25 Januari

R26

 

“Selamat pagi.”

Lelaki lemah itu kaget saat kubangunkan dengan suaraku. Susah payah ia membuka mata, melihatku dan berkata, “Halo, dokterku yang merekah dalam merah.”

Pipiku merona. Semerah blus merah yang hari ini kukenakan. “Gimana kabarmu hari ini?” tanyaku.

Namun Erik diam saja. Kupasang stetoskop di telinga ketika Erik mengangkat pakaiannya ke atas dada dan membiarkanku memeriksa tubuhnya.

“Saya ingin pulang,” katanya.

Sedetik, aku mengerling ke bibirnya. Merah. Kutarik kelopak mata bagian bawahnya. Sudah tak sepucat ketika ia datang seminggu lalu.

“Aku juga pengin,” jawabku pelan.

“Semalam enggak pulang, yaaa?” godanya.

“Malam jaga yang melelahkan! Aku tidak bisa meletakkan pantat sama sekali!”

“Ah! Benar perkiraan saya,” lirihnya.

“Perkiraan apa?”

“Dokter ini bidadari. Karena cuma bidadari yang tetap cantik setelah jaga yang melelahkan.”

“Gombaaal!” ujarku sambil menutup muka dengan map rekam medis. Sedangkan Erik sibuk menahan selang oksigen yang hampir lepas karena tawanya.

“Jadi… saya boleh pulang?” rajuknya lagi.

Kubolak-balik hasil pemeriksaan paskakemoterapi untuk leukimia yang dideritanya. Semuanya bagus. Nafsu makannya pun baik. Namun ada perasaan tak terdefinisi yang menginginkannya tetap di sini.

“Ehm… Kemarin kamu menerima transfusi dua kantung darah. Aku ingin memastikan tidak ada reaksi apapun. Tunggu sehari atau dua hari lagi, ya?”

Erik diam. Ia tahu aku sedang mencari-cari alasan. Namun ia mengangguk sebagai tanda setuju.

Seharusnya ia bisa pulang. Seharusnya.

Saat langkahku sampai di ambang pintu, ia bertanya, “Apa yang membuat Bu Dokter selalu ingin pulang?”

“Anakku. Kamu?”

Erik tersenyum dan menoleh ke sebuah kalender meja. Tanggal 25 Januari telah ditandai dengan spidol merah. Tapi hingga beberapa saat, tidak ada jawaban darinya.

***

“Mas, pasien Erik di kamar 2 kok enggak ada? Pulang paksa?”

“Semalam Erik sesak. Lalu meninggal setengah jam kemudian, Dok.”

Jantungku mencelos mengingat sebaris kalimat di samping tanggal 25 di kalender meja milik Erik yang kugenggam.

Lima tahun meninggalnya Bapak Ibu.

25 Januari.

Erik pulang.

***

Malang, 25 Januari 2014

On my morning shift – RSSA

Ditulis dalam rangka ulang tahun Monday FlashFiction yang pertama

Happy birthday MFF ^^

image

    • asdar
    • January 25th, 2014

    Belum ngerti ceritanya Bu dok….

  1. meski manis, aku kurang suka cerita dg tokoh yg mati.

  2. Agak merinding baca endingnya…

  3. sediiiiih budok T_T

  4. potonya di instagram nih😀

    Saya suka ceritanya.😉

  5. Fotonya asliiiii😀
    Makasih Budok, udah mau nulis lagi demi MFF :-*

    • Asli, dooong.
      Aku seneng kemarin bisa nelurin FF lagi, Mbak :”D

      Trus keinget sama revisi buat MFF Idol .__.

  6. suka banget mbak meskipun sedih

    • Makasih, Mbak Linda
      Sebenerny pengin bikin yg lucu2 aja. Tapi entah kenapa jadi begini .__.

  7. Ceritanya sedih😦

    • latree
    • January 27th, 2014

    bu dok kok ujug2 nanya aja. belum baca report di meja? ehehe…

    ga tahan kan, cuti nulis?😉

  8. Hiksss sedihnya :”(

  9. Huaaa…😦

  1. February 28th, 2014

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: