Untuk Kamu, Apa Sih yang Enggak Boleh?

image

Perjalanan menuju kampung halaman tidak pernah sepilu ini. Dan hujan bukanlah kombinasi yang tepat untuk suasana hatiku saat ini. Ya ya ya, semua orang tahu, hujan adalah nyanyian pemanggil sendu. Sepertinya semua orang setuju dengan itu, dibuktikan dengan kondektur bis kota yang memilih lagu Betharia Sonata sebagai pengiring perjalanan dan hatiku yang dirundung ragu.

Beberapa hari yang lalu bapak menelepon. Memastikan bagaimana kelanjutan hubunganku dengan Raina, “Tiga tahun berpacaran. Kalian sudah cocok. Bapak dan ibu juga sudah setuju. Mengapa tidak segera menikah saja?”

Pertanyaan bapak telah menggiringku dengan paksa pada sebuah sore tiga bulan yang lalu. Ketika Raina dan aku memutuskan untuk berpisah. Berakhir. Putus.

Tidak ada yang salah dengan kami. Aku tidak selingkuh. Dan sepengetahuanku, Raina juga tidak begitu. Yang salah adalah keraguan. Rasanya ada yang tidak pas. Tidak tepat. Suatu keganjilan yang tidak bisa digenapkan dengan piihan untuk hidup berdua.

Diam-diam, aku mengartikan keraguan ini dengan tidak cinta. Seharusnya, cinta membuat segala yang mustahil menjadi mungkin. Tapi nyatanya, cintaku pada Raina tampak mustahil membuatku yakin.

Tiba-tiba bis bergoyang. Getarannya bisa saja membuat seorang ibu hamil melahirkan bayinya saat itu juga. Aku menyadarkan pandanganku yang tadinya tertutup lamunan. Menengok dan memeriksa, apa yang terjadi di luar sana.

Rupanya kendaraan ini sedang melewati jalanan yang rusak parah. Lalu terdengar komentar dan keluhan penumpang lainnya. Suara mereka berdesing seperti kepak sayap lebah. Beberapa di antara mereka memprotes tentang cara menyetir sopir yang tidak memperlambat laju bis ini meski sedang berjalan di atas jalan yang berlubang. Sebagian lagi meminta kondektur mengganti lagu Betharia Sonata.

Sedangkan aku …perhatianku justru diambil oleh seseorang yang selama dua jam ini menjadi teman perjalananku. Perempuan asing. Ia mengaduk-aduk tas ranselnya yang berwarna merah dengan panik. Wajahnya yang kuyu karena baru saja terbangun tampak bingung dan cemas.

“Aduh… Mana, sih?” gumamnya berkali-kali. Bertanya pada dirinya sendiri.

Aku memandangnya sekilas, lalu kembali menghitung jumlah tiang listrik dan pohon asam dari balik jendela bis, mencoba mengalihkan kegelisahan atas pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan bapak saat kami bertemu nanti. Seolah tak peduli dengan kegaduhan yang terjadi tepat di sampingku ini.

Tapi tiba-tiba hitunganku buyar. Ada yang menepuk lenganku, “Maaf ganggu. Bisa minta tolong miscall hape saya? Barusan saya cari kok ndak ketemu, ya…”

Aku menoleh. Kudapati sebuah mata bening berwarna cokelat tua yang mengagumkan. Tanpa diminta dua kali, aku mengangguk dan mengeluarkan ponselku, “Nomernya berapa?”

“08140440477.”

Aku mendengarkan nada panggil dari ponselku. Dan pada saat yang bersamaan, sebuah lagu terdengar dari kantong depan tas ransel perempuan itu, sebuah lagu india yang aku tidak tahu judulnya. Selera yang cukup unik, kurasa.

Wajah perempuan itu langsung berbinar mendengar ponselnya ditemukan. Senyumnya lebar, menampakkan barisan gigi yang putih dan gigi caninus kiri yang sedikit menjorok keluar. Manis.

“Alhamdulillah ketemu. Makasih ya, Mas. Saya kira kecopetan atau hilang di mana gitu.”

Aku mematikan sambungan telepon dan tersenyum, “Iya, sama-sama. Lain kali jangan lupa naruh lagi ya…”

“Hehehe iya… Oh iya, nama saya Hanum. Nama Mas siapa?” tanyanya.

Dahiku berkerut. Mataku refleks memandang ponsel yang tengah digenggamnya. Nomor ponselku tertera di sana. Di sebuah kotak penambahan nomor baru. Dan ibu jarinya telah siap di atas keypad ponsel itu.

Pandangan kami bertemu. Ada suara yang membacakan sebaris skenario untuk kami berdua. Bunyinya sama. Atau anggap saja begitu. Karena selanjutnya, kami berdua ditenggelamkan tawa dan tersipu.

***

Kalabahi – Alor – NTT
January 19th 2013

*PS: Nomor telepon di atas beneran ada ndak ya? Kalo beneran ada, pinjem sebentar x))

  1. Semoga kali ini membuat yang mustahil menjadi mungkiin ciee…;)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: