dan bukan menyerah untuk berpisah

***

[*Kla Project – Gerimis]

Moru – Alor – NTT

October 29th 2012

Sumpah Di Dadaku

Tempat ini tidak pernah gagal mengembalikan kenanganku tentangmu. Aroma embun yang bergelayut malu di rerumputan merebak di otakku, menyegarkan lagi hari-hari usang yang pernah kita tapaki berdua. Sedetik saja, aku sudah merasakan rindu yang menggila. Senyummu, cemburumu, tawamu, marahmu. Aku bisa mendengar suaramu memanggil-manggil namaku.

***

“Pernahkah kamu takut, bahwa pekerjaanku bisa saja tidak lagi mengirimku pulang ke pelukanmu?” tanyamu di suatu sore yang hangat, ditemani sepiring pisang goreng yang hampir gosong karena apinya terlalu besar, dan seteko teh panas yang mengepulkan dua cangkir harapan kita.

“Jangan tanya. Setiap saat, ketika kamu menerima telepon dari atasanmu, atau tiap kali ada berita terorisme di televisi, jantungku terasa seperti jatuh dari tempatnya.”

Kata-kataku tenggelam begitu saja dalam pelukanmu yang semakin erat. Aku bisa mendengar degup jantungmu. Bunyi paling indah yang tak pernah aku lewatkan setiap kali kita bercumbu.

“Kamu menyesal?”

“Tidak ada penyesalan dalam cinta. Aku telah menumpulkan indera dari omongan orang tentang betapa sulitnya menikahi lelaki sepertimu. Aku lebih memiih menajamkan rasa untuk mencintaimu. Mendoakanmu agar selalu kembali pulang dan bisa memelukku dengan kedua tanganmu.”

“Apa yang aku lakukan bukan sekedar pengorbanan, tapi perjuangan demi sesuatu yang berharga. Dan aku beruntung menikah dengan perempuan sepertimu.”

Sore itu, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Air mataku tidak mampu tertahan. Dan aku masih terbenam di pelukanmu, membasahi gamis putihmu dengan kesedihan dan rasa takut yang berlarian dalam kepalaku.

Kekasihku yang kupuja,

jangan menangis jika surat ini sampai ke tanganmu.

Kita pernah berjanji untuk hidup bahagia. Aku pernah bahagia bersamamu. Dan ketika aku tiada, kamu harus bisa membagi bahagia itu bersama orang lain.

Akan selalu kurindukan pisang goreng setengah gosong buatanmu.

Dan tanganku tidak akan berhenti memelukmu.

***

Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa bangkit dari rasa kehilangan. Kebersamaan yang tidak lama, mungkin hanya dalam hitungan bulan. Tapi rasanya, melupakanmu adalah satu hal yang membutuhkan waktu yang lama, mungkin bahkan lebih lama dari usiaku sendiri.

Aku meraba namamu yang bertinta hitam. Ujung jariku bergetar, menggoyahkan lagi ketegaran selama bertahun-tahun, atas nama rindu.

“Kita pergi sekarang?” laki-laki di sebelahku tersenyum lembut, lalu menggenggam tanganku yang terbebas dari genggaman kenanganku di atas ukiran namamu di atas pusara.

“Iya. Sudah ditunggu pemilik gedung,” jawabku singkat.

Kekasihku yang tak pernah berhenti kurindukan, aku telah melanggar janji untuk tidak menangisi kepergianmu. Bahkan aku pernah menyesali cinta, mengapa hatiku memilih seorang pahlawan kesiangan sepertimu. Bermalam-malam aku merutuki mulutku yang dulu tertutup, berandai-andai, jika aku mengadu bahwa aku telah mengandung, apakah kamu akan tetap pergi, dan menganggap kami berdua adalah sesuatu yang lebih berharga untuk kau perjuangkan.

Kekasihku, ijinkan aku memenuhi sumpah untuk bahagia bersama lelaki ini. Lelaki yang bisa mencintaiku dan putrimu, mungkin lebih besar darimu dulu. Lelaki yang tidak akan meninggalkanku. Lelaki yang memperjuangkan kami sebagai hal yang paling berharga. Kamu adalah jejak yang tidak akan terhapus meski hujan turun berbulan-bulan. Dan dia adalah jejak baru yang selaras dengan jejakku setelah aku kau tinggalkan.

“Ibu, ayah Ade dulu kerjanya apa?”

Aku menoleh. Memandang wajah putri kita yang sama persis seperti wajahmu. Pertanyaannya membuatku menggenggam jemari kecilnya lebih erat.

“Calon pengantin.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 28th 2012

Kelelawar Hitam

Dalam keheningan pagi, terdengar ada sesuatu yang melesat dari atas langit dan berdebum ringan di bumi. Sesosok mirip tikus hitam bersayap teronggok di atas bebatuan dan dedaunan kering yang dibasahi embun. Kelelawar Hitam merintih dalam suara yang tak terdengar.

Kelelawar Hitam telentang tak berdaya. Rupanya selaput sayapnya terkoyak ketika terbang melewati ranting pepohonan. Lamat-lamat ia memanggil kawannya. Tapi suaranya tersamarkan oleh kerumunan burung yang tidak bisa diam.

Tiba-tiba Kelelawar Hitam mendengar sebuah suara. Gerakan halus, tenang, tapi membunuh. Langkahnya tanpa jeda, bergesekan dengan hamparan daun dan bebatuan di tempat asing ini. Kelelawar Hitam belum berani menolehkan kepalanya. Instingnya berkata, makhluk ini berbahaya. Sampai pada akhirnya, ada sesosok rupawan yang berdiri menjulang di depannya.

Susah payah Kelelawar menegakkan tubuh kecilnya. Ia ingin memandangi Si Tampan lebih lama. Kini mata mereka beradu. Kelelawar terpesona. Si Tampan bermata gelap. Dia tidak punya selaput sayap. Tubuhnya berbalut kulit yang berbeda dengan dirinya. Kulit yang bersinar. Coklat yang berkilat, memantulkan warna-warni seperti pelangi di bawah cahaya matahari yang malu-malu menerobos dari celah dedaunan.

“Halo… Aku tidak pernah bertemu denganmu. Apakah kamu tahu, tempat apa ini?” tanya Kelelawar. Tapi Si Tampan terdiam, hanya mengedipkan kelopak matanya perlahan.

“Bisakah kamu membantuku berdiri? Sayapku terluka,” pinta Kelelawar lagi. Tapi Si Tampan tetap tak bergeming. Dia menatap tajam ke arah Kelelawar, kemudian memiringkan kepalanya, seakan ingin menguliti Kelelawar dari segala sisi.

Kelelawar heran, mengapa Si Tampan tidak mengeluarkan suara, meski sepatah kata saja, “Ah, mungkin suaraku terlalu tinggi sehingga ia tidak bisa mendengarnya,” pikirnya.

Tiba-tiba Si Tampan beringsut mendekati Kelelawar. Tubuhnya bergerak dengan sangat anggun. Elegan. Magnificent. Si Tampan memutari tubuh Kelelawar yang mematung, pandangannya tidak lepas dari mata Kelelawar. Kelelawar menjadi salah tingkah. Dalam usianya yang beranjak remaja, dia belum pernah merasa sedeg-degan ini. Apakah ini artinya ia sedang jatuh cinta?

Sambil tersenyum penuh arti, Si Tampan memeluk Kelelawar erat-erat. Kulit mereka menyatu. Panas tubuh keduanya bertukar. Kelelawar merasakan hangat di dinginnya pagi yang baru saja datang. Pipinya terasa panas. Mungkin ini yang namanya jatuh cinta. Kelelawar bertanya dalam hati, apakah sebuah pelukan harus menjadi seerat ini. Dia merasa nafasnya semakin sesak, serasa ingin mati.

Udara. Paru-parunya butuh udara.

Mata kelelawar terbelalak. Air matanya merebak. “Ibu, harusnya kau ceritakan betapa sakitnya merasakan cinta. Sepertinya, tulangku patah dimana-mana.”

Tubuh kecilnya meronta-ronta.

Cinta. Aku ingin melepasnya saja.

***

Seorang pria bertopi membersihkan lantai area reptil. Ia memegang tongkat pel yang panjang, menggerakkannya ke kanan dan ke kiri sambil berjalan mundur. Pandangannya berhenti pada sebuah kotak kaca yang tampak kosong.

Epicrates cenchria maurus.

Ia mengetuk-ngetuk kaca itu beberapa kali, berharap ada gerakan respon dari penghuninya.

Nihil.

“Sur… Boa pelangi kemana, Sur?”

Lelaki bernama Surya mendengar namanya dipanggil. Namun tubuhnya lebih memilih menikmati pemandangan yang unik di jalanan berbatu yang belum selesai ia sapu. Di atas bebatuan dan daun-daun, seekor ular yang cantik berwarna pelangi, tengah menghabisi musuh kecilnya yang tak berdaya. Kelelawar boleh saja masuk dalam kerajaan mamalia, lebih mulia dengan ruang jantung yang sempurna. Namun hukum ekosistem tetaplah berlaku dalam mempertahankan keberlangsungan rantainya.

Maka pagi ini, riwayat Kelelawar Hitam dihabisi.

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 27th 2012

Dua Doa Satu Cinta

Furqon tertunduk, khusyu’ meresapi kuliah tujuh menit di akhir shalat Isya’ berjamaah di masjid Taqwa. Ustadz Ihsan mengulas surat Ar-Rum ayat 21, “Dan di antara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Ia menciptakan untukmu dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya di antaramu rasa kasih dan sayang.”

Sejenak Furqon menilik ke dalam hatinya, ada yang telah menorehkan jejak kasih sayang di sana. Jejak yang lembut dan hangat, bagai selimut beludru yang menggoda. Di hatinya, kini ada cinta yang meluap dan bergejolak. Cinta yang diharapkannya bukan sekedar angan-angan.

Furqon menutup mata dan merenung kembali. Ia tahu, mungkin Tuhan menentang rasa sayang ini. Tapi dalam hati seseorang itu, Furqon menemukan ketenteraman. Lalu di manakah letak kesalahannya? Karena sesungguhnya, ia dan seseorang yang telah mencuri hatinya hanyalah dua manusia yang terjebak dalam sebutan Tuhan yang berbeda.

Dalam diam, Furqon berdoa, “Ya Allah, berikan kelapangan hati bagi hamba dan dirinya. Dengan KekuasaanMu, dekatkanlah kami kepada jalan takdir kasih sayang yang penuh dengan ketenteraman yang Engkau janjikan.”

***

Manik-manik kalung Rosario berwarna keemasan itu berputar ringan di sela-sela jemari Eli. Mulutnya bergerak-gerak, menyuarakan Salam Maria berulang-ulang. Renungan indah hari ini, “Orang yang mengasihi adalah anak Allah, dan ia mengenal Allah. Orang yang tidak mengasihi, tidak mengenal Allah. Sebab Allah adalah kasih (Yohanes 4:7,8)”.

Sejenak Eli bergumul dengan pikirannya sendiri. Saat ini, hatinya penuh dengan kasih. Ada nama yang selalu hadir di setiap mimpi dan doa. Hari-harinya bahagia dan suka cita bersama seseorang. Ah, Tuhan. Apakah perasaan cinta ini salah? Bersamanya, Eli merasa utuh dan sempurna. Bahkan, Eli merasa dirinya bisa lebih mengenal Allah. Mengapa kasih harus memandang label yang berbeda?

Tepukan halus di bahu membuyarkan lamunannya. Bapa Matius tersenyum dan membenarkan letak rosario Eli yang hampir terlepas dari jari-jarinya, “Jangan termenung, Anak. Mengadulah pada Tuhan.”

Eli tersenyum canggung. Lalu menunduk sambil mengucap maaf. Lamat-lamat ia mengumandangkan doa, “Bapa di surga, telah dimuliakan namaMu di atas bumi. Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu. Terpujilah nama Yesus, sekarang dan selamanya. Berkatilah hati ini untuk berkasih sayang. Kepada seseorang yang juga mengasihi Tuhannya, sama besar dengan aku mengasihiMu.”

***

Furqon mengemasi doanya bersama malam yang gelap. Ia berjalan ke tempat parkir yang sepi, menunggangi motor lalu menyalakan mesinnya. Belum sempat ia mengenakan helm, ponselnya berdering.

“Halo. El?”

“Udah kelar sholatnya, Qon?”

“Baru aja keluar masjid. Lu udah selesai rosario?”

“Yup. Ketemuan yuk. Di Café Lulang. Pengen pie tuna nih…”

“Sip. Gue ajak Cinta sekalian, ya. Dia sms, pengen makan bareng sebelum Nyepi.”

“Cinta? Dengan senang hati. Ahahaha…”

“Girang amat. Inget ya, bersaing secara sehat, Elian.”

“Beres. Laki-laki sejati nggak ingkar janji.”

Call ended.

Furqon tersenyum. Elian, sahabatnya sejak masih dalam balutan seragam putih-merah hingga kini telah sama-sama bekerja menantang dunia. Sahabat yang sudah seperti saudara. Tapi permainan takdir kepada hati manusia memang tidak bisa ditebak. Entah mengapa, dari milyaran jiwa di dunia, dirinya dan Elian harus mencintai Cinta yang sama.

Furqon memencet tombol panggilan cepat di ponselnya. Nada panggil berdering dua kali sampai akhirnya terdengar suara perempuan yang hangat dan renyah dari seberang.

“Ta, masih di pura? Aku jemput sekarang ya…”

***

Kalabahi – Alor – NTT

October 26th 2012

Mawar Biru

Pria itu mondar-mandir di luar florist. Sesekali dia berhenti di depan etalase kaca, memandangi tumpukan bunga mawar. Kemudian menghilang. Setiap hari dia melakukan aktivitas yang sama. Entah kenapa.

Pria Patah Hati. Demikian aku menyebutnya. Ning selalu tertawa jika pria itu absen di depan etalase florist, mengingat kejadian konyol sekitar tiga bulan lalu, saat pria itu pertama kali menginjakkan kaki ke sini. Dia datang dengan kondisi yang mencemaskan. Wajah kusam, rambut acak adul, rambut-rambut liar tumbuh tak beraturan di sekitar mulut dan dagunya. Kaosnya kusut, seperti beberapa hari tidak diganti.

“Bunga apa yang artinya kecewa sampai ke sumsum tulang dan akan kubawa sampai mati?” katanya waktu itu. Aku dan Ning berpandangan. Mulut kami tertahan rasa geli yang sulit dibendung. Rupanya pria ini mengalami masa bercinta yang cukup sulit.

Aku tersenyum, menghampirinya dan menawarkan sebungkus cokelat. Dia memandangku dengan heran. “Makan saja. Saya hanya berusaha menurunkan derajat emosimu. Lalu kita bisa memilih bunga yang tepat dengan suasana hati,” kataku. Pria itu mengambilnya ragu-ragu, membuka bungkus cokelat dengan kasar lalu memakannya dengan rakus.

“Bunga adalah istana putik dan serbuk sari. Tempat bercinta dan membuahkan cinta, menyampaikan keindahan kepada siapapun yang melihatnya. Tapi pesan itu berubah seiring dengan emosi manusia yang menyertainya. Nah… Menurut penglihatan anda, bunga apa yang cocok untuk suasana hati anda hari ini?” tanyaku.

Matanya lurus mengarah pada mataku, mungkin berusaha mencerna kata-kataku. Ia mengalihkan pandang ke satu arah. Dan menunjuknya dengan jari telunjuk yang gemetar, “Ini. Dan tulis pesan yang saya ucapkan tadi. Tidak perlu nama. Dia sudah tahu.” Aku menoleh ke arah bunga yang ditunjuknya. Anyelir kuning. Rasa hina dan kekecewaan.

Pagi ini, aku melihatnya memasuki florist. Dia tampak jauh berubah. Rambutnya rapi seperti habis dicukur, wajahnya bersih. Ia mengenakan kemeja lengan pendek garis-garis merah dan cokelat, dan celana jeans berwarna cokelat tua. Di tangannya, ada serangkaian mawar merah yang segar. Dia berjalan ke arahku, lalu berdiri tepat di depan meja kerjaku.

“Selamat pagi. Saya mengantarkan bunga ini.”

“Dari siapa? Untuk siapa?”

“Dari saya. Untuk kamu.”

Lalu ia melesat pergi. Meninggalkanku yang masih keheranan. Bunga-bunga mawar yang cantik. Merah. Cinta, rasa hormat dan keberanian. Di sela-selanya ada sebuah amplop. Aku membukanya dengan tidak sabar dan dorongan penasaran.

Kepada Mawar

Saya tahu, Mawar bukanlah namamu yang sebenarnya. Tapi Nona adalah bunga cinta yang membangkitkan energi saya yang pernah padam.

Senyummu dan sepotong cokelat, memaksa saya tidak bisa tidur dan merasa perlu memandangimu setiap hari dari balik kaca.

Senyummu dan sepotong cokelat, cukup membuat saya rela berdarah-darah tertusuk duri rindu karena tidak ada keberanian untuk mengadukan isi hati.

Hari ini, tepat di akhir masa iddah saya berpatah hati, saya kirimkan mawar merah yang mungkin salah artinya. Tapi emosi yang menyertai mawar ini adalah, “Siapakah namamu, Nona?”

Kirim saja jawabanmu melalui nomer ponsel yang ada di kertas ini. Tanpa batas waktu. Sampai jawaban itu tiba, saya takkan berhenti menampakkan wajah di depan etalase toko ini.

Dari Pria Patah Hati

Tanganku berkeringat, menurunkan lembar kertas berisi surat dan memandang rangkaian mawar merah yang merekah dan indah. Merahnya memantul sempurna di pipiku. Tapi, Ning yang baru saja datang tahu, mawar itu membiru di hatiku.

Kalabahi – Alor – NTT

October 25th 2012

Pucuk Hijau Pupus

Kamis pagi. Aku sudah duduk di pasar. Diapit dua ember besar berisi cumi-cumi putih. Semalam, bulan purnama bersinar terang. Memanggil cumi-cumi putih yang gemuk dan menggiurkan muncul ke permukaan laut. Ayahku bahagia karena dapat memancing mereka dengan mudah.

Aku bahagia untuk alasan yang berbeda. Di hari Senin dan Kamis, warga Kecamatan Pantar turun ke Desa Kabir untuk melakukan kegiatan jual beli demi memenuhi kebutuhan pokok kami. Dua hari itu menjadi hari favoritku selama dua bulan ini. Karena pada hari pasar, aku bisa berjumpa dengan dokter Kabir yang baru.

Dokter Atoy. Namanya unik. Begitu juga dengan orangnya. Rumah dinasnya tepat di seberang pasar. Dia tinggal sendirian. Ia memasak dan mencuci bajunya sendiri. Tapi dia memintaku untuk membersihkan rumah dan menyetrika pakaiannya. Dia bilang, bersih-bersih dan menyetrika adalah kegiatan yang tidak menyenangkan. Aku mengunjungi rumahnya dua hari dalam seminggu. Setelah pasar berakhir.

Banyak dokter PTT yang pernah bertugas di puskesmas Kabir, tapi tidak ada yang seperti dr. Atoy. Ia mengingatkanku pada dr. Jimmy, karakter di sinetron  lama berjudul Pelangi Di Matamu yang ditayangkan ulang di LBS Drama. Gaya bicaranya pun mirip. Ceplas-ceplos dengan suara tawa yang khas. Rambutnya lurus dan gondrong sebahu, tapi selalu rapi. Penampilannya nyentrik, kemeja lengan pendek dan celana jeans yang sudah pudar warnanya, serta sepasang sepatu kets warna abu-abu yang juga sudah tampak tua. Aku pernah melihatnya menggunakan anting ketika pergi memancing bersama ayahku. Kala itu ia mengenakan kaos tanpa lengan serta celana selutut. Otot lengannya tampak menonjol. Keringat yang mengalir di lehernya semakin menambah ketampanannya di mataku.

Tepat jam sembilan pagi, pucuk-pucuk hatiku telah penuh terisi embun rindu yang mengendap. Butir-butir airnya memantulkan cahaya yang hijau dan menyilaukan. Dan embun di pucuk hatiku memberat saat ku lihat dr. Atoy berjalan mendekat dengan senyumnya yang rupawan.

“Wah, cumi putih!”

“Iya, Pak Dok. Semalam bulan terang. Ayah ada dapat cumi putih banyak-banyak.”

“Kebetulan hari ini saya mau membeli agak banyak,” katanya sambil memilih lima ekor cumi yang ukurannya cukup besar.

“Bagaimana pengumuman SNMPTNnya?” tanyanya padaku.

“Seminggu lagi, Pak Dok,” jawabku sambil tersipu. Dadaku mengembang mendengar pertanyaannya yang begitu perhatian.

“Mudah-mudahan lulus ya. Saya sudah bilang sama ayahmu, kalo lulus ke perguruan tinggi negeri, uang semestermu akan saya bantu. Uang bisa habis, Rita. Tapi ilmu itu kekal. Saya yakin kehidupan kalian akan berubah jika kamu terus belajar,” katanya lagi.

“Terima kasih banyak, Pak Dok,” mataku berkaca-kaca. Sungguh lelaki ini telah menempati sisi yang istimewa di hatiku.

Tapi cahaya rinduku redup seketika, saat melihat seorang perempuan cantik menghampiri kami. Senyumnya menawan, berseri seperti mentari. Dokter Atoy menyambutnya dengan senyum lalu meraih jari-jari wanita itu dengan mesra, “Ini loh, Ma… Rita, anak Pak Herry yang aku ceritain.”

Wanita cantik itu mengulurkan tangannya tanpa ragu, bahkan setelah melihat tanganku yang basah dan berlendir karena memegang cumi-cumi, “Halo… Saya Sofia. Saya sudah dengar banyak tentang Rita. Makasih ya sudah bantu suami saya beres-beres rumah.”

Aku menyambut jabat tangannya dengan kelu. Dan rinduku yang masih hijau itu luruh ke tanah. Tetesannya berpencar ke segala arah, hingga akhirnya pupus dan tiada.

Moru – Alor – NTT

October 24th 2012

Tukang Pijat Keliling

Entah sudah berapa lama aku tidak menikmati aktivitas seperti ini. Menumpuk asam laktat, berpeluh adrenalin, basah oleh keringat. Lari pagi adalah kegiatan yang sudah lama kutinggalkan. Alasannya apa lagi kalau bukan malas.

Ruteku selalu sama. Rumah, sekolah dasar, kantor bupati, taman kota. Satu jam berlari rasanya sudah cukup. Selanjutnya hanya berjalan-jalan santai di sekitar taman kota yang baru selesai dipugar sebulan yang lalu.

Aku duduk di sebuah bangku yang cukup teduh karena dinaungi oleh pohon entah-apa-namanya. Ku luruskan kaki dan menggerak-gerakkannya perlahan. Meneguk dengan rakus air putih yang kubawa, lalu mengedarkan pandang ke keramaian taman. Ada seorang ayah yang sedang bermain ayunan dengan putrinya. Di ujung sana, sepasang muda-mudi berjalan dengan mesra sambil bergenggaman tangan. Dan di depanku, ada seorang anak laki-laki yang baru saja membuang hajat di atas tanah.

Lalu perhatianku teralih pada seorang perempuan yang wajahnya tidak asing. Tapi aku lupa siapa. Rambutnya diikat ekor kuda, mengenakan polo shirt putih, celana cargo selutut merah marun dan sepatu kets berwarna merah. Dia berdiri sambil melemaskan otot kakinya. Di depannya, ada laki-laki yang duduk bersila di atas tanah. Mereka mengobrol dan sesekali tertawa bersama.

Tiba-tiba ada rasa basah di betis kananku. Aku menoleh dan terkesiap. Sejak kapan ada anjing herder jelek di sini dan dengan lancang menjilat-jilat kakiku? Aku menarik kakiku dan berdiri. Lalu seorang lelaki tampan yang usianya kira-kira sama denganku, berlari menuju ke arahku. Dia terengah-engah sambil menyeka keringatnya.

“Maaf, Nona. Anjing saya memang aneh. Sejak kecil senang sekali dengan betis wanita.”

Entah bagaimana raut wajahku saat itu. Takjub, geli, terpesona.

“A… Ahahaha… Wow. Saya tidak bisa menemukan kebiasaan yang lebih aneh dari itu…” kataku canggung.

Entah seberapa jauh lelaki ini mengejar anjing anehnya sampai kehilangan nafas begini. Dadanya naik turun, mulutnya terbuka seakan ingin menelan semua oksigen di sekitarnya. Melihatnya seperti itu, aku merasa dia bisa pingsan kapan saja.

“Ini, minum dulu,” ujarku seraya mengulurkan botol minuman yang berisi air setengahnya. Lelaki itu menyambut tawaranku dengan wajah sumringah. Dan si anjing herder masih duduk memerhatikan tuannya sambil menjulurkan lidah.

“Lucas. Namaku Lucas,” katanya sambil menenggak habis air dari botol minumku.

“Saya Aliya. Senang berkenalan denganmu,” kataku sambil menyunggingkan senyum termanis. Ah, Lucas, seandainya aku belum bertunangan, mungkin aku sudah menawarkan lebih dari senyuman.

Kemudian kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Aku harus segera pulang. Begitu juga dengan Lucas. Ia tampak harus bekerja keras menggenggam erat tali kendali Milo yang tampaknya begitu bernafsu bisa menjilat betis perempuan-perempuan yang ada di taman ini.

Lalu langkahku terhenti di depan perempuan rambut ekor kuda tadi. Begitu pun dengan perempuan itu. Dan juga lelaki yang ada di sebelahnya. Mereka langsung melepaskan genggaman tangannya. Ada tangan tak terlihat yang menekan tombol pause di taman ini. Lucas berdiri kebingungan. Matanya tak mengerti, bergerak-gerak menelusuri wajah kami untuk mengetahui apa yang terjadi.

“Tom?”

Lelaki yang kusebut namanya itu memucat. Bibir tunanganku itu bergerak-gerak tanpa suara.

“Al… Aliya… Ini…”

Dan seketika, ingatanku tentang perempuan ini pulih total. Karena aku sering berjumpa dengannya di rumah Tom, sebagai tukang pijat tuna netra keliling.

 

Moru – Alor – NTT

October 23rd 2012

Kembar Tiga

Dera tampak ranum. Gadis berusia 10 tahun itu mendapat menstruasi pertamanya seminggu yang lalu. Payudaranya mulai penuh. Kadang ia geli saat rambut pubisnya mulai tumbuh.

Kini ia termenung di depan sebuah kedai es krim yang sudah usang. Matanya sayu memandang kakak kelas yang sedang bersenda gurau dengan teman-temannya.

Entah sejak kapan, Dera merasa hal yang tak biasa. Wajahnya memanas setiap tangan mereka bersentuhan. Nafasnya memburu saat wajah mereka hanya sejengkal jarak ketika sang kakak kelas menabraknya pagi tadi di sekolah. Ada yang berdenyut dalam dadanya setiap kali sang kakak kelas memanggil namanya.

Dera merasa ini aneh. Dera merasa harus berhenti. Kadang-kadang ia memertanyakan hatinya sendiri. Ada sesuatu yang salah di sini. Karena yang ia tahu, perempuan tidak boleh menyukai sesama perempuan.

***

Fera memandang nanar baju pengantinnya. Kebaya putih dengan aksen bordir dan permata yang rumit dan cantik.

Minggu depan, tepat di hari ulang tahunnya yang ke 25, ia akan menikah. Tapi semua orang tahu, cintanya telah tertinggal pada hati seorang laki-laki di masa lalu. Cinta pertama. Cinta yang menggebu dan penuh hasrat. Cinta yang merelakan dan mengekang.

Mungkin, calon suaminya sudah tahu. Tapi Fera yakin, lelaki itu takkan ambil pusing. Lelaki itu mungkin menganggap pernikahan adalah permainan masa kecil tanpa rasa. Atau menganggap perempuan hanyalah penampung sperma.

Fera mengalihkan pandang ke jalanan kota tua yang lengang. Ia mendapati Dera yang termenung di depan mangkok es krim yang isinya mencair. Matanya basah. Hatinya tenggelam.

Dera. Adik yang seharusnya memanggil Fera sebagai ‘mama’.

***

Di sebuah kafe antik bergaya klasik, Hera mengetuk-ngetukkan jarinya yang bercincin topaz di atas sebuah majalah bisnis. Perempuan berusia 50 tahun itu tersenyum memandang sebuah halaman yang terbuka, berhenti pada sebuah profil seorang pebisnis muda yang tampan parasnya. Milyarder yang seminggu lagi akan menjadi menantunya.

Semua orang menganggap hidupnya sempurna. Ia pun demikian, pada awalnya.

Hanya sedikit orang yang tahu bahwa putri semata wayangnya pernah mencoreng nama besarnya. Hera marah pada putrinya dan anak laki-laki laknat itu. Mereka telah merusak rencana hidupnya yang sempurna dengan membentuk nyawa baru tanpa ijin darinya.

Bermalam-malam  ia menangisi kebodohan putrinya. Putri yang masih naif akan cinta dan mungkin tidak sempat berpikir bahwa perbuatannya itu telah menorehkan tinta hitam pada lembar hidupnya yang berharga.

Berkali-kali ia menanamkan doktrin pada Fera. Bahwa untuk mencapai Hera yang sekarang, ia harus mengorbankan banyak hal. Waktu, tenaga, pikiran, serta cinta. Maka tidak ada alasan bagi Fera untuk terbuai dalam cinta mudanya. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Fera boleh melahirkan anaknya, tapi jangan pernah hidup sebagai ibunya.

Fera harus berkorban demi sebuah jalan hidup yang sempurna dan dipuja. Sebagaimana Hera telah berkorban menanggung perih. Bertahun-tahun ia menyembunyikan aib dari suaminya. Karena Fera adalah buah cinta dari lelaki penjual koran yang ia temui diam-diam.

***

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan yang dipermainkan hidup dan logika. Mereka terjebak dalam labirin yang berkedok cinta. Tersesat dan tak bisa keluar dengan selamat. Lalu mati sebagai jiwa tanpa rasa.

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan yang membutakan diri terhadap cinta yang buta. Tidak ada cinta yang gila. Yang ada hanya cinta yang tampak sempurna, meski bernanah di dalamnya.

Dera. Fera. Hera.

Tiga perempuan dari generasi yang berbeda. Hidup dengan pertanyaan-pertanyaan konyol yang sama tentang cinta.

Jika cinta itu bebas,

mengapa hidup begitu memaksakan aturan-aturannya?

Jika cinta tak pernah salah,

mengapa hidup begitu memaksakan kebenarannya?

Jika cinta tak pernah berdusta,

mengapa hidup begitu memaksakan kebohongannya?

***

 

Kalabahi – Alor – NTT

October 22nd 2012

%d bloggers like this: