Beku

rel

Sajak telah berjalan-jalan
Dari sapa di gerbong kereta
Turun ke genggaman tangan yang hangat
Dan berakhir pada rindu yang sengaja kau bekukan dalam kecupan

***

Malang, 13 Agustus 2017

Advertisements

Peretas

hujan

Lalu bagaimana aku mengadu lewat kata-kata?
Bahwa rinai hujan telah mencumbu rindu
pada kamu; pemburu cemburu
tempatku menyandar segala debar
hati yang meretas berjuta cemas

***

Malang, 17 November 2017

Kisah Sepasang Sepatuku

sepatu

Sebuah kasih sampai di perhentian

Jabat tangan bertukar kata selamat jalan.

Maka demikianlah

Kisah sepasang sepatuku

Tidak mengenal sampai jumpa

Tapi mengernai pilu

karena tak sanggup menghapus jejak yang dulu.

 

***

Malang, 7 Desember 2017

Sudah Rindu, Rindu Sudah?

bunga

Menyiram labu dalam pot bunga
Labu subur, buahnya merekah
Senyummu abadi dalam kepala
Jadi bagaimana rinduku ini bisa sudah?

***

Malang, 9 Desember 2017

Cintamu Mati

lampion

Lampion temaram; senyummu memudar dan masam.
Cintamu mati; tertinggal puisi yang sepi.

 

Malang, 8 Desember 2017

Puisi Pada Gerimis Yang Sepi

TELP

 

Rintik gerimis menyuguhkan sepi
pada penyair yang merimakan puisi
Baru saja ia terima telepon yang berdering
Cinta di seberang telah kering

(Belum ada judul)

Sekitar pertengahan tahun 2014, saya dipertemukan dengan sepasang suami istri yang kebetulan opname di ruangan tempat saya bertugas. Sang suami, Tn. NK, terdiagnosis menderita gagal ginjal kronis di usia yang cukup muda, sekitar 35 tahun. 

Ketika mendengar bahwa Tn. NK terdiagnosis gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal, keduanya sempat sedih dan tertekan. Mereka baru tiga tahun menikah, dan belum punya anak. Seperti pasien GGK pada umumnya, mereka takut menghadapi pilihan-pilihan terapi yang ditawarkan, entah itu hemodialisis, CAPD (Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis), atau cangkok ginjal. 

Saya paham kekhawatiran dan ketakutan yang mereka hadapi. Tapi sebagai salah satu dokter yang merawat, saya berusaha membangkitkan keberanian Tn. NK dan istrinya. Saya juga menceritakan pengalaman Bapak saya menggunakan CAPD, serta menyelipkan kalimat yang pernah Bapak ucapkan ketika pertama kali didiagnosis menderita GGK sekitar lima bulan sebelumnya, bahwa selama Tuhan masih menitipkan hidup, maka manusia wajib menjaga amanah tersebut sebaik-baiknya.

Akhirnya setelah berbagai edukasi, Tn. NK dan istri memilih CAPD sebagai terapi pengganti ginjal. Mereka memelajari teknik CAPD dengan cukup cepat. Dan kami tidak bertemu kembali sejak akhir tahun 2014.

Februari 2016. Kala itu saya bertugas di divisi nefrologi. Secara kebetulan saya bertemu kembali dengan Tn. NK dan istri yang kontrol ke poli CAPD. Sang istri menanyakan, “Kabar bapaknya gimana, dr. Nina?” Getir saya menjawab, “Alhamdulillah, Bapak saya sudah ga sakit sejak 2 bulan yang lalu. Beliau sudah duluan, Bu.”

Mereka berdua tampak kaget. Selama beberapa detik, poli CAPD menjadi lebih hening dirundung kesedihan dan saya dapat membaui ketakutan mereka. Karena ternyata ada masalah dengan CAPD Tn. NK, yaitu sering terasa nyeri, dan ia tidak bisa buang air besar dengan lancar.

Betapa Tuhan menciptakan tubuh manusia untuk selalu dinikmati. Mungkin beberapa orang tidak menyadari bahwa buang air besar adalah anugerah yang besar bagi manusia. Tidak bisa BAB bagi pasien-pasien GGK dengan CAPD merupakan aba-aba bahwa sesaat lagi infeksi akan datang. 

Tn. NK mengalami CAPD yang terinfeksi sehingga muncul peritonitis. Dan kondisi ini merupakan kedua kalinya. Akhirnya diputuskan bahwa CAPD dihentikan dan Tn. NK beralih ke hemodialisis konvensional. 

Sekitar satu setengah tahun berlalu. Saya sudah menyelesaikan rotasi stase dan sedang menunggu ujian nasional. Begitu banyak hal yang perlu dipersiapkan, karena belajar memang tidak pernah menjadi kebiasaan bagi saya (ehehehe…). Saya dan beberapa rekan sedang berjalan di koridor RSSA, kemudian tidak sengaja bertemu dengan istri Tn. NK yang terlihat membantu ibu-ibu lain mengurusi administrasi pasien-pasien hemodialisis.

“Bu NK, apa kabar? Bapak apa kabar? Lagi HD, ya?” sapa saya.

“Alhamdulillah, Dok. Suami saya sudah ga sakit lagi. Sudah dipanggil sekitar lima bulan yang lalu,” jawabnya.

Dengan susah payah saya menahan tangis ketika memeluknya. Pelukan yang bermakna saling menguatkan dari perempuan yang sama-sama telah kehilangan lelaki istimewa karena GGK. Kami sudah berusaha yang terbaik, begitu juga Bapak dan Tn. NK. Mereka telah lulus. 

InsyaAllah, Bapak saya dan Tn. NK sudah benar-benar sembuh sekarang.

PS: Gambar adalah boks-boks cairan dialisat pasien GGK dengan CAPD yang akan digunakan dalam sebulan.

%d bloggers like this: