13 Februari 2014: Pulang

Setelah beberapa hari lupa pada sebuah pagi yang memilukan, kemarin saya diingatkan lagi dengan sebuah presentasi kasus kematian. Bukan mau sok dramatis atau melankolis. Tapi kepulangan Mas Je (panggil saja begitu) membuat saya kembali merenung tentang garis yang tersisip dalam sebuah cerita fiksi.

Pada tanggal 25 Januari, MFF membuat tantangan dalam rangka ulang tahunnya yang pertama. Dan saya ingin terlibat dalam pesta mini sebuah komunitas yang telah menjadi keluarga baru. Tentu saja, karena sudah cukup lama tidak menorehkan aksara dalam cerita 300 kata, saya tergagap dan semacam tidak terarah. Bingung mau nulis tentang apa. Namun akhirnya sebuah tema mencuat di balik keruwetan yang ada di kepala. Dan sebuah flashfiction sedih meluncur dari sana.

Tidak ada firasat atau apapun ketika menuliskan cerita itu. Hingga akhirnya, pada hari minggu malam, seorang pasien laki-laki kurus dan berkulit putih opname di RS. Begitu melihat wajahnya, saya langsung berseru, “Loh, Mas Je kok balik lagi?” Dia heran mengapa saya tahu namanya. Dan keheranannya itu wajar, karena sebenarnya kami tidak saling mengenal. Saya hanya pernah melihatnya ketika masih berstatus residen orientasi di RS.

Namun lelaki kemayu itu tersenyum dan berkata, “Iya, Dok. Masuk lagi. Diare lagi.”

Beberapa hari kemudian, Mas Je berpindah ruangan. Dari ruang rawat inap biasa ke ruang tempat saya bertugas. Yaitu ruang rawat inap khusus pasien dengan penyakit HIV. Sebenarnya, pembagian ruangan seperti ini jauh berbeda dengan harapan WHO mengenai HIV: Zero new HIV infections, Zero discrimination, and Zero AIDS-related deaths. Dengan adanya pembagian ruang seperti ini, tentu saja pasien dengan HIV merasa terdiskriminasi. Dan keluarga pasti merasa terintimidasi. Menjenguk ke ruang itu adalah sebuah aib. Maka tak jarang, pasien-pasien dengan HIV hanya ditunggui oleh anggota LSM.

Tapi Mas Je pindah ruangan saya dengan senyum yang tetap bertengger di bibirnya. Sore itu ia banyak bercerita tentang sakitnya yang mulai berkurang, tentang pekerjaan yang sudah lama ia tinggalkan, dan tentang keluarga yang jarang mau menungguinya.

Keesokan paginya, ketika saya visite, tiba-tiba Mas Je berkata, “Bu Dokter, boleh saya ngomong agak banyak?”

Sebenarnya, pagi itu saya tidak memiliki banyak waktu. Sengaja saya memvisite pasien lebih pagi karena saya harus presentasi pada jam 06:30 WIB. Namun mendengar permintaan Mas Je, alam bawah sadar saya menyuruh diri ini untuk duduk dan mendengar kata-katanya.

“Dokter, saya berterima kasih karena Bu Dokter dan teman-teman di sini mau merawat saya, mau menerima saya dengan baik. Saya nyaman di sini. Penyakit saya memang tidak bisa sembuh. Tapi selama di sini, saya merasa jauh lebih baik. Saya berterima kasih atas bantuannya. Saya sangat berterima kasih,” ucapnya dalam kalimat yang terbata-bata.

Lalu dengan tangan yang gemetar, Mas Je menggenggam tangan saya, lalu mendekap kedua tangan ini hingga ke dadanya. “Sekali lagi, terima kasih sudah merawat saya, Bu Dokter.”

Menanggung sebuah penyakit yang pasti tidak bisa sembuh adalah cobaan berat. Dan mendengar sebuah rasa terima kasih ketika penderitaan itu belum berakhir membuat saya tersentuh. Saya menepuk-nepuk ringan tangannya. Meski wajah ini tertutup masker, tapi saya yakin Mas Je bisa melihat mata saya yang sedang tersenyum. “Sama-sama, Mas. Makanya Mas Je harus cepet sehat, ya. Biar bisa jalan-jalan lagi,” lirih saya.

Lelaki kemayu – yang menurut sebagian besar orang masih tersisa kegantengan di masa sehat – itu mengangguk dan tersenyum. Saya melirik jam tangan. Jam 06:15 WIB. Sudah waktunya bersiap-siap.

Ketika melangkah keluar dari kamarnya, saya tidak pernah menyangka bahwa itu adalah percakapan kami yang terakhir. Pukul 09:00 WIB, ketika acara laporan pagi baru saja diakhiri, sebuah sms dari dokter muda membuat jantung saya berhenti.

“Dok, nadi Pak Je tidak teraba. What should I do?”

Tanpa pertimbangan apapun, saya langsung melesat lari ke ruangan dan melihat sendiri keadaan Mas Je. Kesadarannya sudah 111, tekanan darah jatuh pada 80 per palpasi. Saya naikkan kecepatan cairan dan menyiapkan obat resusitasi. Namun belum sempat obat resusitasi terpasang, napas Mas Je berhenti. Seketika itu pula, rasanya ada batu besar yang dihantamkan di kepala. Lalu jatuh ke dada, berhenti di perut dan membesar di sana.

Pijatan jantung dan ventilasi sudah tidak bisa membantu. Pukul 09:40 WIB, Mas Je dinyatakan meninggal dunia. Tanpa saudara atau keluarga di sampingnya. Buru-buru saya beranjak pergi dari kamar lelaki kemayu itu karena rasanya sesak sekali.

Seorang administrator berkata, “Nunggu pindah dulu baru meninggal. Mas Je maunya ditungguin dr. Nina itu…”

Lalu air mata yang menggenang jatuh juga. Meskipun seakan-akan Mas Je sudah tahu bahwa dia harus pergi semendadak itu, tetap saja saya tidak suka perpisahan. Apalagi mengingat kondisinya yang membaik dari hari ke hari, rasanya ada yang salah dari cara saya merawatnya.

Namun bukankah memang beginilah yang dinamakan hidup? Bahwa banyak pertanyaan yang memang tidak bisa langsung dijawab. Bahkan setelah kasus kematian Mas Je saya presentasikan di depan senior dan supervisor, penyebab pasti kematian Mas Je pun masih abu-abu.

Kini Mas Je telah menjadi abu. Tersimpan di sebuah bilik bertuliskan namanya. Satu hal yang terjawab adalah meski saudara dan keluarganya jarang menunggui Mas Je, tapi banyak air  mata yang mengiringi kepergiannya. Ayah dan ibu yang sebelumnya tidak pernah menjenguk pun berurai kepedihan.

Dan saya, kembali merenung. Ada sebuah PR besar di sini. Saya harus berlari untuk bisa mengejar kereta Zero AIDS-related deaths yang masih melenggang jauh di depan.

13 Februari 2014.

Mas Je pulang.

***

Malang, February 28th 2014

    • anna
    • February 28th, 2014

    Akan selalu ada pasien yg sangat berkesan ,, yg harus dijaga adalah rasa emotional trhadap pasien ,, semoga mbak nina gak jd resisten sama rasa itu ,, semangaaat dokteer

  1. good luck then…

  2. Agak tertohok saat membaca kalimat ini:

    Dengan adanya pembagian ruang seperti ini, tentu saja pasien dengan HIV merasa terdiskriminasi. Dan keluarga pasti merasa terintimidasi. Menjenguk ke ruang itu adalah sebuah aib. Maka tak jarang, pasien-pasien dengan HIV hanya ditunggui oleh anggota LSM.

    Masih jarang orang-orang yang menyadari bahwa HIV sebenarnya bisa menular siapa saja. Mengucilkan para penderitanya takkan mencegah penyebarannya. Seharusnya yang kita lakukan adalah bekerja sama untuk mencegah penyebaran dengan membangun kesadaran akan HIV, bukannya menjauhinya.

    • Iya, Kak. Banyak yg belum memahami transmisi HIV justru tidak lebih berbahaya dari Hepatitis B dan C.
      Terima kasih sudah membaca :”)

  3. Kak tanggalnya sama. Di tanggal itu, saya pun kehilangan sosok pahlawan hidup saya kak :’)

  4. semoga tak ada lagi yang terkena virus itu…

  5. nina, ini yang kamu ceritakan kemarinkah?

    • Iya, Mbak T.T

      • aku merinding, Nina, bacanya. gak kebayang gimana mengenanya kejadian itu buat kamu.. T_T

      • Kalo keinget gitu ya masih ndak percaya, Mbak… Tapi semoga bisa jadi cambuk buatku untuk jadi lebih baik lagi ke pasien. Aamiin…

      • amin, amin.. yang diperlukan pasien itu sebenarnya memang ‘teman bicara’. dan itu sudah kamu lakukan dengan mas Je. sabar ya, nina..

      • Semoga begitu, Mbak. Kematian ndak bisa dihindari. But the matter is how to die in dignity.

    • mita kahfi
    • May 12th, 2014

    Seneng baca blogmu nin..aq slalu kagum dengan org2 yg bs mnulis..krena menulis itu tidak gampang…hehehe… jd ingat pas sd aku pernah juara mengarang sekabupaten,hehehehe… keep ur good job nin..:)

    • Ayo dirutinkan lagi, Bu…😀

      Ini tulisan saya yang terakhir waktu stase di 29. Sekarang udah ndak bisa lagi ihihihi *sedih*

  1. April 6th, 2014

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: