Untuk Sang Pejuang

Laki-laki itu tampak gahar. Kulitnya gelap. Tubuhnya gempal dan tegap. Sebenarnya ia adalah lelaki berhati lembut. Namun pengalaman dan perjuangan sepanjang hidup membuatnya sering terlihat galak. Ia tak pernah malu menunjukkan romantisme, yang biasa disebutnya sebagai kamuflase dari sebuah ‘kekerean’. Ia melakukannya karena benar-benar peduli dan meletakkan orang-orang yang ia kasihi tepat di hatinya.

Beberapa hari ini, ada yang menyendat senyum dan tawanya. Meski orang bilang, ia masih perkasa. Namun aku tahu jelas, tubuh dan hatinya sedang terluka. Ada pertanyaan yang terngiang, “Mengapa harus aku?”

Tapi sampai kapanpun, seorang pejuang tetaplah menjadi pejuang. Di dalam kesakitannya, ia tetap menebar semangat bagi orang-orang yang takut dan cemas terhadap keadaannya. “Masalahnya adalah nyawa ini masih ada. Jadi meski onderdilnya mulai rusak, selama nyawanya nempel, ya… harus tetap berjuang,” katanya sambil tersenyum.

Aku pun tersenyum. Tapi aku tahu, saat itu kami menyimpan pedih yang sama. Ia, takut bahwa ketuaan dan sakit akan menyusahkan orang-orang yang dikasihinya. Aku, takut tidak mampu memberikan masa tua yang layak dan tanpa sakit untuknya.

Bapak, ayo lekas sembuh. Semoga Allah mengambil semua sakit itu darimu. Aamiin.

***

Malang, on my night shift in the end of March, 2014

  1. semoga bapak lekas sembuh

    • asdar
    • April 2nd, 2014

    sakit itu penghapus dosa jika seseorang bisa bersabar
    semoga Bapak segera sembuh ya dok!

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: