Satu Adegan dalam Mimpi

“Banyak hal yang dimulai dari rasa penasaran. Termasuk jatuh cinta.”

Aku mengernyit. Lalu memandanginya dengan tatapan teori-macam-apa-itu. Namun ia justru terbahak melihat wajahku.

Diambilnya secarik kertas dan sebuah pensil warna merah. Kemudian ia menggambarkan sesuatu di sana. “Akui saja. Kamu pasti pernah penasaran ketika tiba-tiba banyak benda ini berceceran, bukan?” katanya sambil menyodorkan hasil gambar kilatnya padaku.

Sebuah g-string merah.

Aku berusaha menahan senyum ketika otakku mulai mengingat rasa penasaran yang dulu pernah meletup-letup di kepalaku. “Hey! Siapa yang tidak penasaran jika benda yang selama ini disimpan hanya di lemari perempuan harus disebarluaskan seperti membagi tiket konser Maroon 5?” kilahku.

Ia kembali terkekeh dan mengangguk-angguk. “Lalu bagaimana dengan sebuah bon minuman? Tidak ada yang aneh. Tapi kamu penasaran, kan?” selidiknya.

Kupanggil lagi barisan memori yang berderet di sebuah folder bertuliskan namanya. Bon minuman. Iya, sesungguhnya itu biasa saja.

“Itu biasa saja sampai banyak orang membuatnya menjadi istimewa. Aku penasaran, apa yang membuatnya begitu sangat menarik. Reaksiku itu wajar!” ujarku sambil melipat kedua tangan di dada.

Ia tersenyum dan memandangku dalam. Matanya menjurus tepat pada mataku. Lalu menggeleng-geleng seolah-olah semua kata yang kubangun demi pertahananku adalah salah.

“Reaksimu itu bukan disebut ‘wajar’. Tapi memang begitu seharusnya. Karena aku tahu, orang-orang sepertimu pasti akan penasaran. Dan tertantang,” ujarnya mantap.

“Orang-orang sepertiku? Maksudmu?” sengitku. Pertahananku mulai goyah. Percakapan ini mulai absurd.

Namun ia tetap tenang. “Haus akan aksara, kurasa. Saat itu kamu sedang tidak punya kerjaan yang menyita banyak waktu, bukan? Dan kamu… lapar akan sebuah komunitas. Karena saat itu… kamu sendirian,” ujarnya sambil membereskan kertas-kertas di atas meja dan memasukkannya ke dalam sebuah map plastik berwarna biru.

Kupalingkan wajah darinya dan kertas-kertas lain yang masih berserakan. Lalu kubuka lagi folder bertuliskan namanya. Ada sebuah surat yang belum kusampaikan, bahwa aku bersyukur pernah bertemu dengannya. Bermula dari seekor ‘Ayam’ hingga sebuah kontes akbar. Setelahnya, ia adalah alasan mengapa hari senin menjadi tak lagi begitu mengerikan. Ia adalah alasan aku selalu ingin belajar. Ia adalah alasan aku menuliskan cerita ini.

“Akui saja. Kata-kataku benar. Banyak hal yang dimulai dari rasa penasaran,” ujarnya.

Aku terdiam sesaat, dan memandangnya untuk kesekian kali. Kuamati sebuah wajah yang memiliki beragam rona. Sebuah wajah yang berisi milyaran ide di dalam semesta. Sebuah wajah yang menyelamatkanku dari rasa bosan akan rutinitas. Sebuah wajah yang mungkin… telah menjadi rumah kedua.

“Iya. Kamu benar. Kamu selalu benar.”

“Termasuk jatuh cinta.”

“Termasuk jatuh cinta,” lirihku.

“Maka jangan lari lagi. Berjalan saja seperti apa adanya. Kami selalu menunggu. Karena kami adalah taman bermain yang bisa kamu jejak kapanpun kamu suka.”

Aku menunduk, tersenyum dan menertawakan diri sendiri yang pernah ingin lari. Sial. Entah sejak kapan ia menjadi tahu segalanya.

Azan subuh baru saja berkumandang. Garis cakrawala menjingga. Matahari mulai merangkak naik dan menyinari belahan dunia yang kupijak. Tiba-tiba tepukan hangat Ibu di bahu membuatku tersentak dan terbangun.

“Waktunya berangkat ke rumah sakit, Noy.”

Oh. Adegan tadi hanya mimpi. Mimpi yang terasa seperti nyata.

Aku bangkit dari tidur dan bergerak keluar kamar. Namun mataku tertahan ke atas meja, pada sebuah map plastik berwarna biru yang sepertinya tidak pernah ada di sana sebelumnya.

Perlahan, kuambil map itu dan kubaca tulisan di atasnya. “Surat Terbuka untuk Monday Flashfiction – oleh Noichil.”

***

Malang, 28 Januari 2014
Selepas subuh.

image

  1. surat terbuka bu dok. ini kenapa jadi ff lagi? hihi…

    bagussss… so sweeet… thankyou :*

    • Lagi pengin bikin beginian, Mbak eheuheuheu :p
      Tengkyu :*

  2. Yang ini masih kategori FF, kan, mbak?🙂

  3. makanya saya bingung bacanya😀

    *alasan*

  4. Dasar penulis. Disuruh bikin surat terbuka jadinya malah tulisan romantis manis gini…:mrgreen:

    • I… iya, maaf, Mbak T.T

      • Bukan gitu budokkk… Ini manis bangetttt… Hehehe

      • Soalnya yang mau kusebut tentang FF udah diwakili yang lain, Mbak… :”)
        Makasih, ya…

  5. BIKIN LAGI BUAT SURAT TERBUKANYA!

    *lagiPMSini*
    *jadinyagalak*

  6. Hehe..,
    mimpi yg ambigu selalu seru.

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: