Luka yang Tertinggal di Unit Gawat Darurat

Bip. Bip. Bip. Bip.

Suara itu membuatku semakin pusing. Nyeri di dada kiriku terasa semakin menjadi. Seharusnya, obat-obat yang tadi kutelan dan gas oksigen yang kuhirup melalui selang membuat sakitku berkurang. Setidaknya itu yang dikatakan dokter barusan.

Tapi nyatanya tidak.

Mataku terpejam. Tapi kenangan pada tiga puluh tahun yang silam memenuhi kelopak mata. Mataku terpejam. Tapi hidungku masih bisa membaui kerasnya aroma antiseptik, anyirnya bau darah, dan pekatnya rasa takut yang menusuk.

Ketakutan ini yang dirasakannya. Ketakutan yang seperti ini. Ketakutan ketika begitu dekat dengan kata mati.

“Masih terasa sakit, Bu?” tanya Mas Sofyan sambil menggenggam lembut tanganku yang sudah mulai menghangat dan kering. Tidak lagi dingin dan berkeringat seperti setengah jam yang lalu.

Aku menelan ludah. Pahit. Ada secuil amarah di dalamnya. Secuil amarah yang kutelan lagi karena tidak sanggup meluapkannya pada suamiku sendiri karena merasa diriku tidak lagi pantas dipanggil sebagai ‘ibu’.

Tidak perlu membuka mata untuk mengetahui tempat aku berada saat ini. Tubuhku sudah mengenalnya dengan baik. Suara hiruk pikuknya, dentingan benda logam dan derap langkah yang terburu-buru atau langkah yang diseret dalam keputusasaan, serta suara rintihan sakit dan ketakutan. Setiap jengkal dan isi tempat ini mengingatkanku pada jejak paling pahit yang perihnya masih terasa dari kaki hingga kepala.

Di brangkar yang berderit, aku bisa mengingat bagaimana pertama kali aku membawa Aina yang pucat ke unit gawat darurat. Ia mimisan tanpa henti seperti ada keran bocor di dalam hidungnya. Jika engkau bertanya bagaimana rasanya, bayangkan saja seperti ratusan tombak yang ditusukkan ke ulu hati. Nyeri yang tak terdefinisi. Melihat buah hatiku menanggung sakit membuatku bertanya-tanya. Apa salahku? Mengapa harus Aina? Mengapa harus anakku?

Kekhawatiranku memudar ketika dokter sudah memberikan cairan infus dan transfusi darah berwarna putih kekuningan yang katanya bisa membuat mimisan Aina berkurang. Kupikir, saat itu keadaan sudah menjadi lebih baik. Tapi aku salah. Bukan hanya salah memprediksi keadaan. Tapi juga salah sebagai ibu yang seharusnya tahu perubahan pada tubuh anaknya.

***

“Bengkak di gusi, persendian kaki dan tangan ini muncul sejak kapan, Bu?”

Apa? Bengkak? Di mana?

Kuikuti lengan dokter laki-laki berkacamata yang tangannya berakhir pada gusi, lalu turun ke lutut Aina yang nampak membesar. Jantungku mencelos. Aina, sejak kapan? Jika memang dia merasa kesakitan, mengapa ia tidak bilang? Dan mengapa aku tidak tahu?

Ada air mata yang tertahan. Entah karena apa. Yang jelas saat itu aku sudah merasa gagal dan tidak pantas lagi dipanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Kugenggam jari tangan Aina yang dingin dan lembab. Menelan ludah dan menjawab, “Saya tidak tahu, Dokter.”

Dokter itu membenarkan letak kacamatanya dan menghela napas. Dia menggeser celana selutut Aina sehingga nampak kulit paha yang dihiasi bentukan yang membiru. Aku merasa ditampar. Aku tidak tahu sejak kapan lebam itu ada di sana.

“Sebelumnya Aina pernah mimisan atau mengalami gusi berdarah ketika sikat gigi?” tanya dokter itu.

Ah. Kali ini aku tahu. Sebuah kebanggaan menyeruak karena akhirnya ada satu hal yang aku tahu. Apakah ini penyangkalan atau bukan. Setidaknya, ada sesuatu yang tidak luput dari pengamatanku.

“Iya, Dok. Aina memang pernah mimisan beberapa kali. Terutama ketika dia demam. Saya pikir, mimisan itu terjadi karena demam.”

“Demam? Sering demam?”

Aku menahan napas. Seringkah? Bukankah sudah biasa jika anak-anak mengalami demam?

Aku mengusap dahi Aina yang dipenuhi peluh. Dia tidak kepanasan. Pendingin ruangan UGD ini bekerja dengan baik. Aku mengelus pipinya yang gemetar. Aina menggigit bibir bawahnya. Aina ketakutan.

“Eng … Saya pikir, hanya demam biasa, Dok. Karena empat atau lima hari demamnya sudah hilang.”

“Sejak kapan, Bu?”

“Ehm … kira-kira sebulan yang lalu.”

Dokter itu melihat sebuah kertas di flipchart yang sepertinya memuat hasil pemeriksaan darah Aina yang dilakukan sebelumnya. Dia mengerutkan kening. Bibirnya menipis begitu kencang. Rahangnya menegang.

Yang kutahu, bahasa tubuh itu menandakan ada yang tidak bagus di sini.

“Aina dirawat inap, ya, Bu. Karena hasil pemeriksaan Aina tidak sebagus yang saya harapkan. Saya menduga, ini bukan kasus mimisan biasa.”

Ketakutanku sudah mencapai puncak. Tapi aku tidak boleh gentar. Kugenggam tangan Aina sambil berkata, “Tidak apa-apa. Aina hanya menginap beberapa hari sampai sakitnya benar-benar hilang. Setelah sembuh, kita pulang.”

Aina tidak boleh tahu, bahwa di dalam kepalaku ada sebuah monster yang mungkin tidak akan hilang selamanya. Makhluk buruk rupa yang mengambil seluruh kebahagiaanku hingga aku tidak pernah bisa merasa bahagia lagi. Karena selanjutnya, UGD dan rumah sakit adalah rumah kedua bagi kami.

***

Mas Sofyan membelai lembut punggung tangan kiriku. Seakan mencoba mengurangi nyeri yang tersisa karena plastik infus yang terbenam di pembuluh vena.

Perlahan aku membuka mata. Lampu neon yang sangat putih di langit-langit tempatku berbaring begitu menyilaukan. Mataku rabun untuk beberapa saat. Lalu aku bisa memandang wajahnya. Wajah suamiku yang nampak begitu lelah dan diselubungi kekhawatiran. Ia mencoba tersenyum. Tapi dia tidak bisa menipuku. Ia takut. Sama sepertiku.

“Sudah enggak. Sakitnya sudah berkurang,” jawabku. Dibumbui sedikit senyum kecil yang langsung menyakitkan pada bibirku yang terasa begitu kering. Tentu saja, aku berbohong. Hanya agar aku tidak melihat suamiku semakin sedih dan merana.

Ia menghela napas. Lega. Diciumnya punggung tangan kiriku. Tepat di atas balutan plester berwarna putih yang menahan selang infus. “Kukasih mantra biar sakitnya cepet ilang,” lirihnya.

Betapa laki-laki yang usianya sudah melewati separuh abad ini hampir sama dengan dewa. Atau malaikat. Selama hidupnya, ia tidak pernah kehabisan rasa sabar. Bahkan menghadapi aku yang hidup seperti mayat. Makan, tidur dan bernapas sekadarnya. Karena sejak tiga puluh tahun yang lalu, aku sudah tidak lagi mengenal bagaimana caranya tersenyum dan tertawa.

Aku memicingkan mata. Berusaha mengurangi cahaya yang masuk ke mata. Memiringkan kepala hingga nampak olehku sebuah alat yang sedari tadi berdetak dengan sangat memusingkan. Ada sebuah garis yang naik turun seperti sandi rumput. Ada sebuah lambang hati yang berkedip-kedip di sebuah angka 88.

Bip. Bip. Bip. Bip.

Aku tidak pernah melupakan nama alat itu. Monitor elektrokardiogram. Alat yang sama dengan yang pernah menjadi sahabat dekat putriku. Alat yang selalu berada di ranjang Aina yang warna bibirnya mulai membiru. Alat yang tiap dentingnya mampu memorak-morandakan degup jantungku.

Dan alat yang pertama kali berteriak lantang ketika ia tidak mampu menemukan sandi rumput di jantung Aina. Garis lurus. Garis mati.

Saat itu aku sadar. Bahwa batas antara hidup dan mati seseorang tidak ditentukan oleh jalan yang terjal atau berliku. Tidak juga ditentukan oleh persimpangan dan kebingungan. Hidup dan mati dibatasi oleh sebuah garis lurus. Garis yang tidak bisa bangkit lagi.

Mati.

***

“Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, Bu. Infeksi dapat memperburuk kondisi Aina. Dan saat ini infeksinya sudah sangat luas. Sepsis. Sehingga Aina mengalami koma.”

Sepsis. Makhluk jahat apakah sepsis itu? Mengapa sepsis tega merenggut kesadaran Aina yang sudah banyak merasakan penderitaan karena sakit dan rangkaian terapi yang seakan tidak kunjung berhenti?

Air mataku tak berhenti jatuh ketika hanya sanggup memandangi Aina yang tidak sadar sejak tiga hari yang lalu. Kugenggam tangannya yang dingin. Mengusap-usapnya agar setidaknya ada hangat yang sanggup aku hibahkan pada tubuhnya. Kembali kusalahkan diriku sendiri. Aku tak pernah menyangka batuk-batuk biasa bisa menyebabkan kondisinya menurun hingga seperti ini.

Putriku yang baru berusia delapan tahun itu sedang tertidur. Kepalanya botak karena efek dari kemoterapi. Wajahnya pucat karena kadar hemoglobin yang terus terjun bebas. Mulutnya menganga karena tertahan sebuah selang yang membantu pernapasannya. Entah berapa banyak selang lain yang menjamah tubuhnya. Hidung, lengan, bahu, kaki, bahkan saluran kencingnya dimasuki selang penampung urin.

Dadaku sesak. Putri yang semasa bayinya kulindungi dari gigitan semut dan nyamuk, kini harus ditempa begitu banyak alat yang menyakitkan. Tidak ada yang mengajariku bagaimana melalui semua ini. Semua hanya berkata, “Sabar dan ikhlas, ya.”

Tapi meraka tidak pernah tahu rasanya. Mereka tidak pernah mengerti ada ketakutan yang semakin hari semakin besar, seperti roti yang diragi. Mereka tidak tahu ada penyesalan yang menggerogoti diri sendiri, sebuah pertanyaan bahwa apakah aku pernah melakukan dosa yang sangat besar sehingga siksa itu diturunkan kepadaku dengan cara yang sedemikian keji. Mereka tidak tahu bahwa semakin aku meminta dan berdoa pada Tuhan, hatiku menyangsikan keberadaanNya karena doa itu tak kunjung dikabulkan.

***

“Kapan aku bisa pindah ke ruangan, Mas? Aku bosan di UGD terus,” lirihku.

“Dokter masih mengobservasi kondisimu. Bersabarlah …,” ujar Mas Sofyan.

Sabar. Kata itu juga sering diungkapkan Mas Sofyan padaku selama tiga puluh tahun ini. Pernah aku merasa bahwa suamiku tidak berduka. Tidak kehilangan Aina. Sampai pada suatu malam aku mendapati laki-laki itu menangis di dalam shalatnya. Suamiku hanya berusaha terlihat tegar di depanku. Supaya aku mampu bangkit dan melanjutkan hidup. Tapi kenyataannya aku bukan orang tua yang setabah Mas Sofyan. Tidak bisa. Bahkan di malam-malam setelah Aina tiada, aku tidur dengan memeluk baju tidurnya.

“Aku bisa melihat senyum Aina, Mas,” bisikku.

Mas Sofyan menegang mendengar nama almarhumah putrinya. Ia menggenggam tanganku lebih erat lagi. Menghela napas dan menunduk. “Jangan biarkan luka itu membebanimu, Mira. Saat ini yang kamu butuhkan adalah semangat untuk sembuh. Semangat untuk hidup.”

Jantungku mencelos.

Dulu, ketika ibuku tiada, rasanya tidak selama ini aku merasa sedih dan kehilangan. Setiap anak akan sedih dan terluka ketika orang tuanya tiada. Akan ada sesal yang terselip ketika menyadari bahwa mereka belum cukup memuliakan orang tuanya. Tapi bagaimanapun, aku selalu berpikir bahwa harus segera kembali tegar dan melanjutkan hidup karena ada Mas Sofyan dan Aina di hidupku.

Tapi ketika orang tua melihat anak-anaknya lebih dulu dirangkul oleh kematian, mereka akan selamanya terkungkung dalam keterpurukan selama sisa usia. Menangis, meratap, dan merana. Ayah dan Bunda akan nelangsa memikirkan apakah mungkin mereka tidak cukup sempurna dalam membesarkan anak sehingga cinta itu harus terhenti di tengah jalan. Kasih sayang yang sudah direncanakan akan ditumpahkan selama-lamanya, mendadak harus berhenti di tengah jalan dan direnggut begitu saja. Bahkan membayangkan pijatan di kaki ketika mereka menua pun sudah tidak bisa. Melanjutkan hidup, mungkin akan dijalani sekadarnya. Karena selamanya, pertanyaan ‘mengapa’ itu tidak akan pernah bisa hilang.

“Semangat hidup … untuk siapa, Mas? Aina sudah enggak ada.”

“Untuk aku, Mir. Untuk aku. Apakah aku enggak cukup berharga?”

Aku menelan ludah. Pertanyaan itu pun selalu menghantuiku selama ini. Bagaimana bisa aku mengabaikan keberadaan Mas Sofyan karena kesedihan yang tidak pernah berhenti? Mengapa hatiku tidak juga tersentuh atas kesabaran dan kesetiaannya menghadapiku yang keras kepala menyimpan luka?

Aina. Ibumu ini telah menyia-nyiakan hati ayahmu. Apakah ini artinya selain gagal menjadi ibu, apakah Ibu juga gagal menjadi istri?

Air mataku menderas dan membabi buta. Mas Sofyan memintaku untuk tetap hidup. Tapi hingga saat ini, aku tidak menemukan alasan diriku sendiri untuk sembuh dan hidup.

Tiba-tiba dadaku sakit. Rasanya jantungku berdegup kencang dan tak keruan. Napasku terengah-engah. Pandanganku berkunang-kunang. Untuk kesekian kalinya aku merintih kesakitan. Ada Aina yang menghampiri di pelupuk mata. Dan selanjutnya, yang kutahu hanya gelap.

***

“CODE BLUE! P1 ventricular fibrilation!”

Serombongan orang berseragam menghampiri Mira. Sedangkan dokter yang berteriak tadi langsung naik ke sebuah pijakan dan menekan dada Mira. Ada laki-laki yang segera menuju puncak kepala Mira. Menengadahkan kepala istriku dan memasukkan sebuah selang besar yang dihubungkan dengan tabung oksigen. Ia menekan alat seperti balon yang bisa ditekan maka dada Mira ikut naik.

Aku sesak melihatnya. Ada manusia cebol yang saat ini memukul-mukul dinding dada. Tiga puluh tahun aku tidur dengan memimpikan Aina. Dan sekarang aku tidak bisa membayangkan apakah aku sanggup melalui hari-hari tanpa Mira.

Ternyata lebih mudah menjalani hidup dengan kenestapaan. Sekadar makan, tidur dan bernapas. Mira tidak pernah berpikir bahwa aku tegar dan bertahan karena aku mencintainya. Dan setelah mengalami serangan jantung yang tiba-tiba, kini Mira kolaps dan seakan tidak ingin bernyawa.

Apa aku harus menjalani hidup sebagaimana kamu melaluinya selama tiga puluh tahun ini, Mir?

Dokter yang menekan dada Mira kini menggenggam dua buah pedal yang terhubung pada sebuah alat. Alat yang di layarnya tergambar sebuah garis tidak beraturan seperti sandi rumput. Garis yang lebih buruk dari lima menit yang lalu. Alat itu dulu gagal mengembalikan Aina. Dan kini, aku ingin melepas jantungku saja. Karena rasanya aku tidak sanggup kehilangan belahan jiwa untuk kedua kalinya.

“360 Joule.”

Clear. Shock!”

***

“Ibu nangis kenapa?”

“Ibu nangis karena liat Aina sakit. Ibu mau sakit Aina dipindah ke Ibu aja.”

“Ibu jangan nangis. Aina enggak sesakit itu, kok. Kalo Ibu sedih gitu, Aina jadi merasa bersalah.”

“Kok bersalah?”

“Sejak lahir Aina sakit-sakitan. Demam, mimisan, sekarang jadi botak dan jelek. Lalu kapan Aina bisa lihat Ibu senyum dan tertawa?”

Mungkin sebentar lagi, Aina. Ketika bertemu dengan Aina, Ibu akan tersenyum dan tertawa. Sebentar lagi.

***

Biiip…

***

Malang, August 28th 2013

By: Nina @noichil

PS: stok cerpen lama yang nganggur cantik. Aplot aja lah daripada enggak diapa-apain jugak T_T

  1. Apa cerpen ini ditulis karena terlalu sering melihat kematian?😦

    Aku suka jalan ceritanya, meski sedikit terganggu dengan selipan PoV dari si suami, tapi plot yang maju mundur tetap enak diikuti, it’s like watching a movie. Kemudian yang juga sedikit mengganggu adalah ‘pengetahuan’ sang ibu terhadap beberapa istilah medis (yang memang sebenarnya awam, tapi… jadi rancu, semisal: how does she know exactly that they put the IV catheter into her vein not her artery? :D), sementara dari pemaparan kisah, si ibu sepertinya ya, bukan seseorang yang awas (yang kemudian kusimpulkan juga nggak terlalu pintar).

    Aku ingat pernah nonton Rabbit Hole, ttg orang tua yang kehilangan anak satu-satunya, karena ditabrak pengendara (yang masih remaja) saat ia bermain. I think you should watch it (if you haven’t) because the way they cope through the pain of losing is quite different but still acceptable, imo.

    Salam kenal.🙂

    • POV suaminya memang cukup mengganggu, sih. Mungkin saya nulisnya yang kurang smooth. Dan sepertinya pikiran saya juga berpengaruh banyak pada POV sang ibu ahahaha

      Saya belum nonton Rabbit Hole. Terima kasih atas rekomendasinya.

      Dan terima kasih atas masukannya! Salam kenal juga ^^

  2. Pov misuanya krg gmnee gitu

    gak bs bayangin kalo saya jd si Ibu

  3. sedih ceritanya, mbak

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: