Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu

WhatsApp Image 2016-08-25 at 16.29.41

 

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu…

kecuali saat ini.

Ketika jarak semakin mempertegas antara
dan waktu mengulur kesempatanku bertemu denganmu.

Ada lengang berlinang di gelas kaca, serupa cokelat yang meleleh di sudut bibirmu di setiap pagi.

Ada sunyi yang mengendap, selayaknya senyum sederhana dan pelukan hangat darimu yang perlahan ditelusupi mati.

Berharap mungkin dapat memeram rindu. Tapi menunggu menjadikannya tumbuh beringas dan tak tahu malu.

Tidak ada waktu yang lebih tepat untuk menyampaikan rindu… kecuali saat ini.

Ketika panggilanku berdering dua kali
lalu ibu jarimu membuatnya mati.

***

Malang, 24 Agustus 2016

Rindu Peniru

WhatsApp Image 2016-08-05 at 13.21.09

Bapak dan Ibu adalah dua kutub yang berbeda.

Bapak orangnya hangat dan gemar menunjukkan perasaan. Sebentar-sebentar meluk. Sebentar-sebentar cium. Sedangkan Ibu lebih dingin, cenderung diam dan menyembunyikan perasaan. Kalo anaknya senderan atau rebahan di pangkuannya, she did nothing.

Bapak lebih toleran pada nilai-nilai anaknya yang buruk ketika Ibu sangat disiplin dan menginginkan anak-anaknya belajar dengan baik.

Bapak lebih sering mengungkapkan kekhawatiran pada anak-anaknya. Setiap mbakku ke luar negeri, beliau tidak akan tidur sampai mendengar kabar bahwa mbakku sampai dengan selamat. Ketika aku PTT, Bapak tidak akan tenang jika tidak mendengar suaraku setiap hari. Dan Ibu selalu menjadi obat penenang Bapak. Ibu lebih rasional, meyakinkan Bapak bahwa kami berdua (aku dan mbakku) akan baik-baik saja. Dan kami berdua pun sudah hapal bahwa Bapak sedemikian melankolis. Sebagai pereda galau, kami selalu berusaha ‘ndisiki’ menghubungi beliau sesering mungkin.

Bapak suka nyanyi dan dansa. Ibu adalah perempuan kaku yang sering ngambek setiap kecentilan Bapak muncul. Akan memakan banyak waktu saat Bapak merayu Ibu untuk karaoke atau berdansa di sebuah acara. Hingga akhirnya Bapak lebih sering mengalah dan menjadikan putri-putrinya sebagai korban.

Mungkin benar bahwa kehilangan membuat seseorang lebih tau caranya mengenang. Setiap kepulanganku, selalu ada cerita tentang kenangan-kenangan Bapak… Segala hal tentang Bapak sebagai suami, kekasih dan bapak. Semua itu dikisahkan Ibu secara berulang-ulang hingga kami hapal di luar kepala.

Dan mungkin rindu membuat seseorang menjadi peniru. Ibu masih kaku, tapi sudah melunak. Kalo anaknya ndusel, tangannya mulai sibuk membelai. Dan beberapa hari lalu, Ibu bercerita lewat telepon, “Tadi Ibu nyanyi di acara reuni.”

 ***

Malang, 31 Juli 2016

 

Review: Sabtu Bersama Bapak

https://i2.wp.com/movie.co.id/wp-content/uploads/2015/02/Poster-film-Sabtu-Bersama-Bapak-1.jpg

 

Saya pribadi ga menaruh harapan tinggi pada film ini. Pengin nonton karena suka sama bukunya, penasaran sama Saka dan tentu saja alasan sentimental lainnya.

Beberapa hal memang diubah. Film ini ga persis plek sama bukunya. Tapi menurut saya esensinya tetep sama.

Film diawali dengan scene yang penuh dengan air mata. Lalu berkembang menjadi adegan-adegan humor kejomloan Cakra yang menyedihkan (iya, kaya saya). Klimaksnya adalah saat masing-masing tokoh memiliki masalah sendiri, yang akhirnya disatukan oleh pesan di hari Sabtu oleh Bapak Gunawan Garnida.

Akting Arifin Putra bagus. Kita cukup liat matanya, udah ngerti emosi yang bakal keluar dari situ. Kece, lah. Apalagi pas berantem sama Risa. Kece, lah (2).

Akting Deva sebagai pendatang baru (? – saya ga tau sebelumnya dia main di film apa) juga lumayan. Cocok dengan peran Cakra Garnida yang nerd dan konvensional, doyan bahas hal ga penting serta menaruh hati sama (pemilik) sepatu yang sering mangkal di depan musala.

Saya suka dengan efek blur saat Satya ketemu sama bayangan Bapak Gunawan. Apa, sih, namanya… Pokoknya itu. Hawa sendu dan gamangnya jadi lebih kerasa.

Salut buat make up artist-nya yang bisa bikin Ira Wibowo berubah-ubah usia. Detil banget.

Kelemahannya… As usual. Mindahin novel ke film itu susah. Ada beberapa hal yang terasa maksa di film padahal di novel enggak. Seperti perkenalan Itje dan Retna, yang sebenernya udah dimulai sejak awal. Di film malah seperti ujug-ujug dikenalin. Dan akting anak-anak Satya yang… ya… enggak ngerti, deh, milih kedua anak itu berdasarkan apa. Selain wajah yang ga bisa dimiripin ke Acha dan Arifin Putra sama sekali, ekspresi mereka datar abis.

Tapi bagaimanapun… Banyak banget pesan yang disajikan di film ini. Bahwa hidup seharusnya terencana. Termasuk tentang pekerjaan, cita-cita, keuangan, dan pernikahan. Bahwa kemenangan itu diraih, bukan dikasih. Bahwa dalam membangun sebuah hubungan yang kuat, diperlukan dua orang yang sama-sama kuat. Bukan saling melengkapi. Karena melengkapi diri adalah tanggung jawab masing-masing. Bahwa meski kita sudah dewasa dan punya keluarga, orang tua tetap menjadi orang pertama yang bisa kita andalkan.

Film ini direkomendasikan buat siapa saja yang ingin terus belajar menjadi lebih baik… Sebagai orang tua, sebagai anak, sebagai istri, sebagai suami, sebagai calon pasangan 😊 Tapi kalo mau bandingin sama novelnya, ya… Pikir-pikir dulu, deh 😁

❤❤❤❤💔

IMG-20160710-WA0000

Malang, Juli 10th 2016

Di Pengembaraan, Satu-Satu Rindu Berjatuhan

image

Ia yang pernah kuhujani peluk
Ia yang pernah kuselimuti cumbu
Perlahan mengabur bersama jejak-jejak kasar roda hidup

Di pengembaraan,
satu-satu rindu bergelimpangan

Ia tak lagi sanggup kureguk
Ia tak lagi sanggup kupagut
Kini hanya menyisakan jelaganya yang mengerak di sudut mataku

(Gambar dan quote diambil dari Path @KataBergerak ^^ )

Hujan Memenjarakan Kita

image

Sesungguhnya hujan memenjarakan kita…
dari kaki-kaki kecil yang berkecipak di atas kuyupnya aspal, dari mulut yang berceloteh ramai mengalahkan rinai, dari mata yang dibasahi bahagia di bawah hujan.

Dan hujan telah memenjarakanku…
dalam kenangan yang menggenang bertubi-tubi itu, aku tenggelam.

Malang, 19 Juni 2016, 08:09 WIB

Aku Tidak Tahu Apa Namanya

image

Sore ini, hujan turun membawa suara-suara
Bisik-bisik ditiupkan perlahan di setiap tetesnya
Bisa kudengar dengan mata terpejam, ada nyanyian yang biasa kamu dendangkan
tentang luka
tentang harapan dan cita-cita
tentang hujan dan segala kenangan yang ia bawa

Di lain waktu, hujan mengembuskan wewangian tanah yang merona
Terlintas ceritamu saat menyesap kopi pekat di kala senja
Bahwa semenjak bumi diciptakan, hujan dan tanah telah berijab kabul, lalu melahirkan bayi-bayi petrikor. Mereka beranak pinak menjadi melodi pemanggil kepiluan.

Hujan dan tanah tak berhenti bereproduksi.
Petrikor.
Pilu.
Cucunya banyak sekali.
Aku tidak tahu apa namanya.

Kopimu lenyap sesaat sebelum tersadar bahwa aku dirasuki ribuan cicit-cicit mereka.

Sepasang Mata Teduh di Ujung Pintu

Ada sepasang mata teduh di ujung pintu…
yang dari kelopaknya, tumbuh tunas-tunas air mata yang belum sempat disiangi.

Kudatangi ia…
kurelakan kedua telingaku digaduhi isak yang menelusup malu-malu.

Sore itu, diceritakannya tentang penderitaan paling getir…
tak lagi bisa mencium ibu ayahnya
tak lagi bisa menertawai kaki-kaki kotor saat bermandikan hujan bersama adiknya
tak lagi bisa melumat rindu pada kekasih yang kemarin dulu meninggalkannya.

Sore itu, kutenggelamkan wajahnya yang sendu ke dalam pelukan
Sembari melantunkan sajak-sajak yang mungkin dapat mengemasi kesedihan.

Bibir itu bergumam lamat-lamat, “Aku benci menjadi bayangan.”

Kuraih rona jingga yang memantul di pipinya,
“Nona…
bahkan dalam gelap paling gulita
pijarmulah yang terbenderang.”

Detik dan menit berkoalisi dengan pilu…
pelukanku dibekukan waktu
Hingga sinar senja menggelap di ujung pintu.

Pelukan kusudahi.
Istriku kembali.

%d bloggers like this: