Ruang 23

Pil warna pink dan putih itu tergeletak di atas meja kayu, bersanding dengan segelas air putih dan sepiring pisang goreng. “Jangan, jangan telan pil itu,” suara di kepalaku berbisik pelan.

Aku menoleh, pandanganku tertuju pada dinding yang sekarang menyeringai. Dinding itu membuka mulutnya yang hitam dan pecah-pecah, “Jika kamu menelan kedua pil itu, kamu tidak akan pernah melihatku lagi.”

Dinding yang putih itu tiba-tiba berlekuk-lekuk, terlipat-lipat sendiri menjadi seraut wajah yang sangat kukenal. Wajah seorang laki-laki yang pergi tanpa peduli perasaannya yang terluka. Pergi bersama seorang perempuan yang tengah berbadan dua.

“Tapi kamu lebih tenang setelah menelanku, “ kata pil perwarna putih.

Pil itu sekarang menumbuhkan sepasang kaki cebol dan berjalan ke arahku. Tapi langkahnya yang kecil terhenti di tepi meja, memandangku dengan satu mata yang memohon.

“Tidak. Setelah memakanmu, aku akan tenang lalu tertidur. Aku akan mimpi buruk.”

Lalu pil berwarna pink buka mulut, “Mimpi burukmu akan hilang saat menelanku.”

“Setelah memakanmu, aku tidak bisa mengingatnya lagi.”

“Bukankah kenangan tentang laki-laki itu adalah luka? Sudah saatnya kamu lupa,” kata pil berwarna pink yang sekarang menggelindingkan dirinya yang mungil, lalu berdiri di samping pil putih. Kini keduanya tepat berada di depan mataku, melompat-lompat kegirangan, memohon-mohon padaku agar aku segera memindahkan mereka ke lambungku.

“Laki-laki itu adalah luka. Tapi bukankah manusia yang bisa bertahan karena mampu melewatinya?”

“Kamu bukan sedang melewatinya. Kamu berputar-putar di sana. Meratap dan menikmati rasa sakit, sehingga menyiksa dirimu sendiri.”

“Aku tidak menyiksa diri sendiri. Kalian yang menyiksaku.”

“Apa kamu pikir, kami semua ada dan nyata?”

“TAI!”

Kuhantamkan sebuah kursi kayu ke meja. Kedua benda berbahan kayu itu beradu, membuat gaduh. Kedua pil biadab itu terlempar ke lantai. Meja itu kini roboh, gelas dari alumunium pun terjatuh dan membuat gaduh, airnya tumpah membasahi sebagian ranjang dan lantai yang licin. Piring plastik yang berisi pisang goreng terpental ke pojok ruangan, isinya berhamburan ke segala arah, satu ada yang terinjak olehku. Kursi kayu yang kuayunkan mendarat tak sempurna ke atas ranjangku.

Dinding yang dingin kembali membentuk wajah yang membuatku ngeri. Matanya melotot ke arahku, alisnya hitam dan terbakar, kulitnya meleleh, menggelambir di kedua pipi yang kempot dan berlubang, hidungnya nyaris tidak ada, hanya terdapat dua lubang sebesar jarum untuk bernafas. Kemudian kulihat, wajah itu berbalik, menjauh, memperlihatkan punggung yang tidak pernah kembali, “Pulang sekarang! PULANG!” Nafasku cepat, dadaku naik-turun dan terengah-engah.

Tiba-tiba, kursi yang kulempar tadi berbalik, terbang perlahan ke arahku. Kemudian muncul dua tangan yang kurus, gelap, dan berbongkol-bongkol, menggapai-gapai udara yang kosong. Baunya amis karena borok yang penuh darah dan nanah kental kehijauan. Aku menutup hidung dengan kedua tangan, ketakutan, berlari, berlindung di balik meja dan gemetar. Kepalaku penuh dengan kenangan di hari itu. Di hari aku merasa kehilangan separuh nyawa. Saat laki-laki itu bahkan tidak mengucapkan selamat tinggal dan hingga kini tidak pernah kembali. Tenggorokanku tercekat, aku tidak bisa bernafas. Rongga dadaku sesak sampai akhirnya seluruh udara terlempar keluar melalui sebuah lolongan panjang. Lolonganku berhenti dan berubah menjadi isak tangis yang sendu, saat seorang perempuan berjas putih meraih tubuhku, dan mengikat tangan dan kakiku di atas ranjang.

***

Seorang laki-laki usia tiga puluhan baru saja pulang ke rumah. Kaosnya yang lusuh tampak menempel di kulit karena tubuhnya yang basah oleh keringat. Dia lalu duduk di bale-bale samping rumah, meletakkan sebagian lelah setelah membecak seharian. Memandangi bunga dan rumput liar yang tertata rapi dan basah karena selesai disiram.

Seorang perempuan menghampirinya, meletakkan segelas teh hangat dan sepiring ubi bakar di bale-bale. Perempuan itu kemudian duduk di sampingnya. Tersenyum dan meraih lengan si laki-laki, kemudian memijatnya perlahan, “Capek banget, Pak? Tadi muter kemana saja?”

“Yaaah… Rutenya ndak jauh-jauh, Nah. Kalo bukan akhir minggu, terminal kan ndak terlalu rame. Latifa mana?”

Kemudian terdengar suara langkah kaki yang mungil, berlari dari dalam rumah, berteriak dengan suaranya yang cempreng. Anak perempuan itu menghamburkan diri ke pelukan bapaknya. Menciumi bau keringat bapaknya yang ia rindukan seharian ini, “Bapak… Latifa tadi belajar berhitung di TK. Satu tambah satu jadi dua. Tiga tambah satu jadi empat. Latifa hebat ya, Pak…” katanya sambil memamerkan barisan gigi yang berlubang dan hitam karena jarang gosok gigi. Bapaknya tertawa geli melihat tingkah anak perempuannya itu. Pipinya diciumi hingga habis, “Latifa memang anak bapak yang paling cantik dan pintar.”

Si bapak menoleh pada istrinya, tersenyum, lalu mengecup pipinya sebagai ucapan syukur atas kebahagiaan kecil di sore itu.

***

Perlahan aku membuka mata, kelopaknya berat seperti dihantam godam besar. Perih. Cahaya putih itu membuat mataku perih. Terlalu banyak cahaya. Aku tidak mau banyak cahaya. Sinar yang terang mengaburkan lautan mimpiku tentang dirinya.

Tapi otakku memberikan sinyal lain. Ada yang tidak beres dengan kedua tangan dan kakiku. Tidak bisa bergerak. Sama rasanya saat ia meninggalkanku. Aku panik. Tubuhku berontak. Tidak. Jangan. Jangan diam saja. Kali ini aku harus lari mengejarnya. Kali ini, jangan sampai aku kehilangannya untuk kedua kali. Dia milikku. Milikku saja.

Ruang 23 kembali dipenuhi suara tangis yang pilu, suara hati seseorang yang kehilangan dan merindu.

Lambat laun, kegaduhan yang kubuat menghilang seiring dengan satu tabung suntik yang isinya berpindah ke pembuluh darahku melalui infus di tangan. Kegelisahanku ikut larut dalam sebuah mimpi panjang. Kali ini tentang kehilangan.

***

Perempuan itu menangis sejadi-jadinya setelah mendengar kasak-kusuk tetangganya saat ia ke pasar tadi pagi. Itu tidak benar. Suaminya adalah laki-laki yang setia.

Berbagai sugesti dia tanamkan dalam sanubari, tapi tetap terasa ada yang salah pada hari-hari suaminya tiba-tiba datang dengan membawa dua kantong besar belanjaan yang mewah. Ada yang salah pada saat suaminya pulang lebih larut dari biasanya. Ada yang salah pada malam-malam terakhir suaminya jarang menyentuhnya.

Tinah terduduk lesu di bale-bale samping rumahnya. Menghapus air mata yang sudah menganak-sungai di pipinya yang tak lagi muda. Matanya menemukan Latifa, memandangnya penuh tanya, apa yang membuat ibunya begitu berduka.

***

Ikatan di kedua tangan dan kakiku sudah dilepaskan. Ekstremitasku bebas. Tapi aku tetap tidak bisa berlari ke masa ia menghilang.

Aku berusaha menyatukan kepingan-kepingan yang melayang dalam kepalaku. Banyak sekali. Seperti serangga-serangga yang mudah bereplikasi menjadi jutaan dan berlomba-lomba mencari jalan keluar dari sarang yang sempit. Mereka ingin segera keluar. Mencari udara bebas.

Di atas meja, teronggok pil-pil biadab itu lagi. Kali ini bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk kolak pisang. Sejenak aku mengabaikan mereka. Memandangi dinding putih yang biasanya membuat suara-suara.

“Terakhir kali kamu tidak meminum kami, mereka mengikatmu seperti mereka mengikat orang gila,” kata pil pink. Kepalaku menoleh, mataku menemukan pil itu menumbuhkan sayap berwarna putih, dengan bulu-bulu kecil yang kepakannya membelah udara di sekitarnya, terbang kesana-kemari. Aku tak habis pikir, berapa banyak jumlah transfomasi yang bisa ia ciptakan.

“Setan!”

“Wah, sekarang kamu sudah berani menyebut kami ‘setan’. Padahal kami yang membuat hidupmu lebih damai,” kata pil putih. Mataku terbelalak saat mendapati pil laknat itu menumbuhkan dua telinga panjang berwarna lavender, juga sepasang tangan dan kaki yang halus seperti bulu kucing. Sebenarnya apa wujud asli pil-pil ini? Aku tidak bisa mengerti. Mereka sudah gila.

“Bisa diam? Atau mau aku hanyutkan bersama taiku yang belum kubuang?”

Pil-pil itu bergidik ketakutan. Gigi-gigi mereka beradu, menimbulkan bunyi gemeretak yang lucu. Mereka menyatukan tangan mereka, melayangkan pandangan ngeri padaku, lalu mendarat sempurna di atas meja.

Aku menang. Kalian bisa apa?

“Kamu pikir, kami takut mendengar ancamanmu tadi? Bukankah kamu lebih takut sekarang?” kata pil putih.

Aku marah, “Aku tidak takut. Memangnya aku takut apa?”

“Takut menjadi waras dan menghadapi kenyataan hidupmu yang tidak bahagia,” kata pil putih lagi. Pil pink menyeringai. Tatapannya menghina. Jelek sekali.

“Kalian yang tidak waras. Kalian ada untuk membuat orang tidak bahagia.”

“Kamu bahagia karena khayalanmu sendiri. Ya… khayalan tentang sesuatu yang kamu buat sendiri. Kamu pengecut,” kata pil pink.

“AKU TIDAK GILA! AKU TIDAK TAKUT! AKU BUKAN PENGECUT!”

Seperti yang sudah-sudah, aku melayangkan nampan ke arah meja. Gelas dan piring membentur lantai dan menimbulkan suara yang keras. Lalu dinding putih itu kembali membentuk siluet punggung. Punggung yang ia rindukan. Menoleh sejenak dengan senyum terakhir yang mengerikan. Dari sudut bibirnya keluar taring yang panjang dan mengerikan. Lalu tangannya yang bopeng menjulur ke arahku, berusaha mencengkeram leherku. Suaraku tercekat. Hilang. Sama seperti saat ia berjalan keluar dari rumah dan tidak kembali. Dadaku penuh sesak. Lolonganku kembali terdengar. Meluruhkan jutaan perih yang lama bertengger di tubuhku. Tapi aneh, aku tidak merasa lebih baik.

***

KROMPYANG!!!

Latifa yang sedang belajar di kamar terkejut mendengar suara gaduh dari dapur. Bapak dan ibunya ada di situ. Tapi Latifa terlalu takut untuk menghampiri mereka. Ada apa? Latifa kecil tidak mampu mencerna apa yang sedang terjadi di sana. Otaknya masih sibuk mengingat berapakah hasil dari tujuh ditambah lima.

Tapi teriakan-teriakan ibunya begitu menggoda hasrat ingin tahu Latifa. Kakinya menuntun tubuh kecilnya menuju pintu dapur. Ia mengendap-endap di balik tirai hijau yang sudah lusuh.

“Kenapa kamu tega seperti itu? Kamu ndak mikir gimana nasibku dan Latifa?”

“Kalo aku kawin sama dia, hidup kita ndak susah kaya gini!”

“Kamu mau kawin sama dia karena sudah hamil, kan? Aku denger dari orang-orang pasar, Pak!”

“Ya kalo sudah denger malah bagus. Trus apa? Kamu tetep mau minta cerai?”

“Kurang ajar! Laki-laki laknat! Aku lebih baik jadi janda dari pada harus ngemis-ngemis sama si Tutik itu!”

“Yo wes. Jangan nyari-nyari aku lagi! Mulai sekarang, aku ndak ada urusan sama kamu!”

Lalu langkah kaki bapaknya mendekati pintu dapur. Bapaknya menangkap sepasang mata Latifa yang ketakutan. Latifa terkesiap memandang wajah bapaknya yang begitu menakutkan. Mata itu terlihat begitu mantap meninggalkan rumah. Latifa ngeri dan merasa kehilangan. Maka ia menghampiri bapaknya dengan setengah  berlari, meninggalkan ibunya yang menangis tanpa henti.

Tapi langkah Latifa terhenti di ambang pintu. Kakinya bagai dipasung. Malihat bapaknya memeluk seorang perempuan yang bukan ibunya. Mata Latifa memandang lekat perempuan itu. Tidak lebih cantik dari ibunya. Hanya polesan bedak dan pemerah bibir yang lebih tebal dari ibunya. Padangan Latifa turun, menemukan perut perempuan itu membesar.

“Bapak…” panggil Latifa dengan suara lirih dan merana.

Bapaknya menoleh. Singkat. Lalu pergi selamanya. Latifa baru menyadari. Tidak ada lagi cinta bapak untuknya.

***

Pil pink dan putih itu datang lagi. Tetap di atas meja, bersanding dengan segelas air putih dan semangkuk bubur yang hambar. “Jangan, jangan minum pil itu.” Suara-suara di kepalaku kembali bicara. Kali ini tidak berbisik, tapi riuh bergemuruh, seperti sebuah konser yang tidak bisa dibendung. Aku menoleh pada dinding yang putih, menyentuhnya dengan ujung jariku yang gemetar. Bibirku yang kering menjadi pecah saat menyebut namanya, berdarah saat menangisi dimana keberadaannya. Tidak. Sudah cukup ia menghilang dari hidupku. Jangan lagi hilang dari ingatanku. Jangan.

Aku meraih kedua pil pembuat lupa itu, menggenggamnya, dan merintih.

***

Dokter muda perempuan itu sumringah. Hari ini presentasinya berjalan lancar. Dia lulus bagian Psikiatri. Dua hari lagi dia akan bertugas di bagian Neurologi. Maka pagi itu, dia memutuskan untuk menemui pasiennya sekali lagi, menyampaikan salam perpisahan pada Latifa.

***

Sudah lima belas hari. Tiap pagi aku menantikan pil-pil itu datang, lalu kuhanyutkan bersama kotoran. Tidak ada lagi yang bisa membuatku lupa. Tidak ada lagi yang merampas kebahagiaanku. Hanya ada aku, bersama kepungan rindu yang hanya bisa terpuaskan sendiri dalam rangkaian adegan seperti film yang bergerak di otakku. Tentang aku dan bapak. Bapak yang mengatakan aku cantik dan pintar. Bapak yang bau keringatnya sangat aku suka. Bapak yang aku rindukan sepanjang hari. Bapak yang memelukku dan suka mendaratkan ciuman di pipinya.

Aku baru saja akan berbincang pada dinding putih itu. Tiba-tiba seorang perempuan berbaju putih panjang datang. Wajahnya sangat ku kenal. Wajah yang setiap hari menyajikan kedua pil pembuat lupa itu. Kehadirannya selalu kuingat sebagai perampas bayang bahagiaku. Aku membencinya. Dia sama kejamnya dengan perempuan yang dipeluk bapak. Perempuan yang perutnya membesar. Perempuan yang mengambil bapak dariku.

Perempuan itu mendekat. Hatiku tercekat. Kali ini, tidak akan aku biarkan dia merampas bapak, meski bayangannya saja. Sudah cukup kejahatannya memberikan aku benda-benda yang menghapus kebahagiaan. Harus dihentikan. Sekarang.

***

Tiba-tiba terdengar suara gaduh dari ruang 23. Perawat dan dokter muda segera berhamburan, menuju satu bilik dengan teralis besi. Lalu langkah terburu-buru mereka terhenti saat melihat kekacauan di kamar itu. Sebuah kursi terguling, bersanding dengan kubangan darah dari sisi ranjang Latifa, dengan seorang perempuan berjas putih panjang tergolek tak berdaya di lantainya. Matanya membelalak ngeri, mulutnya terbuka, kepalanya nyaris pecah, perutnya tercabik tak karuan. Lukanya menganga dan berdarah. Semua terkesiap, menutup mata dan hampir muntah.

Sedangkan Latifa, bersenandung kecil di atas ranjangnya. Gadis berusia 18 tahun itu tampak begitu bahagia memandangi dinding yang pucat, meracau tanpa arti yang jelas, dan menggenggam pecahan cermin berdarah di tangan kanannya.

***

[Sheila On 7 – Ketidakwarasan Padaku]

September 17th 2012

Moru – Alor – NTT

* Cerita terinspirasi dari sebuah kasus di Ruang 23 (Ruang bagi para penderita penyakit kejiwaan) di RS Saiful Anwar Malang beberapa tahun yang lalu.

** Diterbitkan dalam Random 2

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: