Archive for the ‘ self talk ’ Category

Kopiku Tandas

14991200_10210089539727326_3841816215030126076_o

Kopi tandas
Denting cangkir bergegas mengemasi cemas

Kopiku tandas,
dasar cangkir membekas remang rembulan yang diselingkuhi awan rupawan

Dan malamku ini, lengang digeladah sepi
serupa ampas kopimu yang mengering hingga pagi

(Wlingi, 11 November 2016)

Advertisements

Nun

whatsapp-image-2016-11-21-at-20-48-39

 

“Nun. Wal qalaami wamaa yasthuruun.”

Konon, Allah lebih dulu menciptakan Al-Qalam sebelum Ia menciptakan semesta. Allah berfirman padanya, “Tulislah!” Dan Al-Qalam bertanya, “Apa yang harus aku tulis?”

“Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi, atau segala sesuatu yang akan ada, dari amal perbuatan, atau rezeki, atau jejak, atau ajal.”

Dan manusia adalah pengikut Al-Qalam berikutnya. Dari hatinya yang membaca semesta, manusia akan menulis takdirnya sendiri.

Manusia dapat memilih pada apa ia menaruh amarah, ke mana ia meletakkan tujuan, dan pada siapa ia menaruh rindu serta percaya.

Dengan pena bermata ilmu dan pengetahuan yang diyakini, manusia akan menggubah cerita-cerita, ide serta risalah tentang rahasia, ledakan dahsyat atau kepiluan, menjadikannya abadi dalam sebuah tulisan, atau sesederhana takdir.

Maka manusia dapat menorehkan ujung-ujung pena di jalan kebaikan, atau menusukan mata pena ke jantungnya sendiri.

“Nun. Demi pena dan apa yang dituliskan.”
(QS Al Qalam, ayat 1)

Hampir Pernah

Ia hampir mengajaknya berbicara, saat Dia diam-diam pernah menunggunya.

Ia hampir memberikannya sebuah novel favorit yang hingga kini usang di laci meja.
Dia pernah menyelipkan sepucuk rindu di buku yang akhirnya tidak pernah terbaca.

Ia hampir bilang cinta.
Dia pernah menyematkan namanya di setiap doa.

Mereka hampir ditakdirkan bersama.
Sayangnya mereka mengucap diam belaka.

Konon kini Ia hampir melupakan semua,
Tapi sesungguhnya Dia masih merasakan hal yang sama.

Rindu Peniru

WhatsApp Image 2016-08-05 at 13.21.09

Bapak dan Ibu adalah dua kutub yang berbeda.

Bapak orangnya hangat dan gemar menunjukkan perasaan. Sebentar-sebentar meluk. Sebentar-sebentar cium. Sedangkan Ibu lebih dingin, cenderung diam dan menyembunyikan perasaan. Kalo anaknya senderan atau rebahan di pangkuannya, she did nothing.

Bapak lebih toleran pada nilai-nilai anaknya yang buruk ketika Ibu sangat disiplin dan menginginkan anak-anaknya belajar dengan baik.

Bapak lebih sering mengungkapkan kekhawatiran pada anak-anaknya. Setiap mbakku ke luar negeri, beliau tidak akan tidur sampai mendengar kabar bahwa mbakku sampai dengan selamat. Ketika aku PTT, Bapak tidak akan tenang jika tidak mendengar suaraku setiap hari. Dan Ibu selalu menjadi obat penenang Bapak. Ibu lebih rasional, meyakinkan Bapak bahwa kami berdua (aku dan mbakku) akan baik-baik saja. Dan kami berdua pun sudah hapal bahwa Bapak sedemikian melankolis. Sebagai pereda galau, kami selalu berusaha ‘ndisiki’ menghubungi beliau sesering mungkin.

Bapak suka nyanyi dan dansa. Ibu adalah perempuan kaku yang sering ngambek setiap kecentilan Bapak muncul. Akan memakan banyak waktu saat Bapak merayu Ibu untuk karaoke atau berdansa di sebuah acara. Hingga akhirnya Bapak lebih sering mengalah dan menjadikan putri-putrinya sebagai korban.

Mungkin benar bahwa kehilangan membuat seseorang lebih tau caranya mengenang. Setiap kepulanganku, selalu ada cerita tentang kenangan-kenangan Bapak… Segala hal tentang Bapak sebagai suami, kekasih dan bapak. Semua itu dikisahkan Ibu secara berulang-ulang hingga kami hapal di luar kepala.

Dan mungkin rindu membuat seseorang menjadi peniru. Ibu masih kaku, tapi sudah melunak. Kalo anaknya ndusel, tangannya mulai sibuk membelai. Dan beberapa hari lalu, Ibu bercerita lewat telepon, “Tadi Ibu nyanyi di acara reuni.”

 ***

Malang, 31 Juli 2016

 

Seminggu

Seminggu.

Kopi pagi ini mengingatkanku pada pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang tenang di dapur, dengan siluet bapak yang riang menggoreng tempe gembus. Sesekali bapak bercerita tentang menara masjid yang hampir rampung dibangun, lengkap dengan mozaik dinding warna-warni. Sesekali bapak berkeluh tentang nyeri lutut yang hilang timbul. Sesekali bapak mendesah tentang satu teman seperjuangan dialisis yang meninggal dunia.

Sesapan kopi kedua.

Bapak mulai bertanya bagaimana hari-hariku. Ia tak pernah menerima jawaban, “Ya gitu-gitu aja, Pak.” Bapak selalu bilang bahwa duniaku sama sekali berbeda dengan dunia orang kebanyakan. Unik, katanya. Dengan pemahaman orang awam, bapak tidak protes saat aku lebih sibuk dengan ‘printilan-printilan’ saat ia masih muntah-muntah karena efek obat bius. Bahkan ia hanya tertawa saat aku menceritakan pernah ‘disetrap’ karena kesalahan-kesalahan bodoh.

Kopi tinggal separuh.

Kemarin seseorang bercerita tentang kehilangannya terhadap seorang bapak. Bapaknya jatuh saat bekerja di rantau. Jenazahnya kembali dalam kondisi sudah dimandikan dan tertutup kafan.

Aku merasa bersyukur.

Di saat-saat terakhir, aku masih bisa membopongnya ke kamar mandi, membersihkan kotorannya, menyeka tubuh bapak yang makin tidak berisi, serta membantunya menyikat gigi.

Sisa kopi sudah tak ada lagi.

Kepada Hidup, terima kasih atas 30 tahun kebersamaanku bersama bapak, seseorang yang senantiasa menjaga martabat keluarga. Seseorang yang kadang-kadang memberikan kejutan romantis tak terduga pada tiga perempuannya. Seseorang yang selalu percaya anak-anaknya tumbuh jadi perempuan yang mampu, kuat dan tidak mudah mengeluh, which is I’m totally far from his hope.

I’m gonna miss you, Dad.

Always.

Di Bulan Sepuluh

Aku menantimu di bulan sepuluh
bersama keping-keping kenangan yang mulai rapuh

Aku menantimu di bulan sepuluh
menangisi rindu pada hatimu yang tak lagi utuh

Perempuan yang Meletakkan Rindu pada Ujung Pena

Nuun

Dini hari bergelayut di kedua kakinya. Lalu merangkak, menarik mesra ujung selimut yang sesungguhnya masih ingin ia kenakan. Sesungguhnya pula, lelah masih ingin melebur dengan jenuh. Namun kedigdayaan memuaskan nafsu itu telah takluk semalam, membaur dengan mimpi buruk. Dan kini matanya dipertemukan dengan kenyataan. Hari baru telah datang dan membutuhnya untuk dicumbu.

Nuun.

Secepat kilat, dikenakannya pakaian yang tersisa dari lemari amburadul. Tak dikenalinya lagi mana baju atasan, kaos kaki atau pakaian dalam. Tangannya bergerak begitu saja. Sama dengan ketika ia meletakkan senyum dan semangat pada wajahnya.

Ah, ini lebih baik. Karena dari hatinya yang tulus, akan selalu ada topeng untuk mereka yang butuh disanjung.

Nuun.

Dingin masih memeluk. Gelap belum juga hanyut. Hingga dingin kembali tereguk. Serta gelap membuat senja melarut. Dibawanya sebongkah penat dan jutaan letih yang beranak pinak di sekujur tubuh, naik dan berdiam di dalam selimut malam ini.

Terlupakan olehnya pesan singkat sahabat. Terabaikan olehnya panggilan telepon kerabat.

Setiap hari.

Ia adalah dirinya sendiri. Ruang di hatinya begitu kosong. Hingga tanpa sadar, sepasang laba-laba menjalin sarang di dalamnya. Memenuhi sudut-sudut kenangan yang pernah membuatnya tersenyum dan dicintai.

Kadang-kadang mencintai sesuatu adalah menjatuhkan hati pada jalan yang terjal. Ada hasrat yang terpuaskan, meski hidupku terpinggirkan.

Malam merajuk. Namun mata tak kunjung meredup.
Mimpinya terganggu oleh ketukan halus di atas meja. Perlahan, hatinya berkata agar segera membuka mata.

Ditemukannya pena yang berdiri tegak. Menuliskan lagi impian melalui aksara yang telah lama ia lupakan. Lalu ada rindu yang tersemat di ujungnya. Bergoyang gontai menunggu sambutan hati yang meradang karena awan hitam semakin tinggi untuk didaki.

Nuun

Wal qolami wamaa yasthuruun.

Diraihnya pena itu. Seketika ia terkesiap pada jutaan sinaps yang menggeliat tak keruan. Jantungnya menderu. Napasnya memburu. Ada sekelebat endorfin yang naik ke ubun-ubun.

Ah.
Ternyata ini rinduku.

***

Malang, January 5th 2015

%d bloggers like this: