Koper

Saya mengenal seorang kawan yang memiliki koper tua berukuran sangat kecil, mungkin hanya sebesar kotak surat. Suatu saat, saya tertarik melihat isinya dan sedikit terheran-heran. Pakaian di dalamnya tidak banyak, dua atau tiga saja. Dan terlihat sangat usang. Bukan. Bukan karena tidak pernah diganti. Lebih tepatnya, sandang itu tidak pernah dicuci. Padat memenuhi koper sehingga tidak bisa diisi lagi.

Saya pernah bertanya padanya, apakah dia tidak risih menggunakan pakaian yang telah dikenakan berulang-ulang tanpa dicuci? Dia memandang saya. Tanpa tersenyum atau marah. Wajahnya biasa saja. Dia berkata, “Pakaian-pakaian ini adalah prinsip. Sama sekali tidak boleh luntur. Kenyamanan itu relatif. Yang penting adalah bagaimana perasaan saya.”

Namun penjelasan darinya tidak membuat saya puas. Apakah selama perjalanan, tidak ada pakaian yang menarik hatinya? Apakah selama perjalanan, dia tidak ingin mencoba sesuatu yang berbeda? Apakah selama perjalanan, tidak ada orang yang mengatakan bahwa sudah saatnya ia mendaur ulang – atau setidaknya mencuci – baju-baju yang ia punya? Kemudian pandangan saya tertuju pada sebuah koper berukuran kotak surat. Benar saja. Dengan ukuran koper sekecil itu, tidak akan banyak pakaian yang bisa masuk. Kemudian saya bermaksud untuk menyarankannya membeli koper baru yang lebih besar. Namun belum sempat saya membuka mulut, laki-laki itu sudah berlalu.

Di suatu tempat yang berbeda, saya bertemu dengan seorang perempuan bertubuh mungil yang kesusahan menarik kopernya. Kopernya sangat besar, berat, dan ada beberapa helai kain yang mencuat dari sela-selanya. Saya menghampirinya dan berusaha membantu. Kami berdua menepikan koper itu ke samping sebuah bangku taman dan beristirahat sejenak.

Kembali saya terheran-heran dan penasaran akan isi koper perempuan di samping saya. Ia merogoh saku celananya dan menarik sebuah kunci dari dalamnya. Ketika gembok koper itu dibuka, penutupnya terpental saking banyaknya benda yang ada di dalamnya. Sejenak saya terperanjat. Pandangan saya menelusuri benda-benda yang kini berserakan. Tidak hanya pakaian. Tapi pemanas ruangan, kompor minyak, alu dan lesung penghalus bumbu, serta ratusan jarum pentul dan peniti. Saya memungut benda-benda itu dan menjejerkannya di dekat koper . “Jika terlalu berat, tinggalkan saja beberapa barang. Saya rasa ada beberapa benda yang tidak perlu dibawa,” ujar saya sembari meletakkan tumpukan surat-surat yang hurufnya sudah luntur.

Perempuan itu menatap saya dengan pandangan tidak percaya. Ia meraih bungkusan berisi pisau dari tangan saya dengan kasar dan menjawab, “Jangan sok tahu! Tidak ada dari barang-barang ini yang tidak penting. Semuanya berarti bagi saya. Barang-barang ini adalah bukti bahwa saya telah melalui perjalanan yang panjang dan melelahkan. Benda-benda ini adalah identitas saya!”

Mendengar penjelasannya yang emosional, saya menelan ludah. Lalu menatap getir benda-benda yang berhamburan dan menunggu nasib. Tidak butuh waktu lama, perempuan itu membungkuk dan mulai menjejalkan semua barangnya ke dalam koper.

“Aw!”

Perempuan itu menjerit. Tangan kanannya berdarah karena tergores mata pisau. Segera saya mengeluarkan sehelai sapu tangan dan membalut lukanya. Dan rupanya, luka itu bukan satu-satunya. Ada banyak bekas luka yang belum sembuh di beberapa bagian tangannya. Sesaat, kami berpandangan. Dengan derai air mata yang tak mampu tertahan, perempuan itu berkata, “Saya hanya berusaha membawa semua yang mungkin berguna. Meskipun terlihat kepayahan, saya yakin, akan selalu ada orang-orang yang membantu saya. Seperti anda sekarang.”

Kami berdua bangkit dan berjalan beriringan, sambil membawa koper yang sangat besar tadi, tentu saja. Namun tujuan kami berbeda. Di sebuah persimpangan, kami berpisah. Dan dalam hati, saya berdoa semoga ada seseorang yang ia temui untuk membantunya membawa beban yang sangat berat itu.

Kemudian di sebuah taman bermain, saya berjumpa dengan seorang pria yang tengah duduk di sebuah ayunan. Di sebelahnya, ada sebuah koper berukuran sedang. Pria itu menoleh dan melambaikan tangannya pada saya. Saya bingung. Saya tidak pernah mengenalnya. Namun semesta menuntun langkah saya untuk mendekatinya dan duduk di ayunan sebelah.

Rupanya, dia baru saja berpetualang. Menyeberang dan menjelajah laut untuk melihat kehidupan di dasarnya, serta terbang melintasi langit dan awan untuk menjejakkan kaki ke tanah yang baru. Dia memiliki cerita yang menarik. Semenarik kopernya yang lebih terlihat seperti seorang sahabat. Saya bertanya, “Engkau telah berjalan begitu jauh. Namun koper yang ada di sana nampak tidak berat sama sekali. Tidakkah seharusnya perjalanan yang panjang membuat koper itu semakin berat oleh benda-benda yang baru diperoleh?”

Dia tersenyum, kemudian meraih koper itu dan membukanya. Tidak ada yang istimewa. Ada dua pasang pakaian lama yang terlihat bersih, tiga pakaian baru, satu handuk kecil, satu senter, sepasang ponsel dan kabel catu daya, sepasang sepatu bot, sebuah file berisi foto-foto, kamera, dompet serta sebuah buku catatan. “Saya tidak suka menumpuk barang, sehingga saya menukar beberapa benda di setiap perjalanan. Tidak semua, sih. Saya tidak akan menukar ini karena kenang-kenangan dari ibu saya,” jelasnya sambil membelai lembut sehelai sweater rajut berwarna abu-abu.

“Sebenarnya, ada banyak hal yang menarik di setiap perjalanan. Termasuk kerikil yang membuat saya tersandung, maupun kapal besar yang hampir terbalik di tengah samudera. Namun saya tidak mungkin membawa semuanya. Alih-alih mengenang, mungkin saya tidak akan bisa ke mana-mana. Jadi, beberapa hal itu saya pindahkan saja menjadi foto-foto dan tulisan,” lanjutnya sambil mengayun-ayunkan file berisi foto-foto dan sebuah buku catatan.

Mendengar penjelasannya, saya kembali mengingat laki-laki berkoper kecil dan perempuan berkoper sangat besar tadi. Berbeda sekali. Yang satu memilih untuk tidak mengganti barang bawaannya sama sekali. Mungkin ia tidak peduli bahwa orang-orang di sekitarnya akan terganggu dengan pakaian yang tidak pernah ia cuci. Bahkan ia memilih untuk tidak mengganti koper kecilnya dengan koper lain yang lebih besar. Sudah tidak ada ruang untuk menambah saran dan wawasan. Berpikiran sempit, begitu orang-orang bilang.

Sedangkan yang satu memilih untuk membawa semua barang yang ia temui. Tanpa kecuali. Termasuk benci dan sakit hati. Masa lalu adalah jejaknya, begitu dia bilang. Dan dia membawa jejak itu di dalam hidupnya. Memanggul beban yang lebih berat dari yang bisa ia tanggung sehingga tidak mampu beranjak ke mana-mana. Mungkin ia berpindah tempat dengan membawa koper besar dengan isi yang hampir meledak. Namun ketika ingin menilik kembali apa yang sudah dapat,  ia bahkan tidak mampu lagi memilah-milah apa yang ada di dalam kopernya karena terlalu sesak dan tidak beraturan. Menambah pengalaman baru akan semakin membebani jika isi kopernya tidak segera dikurangi.

Diam-diam, saya menatap nanar koper sendiri. Besar, namun kosong di beberapa bagian. Masih ada banyak ruang yang seharusnya bisa diisi dengan cerita dan pengalaman. Saya membuang serangkai kecewa, kegagalan dan sakit hati yang berwujud kenangan, namun tidak membawa serta tawa, bahagia dan cinta yang pernah saya temui.

Saya menoleh ke belakang. Jalan sudah tertutup. Saya tidak bisa kembali.
Pria di atas ayunan tadi tersenyum. Dia bilang, sebenarnya ada perjalanan lain yang ingin dilalui. Sejenak saya berpikir untuk berkata ‘sampai jumpa’. Karena entah mengapa, saya ingin sekali berjumpa lagi dengannya. Mungkin sekadar bertukar foto, cerita dan pengalaman. Atau menertawakan batu-batu yang menjadi penghalang perjalanan. Atau merayakan keberhasilan setelah menggandeng tawa, bahagia serta cinta.

Saya menggenggam koper dengan erat. Bersiap untuk berpisah dengan sang pria petualang. Alih-alih pergi dan berlalu, pria itu justru bangkit dan mendekati saya. Ia mengambil alih koper di tangan saya, lalu berkata, “Saya bisa membantumu mengisi koper ini dengan hal-hal yang sangat menarik. Kita bisa menjadi partner yang baik di dalam perjalanan. Asal kamu percaya padaku.”

Saya terkejut untuk beberapa saat. Kemudian menjawab, “Tawaran yang bagus.”

Lalu kami berdua berjalan bersama. Ia dengan kopernya. Saya dengan koper saya. Lima menit setelahnya, saya merasa bahagia. Ternyata sebuah perjalanan tidak berarti jika dilalui tanpa kawan. Berbagi itu menyenangkan. Meskipun sekadar berbagi cerita.

Beberapa jam berlalu. saya dan pria itu benar-benar menjadi teman perjalanan yang menyenangkan. Berbagi kisah dan pengalaman. Bertukar saran tentang hal-hal baru yang bisa kami buang atau bawa serta di dalam koper masing-masing. Atau sekadar saling melepaskan kerinduan.

Lalu tiba-tiba pria itu menggandeng tangan saya. Memberi tekanan lembut yang saya suka. Belum sempat saya merasa canggung ataupun malu, ia mendekat. Berbisik tepat di telinga saya. “Sepertinya, kita berdua butuh koper yang lebih besar.”

Jantung ini ingin melompat. Namun yang meluncur dari mulut saya hanyalah, “Ide yang sangat bagus.”

***

Malang, 2 November 2013

PS: Yang ini sempet dikirim ke media. Tapi karena tak kunjung mendapat balasan, jadi ya sudahlah… Dipost di sini aja x)))

    • asdar
    • January 17th, 2014

    Mana koper….Mana koper…..!!!

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: