Ingatan Bunga Kertas

image

“Ingatan itu seperti bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap.”

“Kata siapa?” tanyaku.

Lelaki berkulit gelap itu tersenyum tanpa memandangku. Jari telunjuk dan jari tengah begitu lihai memilin-milin sebatang rokok yang baru saja dinyalakan. Kemudian disesapnya rokok itu hingga pipinya terisap dalam. Dan berderet asap terembus pelan dari hidung dan mulutnya.

“Menurutmu aku bisa membuat kata-kata sekeren itu?” jawabnya ringan.

Aku terkekeh. “Sudah kuduga,” lirihku.

“Jika aku pergi, ingatan-ingatanmu masih mau berbicara tentang aku, kan?” tanyanya. Senyumnya hilang. Wajahnya muram.

Perutku mulas. Membayangkan dia pergi membuatku hilang nyali. Bagaimana bisa aku menghadapi hari tanpa bisa melihat senyumnya lagi?

Perlahan, kupilin ujung blus biruku, “Enggak tahu. Aku bahkan mungkin tak bisa berpikir jika kamu pergi.”

“Tapi aku harus pergi.”

Aku menelan ludah. Intonasi itu sangat kukenal baik. Berat, rendah, dan dari hati. Lelaki berkulit gelap ini tidak main-main. Dia memang akan pergi.

“Kenapa?” tanyaku getir.

Kali ini ia memandangku. Mulutnya hendak membuka. Namun yang terdengar olehku hanya kata-kata yang memekakkan telinga.

Lalu sebuah pusaran hitam muncul di balik kepalanya. Menarik pelan tubuhnya, seakan memaksa lelaki itu untuk hilang dari hidupku begitu saja.

Dan dia hilang. Lenyap. Bersama ingatan yang ia minta untuk tetap setia mengenangnya.

***

“Selamat pagi, Alya.” Suara perempuan itu mengusikku. Mengganggu tidurku. Menginterupsi ingatanku yang mengambang dan dipenuhi lelaki berkulit gelapku.

Mataku terbuka pelan. Kulihat perempuan berkerudung putih itu menatapku penuh haru. Tampak jelas ada air mata yang tertahan di ujung matanya yang redup.

Lalu aku mendengar bibirku sendiri terbuka dengan suara yang terbata-bata, “Alya? Aku… Aku ini siapa?”

Air mata perempuan itu jatuh. Tanpa pernah tahu bahwa ingatanku adalah bunga kertas yang tersembunyi di lengan baju seorang pesulap. Tidak terlihat, tapi berbunga tanpa pernah kita tahu bagaimana caranya ia tinggal. Dan ketika bunga kertas itu ditunjukkan pada dunia, maka ia tidak akan bisa kembali lagi ke tempatnya semula.

Dan aku memilih meleburkan ingatan-ingatanku pada suara terakhir lelaki berkulit gelapku yang selalu terngiang-ngiang di kepala sebelum ia pergi selamanya.

“Mantanku mengandung anakku.”

***

Prompt 42 yang terlambat T____T

Quote diambil dari novel Jodi Picoult ~ “Each memory is like a paper flower stowed up a magician’s sleeve: invisible one moment and then so substantial and florid the next I cannot imagine how it stayed hidden all this time. And like those paper flowers, once they’ve been let loose in the world, the memories are impossible to tuck away again.”

  1. lagi lemot mbak. nggak ngerti😦

  2. Ngerti smpai bagian mantanku mengandung anakku mendadak bingung: (

    • Bhahahaks… dua orang mengaku bingung sudah jadi indikator ini FF gagal x))

    • asdar
    • March 18th, 2014

    hmmmm…….sepertinya paham>,<

  3. haduhhh jadi inget jamn SD dulu😀

  4. ihhh jadi pengen bikin lagi bung kertas seperti itu, lupa cara bikinnya?
    gimana sih sist?
    terimakasih😉

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: