Yang Tersisa dari Jumat Siang

Jumat siang.

Setelah mengendarai motor dengan ditempa cuaca gerimis-hujan-panas-gerimis-panas-berangin yang rupanya sedang galau, saya bersama rekan residen interna lain menghadiri presentasi jurnal reading yang bertema geriatri yang berjudul Chronic Diseases and Risk for Depression in Old Age: A Meta-analysis of Published Literature. Rupanya, efek jaga di malam sebelumnya masih membayangi kelopak mata. Pengin nutup terus. Meski di awal presentasi sempat manggut-manggut karena merasakan sendiri status depresi seorang geriatri, akhirnya… seperti residen post-jaga pada umumnya, saya tertidur sekejap.

Tapi yang namanya tertidur dalam posisi duduk dan dalam suasana ilmiah, pastilah gelombang-gelombang di otak tetap tidak bisa santai. Tiba-tiba, ada sebuah kalimat dari supervisor yang saya hormati, menyusup diam-diam ke celah tidur dan membuat saya langsung membuka mata dengan lebar. “Stres dan depresi tidak hanya dialami oleh geriatri itu sendiri. Tapi juga pengasuhnya, yang umumnya tidak lain dan tidak bukan adalah anak geriatri tersebut. Jadi, ojo dipaidu.”

Nyes.

Saya langsung terjaga sepenuhnya. Saya teringat pada Ibu-Bapak di rumah, yang sudah masuk dalam usia geriatri dan mengasuh geriatri lain yang merupakan nenek saya, ibu dari ibu saya.

Sepeninggal Bu Lik yang dulu tinggal berdua dengan Mbah Putri, akhirnya Ibu dan Bapak memboyong Mbah ke Probolinggo. Repotnya, tidak perlu ditanya. Meski Mbah Putri bukan termasuk orang yang cerewet jika ‘diladeni’, tapi tetap ada saat-saat tertentu yang kadang-kadang menguras tenaga dan emosi.

“Ngurus geriatri itu bikin stres, loh. Karena pada umumnya, geriatri cenderung merasa nelangsa karena sakitnya sehingga menuntut perhatian lebih banyak daripada ketika mereka masih segar dan bugar,” jelas supervisor tersebut.

Kalimat itu benar. Banget. Tujuh puluh delapan tahun, diabetes lama, hipertensi dan riwayat stroke tiga kali. Energi dan semangat yang dulu melekat pada Mbah Putri, sudah luntur total. Mbah Putri menjelma menjadi manula yang tidak percaya diri karena sakitnya. Hal-hal kecil bisa menjadi masalah besar. Contoh: Mbah Putri meminta Bapak ngunduh pisang di kebun karena sudah tua. Padahal menurut Bapak, pisangnya masih ijo royo-royo. Sayang jika dipotong sebelum waktunya. Dan Mbah langsung ngambek, mengira bahwa dirinya tidak cukup berharga sehingga menantunya berani melawan kata-katanya.

Contoh lain. Obat diabetes Mbah habis. Saya muter ke apotek demi mencari obat dengan merk yang sama. Tapi rupanya stok sedang kosong. Akhirnya saya membeli obat dengan kandungan sama meski merk berbeda. Dan ternyata, Mbah ngambek. Bungkus obat itu dilempar ke kaki saya. Lalu Mbah menangis di kamar.

Bingung, kan?

Tapi perasaan bingung dan stres tersebut tidak dimengerti semua orang. Termasuk saudara sendiri. Kadang ndak habis pikir… kok ya  masih ada pikiran ‘maidu’ sedangkan dirinya sendiri jarang nengok Mbah. “Ibu kok dibolehiin makan ini-itu, Mbak? Gimana kalo nanti gula darahnya naik?” “Ibu kok begini?” “Ibu kok begitu?” Yang komentar itu lupa bahwa yang mengasuh Mbah juga sudah geriatri.

Menyiapkan roti bakar setelah subuh, memasak sayur yang konsistensinya pas dengan gigi Mbah yang sudah tanggal (dengan variasi yang berbeda setiap hari), siap di depan kamar mandi karena Mbah sering lupa menyiram WC setelah buang air, menyiapkan air panas untuk mandi serta mengisi cemilan-cemilan di stoples di kamar Mbah. Telat sedikit, ngambek. Salah sedikit, ndak mau keluar kamar. Bahkan ketika Bapak kawatir dan berpikir yang tidak-tidak saat Mbah di kamar mandi lebih lama dari biasanya, Mbah justru merasa tidak diperbolehkan untuk mandi.

Mengetahui hal-hal seperti ini, terus terang, membuat saya merasa bersalah karena saat ini tidak ada di sana, setidaknya sebagai tempat berbagi beban. Ibu dan Bapak pasti juga sering nyeri lututnya, lebih mudah capek dari sebelumnya. Meski pekerjaan rumah dikerjakan oleh asisten rumah tangga, tetap saja orang tua saya sudah tak lagi muda.

“Yang punya Ibu itu bukan cuma satu orang. Harus kompak. Harus saling mengerti. Gantian beliin popok, kek. Atau beli buah kesukaan ibunya, kek. Seharusnya, stres jadi pengasuh jangan dibebankan sama satu orang. Tapi jika kondisinya memang harus demikian, yang lain ya harus rumongso sudah dibantu ngasuh orang tua. Beri dukungan materi dan moril. Jangan seenaknya protes ini-itu. Karena belum tentu yang maidu tadi bisa meladeni orang tua dengan lebih baik,” jelas supervisor lagi.

Benar. Banget. Tapi dalam praktik nyata, sulit. Dengan dalih sibuk atau tidak ada orang di rumah, beberapa orang menolak diberi bagian tanggung jawab. Bahkan berpikir Mbah-mau-dibelikan-apa juga enggan. Sehingga pemikiran untuk berbagi beban justru menyusut. Lama-lama menghilang. Terutama ketika mendengar komplain seperti di atas tadi. Meski di daam hari berkata, “Banyak omong. Coba situ yang ngasuh,” tapi yang dipaidu cuma bisa senyum.

Menyampaikan sesuatu dengan harapan dimengerti memang bisa jadi multitafsir. Jadinya malah dituduh tidak ikhlas, dituduh tidak rela. Ah, mana ada anak yang tidak ikhlas dan rela mengasuh orang tua sendiri. Yang ada hanya mau atau tidak. Tapi jika kehormatan mengasuh Mbah ada di tangan kedua orang tua saya, biar saja demikian. Dan saya berdoa, semoga kelak saya dan kakak perempuan saya kompak dalam hal seperti demikian. Itu saja.

Sudah. Begini saja curhat saya di malam minggu. Sepertinya badan sudah mulai protes dan minta segera diistirahatkan. Sekian.

“Seringkali, yang dibutuhkan seseorang bukan sekadar materi. Tapi perhatian dan kasih sayang yang terselip di dalamnya. Bukan karena paksaan, bukan karena pengin dibilang perhatian. Tapi karena mereka menganggap kita ada.” (Ini, sih, kata-kata saya sendiri)

***

Malang, February 22nd 2014

    • asdar
    • February 22nd, 2014

    sepakat bu dok,…..di rumah saya di kampung sana, nenek ( ibu dari mamanya saya ) ikut tinggal, beliau baru ikut tinggal bersama kami setelah kakek buyut saya ( bapak beliau ) meninggal karena uzur setelah beliau rawat selama bertahun- tahun. Saat di rumah terkadang, kami menginginkan sesuatu untuk beliau yang menurut pemahaman kami untuk kepentingan atau kebaikan beliau sendiri ( misalnya mencegah beliau untuk sering- sering balik ke rumahnya di kampung karena disana beliau tinggal sendirian, ndak ada yang bantu, ndak ada yang temenin, disana juga sdh ndak ngapa2in karena kebun sdh ada yang bantu urus ) tapi ternyata (mungkin ) di pemikiran beliau hal itu tidak beliau inginkan atau harapkan (beliau yang sdh bekerja berpeluh berpuluh tahun, tinggal di rumah tanpa melakukan sesuatu apapun, meski di rumah anaknya sendiri merupakan sesuatu yang tidak nyaman atau bahkan tidak bisa beliau terima ), saya mungkin beruntung puang nene’ ( begitu biasa beliau kami panggil) ndak pernah sampai ngambek ^_^ , tapi saya yakin pernah terbersit rasa penolakan meskipun beliau tidak ekspresikan secara frontal kepada kami.

    makasih share nya bu dok……..
    #jadi pengen pulang ketemu mama’ sama puang nene”#

    • Karena manula memerlukan terapi khusus. Oleh karena itu ada sub bidang ilmu geriatri. Salam hormat buat Puang Nene’, Dok

  1. setuju😀

    • anythaa7
    • March 3rd, 2014

    Sedih mba jadi keinget mbah putri dan mbah kakung dikampung…😥 sekian dan terima nasi padang… ._.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: