Tidak Pernah Ada Waktu yang Cukup untuk Mengenangmu

Kamu adalah siluet sinar mentari pagi yang menelusup diam-diam dari celah jendela
Pagi ini merah warnanya
Memantulkan kemarahanmu saat kaki-kaki kecilku yang tak mau pulang meski petang datang

Kala itu telingaku panas
Kali ini hatiku pias

Lain waktu, kau menjelma sebagai alunan musik di siang yang ramai
Jingga. Cerah.
Menyanyikan kerianganmu setiap aku pulang bersama cerita-cerita
Kita duduk berdua berlama-lama, jemarimu tak henti memanja
Mendekatkan telingaku di detak jantungmu yang paling indah sedunia

Kala itu senyumku merekah
Kali ini rinduku membuncah

Petang… kau adalah lembayung yang indah
Semburat menyampaikan hangat lewat peluk mesra dan nasehat-nasehat
Sebuah selimut kau selubungkan di tubuhku yang sempat gemetar
Pelukan meredam segala gentar

Kala itu resahku pudar
Kali ini air mataku meliar

Tidak ada satu pun hal berharga yang mampu membeli waktu bersamamu, Bapak.
Kenangan membabi-buta kapan saja
Bahkan pada keluhan-keluhan mereka di bangsal, aku melihatmu berbicara.

Tidak pernah ada waktu yang cukup untuk mengenangmu, Bapak.
Sehari. Seminggu. Sebulan. Setahun.
Bahkan tulisan ini hanyalah kerinduan yang dikelabui kata-kata.

***

Malang, 25 Desember 2016

Setahun tanpa Bapak

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: