Copy Paste

20140730_101136

Ruang 28 – RSSA (Juli, 2014)

Kita belajar sesuatu setiap hari. Bukan hanya dari buku-buku, seminar ilmiah atau diskusi akademik. Hidup mengajarkan kita sesuatu di setiap detiknya. Di mana saja. Bahkan di tempat ditemukannya keputusasaan dan harapan. Rumah sakit, salah satunya.

Di sebuah sore yang mendung, saya baru saja menunaikan solat Asar ketika pintu ruang intensif terbuka. Seorang lelaki berteriak dengan khas, “OB!” Oh. Ada pasien baru rupanya.

Sekilas saya melirik papan di dekat telepon. Di bawah tulisan ‘pesanan’ tertulis Intoksikasi HCl.

Pasien adalah perempuan berusia 50 tahun yang datang dengan penurunan kesadaran setelah mencoba bunuh diri dengan meminum cairan pembersih lantai berisi asam klorida. Kondisi pasien tidak begitu baik. Kesadaran delirium dengan nadi cepat dan lemah serta napas cepat dan dalam. Khas Kussmaul. Dari laporan observasi di UGD, pasien sempat muntah darah serta kencing hematuria. Tidak ada terapi khusus untuk keracunan asam, tidak ada antidotnya. Yang bisa dilakukan adalah mencegah agar tidak terjadi komplikasi terjadinya striktur esofagus, perforasi saluran cerna serta penatalaksanaan suportif lainnya.

Kemudian saya menggali riwayat sakit dari ibu yang malang tersebut. Anak keduanya menceritakan dengan sedikit cemas. Bahwa ibunya depresi karena tidak punya uang. Dengan hati-hati saya bertanya apa pekerjaan pasien, suami serta anak-anaknya. Sang ibu tidak bekerja, suaminya telah berhenti bekerja sebagai buruh bangunan sejak terkena serangan stroke, dan anak-anaknya bekerja sebagai buruh bangunan dan penjual es.

Mungkin tidak ada yang aneh dari pekerjaan tersebut. Saya dapat melihat bahwa anak kedua yang sedang saya hadapi, yang juga bekerja sebagai buruh bangunan, tidak hidup sebagai orang terlantar atau yang sama sekali tidak punya uang. Namun apa yang membuat sang ibu begitu depresi hingga berniat bunuh diri?

Ragu-ragu, anak kedua tersebut menyebutkan bahwa ibunya berhutang sangat banyak pada rentenir. Bukan karena mereka tidak bisa makan. Namun ibunya memilih untuk bergaya hidup lebih dari selayaknya yang mereka bisa. Makanan, pakaian, bahkan alat elektronik (gadget) yang ibunya pakai selalu lebih baik dari yang sanggup mereka bayar.

Oh. Gaya hidup.

Benda apakah ‘gaya hidup’ itu yang mampu membuat seseorang begitu haus padanya?

Saya tidak akan menyalahkan langkah sang pasien dengan meminjam uang pada rentenir demi sesuatu bernama ‘gaya hidup’. Ia sudah cukup merana menanggung malu dan sakit yang dideritanya saat itu. Saya jadi bertanya-tanya, apa yang membuat manusia begitu tergila-gila pada ‘gaya hidup’?

Tak jarang kita mendengar berbagai celetukan di sebuah obrolan ringan, mengenai apa yang seharusnya dilakukan, mana yang pantas, mana yang layak. Kadang-kadang manusia terlalu terfokus pada hal-hal yang demikian. Menganggap bahwa kemampuan, derajat dan harga diri seseorang diukur dengan benda yan kasat mata. Atau sebenarnya yang dicari adalah ‘pengakuan’, sesuatu yang abstrak yang mungkin akan dicapai dengan hal-hal materialistis.

“Hari gini belum pake iPhone?” “Ini udah jaman mobil matic, ngapain masih pake yg manual?” “Lipstick kamu norak. Coba pake Lime Crime!”

Namun salahkah jika beberapa orang termakan oleh dogma seperti ini?

Saya rasa ini wajar karena kita terbiasa mendengar bahwa motivasi dari segalanya adalah punya uang dan hidup enak. Harga diri diukur dari makanan apa yang kita konsumsi, merk pakaian apa yang kita kenakan, gadget merk apa yang melekat di saku dan tas, atau make-up artis ternama siapa yang kita tiru. Tentunya dengan media sosial yang semakin merajalela, manusia lebih mudah mengiming-imingi dan diiming-imingi. Menunjukkan bahwa hidup mereka ‘tidak biasa’ dalam ke’biasa’an. Inilah yang akhirnya membentuk banyak orang yang sebenarnya kurang mampu mencapainya, namun dipaksa dengan tertatih-tatih, pinjam sana-sini, membohongi diri sendiri demi sebuah prestise dan kebanggaan diri. Dan saya pikir, seseorang juga perlu belajar bagaimana lebih bijak dalam berkomentar. Jangan sampai karena opini kita, seseorang merasa terintimidasi untuk bergaya hidup lebih tinggi dari yang bisa mereka beli.

Orang lain bisa mengeluarkan uang ekstra mereka tanpa kata ‘berlebihan’. Namun hal itu mungkin tidak berlaku untuk kita yang masih tertatih mengisi pundi rekening demi mencicil rumah dan kendaraan. Mungkin, sang ibu yang tergolek lemah dan sesak napas tersebut berpikir bahwa dengan menembus batas kemampuannya di bidang finansial, dia bisa menembus strata yang dia inginkan. Namun rupanya ia lupa dengan konsekuensinya. Jari saya meraba sebuah luka bekas sayatan di pergelangan tangan kiri. Depresi karena dikejar-kejar rentenir pastilah sangat menakutkan sehingga membuat ibu tersebut berusaha bunuh diri hingga dua kali.

But we all have our own living conditions. Hidup manusia bukanlah hal yang bisa dicopy-paste. Kita harus bisa membuat kebahagiaan sendiri, dengan kemampuan masing-masing, dan bukan mengharap pujian atau pengakuan dari orang lain.

Akhirnya, ibu tersebut meninggal dunia. Kita doakan semoga ia tiada dengan damai dan tentram. Meski mungkin anak-anaknya akan tunggang langgang membayar biaya rumah sakit dan menutupi hutang-hutang belum terlunasi.

***

Malang, March 23rd 2015

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: