Pada Sebuah Lift yang Enggan Tertutup

Aku melihat dan jatuh cinta padanya pertama kali tiga bulan lalu, pada sebuah lift. Semesta seakan mempermainkan takdir dengan membuka-tutup pintu lift yang sudah terisi olehku sendiri. Samar-samar, aku melihat sosoknya berdiri di luar lift, kebingungan sambil meremas-remas jemari. Sepertinya dia sama sepertiku. Sama-sama menjadi petarung di antara puluhan hingga ratusan dokter umum yang ingin lebih menuntut ilmu menjadi dokter spesialis.

Melihat pintu lift yang terbuka untuk kesekian kali, ia melangkah masuk dan berdiri di sampingku. Seakan-akan, ada yang sedang menekan tombol ‘pause’ di situ. Hingga akhirnya dunia kembali berjalan ketika perempuan itu bertanya, “Ke lantai tiga juga?”

Oh! Dia sangat manis dengan rambut sebahu dan baju terusan bunga-bunga selutut yang sangat serasi dengan sepatu berhak sedang berwarna hijau

Aku hanya mengangguk. Terlalu terpana hingga mulutku bahkan lupa tersenyum. Apa, sih, susahnya mengucapkan ‘terima kasih’ untuk orang yang telah menekan tombol lift untukmu? Tentu susah ketika engkau menduga bahwa debar ini bernama cinta.

Dan asal kalian tahu. Laki-laki di dunia ini sama saja. Kata-kata mereka terpenjara sampai trakea di depan perempuan yang disukainya. Jutaan aksara sudah mengapung di dalam kepala. Namun aku hanya mampu terdiam di depan perempuan manis yang saat itu belum kutahu namanya.

Tiga bulan berlalu. Hari ini kembali aku bertemu dengan perempuan manis yang telah kutahu namanya dari kantor administrasi. Runi. Nama sederhana yang mudah diingat untuk diikutsertakan ke dalam mimpi. Runi mengenakan kemeja kuning dengan rok selutut bermotif garis hijau pupus. Musim semi. Perempuan ini adalah musim semi bagi hatiku yang lama membeku.

“Eh, kita ketemu lagi,” sapanya.

Hatiku membuncah mengetahui keberadaanku masih diingatnya. Tentu saja, hal ini membuatku salah tingkah. Kuremas-remas jemariku sendiri, lalu kugaruk kepala bagian belakang yang sebenarnya sama sekali tidak gatal.

“I… Iya. Kamu juga mau orientasi?” tanyaku dengan gugup.

Runi tersenyum dan mengangguk, “Program studi Psikiatri. Kamu?”

“Interna,” jawabku.

Ada kuncup bunga di dalam dada yang perlahan bermekaran. Harapan itu ada. Karena aku tahu. Bangsal Psikiatri bersebelahan dengan Interna.

“Wah, deketan kita. Mohon kerja samanya. Pasti kelak kita bakal saling konsul hehehe,” ujarnya sambil menyodorkan tangan.

Hatiku berdentam tak keruan. Lift hampir sampai ke lantai tiga. Namun perasaanku sudah melesat jauh menembus langit kelima. Dan otakku memerintahkan untuk segera menyambut tangan lembut yang menggantung dan menunggu balasan.

Tiga detik selanjutnya, kugenggam tangan Runi dengan lembut. Kurasakan kulitnya menyentuh kulitku. Mata kami beradu. Lalu senyumku hilang saat telapak tanganku menyentuh logam dingin di sela jari lembut itu.

“Oh iya. Suamiku juga residen Interna, lho. Namanya Jerry. Sudah pernah ketemu?”

***

  • Iseng nulis beginian pas jaga setelah terinspirasi dari curhatan kolega. And he hates the ending xD
  1. Keren postingnya,
    Asyik2

  2. wahhh ga disangka-sangka ternyata sudah bersuami. pupus sudah khayalan-khayalan tinggi itu…😀

  3. Sukaaaa..😀

  4. Sukaaa…😀

  5. jadi cincin itu penting ya buat perempuan yang sudah menikah, biar nggak dilirik2 sama lelaki lain😀

    • Buat semuanyaaa. Lelaki malah lebih bahaya lagi kalo ndak pake cincin kawin x)))

      • ya tapi kan pakai cincin emas haram bagi lelaki.
        saya nggak pake cincin…. istri pake

  6. aaakuuu suuukaaaa ^^, diksimu itu lho budok yang bikin nagih kesini ^^

    • Makasih, Mbak Na… Ini FF iseng setelah denger curhatan temen. Sederhana as usual :p

  7. saya sangat terhanyut dengan postingannya..🙂

    • Wah, ndak nyangka sampe ada yg hanyut. Sudah pake pelampung, Kak? :’D

  8. aduhhh…

  9. Duh…kesian kesian kesian..

  10. keren kak🙂

  11. haha…, kena deh!

  1. No trackbacks yet.

Saya sangat menerima kritik, saran dan kasih sayang

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: