Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Advertisements

Percuma

Di malam-malam berlumur risau
Aku pernah bersaksi bahwa tiada hati selain engkau

Mungkin hati ini sama
Tetapi yang kita lihat hanya percuma

Dan kututup malam dengan kopi berasa kecewa
pahitnya digelandang gerimis karena engkau tak kunjung menepi

Malang, 4 Maret 2018
20:05 WIB

Size Does Matter

Size doesn’t matter.

Siapapun yang percaya hal ini, pasti belum pernah berada di posisiku. Nelangsa. Tertekan. Merasa tak berdigdaya. Semua itu kurasakan karena perihal ukuran.

Bayangkan. Baru seminggu menikah, istriku sudah protes. Dia bilang, aku tidak bisa menyentuh titik-titik paling erotis di tubuhnya. Dia bilang, alu yang kupunya tak mampu menghidupkan lesungnya. Dia bilang… Dia bilang ukuran alat vitalkulah masalahnya.

Siang tadi, aku berkonsultasi pada seorang tabib terkenal. Dia sesumbar mampu membesarkan penisku dengan sempurna, dan meningkatkan kinerjanya menjadi luar biasa. Tabib itu memberiku sebuah ramuan oranye. Bukan biru. Padahal setahuku, pil viagra berwarna biru. Mungkin karena ramuan ini lebih hebat dari viagra yang berwarna biru, pikirku.

Aku tidak mau membuang waktu. Selepas dari tabib, aku melesat pulang. Menghias kamar tidur dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Menyalakan tiga lilin aromaterapi patchouli. Serta memasang lagu-lagu romantis Eric Clapton dari dek musik di kamar kami.

Kugenggam botol ramuan oranye itu dengan tangan gemetar. Tabib itu bicara tentang konsekuensi. Jujur saja, ketakutan itu ada. Karena tabib itu tidak memberitahuku apa konsekuensinya.

Tapi, size does matter. Bayangan pergumulan panjang dan istriku yang terpuaskan sudah terbayang di pelupuk mata. Kuhabiskan ramuan oranye itu dalam sekali tenggak. Pahit. Lidah dan kerongkonganku seakan terbakar. Lalu tubuhku memanas. Mungkin ini tanda yang bagus. Bukankah dalam gairah itu ada api yang membara? Jika tidak, dari mana lenguh, peluh dan kulit memerah itu datang?

Aku harus bersiap di atas ranjang untuk menyambut istriku. Derap langkahnya mendekat. Dia sudah sampai di depan pintu kamar saat aku merasa lingga di selangkanganku mulai membengkak.

Klek.

Istriku memasuki kamar.

Tapi ada yang tidak beres. Tubuhku sesak. Seperti ditekan dari segala arah.

Oh… tidak. Tubuhku…

“Astaga! Kenapa ada dildo sebesar ini di atas ranjang? Mas? Kamu di mana? Mas…,” pekik istriku sambil berhambur ke luar kamar.

***

Malang, 15 Oktober 2013

Hanya

Aksara kita berlumur renjana
Senyum-senyum yang terabadikan tampak bukan sekadar saja

Mereka tak kan mengira
maka mari teruskan saja
kita sedang bermain hanya

Kamu hanya pura-pura suka
Aku hanya pura-pura bahagia

Malang, 28 Februari 2018
20:49 WIB

Koran Pagi Ini

Sunyi
Dingin
Teh melati

Wanginya mengingatkanku pada genggaman tangan yang pernah kau curi.

Dan koran pagi ini
bercerita tentang kisah yang tak akan kembali.

Aku tak pernah tahu
bahwa melupakanmu bisa sesusah ini.

Malang, 26 Februari 2018
04:56 WIB

Dua Sisi

“Tuhan itu kejam.”

Akbar, laki-laki kurus berambut gondrong yang sudah setia selama delapan tahun menjadi anak buahku itu menatapku ganar. Kulempar sebatang rokok untuknya. Lalu ia menyalakan api untuk rokok yang sudah bertengger di bibirku.

“Tuhan menciptakan harapan. Menurutmu …mengapa?” tanyaku.

Mata Akbar terbelalak. Ia bernapas lewat mulutnya yang terbuka. Lalu menggeleng dengan wajah paling jelek sedunia, “Enggak tahu, Bos.”

“Jelas kamu enggak tahu. Kalo tahu, kamu enggak mungkin jadi kacung ahahaha.”

Akbar ikut terbahak bersamaku hingga terbatuk-batuk. Dungu. Dia menertawakan ketololannya sendiri.

Kuraba akta tanah yang bertumpuk-tumpuk. Tanganku yang kasar terasa nyata menyentuh lembar-lembar berharga. Krajan. Tanah leluhur yang seharusnya memang menjadi milikku.

“O iya … Sebenernya saya heran Kasman mau menghancurkan desa Krajan. Dia, kan, orang Krajan, Bos,” ujar Akbar.

Aku tersenyum. Mengingat bahwa akulah pahlawan penyelamat Kasman dan adiknya beberapa tahun lalu. Mereka difitnah dan terpaksa pergi dari Krajan yang telah menjadi tempat berteduh. Kasman dan adiknya berkeliaran di jalan. Terkatung-katung. Tanpa pekerjaan. Tanpa tempat tinggal.

“Goblok. Kasman itu bukan orang yang enggak tahu terima kasih. Dulu dia dan Ratemi kupungut dari jalan. Kuberi tempat tinggal. Kuberi pekerjaan. Enggak mungkin sekarang dia enggak setia sama aku!” racauku sambil mengoyak pisang goreng dengan gigiku yang menghitam karena terlalu banyak mengisap tembakau.

Akbar kembali mengangguk-angguk. Tanpa tahu bahwa aku adalah Tuhan yang telah memberi Kasman harapan. Harapan untuk tetap hidup dan bernapas.

Hujan di luar sana. Seekor kucing berteduh di bawah tripleks yang hampir runtuh. Hampir menyatu dengan puing bangunan masyarakat desa Krajan yang habis diluluhlantakkan Kasman tiga hari yang lalu.

Tidak ada yang mengira sebelumnya, bahwa kakek dari kakek buyutku adalah seorang yang kaya raya. Ningrat yang menjadi tuan tanah di Krajan. Namun bodohnya, kakek dari kakek buyutku itu hijrah ke kampung tempat kelahiranku dulu. Sebuah desa tandus yang sama sekali tidak layak sebagai tempat hidup. Sebuah tanah gersang yang hanya mampu meletupkan ketakutan akan kematian karena kelaparan. Sebuah bentala yang pada akhirnya membuatku mengerti. Bahwa Tuhan menciptakan harapan karena terlebih dulu Ia mencumbui manusia dengan ketakutan. Kejam, bukan?

Dan mimpi-mimpi burukku atas hidup penuh derita telah memberiku harapan. Merampas Krajan kembali.

“Kasman sakit hati waktu difitnah mencuri beras dari lumbung pagi, Bos. Dia dendam sekali. Kasihan …,” ujar Akbar tiba-tiba sambil mengetuk-ngetukkan rokoknya ke asbak. Abu berjatuhan. Sama seperti nuraniku yang berguguran. Demi tanah leluhur. Demi Krajan.

“Oh. Kamu dengar kasus itu juga, tho?”

Akbar mengangguk. Menyesap rokoknya yang tinggal sepertiga dan kerkata, “Sampai saat ini saya belum nemu siapa tukang fitnah itu, Bos.”

Kutekan puntung rokok yang tinggal seperempat ke asbak yang penuh abu. Aku berdiri dan melemaskan otot-otot yang tegang karena terlalu bersemangat. “Tuhan menciptakan ketakutan terlebih dulu untuk menumbuhkan harapan. Menurutmu, aku berbuat apa?”

Kembali Akbar membuat wajah paling dungu sedunia. Matanya terbelalak. Ia bernapas dari mulutnya yang terbuka.

Aku terkekeh pelan melihatnya. Berusaha melukis kembali ingatan saat diam-diam kucecerkan padi di sekitar rumah Kasman.

***

Malang, 05 Desember 2013

Iqra’

Iqra’

Membaca.

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, kepada siapa dan di mana.

***

Wlingi, 18 November 2016

Advertisements
%d bloggers like this: