Believe

Peter Llewelyn Davies: It’s just, I thought she’d always be here.

J.M. Barrie: So did I. But in fact, she is, because she’s on every page of your imagination. You’ll always have her there. Always.

Peter Llewelyn Davies: But why did she have to die?

J.M. Barrie: I don’t know, Peter. When I think of your mother, I will always remember how happy she looked, sitting there in the parlor watching a play about her family, about her boys that never grew up. She went to Neverland. And you can visit her any time you like if you just go there yourself.

Peter Llewelyn Davies: How?

J.M. Barrie: By believing, Peter. Just believe.

[Finding Neverland]

Advertisements

Father to Daughter

Desember 2006

“Assalamu’alaikum Wr Wb

Berikut Bapak sampaikan perempuan-perempuan idola sesuai syariat Islam.

Ia dianggap berada di kelas paling rendah. Ia seorang perempuan yg saat ini nilainya lebih rendah dari laki2, apalagi ia budak berkulit hitam. Dialah Hajjar, Ibunda Nabi Ismail AS. Dia dianggap asfalaa saafilin, strata yg paling rendah. Tetapi Allah SWT seakan ingin memberi contoh yg “ekstrim” tentang kemulyaan sejati kepada umat manusia. Allah tidak melihat status, jenis kelamin dan warna kulit sebagai ukuran kemulyaan disisiNya. Perilaku dan ketaqwaan menempatkan Hajjar pada derajat yg tinggi. Sampai sebagian perjalanan hidupnya diabadikan dalam ritual Haji, berupa ibadah Sa’i, lari kecil dari Bukit Shofa ke Marwa dan dari Marwa ke Shofa sampai 7 kali.

Nanda berdua sebagai perempuan ada baiknya merenungkan kisah perjalanan hidup perempuan mulia ini.Perempuan yg tidak pernah merengek-rengek menangisi keadaan, melainkan kepasrahan tidak dengan berpangku tangan, melainkan dengan kerja keras.

Kisah bermula dari keputusan Ibrahim AS, sang suami yg meninggalkan Hajjar dan Ismail di Lembah Beka (Mekkah) yg gersang dan tandus, tidak ada manusia dan tidak ada tanda2 kehidupan. Ketika air susu Hajjar telah kering dan Ismail yg baru berusia beberapa hari itu menangis kehausan, maka Hajjar bangkit mencari sumber air. Logika mengatakan, tidak ada sumber air.

Namun Hajjar tidak putus asa, ditengah2 terik panas matahari yg menyengat, Ia melihat di atas Bukit Shofa ada kilauan seperti air, Hajjar segera berlari menaiki bukit itu. Namun sesampainya di puncak bukit tidak ada air, melainkan pantulan panas dari bebatuan keras yg berkilau bagaikan air. Ia kecewa, tapi harapannya timbul kembali ketika melihat kilauan air di Bukit Marwa. Ia segera turun dari bukit Shofa dan berlari menaiki Bukit Marwa, tetapi di Marwa tidak ubahnya seperti di Bukit Shofa, itu hanya fatamorgana. Begitu berkali2 Ia naik turun dua bukit itu sampai 7 kali, tetapi air tidak diketemukan.

Dengan tubuh yg lunglai, barulah Hajjar menyerahkan nasib diri dan anaknya pada Tuhan, Allah SWT yg membuat hidup. Akhirnya Allah Mengabulkan keinginan Hajjar, memberi sumber air yg tidak pernah kering sampai sekarang, Sumur Zam-Zam. Jika perempuan sekarang termasuk dikau berdua menginginkan kemulyaan, pada siapakah dikau akan memilih idola?

Ada sederet wanita mulia, Hajjar istri Ibrahim AS yg tidak pernah menangisi keadaan, ada Masyithoh tukang sisir keluarga Firaun yg rela menyerahkan nyawanya dan nyawa keluarga demi kebenaran yg diyakini, ada Khodijah istri Rasulullah SAW yg mengorbankan semua miliknya selama mendampingi Nabi lebih dari 25 tahun, ada Aisyah istri Nabi yg cerdas dan enerjik, ada Fatimah putri NAbi dan istri Ali yg sangat tabah dalam kemiskinan tetapi tetap berinfaq ketika dia sendiri dalam puncak penderitaan. Dan masih banyak lagi perempuan2 idola yg lain.

Perempuan2 mulia seperti nama2 itu adalah perempuan yg tegar, tidak cengeng, tabah, sabar, punya karakter dan berfikir panjang. Mereka tidak suka menyalahkan keadaan, tidak berandai-andai, tidak banyak tuntutan tetapi mereka berbuat sesuatu. Mereka lebih suka mengubah keadaan dengan bertanya, apa yg bisa saya lakukan dalam keadaan seperti ini.

Nanda berdua yg tercinta, beginilah perempuan2 idola, dengan harapan anak2ku bisa meneladaninya. Amiin

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Bapak yg selalu berdoa untuk anak2 dan cucunya” 

Surat ini dikirimkan bapak padaku dan kakakku di tahun 2006. Lucunya, surat ini aku terima pas dengan hari ibu. Mungkin suatu saat nanti, di Indonesia harus ada yang namanya Hari Ayah 😉

Terima kasih, Bapak 🙂

Wait For You

SpongeBob: What do you usually do when I’m gone?
Patrick: Wait for you to come back.

Surgeon Bong Dal Hee

bong dal hee

Beberapa bulan yang lalu, saya cukup jenuh dengan kegiatan jaga-pulang-jaga-pulang-jaga-pulang. Rasanya perlu semacam distraksi. Kemudian, iseng-iseng saya mencari serial Korea yang berhubungan dengan medis. Ya setidaknya, ada sesuatu yang saya peroleh saat menikmati serial tersebut. Entah ilmu atau pemandangan aktor-aktor Korea yang menyegarkan *nyengir*

Karena di Probolinggo sangat susah mencari toko DVD, maka saya memutuskan untuk pesan via online shop. Sebenarnya cukup nekat, dalam artian saya belum pernah punya kenalan yang pernah memesan di OL-shop ini. Tapi saat membaca testimoni, saya kira cukup oke. Dan dari sekian judul, saya tertarik pada satu seri berjudul Surgeon Bong Dal Hee. Kenapa saya tertarik? Karena pemeran utamanya adalah Lee Yo Won, pemeran Seon Deok di Queen Seon Deok. Aliran yang saya yakini adalah, saat seorang aktor/aktris bermain bagus dalam sebuah film/serial, kemungkinan besar mereka akan mengalami kesuksesan yang sama. Ya walaupun ndak semua seperti itu. Seperti Johnny Depp dalam The Tourist, menurut saya tidak terlalu spektakuler. Kedua, saat googling tentang serial ini, rupanya ratingnya cukup bagus. Dan resensi yang diberikan cukup menjanjikan. Ketiga, saya lebih tertarik dengan alur cerita kedokteran dengan banyak tindakan medis, seperti Obstetrics and Gynecology Doctors, Team Medical Dragon, New Heart, Code Blue, dsb. Karena (menurut saya) lebih seru dan konfliknya lebih kompleks. dari ketiga alasan itu, mungkin, ndak ada salahnya jika saya memesan serial ini. Oke. Done.

Ndak sampe seminggu, pesanan saya datang. Dan setelah saya nonton semua episode, SAYA SUKA BONG DAL HEE!!! 

Sedikit spoiler. Bong Dal Hee adalah dokter umum yang bercita-cita menjadi dokter bedah thoraks (chest/dada), namun ibunya melarang karena Bong Dal Hee memiliki kelainan di jantungnya. Bong Dal Hee bukanlah dokter yang cemerlang, malah cenderung ‘bodoh’ dan sering mencelakakan pasiennya (duh!). Namun karena tekad yang kuat untuk menjadi spesialis bedah thoraks, Bong nekat pergi ke Seoul dan menjadi residen di salah satu universitas (tentunya setelah berbohong pada ibunya). 

Dalam perjalanannya menjalani residensi bedah, tentu banyak masalah. Terutama saat Bong secara tidak langsung bersalah karena menyebabkan satu pasien dengan serangan jantung meninggal. Dari situlah ia belajar. Dan semangat dr. Bong ini boleh dibilang jempolan. Dokter Bong yang sama sekali tidak mampu mendiagnosis tamponade jantung menjadi brilian dalam memasang Central Venous Catheter

Tentunya ada kisah percintaan. Menurut saya, cukup manis tanpa mempengaruhi pesan dan alur cerita. Ada dua dokter bedah dalam serial ini, yaitu Lee Geon Wook yang seorang dokter bedah umum, dan Ahn Joong Geun yang seorang dokter bedah thoraks. Dokter Lee adalah dokter yang manis dan dicintai Bong. Sedangkan dokter Ahn adalah dokter yang culas dan membenci Bong karena kebodohannya. Sepertinya sudah bisa ditebak arah percintaannya. 

Tapi saya cukup terkesan bagaimana penulis serial ini memaparkan kisah-kisah dibalik sikap setiap tokoh. Termasuk cerita-cerita pendek tentang rekan-rekan seperjuangan Bong, yaitu Jo A-ra, Park Jae Bum, dan Jang Ji Hyuk. Cukup simpel dan tidak bertele-tele.

Oke. Sekian review singkat tentang serial Surgeon Bong Dal Hee. Semoga bisa mempengaruhi orang lain untuk ikut menonton *nyengir*

Kemarin saya membeli serial Korea berjudul SIGN, tentang dokter-dokter forensik. Sepertinya bagus, pemerannya belum pernah kenal sih. Tapi ratingnya cukup menjanjikan. Semoga DVD player saya ndak ngadat. Ciao.

-sekian-

Friday…

Kalo Jumat gini, selalu inget pas jaga di Forensik (dokter muda atau co-assintant wajib mengikuti siklus di setiap laboratorium/bagian sebagai syarat lulus menjadi dokter, salah satunya adalah Forensik), kabur ke bakso-sayur saat para lelaki shalat Jumat. Di tengah perjalanan ke bakyur yang jaraknya bisa dibilang cukup jauh dari rumah sakit, tiba-tiba ada panggilan visum. DEM!

Dari LIMA personel yang jaga, TIGA orang kabur. Kita (yang kabur) bilang (via telpon) (yang kebetulan ndak shalat Jumat), “Visum di UGD kan? Visum duluan aja! Kita nyusul! Baru sampe bakyur!” Dan dia berkata… “Masalahnya, permintaan visum ada dua, Noy! UGD dan pemeriksaan luar.” WE ARE DEAD!!! *visum diri sendiri*

(note: visum di UGD biasanya diminta oleh kepolisian, pada kasus-kasus KDRT atau kecelakaan atau pelecehan seksual, dimana korban masih hidup. Di sini kami hanya mengidentifikasi luka-luka atau memar yang ada di tubuh korban. Sedangkan visum mati, juga diminta oleh kepolisian, atas kasus-kasus kematian yang tidak wajar. Tidak semua kasus kematian dilakukan pemeriksaan dalam, beberapa hanya dilakukan pemeriksaan luar, yaitu mengidentifikasi fisik korban, pakaian, luka, memar, tato, atau hal-hal lain yang ditemukan di tubuh korban. Pada Jumat siang itu, yang diminta adalah visum pemeriksaan luar.)

Jadilah kita ngebut makan bakso. Dan ndak sempet nambah. BAYANGKAN! Sampe bapak-bapak penjual bakyur heran, cewek-cewek ini apa diet ya. Pulangnya juga kita ngebut, sopirnya hampir nabrak mobil segala (identitas dirahasiakan). Jangan sampe senior datang meriksa!!! Sesampainya di Forensik, ternyata visumnya udah dikerjain sama mas-mas staf Forensik. It means… WE ARE DEAD!

Bener aja sih. Kita dapat nilai jelek di Forensik T.T Akhirnya ikut ujian perbaikan deh! *kais2 tanah* Sudah jelas, Forensik isn’t my passion. Saya lebih suka bekerja dengan manusia yang bisa diajak bicara dan diskusi. *sigh* Pertanyaan anak-cucu kelak, “Kenapa sampe ngulang Forensik?” Semua berawal dari bakso-sayur. Ha ha ha *wajah datar*

sekian

It’s All About The Time

Mungkin sudah saatnya, jari-jari kita disatukan oleh cerita dan dua cangkir teh hangat. Hariku, harimu, bertemu dalam kubangan rindu.

Mungkin sudah saatnya, pagutan kata tidak tersendat di udara. Kata menjadi partikel yang kita hirup di ruangan yang sama.

Mungkin sudah saatnya, kita berhenti di sebuah titik. Lalu menjalani hidup dalam sebuah garis takdir, berdua, sampai nafas tak ada lagi.

@noichil

Good Night Rhymes

Good night, Hot Hershey. Don’t be so long, you have my key.

Good night, tuna melt pizza. Marrying you is my first agenda.

Good night, mushrooms cream soup. Growing old with you is my only hope.

Good night, strawberry sparkling tea. To be with you is the only future I can see.

@noichil

Advertisements
%d bloggers like this: