Hidung

Aku benci hidungku. Bentuknya sama sekali tidak seksi. Hanya gumpalan bulat tanpa sudut yang membuatku hampir mirip badut di taman mini. Tidak ada gundukan di jarak mata. Lurus saja. Tanpa tulang. Membuatku semakin sering disebut pesek.

Belum lagi dengan kepekaan yang di atas rata-rata, hidungku sering berulah dan membuatku mual muntah. Aku benci bau wangi yang menyengat. Aku benci bau busuk yang bejat.

Dan kepekaan itu kini semakin bertambah. Aku tidak mengerti… Mengapa bau di sekitarku menjadi tidak sedap sama sekali. Aku harus mengenakan selembar masker setiap hari. Lalu menambahnya selembar lagi. Dan lagi. Hingga wajahku penuh dengan masker, namun bau itu sungguh tak tertahankan lagi.

Aku panik. Ingus hijau kental mengalir tanpa henti. Mataku berair terkena pedih yang asalnya tak kupahami. Dan tenggorokanku kering karena rasa asam yang merangkak naik dari lambung hingga ke lekum.

Kurang ajar! Siapa yang menciptakan bau sebacin ini?!

Kepalaku pening. Perutku pecah oleh muntahan bernanah kuning. Lalu sebuah suara berdenging nyaring, “Lihat hatimu.”

Sial!

Hatiku membusuk.

***

Malang, 2 September 2015

NB: Tulisan absurd. Enggak ngerti mikir apa waktu bikin ini. Niatnya bikin FF. Tapi memulai sesuatu yang lama mengendap itu susah. Butuh dipanasin dulu. Hiks.

  1. Bener banget. Lama gak nulis fiksi trs mau nulis lagi lgs diam membekušŸ˜­

  2. haha jadinya bukan FF tapi WF

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: