Lukisan Tanpa Warna Merah

Kepalanya berdenyut. Pusing. Sudah seharian kuasnya menari di atas kanvas, tetapi ada sesuatu yang tidak pas. Berkali-kali ia mengamati lukisan yang dikerjakannya. Berusaha mengartikan keganjilan yang dibuatnya sendiri. Tapi tetap saja. Nihil. Otaknya buntu.

Ia menyerah. Perempuan itu melemparkan kuas yang sedari tadi dipegangnya ke tumpukkan tube cat minyak yang mulai gepeng karena isinya hampir habis. Lalu menghempaskan diri di atas kursi anyaman bambu yang menghadap pantai, menyalakan sepuntung rokok filter, lalu mengisapnya dengan syahdu.

Perempuan itu memejamkan mata. Menajamkan telinga. Ia ingin menangkap semua suara yang ada. Debur ombak yang memburu. Daun kelapa yang dibuai angin. Serta senda gurau dua remaja di mabuk cinta yang bekejaran di tepi pantai.

“Iiih… udah, ah. Capek kejar-kejaran terus,” kata remaja perempuan. Suaranya begitu manja dan ia seperti sengaja memanjangkan suku kata di akhir kalimat dengan intonasi yang menggemaskan.

“Segitu aja udah capek. Aku dong, nggak pernah capek ngejar-ngejar kamu…” ujar remaja laki-laki. Suaranya terdengar begitu jumawa dan percaya diri. Diikuti dengan gelak tawa remaja perempuan, tersirat malu-malu di dalamnya.

Perempuan pelukis tersenyum sinis mendengar obrolan mereka.

Young love.

Cinta yang memburu seperti ombak, dan mudah terbuai oleh kata-kata mutiara. Cinta naif yang menggebu.

Kalian belum mengerti, bahwa akan ada saatnya cintamu memburu hati yang salah.

Perempuan pelukis tidak lagi seorang pemburu. Ia memilih menghindari belantara dan menghempaskan diri ke dasar samudera. Membiarkan kata-kata mutiara itu terlepas dari dirinya dan kembali ke lautan.

Tiba-tiba pintu ruang pribadinya terbuka secara paksa. Pelukis perempuan itu terhenyak dan menghentikan lamunannya. Ia hampir saja menjatuhkan rokok dan menghancurkan karpet beledu favoritnya ketika melihat siapa yang datang.

Seorang perempuan menerobos masuk. Tanpa mengucapkan salam atau permisi. Semua pasti setuju bahwa perempuan ini mirip musang. Mukanya tirus, kempot dan kisut seperti buah yang disesap habis airnya. Gigi depannya mencuat sehingga membuatnya susah menutup mulut. Wajahnya kaku karena riasannya begitu tebal, seakan retak jika ia menggerakkan otot wajahnya meski sedikit saja. Blouse yang dikenakannya begitu ketat. Seolah tidak ada ruang baginya untuk bernapas. Dan suara sepatu berhak tingginya… sangat mengganggu. Beradu dengan kerasnya lantai kayu. Tak-tuk-tak-tuk. Membuat langkah kakinya seperti irama ketukan pemanggil kematian.

“Gimana jawaban untuk tawaranku, El? Sudah kau pikirkan?” tanya perempuan berwajah musang itu. Si perempuan musang bahkan tidak memandang perempuan yang dipanggilnya El. Matanya jalang. Liar mengamati ruangan yang baru saja ditapakinya.

Perempuan yang dipanggil El memalingkan muka. El memijit-mijit keningnya. Sial. Rupanya perempuan berwajah musang ini tidak bisa membaca tanda Don’t Disturb yang tergantung di pintu.

El kembali memandangi pantai dan buruannya. Wajahnya masam. Jelas sekali ia tidak menyukai kehadiran si perempuan berwajah musang. El tidak mau ambil pusing, atau repot-repot menanggapi perempuan berwajah musang itu. Ia kembali menumpuk nikotin ke dalam tubuhnya. Dan berpura-pura, seakan perempuan musang itu tiada.

Perempuan berwajah musang memandang El dengan mata yang menyipit. Mulutnya mencibir, “Jangan jual mahal. Kapan lagi ada yang berbaik hati memberi fasilitas mewah untuk pelukis amatir seperti kamu?”

El tetap bergeming. Bukannya El tak peduli. Justru ia sangat peduli. Peduli tentang bagaimana caranya mengenyahkan perempuan musang ini secepatnya.

Persetan dengan tawaranmu. Sekali pun aku tidak akan sudi direndahkan di bawah kakimu.

El menyesap rokoknya dengan mata terpejam. Menikmati aliran racun tembakau yang mulai mengisi alveoli. Racun itu membawa serta kenangan-kenangan buruk. Di dalam kelopak matanya, kini sebuah piringan hitam dimainkan. Menyanyikan sebuah lagu luka. Luka yang seharusnya telah tenggelam bersama hatinya.

Tapi sikap dingin dan angkuh El tidak menyurutkan semangat perempuan berwajah musang. Dahinya berkerut, ujung bibir kanannya terangkat, raut mukanya menunjukkan bahwa ia semakin penasaran.

Kini perempuan berwajah musang melempar tas mahalnya ke sebuah kursi bambu di sebelah El. Lalu berjalan menuju salah satu lukisan abstrak. Sebuah pusaran tak beraturan yang didominasi warna merah dan hitam. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan ke kanan. Dahinya berkerut, “Lukisan ini terlihat sangat… Marah. Kamu sedang memikirkan siapa saat melukis ini, El? Suamiku? Ahahaha…”

El membuka matanya. Kata-kata perempuan berwajah musang tadi sangat mengganggunya. Rahangnya menegang, hingga terdengar gigi yang beradu. Kedua tangannya mengepal sangat keras, hingga kuku jari yang dipotong serampangan meninggalkan jejak di telapak tangannya. Dan yang membuatnya semakin geram adalah perubahan sikapnya menunjukkan bahwa ia terluka. El tidak suka perempuan berwajah musang itu berpikir mampu melukai hatinya. Tapi terlambat. Kata-kata peremepuan berwajah musang memang tepat pada sasaran.

Perempuan berwajah musang tampak bahagia kalimatnya tadi menusuk pada titik yang tepat. Ujung bibir kanannya mencuat ke atas, membentuk seringai yang mengerikan. Otaknya berpikir banyak hal. Dan semuanya tentang bagaimana caranya memenangkan pertarungan hari ini.

Kini ia melipat kedua tangannya di depan dada. Lalu berjalan pelan, mendekati El yang mematikan puntung rokoknya, “Apa tawaranku terlalu kecil untukmu, El? Dengar… Tidak ada tawaran yang lebih baik dari ini. Aku telah berbaik hati meminjamkan galeri lukisku padamu. Kamu bisa melukis sebebas-bebasnya. Dan hasil karyamu akan langsung dipamerkan. Bukankah itu hebat?”

El bangkit dari duduknya, berjalan menuju kanvas yang seharian dikerjakannya. Ia duduk bersila dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi apapun. Padahal, di dalam dadanya, kini terdapat jantung yang bergemuruh. Ia membersihkan beberapa kuas cat, merapikan tube cat minyak yang berantakan dan berharap perempuan berwajah musang ini segera angkat kaki dari pondoknya.

Tapi perempuan berwajah musang bukanlah orang yang mudah menyerah. Ia tidak akan pergi sebelum keinginannya terkabul. Bukan. Dia bukanlah orang yang mau berbaik hati menawarkan bantuan pada perempuan yang pernah menjadi selingkuhan suaminya. Perempuan berwajah musang itu hanya ingin melihat El terjajah di depan matanya.

Ia mengambil sebatang rokok dari meja El. Menyulutnya, lalu mengisap perlahan. Sejenak ia menikmati pantai yang sudah sangat lama tidak disinggahinya. Matanya menangkap sepasang remaja yang duduk di sebuah bangku kayu. Tertawa bahagia sambil berbagi sebuah kelapa muda dengan dua batang sedotan.

Young love.

Perempuan berwajah musang memicingkan matanya. Memandang sepasang remaja itu dengan kecemburuan tiada tara. Mulutnya mengatup begitu erat, seakan menahan kekecewaan karena tidak bisa mengecap keindahan cinta yang hanya tahu tentang berbagi, bukan saling meminta. Kalian belum tahu, bahwa kesetiaan adalah barang yang langka. Bahkan aku harus bisa membelinya dengan harga yang sangat mahal. Seperti yang kulakukan pada suamiku.

“Tapi jangan harap kamu bisa menggoda suamiku seperti dulu, El. Dia sudah seperti sapi yang dicucuk hidungnya. Dia tahu pada siapa dia harus meletakkan kesetiaan. Karena tanpa aku, dia hanya laki-laki payah yang hanya bisa makan dan mendengkur,” kata perempuan berwajah musang. Lirih. Seakan ia mengucapkan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Sebagai sebuah kebanggaan karena mampu membeli hati suaminya. Atau sekedar peringatan bahwa yang dimilikinya hanya sekedar bayangan.

Pikiran El membuncah. Dadanya sesak karena api amarah yang menyala-nyala. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan berwajah musang ini tampak begitu bahagia menyampaikan hal yang menyakitkan. Jantungnya mencelos. Sakit. Ketika memorinya memanggil lembaran kenangan tentang bagaimana cara perempuan berwajah musang ini mempermalukannya di depan umum. Menjambak rambutnya, menyeretnya keluar dari restoran dan menyebutnya pelacur.

Benar, suamimu hanya bisa makan dan mendengkur. Setelah menipuku dan berkata bahwa ia belum pernah menikah, laki-laki busuk itu hanya berdiri mematung ketika melihatku diperlakukan seperti anjing.

“Meski nantinya nama yang harus tertera di lukisanmu adalah namaku, aku tetap memberimu upah 30% dari hasil penjualan. Aku rasa, 70-30 adalah pembagian yang adil, mengingat fasilitas yang kamu gunakan adalah milikku.”

“Jika kamu merasa hebat, gunakan lukisanmu sendiri.”

Akhirnya El tidak tahan untuk menahan kata-katanya lebih lama. Harga dirinya pernah terbuang percuma. Ia tidak ingin mengalami hal yang sama untuk kedua kalinya.

Perempuan berwajah musang menoleh, memandangi El dengan tatapan berbinar. Ia merasa bahwa umpan-umpan yang dilemparkannya telah berhasil menangkap ikan terbesar yang ia inginkan. Dalam hati, ia berharap segera membawa ikan itu pulang, dan mengawetkannya bersama rasa sakit dan lara setelah dikhianati oleh suami dan selingkuhannya.

Sampai saat ini, perempuan berwajah musang tidak bisa melupakan ejekan dan pandangan negatif publik terhadap dirinya. Seniman sukses yang gagal mempertahankan cinta. Ironis. Lukisan-lukisannya selalu bercerita tentang romantisme. Tetapi romantisme hanyalah cadar pernikahannya yang tidak pernah bahagia. Dan ketika romantismenya dikhianati, ia memilih menggunakan romantisme yang sama sebagai kamuflase. Demi nama baik dan karirnya.

“Seniman sibuk dan terkenal sepertiku tidak punya banyak waktu untuk melukis. Kamu pikir semua yang dipamerkan itu murni lukisanku? Jangan naif, El! Ahahaha…”

“Sampah!”

“Sudahlah… Jangan menilai dirimu terlalu tinggi. Selain jadi selingkuhan, kamu hanya pelukis amatir yang memasrahkan nasib pada orang yang salah. Goresan kuasmu memang indah, El. Tapi kamu tidak tahu apa-apa tentang lukisan. Lihat saja… Menyimpan lukisan di ruang terbuka yang terpapar sinar matahari, di dalam rumah bambu pinggir pantai yang udaranya bersifat korosif. Kamu pikir lukisan itu sekedar barang dagangan?”

Tanpa sadar, El mematahkan sebuah kuas yang digenggamnya dengan sangat erat. Perempuan ini kurang ajar sekali. Tahu apa dia tentang lukisan jika dia sendiri menggunakan lukisan untuk mencederai hati orang lain?

“Ini lukisan yang sedang kau kerjakan, El? Hmmm… Ada yang kurang. Tidak ada harmoni dalam warnanya. Mungkin akan sempurna jika kamu mengerjakannya di galeriku. Tentu saja jika kamu tidak terlalu sibuk merayu suamiku.”

Tiba-tiba saja perempuan berwajah musang ini sudah berdiri di belakang El yang membungkuk dan membersihkan kuas-kuasnya. Kepala perempuan berwajah musang itu menunduk, matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum yang menjijikkan. Ia berkacak pinggang selayaknya majikan yang berkuasa pada bawahan yang tak berharga.

Keparat!

Emosi El meluap dan tumpah tak terkendali. Tidak ada ruang kosong di tubuhnya. Semua terisi benci dan amarah yang buihnya menggelegak.

“Jadi gimana, El? Aku sudah membawa kertas kontrak. Kamu tinggal tanda tangan dan semua beres. Aku akan segera…”

Belum sempat perempuan berwajah musang itu menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba El menghantam kepalanya dengan easel kayu mahoni. Perempuan berwajah musang terhuyung mundur. Keseimbangannya jatuh. Tubuhnya luruh dan menghantam lantai kayu.

El gelap mata. Ia mendaratkan pukulan sekali lagi. Tepat di bahu perempuan berwajah musang. Dan sekali lagi. Memukulnya tepat di pelipis perempuan berwajah musang hingga berdarah-darah.

Mata El meliar. Bau anyir darah mengingatkannya pada janin yang digugurkan secara paksa oleh laki-laki bangsat yang hanya tahu makan dan mendengkur. Nyeri dan sakit hati yang dirasakannya selama berbulan-bulan, kini dipindahkan lebih hebat pada perempuan busuk yang sudah terkulai. Berkubang darah dan tanpa nyawa.

El terengah-engah. Keringatnya bercucuran. Matanya nanar memandang sekeliling. Cipratan darah di mana-mana. Bahkan di wajahnya.

El dan perempuan berwajah musang tidak menyadari bahwa mereka adalah perempuan yang sama-sama terluka. Dengan cara yang berbeda. Perempuan berwajah musang memilih untuk memiliki cinta yang menghancurkan. Dan El, memilih menghancurkan diri dengan mencintai cinta yang tak bisa dimiliki.

Pandangan El berhenti pada lukisan yang belum selesai dikerjakannya seharian. Senyumnya mengembang. Langkahnya terayun pelan. Jari tangannya meraih sebuah kuas yang tergeletak tepat di samping mayat perempuan berwajah musang.

“Benar. Paduan warna di lukisanku ini belum memiliki harmoni. Karena aku baru ingat. Aku kehabisan cat warna merah.”

***

Kalabahi – Alor – NTT

Jan 11th 2013

 

* Cerpen ini pernah dimuat di Random 2: Payudara Sebelum Lusa.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: