Arimbi dan Werkudara

Bagaimana jika sejumput cinta meletup-letup di hati seorang raksasi?

Arimbi tidak pernah tahu. Membayangkannya saja ia tak berani. 

Kecuali pada siang itu, ketika sepasang matanya menemukan Werkudara. 

Dan lihat! Bagaimana sentuhan panah merah jambu telah melembutkan hati sang Raksasi. Serta merta Arimbi meletakkan benci dan beringasnya dengan hati-hati. Dendam dilumat habis oleh pagar-pagar rindu serta mimpi untuk memiliki.

Apalah rupa dibanding perasaan yang tulus ini. Binar cantik dari jiwa sang Raksasi pun membuat Werkudara menjatuhkan hati.  

Mungkin Semesta telah berkonspirasi menciptakan kekuatan tak tertandingi dengan menyatukan takdir sang Raksasi dengan Pandawa kedua yang gagah berani. 

Akhirnya Arimbi dan Werkudara saling menenun cita, cinta dan kasih. Bahkan malam pertama pun diamini Dewa Dewi yang turut menebarkan doa dan puisi. 

Mahligai mereka menjauh dari dermaga, seiring keduanya memanjatkan mimpi. Dan Werkudara sama sekali lupa bahwa sebelum bersama Arimbi, sesungguhnya ia telah beristri. 

#Apasi

#LatePost

#IjenSuites

(Sesungguhnya ga yakin ini beneran Arimbi sama Bima apa bukan. Tapi yawdalaya…)

Advertisements

Kopiku Tandas

14991200_10210089539727326_3841816215030126076_o

Kopi tandas
Denting cangkir bergegas mengemasi cemas

Kopiku tandas,
dasar cangkir membekas remang rembulan yang diselingkuhi awan rupawan

Dan malamku ini, lengang digeladah sepi
serupa ampas kopimu yang mengering hingga pagi

(Wlingi, 11 November 2016)

Kopi Sore Ini

15578348_10210439434154468_2028409639232716277_o

 

Kopi sore ini…
pahit dan hening
bagai derap-derap langkahmu yang perlahan menjauh,
laiknya rindu yang merayap di lorong tak berujung.

Senyummu pucat
ujung bibirmu gersang
wajahmu telah berpaling, meninggalkan petak ladang kita yang belum sempat ditumbuhi.

Sore ini, kopiku berkubang nestapa
Ia menjadikan pahit sebagai cerita pembuka
Mencintaimu, dijadikannya kutukanku
Dan keheningan telah menjamu segala macam duka dunia di sepanjang abad.

Nun

whatsapp-image-2016-11-21-at-20-48-39

 

“Nun. Wal qalaami wamaa yasthuruun.”

Konon, Allah lebih dulu menciptakan Al-Qalam sebelum Ia menciptakan semesta. Allah berfirman padanya, “Tulislah!” Dan Al-Qalam bertanya, “Apa yang harus aku tulis?”

“Tulislah segala sesuatu yang akan terjadi, atau segala sesuatu yang akan ada, dari amal perbuatan, atau rezeki, atau jejak, atau ajal.”

Dan manusia adalah pengikut Al-Qalam berikutnya. Dari hatinya yang membaca semesta, manusia akan menulis takdirnya sendiri.

Manusia dapat memilih pada apa ia menaruh amarah, ke mana ia meletakkan tujuan, dan pada siapa ia menaruh rindu serta percaya.

Dengan pena bermata ilmu dan pengetahuan yang diyakini, manusia akan menggubah cerita-cerita, ide serta risalah tentang rahasia, ledakan dahsyat atau kepiluan, menjadikannya abadi dalam sebuah tulisan, atau sesederhana takdir.

Maka manusia dapat menorehkan ujung-ujung pena di jalan kebaikan, atau menusukan mata pena ke jantungnya sendiri.

“Nun. Demi pena dan apa yang dituliskan.”
(QS Al Qalam, ayat 1)

Tanda

​Kamu adalah deretan aksara

yang tetap kueja meski terbata

meski kata, kalimat, paragraf, telah morat-marit tak patuh adab.
Bibirmu miskin kata-kata.

Ceritamu enggan mengarah ke mana-mana. 

Halaman itu berlalu begitu saja

hanya terisi deretan nama yang akhirnya selalu meninggalkan jeda.
Maka izinkan aku menjadi tanda

sebagai awal mula yang berakhir pada titik akhir pencarian

dan tak akan hilang meninggalkan tanda tanya.

Tidak Pernah Ada Waktu yang Cukup untuk Mengenangmu

Kamu adalah siluet sinar mentari pagi yang menelusup diam-diam dari celah jendela
Pagi ini merah warnanya
Memantulkan kemarahanmu saat kaki-kaki kecilku yang tak mau pulang meski petang datang

Kala itu telingaku panas
Kali ini hatiku pias

Lain waktu, kau menjelma sebagai alunan musik di siang yang ramai
Jingga. Cerah.
Menyanyikan kerianganmu setiap aku pulang bersama cerita-cerita
Kita duduk berdua berlama-lama, jemarimu tak henti memanja
Mendekatkan telingaku di detak jantungmu yang paling indah sedunia

Kala itu senyumku merekah
Kali ini rinduku membuncah

Petang… kau adalah lembayung yang indah
Semburat menyampaikan hangat lewat peluk mesra dan nasehat-nasehat
Sebuah selimut kau selubungkan di tubuhku yang sempat gemetar
Pelukan meredam segala gentar

Kala itu resahku pudar
Kali ini air mataku meliar

Tidak ada satu pun hal berharga yang mampu membeli waktu bersamamu, Bapak.
Kenangan membabi-buta kapan saja
Bahkan pada keluhan-keluhan mereka di bangsal, aku melihatmu berbicara.

Tidak pernah ada waktu yang cukup untuk mengenangmu, Bapak.
Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun.
Bahkan tulisan ini hanyalah kerinduan yang dikelabui kata-kata.

***

Malang, 25 Desember 2016

Setahun tanpa Bapak

Membaca

15094990_10210128729547047_2747612973354932354_n

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, untuk siapa dan di mana.

%d bloggers like this: