Size Does Matter

Size doesn’t matter.

Siapapun yang percaya hal ini, pasti belum pernah berada di posisiku. Nelangsa. Tertekan. Merasa tak berdigdaya. Semua itu kurasakan karena perihal ukuran.

Bayangkan. Baru seminggu menikah, istriku sudah protes. Dia bilang, aku tidak bisa menyentuh titik-titik paling erotis di tubuhnya. Dia bilang, alu yang kupunya tak mampu menghidupkan lesungnya. Dia bilang… Dia bilang ukuran alat vitalkulah masalahnya.

Siang tadi, aku berkonsultasi pada seorang tabib terkenal. Dia sesumbar mampu membesarkan penisku dengan sempurna, dan meningkatkan kinerjanya menjadi luar biasa. Tabib itu memberiku sebuah ramuan oranye. Bukan biru. Padahal setahuku, pil viagra berwarna biru. Mungkin karena ramuan ini lebih hebat dari viagra yang berwarna biru, pikirku.

Aku tidak mau membuang waktu. Selepas dari tabib, aku melesat pulang. Menghias kamar tidur dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Menyalakan tiga lilin aromaterapi patchouli. Serta memasang lagu-lagu romantis Eric Clapton dari dek musik di kamar kami.

Kugenggam botol ramuan oranye itu dengan tangan gemetar. Tabib itu bicara tentang konsekuensi. Jujur saja, ketakutan itu ada. Karena tabib itu tidak memberitahuku apa konsekuensinya.

Tapi, size does matter. Bayangan pergumulan panjang dan istriku yang terpuaskan sudah terbayang di pelupuk mata. Kuhabiskan ramuan oranye itu dalam sekali tenggak. Pahit. Lidah dan kerongkonganku seakan terbakar. Lalu tubuhku memanas. Mungkin ini tanda yang bagus. Bukankah dalam gairah itu ada api yang membara? Jika tidak, dari mana lenguh, peluh dan kulit memerah itu datang?

Aku harus bersiap di atas ranjang untuk menyambut istriku. Derap langkahnya mendekat. Dia sudah sampai di depan pintu kamar saat aku merasa lingga di selangkanganku mulai membengkak.

Klek.

Istriku memasuki kamar.

Tapi ada yang tidak beres. Tubuhku sesak. Seperti ditekan dari segala arah.

Oh… tidak. Tubuhku…

“Astaga! Kenapa ada dildo sebesar ini di atas ranjang? Mas? Kamu di mana? Mas…,” pekik istriku sambil berhambur ke luar kamar.

***

Malang, 15 Oktober 2013

Advertisements

Hanya

Aksara kita berlumur renjana
Senyum-senyum yang terabadikan tampak bukan sekadar saja

Mereka tak kan mengira
maka mari teruskan saja
kita sedang bermain hanya

Kamu hanya pura-pura suka
Aku hanya pura-pura bahagia

Malang, 28 Februari 2018
20:49 WIB

Koran Pagi Ini

Sunyi
Dingin
Teh melati

Wanginya mengingatkanku pada genggaman tangan yang pernah kau curi.

Dan koran pagi ini
bercerita tentang kisah yang tak akan kembali.

Aku tak pernah tahu
bahwa melupakanmu bisa sesusah ini.

Malang, 26 Februari 2018
04:56 WIB

Dua Sisi

“Tuhan itu kejam.”

Akbar, laki-laki kurus berambut gondrong yang sudah setia selama delapan tahun menjadi anak buahku itu menatapku ganar. Kulempar sebatang rokok untuknya. Lalu ia menyalakan api untuk rokok yang sudah bertengger di bibirku.

“Tuhan menciptakan harapan. Menurutmu …mengapa?” tanyaku.

Mata Akbar terbelalak. Ia bernapas lewat mulutnya yang terbuka. Lalu menggeleng dengan wajah paling jelek sedunia, “Enggak tahu, Bos.”

“Jelas kamu enggak tahu. Kalo tahu, kamu enggak mungkin jadi kacung ahahaha.”

Akbar ikut terbahak bersamaku hingga terbatuk-batuk. Dungu. Dia menertawakan ketololannya sendiri.

Kuraba akta tanah yang bertumpuk-tumpuk. Tanganku yang kasar terasa nyata menyentuh lembar-lembar berharga. Krajan. Tanah leluhur yang seharusnya memang menjadi milikku.

“O iya … Sebenernya saya heran Kasman mau menghancurkan desa Krajan. Dia, kan, orang Krajan, Bos,” ujar Akbar.

Aku tersenyum. Mengingat bahwa akulah pahlawan penyelamat Kasman dan adiknya beberapa tahun lalu. Mereka difitnah dan terpaksa pergi dari Krajan yang telah menjadi tempat berteduh. Kasman dan adiknya berkeliaran di jalan. Terkatung-katung. Tanpa pekerjaan. Tanpa tempat tinggal.

“Goblok. Kasman itu bukan orang yang enggak tahu terima kasih. Dulu dia dan Ratemi kupungut dari jalan. Kuberi tempat tinggal. Kuberi pekerjaan. Enggak mungkin sekarang dia enggak setia sama aku!” racauku sambil mengoyak pisang goreng dengan gigiku yang menghitam karena terlalu banyak mengisap tembakau.

Akbar kembali mengangguk-angguk. Tanpa tahu bahwa aku adalah Tuhan yang telah memberi Kasman harapan. Harapan untuk tetap hidup dan bernapas.

Hujan di luar sana. Seekor kucing berteduh di bawah tripleks yang hampir runtuh. Hampir menyatu dengan puing bangunan masyarakat desa Krajan yang habis diluluhlantakkan Kasman tiga hari yang lalu.

Tidak ada yang mengira sebelumnya, bahwa kakek dari kakek buyutku adalah seorang yang kaya raya. Ningrat yang menjadi tuan tanah di Krajan. Namun bodohnya, kakek dari kakek buyutku itu hijrah ke kampung tempat kelahiranku dulu. Sebuah desa tandus yang sama sekali tidak layak sebagai tempat hidup. Sebuah tanah gersang yang hanya mampu meletupkan ketakutan akan kematian karena kelaparan. Sebuah bentala yang pada akhirnya membuatku mengerti. Bahwa Tuhan menciptakan harapan karena terlebih dulu Ia mencumbui manusia dengan ketakutan. Kejam, bukan?

Dan mimpi-mimpi burukku atas hidup penuh derita telah memberiku harapan. Merampas Krajan kembali.

“Kasman sakit hati waktu difitnah mencuri beras dari lumbung pagi, Bos. Dia dendam sekali. Kasihan …,” ujar Akbar tiba-tiba sambil mengetuk-ngetukkan rokoknya ke asbak. Abu berjatuhan. Sama seperti nuraniku yang berguguran. Demi tanah leluhur. Demi Krajan.

“Oh. Kamu dengar kasus itu juga, tho?”

Akbar mengangguk. Menyesap rokoknya yang tinggal sepertiga dan kerkata, “Sampai saat ini saya belum nemu siapa tukang fitnah itu, Bos.”

Kutekan puntung rokok yang tinggal seperempat ke asbak yang penuh abu. Aku berdiri dan melemaskan otot-otot yang tegang karena terlalu bersemangat. “Tuhan menciptakan ketakutan terlebih dulu untuk menumbuhkan harapan. Menurutmu, aku berbuat apa?”

Kembali Akbar membuat wajah paling dungu sedunia. Matanya terbelalak. Ia bernapas dari mulutnya yang terbuka.

Aku terkekeh pelan melihatnya. Berusaha melukis kembali ingatan saat diam-diam kucecerkan padi di sekitar rumah Kasman.

***

Malang, 05 Desember 2013

Iqra’

Iqra’

Membaca.

Sesungguhnya tidak sesederhana membaca barisan abjad dan aksara. Allah tidak memerintahkan Rasul yang buta huruf untuk mengeja saat Ia menurunkan ayat pertama.

Allah meminta Rasul dan umatnya untuk ‘membaca’.
Menganalisis situasi. Mengartikan pertanda. Mengambil hikmah.

Seringkali kita melihat tapi tidak memerhatikan. Mendengar tapi tidak mendengarkan. Mengetahui tapi tidak memahami.

Bahwa ada kekecewaan besar pada diamnya orang yang cerewet bukan main.
Atau terselip kekhawatiran dan ketakutan di unggahan media sosial seseorang yang mendadak berubah.
Dan ada rindu untuk memeluk pada kalimat, “Yang penting kamu sehat,” yang diucapkan seorang ibu pada putra-putrinya.

Membaca berarti meramu informasi yang diterima semua indera, termasuk hati, agar dapat memerhatikan, mendengarkan, memahami. Termasuk pada semua pesan subliminal yang betebaran di media massa dan media sosial akhir-akhir ini.

Mungkin kelak… jika sudah mampu ‘membaca’, kita akan lebih berhati-hati dan membagikan ‘bacaan’, kepada siapa dan di mana.

***

Wlingi, 18 November 2016

Monster di Ambang Pintu

Ada monster yang selalu menungguku di ambang pintu. Wajah dan tubuhnya berborok dan bau. Begitu kakiku melangkah keluar rumah, tangannya menembus dadaku. Lalu menyusup ke dalam kepala dan memutar bayang-bayang jahat tentang orang-orang di sekitarku. Karenanya, aku benar-benar tidak bisa berpikir. Atau sekadar tersenyum.

Sebelumnya, aku pasrah dan diam saja. Tapi hari ini, aku sudah muak. Aku ingin hidup tenang.

Dengan terburu-buru, aku menuju ke arahnya. Kuraih sebuah kursi kayu. Kuhantamkan tepat di kepalanya. Monster terhuyung dan terjatuh. Kuambil sebilah belati dari balik jaketku. Kutusuk monster itu tepat di dadanya. Sekali. Dua kali. Berkali-kali.

Mati sudah. Setan yang bernama Dengki.

***

Malang, 2 Oktober 2013

Kisah Tentang (Bukan) Mantan

“Mantanmu ada berapa?”

Tiba-tiba pertanyaan itu meluncur dari bibirnya. Aku menghentikan kegiatan membaca tabloidku, menoleh dan memandang Arga. Yang dipandang malah berpura-pura tidak tahu dan berlagak sibuk membaca tabloid otomotif.

“Ngapain tiba-tiba nanya begituan?” tanyaku dengan tawa geli. Selama ini, kami sudah berkomitmen bahwa mantan dan segala sesuatunya adalah masa lalu. Dan sudah sepatutnya masuk ke dalam kotak yang tidak akan pernah dibuka saat ini atau esok hari.

Arga menghentikan aksi pura-pura membacanya dan menyesap seteguk kopi hitam buatanku. Dia tersenyum dan berkata, “Ya nggak kenapa-kenapa. Pengin tau aja, dulu kekasihku ini pernah takluk sama cowok yang seculun apa sih ahahaha…”

“Diiih… Berarti kamu juga culun, dong,” amukku sambil memukulkan gulungan tabloid ke lengannya.

“Nggak laaah. Pasti aku yang paling keren ehehehe…” jawabnya.

Aku mencibir dan mencubit lengannya, “Nggak penting, ah. Pasti kamu pengen ngetawain aja, kan…”

Arga meraih kedua tanganku untuk menghentikan cubitan-cubitanku. Ia merapikan poniku yang diporakporandakan angin sore. Lalu lelakiku itu berdehem, “Serius. Aku cuma pengin tau. Bukan karena insecure. Tapi lebih pada… ehm… apa ya… I just don’t wanna fail like the other men.”

Kalimatnya membuatku terdiam. Lalu hanya ada suara gemericik air kolam yang mengiringi tiga detik keheningan kami. Dan melihat wajah Arga yang memang tampak serius sekali membuatku tersenyum geli.

You won’t fail, Arga. Percaya, deh…”

“Iya, aku tahu. Aku nggak akan gagal kaya laki-laki lain. Soalnya aku paling keren,” sesumbar Arga sambil menaik-naikkan kedua alisnya dengan nakal. Ujung bibir kanannya terangkat. Dan entah apa yang membuatnya mengedipkan mata kanannya.

“KePDan! Kukasih tahu, ya. Aku nggak punya mantan,” racauku sambil menutupi kedua pipi yang memerah dan memanas karena malu.

“Please, Anya. Jangan merusak keindahan sore ini dengan berbohong padaku,” ujarnya dengan nada yang menyebalkan. Suaranya dilambat-lambatkan dan begitu rendah. Tapi kuberitahu sebuah rahasia. Aku suka suaranya yang demikian. Menurutku, itu seksi dan sangat laki-laki.

“Ahahaha I’m serious, Arga. I don’t have any-ex.”

“Kenapa bisa gitu? Astaga… Jangan-jangan kekasihku ini frigid!” pekiknya.

Serta merta kuhujani Arga dengan pukulan kepalan tanganku bertubi-tubi, “Eh… Suka asal, deh…”

Arga menghindar. Barisan gigi putihnya membentuk tawa yang menambah ketampanannya, “Aw aw aw! Bercanda, Cintaku… Look. Aku nggak pernah peduli sudah berapa hati yang kamu patahkan. Atau kamu sudah patah hati berapa kali. But I wanna learn from them. May I?”

“Hehehe wajah kamu serius banget. Aku kasih warning dulu, ya… Ini akan menjadi cerita yang cukup membosankan,” kataku.

“Menurutmu, kita bisa bertahan lima tahun gini karena apa?”

“Argaaa!”

Arga meraih leherku dan mengecup keningku, “Hehehe iya iya… tuh sudah kucium biar nggak ngambek. So, the story goes…?”

So… this is my stories.”

Tidak ada kisah cinta yang lebih indah untuk dikenang selain kisah cinta remaja SMA.

“Dikenang, Arga. Bukan untuk diulang,” bisikku ketika melihat raut wajah Arga yang merengut seketika.

Aku dan anak lelaki ini, sebut saja namanya Roni, awalnya adalah dua remaja yang saling mencaci dan memaki. Kami disatukan oleh rasa benci. Aku membencinya karena sikapnya yang sok bossy. Dia membenciku karena aku terlalu cerewet.

Tapi ketika kami akhirnya dipisahkan oleh dinding kelas, ada sesuatu yang berubah dan terasa menghilang. Dia sering berpura-pura meminjam catatan dari anak di kelasku. Aku sering berpura-pura ijin ke toilet dan mengintip ke kelasnya. Perilaku malu-malu kami tentu saja menjadi sumber gosip bagi seluruh siswa di sekolah. Tidak terkecuali para guru dan bahkan kepala sekolah.

Satu hal yang membuatku heran. Roni adalah anak lelaki yang bossy. Tapi untuk masalah percintaan, dia kelas teri. Well, ya… dalam artian, untuk mengajakku kencan saja dia tidak pernah memberanikan diri.

“Kenapa kamu nggak nembak duluan?” interupsinya.

“Aku masih percaya bahwa melamar adalah tugas laki-laki,” jawabku singkat.

“Tapi dulu Khadijah melamar Nabi, Anya,” sanggahnya lagi. Ah, Arga sore ini cerewet sekali.

“Bisa nggak ceritanya kulanjutin dulu?”

“Hehehe oke oke.”

Menjalin pertemanan dengan Roni itu mudah. Cukup dengan membencinya. Tapi menyebutkan kata cinta rasanya sulit sekali. Sampai akhirnya kami sama-sama lulus SMA dan melanjutkan kuliah di kota yang berbeda. Dan perasaan Roni hanya tersampaikan dari promosi teman-temannya, bukan dari mulut dia sendiri. Jujur, aku merasa sedikit kecewa. Kecewa pada Roni, dan kecewa pada diriku sendiri. Pertanyaan ‘mengapa tidak kunyatakan saja?’ juga pernah terlintas di pikiranku. Tapi kenyataannya, aku tidak melakukannya. Dan kami berdua berjalan ke arah yang berbeda tanpa pernah saling menyatakan bahwa rasa suka itu pernah ada.

“Trus, Roni sekarang dimana?” tanya Arga.

“Dia bahagia dengan istri dan satu anak laki-lakinya.”

Arga mengangguk-angguk sambil membelai-belai jenggotnya yang tumbuh satu-satu, “Hmmm… Jadi, kamu dan Roni tidak pernah ‘jadian’?”

Aku menggeleng, “Nggak pernah.”

“Selanjutnya adalah kisah cinta semasa kuliah. Sebut saja namanya Toni,” lanjutku.

“Kenapa harus Roni dan Toni?’ protes Arga.

“Arga, bisa nggak sih nggak protes dulu?”

“Hehehe iya iya, maaf…”

Aku dan Toni adalah sahabat yang disatukan oleh kekejaman ospek. Tidak dipungkiri, ospek adalah masa yang paling mengenaskan bagi mahasiswa perantauan. Euforia remaja yang baru saja menghirup udara sebagai mahasiswa harus luluh lantak oleh minggu pertama yang bernama ospek. Tidak ada sanak saudara, tapi harus melewati serangkaian tugas dan perintah yang sepertinya tidak masuk akal.

Tapi bersama Toni, semuanya menjadi lebih mudah. Bersama Toni, gambaran masa kuliah yang menyenangkan kembali terbentang di depan mata. Dia adalah lentera di antara kelamnya tugas baca yang tidak mungkin diselesaikan dalam semalam. Toni merawatku ketika aku terbaring karena sakit demam tifoid. Dan aku tak pernah lupa mengopikan salinan bahan kuliah setiap dia membolos karena kerja paruh waktu. Banyak yang meragukan, tidak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan. Maka, di antara keharmonisan pertemanan kami yang indah, Toni dan aku menyebut hubungan ini sebagai partnership.

Dan pada akhirnya aku mengaku kalah. Hatiku takluk. Ada banyak malam yang kulalui dengan memimpikan Toni, berkhayal bahwa suatu saat nanti kami berdua bisa melewatkan senja berdua dan menua bersama. Di antara tatapan mataku yang mulai melunak, senyum yang selalu mengembang, dan degup jantung yang tidak karuan, aku dipaksa mengalah. Something came between us. Sesuatu yang sangat besar hingga mendesak kami agar berjauhan.

Saat menceritakan bagian ini, aku tidak tahan. Aku tertawa.

“Kok ketawa?” tanya Arga sambil mengerutkan dahinya.

“Aku pernah menyesal karena terlalu pengecut mengatakan perasaan pada Roni. Terhadap Toni, aku tidak ingin menjalani hidup dengan penyesalan yang sama. Maka kunyatakan cinta. Dan…”

“Dan? Dia punya pacar?”

Aku mengangguk dan kembali tertawa ketika kepalaku dipenuhi wajah Toni di malam itu, “ Toni sudah punya pacar. Dan pacarnya, laki-laki.”

Arga tertawa terbahak-bahak hingga kepalanya terayun ke belakang. Matanya menyipit, bahkan suara tawanya hampir tidak terdengar.

“Astaga, ada bidadari cantik di sampingnya, tapi Toni justru lebih memilih laki-laki. Lucky me…” ujar Arga sambil mengusap matanya yang berair karena tertawa terlalu keras.

“Begitulah cintaku yang kedua, berakhir tragis sekali.”

Aku menyesap teh yang tak lagi hangat dan menunggu Arga mampu mengendalikan tawanya. Dari sudut mata, aku melihat Arga menggeleng-gelengkan kepala, seakan tak percaya. Aku tersenyum, menertawakan diri sendiri yang juga tak percaya pernah mencintai lelaki homoseksual.

Now, the third?” tagih Arga.

“Yang ketiga. Ini adalah cerita paling singkat, namun paling berkesan.”

Wait. Let’s call him ‘Doni’.”

Aku tersenyum.

Setelah lulus, aku mulai bekerja sebagai dokter jaga di UGD sebuah rumah sakit. Kehidupanku tidak jauh dari jaga-pulang-jaga-pulang. Benar-benar tidak ada waktu untuk mencari pacar untuk sekadar bermalam minggu. Karena sesungguhnya, malam minggu itu tidak pernah ada untukku. Tapi tetap saja, cinta adalah butiran debu yang mampu mengisi celah sesempit apapun.

Di antara jadwal jaga yang tidak kenal ampun, seorang Doni datang padaku. Ia memberikan perhatian-perhatian yang selama ini hanya kudengar dari kisah dan cerita para sahabat. Jam berapa pulang jaga? Banyakkah pasien hari ini? Sempatkah kamu makan malam? Bahkan Doni sering mampir ke UGD dan memberikan sekantong cemilan atau sebungkus nasi goreng untukku. Setiap hari, ia selalu menyempatkan diri mampir ke rumah dan menyelipkan sekotak susu cokelat dengan catatan, “Jangan sampai sakit, ya.”

At that time, he was just so perfect. Semua berjalan sangat lancar dan mulus seperti jalanan Jakarta di hari lebaran. Dan rasanya, aku tidak mau berpaling. Mungkin, Doni adalah orangnya.

Tapi semuanya buyar ketika Doni memperkenalkanku dengan kedua orang tuanya. Layaknya sebuah jalan cerita dongeng dan telenovela, maka cinta kami pun sedemikian mengenaskan. Keluarga ningrat Doni menolak berbesanan dengan keluargaku yang sederhana.

Seketika, gambaran sebuah cinta yang sempurna itu retak. Hatiku hancur. Impian indah di depan mata itu kini harus terendam bersama lumpur. Tapi yang lebih mengecewakanku adalah Doni tidak memperjuangkanku. Doni diam saja. Menerima dan berlalu. Ada satu bagian dariku yang merasa bahwa nasibku lebih buruk dari Cinderella. Pangeranku tidak perlu repot-repot mencari pasangan sepatu kaca yang tertinggal. Ia lebih memilih membuang sekeping sepatu itu dan mencari yang lain. Aku sempat terpuruk selama beberapa bulan, kadang menangisi kotak-kotak susu cokelat yang tak pernah kubuang.

He didn’t deserve you. He didn’t even deserve your tears.”

I know. Ada satu waktu, akhirnya aku benar-benar sadar. Untuk mendapatkanku saja Doni mudah sekali menyerah. Maka aku tidak akan bersusah-susah meratapi seorang laki-laki yang bahkan tidak tahu bagaimana mengayunkan pedang.”

Arga menggenggam tanganku. Lalu meletakkan kepalaku di bahunya yang hangat. Sejenak, kami membiarkan diri kami terbuai keheningan. Awan yang bergumul di langit memburamkan cahaya matahari dan senjanya. Sinarnya yang seharusnya menyilaukan, kini hanya sampai di wajah kami sebagai siluet yang hangat dan menenangkan.

“Jadi, kamu berbohong,” kata Arga secara tiba-tiba.

“Bohong tentang apa?”

“Katamu, kamu nggak punya mantan.”

“Ahahaha… Doni, maksudmu? Serius. Kami nggak pernah mengungkapkan kata ‘pacaran’. Mungkin, kami sama-sama memiliki pemikiran naif bahwa cinta tidak dibatasi oleh kata ‘pacar’. Tapi akhirnya aku sadar, itu hanya alasan baginya supaya tidak pernah merasa memilikiku.”

“Laki-laki bodoh. Dan aku tidak bisa mengerti, kamu bisa terjebak dengan orang-orang seperti itu. Roni, Toni, Doni. Mereka semua absurd,” bisiknya. Tak lupa, Arga memberikan tekanan yang menyenangkan di genggaman tangannya. Kini jari-jari kami bertaut begitu sempurna.

“Ahahaha. Jadi, sudah selesai ceritaku. Belajarlah dari itu,” godaku.

“Apa yang bisa kupelajari? Dari Toni, bahkan aku tidak bisa membayangkan diriku sendiri mencintai laki-laki. Yucks!” kata Arga.

Aku mengangkat kepalaku dan mendapati wajah Arga merengut begitu jelek. Mulutnya mencucut, dahinya berkerut.

“Ya, setidaknya jangan membuat ceritaku sore ini menjadi sia-sia, Sayang…”

Kudekatkan wajah pada wajahnya, lalu menjatuhi pipi kirinya dengan sebuah kecupan singkat. Arga terkesiap karena kaget. Dan jingga matahari senja memulaskan ronanya pada pipiku dan Arga.

Arga tersenyum dan menangkup wajahku dengan kedua tangannya. Seketika, aku berharap waktu berhenti sejenak dan membiarkan kami menikmati masa ini cukup lama.

“Ketika bertemu denganmu, aku tidak tahu berapa banyak hati yang telah kamu jejaki. Atau berapa kali kamu patah hati. Sebelum mengetahui kisah-kisahmu, aku memang tidak pernah berniat membiarkanmu menunggu lama. Maka, dulu, kunyatakan cinta setelah kita dua bulan berkenalan.”

Aku tersenyum. Menunduk dan menikmati pipiku yang pias dan merona.

“Setelah itu, memperjuangkanmu itu sama pentingnya dengan memperjuangkan masa depan. Karena aku mau, di dalam masa depanku, ada kita.”

Jantungku berdegup sangat kencang. Rasanya dadaku sesak oleh rasa haru dan bahagia.

“Dan jangan khawatir, selamanya, aku nggak akan membiarkan bidadariku ini terabaikan.”

“Janji?” tanyaku.

“Setidaknya, I’m not a gay, Darling,” godanya.

“Dasar! Pasti habis ini cerita yang itu kamu jadiin bahan olok-olok, deh…”

“Hehehe bercanda, Istriku. Yuk masuk. Udah adzan. Kelamaan di luar gini nanti kamu masuk angin. Kasian anakku nanti…” katanya sambil merangkul bahuku dan mengelus perutku yang menyembul karena hamil lima bulan.

Aku mengikuti Arga yang sudah bangkit dan membawa dua cangkir teh yang sudah kosong isinya. Kami berjalan menuju rumah kontrakan sederhana yang baru kami tempati selama tujuh bulan.

Dari sudut mataku, dapat kulihat bulan purnama di atas sana. Ia merekah begitu lebar, memayungi dua hati yang kembali berdansa di antara cinta.

“Arga, aku lupa bilang,” bisikku.

“Apa?”

“Doni itu nama sebenarnya.”

***

Probolinggo, Maret 2013

Advertisements
%d bloggers like this: