13 Juli 2018

Bismillahirrahmanirrahiim

Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Yang terhormat,

Ibu Dekan beserta para Pembantu Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ibu Direktur Rumah Sakit Umum dr. Saiful Anwar Malang atau yang mewakili

Bapak Direktur Rumah Sakit Jejaring atau yang mewakilli

Bapak Ketua dan Sekretaris TKP PPDS Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Ketua Program Studi dan Sekretaris Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Bapak/Ibu Kepala Laboratorium di lingkungan FKUB

Guru-guru yang kami hormati

Segenap civitas akademika Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Ayah, Ibu serta keluarga yang kami cintai, serta rekan-rekan sejawat dokter spesialis baru yang saya banggakan

Perkenankanlah saya, sebagai perwakilan para dokter spesialis baru, mengajak hadirin sekalian untuk memanjatkan puja dan puji pada Tuhan Yang Maha Esa, sebagai rasa syukur kita atas seluruh berkah dan anugerah yang dilimpahkanNya sehingga hari ini kita dapat mengikuti acara Pelantikan Dokter Spesialis Baru Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya.

Bapak, Ibu, para guru dan kolega yang berbahagia,

hari ini merupakan bagian tak terlupakan dalam perjuangan kami. Hari ini adalah akhir yang menjadi awal dari perjalanan yang lain. Apa yang kita lakukan hingga mencapai hari ini adalah bekal untuk menghadapi perjuangan yang lebih menantang. Menjadi residen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya merupakan sebuah kehormatan besar bagi kami semua. Kami mendapatkan bekal yang lebih dari sekadar pengetahuan. Kami membiasakan diri mengatasi keraguan dan ketakutan, belajar berkolaborasi, serta bekerja di bawah tekanan; sehingga kami belajar untuk cermat kapan harus bertindak, bertahan atau merelakan. Semoga kami menjadi dokter spesialis yang cakap dalam mengeksplorasi pasien sebagai manusia, bukan objek semata.

Saat ini, masing-masing dari kita mungkin sedang mengenang masa lelahnya bertugas jaga belasan kali dalam sebulan, rasa sedih karena tidak mampu menemani keluarga yang sedang sakit, marah atau kecewa ketika ego yang satu bergesekan dengan ego yang lain. Pendidikan spesialis telah meminta persembahan yang tidak sedikit. Kita telah mengorbankan waktu, pikiran, tenaga, materi, atau keluarga. Semoga tidak ada dari kita yang secara suka rela mengorbankan kejujuran, loyalitas, kemanusiaan dan hati nuraninya selama menempuh pendidikan ini. Satu persatu pengorbanan telah dijatuhkan. Tanggung jawab berat telah menunggu seiring gelar yang lebih panjang. Maka mari kita menjadi dokter spesialis yang sebaik-baiknya, bagi kebaikan pasien serta martabat dokter Indonesia.

Alhamdulillah. Rasa syukur tertinggi kami panjatkan pada Tuhan Yang Maha Esa. TakdirNya telah memungkinkan kita semua berada di ruangan ini. BerkahNya tidak hanya berupa kemampuan materiil, tetapi juga kesempatan, kesabaran, kesehatan, kelapangan hati serta keikhlasan menjalani pendidikan spesialis yang tidak mudah, baik bagi para residen maupun bagi keluarga. Semoga kita menjadi hamba yang selalu bertakwa. Aamiin Yaa Rabbal ‘alamin.

Terima kasih kami haturkan kepada guru-guru kami, yang telah beramal jariyah melalui ilmu-ilmunya, baik dalam hal akademik maupun kehidupan, bagi kami dokter-dokter yang masih dipenuhi ego tinggi, namun belum bijaksana dalam bertindak. Maka dengan kerendahan hati, kami memohon maaf atas segala kelalaian kami, baik dalam hal kurangnya ilmu, sikap tak pantas, ucapan serta perilaku yang menyinggung dan menyakitkan. Meski sudah menamatkan pendidikan ini, kami tetaplah murid yang masih memerlukan banyak bimbingan dan arahan guru-guru sekalian. Demi pena dan apa yang telah Para Guru goreskan pada pendidikan kami, ilmu-ilmu dari engkau akan selalu menjadi rumah bagi siapapun dari kami yang ingin pulang.

Terima kasih juga kami persembahkan pada keluarga; ayah, ibu, istri/suami, anak, saudara, yang telah melakukan perjuangan besar sebagai keluarga residen; telah tabah menghadapi wajah kusut serta emosi yang labil, begitu sabar menjadi stuntman/stuntwoman dalam menggantikan peran yang hilang selama pendidikan spesialis dan berjiwa besar telah menghibahkan anak/suami/istri mereka bagi pelayanan, pendidikan dan pengabdian sebagai seorang dokter dan calon dokter spesialis. Rayakanlah hari ini. Bapak dan Ibu dapat menagih pijatan di pundak dan betis yang mulai kaku. Suami/istri dipersilakan menggugat lagi kecupan hangat di pagi hari. Putra/putri dapat menuntut kembali rutinitas dongeng sebelum tidur.

Selamat dan terima kasih saya ucapkan pada kolega dokter-dokter spesialis baru, atas interaksi yang istimewa di RS Saiful Anwar Malang. Kita telah bekerja sama, beradu argumen, berselisih, namun tetap berangkulan satu sama lain. Masa sekolah residen telah menunjukkan keluarga baru, saudara seperjuangan yang saling berbagi kisah, keringat serta air mata. Mari lanjutkan harmonisasi itu dengan saling membantu dan menghargai di tempat kerja kelak, demi kepentingan pasien, nama baik almamater serta persatuan dokter di Indonesia.

Wherever the art of medicine is loved, there is also a love of humanity (Hippocrates). Cintailah ilmu kedokteran sebagai ibu yang telah mengasuh dan menyusui kita dengan ilmu dan filsafatnya. Selamat bertugas, berbakti dan mengabdi.

Curiosity killed the cat. But a doctor without curiosity could kill. Tetaplah rendah hati, bekerja dengan hati dan berhati-hati. Karena sesungguhnya, dokter hanya mengetahui sedikit dari alam semesta. Tanpa kebijaksanaan, ia mungkin memberikan pengobatan yang diketahui sedikit saja, untuk memulihkan penyakit yang dipahami sekadarnya, pada manusia/pasien yang hidupnya tidak diketahui apa-apa (Voltaire).

Dan dalam masa-masa sulit yang mungkin akan kita hadapi di kemudian hari, ingatlah pasien-pasien yang pernah kita rawat terdahulu, yang sembuh dan yang kurang beruntung. Tubuh dan pikiran kita hari ini adalah buah dari apa yang kita letakkan pada nasib mereka. Berterimakasihlah pada pasien-pasien sebagai guru kita, dengan selalu menjadi dokter yang lebih baik dari sebelumnya.

Demikian sambutan dari saya. Mohon dimaafkan atas kata-kata yang kurang berkenan.

Nuun wal qolaami wamaa yasthuruun

Wassalamualaikum Wr Wb

Malang, 13 Juli 2018

Wakil Dokter Spesialis Baru

dr. Nina Nur Arifah, SpPD

***

IMG-20180713-WA0138

Mengingat masa sekolah dasar dan menengah yang standar, dilanjutkan dengan pendidikan dokter umum yang cukup jatuh bangun, saya pernah melewati masa-masa bekerja yang dihantui ketidakjelasan arah dan tujuan. Ada ketakutan pada diri sendiri karena merasa tidak bisa menjadi orang yang berguna dan bermanfaat, selalu menyusahkan, tidak membanggakan. Saya orang yang lambat, penakut dan cuek. Apalagi hal-hal itu diutarakan oleh orang-orang terdekat yang secara eksplisit. Baper, jelas! Hingga akhirnya saya mengasingkan diri dengan PTT di Alor, NTT (di samping tujuan lainnya adalah menantang diri sendiri dan demi meningkatkan ‘nilai jual’ dengan selembar surat Selesai Masa Bakti; karena jujur saja, saya tidak bisa apa-apa dan bukan ‘siapa-siapa’).

Mungkin memang sudah jalannya. Mungkin memang begini ‘skenario’Nya. Gagal di percobaan pertama seleksi masuk Pendidikan Dokter Spesialis. Pergi PTT. Mendapatkan berbagai pengalaman (jalan-jalan, menggeluti hobi menulis, fotografi) dan perenungan terhadap diri sendiri. Memantapkan diri mencoba peruntungan di Program Studi Ilmu Penyakit Dalam (yang sebenarnya diminati sejak lama, tapi selalu tidak percaya diri karena saya biasa-biasa saja). Mungkin sudah takdir dari Tuhan, saya diberi kesempatan berharga menimba ilmu di PS Ilmu Penyakit Dalam FK Universitas Brawijaya; meski di tahun pertama pendidikan, musibah itu datang. Bapak terkena gagal ginjal kronis dan harus menjalani terapi pengganti ginjal.

Sekali lagi. Perasaan gagal itu ada. Saya dokter, tapi gagal mencegah gagal ginjal pada orang tua sendiri. Menyalahkan diri sendiri? Tidak perlu ditanya. Bukan sekadar menyesali. Saya mengutuk diri sendiri yang tidak bisa menunggui Bapak dengan maksimal. Bahkan sehari menjelang kepergian Bapak, saya harus jaga di UGD selama 24 jam. Dengan kondisi kelelahan lahir dan batin, kepulangan saya di tanggal 27 Desember 2015 meninggalkan sedu sedan di bis patas, dan menemui Bapak yang tampaknya sudah mulai dijemput naza’. Ada sebagian diri yang membela, bahwa saya bekerja untuk orang lain pun merupakan ibadah. Bahkan sebagian diri saya menyalahkan sejawat yang menangani Bapak saya saat itu gagal mengenali kondisi sepsis, gagal membedakan pneumonia dan kongesti paru, antibiotik terlambat diberikan, sepsis telanjur datang. Tapi sebagian diri yang lain lebih agresif, memojokkan saya dan berkata, “Mestinya kamu menemani Bapak dan merawat dengan baik, bukan malah menyerahkan tugas itu pada dokter yang lain. Durhaka.”

Tanggung jawab menjadi dokter itu berat. Seberat mengakui bahwa kita tidak pandai, kita kurang teliti, kita kurang berusaha, kita mengabaikan petunjuk-petunjuk yang sebenarnya nyata, kita kurang memberikan hati saat menjalankan profesi ini. Kekecewaan dan kesedihan saya terhadap kondisi Bapak cukup membuat trauma. Saya sempat marah pada dokter jaga UGD saat itu. Tapi ternyata kemarahan justru membakar saya sendiri. Toksik. Saya tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarahan yang menyala-nyala. Akan lebih mudah dan mengurangi energi, jika saya memulai dengan diri sendiri. Menilik dan mengintrospeksi, apakah saya pernah memeriksa atau memvisite pasien sekadar saja, tanpa ‘rasa penasaran’. Karena dokter tanpa rasa ingin tahu itu sesungguhnya bisa membunuh.

Alhamdulillah, rangkaian pendidikan yang cukup melelahkan dan penuh drama sudah selesai. Tidak mudah, tapi ternyata saya mampu. Bapak (selain Ibu) adalah orang yang selalu menguatkan dan memberikan saya anak tangga untuk percaya diri. Bapak percaya, bahwa bungsunya yang biasa-biasa saja ini bisa mengembangkan diri (jika dipaksa, tentunya). Tidak perlu menjadi yang terhebat, cukup menjadi yang lebih baik. Bapak, Gemini yang cukup melankolis, pernah menangis bahagia saat saya disumpah menjadi dokter umum. Kali ini, Bapak tidak bisa mendampingi. Saya tak sempat melihat tangis bahagianya jatuh sekali lagi. Saya tak sempat menanyakan, “Did I do good? Did I do well? Did I…?

Mungkin pertanyaan itu hanya bisa dijawab oleh saya sendiri, mau melaksanakan profesi ini dengan seperti apa. Jika belum sampai lelah, terkapar atau menangis, maka mungkin saya belum mengerjakan apa-apa. Bapak mungkin korban keegoisan anak bungsunya. Semoga saya tidak lagi menjadi alasan orang lain merasa ‘dikorbankan’.

Bismillah. Perjalanan selanjutnya akan dimulai dengan judul Wajib Kerja Dokter Spesialis. Setting tempat belum ditetapkan. Semoga berkah di mana pun ditempatkan. Aamiin.

***

Malang, 14 Juli 2018

Advertisements

Ibuku Cantik

Ibuku cantik jelita dan sering tertawa.
Ia senang berdendang riang, dan lagu-lagu keroncong atau Koes Ploes yang sering ia gumamkan.
Akhir-akhir ini, Ibu sering menanyakan cara bernyanyi sesuai irama
Tuk tuk tuk… kami bernyanyi sambil membuat ketukan bersama.
Lalu tawa pecah, Ibu lupa liriknya.
Kemudian Ibu memintaku menuliskan lirik lagu Widuri dari Broery Marantika.
“Untuk dinyanyikan di acara Prolanis,” begitu katanya.
Perlahan kugoreskan pena di atas kertas
berhati-hati sekali karena untuk menulis dengan bagus, jujur saja… aku sudah lupa caranya.
Ah, Broery… penyanyi favorit almarhum Bapak.

Ibuku dulu jarang bercerita atau menggoda.
Namun kini berbeda.
Ia gemar mengisahkan hari-harinya yang luar biasa.
Kemarin, Ibu menghadiri reuni alumni SMA almarhum bapak.
Ibuku bernyanyi, lagu zaman lawas tentu saja.
Dengan suara renyah, Ibu berkata, “Dulu Ibu sering duet dengan Bapakmu, karena dipaksa tentunya. Sekarang malah Ibu ikut keranjingan.”

Ibuku sangat kusayangi.
Jika kupunya sayap, aku tak akan lupa membawanya terbang tinggi ke angkasa.
Mungkin ada kalanya kami bersilang pendapat.
Tapi pelukan Ibuku tetap menjadikannya Ratu tercantik jelita sedunia.

(Sebagian kalimat diambil dari lirik lagu Ibuku Cantik – Maisha Kanna; Ost. Kulari Ke Pantai)

Prolog

“Berlarilah. Lupakan luka di masa lalu.

  Berlarilah. Rasakan adrenalin yang menginfiltrasi seluruh sel di tubuhmu.

  Berlarilah. Karena ada jutaan mimpi yang menunggu untuk kau cumbu.”

***

2 Maret 2012

Satu jam lima puluh menit.

Rasanya ini akan menjadi perjalanan paling lama yang pernah kulakukan. Lebih lama dari Malang menuju Jogja yang memakan waktu tempuh enam jam dengan kereta. Lebih lama dari waktu yang dibutuhkan untuk melupakan kenangan bersama mantan pacar yang sudah kucintai selama lima tahun dan dengan gagahnya meminta hubungan kami berakhir karena ia telah jatuh hati pada perempuan lain.

Seorang perempuan paruh baya di sampingku telah nyenyak dalam tidurnya. Dengkuran halusnya menjadi musik pengiring bagi pikiranku yang melayang-layang, menembus awan putih yang mengapung di luar sana. Aku terhipnotis dengan putihnya yang menenangkan. Mungkin terdengar picisan. Tapi tidak ada manusia yang tidak tergoda untuk mencoba menjejakkan kaki di atas awan. Mungkin saja awan memang bisa dijadikan alas tidur yang nyaman. Jauh dari hiruk pikuk di bawahnya. Tapi kemudian awan-awan itu mengejutkanku. Mengembalikanku pada kenyataan ketika ia membuat guncangan pada badan pesawat.

Jutaan pertanyaan itu datang lagi. Mereka meminta penjelasan untuk hal-hal yang terjadi sebelum aku pergi. Tentang secarik kertas yang kini terselip di sebuah buku harian. Secarik kertas yang membuatku memutuskan untuk melarikan diri. Secarik kertas yang membuatku kehilangan semangat dan harapan. Secarik kertas yang menciptakan jarak antara aku dan Bapak. Secarik kertas yang turut andil membuatku memutuskan untuk pergi.

“Roti, Mbak?”

Tiba-tiba ada sebuah kantong kertas berisi roti di depanku. Aku terkejut dan menoleh. Rupanya ibu yang menjadi teman perjalananku itu sudah bangun.

“Ini makan aja. Daripada ngelamun,” bisiknya sambil tersenyum. Ia kembali menyodorkan kantong roti yang wanginya memang tidak bisa kutolak.

“Terima kasih, Bu,” jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepala. Tak lupa kububuhkan senyum untuk mengiringinya. Dua gerakan sederhana ini memang menjadi gerakan universal untuk menunjukkan rasa penghormatan dan terima kasih kita pada seseorang. Dua gerakan yang menyimbolkan bahwa kita memang tidak diijinkan untuk mendongakkan kepala melebihi orang lain.

“Ke Kupang juga, Mbak?” tanya ibu itu padaku.

Aku tersenyum dan mengangguk, “Iya, Bu.”

Itu adalah pertanyaan umum yang sedikit aneh. Oke. Tidak sedikit. Tapi memang aneh. Retoris. Pesawat bukan bis atau kereta yang bisa berhenti di lokasi yang berbeda, bukan? Sejenak mataku mengamati roti yang tengah kunikmati. Ah, Alika. Berani-beraninya kamu membatin hal yang tidak menyenangkan pada seseorang yang telah mau membagi sebungkus roti yang lezat padamu?

“Kalo Ibu, menuju Kupang atau pulang ke Kupang?” tanyaku.

“Pulang ke Kupang. Kemarin ada pelatihan komputerisasi untuk persiapan akreditasi rumah sakit. Lumayan sekalian jalan-jalan juga, Mbak.”

“Oooh…”

Dan kata ‘Oooh’ adalah salah satu tanda percakapan telah berakhir. Aku memang tidak pandai menjaga suasana hangat. Hari ini, contohnya.

Aku memutuskan untuk menikmati lagi pemandangan dari jendela pesawat. Awan-awan itu telah pergi. Sepertinya semesta tahu bahwa aku membutuhkan penyegaran. Hamparan hijau seperti beledu yang halus terbentang begitu indah di bawah sana. Bukit atau lembah, tidak ada bedanya. Sepertinya kakiku akan dimanjakan dengan sempurna. Tidak ada gedung-gedung atau atap rumah yang mendominasi. Hanya pepohonan, hutan, stepa, sabana, atau entah apa lagi namanya. Provinsi ini memang sangat indah.

Dalam beberapa saat lagi, kita akan mendarat di bandara El Tari, Kupang. Ada perbedaan waktu satu jam lebih cepat dari Surabaya. Kami harap, anda tetap mengenakan sabuk pengaman hingga pesawat ini mendarat dengan sempurna. Terima kasih telah terbang bersama kami, dan sampai jumpa di perjalanan berikutnya.”

Aku memutar kenop jam tangan dan mulai menyesuaikan waktu. Satu jam lebih cepat dari Indonesia bagian Barat. Setidaknya aku berharap, perasaan kacau yang kubawa ke tanah yang baru ini juga akan lebih cepat berlalu.

“Kalo ada waktu, main-main dulu ke rumah saya, Mbak.”

Aku menoleh dan tersenyum pada ibu yang ramah ini, “Jika ada waktu, Bu. Perjalanan saya harus berlanjut lagi.”

“Loh, kemana?”

“Ke Alor.”

Kepalaku berputar. Kini mataku memandang hamparan hijau yang perlahan menghilang, digantikan oleh pemandangan kering dan gersang di kota Kupang.

***

Kalabahi, 24 Februari 2013

 

PS:

  • Draft novel ini udah lama mangkrak. Bab 1-nya ada di hard disk, tapi hard disknya semacam rusak ehehehehe #getir

Rahasia Jarak

Rumah akan tetap sama. Ia menghidangkan harapan dan kenangan yang siap dipanen kapan saja. Sudut-sudutnya tak jemu disesaki kesedihan. Bahkan cangkir tua masih melagukan kisah-kisah bijak penghangat jiwa.

Rumah akan tetap sama.
Ia selalu menunggu hati yang dipisah jarak;
menyeduh teh di sore yang kadang tak lagi jingga;
hingga seseorang kembali dengan bijak yang berlipat-lipat;
hingga pengembara kelelahan menanti jawaban atas ratusan tanya;
hingga pecinta pulang dan menidurkan rindu yang tak lagi sama.

Rumah akan tetap sama. Kita sama-sama terluka. Dalam jarak, hati memendam rahasia. Namun kita tak pernah sangka, betapa jarak lebih mampu mengungkap rahasia-rahasia.

Malang, 19 Mei 2018
18:53 WIB

His Story

I used to wipe away his tears,
but I am not the reasons he smiles.

He used to be my favorite present,
but destiny holds him away to become my past.

We used to have the blueprints of our future,
but now on, his stories will be a history.

***

Malang, May 6th 2018
06:47 WIB

Ruang Tunggu

Mulai terburu-buru
langkahmu mondar-mandir di ruang tunggu
Bibirmu mendendangkan sebait lagu
Mungkin tambah sebait lagi
Namun belum ada yang memanggil namamu.

Bait ketiga
kamu mulai lupa lagu yang mana
Pikiranmu disekap gelisah dan gulana
Namamu belum juga digema

Namun semesta mempertemukan mata kita
mereka mulai berkata-kata
Logikamu bimbang
Hatimu setimbang

Dan jemari kita mulai bergenggaman
Langkah-langkah ini mantap untuk pulang
Mungkin ruang tunggu itu bukan berarti pergi
tapi agar kita ingat untuk kembali

Malang, 4 Maret 2018
08:58 WIB

Foto diambil di Bandara Minangkabau, Padang, Sumatera Barat

Percuma

Di malam-malam berlumur risau
Aku pernah bersaksi bahwa tiada hati selain engkau

Mungkin hati ini sama
Tetapi yang kita lihat hanya percuma

Dan kututup malam dengan kopi berasa kecewa
pahitnya digelandang gerimis karena engkau tak kunjung menepi

Malang, 4 Maret 2018
20:05 WIB

Advertisements
%d bloggers like this: