Mutiara yang Ketinggalan Kereta

12:16 WIB

Sudah hampir satu jam aku di stasiun ini. Keretaku datang masih enam jam lagi. Jika engkau bertanya untuk apa aku menghabiskan waktu dengan duduk dan memandangi rel kereta api, maka jawabannya adalah, “Aku sedang patah hati.”

“AAARGH!”

Kepalaku menegak. Mataku memicing dan mencari-cari pemilik suara teriakan yang mengejutkan dan melengking secara tiba-tiba. Lalu perhatianku tertuju pada seorang perempuan dengan gaya klasik di seberang kursi ruang tunggu. Ia mengenakan atasan kaos berwarna putih yang tertutup sweater hangat berwarna kuning dan rok polkadot selutut yang berwarna hijau, serta sepasang sepatu tanpa hak berwarna toska. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal, tubuhnya melunglai, kemudian membungkuk dengan kedua tangan bertumpu pada lutut. Rambutnya yang ikal dan sebahu menutupi wajah yang belum tamat kuperhatikan. Bahu dan punggungnya naik turun. Ia memuaskan napasnya yang terengah-engah. Sepertinya, napas perempuan mungil itu habis setelah berlari dan diakhiri dengan sebuah lonjakan kekesalan pada Gaya Baru Malam yang baru saja pergi.

Ketinggalan kereta rupanya. Lucu. Di kala aku datang terlalu awal karena sudah tak punya harapan, ada orang lain yang datang terlampau akhir sehingga melewatkan kesempatan.

Sambil mengatur napas, perempuan mungil itu mengamati secarik kertas serupa tiket kereta di tangannya. Ia mengumpulkan udara di dalam mulutnya hingga pipinya menggelembung. Menghembuskan napas panjang lalu berjalan menuju loket pembelian tiket. Entah apa yang membuatku tersenyum melihatnya. Mungkin bagiku, karena dia nampak sangat ekspresif. Menarik.

Aku memalingkan wajah dari perempuan mungil itu dan menyaksikan sebuah band akustik yang tampil di tengah ruang tunggu stasiun Gubeng ini. Aku tidak tahu lagu apa yang mereka bawakan. Aku melihat, tapi tidak memerhatikan. Mataku memandang sekadarnya. Telingaku bahkan tidak mampu mendengar suara-suara. Sudah kubilang. Hatiku dipatahkan.

13:08 WIB

“Sial.”

Tiba-tiba aku dikejutkan oleh sebuah suara. Perempuan mungil yang ketinggalan kereta tadi kini duduk di sampingku. Ia mencampakkan tas ransel di samping kakinya. Seakan turut membuang sebagian kekesalan atas apa yang baru saja terjadi. Ia meluruskan kaki, badannya melorot hingga lehernya tepat berada di sandaran kursi, lalu memasrahkan kepalanya di sana.

Wajahnya menengadah, matanya terpejam. Aku bisa melihat, ada sebuah bekas luka yang membentang di pipi kirinya. Sesekali, gadis ini menghela napas panjang. Nampaknya ia mulai tenang. Tanpa sadar aku memerhatikan dada dan dua gundukan yang naik turun perlahan. Aku tersenyum dalam hati. Pas.

13:21 WIB

Have you done?

“A … Apa?” tanyaku dengan tergagap.

Sedangkan perempuan mungil itu menatapku dengan tidak suka, “That look.”

Aku membenarkan letak kacamataku dan berdehem pelan. “Oh … anu … Kalungnya bagus,” ujarku seraya menunjuk sebuah liontin berbentuk burung hantu yang sedang mengantuk.

Hah! Kalungnya bagus. Khas laki-laki saat hampir ketahuan bahwa dirinya sedang mengamati sesuatu yang tidak seharusnya terlalu lama. Oke. Sepertinya bukan ‘hampir ketahuan’. Karena gadis di sampingku ini sedang memandangiku dengan pandangan yang sedikit menakutkan. Oh. Mungkin karena goresan hitam di kelopak matanya. Eyeliner kata para perempuan. Nampak begitu kontras dengan kulitnya yang putih dan sepucat mutiara.

Perempuan itu menegakkan duduknya. Menilaiku dari sudut mata dari kepala hingga kaki dan kembali ke kepala. “Mau ke mana?” tanyanya.

“Jakarta,” jawabku dengan sedikit terbata-bata. Ada senyum getir yang terasa di bibirku. Aku berusaha membubuhkan rasa bersalah dan sejumput malu.

“Sama. Tapi saya sedang sial hari ini. Ketinggalan kereta dan kehabisan tiket untuk kereta berikutnya,” lirihnya sambil menjatuhkan punggung ke sandaran kursi.

Seketika senyum itu hilang. Digantikan oleh raut wajah yang muram. Dia menggaruk halus lipatan hidungnya yang tidak seberapa mancung. Tidak terlalu pesek, tapi mungkin kacamata model bold-frame akan langsung terjatuh jika disematkan di sana. Namun pipinya yang menyembul seperti muffin itu membuatnya semakin manis dan menggemaskan.

Lalu kami dihanyutkan pikiran masing-masing. Pikiranku tentang sebuah penyesalan, betapa aku telah menyia-nyiakan waktu. Dan mungkin, pikiran perempuan sepucat mutiara tentang kesempatan yang ia lewatkan.

Aku mendengar lantunan pelan dari sebelah. Rupanya perempuan sepucat mutiara itu bersenandung syahdu. Matanya lekat pada sosok vokalis berambut kribo yang juga terbuai oleh lagu yang dinyanyikannya sendiri. Aku menduga, mungkin perempuan sepucat mutiara akan ke Jakarta untuk menemui sang kekasih.

“Saya harus segera bertemu Ayah,” lirihnya.

Oh. Bukan kekasih.

Tapi aku merasa ada nada sedih dan rindu yang tertahan di antara kata-katanya. Seperti rasa cinta yang menunggu untuk disambut, tapi cinta itu sudah terlalu lelah untuk menunggu. Ah, bahasaku rumit sekali.

Aku memandanginya selama beberapa detik. Lalu mengikuti atmosfer yang diam dan sepi. Tanpa bertanya atau menanggapi. Kami terlalu sibuk dengan lamunan sendiri.

15:15 WIB

Keretaku datang sekitar tiga jam lagi. Dan aku masih saja terpekur dalam sakit hati. Bersama perempuan sepucat mutiara, rasanya kami seperti saling menemani.

Betapa kesempatan itu mungkin telah luput dari tangan kami berdua. Aku dan perempuan sepucat mutiara, tentu saja. Perempuan sepucat mutiara terlambat mengejar kesempatannya. Sedangkan aku, terlalu ragu dan pengecut mengejar hati perempuan yang kupuja selama beberapa lama. Dan kini harus kembali tanpa mendapat apa-apa selain sebuah kata ‘maaf’.

Kesempatan itu seperti kereta api. Meski ia datang berkali-kali, kadang waktunya sudah tidak pas lagi.

15:32 WIB

Tiba-tiba perempuan sepucat mutiara itu bangkit dan berjalan ke arah band akustik yang sedari tadi menyanyikan lagu untuk kami. Ia dan vokalis berambut kribo bercakap-cakap. Sesekali aku melihat raut wajah memohon dan meminta dari perempuan sepucat mutiara. Dan setelahnya, aku dikejutkan oleh sebuah lagu yang dilantunkannya dari tengah ruang tunggu.

Chances are when said and done

Who’ll be the lucky ones who make it all the way?

Though you say I could be your answer

Nothing lasts forever no matter how it feels today

Nothing lasts forever, no matter how it feels today. Aku meragukan. Karena aku tidak yakin, kapan rasa sakit dan penyesalan ini bisa kuakhiri.

15:46 WIB

Musik telah berhenti. Tapi perempuan sepucat mutiara itu masih tetap berdiri di sana. Kedua tangannya menggenggam microphone begitu erat dan gemetar, “Maaf sebelumnya. Saya sangat butuh tiket untuk ke Jakarta untuk menemui ayah saya. Jika ada pengunjung yang memiliki tiket lebih atau batal pergi, saya bersedia menjadi penggantinya. Terima kasih.”

Aku takjub. Berani sekali.

Tiba-tiba aku tertampar. Perempuan sepucat mutiara telah merelakan keretanya pergi. Tapi ia tidak berhenti berusaha meraih kereta lain malam ini. Sedangkan aku? Aku masih meratapi kereta yang sudah jauh pergi. Kereta yang memang tidak pernah kuraih, baik berjalan maupun berlari.

Ah, sial. Aku gagal sebagai laki-laki.

16:04 WIB

Perempuan sepucat mutiara kembali ke tempat duduknya. Di sebelahku, tentu saja.

“Usaha yang bagus,” ujarku.

“Semoga hasilnya juga bagus,” jawabnya.

Kali ini ia tersenyum begitu tulus. Aku bisa melihat wajahnya yang bulat tampak menukik pada dagunya yang lancip. Disinari harapan. Dihujani keyakinan bahwa kesempatan itu masih ada.

Aku merogoh saku depan tas ransel yang kupangku sedari tadi. Lalu menarik dua lembar kertas dari sana. Selembar untukku. Selembar lagi, kusiapkan untuk seseorang yang empat jam lalu memberiku kata ‘maaf’. Lembar terakhir yang kuharap menjadi jimat pemanggil agar orang itu berubah pikiran. Lembar terakhir yang mungkin akan tersia-siakan.

“Sebenarnya ini milik seseorang. Tapi rupanya, ia tidak jadi pergi.”

Perempuan sepucat mutiara meraih tiket itu dengan mulut membuka lebar. Lalu memandangku seakan tidak percaya bahwa doanya terjawab saat itu juga.

Sudah cukup. Mungkin sakit hatiku masih ada. Entah untuk berapa lama. Tapi sakit ini adalah pengingat bahwa aku tidak boleh lagi menyia-nyiakan waktu dan kesempatan. Dan semoga perempuan sepucat mutiara juga memikirkan hal yang sama.

“Tempat duduknya bersebelahan. Kita jadi teman berkelana untuk semalam,” ujarku lagi. Kesempatan ini milikmu, Wahai Perempuan Sepucat Mutiara. Kuharap kereta ini akan membawamu pada sesuatu yang berani dan gigih kamu perjuangkan.

Dia mengucapkan terima kasih berkali-kali hingga aku tak sanggup mendengarnya lagi. “Terima kasih banyak! O iya, nama saya Mutiara. Nama Mas siapa?”

Aku menyambut jabat tangannya sambil tersenyum, “Nama saya ….”

The End

***

Malang, 2013

* Dulu pernah dipost. Lalu ditarik lagi karena mau ditawarin ke media. Tapi sudah hampir setahun (egilak setahun) enggak ada kabar, akhirnya nyerah juga. Ya sudahlah, mungkin memang mutiaranya cuma dapat jatah di blog ini saja :”)

  1. Diemail lg aja tanyain kbrnya hehe

  2. kenapa kalah dengan si mutiara…. dia aja masih mau berusaha mendapatkan keretanya😀

    kejar terus aja medianya sampe ada jawaban pasti. kan nanti ada pilihan untuk dikirim ke media lain

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: