Hampir Pernah

Ia hampir mengajaknya berbicara, saat Dia diam-diam pernah menunggunya.

Ia hampir memberikannya sebuah novel favorit yang hingga kini usang di laci meja.
Dia pernah menyelipkan sepucuk rindu di buku yang akhirnya tidak pernah terbaca.

Ia hampir bilang cinta.
Dia pernah menyematkan namanya di setiap doa.

Mereka hampir ditakdirkan bersama.
Sayangnya mereka mengucap diam belaka.

Konon kini Ia hampir melupakan semua,
Tapi sesungguhnya Dia masih merasakan hal yang sama.

Advertisements
  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: