Kupu-kupu di Wajahmu

“Selamat pagi.”

Aku baru saja akan melanjutkan tidur sebelum mendengar sebuah suara yang sangat kukenal. Jantungku bergedup. Refleks kukenakan kupluk biru yang teronggok di samping bantal. Kujejalkan topi rajut itu ke kepalaku yang hampir tak berambut lagi.

“Oh. Halo,” ujarku canggung.

Ivan tersenyum sambil berjalan ke arah ranjangku. Diletakkannya serumpun bunga berwarna merah dan ungu di pangkuanku. Kelopaknya yang tipis tapi lentur masih basah oleh embun tadi pagi. Wanginya juga masih terasa begitu segar. Seperti ada kekuatan dan harapan yang tengah meliuk dan menelusup ke dalam penghidu.

“Tadi papasan sama Tante. Katanya mau pulang dulu dan aku langsung disuruh masuk. Eh iya… Apa kabar?” tanyanya.

Ingin sekali menjawab bahwa seketika nyeri di persendian tiba-tiba menghilang melihat kedatangannya. Tapi yang meluncur dari mulutku hanya, “Seperti yang kamu lihat,” sambil terburu-buru menutupi kedua kaki yang membengkak dengan selimut loreng putih-biru.

Lelaki yang kukenal sejak kecil itu mengalihkan pandangannya menuju tanganku yang terpasang venflon. Senyumnya tertahan. “Pakai beginian sakit, ya?” tanyanya sambil menyentuh ragu selang yang terjulur ke botol infus.

“Ehm… sekarang sih enggak. Tapi kalau lagi pulse methyl… itu baru kerasa sakit.” jawabku. Aku menunggu Ivan bertanya apa itu pulse methyl. Tapi lelaki di depanku hanya menggangguk-anggukkan kepala.

“Kapan masuk kuliah lagi?”

Pertanyaan Ivan membuat hatiku mencelos. Kuliah. Sudah dua bulan kutinggalkan kosa kata itu entah di mana.

Kupalingkan wajah dan memandang ke luar jendela. Mengamati seekor kucing rumah sakit yang sedang berjemur di taman. Rambutnya yang berwarna kuning menjadi keemasan ketika sinar matahari menempa tubuhnya.

Sinar matahari. Betapa hal sesederhana itu sangat kurindukan. Air mata mulai menggenang. Hah! Khas manusia. Menyesal ketika mulai kehilangan kesempatan.

“Iris. Nama bunga itu adalah Iris,” jelasnya tiba-tiba.

Aku menoleh padanya. Lalu memandangi bunga-bunga Iris yang masih duduk manis di kedua tanganku. “Oh. Seperti judul lagu Goo Goo Dolls.”

Ivan tergelak mendengarku. “Ya ya… Seperti lagu Goo Goo Dolls. Tapi ternyata Iris lebih hebat dari John Rzeznik yang tiba-tiba potong rambut demi lagu itu.”

Mendadak perhatianku teralih. Pikiran tentang kucing yang sedang berjemur telah tergantikan oleh Iris. “Apa?”

Ivan menarik napas panjang. “Dulu, mungkin saat nasib dan hidup kita berdua belum direncanakan, ada seorang pelukis yang depresi dan terasing. Dia gila. Atau paling tidak, orang-orang menyebutnya gila.”

Ivan berhenti sejenak, menimbang apakah harus meneruskan ceritanya.

“Lalu?” tanyaku.

Ivan tersenyum dan meneruskan kembali kisahnya, “Suatu hari, ia melukis sebuah mahakarya. Sebuah padang yang dipenuhi bunga Iris. Lukisan di mana tertuang sisa-sisa kewarasannya di atas kanvas.”

Napasku memberat. Percaya atau tidak, sejujurnya aku tidak sudi disamakan dengan orang yang pernah gila. Tapi sepahit atau sesedih apapun, bukankah sebuah kisah itu selalu ada yang menarik untuk disimak hikmahnya?

“Tapi siapa sangka, dari puing-puing kewarasan yang disusun di rumah sakit jiwa, lukisan Iris justru dikenal sebagai lukisan yang cantik, mewakili perasaan dan kehidupan.”

Kembali kupalingkan wajah ke luar jendela. Kucing berambut kuning sudah tidak ada di sana. Mungkin dia mengembara ke sela-sela dapur untuk mencuri sepotong ikan. Demi bertahan hidup, seekor kucing bisa melakukan segalanya. Dan demi bertahan hidup, aku hanya bisa bergantung pada obat-obatan menyakitkan yang jumlahnya tidak pernah berkurang.

“Mereka… orang-orang yang dulu kukira teman… merasa jijik denganku setelah tahu aku kena Lupus. Mereka menjauh karena rambutku yang rontok perlahan. Mereka menjauh dari kulitku yang memerah dan mengerikan bila tertempa matahari. Bahkan… mereka memanggilku kepiting rebus.”

Suaraku tercekat saat mengatakan ini. Lalu kuingat bagaimana lelahnya menahan sakit kedua lutut yang terasa akan terlepas dari tempatnya. Tentang kulit yang memerah dan seakan terbakar setiap terpapar matahari. Sariawan di mulut yang tidak memudar. Air mata yang menggenang kini jatuh dan membabi buta. Ah, perempuan! Dipancing dengan cerita tentang bunga saja sudah terharu tak keruan.

Namun tiba-tiba tubuhku menghangat. Ada tangan yang menggenggam tanganku, menenangkannya saat gemetar begitu hebat. “Mereka berbohong. Tidak ada panci yang muat untuk merebusmu,” ujar Ivan.

Aku tergelak, bahkan hampir tersedak air mataku sendiri. Dasar, Ivan! Ia memang paling tahu bagaimana caranya membuatku merasa lebih baik.

“Enak aja! Kamu juga canggih banget ngomongin dongeng  pasti nyontek dulu, kan?” ledekku, berharap dia akan ikut tertawa bersamaku.

Namun Ivan hanya menyunggingkan senyum kecil dan memandangiku. “Aku tidak akan pernah paham rasanya menderita sakit seperti yang kamu alami. Tapi aku yakin, Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata, Na.”

Tuhan tidak menciptakan harapan hanya sekadar kata.

Ada sebuah ruang yang tiba-tiba menyesaki dada. Ruang itu dipenuhi doa dan harapan yang selama ini tak berani kuungkapkan. Jika pelukis gila tadi bisa menyelamatkan sisa kewarasannya lewat lukisan, maka aku pasti bisa menyelamatkan harapan juga. Tidak muluk-muluk. Harapan untuk bisa menikmati sinar matahari pagi. Itu saja.

Tiba-tiba kudengar Ivan bergumam lagi. “Lagi pula… bila itu kamu, maka bukan kepiting yang direbus. Itu adalah kupu-kupu.”

“Hah? Oh… Iya…,” lirihku sambil menutupi ruam merah yang mulai menjalar di kedua pipiku dengan masker berwarna biru. Entah mengapa… Padahal tidak ada sinar matahari yang menerobos ke kamarku.

“Dan… aku menyukai kupu-kupu di wajahmu.”

Lalu kami berdua terdiam. Ruangan berdinding putih dan dingin ini seakan turut membuat suasana menjadi hening.

Dan kupu-kupu di wajahku beterbangan… menyelinap masuk hingga ke lambungku.

***

Malang, June 9th 2014

* Cerita tentang lukisan bunga Iris adalah berdasarkan lukisan Irises oleh Vincent Van Gogh yang dibuat pada tahun 1889.

** Cerpen ini dibuat dalam rangka ‘pemanasan’. Ahahaha *gemeter*

  1. aku suka dengan penjabaran Nina dalam cerita ini. selipan humor melalui perkataan Ivan juga terasa pas, bisa bikin aku ikut tersenyum meski tak ikut tersipu. #yaiyalah! Hehehe.
    btw, kucing itu masih ‘seekor’ dan bukannya ‘seorang’ kan?😉

    • Kyaaa… mentor beraksi *malu*
      Makasih, Bang… Ternyata teledorku ndak ilang2, ya T.T

    • Dian Hasanah
    • June 11th, 2014

    MENGHARUKAN. Siap-siap jadi panitia…😉
    Bikin cerita lagi dong. Suka banget sama cerita-ceritamu. Jempol!

    • Dian Hasanah
    • June 11th, 2014

    Jadi pengen bikin cerpen. Hihihihi…

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: