Perempuan yang Meletakkan Rindu pada Ujung Pena

Nuun

Dini hari bergelayut di kedua kakinya. Lalu merangkak, menarik mesra ujung selimut yang sesungguhnya masih ingin ia kenakan. Sesungguhnya pula, lelah masih ingin melebur dengan jenuh. Namun kedigdayaan memuaskan nafsu itu telah takluk semalam, membaur dengan mimpi buruk. Dan kini matanya dipertemukan dengan kenyataan. Hari baru telah datang dan membutuhnya untuk dicumbu.

Nuun.

Secepat kilat, dikenakannya pakaian yang tersisa dari lemari amburadul. Tak dikenalinya lagi mana baju atasan, kaos kaki atau pakaian dalam. Tangannya bergerak begitu saja. Sama dengan ketika ia meletakkan senyum dan semangat pada wajahnya.

Ah, ini lebih baik. Karena dari hatinya yang tulus, akan selalu ada topeng untuk mereka yang butuh disanjung.

Nuun.

Dingin masih memeluk. Gelap belum juga hanyut. Hingga dingin kembali tereguk. Serta gelap membuat senja melarut. Dibawanya sebongkah penat dan jutaan letih yang beranak pinak di sekujur tubuh, naik dan berdiam di dalam selimut malam ini.

Terlupakan olehnya pesan singkat sahabat. Terabaikan olehnya panggilan telepon kerabat.

Setiap hari.

Ia adalah dirinya sendiri. Ruang di hatinya begitu kosong. Hingga tanpa sadar, sepasang laba-laba menjalin sarang di dalamnya. Memenuhi sudut-sudut kenangan yang pernah membuatnya tersenyum dan dicintai.

Kadang-kadang mencintai sesuatu adalah menjatuhkan hati pada jalan yang terjal. Ada hasrat yang terpuaskan, meski hidupku terpinggirkan.

Malam merajuk. Namun mata tak kunjung meredup.
Mimpinya terganggu oleh ketukan halus di atas meja. Perlahan, hatinya berkata agar segera membuka mata.

Ditemukannya pena yang berdiri tegak. Menuliskan lagi impian melalui aksara yang telah lama ia lupakan. Lalu ada rindu yang tersemat di ujungnya. Bergoyang gontai menunggu sambutan hati yang meradang karena awan hitam semakin tinggi untuk didaki.

Nuun

Wal qolami wamaa yasthuruun.

Diraihnya pena itu. Seketika ia terkesiap pada jutaan sinaps yang menggeliat tak keruan. Jantungnya menderu. Napasnya memburu. Ada sekelebat endorfin yang naik ke ubun-ubun.

Ah.
Ternyata ini rinduku.

***

Malang, January 5th 2015

    • asdar
    • January 5th, 2015

    as usual, dua jempol deh^_^
    btw, ini bukan pengalaman pribadi ya ?

  1. Rindu nulis ya mbak nina?

  2. Keren.. pengen bisa nulis kayak begini heheh.. tapi kayanya gak cocok kalo cowok wkwkwk..

    btw salam kenal mbak, jangan lupa kunjungan balik dan follow backnya😀

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: