Sepasang Mata Teduh di Ujung Pintu

Ada sepasang mata teduh di ujung pintu…
yang dari kelopaknya, tumbuh tunas-tunas air mata yang belum sempat disiangi.

Kudatangi ia…
kurelakan kedua telingaku digaduhi isak yang menelusup malu-malu.

Sore itu, diceritakannya tentang penderitaan paling getir…
tak lagi bisa mencium ibu ayahnya
tak lagi bisa menertawai kaki-kaki kotor saat bermandikan hujan bersama adiknya
tak lagi bisa melumat rindu pada kekasih yang kemarin dulu meninggalkannya.

Sore itu, kutenggelamkan wajahnya yang sendu ke dalam pelukan
Sembari melantunkan sajak-sajak yang mungkin dapat mengemasi kesedihan.

Bibir itu bergumam lamat-lamat, “Aku benci menjadi bayangan.”

Kuraih rona jingga yang memantul di pipinya,
“Nona…
bahkan dalam gelap paling gulita
pijarmulah yang terbenderang.”

Detik dan menit berkoalisi dengan pilu…
pelukanku dibekukan waktu
Hingga sinar senja menggelap di ujung pintu.

Pelukan kusudahi.
Istriku kembali.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: