Bum!

large

Sudah tiga bulan sejak perpisahan yang memilukan antara aku dan dia. Namun aku masih saja dikejar oleh seraut wajahnya yang pucat dan tak berdaya. Oleh tangisnya yang menyayat luka. Juga cintanya yang kuhempas dengan paksa hingga tiada.

Jujur saja. Meski akulah yang menginginkan kesendirian ini, namun aku tak pernah menyangka bisa menjadi semerana ini. Setiap malam, aku tidak bisa tidur. Tidak enak makan. Seakan-akan, aku tak lagi bisa hidup. Pertanyaan ‘mengapa’ bergema setiap waktu. Namun akal gilaku selalu menjawab dengan, “Dia bukan untukmu.”

Hari ke-93 sejak perpisahanku dengannya. Dan malam ini, suara lembutnya terdengar begitu nyaring di telinga. Semakin keras. Semakin pekak. Lalu sebuah letupan kecil meledak di kepala.

Bum!

Gendang telingaku pecah. Berdarah.

Lalu anak perempuan itu keluar dari kepalaku. Ia melayang di hadapanku. Tangan kanannya terjulur sendu, seakan meminta sesuatu yang pernah kuambil darinya dulu.

“Bisa kau kembalikan jantungku?” lirihnya.

Tubuhku bergetar melihat tubuh mungilnya yang pucat menggigil dan gemetar. Sementara mataku berusaha berpaling dari dada kirinya yang kosong dan menganga.

“Bisa kau kembalikan jantungku? Aku ingin mencintai lagi.”

Air mataku jatuh. Aku menangis. Histeris. Dan mulai mencabik-cabik perutku sendiri dengan penyesalan yang tajam seperti dua garis merah di pagi hari.

Andai bisa, akan kukembalikan jantungmu. Lalu cintailah perempuan lain yang bisa mencintaimu. Cintailah perempuan lain yang mampu menjadi ibumu. Bukan aku… perempuan yang telah membuangmu setelah laki-laki itu membuangku.

***

Malang, March 3rd 2014

*) Dari fiksimini: Rosita J Aisyah ~ “Bisa kau kembalikan hatiku? Aku ingin mencintai lagi.”

  1. :O Ingatan dan penyesalan. Dua hal yang selalu ada dalam cinta. Iya bukan mbak?

    • kakaakin
    • March 3rd, 2014

    Rasanya ikut tersayat-sayat oleh dua buah garis merah.
    Hmm.. Apakah ‘dia’ pada kalimat pertama paragraf pertama, menunjukkan orang yang berbeda dengan ‘-nya’ pada kalimat pertama paragraf ketiga? Karena sama-sama merupakan perpisahan namun dengan penunjuk waktu yang berbeda ….

    • Hwooo teliti sekali… aku salah hitung ternyata T.T
      Tengkyu…

  2. Miris, dihantui oleh 2hal sekaligus

  3. masa lalu tidak akan hilang…. akan tetap terkenang

    • diyar rahardian
    • March 4th, 2014

    imagenya kartu remi. kirain ttg cinta karena perjudian hha. 3AQ7 = LOVE ternyata

  4. aduh….
    menyayat hati mba bacanya…

  5. abortion thing…hiks…

  6. Mungkin ini perasaan yang dialami oleh wanita yg melakukan aborsi, kata2 akhirnya menyayat kalbu😥

  7. Hmmmm…. si anak sudah mati diaborsi kan? Nah, kalimat “kembalikan jantungku, aku ingin mencintai lagi” jadi terasa aneh. Apalagi ditambahi imaji si anak sudah berwujud gadis kecil. Jika tak mesti terkait dengan fiksimini, menceritakan visualisasi tokoh yang melihat “bayinya” sedang bermain/menangis rasanya tetap mampu mengundang haru.
    Salam…

    • *mengkeret baca komen ini*
      I… iya, Bang. Memang sedikit maksain T.T

  8. tadinya ngira ini bunuh pacarnya karena pengen sendirian. ooh ternyata anaknya. mm mungkin digambarin bayi aja kali ya kalo dikaitin sama dua garis merah. agak serem bandingin gendang telinga mbak heheheheh

    • Sebenernya enggak pecah beneran si… Bagian yg itu tambahan aja :p
      Makasih sudah baca yah :”)

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: