Sepasang Mata Teduh di Ujung Pintu

Ada sepasang mata teduh di ujung pintu…
yang dari kelopaknya, tumbuh tunas-tunas air mata yang belum sempat disiangi.

Kudatangi ia…
kurelakan kedua telingaku digaduhi isak yang menelusup malu-malu.

Sore itu, diceritakannya tentang penderitaan paling getir…
tak lagi bisa mencium ibu ayahnya
tak lagi bisa menertawai kaki-kaki kotor saat bermandikan hujan bersama adiknya
tak lagi bisa melumat rindu pada kekasih yang kemarin dulu meninggalkannya.

Sore itu, kutenggelamkan wajahnya yang sendu ke dalam pelukan
Sembari melantunkan sajak-sajak yang mungkin dapat mengemasi kesedihan.

Bibir itu bergumam lamat-lamat, “Aku benci menjadi bayangan.”

Kuraih rona jingga yang memantul di pipinya,
“Nona…
bahkan dalam gelap paling gulita
pijarmulah yang terbenderang.”

Detik dan menit berkoalisi dengan pilu…
pelukanku dibekukan waktu
Hingga sinar senja menggelap di ujung pintu.

Pelukan kusudahi.
Istriku kembali.

Lode Sterre

Engkau adalah cangkir

Senantiasa mengisi tanpa terkurangi

Dipenuhi bijak hangat

Tanpa pernah menguap

 

Engkau adalah pundi ilmu

Meruah, tiada meluruh

Pantang usang, aksaramu menggenang

 

Engkau adalah bintang utara

Setia menuntun pata pengembara buta

Pada langit yg didekap gulita

Jejak terangmu selalu ada

 

 

-Noichil, 2014-

 

TRIBUTE LECTURE Prof. DR. dr. Handono Kalim, SpPD-KR – “Rheumatology and Immunology in Indonesia: Past, Present, Future”

Agustus, 2014

Seminggu

Seminggu.

Kopi pagi ini mengingatkanku pada pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang tenang di dapur, dengan siluet bapak yang riang menggoreng tempe gembus. Sesekali bapak bercerita tentang menara masjid yang hampir rampung dibangun, lengkap dengan mozaik dinding warna-warni. Sesekali bapak berkeluh tentang nyeri lutut yang hilang timbul. Sesekali bapak mendesah tentang satu teman seperjuangan dialisis yang meninggal dunia.

Sesapan kopi kedua.

Bapak mulai bertanya bagaimana hari-hariku. Ia tak pernah menerima jawaban, “Ya gitu-gitu aja, Pak.” Bapak selalu bilang bahwa duniaku sama sekali berbeda dengan dunia orang kebanyakan. Unik, katanya. Dengan pemahaman orang awam, bapak tidak protes saat aku lebih sibuk dengan ‘printilan-printilan’ saat ia masih muntah-muntah karena efek obat bius. Bahkan ia hanya tertawa saat aku menceritakan pernah ‘disetrap’ karena kesalahan-kesalahan bodoh.

Kopi tinggal separuh.

Kemarin seseorang bercerita tentang kehilangannya terhadap seorang bapak. Bapaknya jatuh saat bekerja di rantau. Jenazahnya kembali dalam kondisi sudah dimandikan dan tertutup kafan.

Aku merasa bersyukur.

Di saat-saat terakhir, aku masih bisa membopongnya ke kamar mandi, membersihkan kotorannya, menyeka tubuh bapak yang makin tidak berisi, serta membantunya menyikat gigi.

Sisa kopi sudah tak ada lagi.

Kepada Hidup, terima kasih atas 30 tahun kebersamaanku bersama bapak, seseorang yang senantiasa menjaga martabat keluarga. Seseorang yang kadang-kadang memberikan kejutan romantis tak terduga pada tiga perempuannya. Seseorang yang selalu percaya anak-anaknya tumbuh jadi perempuan yang mampu, kuat dan tidak mudah mengeluh, which is I’m totally far from his hope.

I’m gonna miss you, Dad.

Always.

Malam Gila

falasca_painting_web

 

Kamarku pecah. Musik berdentum mengiringi lima orang yang melantai dan kesetanan. Kepala terangguk-angguk dan tergeleng-geleng bergantian. Tubuhku dan mereka berlumur peluh. Pekik tawa dan candaan kotor terderngar rusuh. Euforia membuana, namun ada balon udara yang siap meledak di masing-masing kepala. Balon udara yang berisi kegelisahan, kekecewaan, frustasi, keputusasaan, dan patah hati. Balon udara yang kami rayakan kehadirannya dengan cara seperti ini… hampir tiap hari.

Tiba-tiba kepalaku sakit bukan main. Seakan ada batu besar yang dihantamkan dari belakang. Keringatku menderas seakan ruangan ini dijatuhi hujan. Tangan dan kakiku kram. Perutku mual seperti diremas ratusan tangan.

Setan!

Rasanya aku butuh isapan baru. Kutarik alumunium berisi shabu yang tak habis diisap Bram. Hidung dan tanganku terampil memainkan pemantik api dan bong, kemudian menyesap shabu itu dalam-dalam. Pahit serbuk putih ini segera tergantikan dengan sebuah film layar lebar di depan mataku. Film tentang cita-cita dan mimpi yang semakin menjauh. Cerita tentang cinta yang gagal kurengkuh.

Kuteguk segelas air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokan.

Ah, selalu begini!

Mungkin karena gigi-geligiku tak lagi utuh. Mungkin karena ini adalah aku. Bahkan air putih pun tak mau tinggal di dalam mulutku.

Lalu jantungku menghentak bagai kerasukan. Rasanya dadaku mau meledak. Kerongkongan tercekat. Aku tak bisa bernapas.

Di atas lantai yang dingin, tubuhku meluruh.

Jantungku berdenyut semakin rancak. Ada pelukan ayah sebelum ia dibui karena korupsi dan bunuh diri. Ingatanku teracak. Ada senyum ibuku sebelum ia pergi meninggalkanku dulu.

Sebelum pandanganku menggelap, bayangan mantan kekasihku datang mengucapkan selamat tinggal.

***

Entah sudah berapa lama, tubuhku terasa ringan. Kamarku sepi. Bram dan yang lain sudah pergi. Mungkin ini sudah pagi.

Lalu ada yang menepuk pelan pundakku. Wajahnya asing.

“Man robbuka?”

Seketika aku mengejang.

Aku tak tahu jawabannya.

***

Malang, End of November 2015

 

NB: hwaaa… nulis beginian aja susah bener. Gini nih efeknya kalo kelamaan enggak nulis T___T

Surga Di Bawah Telapak Kaki Ibu

Kumatikan puntung rokok yang nikotinnya sudah habis kuhisap, lalu berjalan menuju jendela. Ada sebaris cahaya yang menembus celah di antara dua bongkahan kayu yang dipaku sembarangan. Aku memicingkan mata dan mulai mengintip ke luar. Sepi. Silau. Sepertinya matahari sudah tepat sejajar di arah Barat. Matahari telah berancang-ancang mengembara ke belahan bumi lainnya. Sebentar lagi, senja akan datang.

Aku tersenyum. Senyum yang sangat pedih, tepatnya.

Begitu banyak orang yang memuja senja. Tapi akulah satu-satunya orang yang ingin mengiris senja menjadi empat bagian. Menggoreskan jingganya dengan namaku, lalu menjejalkannya ke dalam ruang-ruang di jantung seseorang. Agar indahnya selalu terbawa melalui darah yang mengaliri tubuhnya. Agar ia selalu mengingatku.

“Uhuk uhuk…”

Aku menoleh ke arah suara batuk seorang perempuan di ruangan ini. Ia sedang terduduk lunglai pada sebuah kursi kayu lapuk. Rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. Tapi sinar matahari yang masih belum berlalu memberikan pantulan yang nyata bagi penglihatanku. Perempuan yang jantungnya ingin kujejali senja itu sudah sangat lelah.

Perempuan itu memandangku dengan mata sendunya. Seakan ia meminta sejumput kasih sayang yang selama ini ia abaikan. Bibirnya yang kering dan pecah-pecah bergetar. “Air. Minta air…” katanya.

Aku mengambil sebatang rokok dari saku kemejaku yang lusuh, menyalakannya dengan pemantik api tua pemberian Ayah, lalu menghisapnya dengan mata terpejam. Kurasakan nikmatnya racun nikotin mencumbui seluruh sistem di tubuhku. Kepalaku melayang, meletupkan sebuah bayangan yang melenakan untuk sejenak. Dan dalam beberapa detik, aku lupa ada perempuan lemah yang menginginkan air.

Kubuka mata dan menemukan perempuan itu masih memandangiku. Kulangkahkan kaki ke arahnya. Suara sepatu pantofelku beradu dengan lantai dan menggema ke seluruh ruang yang gelap dan sunyi ini.

Dalam delapan langkah, aku sudah berhadapan dengan perempuan itu. Bersamaan dengan ia yang mendongakkan kepalanya dengan lemah, kutundukkan kepalaku. Pandangan kami beradu lagi. Ada sesuatu di dalam dada yang sangat menyesakkan. Rasanya ingin kurobek saja. Tapi aku tahu, merobek dan membuangnya akan sangat sia-sia. Perasaan yang menyesakkan ini adalah sarang laba-laba yang akan datang lagi dalam beberapa detik.

Satu-satunya cara untuk melenyapkannya adalah dengan membunuh laba-labanya.

“Air? Mau air apa? Teh? Kopi? Susu?” tanyaku dengan suara lirih. Kucoba menunjukkan rasa sayangku padanya. Meski untuk yang terakhir kali.

“Apa saja. H… Haus,” jawabnya dengan suara pecah. Mungkin pita suaranya sudah berkerut karena kekeringan.

Kini aku berlutut di depannya. Membelai pipi kanannya yang tirus karena tiga hari tidak makan. Aku menunggu balasan belaian darinya. Tapi kemudian aku tersenyum. Aku lupa, kedua tangannya telah kuikat erat di belakang punggungnya.

“Lapar juga?” tanyaku.

Ia mengangguk dengan cepat.

Aku terkekeh. Kuhisap rokok yang tersemat di antara jari telunjuk dan jari tengah tangan kananku, lalu menghembuskan asapnya ke wajah perempuan itu. Ah, rupanya ia tidak suka. Ia langsung memalingkan wajah dan terbatuk-batuk.

Dengan cepat, kuraih wajahnya menggunakan tangan kiriku, memalingkannya hingga wajahnya berhadapan dengan wajahku, “Kapan terakhir kali kamu menanyaiku apakah aku kelaparan? Kapan terakhir kali kamu menyediakanku makan? KAPAN?”

Dapat kurasakan tubuhnya menggeliat. Wajahnya tampak kesakitan. Kulepaskan cengkraman tanganku dari wajahnya dan menghembuskan asap rokokku padanya sekali lagi.

Aku bangkit dan berjalan ke seberang ruangan, seiring dengan ia yang mulai menangis. Tangisannya pilu. Terdengar penuh penderitaan dan dibumbui secuil sesal di dalamnya. Menyesalkah ia? Aku meragukannya.

Dari sebuah meja kayu bundar, kuraih segelas air putih di atasnya. Aku kembali ke hadapannya dan berlutut lagi. Kuteguk sedikit air putih di gelas, lalu kutempelkan ujungnya ke bibir perempuan itu. Aku tertawa melihatnya meneguk habis air itu hingga ia tersedak dan terbatuk-batuk.

“Lihat, tidak usah disuruh dua kali, aku sudah mengambilkanmu air minum ini,” kataku sambil mengacungkan gelas kosong yang kupegang ke arahnya.

“Lalu mengapa Ibu tidak pernah mendengarkan permintaanku untuk kembali ke rumah? KENAPA? DASAR PEREMPUAN BUSUUUK!”

Aku berteriak tepat di depan wajahnya. Sebagian dari dahi dan pipinya tercemar bilur-bilur salivaku yang terlontar keluar bersama kemurkaan yang telah kupendam sekian lama. Napasku memberat, seakan membawa bongkahan lara yang selalu bertambah selama tiga puluh tahun.

Aku bangkit. Memandanginya yang menunduk dan tersedu. Sekelebat bayangan Ayah kembali mengambang di kepalaku. Ayah yang baik dan selalu merana. Ayah yang selalu tersenyum dan memiliki segudang cinta.

Aku mengambil sebuah kursi kayu yang teronggok di bawah jendela. Lalu menyeretnya hingga berada tepat di depan ibuku. Kupandangi wajahnya sekali lagi. Air mata itu masih mengalir.

“Apa salahku hingga Ibu sama sekali tidak mau merawatku?” tanyaku. Rasa pedih menyusup melalui kata yang kuucapkan. Perasaan tidak diinginkan itu datang lagi.

Perempuan di hadapanku ini memang telah mengijinkanku hidup di rahimnya selama sembilan bulan. Tapi selebihnya, aku nyaris tidak pernah merasa kasih sayangnya. Aku tidak pernah merasakan air susunya. Aku tidak pernah dibelai di pangkuannya hingga tertidur. Aku tidak pernah didekap ketika menggigil dan kesakitan.

Sebagai anak-anak, dulu, aku terus menunggu uluran tangan yang merengkuhku ke pelukannya. Tapi pada akhirnya aku tahu. Sudah tiba saatnya aku menyadari bahwa aku tidak pernah memiliki seorang ‘ibu’ ketika anak-anak di sekolahku memanggilku dengan sebutan ‘anak pelacur’.

“Masih ingat Ayah?” tanyaku dengan geram.

Aku menunggu jawaban darinya, sambil menikmati isapan rokok yang tinggal separuh. Tapi Ibu tetap tertunduk dengan tangisnya. Air mata membasahi bibirnya yang kering. Aku meragukan, apakah air mata itu juga mampu membasuh hatinya yang kerontang.

“Ayah tidak pernah berhenti menunggumu pulang. Setelah shalat Isya, Ayah selalu duduk di teras rumah sederhana kita. Pandangannya tidak pernah lepas dari gapura gang. Ia sangat menginginkanmu muncul dari sana.”

Dadaku kembali disesaki sarang laba-laba. Ingatanku melayang pada kebiasaan Ayah. Sepulang dari masjid, Ayah selalu menunggu Ibu pulang. Lengkap dengan sarung berwarna biru dan bermotif kotak-kotak yang sudah usang dan sebuah peci hitam yang berlubang.

Entah sejak kapan, aku selalu membuatkannya segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng sebagai teman penantiannya. Dan sejak saat itu, nikotin adalah sahabat kami berdua dalam melalui masa-masa sulit. Kami adalah dua laki-laki yang dikhianati satu perempuan yang sama.

“Sudahlah, Yah. Cari istri lagi,” kataku di suatu malam. Tapi Ayah hanya menjawabnya dengan senyuman. Hatiku mencelos. Ayah tidak pernah lelah menanti.

Kupandangi lagi wajah Ibu dengan lekat. Diselingi sebuah rasa jijik pada perempuan, yang kutahu, sudah lama telah mati hatinya. “Tapi memang… kadang-kadang penantian Ayah tidak sia-sia. Ibu pernah pulang,” kataku.

“Tapi tidak sendirian. Aku sempat mengira, aku ini dilahirkan oleh perempuan setan, yang tega kembali ke rumah suaminya bersama laki-laki lain di pelukannya!”

Sebuah perasaan marah kembali menggelegak. Marah karena ketidakberdayaan Ayah. Aku muak pada Ayah yang hanya menatap hampa ketika Ibu melewati pintu rumah dalam keadaan mabuk bersama pria yang bergonta-ganti, lalu menempati kamar yang seharusnya hanya ditiduri Ibu dan Ayah.

Sebagai laki-laki, aku bisa menyebut bahwa Ayah adalah laki-laki lemah yang telah dicucuk hidungnya. Seharusnya Ayah bisa menampar perempuan ini, atau menyeretnya ke pengadilan dan menceraikannya tanpa rasa hormat. Ayah adalah pria pedagang yang terhormat. Seharusnya tidak perlu tunduk dan merendahkan harga dirinya di hadapan perempuan macam Ibu.

Tapi ayahku adalah laki-laki yang lembut hatinya. Lebih lembut dari perempuan yang seharusnya memeluk keluarganya dengan kasih sayang. Lebih lembut dariku yang tumbuh tanpa mengenal cinta dan kata maaf.

“Ibu pasti sudah tahu, kan? IBU ADALAH IBLIS!” teriakku. Suaraku menggema di ruang yang menggelap, dihiasi suara Ibu yang meraung-raung dan menangis. Dan tangisannya membuat perasaan marahku menjadi-jadi.

Kucoba menenangkan diri dan menoleh ke arah jendela. Rupanya, malam telah tiba. Aku berjalan ke arah pintu dan menyalakan lampu bohlam lima watt yang tergantung tepat di atas kepala Ibu.

Wajahnya kini terlihat jelas. Perempuan berusia lima puluh tahun ini memang masih cantik. Terlepas dari kulitnya yang kusam karena sudah tiga hari kusekap di rumah tua yang pengap dan berjamur ini, ia masih terlihat cantik. Kecantikan yang melenakan para lelaki muda hidung belang. Kecantikan yang diijinkan Ibu sebagai alasan, wajahnya adalah modal untuk mencari uang.

Inilah perempuan yang pernah kutinggali rahimnya. Inilah perempuan yang telah merendahkan suaminya. Inilah perempuan yang telah membuang hatinya dan membiarkan anak laki-lakinya meraung-raung meminta kasih sayang.

“Maaf, Le… Maafkan Ibu…” rengeknya dalam tangis yang pecah seperti harapan yang jatuh karena tak kunjung tertangkap. Aku menemukan secuil harap itu, bercampur dengan sesal dan permohonan maafku. Aku bisa mendengar bahwa dadanya telah sesak. Seperti ada rongga tertutup yang dihujani air comberan. Mungkin, sekarang tubuh Ibu sudah ingin meluapkan rasa bersalah yang begitu besar. Rasa bersalah yang ia abaikan selama bertahun-tahun.

Tapi bukan itu yang aku mau. Aku sudah tidak ingin mendengar penyesalannya. Sudah terlambat jika penyesalan itu datang sekarang.

“Seharusnya, Ibu minta maaf pada Ayah,” tukasku dengan gemas. Kepalan tanganku mengeras mengingat bagaimana menderitanya Ayah selama bertahun-tahun. Bahkan hingga kematiannya. Tanpa terasa, bilur air merebak di sudut mata.

“Ayah mau mengasuhku, anak yang bukan anak kandungnya. Anak yang Ibu bawa setelah dihamili pemuda hidung belang. Ayah merengkuhku dengan kasih sayang meski aku bukan siapa-siapa.”

Tangisku meledak. Seiring dengan perasaan terluka ketika mengetahui bahwa tidak ada darah Ayah yang mengaliri tubuhku. Sebuah perasaan terbuang dan dipungut. Aku adalah anak anjing yang ditinggalkan ibunya. Dan Ayah adalah tuan yang memberiku makan, menyediakanku rumah dan pendidikan, dan membelaiku dengan kedua tangannya yang penuh dengan permata dan kasih sayang.

“Ibu tahu bagaimana Ayah meninggal? Bertahun-tahun ia menderita karena batuk. Hingga akhirnya Ayah mengeluarkan dahak bercampur darah. Kanker. Penyakit yang mengambil daging dari tubuh Ayah dan menyisakan tulang belulangnya saja. Seharusnya kamu tahu kondisi Ayah saat itu. SEHARUSNYA KAMU LIHAAAT!”

Kubanting gelas kaca yang dari tadi kupegang, tepat di depan kakinya. Suaranya diredam teriakan Ibu yang memekik dan mengumbar ketakutan. Pecahan kacanya memantul dan mengenai kulit pipi kanan Ibu hingga berdarah.

Aku tersenyum.

Darah itu tidak seberapa, Bu. Ibu harus tahu, bahwa perasaanku dan Ayah telah lama tergenang darah dan air mata karena tabiat Ibu yang lebih buruk dari binatang!

“Tapi bagaimanapun, kamu tetap Ibuku. Perempuan yang melahirkanku. Guru agamaku pernah bilang, seburuk-buruknya seorang ibu, tetap harus dihormati.”

Kurengkuh dagunya dan mengangkat wajahnya yang tertunduk sedari tadi, “Saat guru itu kutanya ‘meski ibuku seorang pelacur, apa tetap harus kuhormati?’ Guru agama bilang, ‘iya’.”

Aku berdiri, menegapkan tubuh dan meletakkan telapak tangan kananku di pelipis, “Jadi lihat ini… Aku sudah hormat sekarang. Sudah cukup? Ahahaha…”

Di antara tawaku yang belum usai, tangisan Ibu merebak dengan sangat merdu, “Maafkan Ibu, Le… Ibu menyesal…” Tangis penuh sesal yang selama ini kutunggu hingga bosan. Hingga sudah tidak ingin kudengar. Tangisannya malam ini terasa sebagai nyanyian. Dan tawaku semakin menyala-nyala.

“Iya, aku memaafkan Ibu. Aku mencintai Ibu. Selama tubuh Ibu dihinggapi setan, Ayah tidak pernah mengajariku tentang rasa muak, jijik, atau marah, meski rasa itu ditujukan pada Ibu,” lirihku. Kuusap bahu Ibu. Kubelai pipinya yang berdarah. Kukecup dahinya yang berkeringat dan mengigil ketakutan. Aku menemukan rasa ingin dikasihani di dalam telaga matanya. Bukan cinta.

Cinta itu tidak ada. Dan aku kecewa.

“Selama ini, Ayah yang mengajariku tentang cinta. Cinta itu mau menunggu. Meskipun tidak akan pernah tahu, apakah penantiannya tidak berbuah dan sia-sia. Dan kamu… Ibu… mengajariku tentang bagaimana menyia-nyiakan cinta dan penantian itu. Dengan cara yang sangat sempurna.”

Kudekap tubuhnya yang gemetar. Aku ingin memberitahunya, bahwa inilah pelukan seorang anak laki-laki yang merindu. Dalam sebuah pelukan yang semakin erat ini, aku ingin berbicara. Bahwa aku mencintainya.

“Aku mencintaimu, Bu. Jika kemarin engkau belum tahu, saat ini kukatakan padamu. Aku mencintaimu,” kataku, sambil mengecup pipinya yang basah oleh air mata.

Ibu meraung-raung. Tubuhnya terguncang-guncang di pelukanku. Mungkin, ia ingin membalas rengkuhanku itu dengan kedua tangannya. Tapi sengaja, belum kubiarkan kedua tangannya bebas.

Beginilah rasanya tidak bisa memeluk, Bu. Begini rasanya menjadi aku selama bertahun-tahun.

Perlahan, aku melepas pelukanku. Kuraih sebuah parang besi yang tergeletak di samping kursinya. Parang yang sudah kusiapkan sejak tiga hari yang lalu. Parang yang telah kuasah dengan rasa cinta. Bersama sejuta amarah di dalamnya.

“Karena aku mencintai Ibu, tidak kuijinkan Ibu menyakitiku lagi. Atau menyakiti siapapun.”

Kuayunkan parang yang mengilat. Ibu memekik kesakitan ketika parang itu menembus dan memotong kedua tungkainya. Teriakannya menyayat hati. Mungkin hatinya, bukan hatiku.

Bau anyir darah menyeruak. Lebih kuat dari yang kukira sebelumnya. Bau darah itu mengandung luka dan kehilangan. Kehilangan yang tidak akan hilang selamanya.

“Maaf, Le. Maaf… Ibu bersalah. Ibu salah… Hentikan, Le… Berhenti… Sakit, Le… Sakiiit…” rengeknya.

Aku terkekeh geli. “Persetan dengan rasa bersalahmu. Tiga puluh tahun aku menunggu. Tiga puluh tahun aku merasa sakit karena celaan dan hinaan orang-orang terhadapku. Aku sakit karena Ibu tidak mau melihatku! Tawaranmu sekarang sudah kadaluarsa, Bu!”

Kuhantamkan lagi parang yang berdarah-darah ke dada Ibu. Teriakan Ibu semakin memanjang dan memekakkan telinga. Lalu perlahan memelan dan tiada.

Aku mencintaimu, Bu. Sangat mencintaimu. Malam ini, kuakhiri dosamu dengan melumurkan dosa di kedua tanganku.

Kupandangi tubuh Ibu yang berdarah-darah. Wajahnya pucat, matanya terbelalak dengan begitu mengerikan, dan napasnya sudah tidak lagi ada.

Napasku memelan. Ada rongga yang mengembang bebas. Bertahun-tahun rasa kecewa, muak, jijik, dan amarah ini bercampur dan mengaduk-aduk hidupku. Seperti laba-laba yang menyarangkan jaringnya setiap saat dan menyesakkan ruang di dadaku.

Malam ini, laba-laba itu kubunuh dengan kedua tanganku.

Kuseret mayat Ibu ke halaman belakang dan membiarkannya tergeletak di atas tanah. Kusiram mayat itu dengan dua ember air, lalu kubalutkan kain putih pada tubuh mayat Ibu yang sudah telanjang. Kuberikan empat kali takbir untuknya, bersama tangis penuh dendam yang rasanya belum terbayar.

Kugali tanah kosong di sampingnya dengan cangkul yang berkarat. Ada sedikit harap yang mencuat, bahwa dengan mengubur Ibu, rasa pedih ini juga terpendam dalam-dalam.

Nanar, kupandangi gundukan tanah yang masih basah. Guru agamaku bilang, meski seorang pelacur, tetap ada surga di bawah kedua kaki Ibu. Sudah kukubur tubuhmu dengan sholat dan doa sebagai penghormatan terakhir, Bu.

Kecuali kedua kakimu. Akan kugantung di langit-langit kamarku.

***

Probolinggo, April 30th 2013

Di Bulan Sepuluh

Aku menantimu di bulan sepuluh
bersama keping-keping kenangan yang mulai rapuh

Aku menantimu di bulan sepuluh
menangisi rindu pada hatimu yang tak lagi utuh

Merindukan Purnama

Aku buta. Sejak lama. Anggap saja begitu. Mungkin engkau tak percaya. Namun seseorang pernah menumpahkan lahar di kedua mataku. Dulu. Ketika aku tahu rasanya jatuh cinta.

Sejak saat itu, gelap adalah tempat ternyaman. Kepalaku tak lagi butuh tudung yang mengganggu. Mataku tak perlu memicing pada cahaya menyilaukan. Jalanku tidak lagi diikuti bayang-bayang. Dalam gelap, mataku lebih bisa terbuka. Aku adalah diriku sendiri.

Namun kemarin dulu, ada ceritamu menelusup di telingaku, mengisahkan warna-warni lembut yang pernah kutahu. Sentuhmu bersahaja. Kamu adalah binar sederhana, memendar samar… membuatku berani kembali membuka mata.

Dan cintaku kembali tumbuh kala aku bisa melihat purnama di kedua matamu.

***

Malang, 31 Agustus 2015

%d bloggers like this: