Noichil Goes to Bali

mtf_UNMgQ_258.jpg

Meski rumah di Probolinggo, tapi saya belum pernah sekalipun ke Bali. Iya. Padahal Probolinggo-Bali cuma selemparan kutang doang. Entah kutangnya siapa (apa si…)

Akhir Oktober lalu, kebetulan ada acara ilmiah di Denpasar, Bali. Udah girang, sih, membayangkan bakal jalan-jalan ke pantai, belanja-belanji dan bersenang-senang. Namun yang terjadi di awal perjalanan adalah justru perasaan sedih, ketika bis yang kami kendarai memasuki wilayah Probolinggo. Bukannya mau sok melankolis, ya. Tapi ada perasaan bahwa tanah kelahiran dan tempat saya tumbuh ini sudah lama tidak dikunjungi. Apalagi orang tua. Kalau bisa pulang, itu pun ndak akan lebih dari satu malam.

Dan setelahnya, Bali membuat galau. Padahal yang dilihat adalah jalanan aspal yang panas, cuaca yang terik serta kegiatan ilmiah (dan non-ilmiah) yang tiada henti. Enggak ada sumber pencetus galaunya. Mungkin karena enggak sempet jalan-jalan dan perjalanan panjang yang membuat pikiran saya menjelajah ke awang-awang. Karena tidak ke mana-mana, jadinya saya tidak membawa oleh-oleh apa pun. *digetok*

Namun suasana galau berhasil membuat saya mem-posting kalimat-kalimat ajaib yang mungkin membuat muntah bagi beberapa orang. Dan sepertinya sayang jika hanya teronggok manis di linimasa Path.

Maka, silakan menikmati.

29 Oktober 2014

Pada kaca jendela, pandanganku terlempar… menyapu terang dan redup lampu jalanan. Namun deru kendaraan di luar sana masih tak senyaring suaramu semalam yang masih terngiang di kepala. Merajuk padaku sambil berseru, “Cepatlah pulang.”

Aku hanya tersenyum. Tak perlu kukatakan bahwa hatiku telah memejam. Karena kamu pun tahu. Bahwa padamu, telah tersemat jutaan rindu yang kutinggal

30 Oktober 2014

Riuh suara di luar sana, beradu dengan tubuh yang satu per satu dijatuhkan ke air kolam. Setelah dua hari yang panjang, mereka berpesta dan berenang.

Sedangkan aku di sini, meringkuk di dalam kamar. Disesaki gelembung warna-warni di dalam dada. Karena dalam rinduku untukmu yang menggenang, aku telah tenggelam.

31 Oktober 2014

Denpasar malam ini…

Cemas ripuh memandang bulan separuh

Air mata meluruh

Baru saja kau bilang, cintamu tak lagi utuh.

1 November 2014

Denpasar pagi ini…

Semangat menggersang

Gugur bersama lelah yang usang

Hatiku kian mengerang

Ada rindumu yang memanggilku pulang

2 November 2014

Denpasar pagi ini…

Sinar matahari berpendar dari sela tirai kamar

Kembali kurapikan setumpuk lelah ke dalam koper

Penuh. Tak sanggup tertutup.

Di sela-selanya, ada banyak cerita yang menyusup.

Dan aku ingin segera pulang

Entah hingga berapa malam, telah kusediakan jutaan rindu untuk kita lumat berdua.

Jpeg

Enggak ada hubungannya sama puisi-puisi di atas, sih. Nunjukin kalo beneran ikut ilmiah aja gitu… #CaptionMacamApaIni

***

Malang, 15 November 2014

19:15 WIB ~ Mari pulang jaga

    • asdar
    • November 15th, 2014

    – gugur bersama lelah yang using,…. usang kali ya??? btw, sukka semua puisinya^^
    – itu galaunya tiap hari ya…. kesian!!!, jalan2 ke makassar deh, klo disini galaunya mgkn ndak tiap hari
    – fotonya knapa bukan yang habis make over itu#eaaaaa#

    • Ahahaha iya, autocorrectnya nih yg terlalu semangat
      Ke Makassar sih galau di ongkos, Dok :p

  1. indah sekali kata-katanya…

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: